Pelestarian Hadis
Preservation Of Hadīth
Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam Al-Qur’an:
Allah سبحانه وتعالى. states in the Qur’an:

Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika Dia mengutus di tengah-tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, untuk membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah.1
Indeed Allah سبحانه وتعالى. has already done a favor to the believers, when He raised amongst them a messenger from themselves to recite to them His verses, purify them and teach them the book and the wisdom.1
Ayat ini menjelaskan salah satu tanggung jawab terpenting Nabi yang mulia ﷺ: mengajarkan Kitab. Tanggung jawab ini tidak hanya berupa pengajaran cara membaca dan melafalkan Kitab [karena hal itu sudah tercakup dalam tanggung jawab pertama, yaitu ‘membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya’], tetapi yang lebih penting, yaitu makna Al-Qur’an. Akan menjadi sia-sia bagi seorang Muslim untuk berusaha memahami makna dan pesan Al-Qur’an tanpa Nabi ﷺ sebagai guru yang menjelaskannya kepada kita.
This aya explains one of the most important responsibilities of the beloved Blessed Prophet صلى الله عليه وسلم: to teach the Book. This responsibility consists of not just teaching the pronunciation and reading of the Book [as that is already covered in the first responsibility, i.e. ‘to recite to them His verses’], but more importantly, the meaning of the Qur’an. It would be meaningless for a Muslim to try to understand the meaning and message of the Qur’an without the Blessed Prophet صلى الله عليه وسلم as a teacher to explain it to us.
Kefasihan dalam bahasa Arab saja tidak dapat membantu kita memahami makna Al-Qur'an. Ingatlah bahwa para Sahabat (رضي الله عنه) yang fasih berbahasa Arab, selalu merujuk kepada Nabi yang Diberkahi ﷺ untuk memahami makna-makna Al-Qur'an yang lebih dalam. Kata-kata Al-Qur'an dan maknanya dijelaskan oleh Nabi yang Diberkahi ﷺ, baik secara lisan maupun melalui praktik. Ucapan-ucapan dan penjelasan Nabi yang Diberkahi ﷺ ini disebut ḥadīth, dan merupakan tafsir Al-Qur'an yang paling otentik bagi kita. Oleh karena itu, janji Allah (سبحانه وتعالى) untuk memelihara Al-Qur'an juga berarti pemeliharaan terhadap ḥadīth.
Proficiency in the Arabic language alone cannot help us grasp the meaning of the Qur’an. Remember, the Sahaba رضي الله عنه) who spoke fluent Arabic, always turned to the Blessed Prophet صلى الله عليه وسلم to understand the deeper meanings of the Qur’an. The Qur’an’s words and its meanings were explained both verbally and practically by the Blessed Prophet صلى الله عليه وسلم. These sayings and explanations of the Blessed Prophet صلى الله عليه وسلم are called úódõth and provide us with the the most authentic commentary of the Qur’an. Therefore, Allah’s سبحانه وتعالى. promise to preserve the Qur’an meant preservation of the aúódõth as well.
Namun, menjaga kata-kata saja tidak banyak gunanya. Misalnya, jika Al-Qur'an memerintahkan kaum Muslimin untuk mendirikan üalót, tetapi kita tidak mampu memahami apa yang dituntut oleh perintah ini [seperti bagaimana cara melaksanakannya], maka apa manfaat dari menjaga ucapan "dirikanlah üalót"? Ini membuktikan bahwa penjagaan Al-Qur'an, mau tidak mau, mencakup penjagaan úódõth. Tanpa úódõth, õmón seorang Muslim menjadi tidak sempurna. Lagi pula, bagaimana kita mengetahui bahwa Al-Qur'an adalah kitab Allah سبحانه وتعالى?
However the preservation of words alone serves little purpose. For example, if the Qur’an commands Muslims to establish üalót, but we are unable to understand what this command entails [such as how to perform it], then what benefit is there in preserving the words “establish the üalót?” This proves that the preservation of the Qur’an, by necessity, includes preservation of the úódõth. Without úódõth, the õmón of a Muslim is incomplete. After all, how do we know that the Qur’an is the book of Allah سبحانه وتعالى.?
Jika kita mengetahui Al-Qur'an dan kedudukannya, itu hanyalah karena Nabi yang mulia ﷺ bersabda, "Inilah Al-Qur'an; ia adalah firman Allah سبحانه وتعالى.." Jika kita menolak hadits Nabi yang mulia ﷺ ini, maka seluruh fondasi Islam akan runtuh. Kita tidak akan mengetahui bahwa Al-Qur'an adalah sebagaimana yang diklaimnya.3
If we know the Qur’an and its place, it is only because the Blessed Prophet صلى الله عليه وسلم said, “This is the Qur’an; it is the word of Allah سبحانه وتعالى..” If we were to reject this úadīth of the Blessed Prophet صلى الله عليه وسلم then the whole foundation of Islam collapses. We would not know that the Qur’an is what it claims to be.3
Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada Nabi yang mulia صلى الله عليه وسلم dalam Al-Qur'an:
Allah سبحانه وتعالى. says to the Blessed Prophet صلى الله عليه وسلم in the Qur’an:

Dan Kami telah menurunkan kepadamu Al-Qur'an, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan agar mereka memikirkan. 2
And We have sent unto you the message, that you may explain clearly to men what is sent for them, and that they may give thought. 2
Ayat ini membuktikan bahwa peran mendasar dari hadits adalah menjelaskan makna Al-Qur'an, yang berarti bahwa Al-Qur'an tidak dapat dipahami tanpa hadits.
This aya proves that the fundamental role of úódõth is to reveal the meaning of the Qur’an, which means that the Qur’an cannot be understood without the aúódõth.
1 3:164.
1 3:164.
2 16:44
2 16:44