Struktur sebuah Partai : Halaman 18 - 26
Structuring of a Party : Page 18 - 26
Meskipun gerakan-gerakan yang didirikan atas dasar peningkatan akhlak ini gagal, banyak orang tetap yakin bahwa akhlak harus dijadikan dasar islah (perbaikan), dan karena itu mereka mendirikan perkumpulan-perkumpulan islah. Perlu ditegaskan bahwa meskipun individu merupakan bagian dari masyarakat, sarana untuk memperbaiki masyarakat berbeda dengan sarana untuk memperbaiki individu. Kerusakan masyarakat berasal dari rusaknya emosi kolektif, dan dari rusaknya lingkungan intelektual dan spiritual. Selain itu, kerusakan berasal dari konsep-konsep keliru yang ada di tengah masyarakat. Dengan kata lain, ia berasal dari rusaknya tradisi-tradisi publik. Perbaikan masyarakat tidak akan terjadi kecuali tradisi-tradisi publik yang benar ditegakkan. Tradisi-tradisi publik semacam itu tidak dapat ditegakkan kecuali dengan memperbaiki emosi masyarakat, menciptakan lingkungan spiritual yang benar dan lingkungan intelektual yang terkait dengan aspek spiritual, serta menerapkan sistem oleh negara. Hanya ketika lingkungan Islami tercipta dan konsep-konsep diluruskan di seluruh lapisan penduduk, masyarakat akan diperbaiki, yang pada gilirannya akan memperbaiki individu-individu. Perbaikan masyarakat tidak dapat terjadi melalui penyusunan berdasarkan asosiasi, juga tidak dengan menjadikan akhlak, dakwah, dan pendidikan sebagai dasar penyusunan.
Despite the failure of these movements established on the basis of promoting morals, many people are still convinced that morals should be made the basis of reform (iSlaaH), and as a result have established reform societies. It should be emphasized that, even though the individual is part of the community, the means of reforming the community differ from the means of reforming the individual. The corruption of the community stems from the corruption of collective emotions, and from corruption of the intellectual and spiritual environment. In addition, the corruption stems from erroneous concepts within the community. In other words, it stems from the corruption of public traditions. Reforming the community will not occur unless correct public traditions are established. Such public traditions can not be established except by reforming the emotions of the community, creating the correct spiritual environments and the intellectual environments that are linked to the spiritual aspect, as well as implementing the system by the state. Only when the Islamic environment is created and the concepts are corrected throughout the entire population, will the community be reformed, which will in turn reform the individuals. Reforming the community can not occur through structuring on the basis of association, nor by making morals, preaching and education the basis for structuring.
Semua struktur yang didirikan di atas landasan seperti itu gagal total dalam menciptakan kebangkitan maupun reformasi apa pun. Selain itu, kelompok-kelompok lain yang didirikan atas dasar partai semata, dan bukan di atas ideologi tertentu, juga ditakdirkan untuk gagal. Mereka tidak memiliki pemahaman yang benar, dan tidak pula memiliki ikatan yang benar yang menyatukan anggotanya.
All these structures that were established on such foundations failed miserably to create any revival or reform. In addition, the other groups that were established on a nominal party basis, and not upon a specific ideology, were also doomed to failure. They neither had the correct understanding, nor did they possess the correct bond that unites their members.
Kegagalan semua kelompok ini juga tidak terelakkan karena keanggotaan mereka. Karena tidak adanya gagasan dan metode yang benar, kelompok-kelompok tersebut dalam membangun struktur mereka tidak memperhatikan kelayakan individu terhadap kelompok. Sebaliknya, mereka membangun diri di atas dasar status sosial individu dan manfaat langsung dari kehadirannya dalam partai atau perkumpulan.
The failure of all these groups was also inevitable due to their membership. Due to the absence of the correct idea and the method, such groups while establishing their structures, did not take into account the individual’s suitability to the group. Instead, they established themselves on the basis of the individual’s social status and the immediate benefit from his presence in the party or the association.
Seorang anggota akan dipilih atas dasar menonjol di tengah masyarakat atau kaya raya, atau karena menduduki jabatan berpengaruh seperti dokter atau pengacara, tanpa memperhatikan kelayakannya. Akibatnya, kelompok-kelompok ini terutama dilanda ketidakpaduan dan orientasi kelas. Para anggota kelompok dan perkumpulan tersebut dibuai oleh perasaan batin bahwa mereka berbeda dari orang-orang lain, bukan hanya dari segi kekayaan dan status sosial, tetapi juga karena menjadi anggota partai atau perkumpulan tersebut. Karena sentimen semacam ini, tidak terjadi interaksi atau kontak antara mereka dan masyarakat umum, sehingga keberadaan mereka sendiri menjadi masalah lain yang semakin membebani masyarakat.
A member would be selected on the grounds of being either prominent in the community or wealthy, or by holding an influential position such as a doctor or a lawyer, regardless of his suitability. As a result, these groups were predominantly affected by a lack of coherence and by class orientation. The members of these groups and associations were engrossed with an inner feeling of being distinguished from the rest of the people, not only in terms of their wealth and social status, but also by being members of the party or the association. Because of these sentiments, no interaction or contact occurred between them and the rest of the people, which made their very existence another problem that further burdened the society.
Pemeriksaan dan penelitian yang cermat terhadap seluruh kelompok dan partai dengan jelas menetapkan bahwa tidak ada satu pun struktur yang benar, yang bertujuan untuk kebangkitan Ummah, yang didirikan di negara-negara Islam mana pun selama seratus tahun terakhir. Ummah tidak dapat dibangkitkan tanpa suatu struktur atau organisasi, namun semua struktur yang terwujud pada akhirnya gagal, karena didirikan di atas landasan yang keliru. Pertanyaan yang perlu dijawab sekarang adalah struktur yang benar seperti apa yang akan membangkitkan Ummah.
Careful examinination and survey of all the groups and parties clearly establishes the fact that not a single correct structure, that aimed towards revival of the Ummah was established in any of the Islamic countries during the past century. The Ummah cannot be revived without a structure or an organization, yet all structures which materialized eventually failed, because they were established upon an incorrect basis. The question that needs to be addressed now is what is the correct structure that will revive the Ummah.
Struktur yang benar yang akan membangkitkan kembali Ummah tidak dapat didirikan di atas organisasi bertipe perkumpulan, yang hanya membuat anggotanya terlibat dalam pekerjaan tertentu, pembicaraan tertentu, atau keduanya. Struktur semacam ini tidak boleh didorong di dalam Ummah yang bertujuan untuk dibangkitkan kembali, begitu pula partai-partai non-ideologis tidak boleh didorong, seperti partai-partai yang telah dibentuk di dunia Islam sejak Perang Dunia Pertama.
The correct structure that will revive the Ummah cannot be established upon an association type organization, which leads its members only to engage in specific work, talk or both. This kind of structure must not be encouraged within the Ummah that aims to be revived, nor should non-ideological parties be encouraged, like the parties that have been formed in the Islamic world since World War One.
Struktur yang benar adalah Hizb ideologis yang berlandaskan Islam. Dalam struktur ini, ide merupakan jiwa Hizb sekaligus intinya dan hakikat keberadaannya. Sel pertama dari struktur ini adalah seseorang yang mewujudkan ide tersebut, serta sebuah metode yang sejenis dengan ide itu, hingga ia menjadi pribadi yang memiliki kualitas sebagaimana ide itu dalam kemurnian dan kejelasannya, serta sebagaimana metode itu dalam kekhasan dan keterusterangannya. Ketika ketiga unsur ini bertemu, yakni ide yang mendalam, metode yang jelas, dan pribadi yang tulus, maka sel pertama pun terbentuk. Tak lama kemudian, sel itu berkembang menjadi sel-sel lain untuk membentuk lingkaran pertama Hizb, atau "kepemimpinan" (qiyaadah). Setelah lingkaran pertama terbentuk, muncullah kelompok Hizb (Kutlah Hizbiyyah). Kelompok ini kemudian membutuhkan ikatan Hizbi untuk menyatukan individu-individu yang telah menerima ide dan metode tersebut. Ikatan Hizbi ini adalah ‘Aqeedah, yang darinya memancar pandangan Hizb serta budaya yang mencirikan konsep-konsep Hizb. Dengan demikian, kelompok Hizb akan melangkah di arus utama kehidupan setelah terbentuk. Dalam proses ini, Hizb akan menghadapi banyak keadaan, menemui banyak rintangan, dan terpapar pada berbagai lingkungan yang berbeda. Dengan kata lain, situasi di sekitarnya akan berfluktuasi dari panas hingga dingin. Kadang Hizb akan diserang dengan sangat keras, dan kadang dengan lembut. Pada waktu lain, Hizb akan melewati situasi di mana ia dapat melihat jalannya dengan jelas, dan kadang situasi itu menjadi keruh. Jika kelompok Hizbi berhasil bertahan menghadapi kondisi-kondisi ini, maka idenya akan semakin mengkristal, metodenya semakin jelas, dan kelompok itu akan berhasil mempersiapkan anggotanya serta memperkuat ikatan kelompok. Setelah itu, ia akan mampu mengambil langkah-langkah praktis dalam dakwah dan aktivitas. Pada titik ini, ia beralih dari sekadar blok Hizbi menjadi Hizb ideologis yang utuh, yang bekerja menuju kebangkitan. Ini adalah struktur yang benar, yang inti dan hakikat keberadaannya adalah gagasan.
The correct structure is an ideological Hizb based on Islam. In this structure, the idea would constitute the soul of the Hizb as well as its nucleus and the essence of its existence. The first cell of the structure would be a person who embodies the idea, and a method which is of the same nature as the idea, until he becomes a person of the same quality as the idea in his purity and clarity, and like the method in his distinctness and straightforwardness. Once these three elements come together - the profound idea, the clear method and the sincere person - the first cell comes into existence. Soon the cell multiplies into other cells to form the first circle of the Hizb, or “the leadership” (qiyaadah). Once the first circle is formed, the Hizb group (Kutlah Hizbiyyah) emerges.The group then requires a Hizbi bond to bind the individuals who have embraced both the idea and the method. This Hizb bond is the ‘Aqeedah, from which the outlook of the Hizb and the culture that characterizes the Hizb’s concepts emanate. The Hizb group will thus proceed in the mainstream of life once it is formed. During this process, the Hizb will encounter many situations, face many obstacles, and be exposed to many different environments. In other words, the circumstances around it will fluctuate from hot to cool. Sometimes the Hizb would be stormed upon very strongly, and sometimes mildly. At other times, the Hizb will pass through a situation where it can see its path clearly, and sometimes the situation will be cloudy. If the Hizbi group manages to withstand these conditions, then its idea will become crystallized, its method clarified, and the group will have succeeded in preparing its members, and strengthening the bond of the group. It will then be able to take the practical steps in the Da’wah and the activity. At this point, it moves from being a Hizbi bloc to a fully-fledged ideological Hizb working towards revival. This is the correct structure, whose nucleus and essence of its existence is the idea.
Penjelasan tentang bagaimana struktur Hizbi yang berlandaskan ideologi ini muncul secara alami di tengah Ummah adalah sebagai berikut:
The explanation of how this ideological Hizbi structure emerges naturally in the Ummah is as follows:
Ummat merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, yang secara keseluruhan menyerupai manusia. Ketika seseorang pulih dari penyakit yang berpotensi mematikan, dan kehidupan kembali mengalir ke dalam tubuhnya, kehidupan itu mengalir kepadanya secara utuh. Demikian pula, ummat yang sedang mengalami kemunduran dianggap sakit juga, dan kehidupan akan mengalir ke dalam ummat secara utuh. Kehidupan ummat adalah gagasan yang terkait dengan suatu metode yang sejenis dengannya. Dengan demikian, gagasan dan metodenya bersama-sama membentuk apa yang disebut ideologi.
The Ummah is an indivisible whole that resembles a human being in its overall structure. As a person recovers from a potentially fatal disease, and life flows back into his body again, it flows into him as a whole. Similarly, the declined Ummah is considered ill as well, and life will flow into the Ummah as a whole. The life of the Ummah is the idea linked with a method of its same nature. Thus, both the idea and its method constitute what is called the ideology.
Keberadaan semata-mata sebuah ideologi di tengah Ummat tidaklah cukup untuk menghidupkannya. Melainkan, ketika Ummat dibimbing kepada ideologi tersebut, dan Ummat menerapkannya dalam urusan-urusan kehidupannya, barulah Ummat menjadi hidup. Ideologi itu mungkin ada di tengah Ummat dalam khazanah perundang-undangan, budaya, dan sejarahnya. Namun, Ummat bisa jadi tidak menyadarinya, atau tidak menyadari gagasannya atau metodenya, atau tidak menyadari keterkaitan antara keduanya. Dalam kondisi seperti ini, keberadaan semata-mata gagasan dan metodenya tidak akan membawa kepada kebangkitan.
The mere existence of the ideology within the Ummah is not sufficient to bring life into her. Rather, when the Ummah is guided to the ideology, and the Ummah implements it in its life affairs, it is only then that the Ummah becomes alive. The ideology may exist in the Ummah within her legislative, cultural and historical heritage. However, she may be unaware of it, or unaware of its idea or its method, or unaware of linking them together. In this case, the mere existence of the idea and its method would not lead to revival.
Vitalitas biasanya mengalir ke dalam Ummah ketika terjadi guncangan hebat di tengah masyarakat dan menimbulkan perasaan bersama. Perasaan kolektif ini mendorong suatu proses intelektual, yang pada gilirannya melahirkan sejumlah proposisi dan gagasan sebagai hasil diskusi tentang sebab dan akibat guncangan tersebut, serta sarana langsung maupun tidak langsung untuk menyelamatkan Ummah.
Vitality usually streams into Ummah when severe shocks occur in the society and produce a common feeling. This collective feeling leads to an intellectual process, which in turn produces a host of propositions and ideas as a result of discussions about the causes and effects of the shock, as well as the direct and indirect means to save the Ummah.
Meskipun perasaan ini sama dan dimiliki bersama oleh setiap individu dalam masyarakat, tingkat perasaan tersebut berbeda-beda di antara mereka, karena Allah (SWT) menganugerahkan kemampuan yang berbeda kepada setiap individu. Oleh sebab itu, kesadaran masyarakat terhadap gagasan ini tetap terpendam di tengah umat hingga kesadaran tersebut terkumpul dan terpusat pada mereka yang memiliki tingkat kepekaan dan persepsi yang lebih tinggi. Gagasan itu membangunkan mereka, mengilhami mereka, dan mendorong mereka untuk bertindak. Dengan demikian, tanda-tanda kebangkitan pertama kali muncul pada kelompok orang tersebut. Perasaan masyarakat akan tercermin pada mereka yang memiliki tingkat kepekaan dan persepsi yang lebih tinggi. Gagasan itu akan terpusat pada diri mereka, sehingga mereka melangkah maju dengan kesadaran dan pemahaman.
Although this feeling is the same and common to all individuals in the community, the degree of feeling varies amongst them because Allah (swt) bestowed different capacities to every individual. Hence the community’s realization of the idea remains latent in the Ummah until this realization is accumulated and becomes concentrated in those who have a greater degree of sensitivity and perception. The idea awakens them, inspires them, and motivates them into action. Accordingly the signs of vitality first appear in that group of people. The feelings of the people will be reflected in those who have a higher degree of sensitivity and perception. The idea will be concentrated in them, causing them to move forward with awareness and comprehension.
Mereka adalah mata bagi Ummah dan kelompok yang sadar dari kalangannya. Pada awalnya, kelompok yang sadar ini akan merasa khawatir dan ragu. Mereka akan melihat banyak jalan dan akan bimbang mana jalan yang harus diikuti. Tingkat kesadaran dalam kelompok ini akan berbeda-beda di antara anggotanya. Pemikiran yang berdasarkan pada indera (mantiq ul-ihsas) akan lebih tinggi pada sebagian mereka dibandingkan yang lain. Dari kelompok yang sadar ini, akan muncul sekelompok orang pilihan dan terkemuka. Kelompok ini akan memeluk satu jalan setelah penelitian yang mendalam dan menyeluruh. Mereka akan memahami baik tujuan yang dituju oleh jalan ini maupun kejelasan caranya, sehingga mereka akan mengikutinya menuju tujuan tersebut. Dengan demikian, kelompok ini akan menemukan mabda' (ideologi) beserta fikrah (gagasan) dan thariqah (metodenya), dan akan memeluknya sebagai 'Aqidah yang mengakar kuat. Kelompok ini akan mewujudkan mabda' dan 'Aqidah tersebut, yang bersama dengan budaya Hizbi, menjadi ikatan yang mempersatukan individu-individu dalam kelompok ini.
They are the eyes of the Ummah and the aware group from amongst her. In the beginning, this aware band of individuals will be worried and uncertain. They will see numerous paths and will be uncertain as to which path to follow. The degree of awareness within this group will vary amongst its members. The thinking that is based on sensation (mantiq ul-ihsas) will be higher in some of them than in others. Out of this aware group, a select and distinguished band will arise. This band will embrace one path after deep and thorough research. It will perceive both the objective that this path leads to as well as the clarity of the way, so it will follow it towards its objective. Thus, this band of individuals will discover the ideology with both its idea and its method and will embrace it as a deeply rooted ’Aqeedah. This group will embody the ideology and the ’Aqeedah, which together with the Hizbi culture, will be the bond that binds the individuals in this group.
Ketika ideologi itu menjelma dalam diri individu-individu ini, ia tidak akan berhenti hanya pada diri mereka, melainkan akan mendorong mereka untuk menyebarkannya kepada orang lain. Mereka akan melangkah sesuai dengan metodenya dan membatasi diri dalam batas-batas ideologi tersebut. Hidup individu-individu ini akan dicurahkan untuk ideologi itu, menyerukannya, dan menunaikan kewajiban-kewajibannya. Dakwah ini bertujuan agar manusia menerima ideologi ini saja dengan mengesampingkan yang lain, serta membangun kesadaran umum tentangnya. Oleh karena itu, lingkaran pertama akan berkembang menjadi sebuah blok, dan blok itu pada gilirannya akan berkembang menjadi Hizb ideologis yang akan maju secara alami melalui dua jalur: pertama, melalui perbanyakan, ia akan melahirkan sel-sel lain yang menganut ideologi ini dengan kesadaran dan pemahaman yang utuh; dan kedua, melalui penciptaan dan pembangunan kesadaran umum tentang ideologi ini di seluruh Ummah. Kesadaran umum tentang ideologi ini akan mengarah pada penyatuan pemikiran, pendapat, dan keyakinan di kalangan mayoritas, jika tidak seluruh, Ummah. Dengan demikian, tujuan Ummah, serta keyakinan-keyakinan (qana'aat) dan pandangan hidupnya, akan menjadi satu. Karena itu, Hizb akan berfungsi sebagai wadah peleburan, yang akan melebur Ummah dan menyucikannya dari ide-ide yang najis dan rusak, yang menyebabkan kemunduran Ummah, atau yang berkembang pada masa kemunduran. Hizb harus melaksanakan proses peleburan ini di dalam Ummah, sehingga membawa kepada kebangkitan Ummah. Ini adalah proses yang melelahkan, yang hanya dapat dilaksanakan oleh sebuah Hizb yang menghidupi idenya, mencurahkan seluruh hidupnya untuk ide itu, dan sadar akan setiap langkahnya.
When the ideology becomes embodied within these individuals, it will not remain confined in them, rather it will drive them to spread it to others. They will proceed according to its method and restrict themselves within the limits of the ideology. The life of these individuals will be devoted to the ideology, calling for it and fulfilling its obligations. This Da’wah aims to make people embrace this ideology alone to the exclusion of all others, and to establish general awareness about it. Therefore, the first circle would grow into a bloc, and the bloc would in turn grow into an ideological Hizb which would progress naturally in two tracks: First, through multiplication it will generate other cells which embrace the ideology with complete awareness and comprehension; and second, through creating and building general awareness about the ideology throughout the Ummah. The general awareness about the ideology will lead to the unification of the thoughts, opinions, and beliefs within the majority if not the whole of the Ummah. Hence the objective of the Ummah, as well as her convictions (qana’aat) and her outlook on life, will be unified. Therefore, the Hizb will serve as a melting pot, which would melt the Ummah and purify her from the impure and the corrupt ideas that led to the decline of the Ummah, or developed during the era of decline. The Hizb should undertake this melting process within the Ummah, thus leading to the revival of the Ummah. This is a tedious process that can only be undertaken by a Hizb that lives its idea, devotes its entire life to the idea, and is aware of its every single step.
Hal ini karena sensasi itulah yang menuntun pada pemikiran dalam Hizb. Pemikiran ini akan bersinar di tengah Ummah di antara pemikiran-pemikiran lain. Pada awalnya, pemikiran Hizb hanya akan menjadi salah satu pemikiran di antara banyak pemikiran. Ia akan menjadi yang paling lemah di antara mereka karena baru lahir dan belum berakar dalam di tengah Ummah. Selain itu, pemikiran Hizb belum membentuk iklim yang mendukungnya. Namun, karena ia adalah pemikiran yang berlandaskan logika sensasi (manThiq al-Ihsas), yakni pemahaman terhadap realitas melalui sensasi langsung, ia akan melahirkan sensasi intelektual, yaitu kesadaran yang jernih. Maka, pemikiran yang mendalam itu, karena hakikatnya, membersihkan siapa pun yang terkesan olehnya, sehingga ia menjadi tulus; bahkan jika ia menginginkan ketidaktulusan, ia tidak akan mampu. Pemikiran ini akan menjelma sebagai ‘Aqeedah dan budaya pada orang yang tulus ini, dan menimbulkan di dalam dirinya luapan yang bergejolak. Luapan ini tidak lain adalah letusan yang terjadi sebagai akibat dari pembakaran dalam emosi dan pemikiran; luapan ini akan menyebarkan di tengah Da‘wah semangat yang menyala, antusiasme, dan kejujuran. Pada saat yang sama, ia akan menyebarkan (dalam Da‘wah) logika (manThiq) dan pemikiran, dan menjadi api yang membakar kerusakan serta cahaya yang menerangi jalan menuju kebenaran (SalaH). Oleh karena itu, da‘wah akan terlibat dalam pergulatan dengan gagasan-gagasan yang rusak (afkaar), doktrin-doktrin yang usang (‘aqaid), dan kebiasaan-kebiasaan yang merosot (‘adaat); semua itu akan berusaha mempertahankan diri. Namun, pertahanan ini sendiri justru akan menimbulkan gesekan dengan ideologi baru, sehingga memperkuat kekuatannya. Pergulatan ini akan terus berlangsung hingga semua gagasan, doktrin, dan metode tersebut runtuh, dan hanya ideologi Hizb yang tersisa di tengah Ummah sebagai pemikiran dan ‘Aqeedah-nya.
This is because it is sensation that leads to thought in the Hizb. This thought would shine in the Ummah amidst other thoughts. Initially, the Hizb’s thought will just be another thought amongst many. It will be the weakest of them because it is newly born and not yet deeply rooted in the Ummah. Also, the Hizb’s thought will not have established a supportive climate for itself yet. However it is a thought based on the logic of sensation (manTiq al-Ihsas) i.e. understanding of reality through direct sensation, it will generate an intellectual sensation, i.e. having a clear sensation. Hence, the deep thought, due to its nature, purifies whoever it impresses, making him sincere, even if he wished to be insincere he could not be. This thought will be embodied as an ’Aqeedah’ and culture in this sincere person, and generates within him an unruly outburst. This outburst would be nothing but an eruption which occurs in the wake of a combustion in the emotion and the thought, this would spread in the Da’wah a blazing passion, enthusiasm and truthfullness. At the same time, it would spread (in the Da’wah) the logic (manTiq) and the thought and becomes a fire that burns corruption and a light that enlightens the road to righteousness (SalaH). Therefore the da’wah would be caught up in a struggle with the corrupt ideas (afkaar), the dilapidated doctrines (‘aqaid) and the degenerate habits (‘adaat); these would try to defend themselves. However this defense would itself become a friction with the new ideology, hence increasing its strength. This struggle will continue until all these ideas, doctrines and methods collapse, and only the ideology of the Party remains in the Ummah as its thought and ’Aqeedah.’.
Setelah Hizb menyatukan pemikiran, akidah, dan pendapat, ia akan berhasil menegakkan persatuan Ummat dengan wawasan yang jelas, sehingga Ummat melebur dan termurnikan menjadi satu Ummat. Dengan demikian, persatuan yang benar akan tercapai. Kemudian menyusullah tahap kedua dari Hizb, yaitu membimbing Ummat untuk melaksanakan kerja perubahan mendasar (radikal) guna membangkitkan kembali Ummat dan menunaikan kewajibannya untuk menyebarkan Islam ke seluruh dunia.
Once the Hizb unified the thoughts, the doctrines, and the opinions, it will have correctly established the unity of the Ummah with clear insight, thus melting and purifying it to become one single Ummah. Hence, the correct unity will be achieved. Then follows the second stage of the Hizb, which is to lead the Ummah to undertake the work of radical reform in order to revive the Ummah and to fulfill its obligation of carrying Islam to the world.
Karena struktur Hizbi ini harus berupa gerakan kolektif dan bukan gerakan individualistis, mereka yang bertanggung jawab atas Hizb di negara-negara Islam harus mengkaji secara mendalam gerakan-gerakan kolektif dan memahaminya.
Because this Hizbi structure must be a collective movement and not an individualistic one, those in charge of the Hizb in the Islamic countries must deeply scrutinize the collective movements and understand them.
Pemahaman tentang gerakan-gerakan kolektif yang memiliki pengaruh pada masanya menunjukkan bahwa gerakan tidak muncul ketika kemakmuran melimpah, hak-hak alamiah terjamin, kesejahteraan terpenuhi, dan orang-orang dipilih untuk memegang posisi penting berdasarkan kompetensi mereka. Pemahaman tentang gerakan-gerakan kolektif memudahkan kita untuk menilai setiap gerakan semacam itu dengan tepat: dengan mempelajari lingkungan tempat gerakan itu ada atau pernah ada, dan dengan mempelajari keadaan yang saat ini mengelilingi gerakan itu, atau yang pernah mengelilinginya di masa lalu, serta peran yang diberikan kepada individu-individu cerdas dalam menjalankan urusannya, dan dalam menghadapi rintangan yang menghambat keberhasilan atau kemajuannya. Keberhasilan suatu gerakan kolektif diukur dari kemampuannya membangkitkan kemarahan di kalangan masyarakat dan menyerukan mereka untuk menyatakan kemarahan itu setiap kali rezim merongrong atau memanipulasi ideologi mereka sesuai dengan kehendak dan kepentingannya sendiri.
Understanding of the collective movements which had influence in their time reveals that movements do not emerge when affluence prevails, natural rights are secured, prosperity is ensured and people are selected to hold important positions based on their competence. Understanding of the collective movements makes it easy for us to assess every such movement properly: By studying the environment in which the movement exists or in which it existed, and by studying the circumstances which currently surround the movement, or surrounded it in the past, and the role given to the bright individuals in running its affairs, and in dealing with obstacles hindering its success or progress. The success of a collective movement is measured by its ability to instigate resentment amongst the masses and to exhort them to express their resentment each time the regime undermines or manipulates their ideology according to its own whims and interests.
Selain itu, memahami gerakan-gerakan kolektif ini memerlukan kajian tentang kehidupan di tengah masyarakat. Lebih dari itu, Hizb perlu memahami hubungan antara Ummah dan para penguasa, dan sebaliknya, serta landasan dari kedua hubungan tersebut. Kita harus membandingkan pandangan dan pemikiran yang berlaku di tengah masyarakat dengan apa yang diserukan Islam, dan menentukan adanya perbedaan di antara keduanya. Kita harus mengetahui apakah perbedaan itu disebabkan oleh perubahan pada hal-hal pokok (al-ushul) atau pada cabang-cabangnya (al-furu'), dan apakah Islam membenarkan perubahan semacam itu atau tidak. Pemahaman ini juga menuntut kajian terhadap perasaan Ummah ketika ia menyaksikan pendapat, pemikiran, dan hukum-hukum Islam itu memudar dari kehidupannya, yang disebabkan dan dipaksakan oleh rezim-rezim dengan menggunakan kekerasan, tipu daya, dan uang.
Additionally, understanding these collective movements requires studying life in the society. Furthermore, it requires the Hizb to understand the relationship between the Ummah and the rulers, and vice versa and the basis of both of these relationships. We must compare the prevalent views and thoughts within the society to what Islam calls for, and determine any variance between the two. We must know whether this variance is due to changes in the fundamentals or the branches, and whether Islam approves of such changes or not. The understanding also requires studying the sentiments of the Ummah as it witnesses these Islamic opinions, thoughts and rules fade away from her life, which is caused and imposed by the regimes using force, deception and money.
Memahami gerakan-gerakan ini juga memerlukan pengetahuan tentang kecenderungan umum Ummat terhadap sistem-sistem yang dipaksakan atas dirinya. Sistem-sistem non-Islam ini sesungguhnya mengancam untuk memadamkan Islam dari masyarakat dan menjerumuskan Ummat ke dalam jurang penderitaan dan kesengsaraan. Selain itu, pemahaman ini membutuhkan pengetahuan tentang kecenderungan para pemikir di tengah Ummat, sejauh mana mereka menerima atau menolak sistem yang rusak yang diterapkan atas Ummat, serta sejauh mana mereka terpengaruh oleh intimidasi, atau terpikat oleh godaan.
Understanding these movements also requires knowing the Ummah’s general inclination towards the systems that are being forcibly implemented upon her. These non-Islamic systems in-fact threaten to extinguish Islam from the society and throw the Ummah into the abyss of suffering and misery. In addition, this understanding requires a knowledge of the inclination of the thinkers in the Ummah, the extent of their acceptance or rejection of the corrupt system implemented upon the Ummah, as well as the extent of how much they were affected by the intimidation, or taken by temptation.
Selanjutnya, mengenal kelompok Hizbi itu sendiri sangat penting untuk memastikan bahwa ia tetap memiliki persepsi yang tajam, pemikiran yang mendalam, dan keikhlasan yang mutlak. Kelompok Hizbi harus memastikan bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi di tengah masyarakat tidak boleh melemahkan keyakinannya terhadap Islam dan hukum-hukumnya, serta bahwa segala godaan, intimidasi, ancaman, iming-iming dan ujian tidak berpengaruh sedikit pun terhadapnya. Ia juga harus memastikan bahwa ia menjunjung tinggi nilai-nilai yang melekat padanya dengan standar yang tinggi, dan bahwa keyakinannya terjaga keselamatannya, serta bahwa penanaman pemikiran Islam yang mendalam pada kelompok, pengadopsian kepentingan umum, dan rasa tanggung jawabnya harus sempurna. Ia juga harus memastikan bahwa ideologi tetap terjaga tanpa kompromi atau pelanggaran, betapapun besar penindasan, kezaliman, kesulitan, dan ancaman yang menimpa kelompok, dan kelompok harus memastikan tekadnya untuk memikul tanggung jawabnya, sambil sepenuhnya menyadari segala konsekuensinya dan siap menanggungnya.
Furthermore, knowing the Hizbi bloc itself is essential to ensure that it maintains sharp perception, deep thinking, and absolute sincerity. The Hizbi bloc must ensure that the events taking place in society must not weaken its belief in Islam and its laws, and that all temptations, intimidation, threats, favors and trials have no effect upon it whatsoever. It must also ensure that it upholds its inherent values to a high standard, and its belief must be safe, and the bloc’s inculcation with deep Islamic thoughts, its adoption of the public interests and its sense of responsibility, must be complete. It must also make sure that the ideology is preserved without any compromise or violation, no matter how much oppression, tyranny, hardship and threat befalls the bloc, and the bloc must ensure that it is determined to shoulder its responsibility, while being fully aware of all the consequences and be ready to bear them.
Kajian historis dan faktual atas gerakan-gerakan kolektif membantu seseorang memahami hakikat langkah Hizb ideologis sebagai sebuah gerakan kolektif. Hizb harus memastikan bahwa ia memenuhi persyaratannya dan berjalan di atas jalurnya yang alami. Jika Hizb mendapati adanya kekurangan dalam kinerjanya, atau jika suatu kajian menunjukkan perlunya fleksibilitas dalam tindakannya, atau perlunya perubahan pada perangkat Hizb, atau ditemukan bahwa Hizb perlu lebih teguh dalam perjuangannya, maka Hizb harus menempuh sarana yang diperlukan untuk menjamin bahwa Hizb berhasil menyampaikan pesan kebangkitannya kepada Ummah, serta memberdayakan Ummah untuk membawa pesan ini ke seluruh dunia.
The historical and factual study of the collective movements guides one to comprehend the nature of the ideological Hizb’s course of action as a collective movement. The Hizb must ensure that it fulfills its requirements and proceeds in its natural path. If the Hizb notices any shortcoming in its performance, or if any study reveals the need for flexibility in its actions, or the need for any modification in the Hizb’s apparatus, or it is found that the Hizb needs to be more firm in its struggle, then the Hizb must adopt the required means that guarantee that the Hizb successfully conveys its message of revival to the Ummah, and empowers the Ummah to carry this message to the world.