Al-Qur'an Firman Tuhan
The Qur'an The Word Of God
Jika Al-Qur'an adalah firman Tuhan, dan merupakan mukjizat yang membuktikan kenabian Muhammad ﷺ, maka kita harus meneliti kitab ini dengan saksama dan memastikan tanpa keraguan keotentikannya. Sudah diketahui luas bahwa orang-orang Arab jahiliah pada masa Muhammad ﷺ adalah penyair dan penulis bahasa Arab yang hebat. Pada masa itu, lazim bagi mereka untuk pergi ke padang pasir untuk mempelajari bahasa Arab dan menulis puisi serta prosa, yang mereka gunakan untuk menghibur satu sama lain. Mereka sangat menjunjung tinggi bahasa Arab dengan segala kelancaran dan kedalaman ekspresinya.
If the Qur'an is the word of God, and a miracle proving the Prophet-hood of Muhammad (pbuh) we must look carefully at this book and establish without doubt its authenticity. It is well known that the pagan Arabs of the time of Muhammad (pbuh) were great poets and writers of the Arabic language. It was common at the time for them to go into the dessert to study Arabic and write poetry and prose with which to entertain each other. They held the Arabic language with all its fluidity and depth of expression in great esteem.
Ketika wahyu mulai turun kepada Muhammad ﷺ pada usia empat puluh tahun, gaya bahasanyalah yang membedakan wahyu tersebut dari segala sesuatu yang ada sebelumnya, bahkan dari apa pun yang datang sesudahnya.
When the revelation started to come to Muhammad in his fortieth year it was the style of language which set the revelation apart from anything that had been before or indeed since.
Bukti yang tak tergoyahkan atas keaslian Al-Qur'an sebagai firman Tuhan terletak pada gaya bahasanya. Sejak ayat pertamanya:
The unshakable proof of the authenticity of the Qur'an as the word of God is in its style of language. From the first verse:
Bacalah: Dengan nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah:
"Read: In the name of thy Lord who createth, Createth man from a clot. Read:
"dan Tuhanmu Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan pena, Mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya" (96:1-5)
and thy Lord is the Most Bounteous, Who teaches by the pen, Teaches man that which he knew not" (96:1-5)
hingga ; "Pada hari ini Aku telah menyempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku atasmu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu." (5:3)
through to ; "This day I have perfected your Deen (way in life) for you and completed My favour unto you, and have chosen for you as Deen Al-Islam." (5:3)
Al-Qur'an tetap berada pada puncak kefasihan, retorika, dan ungkapan yang koheren sepenuhnya. Ia berfungsi sebagai satu kesatuan yang utuh, dengan gaya yang sama seolah-olah ia adalah satu kalimat, dengan susunan yang sempurna dan teks yang kuat serta jelas. Ungkapan-ungkapan yang dibawanya tidak dikenal oleh orang Arab pada masa itu ataupun sebelumnya, dan hal-hal yang belum pernah dirasakan sebelumnya tidak dapat diungkapkan. Salah seorang penyair Arab yang tidak beriman pada masa itu, Walid bin Al Mughirah, berkata setelah mendengar Al-Qur'an:
The Qur'an remains completely at the height of eloquence, rhetoric, and coherent expression. It acts as one complete piece, with the style the same as if it is one sentence, with perfect arrangements and strong plain text. The expressions brought were not known to the Arabs at the time or before that time, and matters cannot be expressed that have not been previously felt. One of the disbelieving Arab poets of the time Walid ibn Al Mughirah said after hearing the Qur'an:
"Demi Tuhan: Tidak seorang pun di antara kalian yang lebih memahami syair, nyanyian yang merdu, dan lagu-lagu daripada aku, dan demi Tuhan aku tidak pernah mendengar sesuatu yang serupa dengan apa yang ia ucapkan. Ia begitu manis dan begitu indah, sehingga tetap berada di puncak tanpa ada yang dapat melampauinya." Al-Qur'an memiliki gaya sastra yang tidak dapat didekati atau ditandingi oleh manusia mana pun. Gayanya tidak dapat ditandingi oleh orang-orang Arab, dan inilah tantangan yang telah Tuhan tetapkan di dalam Al-Qur'an.
"By God: None of you is more conversant than I with poetry, melodious hymns, and songs, and by God never did I hear anything similar to which he says. It is so sweet, and so graceful that it remains at the summit with nothing to surpass it." The Qur'an is in a literary style that no human can approach or match. Its style the Arabs cannot match, and it is this challenge which God has set forth within the Qur'an.
"Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan mampu membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain"[17:88] "Dan jika kamu meragukan apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad ﷺ), maka buatlah satu surah yang serupa dengannya, dan panggillah saksi-saksimu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar"[2:23] "Ataukah mereka mengatakan: Dia telah membuatnya? Katakanlah: Maka buatlah satu surah yang serupa dengannya, dan panggillah siapa saja yang dapat kamu panggil selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar"[10:38] Tantangan kepada semua yang ragu ini telah tetap tak terjawab selama lebih dari 1400
"Say: verily though mankind and the Jinn should assemble to produce the like of this Qur'an, they could not produce the like there of though they were helpers one of another"[17:88] "And if ye are in doubt concerning that which we reveal unto our apostle (Muhammad), then produce a Surah of the like thereof, and call your witnesses beside Allah if you are truthful"[2:23] "Or they say: He has invented it? Say: then bring a Surah like unto it and call (for help) on all ye can besides Allah if you are truthful"[10:38] It is this challenge to all that doubt that has remained unanswered in over 1400
tahun sejak wahyu ini. Tidak ada satu pun ulama bahasa Arab, baik Muslim maupun non-Muslim, yang mampu menulis walau hanya satu bab atau satu paragraf kecil dengan gaya bahasa Arab yang sama dengan Al-Qur'an. Orang-orang Arab, baik mampu meniru gaya Al-Qur'an atau tidak, jika mereka mampu, maka kitab itu jelas merupakan karya manusia seperti mereka. Jika tidak, maka hanya ada dua kemungkinan sumber lain: Muhammad ﷺ, atau Tuhan.
years since this revelation. Not one scholar of the Arabic language either Muslim or Non-Muslim has been able to write even one small chapter or paragraph in the same style of Arabic to that of the Qur'an. The Arabs are either able to imitate the style of the Qur'an or not, if they could then the book is clearly the work of men like them. If not then there are only two other possible sources Muhammad, or God.
Muhammad ﷺ berasal dari keturunan dan berbahasa Arab, namun ia tidak pernah mengaku sebagai pengarang Al-Qur'an. Bahkan, ia tidak pernah ditantang sebagai pengarangnya. Hal ini dapat dilihat dengan jelas dari Hadis Mutawatir (sabda Muhammad ﷺ yang telah pasti dan diriwayatkan secara lafaz demi lafaz), yang jumlahnya mencapai ratusan, bahwa gaya bahasa dalam ucapan Muhammad ﷺ dan gaya bahasa Al-Qur'an sangatlah berbeda. Sekeras apa pun seseorang berusaha, gaya bertutur seseorang tidak dapat diubah sepenuhnya secara konsisten, apalagi selama kurun 23 tahun ketika Al-Qur'an diturunkan. Satu-satunya tuduhan yang pernah dilontarkan kepada Muhammad ﷺ adalah bahwa ia menerimanya dari seorang pemuda Kristen bernama Jaber.
Muhammad (pbuh) was of Arabic blood and tongue but never claimed to be the author of the Qur'an. In fact he was never challenged as its author, it can be seen clearly from Hadith Mutawatir (definitely confirmed sayings of Muhammad - narrated word for word) of which there are many hundreds that the style of language in Muhammad's speech and the Qur'an are very different. And no matter how hard one tries, one's style of speech cannot be completely altered consistently, and certainly not over a period of 23 years in which the Qur'an was revealed. The only accusation ever leveled at Muhammad (pbuh) was that he received it from a Christian youth called Jaber.
Sebagai tanggapan atas tuduhan ini, Tuhan menurunkan:
As a response to this allegation God revealed:
"Sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, 'Sesungguhnya yang mengajarinya hanyalah seorang manusia.' Bahasa orang yang mereka tuduh itu jelas-jelas bahasa asing, sedangkan ini adalah bahasa Arab yang jelas dan murni."[16:103] Karena yang menjadi mukjizat Al-Qur'an adalah gaya bahasa Arabnya, bagaimana orang yang bukan penutur bahasa Arab dapat memastikan kebenaran hal ini? Sebagaimana seorang mahasiswa asing mempelajari Shakespeare melalui ahli bahasa Inggris, demikian pula penutur bahasa Inggris hendaknya merujuk kepada para ahli bahasa Arab untuk memperoleh kepastian tentang tingginya kefasihan dan gaya bahasa Al-Qur'an. Bahasanya menjadi pengingat yang terus-menerus sepanjang zaman, dan gaya bahasanya yang konsisten telah memastikan bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat ditambahkan ke dalam Al-Qur'an. Sesungguhnya Tuhan telah berjanji untuk menjaga kitab ini, dan terdapat salinan naskah tertua yang sama persis huruf demi huruf dengan semua salinan yang ada saat ini.
"We know indeed that they say, 'It is a man that teaches him.' The tongue of him they wickedly point to is notably foreign, while this is Arabic, pure and clear."[16:103] Since it is the style of the Arabic language that is the miracle of the Qur'an, how can the non-Arab speaker confirm this fact? Just as the foreign student studies Shakespeare from the English language scholar, so too should the English speaker refer to the scholars of Arabic for the true confirmation of the height of eloquence and style of the Qur'an. The language serves as a constant reminder over the ages, and also the consistent style has ensured that nothing could be added to the Qur'an. Indeed God has promised that the book would be protected, and there are copies of the most ancient manuscript which are letter for letter the same as all copies today.
"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya" [15:9] "Seandainya Al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, niscaya mereka mendapati di dalamnya pertentangan yang banyak" [4:82] Karena Al-Qur'an adalah firman Allah, yang diturunkan kepada umat manusia sebagai petunjuk bagi segala urusan, dan karena ia terjaga serta sepenuhnya konsisten dari awal hingga akhir, maka apa pun yang disebutkan oleh kitab ini dapat diterima sebagai kebenaran yang mutlak. Keberadaan surga dan neraka tidak dapat dibuktikan melalui dalil rasional, karena kita belum mampu mempersepsikannya; keyakinan terhadapnya datang melalui jalur tradisi (naqli). Namun, keyakinan terhadap keduanya didasarkan pada keyakinan yang diperoleh secara rasional, yang membuktikan bahwa Al-Qur'an bersumber dari Allah. Hal ini disebut sebagai penggunaan dalil transformatif (ad-dalil an-naqli/ at-tawqifi). Oleh karena itu, segala sesuatu yang secara pasti disebutkan oleh Al-Qur'an dapat diterima sebagai kebenaran tanpa keraguan sedikit pun.
"Lo! We, even We, reveal the reminder, and lo! We verily are its Guardian"[15:9] "If it had been from other than Allah thy would have found much incongruity"[4:82] As the Qur'an is the word of God, sent to mankind as a guide for all affairs, and as it is protected and completely consistent throughout, then anything the book refers to can be taken as a complete truth. The existence of paradise and hellfire cannot be derived from rational evidence as we cannot as yet perceive them, to believe in them comes in a traditional way, however belief in them is based upon a rationally derived belief which proves the divine source of the Qur'an. This is referred to as use of transformative evidence. Therefore all that the Qur'an definitely refers to can be taken as truth without any hesitation.
"Dan Kami tidak mengutus engkau (wahai Muhammad) melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan kepada seluruh umat manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui"[34:28] Al-Qur'an dan Sunnah (jalan dan arah yang ditempuh Nabi ﷺ) menjadi sumber Syariah (hukum ilahi) dalam Islam. Sebagai sumber hukum Tuhan yang telah dikukuhkan secara rasional, manusia wajib mengikuti keduanya dalam segala perinciannya. Dasar inilah akidah atau keyakinan yang menjadi rujukan bagi seluruh tindakan dalam kehidupan.
"And we have not sent thee (O Muhammad) save as a bringer of good tidings and a warner unto all mankind, but most of mankind know not"[34:28] The Qur'an and the Sunnah (path and direction of the Prophet) act as the source of Shariah (divine law) in Islam, as rationally confirmed sources of God's law mankind is obliged to follow them in all details. This basis is the creed or doctrine upon which all actions in life should be referred.