Perjuangan Ekonomi
7 Economic Struggle
Perjuangan ekonomi telah ada sejak zaman dahulu, namun kini ia telah menjadi terorganisir, menyeluruh, menghancurkan, dan mengerikan, sehingga para pengikut peradaban yang kuat mulai memangsa hamba-hamba Allah dari kalangan pengikut peradaban lain, tanpa belas kasihan, simpati, ataupun kemanusiaan. Dunia pun menjadi sebuah hutan belantara yang luas, di mana yang kuat memangsa yang lemah. Memang benar bahwa dunia adalah sebuah desa kecil dalam hal komunikasi dan transportasi; namun ia adalah hutan belantara dalam hal dominasi yang kuat atas yang lemah. Hal ini terlihat jelas dalam praktik Kapitalisme - khususnya pemimpinnya, Amerika - dengan berbagai cara, di antaranya:
Economic struggle existed from ancient times, however, today it has become organized, comprehensive destructive and dreadful, such that the followers of the powerful civilisation started to devour the slaves of Allah, among the followers of other civilisations, without mercy, sympathy or humanity. The world has thus become a large jungle where the strong devour the weak. It is true that the world is a small village in relation to communication and transport; however it is a jungle in relation to the supremacy of the strong over the weak. This is evident in what the Capitalism practices - particularly its leader America - of styles including:
Pertama: Penguasaan atas bahan mentah setiap kali ditemukan jalan untuk mencapainya.
First: Domination over raw materials whenever a way to achieve that is found.
Kedua: Menjadikan dolar sebagai alternatif emas sebagai mata uang dunia. Eropa berupaya melawan hegemoninya melalui mata uangnya yang disebut 'Euro', dan beberapa negara berupaya kembali ke standar emas dan perak. Namun, Amerika memerangi setiap upaya untuk kembali ke standar emas.
Second: Making the dollar an alternative to gold as the world's currency. Europe tries to struggle against its hegemony by its currency called the 'Euro', and some states try to return to the gold and silver standard. However, America fights any attempt to return to the gold standard.
Ketiga: Terus menjadikan negara-negara berkembang sekadar pasar konsumsi dengan mencegah mereka membangun industri berat, bahkan banyak industri ringan.
Third: Continuing to make the developing countries mere markets for consumption by preventing them from [developing] heavy industry and even many of the light industries.
Keempat: Membenamkan negara-negara berkembang dengan pinjaman berbunga majemuk melalui Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia. Bahaya dari pinjaman-pinjaman ini sudah jelas.
Fourth: Drowning the developing countries with compound interest loans through the International Monetary Fund (IMF) and World Bank. The danger of these loans is obvious.
Kelima: Menarik para profesional dan intelektual perantau yang tidak menemukan tempat bagi diri mereka di negeri asal mereka, sehingga terpaksa berimigrasi ke Barat.
Fifth: Attracting the emigrant professionals and intellectuals who do not find any place for themselves in their original countries, and so are forced to emigrate to the West.
Keenam: Merumuskan kebijakan yang sebagian besar dipaksakan oleh IMF sehingga menyebabkan tidak adanya ketahanan pangan di negara-negara ini, sehingga mereka jatuh di bawah belas kasihan bantuan, hibah, dan pinjaman setelah sebelumnya mampu berswasembada.
Sixth: Formulating policies predominantly imposed by the IMF leading to the absence of food security in these countries, such that they fall under the mercy of aid, grants and loans after they have been self- sufficient.
Ketujuh: Menyulut perang-perang regional agar negara-negara terdorong untuk membeli senjata, yang dengan cepat berubah menjadi sekadar rongsokan logam yang usang, tidak berarti, dan berkarat, kecuali jika senjata-senjata itu dipakai dalam perang-perang regional mereka.
Seventh: Igniting regional wars to push states to purchase weapons, which quickly transform into mere outdated, insignificant, rusting scrap metal, unless they are used in their regional wars.
Kedelapan: Berupaya menciptakan ketiadaan keamanan di berbagai negara, sehingga modal mereka berpindah ke negara-negara yang lebih aman seperti Eropa dan Amerika, yang kemudian mereka bekukan dengan berbagai dalih kapan pun mereka menghendaki. Jika kita mengetahui bahwa negara-negara Arab saja memiliki modal di Barat yang berjumlah 800 miliar dolar menurut perkiraan terendah, kita dapat membayangkan, meski hanya secara kasar, berapa banyak yang telah dirampas dari negeri-negeri Islam, yang semuanya merupakan negara-negara terbelakang, belum termasuk negara-negara berkembang lainnya.
Eighth: Working for the absence of security in various countries, such that [their] capital migrates to more secure countries like Europe and America, which they then freeze under various pretexts whenever they wish. If we know that the Arab countries alone have capital in the West amounting to 800 billion dollars at the lowest estimate, we are able to imagine even approximately what has been plundered from the Islamic lands, all of them under-developed countries, without mentioning other developing countries.
Kesembilan: Kepentingan ekonomi yang mendominasi berbagai negara melalui apa yang mereka sebut globalisasi, privatisasi, dan investasi modal yang dimiliki oleh korporasi-korporasi Kapitalis raksasa.
Ninth: Dominating economic interests in various countries through what they call globalisation, privatisation and capital investments owned by giant Capitalist corporations.
Kesepuluh: Menunjuk penguasa-penguasa yang menjadi agen mereka, beserta tentara dan dinas intelijen yang tugasnya melindungi kepentingan mereka.
Tenth: Designating rulers who are their agents together with armies and intelligence services whose function is to protect their interests.
Kesebelas: Mendaratkan pasukan di beberapa kawasan sensitif dunia dan menetap di sana, untuk melanggengkan perluasan pengaruh, sebagaimana yang dilakukan Amerika di Teluk, Sinai, Asia Tengah, Turki, dan tempat-tempat lain. Hal ini ditambah dengan armada-armada yang berlayar di lautan untuk mengamankan perampasan kekayaan.
Eleventh: Landing forces in some sensitive global regions and settling therein, to perpetuate the extension of influence, as America did in the Gulf, Sinai, Central Asia, Turkey and elsewhere. This is in addition to the fleets that cruise the oceans to secure the plunder of riches.
Kedua belas: Berupaya memecah dunia menjadi banyak negara dengan dalih kemerdekaan demi mengabadikan kelemahan mereka dan memudahkan dominasi atas mereka.
Twelfth: Working to fragment the world into many countries in the name of independence to perpetuate their weakness and facilitate dominance over them.
Ketiga belas: Menyebarkan budaya dan konsep peradaban mereka untuk melanggengkan dominasi atas negara-negara yang kalah, serta untuk menjauhkan mereka dari pemikiran tentang perubahan dan pembebasan dari cengkeraman mereka.
Thirteenth: Spreading their culture and civilisational concepts to perpetuate dominance over defeated countries and to distance them from thinking about change and liberation from their claws.
Keempat belas: Menjatuhkan sanksi terhadap sebagian negara, seperti sanksi yang dijatuhkan Amerika terhadap Irak. Melalui Dewan Keamanan, PBB mengeluarkan resolusi Nomor 665 untuk memboikot Irak dan memberikan hak kepada angkatan laut Amerika untuk menggunakan kekuatan guna mencegah perdagangan dengan Irak. Bob Woodward mengomentari resolusi ini dalam bukunya 'Leaders' dengan mengatakan: "Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Perserikatan Bangsa-Bangsa yang membentang selama empat puluh lima tahun bahwa PBB memberikan kepada negara-negara di luar naungannya hak untuk menjatuhkan sanksi ekonomi. Ini merupakan kemenangan diplomatik yang luar biasa bagi pemerintahan Amerika."
Fourteenth: Imposing sanctions upon some countries, like the sanctions America imposed upon Iraq. It issued resolutions through the Security Council under Number 665 to boycott Iraq and grant the American navies the right to use force to prevent trade with Iraq. Bob Woodward commented in his book 'Leaders' upon this resolution saying: "This was the first time in United Nations history spanning forty five years that it granted countries outside its umbrella the right to impose economic sanctions. This was a magnificent diplomatic victory for the American administration."