Kesimpulan
Conclusion
Esai ini menunjukkan kemukjizatan wacana Al-Qur'an yang tak tertandingi dengan menganalisis surah terpendeknya, Al-Kawthar. Analisis sastra dan linguistik memberikan bukti yang meyakinkan bahwa tidak mungkin bagi manusia untuk menghasilkan tiga baris bahasa Arab tersebut. Mengingat bahwa Nabi Muhammad ﷺ tidak diketahui memiliki kemampuan retorika dan tidak dikenal sebagai master puisi, bagaimana Al-Kawthar dapat dijelaskan secara masuk akal?
This essay showcased the miraculous inimitability of the Qur’ānic discourse by analysing its shortest chapter, Al-Kawthar. The literary and linguistic analysis provides compelling evidence that it was not humanly possible to produce the three lines of Arabic. Given the fact that the Prophetصلى الله عليه وسلمwas not known to have cultivated any rhetorical gifts and he was not recognised as a poetic master, how can Al-Kawthar be reasonably explained?
Penting untuk mengingatkan pembaca bahwa Al-Kawthar hanya memiliki 10 kata leksikal dengan setidaknya dua puluh tujuh perangkat linguistik dan sastra. Surat ini memiliki irama dan rima yang berorientasi pada makna, sekaligus menjaga makna yang optimal. Surat ini diturunkan sebagai tanggapan atas keadaan tertentu, namun nasihat dan maknanya bersifat universal. Surat ini juga berkaitan dengan konsep dan tema-tema kunci dari kitab yang menjadi bagiannya, dan menggunakan empat kata yang tidak dipakai dalam kitab tersebut, yang memiliki lebih dari tujuh puluh ribu kata. Surat ini menggunakan 10 kata leksikal, dan keseluruhan surat menggunakan 10 huruf hanya sekali, serta secara semantik mencerminkan surat sebelumnya dengan cara yang indah tanpa penggunaan bahasa yang berlebihan. Mengingat Nabi ﷺ menyampaikan ayat ini secara terbuka, tanpa revisi atau perubahan, semakin menguatkan kesimpulan bahwa tidak mungkin manusia mampu menghasilkan ekspresi sastra seperti ini. Semua ini berada dalam konteks Al-Qur'an yang menantang seluruh umat manusia untuk membuat satu surat yang serupa. Meskipun para ahli bahasa Arab abad ke-7 adalah pihak yang paling mampu menjawab tantangan Al-Qur'an tersebut, mereka gagal melakukannya, dan justru menempuh jalan pemboikotan, caci maki, peperangan, dan penyiksaan.
It is important to remind the read that Al-Kawthar has only 10 lexical items with at least twenty-seven linguistic and literary devices. It has a semantically oriented rhythm and rhyme, whilst maintaining optimal meaning. The chapter was revealed as a response to specific circumstances, however it is universal in its advice and meaning. It also relates to concepts and key themes of a book that it is part of, and it uses four words that are not used in the book, which has over seventy-thousands words. This chapter uses 10 lexical items and the whole chapter uses 10 letters only once, and it semantically mirrors the chapter before it in an eloquent way without any superfluous use of language. Considering the Prophetصلى الله عليه وسلمrevealed this verse publicly, without revision or edition, compounds the conclusion that it could not have been humanely possible to produce such literary expression. All of this is in the context of the Qur’ān presenting a challenge to humanity to produce one chapter like it. Although the 7th centruy Arab linguists of the time were best place to respond to the Qur’ānic challenge, they failed to do so, and resorted to boycott, abuse, war and torture.
Bagaimana hal ini mungkin secara manusiawi?
How is this humanely possible?
Ketidakmampuan untuk menjawab pertanyaan ini secara memadai seharusnya membuat seseorang berdiri di atas kemungkinan bahwa Al-Qur'an adalah firman Tuhan:
Not being able to adequately answer this question should make one stand in the possibility that the Qur’ān is the word of God:
Dan Al-Qur'an ini tidaklah mungkin dibuat oleh selain Tuhan. Ia membenarkan apa yang telah diturunkan sebelumnya dan menjelaskan Kitab—tidak ada keraguan padanya—ia berasal dari Tuhan semesta alam.86
“Nor could this Qur’ān have been devised by anyone other than God. It is a confirmation of what was revealed before it and an explanation of the Scripture—let there be no doubt about it—it is from the Lord of the Worlds.”86
Ciri-ciri luar biasa dari Al-Kautsar juga semestinya mendorong pembaca untuk menganggap serius pesan Al-Qur'an. Al-Qur'an mengajarkan bahwa tujuan hidup kita adalah beribadah kepada Allah.87 Hal ini mencakup menegaskan keesaan Allah, memuja-Nya, serta mengarahkan dan mengkhususkan seluruh bentuk ibadah hanya kepada-Nya.88 Cara beribadah kepada Allah adalah dengan mengikuti Nabi Muhammad ﷺ, dan dengan melakukannya, hal itu akan memudahkan kita untuk menjalani kehidupan yang penuh ketenangan dan kebahagiaan abadi di akhirat. Hanya melalui hal inilah kita juga dapat berharap menjadi bagian dari umat yang akan berkumpul di sungai surga yang dijanjikan kepada beliau ﷺ, yaitu Al-Kautsar.
The remarkable features of Al-Kawthar should also encourage the reader to take the Qur’ān’s message seriously. The Qur’ān teaches that our purpose in life is to worship God.87 This involves affirming God’s oneness, adoring Him and directing and singling out all acts of worship to Him alone.88 The way to worship God is to follow Prophet Muhammadصلى الله عليه وسلمand by doing so it will facilitate for us a life of contentment and eternal bliss in the hereafter. It is only through this that we can also hope to be part of the community that will gather at the river of paradise that was promised to himصلى الله عليه وسلم—Al-Kawthar.