Penggunaan dan Frekuensi Fitur Linguistik dan Sastra yang Tiada Tandingannya
Unparalleled Use And Frequency Of Linguistic And Literary Features
Surat ke-108, Al-Kautsar, seperti halnya surat-surat lain dalam Al-Qur'an, memiliki banyak ciri kebahasaan dan sastra. Menurut banyak ulama dan akademisi, Al-Qur'an menggunakan perangkat dan ciri sastra serta kebahasaan lebih banyak daripada teks mana pun, baik di masa lalu maupun masa kini.25
The 108th chapter, Al-Kawthar, like all the other chapters in the Qur’ān has an abundance of linguistic and literary features. According to many scholars and academics, the Qur’ān has a greater use of literary and linguistic devices and features than any other text, past or present.25
Berikut adalah beberapa contoh bagaimana surah Al-Kawthar mencapai hal ini. Daftar di bawah ini tidak lengkap, namun ia memberikan bukti yang kuat untuk menguatkan kemukjizatan surah ini yang tidak dapat ditiru.
Below are some examples of how chapter Al-Kawthar achieves this. The list below is not exhaustive, however, it provides compelling evidence to substantiate the miraculous inimitability of this chapter.
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu (ya Muhammad ﷺ) nikmat yang banyak. Maka shalatlah kamu untuk Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus.
[Indeed We have given you the abundance, So pray to your Lord and sacrifice, Indeed your enemy is cut off.]
1. Penekanan.
1. Emphasis.
ِإَّن [Sesungguhnya/Pasti] ِإَّن Partikel إِنَّ merupakan partikel penegas dengan implikasi semantik 'kepastian', 'sesungguhnya', dan 'pasti'.26 Partikel ini menambah penekanan pada baris pertama bahwa tanpa diragukan lagi, Dzat yang memiliki dan berkuasa atas segala sesuatu telah memberikan kepadamu kebaikan yang melimpah. Memulai surah dengan partikel ini juga berfungsi sebagai sarana seruan untuk menarik perhatian pendengar atau pembaca. Dengan demikian, penggunaan إِنَّ memberikan efek seperti "Hai! Tanpa diragukan, Dzat yang memiliki kekuasaan dan kepemilikan penuh atas segala sesuatu telah memberikan kepadamu kebaikan yang melimpah." (Lihat poin 2 hingga 8).
ِإَّن [Indeed/Surely] ِإَّن Theِ is the emphatic particle with the semantic implication of ‘certainty’, ‘indeed’, and ‘surely’.26 This particle contributes to the first line’s emphasis that it is without a doubt that the One who owns and has power over everything has given you the abundance. Starting the chapter with this particle also serves as an exclamatory device to excite the attention of the listener or reader. With this in mind the use of إِ نَّ has the effect of “Hey! Unquestionably, the One who has full power and ownership over all things has given you the abundance.” (See points 2 to 8).
2. Pemilihan Kata Ganti
2. Choice of Pronoun.
ِإنَّا [Sesungguhnya Kami] Kata ganti orang pertama jamak digunakan, yang menunjukkan keagungan Rububiyyah, keagungan dan kekuasaan.27 Kata ini menunjukkan kekuatan, kepastian, kemampuan, jumlah yang lebih besar, dan dapat digunakan untuk menegaskan kedudukan dan keagungan. Pilihan kata ganti ini tepat karena merujuk pada kekuasaan dan kemampuan.
ِإنَّا [Indeed/Surely, We] The first-person plural is used which suggests the magnificence of Lordship, majesty and ability.27 It indicates power, certainty, ability, greater quantity and it can be used to stress status and greatness. This is an apt choice of pronoun because it refers to power and ability.
Hal ini menambah kekuatan persuasif ayat tersebut, karena ayat ini menegaskan bahwa Allah, yang Maha Kuasa dan mampu melakukan segala sesuatu, telah memberikan kepada Nabi Muhammad ﷺ kebaikan yang melimpah. Digabungkan dengan poin sebelumnya (lihat poin 1), efeknya adalah: "Hai! Sungguh, Pencipta yang Mulia dan Maha Kuasa, yang berkuasa atas segala sesuatu dan yang merupakan Tuan serta Pemilik segala sesuatu, telah memberikan kepadamu kebaikan yang melimpah." (Lihat poin 3 sampai 8).
This adds to the verse’s persuasive force, because it is affirming that God, who is powerful and able to do all things has given the Prophet Muhammadصلى الله عليه وسلمthe abundance. Combined with the previous point (see point 1), the effect is “Hey! Unquestionably, the majestic, powerful creator, who has power over all things and who is the master and owner of everything has given you the abundance.” (See points 3 to 8).
7. Kesempurnaan dan Keabadian.
7. Comprehensiveness and Perpetuity.
َالَكْوثَر [Al-Kawthar/Kelimpahan] Kata Al-Kawthar diawali dengan artikel definit ال. Salah satu makna artikel definit adalah menunjukkan keseluruhan kelas dari sesuatu. Karena Al-Kawthar tidak menunjuk pada satu hal yang spesifik, maka seluruh kelasnya dapat disimpulkan. Hal ini memiliki implikasi semantik "kelimpahan dari segala yang baik". Al-Rāzī berpendapat bahwa penambahan ال memudahkan "makna yang menyeluruh" dan menyampaikan "kelimpahan yang paling sempurna."39
َالَكْوثَر [Al-Kawthar/The abundance] The word Al-Kawthar is prefixed with the definitive article ال. One of the meanings of the definite article includes denoting the entire class of something. Since Al-Kawthar is not denoting a specific thing, the entire class is to be inferred. This has the semantic implication of “the abundance of that is good”. Al-Rāzī maintains that the inclusion of the الfacilitates a “comprehensive meaning” and conveys “the most complete abundance.”39
Dari sudut pandang morfologi, penggunaan huruf و di dalam akar kata tiga huruf (triliteral) menegaskan implikasi makna dari keseluruhan makna ayat tersebut. Huruf و menunjukkan intensitas dan keberlangsungan. Ini menandakan bahwa kelimpahan kebaikan yang telah diberikan itu bersifat abadi, terus-menerus.
From a morphological perspective, the use of the و within the main triliteral root emphasises the semantic implication of the overall meaning of the verse. The و implies intensity and perpetuity. This denotes that the abundance of good that has been given is perpetual, ongoing.
8. Susunan Kata.
8. Word Arrangement.
َالَكْوثَر [Al-Kawthar/Nikmat yang berlimpah] Kata Al-Kawthar merupakan sifat yang menunjukkan banyak atau melimpah. Namun, kata ini diletakkan secara tepat di akhir ayat tanpa adanya kata sifat setelahnya yang menjelaskannya. Hal ini, sebagaimana argumen Al-Rāzī, secara kebahasaan menghendaki makna keumuman, keterlingkupan, dan keterliputan; untuk menunjukkan bahwa kata tersebut merujuk kepada segala sesuatu yang baik.40 Seandainya Allah memberikan satu hal dalam jumlah yang sangat banyak, tentu hal itu akan disebutkan. Namun, tidak ada sesuatu pun yang disebutkan setelah kata Al-Kawthar, yang menunjukkan segala sesuatu atau banyak hal, dan dalam konteks ini, mengisyaratkan bahwa Nabi ﷺ telah dianugerahi kelimpahan dari segala sesuatu yang baik.
َالَكْوثَر [Al-Kawthar/The abundance] The word Al-Kawthar is an attribute denoting plentiful or abundance. However, this word has been aptly placed at the end of the verse with no adjective after to be attributed to it. This, as Al-Rāzī’s argues, linguistically facilitates the desire meanings of vagueness, inclusivity, and encompassment; to indicate that it refers to all that is good.40 If God had bestowed one thing in great multitude then that would have been mentioned. However, nothing is specified after the word Al-Kawthar, which indicates everything or many things, and in this context, implying that the Prophetصلى الله عليه وسلمhas been given an abundance of everything that is good.
12. Pemilihan Kata
12. Word Choice.
**Kurban** Kata ini berasal dari akar kata tiga huruf nūn-ḥā-rā (ن ح ر), dan memiliki beberapa makna berikut:
[Sacrifice] This word is from the triliteral root nā-ḥā-rā (ر ح ن(, and it has the following meanings:
dada, bagian atas dada, tenggorokan, menyembelih; bersungguh-sungguh; mencurahkan dengan deras.52
“chest, the upper part of the chest, the throat, to slaughter; to strive; to pour down heavily.”52
Kata ini memiliki banyak lapisan makna. Lapisan pertama adalah penyembelihan hewan kurban. Lapisan kedua adalah berdiri dalam salat. Lapisan ketiga adalah mengangkat tangan dalam salat sambil mengucapkan takbir ("Allah Maha Besar"). Kata ini sangat tepat untuk menyampaikan makna pengorbanan karena memiliki lapisan-lapisan makna yang paling sesuai dengan gagasan dan konsep yang hendak disampaikan dalam bab ini. Sungguh, hanya karena kebesaran Allah-lah Al-Kawthar dianugerahkan kepada Nabi ﷺ, dan karunia itu hendaknya diterima dengan rasa syukur dan pengorbanan, yang diwujudkan dalam Islam melalui penyembelihan hewan kurban, salat, serta mengumandangkan dan merenungkan nama-nama Allah (dzikir).
This word is multi-layered. The first layer of meaning is that it can refer to the sacrifice of an animal. The second is to stand in prayer. The third is to raise one’s hand in prayer reciting the takbīr (‘God is greater’). This word is apt in conveying the meaning of sacrifice as it has layers of meanings that are most appropriate for the ideas and concepts that are trying to be delivered in this chapter. Surely, it is only out of God’s greatness that Al-Kawthar is given to the Prophet صلى الله عليه وسلمand it should be received with gratitude and sacrifice, which are manifested in Islam via sacrificing animals, prayer, and proclaiming and reflecting on God’s names (dhikr).
13. Penekanan
13. Emphasis.
[Sesungguhnya/sungguh] Partikel penegas digunakan untuk menegaskan siapa yang benar-benar dan tidak diragukan lagi terputus. Hal ini menyoroti dan menonjolkan bahwa musuh-musuh Nabi ﷺ lah yang benar-benar terputus (lihat poin 14 hingga 17).
[Indeed/surely] The emphatic particle is used to emphasise who is truly and unquestionably cut off. This highlights and accentuates that it is the enemies of the Prophetصلى الله عليه وسلمthat are the one’s who are truly cut off (see points 14 to 17).
14. Pembencimu.
14. Your hater.
23. Nubuwah (Kenabian)
23. Prophesy.
Sebuah pengamatan menarik tentang surah ini adalah bahwa ia juga bersifat faktual dan akurat. Pada saat surah ini diturunkan, Nabi ﷺ berada di salah satu titik terendah dalam hidupnya. Musuh-musuhnya tampak justru yang memiliki kemakmuran dan kekuasaan. Namun, kenyataan segera berubah. Nabi ﷺ terbukti menjadi nabi yang paling sukses, baik sebagai manusia maupun sebagai pemimpin.
An interesting observation of this chapter is that it also is factual and accurate. At the time when this chapter was revealed the Prophetصلى الله عليه وسلمwas in one of the lowest points in his life. His enemies were the ones who seemed to have prosperity and power. However, the reality soon changed. The Prophetصلى الله عليه وسلمturned out to be the most successful Prophetصلى الله عليه وسلمboth as a man.
...dalam menyampaikan wahyu Ilahi dan sebagai negarawan. Akhirnya musuh-musuhnya kehilangan kekuasaan mereka. Bahkan, Nabi Muhammad ﷺ adalah orang yang paling dikenang, dicintai, dan dipuji di muka bumi. Tidak ada kehidupan seseorang yang dicatat dan dikenang seperti kehidupan Nabi Muhammad ﷺ. Selalu ada seseorang yang memuji dan mengenang Nabi Muhammad ﷺ setiap detik di planet ini; selalu ada waktu shalat Islam di suatu tempat di bumi, sehingga selalu ada seruan azan, yang menyebut Nabi Muhammad ﷺ. Salah satu ciri utama penyempurnaan iman seorang Muslim adalah mencintai Nabi Muhammad ﷺ melebihi segala sesuatu.
delivering a Divine message and as a statesman. His enemies eventually lost their power. In fact, the Prophetصلى الله عليه وسلمis the most remembered, loved and praised person on earth. No one’s life is recorded and remembered as the life of the Prophetصلى الله عليه وسلم. Someone is always praising and remembering the Prophetصلى الله عليه وسلمevery second on this planet; it is always the Islamic prayer time somewhere on earth, therefore there is always the call to prayer, which mentions the Prophet صلى الله عليه وسلم. A key feature of perfecting one’s faith as a Muslim is to love the Prophetصلى الله عليه وسلمmore than.
diri sendiri dan keluarga. Bahkan, tanda cinta diri—yaitu menginginkan kebaikan bagi diri sendiri—adalah dengan mencintai Nabi ﷺ. Karena mencintai dan mengikuti beliau ﷺ membawa kepada cinta dan ampunan Allah yang istimewa.65
oneself and family. In fact, a sign of self-love—wanting goodness for oneself—is to love the Prophetصلى الله عليه وسلم. For loving and following him leads to a special Divine love and forgiveness.65
Yang menjadikan bab ini bersifat kenabian dan faktual adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah wahyu ini.