Sebab Turunnya Wahyu
Reason For Revelation
Pada tahap ini, berguna untuk mencatat latar belakang turunnya surah Al-Kawthar. Terlepas dari perbedaan pendapat, banyak ahli tafsir Al-Qur'an berpendapat bahwa surah ini diturunkan sebagai tanggapan terhadap al-'Āṣ ibn Wā'il yang menyebut Nabi ﷺ "terputus" ketika putra Nabi ﷺ wafat.22 Misalnya, tafsir yang dikenal sebagai Tafsīr Al-Jalalayn menyatakan:
At this stage, it is useful to note the background to Al-Kawthar’s revelation. Notwithstanding a difference of opinion, many Qur’ānic exegetes maintain that this chapter was revealed as a response to al-‘Āṣ ibn Wā’il who called the Prophetصلى الله عليه وسلم”cut off”, when the Prophet’sصلى الله عليه وسلمson passed away.22 For instance, the exegesis known as Tafsīr Al-Jalalayn states:
Ini diturunkan berkenaan dengan al-‘Āṣ ibn Wā’il, yang menyebut Nabi ﷺ sebagai *abtar* (terputus) ketika putranya al-Qāsim meninggal.23
“This was revealed regarding al-‘Āṣ ibn Wā’il, who called the Prophet [صلى الله عليه وسلم [abtar (cut off) when his son al-Qāsim died.”23
Bagi orang Arab abad ke-7, memiliki seorang anak laki-laki merupakan sumber kebanggaan dan kebahagiaan yang besar. Hal itu menjadi sarana agar seseorang tetap dikenang dan agar nama serta garis keturunannya terus berlanjut jauh setelah ia meninggal dunia. Oleh karena itu, kematian putra Nabi ﷺ dipandang sebagai sumber aib dan rasa malu dalam budaya Arab pada masa itu.
It was a source of huge pride and joy for a 7th century Arab to have a son. It was a means for being remembered and for one’s name and lineage to continue long after one’s death. Hence the death of the Prophet’sصلى الله عليه وسلمson was perceived to be a source of dishonour and shame in the Arab culture of the time.
Menurut riwayat sejarah yang sahih, al-‘Āṣ ibn Wā’il termasuk di antara banyak orang yang berusaha menghina Nabi ﷺ dengan cara ini. Yang lain di antaranya adalah ‘Uqbah ibn Mu’ayt, Ka’b ibn Al-Ashraf, dan Abu Lahab.
According to authentic historical reports, al-‘Āṣ ibn Wā’il was one of many who attempted to denigrate the Prophetصلى الله عليه وسلمin this way. Others included ‘Uqbah ibn Mu’ayt, Ka’b ibn Al-Ashraf, and Abu Lahab.
Sebagai tanggapan atas serangan-serangan tersebut, Allah menurunkan tiga ayat untuk menghibur, mengangkat derajat, dan menasihati Nabi ﷺ. Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ, meskipun menanggung penderitaan karena kehilangan putranya, mengangkat kepalanya setelah tidur siang dan tersenyum. Para sahabatnya bertanya mengapa beliau tersenyum, dan beliau menjawab:
In response to such attacks, God revealed three verses to console, elevate, and advise the Prophetصلى الله عليه وسلم. It was narrated the Prophetصلى الله عليه وسلمthat, despite the suffering endured by the loss if his son, he raised his head after a nap, and smiled. His companions asked him why he was smiling and he replied:
"Baru saja surat ini diturunkan kepadaku: Dengan nama Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Sungguh, Kami telah memberimu (nikmat) yang banyak. Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah (hanya untuk-Nya). Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari kebaikan)."24
“Just now this chapter was revealed to me: In the Name of God, the Most Gracious, the Most Merciful. Verily, We have granted you Al-Kawthar. Therefore turn in prayer to your Lord and sacrifice (to Him only). For he who hates you, he will be cut off.”24
Kekuatan ketiga baris ini mampu mengubah sudut pandang dari berfokus pada apa yang telah diambil dari Nabi ﷺ, menjadi berfokus pada apa yang telah diberikan kepadanya. Ia mampu mengubah emosi yang terkait dengan kehilangan dan penderitaan menjadi emosi yang membuat Nabi ﷺ tersenyum.
The power of these three lines was able to change the perspective from focussing on what was taken away from the Prophetصلى الله عليه وسلم, to focus on what was given to him. It was able to transform the emotions associated with loss and suffering into emotions that made the Prophetصلى الله عليه وسلم smile.