Argumen dari Logika untuk Keberadaan Allah
Argument From Logic For The Existece Of Allah
Pada bab sebelumnya telah ditegaskan bahwa pengenalan terhadap Rabb di dalam fitrah mendahului analisis dan penalaran. Kesan yang tertanam dalam jiwa menuntun manusia untuk mengakui-Nya, selama indranya dalam keadaan normal dan tidak ada penghalang. Apabila seseorang tertimpa keraguan atau kelalaian, maka logika berperan untuk menguatkan pengenalan yang berbasis fitrah dengan cara mengingatkan jiwa. Ibnu Taimiyyah berkata, "Tidak ada pertentangan antara pengetahuan dasar yang bersifat naluriah dan adanya dalil yang mendukungnya."107
In the previous chapter, it was highlighted that the cognition of the Lord within the fiṭrah precedes analysis and reasoning. The imprint on the soul requires a man to acknowledge Him, , so long as his senses are of sound nature and the impediments are absent. In the event where a person falls prey to doubt or heedlessness, logic has a role in shoring up fiṭrah-based cognition by reminding the soul. Ibn Taymiyyah said, ‘There is no mutual conflict between instinctive self-evident knowledge and possession of evidence that supports it.’107
Wahyu menunjukkan argumen-argumen rasional utama dalam masalah ini dan masalah-masalah lainnya. Jika kita merenungkan bagaimana wahyu membahas masalah ini, kita mendapati sejumlah poin.
Revelation points out the main rational arguments in this issue and others. If we contemplate how revelation deals with this issue, we observe a number of points:
1. Perangkat penalaran berbasis logika dalam Al-Qur'an dan tradisi kenabian sangat sederhana dan jelas. Perangkat tersebut mudah dicerna dan selaras sepenuhnya dengan fitrah.
1. The tools of logic-based reasoning in the Qur’an and the prophetic tradition are distinctly simple and clear. They are easy to digest and are in absolute alignment with fiṭrah.
Alat-alat ini merupakan bukti-bukti rasional yang paling bermanfaat, dan selaras dengan kebanyakan jiwa. ‘Bukti rasional yang mudah dipahami dan dicerna, dan jelas bagi akal, lebih besar kemungkinannya untuk dipercaya.’108 Ibnu Rusyd menjelaskan kesederhanaan bukti-bukti dalam wahyu, dan bagaimana bukti-bukti itu secara efisien menuntun seseorang kepada tujuan. Beliau berkata, ‘Ketika metode-metode keagamaan direnungkan, didapati bahwa sebagian besarnya memiliki dua karakteristik: keduanya bersifat meyakinkan, dan keduanya sederhana, tidak majemuk, yakni jumlah proposisinya sedikit. Oleh karena itu, kesimpulan-kesimpulannya akan sangat selaras dengan proposisi-proposisinya.’109
These tools are the most beneficial of rational proofs and are congruent with most souls. ‘Rational proof that is easy to grasp and digest, and is apparent to the mind, is more likely to be trusted.’108 Ibn Rushd reveals the simplicity of the proofs in revelation, and how they efficiently lead a person to the goal. He said, ‘When the religious methods are contemplated, most are found to comprise of two characteristics: they are conclusive, and they are simple and not compounds, i.e., they are few in terms of their propositions. Therefore, their conclusions would be closely aligned to their propositions.’109.
2. Kelimpahan dan keragaman.
2. Abundance and variety.
Ini adalah kemudahan yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya. Ibnu Taimiyyah berkata, "Semakin orang-orang membutuhkan untuk mengetahui sesuatu, semakin Allah memudahkan bagi mereka bukti-bukti atas pengetahuan tersebut, seperti dalil-dalil untuk mengenal siapa Dia, dalil-dalil kenabian Rasul-Nya, dalil-dalil atas kekuasaan dan ilmu-Nya, dan lain sebagainya. Dalil-dalil semacam itu sangat banyak dan meyakinkan."110
This is a facilitation granted by Allah to His servants. Ibn Taymiyyah said, ‘The more people are in need of knowing something, Allah facilitates for them the evidence for its knowledge, such as the proofs for knowing Who He is, the proofs of His Messenger’s prophethood, the proofs of His power and knowledge, etc. Such proofs are numerous and conclusive.’110
Salah satu aspek dari argumen logika untuk keberadaan Tuhan adalah bahwa akibat menunjukkan sebabnya, dan wahyu datang untuk mengingatkan kita akan argumen ini dengan berbagai ungkapan dan dalam berbagai konteks. Dengan pemahaman ini, maka dimungkinkan untuk membuktikan keberadaan-Nya melalui seluruh ciptaan-Nya, karena semuanya adalah salah satu akibat dari-Nya. Akibat yang menunjukkan sebabnya merupakan argumen payung bagi sejumlah sub-argumen, yang jumlahnya sebanyak keragaman yang terdapat dalam ciptaan. Sebagaimana dikatakan Ibnu Rusyd ketika ia mengomentari argumen dari penciptaan (invention) atas keberadaan Sang Pencipta: 'Dan pada jenis ini terdapat banyak petunjuk sesuai dengan jumlah hal-hal yang diciptakan.'111 Bahkan, 'tidak ada ciptaan yang tidak dengan sendirinya merupakan tanda yang menunjuk kepada Penciptanya, dengan cara yang menafikan adanya sekutu bagi-Nya'.112
One aspect of the argument from logic for the existence of God is that the effect is indicative of the cause, and revelation came to remind us of this argument with various wordings and in multiple contexts. With this in mind, it is then possible to prove Him through His entire creation, as they are all one of His effects, . The effect being indicative of the cause is an umbrella argument for numerous sub-arguments, which number the amount of variety found in the creation. It is as Ibn Rushd said as he commented on the argument from invention for the existence of the Creator: ‘And in this type are many indicators as per the number of invented things.’111 In fact, ‘there is no creation that is not in itself a sign pointing to its Creator, in a manner which disallows any partnership associated unto Him’.112
Penyair Abū al-ʿAtāhiyyah berkata:
The poet Abū al-ʿAtāhiyyah said:
"Lihatlah, kita semua akan menjadi usang."
‘Lo, we are all going to become obsolete.
Siapakah dari anak cucu Adam yang dapat kekal selamanya?
Who from the children of Adam can remain forever?.
Asal-usul mereka adalah dari Tuhan mereka.
Their origin is from their Lord.
Dan setiap orang akan kembali kepada Tuhannya.
And everyone shall return unto his Lord.
Astaghfirullah, bagaimana mungkin Yang Maha Kuasa dapat diingkari?
Alas, how can the Divine be disobeyed?.
Dan bagaimana mungkin Dia bisa diingkari?
And how can He be denied?.
Allah ada dalam setiap gerakan.
Allah has in every motion.
Dan di setiap momen diam ada sebuah bukti.
And in every stationary moment a testament.
Dan pada segala sesuatu Dia memiliki tanda.
And in everything He has a sign.
Menunjukkan bahwa Dia adalah Yang Maha Esa.
Pointing out that He is the One.’.
Jelas, karena itu, bahwa pernyataan "Allah memiliki jalan-jalan menuju-Nya sebanyak tarikan napas seluruh makhluk" tidak jauh dari kebenaran.113.
It is clear, therefore, that the statement ‘Allah has ways unto Him to the tune of all the breaths taken by the creation’ is not far off from the truth.113.
3. Al-Qur'an umumnya membahas masalah ini secara implisit dan melalui argumentum a fortiori.
3. The Qur’an mostly deals with this issue by way of implication and argumentum a fortiori.
Sebagian besar dalil dalam Al-Qur'an yang disebutkan untuk menunjukkan keberadaan-Nya disajikan untuk membuktikan suatu pokok yang lebih luas, seperti keesaan-Nya dalam rububiyyah dan uluhiyyah. Ayat-ayat semacam itu menunjukkan keberadaan Allah secara dalalah lazimah (petunjuk yang melazimkan). Karena ayat-ayat ini dihadirkan untuk membuktikan keesaan Allah dan menyebutkan sebagian sifat-sifat-Nya yang sempurna, maka ayat-ayat tersebut juga menyajikan bukti atas keberadaan-Nya secara implisit. Metode pembuktian ini adalah argumentum a fortiori, sebagaimana telah jelas. Sebagai contoh, Allah berfirman, "Katakanlah, wahai Nabi, 'Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan segala sesuatu?'" 114 Maka, bahwa Allah adalah Tuhan segala sesuatu menunjukkan bahwa Dia memiliki sifat-sifat kekuasaan mutlak, penciptaan, dan pengaturan. Hal ini menunjukkan bahwa perhatian Al-Qur'an tidak semata-mata tertuju pada pembuktian keberadaan Allah, melainkan untuk memperkenalkan makhluk kepada Penciptanya, mengungkap sifat-sifat-Nya yang sempurna, serta menjelaskan pengagungan, pemuliaan, dan ibadah tauhid yang layak bagi-Nya. Adapun sekadar pengetahuan makhluk bahwa mereka memiliki Tuhan yang menciptakan dan bahwa mereka membutuhkan keberadaan-Nya, maka hal itu sudah tertanam dalam fitrah mereka.
Most proofs in the Qur’an mentioned to demonstrate His existence are presented to prove a wider point, such as His oneness, in lordship and divinity. Such verses point out Allah’s existence by necessary implication. Since these verses are presented to prove the oneness of Allah and relate some of His perfect attributes, then they are also offering proof for His existence by implication. This method of evidence is argumentum a fortiori, as is evident. To highlight an example, Allah says, ‘Say, O Prophet, “Should I seek a lord other than Allah while He is the Lord of everything?”’114 So, for Allah to be the Lord of everything denotes that He is associated with the attributes of ultimate dominion, creation, and planning. This reveals that the Qur’an’s concern was spent not solely on proving Allah’s existence, but rather to introduce the creation to its Creator, reveal His perfect attributes, and explain the reverence, glorification, and monotheistic worship that He deserves. As for the mere cognition of the creation that they have a Lord that created and that they are in need of His existence, then that is already imprinted onto their fiṭrah.
4. Melalui berbagai redaksinya, wahyu berupaya membangkitkan dan mengingatkan manusia akan unsur fitrah.
4. Through its various wordings, revelation seeks to stimulate and remind man of the element of fiṭrah.
Al-Qur'an membangkitkan keinginan jiwa untuk mengambil sarana-sarana dalam berbagai keadaan yang dihadapi manusia agar mencapai hasil yang diinginkan. Misalnya, Allah berfirman, "Bagi orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, berlaku sifat-sifat yang buruk; dan bagi Allah-lah sifat yang Maha Tinggi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana."115 Al-Qur'an juga mengingatkan hamba akan kedudukannya yang semestinya di hadapan Tuhannya dan kebutuhannya kepada-Nya ketika musibah menimpanya: "Dialah yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan dan di lautan. Sehingga ketika kamu berada di dalam kapal, dan kapal itu berlayar membawa mereka dengan tiupan angin yang baik dan mereka merasa senang karenanya, tiba-tiba datanglah badai dan gelombang menimpa mereka dari segala arah, dan mereka mengira telah terkepung, maka mereka berdoa kepada Allah dengan tulus ikhlas, 'Sungguh, jika Engkau menyelamatkan kami dari (bahaya) ini, pastilah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.'"116 Al-Qur'an juga berfirman, "Apabila manusia ditimpa bahaya, mereka berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri. Tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu dari mereka, mereka kembali (kepada kekafiran) seolah-olah tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang menimpanya. Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas apa yang telah mereka kerjakan."117
The Qur’an evokes the soul’s desire to adopt means in the various situations man faces in order to achieve a desired outcome. For example, Allah says, ‘To those who disbelieve in the Hereafter belong all evil qualities, whereas to Allah belong the finest attributes. And He is the Almighty, All-Wise.’115 It also reminds the servant of his rightful place in front of his Lord and his need for Him when calamity befalls: ‘He is the One Who enables you to travel through land and sea. And it so happens that you are on ships, sailing with a favourable wind, to the passengers’ delight. Suddenly, the ships are overcome by a gale wind and those on board are overwhelmed by waves from every side, and they assume they are doomed. They cry out to Allah alone in sincere devotion, “If You save us from this, we will certainly be grateful.”’116 The Qur’an also says, ‘Whenever someone is touched by hardship, they cry out to Us, whether lying on their side, sitting, or standing. But when We relieve their hardship, they return to their old ways as if they had never cried to Us to remove any hardship! This is how the misdeeds of the transgressors have been made appealing to them.’117
Komponen-komponen argumen dari logika:
Components of the argument from logic:
Jika kita menganalisis hakikat dalil rasional yang menunjukkan keberadaan Allah, kita akan mendapati bahwa dalil tersebut tersusun dari dua komponen utama:
If we analyse the nature of the rational proof that points to the existence of Allah , we will observe that it is made up of two key components:
1. Konsep-konsep naluriah bawaan.
1. Instinctive innate concepts.
2. Pengamatan dan panca indera.
2. Observation and the senses.
Komponen pertama: Konsep-konsep yang bersifat fitri dan niscaya
First component: Concepts that are innate and necessary
Argumen-argumen yang membuktikan keberadaan Allah ini merupakan kenyataan-kenyataan fitri yang tertanam dalam diri manusia, seperti tidak layaknya pengutamaan tanpa sebab pengutamaan, kebutuhan suatu akibat terhadap sebab, dan prinsip kausalitas. Bukti-bukti lain berasal dari argumen-argumen ini. Dengan demikian, keberadaan sesuatu setelah sebelumnya tidak ada memunculkan pertanyaan tentang kausalitas dan pengutamaan: Apa sebenarnya yang memberikan pengutamaan bagi keberadaan entitas ini atas ketiadaannya? Apa sebabnya yang mengeluarkannya dari ketiadaan ke dunia wujud? Demikian pula, rancangan yang sempurna dalam susunan alam semesta adalah akibat yang memerlukan sebab, dan seterusnya. Keberadaan komponen fitri ini menjadikan jenis argumen ini sangat luas tersebar dan mudah dipahami. Hal itu mendorong orang Badui untuk mengucapkan ungkapannya yang terkenal: "Kotoran unta menunjukkan adanya unta. Jejak kaki menunjukkan adanya perjalanan. Maka langit dengan gugusan bintangnya dan bumi dengan lembah-lembahnya, mengapa tidak menunjukkan Yang Mahatinggi, Yang Maha Mengetahui?"
These arguments that prove Allah’s existence are instinctive realities that are innate to man, like the impropriety of preponderance without a cause for preponderance, an effect’s need for a cause, and the principle of causality. Other proofs stem from these arguments. Thus, the existence of something after having been non-existent leads to the question on causality and preponderance: What exactly gave preponderance for the existence of this entity over its non-existence? What was the cause to take it out from nothingness into the world of existence? Likewise, the immaculate design in the construct of the world is an effect that requires a cause, and so on. The presence of this innate component makes this type of argument extremely widespread and easy to understand. It led the Bedouin to utter his famous phrase: ‘Camel dung points to camels. Footprints indicate travel. So the sky with its constellations and the Earth with its valleys – why do they not point to the Sublime, the Omniscient?’
Komponen kedua: Pengamatan dan indra
Second component: Observation and the senses
Ini menangkap citra dan fenomena dunia yang dapat diamati dan dirasakan. Logika diterapkan pada pengamatan tersebut, sehingga seseorang dapat menarik kesimpulan; inilah buah dari proses penalaran yang berbasis bukti. Makhluk yang memahami bahwa indera menunjuk kepada Allah tahu bahwa mereka adalah salah satu akibat dari kekuasaan-Nya. Dari sudut pandang ini, setiap jenis ciptaan dalam bahasa Arab disebut ʿālam (secara harfiah: dunia). Ibnu Taimiyyah membahas mengapa ʿālam disebut ʿālam: ‘ʿĀlam adalah sesuatu yang memberi pengetahuan, sebagaimana khātam adalah sesuatu yang digunakan untuk menyegel… Setiap kategori ciptaan disebut ʿālam karena ia adalah tanda dan bukti bagi Sang Pencipta – berbeda dengan ʿālim, yaitu orang yang mengetahui, sebagaimana khātim, yaitu orang yang menyegel. Beliau berkata, “…tetapi ia adalah Rasulullah dan penutup para nabi,”118
These pick up the observable and perceptible imagery and phenomena of the world. Logic is applied on these observations, enabling a person to derive conclusions – this is the fruit of the evidence-based reasoning process. Creations who understand that the senses point to Allah know that they are one of His effects. From this viewpoint, each type of creation in Arabic is called ʿālam (literally: world). Ibn Taymiyyah discusses why ʿālam is called ʿālam: ‘ʿĀlam is that which gives knowledge, like khātam is that which is used to seal…Each category of creation is called ʿālam as it is a sign and proof for the Creator – as opposed to ʿālim, who is one who knows, just like khātim, who is the one who seals. He said, “…but is the Messenger of Allah and the seal of the prophets”118
karena dialah penutup bagi mereka.” Meskipun seluruh makhluk menunjukkan kepada-Nya, tingkat penunjukannya berbeda-beda. Meskipun benda mati menunjukkan kepada Allah, penunjukannya lebih lemah daripada makhluk yang hidup. Ada perbedaan antara penunjukan kepada Allah oleh sebuah kerikil dan oleh seorang manusia. Sebagian dari perbedaan tingkat penunjukan ini kembali kepada hakikat materi (objek kajian bagi penalaran) dan hakikat pengamat (sang penalar).
because he was the seal to them.’ Though all creations are indicative of Him , they vary in their level of indication. Though inanimate objects are indicative of Allah , their indication is less than that of living creations. There is a difference between the indication to Allah by a pebble and that of a human. Part of the varying levels of indication goes back to the nature of matter (the subject area for reasoning) and the nature of the observer (the reasoner).
Menetapkan dasar bagi kemungkinan membuktikan keberadaan Allah secara rasional
Setting the basis for the possibility of rationally proving the existence of Allah
Meskipun pandangan teis tentang pengenalan terhadap Allah yang bersifat fitri sudah jelas, dan bahwa dimungkinkan untuk memanfaatkan dalil-dalil rasional guna mengingatkan manusia akan fitrah tersebut serta memperoleh ketenangan hati dalam hal itu, medan perdebatan di kalangan filsafat tetap mengarah pada pertanyaan ini: Apakah mungkin memberikan penalaran rasional bagi keberadaan Allah atau tidak?
Though the theist viewpoint on the cognition of Allah being innate is clear, and that it is possible to leverage rational proofs to remind man of that innate predisposition and to gain contentment in that regard, the arena of argument in circles of philosophy is this: Is it possible to offer rational reasoning for Allah’s existence or not?
Tiga posisi dapat ditemukan dalam hal ini: mungkin; menolak; dan posisi tengah yang bersifat membingungkan atau ragu-ragu untuk condong ke salah satu pihak. Kaum agnostik, misalnya, tidak memiliki posisi mengenai keberadaan Yang Ilahi – mereka tidak menerima maupun menolak keberadaan-Nya. Meskipun sebagian dari mereka berpandangan demikian karena merasa bahwa bukti dari kedua sisi saling meniadakan, yang lain menyatakan bahwa agnostisisme mereka disebabkan oleh ketidakmungkinan kognisi manusia untuk sampai pada kesimpulan yang pasti dalam perkara ini. Mereka mengklaim bahwa perangkat kognitif kita tidak mampu memberikan jawaban atas pertanyaan tentang keberadaan Tuhan. Posisi ini menafikan kemungkinan bahwa pertanyaan tentang keberadaan Tuhan dapat dijawab. Sebelum kita membahas rincian bukti-bukti yang menunjukkan keberadaan-Nya, kita hendaknya terlebih dahulu secara singkat membahas persoalan ruang lingkup kemungkinan untuk mengenal Tuhan melalui bukti-bukti rasional. Dapatkah kita menggunakan daya kognitif kita untuk sampai pada jawaban dalam hal ini? Meskipun orang-orang yang beriman kepada Tuhan tidak melakukannya melalui sarana empiris atau indra secara langsung, hal itu tidak menghalangi mereka untuk beriman kepada-Nya. Mereka beriman berdasarkan a) tuntutan fitrah, dan b) berbagai argumen rasional. Ini di samping bukti yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul yang menunjuk bukan hanya kepada keberadaan-Nya tetapi juga sifat-sifat-Nya yang sempurna. Untuk menjelaskan bahwa Allah dapat dikenali secara rasional, perlu dicatat bahwa segala sesuatu yang ada termasuk dalam salah satu dari dua jenis berikut:
One finds three positions on this: possible; against; and middle positions that are either confused or hesitant to incline either way. Agnostics, for example, do not have a position on the existence of the Divine – they neither accept nor reject His existence. Though some of them are of this view because they feel the evidence on both sides cancel each other out, others of this view state that their agnosticism is because it is impossible for human cognition to arrive at any firm conclusion in this matter. They claim that our cognitive tools are unable to offer any answer to the question of God’s existence. This position negates the possibility that the question of God’s existence can be answered. Before we delve into discussing the details of the proofs that are indicative of His existence, we should quickly deal with the issue of the scope of possibility of knowing God through rational proofs. Can we use our cognitive powers to arrive at an answer in this regard? Though humans who believe in God do not do so by way of empirical or direct sensory means, that has not prevented them from having faith in Him. They believe on the basis of a) the requirement of the fiṭrah, and b) various rational arguments. This is in addition to the evidence brought by the Prophets and Messengers that point not only to His existence but His perfect attributes. To clarify that Allah can be recognised rationally, it should be noted that everything in existence is one of two types:
107 Bayān Talbīs al-Jahmiyyah, hlm. 572. 108 Al-Qā’id ilā Taṣḥīḥ al-ʿAqā’id, hlm. 29.
107 Bayān Talbīs al-Jahmiyyah, p. 572. 108 Al-Qā’id ilā Taṣḥīḥ al-ʿAqā’id, p. 29.
109 Al-Kashf ʿan Manāhij al-Adillah, hlm. 116.
109 Al-Kashf ʿan Manāhij al-Adillah, p. 116.
Dar' Ta'āruḍ al-'Aql wa al-Naql, 10/129.
110 Dar’ Taʿāruḍ al-ʿAql wa al-Naql, 10/129.
111 Al-Kashf ʿan Manāhij al-Adillah, hlm. 119.
111 Al-Kashf ʿan Manāhij al-Adillah, p. 119.
112 Bayān Talbīs al-Jahmiyyah, hlm. 583.
112 Bayān Talbīs al-Jahmiyyah, p. 583.
Lihat penjelasan rinci Ibnu Taimiyyah tentang hal ini dalam Majmūʿ al-Fatāwā, 10/454.
113 See Ibn Taymiyyah’s detail on this in Majmūʿ al-Fatāwā, 10/454.
114 Al-Anʿām, 164.
114 Al-Anʿām, 164.
115 Al-Naḥl, 60.
115 Al-Naḥl, 60.
116 Yūnus, 22.
116 Yūnus, 22.
117 Yūnus, 12.
117 Yūnus, 12.
Al-Aḥzāb, 40.
118 Al-Aḥzāb, 40.
119 Miʿyār al-ʿIlm fī Fann al-Manṭiq, hlm. 56.
119 Miʿyār al-ʿIlm fī Fann al-Manṭiq, p. 56.
Dar' Ta'āruḍ al-'Aql wa al-Naql, 10/246.
120 Dar’ Taʿāruḍ al-ʿAql wa al-Naql, 10/246.
Titik acuan yang baik untuk masalah ini, yang saya manfaatkan, adalah karya Su'ūd al-'Arīfī, al-Adillah al-'Aqliyyah al-Naqliyyah. 121 Mawqif al-'Aql wa al-'Ilm wa al-'Ālam min Rabb al-'Ālamīn wa-'Ibādih al-Mursalīn, 3/
A good reference point for this issue which I benefited from is Suʿūd al-ʿArīfī’s al-Adillah al-ʿAqliyyah al Naqliyyah. 121 Mawqif al-ʿAql wa al-ʿIlm wa al-ʿĀlam min Rabb al-ʿĀlamīn wa-ʿIbādih al-Mursalīn, 3/