12. Sebuah Tinjauan Lebih Dekat – "Dan Siapakah yang Lebih Baik Perkataannya daripada Orang yang Menyeru kepada Allah?"
12. A Closer Look – ‘and Who Is Better In Speech Than He Who Calls To Allāh?’
Bersikap santun adalah memenangkan perang melawan ego diri sendiri. Kesabaran dan pengendalian diri adalah wujud dari sikap tersebut. Sikap ini merupakan ciri khas dari kasih sayang dan kesabaran, dan mencerminkan keindahan Islam dalam berbagai aspek. Allah tentu saja adalah Al-Ḥalīm (Yang Maha Penyantun). Makhluk-Nya durhaka kepada-Nya, menyembah selain Dia, dan mengingkari-Nya, namun Dia tetap memberi rezeki kepada mereka, dan membiarkan mereka memanfaatkan rezeki-Nya di dalam ciptaan-Nya. Allah, dengan Rahmat-Nya yang tak terbatas, memberi tenggang waktu kepada orang yang berdosa, membantunya menemukan jalan kembali, dan menerima orang yang berdosa itu dengan ampunan. Bahwa seseorang dapat berbuat dosa kepada Allah sepanjang hidupnya, lalu mendapat petunjuk untuk kembali kepada Allah pada saat terakhir, dan kemudian disambut dengan ampunan, mencerminkan sikap santun Allah yang paling sempurna.
To be forbearing is to win a war against your own ego. Forbearance is self-control and restraint. It is a hallmark of mercy and patience and reflects the beauty of Islam on many levels. Allāh of course is Al-Ḥalīm (The Forbearing One). His creation disobey Him, worship other than Him, disbelieve in Him, but He still provides for them, allowing them to make use of His provisions in His creation. Allāh, in His infinite Mercy grants respite to the sinner, assisting him to find his way back and receiving the sinner with forgiveness. That a person could sin against Allāh for the entirety of a life and find guidance back to Allāh at a final moment, and then to be met with forgiveness is reflective of Allāh’s most perfect forbearance:
Adapun orang-orang di antara kalian yang berpaling pada hari ketika kedua pasukan bertemu dalam pertempuran, sesungguhnya setan yang membuat mereka tergelincir karena sebagian perbuatan mereka. Tuhan telah mengampuni mereka. Sesungguhnya Tuhan Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.
3:155 - As for those of you who turned away on the day the two armies met in battle, it was Satan who caused them to slip, through some of their actions. God has now pardoned them: God is most forgiving and forbearing.
2:263 - Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diikuti dengan perkataan yang menyakitkan: Allah Maha Kaya, Maha Penyantun. Beberapa Nabi dalam Al-Qur'an dikenal karena sifat sabar mereka, seperti Ibrāhīm dalam kaitannya dengan keinginannya agar ayahnya diampuni.
2:263 - A kind word and forgiveness is better than a charitable deed followed by hurtful [words]: God is self-sufficient, forbearing. Some Prophets in the Qur’ān were noted for their observance of forbearance such as Ibrāhīm in relation to his desire that his father be forgiven.
9:114 Ibrahim memohonkan ampunan bagi ayahnya karena ia telah berjanji kepadanya, tetapi setelah ia menyadari bahwa ayahnya adalah musuh Tuhan, ia pun melepaskan diri darinya.
9:114- Abraham asked forgiveness for his father because he had made a promise to him, but once he realized that his father was an enemy of God, he washed his hands of him.
Ibrahim adalah seorang yang lembut hatinya dan penyabar.
Abraham was tender-hearted and forbearing.
Ada banyak hal yang dapat menghalangi terjadinya interaksi yang produktif dengan orang lain, seperti perilaku buruk, sikap agresif, ketidaksabaran, dan ejekan. Bagi seorang Muslim, penting untuk selalu ingat bahwa ia harus berusaha sekuat tenaga memastikan bahwa akhlak terbaik tampak pada dirinya.
There are many things that can impede a productive engagement with another, such as, bad mannerisms, aggression, impatience and mockery. For the Muslim, it is important to remember that he or she should do his utmost to ensure that the best of character is displayed.
Akhlak yang mulia adalah ciri khas seorang Muslim, dan bagi seorang Muslim ada penekanan tambahan karena ia sedang memperkenalkan Islam melalui perilakunya. Ketika Nabi ﷺ mengutus Mu‘ādh ibn Jabal (semoga Allah meridhainya) ke Yaman untuk menyeru orang-orang Nasrani kepada Islam, beliau ﷺ menasihatinya agar memudahkan urusan manusia – “Permudahlah, dan jangan mempersulit. Berilah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari darimu.”118 Mu‘ādh berkata, “Nasihat terakhir yang diberikan Nabi ﷺ kepadaku, ketika aku meletakkan kakiku di sanggurdi, adalah, ‘Dan perindahlah akhlakmu, wahai Mu‘ādh ibn Jabal!’” Nasihat ini menjadi teladan dan meletakkan dasar bagi penyampaian pesan Islam secara efektif.
Excellent character is the hallmark of a Muslim, and for the Muslim there is an added emphasis since he is presenting Islam with his conduct. When the Prophet (peace be upon him) dispatched Mu´ādh ibn Jabal (Allāh be pleased with him) to Yemen to call the Christians to Islam he advised him to make things easy for the people – ‘Make things easy, and don’t make things hard. Give them good news and don’t make them run away from you.” 118 Mu´ādh commented, “The last piece of advice the Prophet gave me, as I placed my foot on the saddle was “And make excellent your character O Mu´ādh ibn Jabal!” The advice is paradigmatic and lays the foundation for effective communication of the message of Islam.
Karakter seseorang dapat berbicara dengan bahasa yang jauh lebih lantang dan fasih daripada kata-kata, dan meninggalkan kesan yang jauh lebih lama daripada ucapan. Orang cenderung mengingat bukan terutama apa yang dikatakan, melainkan bagaimana hal itu dikatakan. Lebih dari itu, akhlak yang baik merupakan penyempurna seseorang. Ia adalah sifatnya yang paling nyata, dan karenanya ia dicintai atau dibenci. Ibnu al-Qayyim berkata, "Seluruh agama adalah akhlak yang baik. Maka barangsiapa mengungguli kalian dalam akhlak yang baik, sungguh ia telah mengungguli kalian dalam agama."119
A person’s character can speak a much better and more vocal language than words, leaving a far lasting impression than words spoken. People tend to remember not so much what was said, but how it was said. Furthermore, a good character is the completion of a person. It is his most manifest attribute and for it he is loved or loathed. Ibn al-Qayyim said, “The entire religion is good character. Whoever therefore outdoes you in good character has outdone you in the religion.”119
Ada banyak perintah Nabi yang berkaitan dengan menampilkan akhlak yang baik. Nabi ﷺ menyebutkan bahwa orang yang paling dekat dengan beliau dan paling beliau cintai pada Hari Kiamat adalah mereka yang paling baik akhlaknya. Beliau bersabda bahwa tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada Hari Kiamat daripada akhlak yang baik. Jika seorang Muslim membawa akhlak yang indah dalam dirinya, maka itulah cerminan paling nyata dari pengaruh bimbingan Islam pada dirinya. Cara bicara dan cara mendengarkannya, kesabarannya, kelapangan dadanya, dan ketenangan batinnya melampaui apa yang tampak dari luar, dan memantulkan keindahan dakwah yang ia sampaikan dengan lisannya. Ibnu Baṭṭāl berkata: "Termasuk akhlak seorang mukmin adalah merendahkan sayap kerendahan hati kepada sesama manusia, bertutur kata dengan lembut, dan meninggalkan kekasaran dalam ucapan kepada mereka. Itu termasuk dari sarana kasih sayang yang paling kuat dan tulus."120
There are many Prophetic instructions pertaining to the displaying of good character. The Prophet (peace be upon him) mentioned that the closest people to him and the most beloved to him on the Day of Judgement will be those who had the best character. He said that there is nothing that is heavier on the scale of a believer on the Day of Judgement than a good character. If the Muslim carries within him a beautiful character, it will be the most observable reflection of the effect of Islamic guidance on him. His speaking and listening, patience, forbearance and inner calm transcends his landscape and reflects the beauty of the call he is verbally presenting. Ibn Baṭṭāl said: “In line with the character of a believer is to lower the wings of humility unto mankind, to have gentle speech, and leaving off roughness in speech to them, and that is from the strongest means of sincere affection.”120
Seorang Muslim ingat bahwa bukan dirinya sendiri yang ia layani. Ia tidak berbicara tentang Allah demi meninggikan diri. Meskipun seorang Muslim, sesuai dengan lingkungan sekitarnya, menyesuaikan diri dan menghargai tata krama keadaannya, ia tidak boleh kehilangan tujuannya, yaitu memancarkan keindahan ajaran Islam. Hal ini tetap berlaku meskipun pada suatu saat ia dihadapkan pada kesombongan, cemoohan, dan ejekan, atau ketika ia dikalahkan oleh kecerdasan dan kepiawaian berargumen orang lain. Seorang Muslim berpegang teguh pada kesabaran dan ingat bahwa bukan dia yang mengubah hati siapa pun, melainkan Allah yang membolak-balikkan hati.
The Muslim remembers that it is not himself that he is serving. It is not for the purpose of self-aggrandisement that he speaks about Allāh. Though the Muslim, relevant to his contextual surrounding, adapts and appreciate the protocols of his circumstance, he must not lose sight of his purpose of reflecting the beauty of Islamic teachings. This is even if he is, at any moment, faced with arrogance, disdain and mockery or is overwhelmed with another’s wit and argumentative skill. The Muslim holds on to patience and remembers that it is not he who changes anyone’s heart, but that it is Allāh who turns hearts.
Kadang-kadang sebuah sikap murah hati dapat jauh lebih ekspresif daripada sebuah argumen yang canggih. Di jantung sebuah diskusi sebenarnya terdapat hati, yaitu hati yang mencari akhlak yang indah. Hal ini mungkin menunjukkan bahwa orang-orang tidak hanya ingin dibimbing, tetapi juga ingin menemukan seorang pembimbing yang mulia di tengah-tengah mereka. Al-Ḥasan al-Baṣrī berkata:
Sometimes a display of magnanimity can be far more expressive than a sophisticated argument. At the heart of a discussion is precisely a heart, one that searches for a beautiful character. It might show that people want not only to be guided, but to find an honourable guide in their midst. Al-Ḥasan al-Baṣrī said:
"Orang mukmin itu penyabar; ia tidak bertindak bodoh meskipun kebodohan dilakukan terhadapnya. Ia penyabar dan tidak menzalimi orang lain. Jika ia dizalimi maka ia memaafkan. Ia tidak memutus hubungan dengan orang lain; dan jika ia diputus hubungannya maka ia menyambung kembali. Ia tidak menunjukkan sikap kikir."
“The believer is forbearing; he does not behave ignorantly even if ignorance is done unto him. He is forbearing and does not wrong others. If he is wronged then he forgives. He does not cut off from people; and if he is cut off then he reconciles. He does not show miserliness.
Dan jika ia diperlihatkan kekikiran, maka sebaliknya ia menunjukkan kesabaran.121
And if he is shown miserliness, then he instead shows patience.”121
Contoh indah tentang bagaimana kesabaran semacam itu ditunjukkan terdapat pada akhlak mulia Nabi ﷺ ketika beliau ditemui oleh seorang Badui yang sedang marah.
A beautiful example of how such forbearance was demonstrated is found in the most excellent character of the Prophet (peace be upon him) when met by a disgruntled Bedouin:
"Aku pernah berjalan bersama Rasulullah ﷺ, dan beliau mengenakan selendang buatan Najran yang berbingkai tebal. Lalu seorang Badui menemui beliau dan menarik selendang itu dengan sangat keras, hingga aku melihat tarikan kasar itu meninggalkan bekas bingkai selendang pada kulit leher Rasulullah ﷺ. Ia berkata: 'Wahai Muhammad, perintahkanlah agar diberikan kepadaku sebagian dari harta Allah yang ada padamu.' Rasulullah ﷺ menoleh kepadanya lalu tersenyum, kemudian memerintahkan agar diberikan kepadanya suatu pemberian (bekal)."122
“I was walking with the Messenger of Allāh (peace be upon him) and he had put on a mantle of Najrān with a thick border. A bedouin met him and pulled the mantle so violently that I saw this violent pulling leaving marks of the border of the mantle on the skin of the neck of the Messenger of Allāh (peace be upon him). And he (the bedouin) said: Muḥammad, issue command that I should be given out of the wealth of Allāh which is at your disposal. The Messenger of Allāh (peace be upon him) turned his attention to him and smiled, and then ordered for him a gift (provision).”122
Dalam riwayat lain, para sahabat Nabi ﷺ bersiap untuk menegur secara fisik orang Badui itu karena kelancangannya, namun Nabi ﷺ
In another narration, the Prophet’s (peace be upon him) companions were prepared to physically rebuke the Bedouin for his impudence, but the Prophet (peace be upon him)
...dan menunjukkan bahwa ajaran yang berlandaskan kelembutan dan kesabaran jauh lebih bermakna serta mampu mengubah keadaan bagi semua pihak daripada membalas. Nabi ﷺ
stopped them and showed that a teaching based on kindness and forbearance can be far more meaningful and transformative for all than retaliating. The Prophet (peace be upon him)
dibalas dengan yang lebih baik. Wahb bin Munabbih berkata, "Ilmu adalah sahabat karib orang beriman, sabar adalah menterinya, akal adalah buktinya, amal adalah nilainya, kesabaran adalah pemimpinnya, kasih sayang adalah ayahnya, dan kelembutan adalah saudaranya."123
repelled with what was better. Wahb ibn Munabbih said, “Knowledge is the close friend of the believer, and forbearance is his minister, and intelligence is his proof, and actions are his worth, and patience is his leader, and compassion is his father, and gentleness is his brother.”123
Salah satu contoh nyata bagaimana Nabi ﷺ memperlakukan musuh-musuhnya dengan jiwa yang lapang dan penuh kesabaran terlihat dalam sikap beliau pada Perang Uhud. Diriwayatkan bahwa pada Perang Uhud, Rasulullah ﷺ bersabda, "Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui," ketika beliau mengucapkan doa tersebut, musuh-musuh beliau telah melukai wajah beliau.124
A great demonstration of the Prophet’s (peace be upon him) dealing with his enemies in a way that reflects a spirit of magnanimity and patience is seen in his conduct at the battle of Uḥud. It is reported that during the Battle of Uḥud, the Messenger of Allāh (peace be upon him) said, “O Allāh, forgive my people for they do not know,” he voiced his supplication when his enemies slashed his face.”124
Yang tampak dari sini adalah kepedulian tulus Nabi ﷺ terhadap keselamatan bahkan musuh-musuhnya. Gambaran seperti ini serupa dengan orang yang digambarkan dalam Surah Yāsīn, yang datang berlari dari tempat yang jauh untuk menyampaikan kabar kepada kaumnya agar mengikuti para utusan Allah. Ketika mereka memukulnya karena marah, perhatiannya tetap tertuju pada kaumnya dan keselamatan mereka.
What emerges is the Prophet’s (peace be upon him) genuine concern for the salvation even of his enemies. Such description is akin to the man described in Sūrah Yāsīn who came running from afar to deliver news to his people to follow the Messengers of Allāh. As they struck him in anger, his concern was for his people and their salvation:
36:25 - Sesungguhnya aku beriman kepada Tuhanmu, maka dengarkanlah aku.
36:25 - I believe in your Lord, so listen to me .
36:26 - Dikatakan kepadanya, "Masuklah ke dalam Surga." Maka ia berkata, "Duhai, sekiranya kaumku mengetahui."
36:26 - He was told, ‘Enter the Garden,’ so he said, ‘If only my people knew’.
‘Amr ibn al-‘As (semoga Allah meridainya) berkata, “Orang yang benar-benar penyabar bukanlah orang yang bersabar terhadap mereka yang menoleransinya tetapi membalas penghinaan dari siapa pun yang menghinanya. Sebaliknya, orang yang benar-benar penyabar adalah orang yang bersabar baik terhadap mereka yang menoleransinya maupun terhadap mereka yang menghinanya.”125
‘Amr ibn al-‘As (Allāh be pleased with him), said, “The truly forbearing one is not one who is forbearing to those who tolerate him but insults whoever insults him. Rather, the truly forbearing one is forbearing to both those who tolerate him and to those who insult him.”125
‘Alī ibn Abī Ṭalḥa meriwayatkan: Ibnu ʿAbbās menjelaskan ayat, "Tidak sama kebaikan dan kejahatan."
‘Alī ibn Abī Ṭalḥa reported: Ibn Abbās explained the verse, “Good and evil cannot be equal.
"[Nabi ﷺ], tolaklah kejahatan dengan cara yang lebih baik, maka musuhmu akan menjadi seperti sahabat karib yang setia" (41:34). Maknanya adalah, "Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk bersabar ketika merasa marah, bersikap lapang dada ketika menghadapi kebodohan, dan memaafkan ketika mereka diperlakukan dengan buruk. Jika mereka melakukan ini, Allah akan menyelamatkan mereka dari setan dan menundukkan musuh-musuh mereka kepada mereka hingga mereka menjadi seperti sahabat karib."126
[Prophet], repel evil with what is better and your enemy will become as close as an old and valued friend” (41:34) that it means, “Allah commands the believers to be patient when they feel angry, to be forbearing when confronted with ignorance, and to forgive when they are mistreated. If they do this, Allah will save them from Satan and subdue their enemies to them until they become like close friends.”126
118 Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 7172.
118 Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 7172.
119 Madārij al-Sālikīn 2/294.
119 Madārij al-Sālikīn 2/294.
120 Fatḥ al-Bārī, 10/528.
120 Fatḥ al-Bārī, 10/528.
121 Ibn Abī Dunya, 1246/54-55.
121 Ibn Abī Dunya, 1246/54-55.
122 Ṣaḥīḥ Muslim 1057a.
122 Ṣaḥīḥ Muslim 1057a.
123 Al-Ḥāfīẓ ibn Shāhīn, Al-Targhīb fī Faḍā'il al-A'māl/251.
123 Al-Ḥāfīẓ ibn Shāhīn, Al-Targhīb fī Faḍā’il al-A´māl/251.
Sahih Ibn Hibban 985.
124 Sạ hị̄h ̣Ibn Hị bbān 985.
125 al-Mudārāh al-Nās 6.
125 al-Mudārāh al-Nās 6.
126 http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura41-aya35.html#katheer.
126 http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura41-aya35.html#katheer.