Sebuah Kata Langsung kepada Pembaca
A Direct Word With The Reader
Dalam risalah ini, saya telah memberikan gambaran tentang kewajiban-kewajiban yang harus kita tunaikan sebagai seorang Muslim terhadap Al-Qur'an. Pada akhirnya, saya ingin mendesak Anda dengan segala penekanan yang saya miliki agar bersungguh-sungguh berupaya menunaikan kewajiban-kewajiban ini dengan penuh kehati-hatian. Kita adalah umat yang paling beruntung di dunia, dalam arti bahwa kita memiliki Kitab Allah (SWT) yang terjaga sempurna dalam bentuk aslinya. Meskipun hal ini merupakan kehormatan besar bagi kita, hal ini juga membebankan tanggung jawab yang berat. Sebelum datangnya Nabi Muhammad ﷺ, Bani Israil adalah pemelihara Kitab Allah, tetapi ketika mereka tidak menunaikan tanggung jawab mereka dan terbukti tidak layak atas kehormatan yang telah dianugerahkan kepada mereka, Allah Yang Mahakuasa (SWT) mengangkat umat yang baru (yaitu kaum Muslimin) dan menurunkan Petunjuk-Nya kepada mereka dalam bentuk Al-Qur'an. Dalam Surah Al-Jumu'ah terdapat sebuah perumpamaan tentang orang-orang yang tidak menunaikan kewajiban yang dibebankan kepada mereka sebagai pemelihara Kitab Allah.
In this booklet, I have given you an idea of the duties which we as Muslims owe to the Qur'an. In the end, I must urge you with all the emphasis at my command to make an earnesj effort to discharge these duties with utmost care. We are the most fortunate people in the world in the sense that we possess the Book of Allah (SW) perfectly intact in its original form. Whereas it is a cause of great honor for us, it also lays upon us a heavy responsibility. Prior to the advent of Prophet Muhammad (SAW), the Israelites were the custodians of Allah's Book, but when they did not discharge their responsibilities and proved unworthy of the honor conferred upon them, Almighty Allah (SVVT) raised a new Ummah (i.e., the Muslims) and vouchsafed His Guidance to them in the form of the Qur'an. In Surah Al-Jumu'ah we have a similitude of the people who did not fulfill the duties that devolved upon them as custodians of Allah's Book.
Perumpamaan orang-orang yang dibebani (kewajiban) Taurat, namun kemudian gagal melaksanakannya, adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang sangat banyak ... (Al-Jurnu'ah 625)
The similitude of those who were charged with the (obligation of) Torah, but who subsequently failed in this (obligation) is that of a donkey which carries huge volumes ... (Al-Jurnu'ah 625)
Dalam bagian lanjutan ayat tersebut, telah dinyatakan dengan jelas bahwa kegagalan mereka dalam menunaikan kewajiban mereka terhadap Kitab Suci mereka sama artinya dengan mendustakan kebenarannya:
In the subsequent part of the ayah, it has been plainly stated that their failure to discharge their obligations towards their Holy Book is tantamount to their denying its truth:
... Betapa buruknya perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah ... (Al-Jumu'ah 625)
... How bad is the similitude of people who deny the ayaat of Allah .... (Al-Jumu 'ah 625)
Ayat tersebut diakhiri dengan pernyataan tegas bahwa tidak termasuk sifat Allah untuk memberi petunjuk kepada orang-orang seperti itu.
The ayah ends in the categorical declaration that it is not in Allah's nature to grant guidance to such people:
... dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Al-Jumu'ah 625)
... and Allah guides not the people who are wrongdoers. (Al-Jumu'ah 625)
Semoga Allah melindungi kita agar tidak termasuk orang-orang yang mendustakan dan menolak Kitab Allah (SVVT) karena kelalaian dalam menunaikan kewajiban kita terhadapnya, sehingga kita mendapat murka Allah. Saya memohon dengan sungguh-sungguh agar Allah (SVVT) menjadikan kita pemelihara Al-Qur'an dalam arti yang sebenarnya, dan memampukan kita menunaikan kewajiban kita terhadapnya dengan sebaik-baiknya, sehingga kita dapat meraih keridhaan-Nya.
God forbid that you or I be included among the people who are guilty of denying and rejecting the Book of Allah (SVVT) by their negligence in the discharge of their obligations towards it and thus incur Allah's wrath. I most earnestly pray that Allah (SVVT) may make us custodians of the Qur'an in the real sense of the term, and enable us to fulfill our duties towards it in the best way, which may enable us to win His good pleasure.
Kita hendaknya mengingat saat Rasulullah ﷺ akan tampil sebagai saksi penuntut di Pengadilan Yang Maha Kuasa (SWT) dan mendakwa umatnya karena meninggalkan Al-Qur'an.
We should remember the time when Allah's Messenger (SAW) will appear as a prosecution witness in the Court of the Almighty (SVVT) and charge his people with forsaking the Qur'an:
Dan Rasul berkata: "Wahai Tuhanku! Sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur'an ini sesuatu yang ditinggalkan." (Al-Furqan 25:30)
And the Messenger will say: "0 my Lord! Verily my people deserted this Qur'an. (Al-Furqan 2530)
Meskipun dalam ayat ini kata "kaumku" merujuk kepada orang-orang kafir yang berpaling dari Al-Qur'an dan memandangnya dengan remeh, namun ia berlaku dengan kekuatan argumen yang sama bagi orang-orang seperti kita yang beriman kepada Al-Qur'an, tetapi dalam praktiknya telah menolaknya sebagai sesuatu yang tidak penting dan tidak bernilai.
Although in this ayah the words "my people" refer to the unbelievers who turned a deaf ear to the Qur'an and treated it with disdain, nevertheless it applies with equal cogency to people like us who believe in the Qur'an but have practically rejected it as a thing of least moment or consequence.
Kutipannya silakan sertakan, dan saya akan menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.
Let me quote for your what Maulana Shabbir Ahmad Usmani (RA) has to say on this point.
Meskipun ayat ini sebenarnya merujuk pada perbuatan orang-orang kafir, namun ayat ini memiliki cakupan yang lebih luas (dan) semua orang yang tidak membenarkan kebenaran Al-Qur'an (dengan benar-benar mengamalkan ajarannya dalam kehidupan mereka), tidak merenungi maknanya, tidak membacanya dengan baik, tidak berusaha mempelajari bacaannya yang benar, tetapi justru larut dalam berbagai hal yang sia-sia dan tidak berguna sambil berpaling darinya, juga termasuk dalam cakupannya dan dianggap bersalah karena meninggalkan Al-Qur'an.19
Although the ayah really refers to the conduct of the unbelievers, yet (it has a wider application, and) all those who do not confirm the truth of the Qur'an (by actually following its teachings in their life), do not ponder over its meanings, do not recite it properly, do not try to learn its correct reading; but indulge in all sorts of vain and frivolous pursuits turning their back upon it (also come under its purview and) would be considered guilty of abandonment of the Qur'an.19
Sekali lagi saya memohon perlindungan Yang Maha Kuasa agar kita tidak termasuk di antara orang-orang seperti itu, dan saya menutup ceramah ini dengan doa yang umumnya dipanjatkan setelah menyelesaikan bacaan seluruh Al-Qur'an, tetapi yang menurut saya seharusnya sering dipanjatkan agar Allah (SWT) memberi kita kekuatan untuk menunaikan kewajiban kita terhadap Kitab-Nya.
Let me once again seek Almighty's protection against our being included among such people, and conclude my discourse with the following prayer which is generally offered on completing the recitation of the whole Qur'an but which, I believe, should frequently be offered so that Almighty Allah (SW) may grant us strength to fulfill the duties we owe to His Book.
Ya Tuhanku! Berilah kami rahmat karena (hubungan kami dengan) Al-Qur'an; jadikanlah ia bagi kami sebagai pemimpin dan cahaya, petunjuk dan rahmat; ingatkanlah kami darinya akan apa yang telah kami lupakan dari pemahamannya; berilah kami kekuatan untuk membacanya siang dan malam; dan jadikanlah ia sebagai pembela bagi keselamatan kami, wahai Tuhan semesta alam. Aamiin! Sebagai penutup, izinkan saya mempersembahkan kepada Anda hadiah berupa doa yang terdapat dalam sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Abdullah Ibnu Mas'ud (RAA). Ia sebenarnya adalah doa yang diucapkan oleh Nabi Muhammad ﷺ
0 my Lord! Be merciful to us because of (our link with) the Qur'an; make it for us a leader, (and a source of) light, guidance, and mercy, cause us to recall from it what we have failed to understand; give us strength to recite it .day and night; and make it a plea for our salvation, 0 Lord of the worlds. Ameen! Let me in the end present you the gift of a prayer which appears in a tradition narrated by Abdullah Ibn Mas'ud (RAA). It is actually a prayer which the Holy Prophet (SAW)
diresepkan bagi para Sahabatnya (RAA) sebagai obat bagi kegelisahan dan kekhawatiran. Namun ini adalah doa yang luar biasa yang menunjukkan sikap seorang hamba yang ideal terhadap Tuannya, dan menggambarkan efek penyembuhan Al-Qur'an terhadap jiwa manusia.
prescribed for his Companions (RAA) as a remedy for cares and worries. But it is a splendid supplication that shows the attitude of an ideal bondsman towards his Master and describes the curative effect of the Qur'an on the human soul.
Hal ini juga menunjukkan betapa dalam kecintaan Nabi ﷺ terhadap Al-Qur'an dan betapa tinggi penghormatan beliau kepadanya. Doanya berbunyi sebagai berikut:
It also indicates how deep a devotion the Holy Prophet (SAW) had for the Qur'an and in how high an esteem he held it. The prayer runs as follows:
Ya Allah! Sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu laki-laki, dan anak dari hamba-Mu perempuan. Ubun-ubunku berada di tangan-Mu. Keputusan-Mu berlaku atasku, dan adil pula ketetapan-Mu atasku. Aku memohon kepada-Mu dengan segala nama yang Engkau sandang untuk diri-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang makhluk-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau simpan dalam ilmu gaib di sisi-Mu, agar Engkau menjadikan Al-Qur'an sebagai penyejuk hatiku dan cahaya dadaku, sebagai sarana penghapus kesedihanku, dan pengusir kegundahan serta kecemasanku. Kabulkanlah doaku ini, wahai Tuhan Pemilik segala kalimat!
0 Allah! Verily I am Your bondsman, the son of Your bondsman, and the son of Your bondsmaid. I am under Your Control. My fore-lock is in 'Your Hand. Your decision is to be executed about me, and just shall be Your judgment in my case. I beg You - addressing You with all those names that You have named Yourself with, or that You have taught any of Your creatures, or that You have revealed in Your Book, or that You have preferred to keep secret in the realm of the Unseen - to make the Qur'an a source of delight for my heart and of light for my breast, and an instrument of dispelling my grief, and driving away my cares and worries. Accept this prayer of mine, 0 Lord of the Words!
19 Dengan suatu kebetulan yang aneh, yang menunjukkan kedekatan rohani dan intelektual Maulana dengan Nabi Muhammad ﷺ, kita mendapati ungkapan yang serupa dalam sebuah hadis yang berbunyi: 'Wahai ahli Al-Qur'an! Janganlah kalian menjadikan Al-Qur'an ...
19 By a strange coincidence that indicates the Maulana's spiritual and intellectual kinship with the Holy Prophet (SAW), we have a similar wording in a tradition which runs as follow: '0 people of the Qur'an! Do not make the Qur'an.
bantal (agar kamu dapat tidur di atasnya dan meletakkannya di belakang punggungmu). Sebaiknya kamu membacanya siang dan malam; menyebarkannya (ke seluruh dunia), membacanya dengan suara yang merdu, dan merenungkan maknanya agar kamu beruntung." Betapa mulia gelar yang telah dianugerahkan kepada kita! Betapa ringkas hadits yang begitu indah merangkum kewajiban-kewajiban yang menjadi tanggung jawab kita sebagai "Ahlul Qur'an"! Sesungguhnya mahakarya keringkasan ini seratus kali lebih ekspresif daripada berapa pun banyaknya pidato panjang dan muluk-muluk kita tentang hal ini. Benarlah klaim Nabi ﷺ bahwa beliau dianugerahi kemampuan berbicara yang padat dan ringkas.
a pillow (that you may sleep over it and put it behind your back). You should rather recite it day and night; propagate it (all over the world), read it in a pleasing voice; ponder over its meaning so that you may prosper." What a noble title has been conferred upon us! How succinct the tradition that so beautifully sums up the duties that devolve upon us as 'People of the Qur'an"! In fact, this masterpiece of conciseness is hundred times more expressive than any number of our long, pompous speeches on the subject. True was the claim of the Holy Prophet (SAW) that he was gifted with the power of laconic speech.