Hukm Wa Iqamah
Hukm Wa Iqamah
Membentuk kehidupan pribadi individu dan kehidupan kolektif masyarakat sesuai dengan ajaran Al-Qur'an
(Molding the personal life of the individual and the collective life of the community according to the teachings of the Qur'an)
Kami telah membahas tiga dari kewajiban kita terhadap Al-Qur'an, dan sekarang kita lanjutkan untuk membahas yang keempat. Yaitu bahwa kita hendaknya mengamalkan isinya
We have already considered three of the duties we owe to the Qur'an and now we proceed to consider the fourth. It is that we should act upon its 35
Tentu saja, kita wajib beriman kepada Al-Qur'an, mempelajarinya, dan merenungkan maknanya agar kita dapat mengamalkan ajarannya dalam kehidupan nyata. Al-Qur'an bukanlah kitab yang berisi rumus-rumus sihir atau mantra yang dibacakan untuk menolak kejahatan. Ia bukan pula sekadar sarana untuk memperoleh berkah. Ayat-ayatnya tidak hanya dibaca demi mendapatkan pahala dari Allah (SWT) atau untuk meringankan sakratul maut. Al-Qur'an juga bukan objek penyelidikan dan penelitian semata, yang seolah-olah hanya untuk melatih daya nalar dan imajinasi kita agar kita dapat larut dalam berbagai pemikiran yang rumit dan perdebatan yang tidak berguna dalam menafsirkan maknanya.
teachings. Obviously, we are required to believe in the Qur'an, study it, and ponder over its meanings in order that we may act upon its teachings in our actual life. The Qur'an is not a book of magical formulas or mantras which are chanted to ward off evil. It is not a mere instrument for the attaining of blessings. Its ayaat are not to be recited only for the sake of getting a reward from Allah (SVVT) or for reducing the agony of death. Nor is it a subject of investigation and research in the sense that it should provide a good exercise to our intellectual and imaginative faculties so that we could indulge in all sorts of abstruse thinking and useless hair-splitting in the interpretation of its meanings.
Al-Qur'an, sebagaimana kita semua ketahui, adalah huda lil-naas, petunjuk bagi seluruh manusia. Tujuan diturunkannya Kitab ini hanya akan terwujud apabila manusia mengamalkan ajarannya dan menjadikannya pedoman dalam setiap bidang kehidupan mereka. Nabi Muhammad ﷺ telah menjelaskan dengan sangat terang bahwa membaca Al-Qur'an dan merenungkan maknanya tidak akan memberi manfaat apa pun jika kita tidak berusaha membentuk kehidupan kita sesuai dengan perintah-perintahnya. Jika kita mengabaikan perintah-perintahnya, membaca Al-Qur'an, alih-alih memberi kebaikan kepada kita, justru akan melemahkan iman kita. Dalam konteks ini, Kitab Suci berbicara dengan tegas tanpa keraguan:
The Qur'an, as we all know, is huda lil-naas, guidance for mankind. The purpose for which this Book has been revealed will be realized only if people act upon its teachings and make it a guide for them in every sphere of their life. The Holy Prophet (SAW) has made it crystal clear that no useful purpose will be served by reading the Qur'an and pondering over its meaning if we do not try to mold our lives according to its injunctions. If we disregard its injunctions, the reading of the Qur'an, instead of doing us any good, will undermine our faith. In this context, the Holy Book speaks in unequivocal terms:
dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir. (Al-Ma'idah 544)
... and whosoever does not judge by what Allah has revealed, such are the disbelievers. (Al- Ma'idah 544)
Kami memiliki penjelasan lebih lanjut dan penekanan atas poin ini dalam hadis-hadis berikut dari Nabi Muhammad ﷺ:
We have further clarification of, and emphasis over this point in the following traditions of the Holy Prophet (SAW):
Tidak ada seorang pun di antara kalian yang menjadi beriman hingga seluruh hawa nafsunya tunduk kepada apa yang telah aku bawa (yaitu, petunjuk yang diwahyukan). (Diriwayatkan dalam Syarhus Sunnah)
None of you can become a believer until all his desires are subordinated to what I have brought (i.e., the Revealed Guidance). (Narrated in Sharah Al-Sunnah)
Siapa yang menganggap halal apa yang dinyatakan haram oleh Al-Qur'an, maka ia bukan seorang mukmin kepada Al-Qur'an (yakni, pada hakikatnya, ia tidak menganggapnya sebagai Wahyu Ilahi). (Diriwayatkan oleh Tirmidzi)
One who deems lawful what the Qur'an declares unlawful is not a believer in the Qur'an (i.e., in reality, he does not hold it to be a Divine Revelation). (Narrated by Timidhi)
Kasus orang yang masih menjelajah dan mengembara mencari kebenaran, dan belum memutuskan setelah mengkaji Al-Qur'an dengan saksama apakah ia kebenaran mutlak atau bukan, itu berbeda. Namun, orang yang meyakini Al-Qur'an sebagai Kitab Allah (SWT) tidak dapat memperoleh manfaat darinya sama sekali kecuali ia mempelajarinya dengan tekad yang teguh bahwa, seberat apa pun rintangannya dan sebesar apa pun pengorbanannya, ia akan tunduk pada perintah-perintahnya dan membentuk akhlaknya sesuai dengan ajarannya. Sebagaimana telah kami nyatakan ketika menjelaskan makna harfiah istilah tilawat, Al-Qur'an memberikan petunjuknya yang sempurna hanya kepada mereka yang menyerahkan diri kepadanya dan merenunginya dalam waktu lama dengan tekun. Penyerahan diri yang berpadu dengan konsentrasi yang panjang, yang lahir dari disiplin diri yang mendalam dan terlatih, melahirkan keadaan kepatuhan dan peniadaan diri yang disebut dalam hadis yang dikutip di atas, yaitu: "Tidak seorang pun di antara kalian menjadi beriman hingga seluruh hawa nafsunya tunduk kepada apa yang telah aku bawa." Orang yang ingin memperoleh petunjuk sempurna dari Al-Qur'an harus, pertama-tama, menempatkan dirinya dalam keadaan batin seperti ini, dan kemudian, seiring kedekatannya dengan Al-Qur'an yang semakin erat, ia akan terus memperoleh pencerahan yang semakin besar darinya. Al-Qur'an yang Mulia menegaskan:
The case of a person who is still exploring and wandering in quest of truth, and has yet to decide after a careful study of the Qur'an whether it is the absolute truth or not, is different. However, the person who believes the Qur'an to be the Book of Allah (SW) cannot benefit from it at all unless he studies it with a firm resolve that, however heavy the odds and however great the sacrifices, he would abide by its injunctions and modify his character according to its teachings. As we have already stated while explaining the literal meaning of the term tilawat, the Qur'an yields its perfect guidance only to those who abandon themselves to it and pore over it long and assiduously. Self-abandonment combined with a prolonged concentration born of a deep cultivated self-discipline generates that state of submissiveness and self-effacement which has been referred to in the above-quoted tradition viz., "None of you can become a believer until all his desires are subordinated to what I have brought." A person who desires to get full guidance from the Qur'an has, first of all, to put himself into this state of mind and afterwards as his contact with the Qur'an becomes closer and closer he will continue to get greater and greater enlightenment from it. The Holy Qur'an affirms:
Adapun orang-orang yang menerima petunjuk, Dia menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka ketakwaan mereka. (Muhammad 47:17)
While as for those who accept guidance, He increases their guidance and bestows on them their piety. (Muhammad 47:17)
Artinya, jika seseorang benar-benar memulai langkah, bergerak di bawah bimbingan Al-Qur'an, ia akan segera mendapati dirinya melangkah mantap di atas jalan yang lurus, dan ia akan terus naik secara bertahap ke tingkatan perkembangan rohani yang semakin tinggi. Sebaliknya, jika seseorang belum memutuskan untuk mengubah dirinya sesuai dengan ajaran Al-Qur'an, waktu yang ia habiskan untuk membaca Kitab Suci itu akan sia-sia belaka. Membaca Al-Qur'an, alih-alih memberinya manfaat rohani, justru bisa menjadi kutukan baginya.
It means that if a person actually makes a start, moving under the guidance of the Qur'an, he will soon find himself marching steadily along the straight path, and he will go on gradually rising to the higher and higher planes of spiritual development. On the other hand, if a person has not made up his mind to transform himself in accordance'with the Qur'anic teachings, the time he spends on reciting the Holy Book will be just wasted. Recitation of the Qur'an, instead of doing him any spiritual good, may actually prove to be curse on him.
Imam Ghaiali (RA) telah menukil dari sebagian ahli tasawuf yang berkata, "Sebagian pembaca Al-Qur'an tidak mendapatkan apa pun darinya selain laknat yang ia ucapkan atas mereka."
Imam Ghaiali (RA) has quoted some mystic as saying that "Some readers of the Qur'an do not get anything from it except the imprecation which 'it pronounces upon them.
Ketika seseorang membaca "La'nat Allah atas para pendusta" sementara dirinya sendiri adalah seorang pendusta, maka ia menjadi sasaran laknat ini. Demikian pula, ketika seorang pembaca membaca:
When he recites "Allah's curse is on the liars" while he himself is a liar, he becomes the target of this curse." Similarly, when a reader reads:
Maka jika kamu tidak melaksanakannya (meninggalkan sisa riba), maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya.... (Al-Baqarah 2:279)
So, if they do not desist (from devouring interest), give them an ultimatum of a war on behalf of Allah and His Messenger.. . . (Al-Baqarah 2:279)
dan jika dia sendiri melanggar perintah Allah yang Maha Kuasa (SWT), maka dialah yang menjadi sasaran ancaman ini. Demikian pula, ketika orang-orang yang mengurangi takaran atau timbangan, dan orang-orang yang gemar menggunjing serta mencela, membaca "Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)" (Al-Muthaffifin 83:1) dan "Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela" (Al-Humazah 104:1), maka merekalah sendiri yang menjadi sasaran peringatan-peringatan yang mengerikan ini.
and if he himself violates this injunction of Almighty Allah (SWT), he becomes the addressee of this ultimatum. In the same way, when those persons who give short measure or short weight and those who indulge in backbiting and carping, read "Woe to those who give less in measure and weight" (Al-Mutamfin 83:l) and "Woe to every slanderer and backbiter" (Al-Humazah 104:1), then they themselves become the addressees of these dreadful warnings.
Dengan merenungkan kalimat ini, kita dapat dengan mudah memahami apa yang akan diperoleh seseorang dari membaca Al-Qur'an jika amal perbuatannya tidak sesuai dengan ajarannya.
Reasoning on this line, we can easily understand what a man will gain from the recitation of the Qur'an if his actions are not in accordance with its teachings.
Adapun mereka yang mempelajari Al-Qur'an untuk penelitian dan kajian, untuk merenungkan maknanya, serta untuk menulis atau menyusun buku tentangnya, jika mereka tidak mengamalkan perintah-perintah Al-Qur'an, maka kita dapat mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang paling berdosa. Kajian dan penelitian mereka seperti larut dalam latihan intelektual yang menarik, yang sama saja dengan sekadar mempermainkan Kitab Suci, bahkan mengolok-oloknya.
As for those who study the Qur'an for investigation and research, for reflection over its meanings and for writing or compiling books on it, if they do not put the injunctions of the Qur'an into practice, we can say that they are the worst sinners. Their study and research is like indulging in a fascinating intellectual exercise which is tantamount to mere toying with the Holy Book, or even making fun of it.
Akibatnya, alih-alih menuntun mereka ke jalan yang benar, hal itu justru membuat mereka menyimpang dan tersesat:
Consequently, instead of guiding them to the right path, it causes them to deviate and go astray:
…dengan itu Dia menyesatkan banyak orang, dan dengan itu pula Dia memberi petunjuk kepada banyak orang. . . (Al-Baqarah 2:26)
... by it He causes many to stray, and many He leads to the right path.. . . (Al-Baqarah 2:26)
Para "ulama" Al-Qur'an yang sebenarnya ini menyebarkan berbagai tafsir yang menyesatkan dan menjadi alat untuk menyesatkan serta membingungkan orang-orang dengan berbagai cara. Seluruh cara berpikir mereka tentang Kitab Suci dimotivasi oleh upaya jahat untuk mengejar hal-hal yang rumit dan samar. Al-Qur'an telah menggambarkan dengan tepat motif mereka dalam melakukan hal tersebut dengan kata-kata berikut:
These so-called scholars of the Qur'an disseminate all sorts of mischievous interpretations and become instrumental in misleading and misguiding the people in different ways. Their whole thinking on the Holy Book is motivated by a vicious attempt to run after the abstruse and the recondite. The Qur'an has aptly described their motives in doing so in the following words:
Maka mereka mengikuti bagian yang samar darinya, mencari-cari fitnah dan berusaha mencari takwilnya ... (Ali 'Imran 3:7)
... So they follow the part thereof that is figurative, seeking discord and searching for its hidden meanings ... (Aal lmran 3:7)
Para Sahabat (RA) memahami betapa pentingnya memasukkan ajaran Al-Qur'an ke dalam kehidupan mereka. Itulah sebabnya mereka yang memiliki bakat khusus untuk merenungkan Kitab Suci dan menghabiskan bertahun-tahun bersama untuk merenungi satu surah saja, membuat jeda yang sangat panjang dalam pembelajaran mereka. Hal itu bukan semata-mata untuk menyerap hasil kajian mereka atau memperkuat pengetahuan teoretis mereka, melainkan untuk mengembangkan kemampuan dalam mengamalkan ajaran-ajaran Al-Qur'an. Mereka tidak akan melangkah lebih jauh sebelum yakin bahwa mereka mampu mempraktikkan apa yang telah mereka pelajari dari Al-Qur'an. Mungkin pembaca akan sedikit terkejut mengetahui bahwa dengan menghafal sebuah surah, para Sahabat (RA) tidak hanya bermaksud menyimpannya dalam ingatan, tetapi juga memahami maknanya secara jelas dan membentuk akhlak mereka sesuai dengan petunjuk yang mereka terima darinya. Secara positif, apa yang para Sahabat (RA)
The Companions (RAA) understood the supreme importance of incorporating teachings of the Qur'an into their lives. That is the reason why those, who had a special aptitude for reflecting over the Holy Book and would spend years together pondering over a single Surah, made such long pauses in their study. It was not so much for the assimilation of the fruit of their research or the consolidation of their theoretical knowledge as for developing a capacity for acting upon the Qur'anic teachings. They would not go ahead until they were satisfied that they were able to put into practice what they had learned from the Qur'an. Perhaps the reader will be a little surprised to know that by learning a Surah by heart, the Companions (RAA) did not mean only preserving it in memory but also comprehending its meanings clearly and molding their character in the light of the guidance they received from it. Positively, what the Companions (RAA)
Sebenarnya yang dimaksud dengan hifzhul-Qur'an (menghafal seluruh Al-Qur'an) adalah bahwa lafaznya harus terpelihara dalam ingatan seseorang, ilmunya harus tersimpan dengan baik dalam benaknya, dan ajarannya harus tercermin dalam perilakunya, sehingga seluruh kepribadiannya diresapi oleh semangat Al-Qur'an dan lubuk terdalam dari dirinya diterangi oleh cahayanya.
actually meant by hit2 a/-Qur'an (memorizing the whole Qur'an) was that its words should be preserved in a person's memory, its knowledge should be treasured up in his mind, and its teachings should be reflected in his conduct so that his whole personality was imbued with thee spirit of the Qur'an and the deepest recesses of his being were illumined by its light.
Jenis hubungan antara perilaku manusia dan Al-Qur'an yang terlihat dalam kehidupan para Sahabat (RA) mencapai bentuknya yang paling sempurna dan utuh dalam kehidupan Nabi Suci (SAW). Ummul Mukminin Aisyah (RA), istri Nabi Suci (SAW), yang memiliki pengetahuan paling mendalam tentang kehidupan beliau dan karena itu ditakdirkan untuk berperan sebagai guru bagi Ummah, pernah ditanya tentang cara hidup Nabi (SAW). Beliau menjawab, "Akhlak beliau adalah perwujudan dari ajaran Al-Qur'an." Jawaban yang sangat bijaksana dan tepat ini menyoroti betapa besar pengaruh yang pasti ditimbulkan Al-Qur'an dalam kehidupan seorang Muslim sejati.
The type of relationship between human conduct and the Qur'an visible in the lives of the Companions (RAA) was to be found in its most consummate and perfect form in the life of the Holy Prophet (SAW). Ummul Momineen Ayesha (RAA) - wife of the Holy Prophet (SAW), who had the most intimate knowledge of his life and who as such was destined to play the role of a teacher for the Ummah - was once questioned about the Prophet's (SAW) mode of life. She answered "His character was an embodiment of the teachings of the Qur'an." This extreyly wise and judicious answer brings into relief the deep impact which the Qur'an must have on the life of a true Muslim.
Singkatnya, cara terbaik untuk mengambil manfaat dari mempelajari Al-Qur'an adalah dengan terus memperbaiki diri dan mengubah perilaku kita sesuai dengan ajarannya, seraya kita terus mengembangkan pemahaman yang semakin dalam terhadap maknanya, sehingga Al-Qur'an meresap ke dalam pembentukan karakter kita. Jika tidak, ada bahaya yang - sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ - ...
In short, the best way to benefit from the study of the Qur'an is that we should go on mending our ways and modifying our conduct in the light of its teachings as we go on developing a deeper and deeper understanding of its meanings, so that the Qur'an permeates into the composition of our character. Otherwise there is a danger that - according to the pronouncement of the Holy Prophet (SAW)
"Al-Qur'an adalah pembelaan bagimu atau tuntutan atas dirimu" - pengetahuan dan pemahaman tentang Al-Qur'an dapat menjadi hujjah yang tak terbantahkan atas kita untuk kebinasaan kita, dan dapat menjadi sebab datangnya azab yang lebih berat dari Yang Maha Kuasa (SWT) karena kelalaian dan sikap acuh tak acuh kita.
that "the Qur'an is a plea either for you or against you" - the knowledge and understanding of the Qur'an may become an irrefutable argument against us for our damnation, and may become instrumental in bringing us a greater punishment from the Almighty (SW) for our negligence and indifference.
Di sini perlu dijelaskan bahwa Amal bil-Qur'an (mengamalkan perintah-perintah Al-Qur'an) memiliki dua tahap, yaitu tahap individual dan tahap kolektif. Ada perintah-perintah yang berkaitan dengan kehidupan pribadi atau pribadi seseorang dan yang dapat ia laksanakan segera. Perintah-perintah ini menjadi wajib baginya begitu ia mengetahuinya. Tidak ada alasan sama sekali baginya untuk menunda atau menangguhkan penerapan perintah-perintah tersebut dalam perilakunya. Hukuman atas kelalaian dalam hal ini tampak dalam bentuk dicabutnya rahmat Ilahi dan akibatnya, ketidakmampuannya untuk menjalani prinsip-prinsip yang terkandung dalam Kitab Suci. Kesenjangan yang mencolok antara ucapan dan perbuatannya, antara keyakinan dan tindakannya, yang sangat dibenci oleh Allah Yang Maha Kuasa (SWT), termasuk kemunafikan. Hal inilah yang disinggung oleh Nabi Muhammad ﷺ dengan sabdanya:
Here it is necessary to explain that Amal bil-Qur'an (acting upon the Qur'anic injunctions) has two phases - individual and collective. There are injunctions which pertain to a person's individual or private life and which he can carry out immediately. These become binding on him as soon as he comes to know of them. There is absolutely no justification on his part for any postponement or delay in the matter of incorporating these injunctions into his conduct. The punishment for negligence shown in this matter appears in the form of the withdrawal of Divine Grace and his consequent failure to live up to the principles embodied in the Holy Book. This gaping disparity between his word and deed, and between his belief and action, which is so hateful to Almighty Allah (SWT) amounts to hypocrisy. This very fact has been referred to by the Holy Prophet (SAW) in these words:
Sebagian besar orang munafik di antara umatku adalah para pembaca Al-Qur'an. (HR. Ahmad)
Most of the hypocrites among my followers will be the readers of the Qur'an. (Narrated by Ahmad)
Oleh karena itu, satu-satunya jalan yang aman bagi seseorang adalah segera mengamalkan apa yang telah ia pelajari dari Al-Qur'an.
Therefore, the only safe course for a person would be that he should immediately begin to act upon what he has been able to learn from the Qur'an.
Mengenai perintah-perintah yang berkaitan dengan urusan-urusan kehidupan kolektif kita yang berada di luar kendali seorang individu, jelas bahwa ia tidak wajib melaksanakannya secara langsung. Namun, adalah kewajibannya untuk berusaha sebisa mungkin mengubah kondisi yang ada dan membantu terwujudnya masyarakat yang berlandaskan prinsip-prinsip Al-Qur'an, sehingga memungkinkan untuk mengamalkan seluruh ajaran Al-Qur'an. Dalam keadaan demikian, upaya yang ia lakukan ke arah ini akan menjadi "alasan di hadapan Tuhannya"², dan akan menjadi pengganti dari pelaksanaan nyata perintah-perintah yang berkaitan dengan kehidupan kolektif. ² Ini merujuk pada suatu peristiwa yang dikisahkan dalam Al-Qur'an, sebagai berikut: 'Ketika sebagian dari mereka berkata: "Mengapa kalian memberi nasihat kepada suatu kaum yang akan dibinasakan Allah atau ditimpa azab yang keras?" (Para pemberi nasihat) menjawab: "(Kami melakukan ini agar) menjadi alasan bagi Tuhan kami, dan mudah-mudahan mereka mau bertakwa."'
As regards the injunctions that pertain to such affairs of our collective life as are beyond the control of an individual person, it is clear that he will not be bound to act upon them immediately. Nevertheless, it is his duty to try as far as possible to change the existing conditions and help in the establishment of a society based on the Qur'anic principles so that it may become possible to act upon the entire teaching of the Qur'an. Under these circumstances, the efforts made by him in this direction will be "an excuse from him with his Lord"'2 and will become a substitute for actual 12 This refers to an incident narrated by the Qur'an, as follows: 'When some of them said: 'Why do you preach to a people whom Allah will destroy or visit with a terrible punishment?' (The preachers) replied: '(We are doing this so) that it may be accepted as an excuse by our Lord, and perchance they may fear Nm.' " compliance with the injunctions that pertain to collective life.
Namun, jika ia tidak berupaya ke arah ini dan merasa puas dengan dirinya sendiri serta dengan ibadah pribadinya, dengan keselamatan pribadinya dan kesejahteraan keluarganya, maka ada bahaya bahwa bahkan pelaksanaannya terhadap perintah-perintah Al-Qur'an yang berkaitan dengan urusan pribadi dan privat akan menyerupai perbuatan tercela dari mereka yang dicela oleh Al-Qur'an dalam firman-Nya berikut:
However, if he does not make any effort in this direction and remains content with himself and with his personal devotions, with his personal survival and the well-being of his family, then there is a danger that even his enactment of Qur'anic injunctions relating to personal and private matters will resemble the reprehensible practice of those whom the Qur'an censures in the following words:
"... maka apakah kamu beriman kepada sebagian Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain?...") (Al-Baqarah 2:85)
... then do you believe in a part of the Scripture and reject the rest?....') (Al-Baqarah 2:85)
Sebagaimana tadzakkur adalah istilah umum untuk pemahaman terhadap Al-Qur'an, demikian pula istilah yang paling umum dan paling luas digunakan untuk mengamalkan ajarannya adalah hukm bima anzalallah (berhukum dengan apa yang telah Allah turunkan)." Untuk memahami makna sebenarnya dari kata hukm, yang menjadi inti dari istilah ini, kita perlu memperhatikan penggunaannya dalam ayat-ayat berikut:
Just as tazakkur is a general term for the understanding of the Qur'an, similarly the most general and widely used term for acting upon its teachings is hukm bima anzalallah (to judge in the light of what Allah has revealed)." For grasping the real significance of the word hukm, which is the core of this term, we should consider its use in the following ayaat:
"... otoritas itu tidak dimiliki siapa pun selain Allah ..." (Yusuf 12:40)
... the authority is for none but Allah ... . (Yusuf 12:40)
Di sini kata ini digunakan dalam makna "perintah" atau "kekuasaan." Dan demikianlah Kami telah menurunkannya sebagai hukum yang benar, dalam bahasa Arab... (Ar-Ra'd 13:37)
Here this word has been used in the sense of "command" or "authority." And thus have we revealed it to be a criterion for judgment, in Arabic.. . . (Al-Ra'd 13:37)
Di sini Al-Qur'an disebut sebagai Hukm, yang diterjemahkan di sini sebagai "tolok ukur penghakiman." Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu (wahai Muhammad!)
Here the Qur'an has been styled as Hukm, which has been translated here as "a criterion of judgment." Surely, We have sent down to you (0 Muhammad!)
Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur'an) dengan membawa kebenaran, agar kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah tunjukkan kepadamu .... (An-Nisa 4: 105)
the Book in truth, that you may judge between men by that which Allah has shown you .... (At-Nisa 4: 105)
Di sini sebuah turunan dari kata hukm digunakan untuk menunjukkan misi Nabi ﷺ.
Here a derivative of the word hukm has been used to indicate the mission of the Holy Prophet (SAW).
Ayat 44 sampai 47 dari Surah Al-Ma'idah secara tegas menyatakan bahwa mereka yang tidak berhukum dengan cahaya Al-Qur'an tidak lain adalah orang-orang kafir, orang-orang zalim, dan orang-orang fasik.
Ayaat 44 to 47 of Surah Al-Ma'idah categorically state that those who do not judge by the light of the Qur'an are none other than the unbelievers, the wrongdoers and the rebels.
Jika kita ingin mengungkapkan makna kata hukm dalam satu kata, padanan bahasa Inggris yang paling dekat dengan pikiran kita adalah "judgment" atau "decision." Namun, untuk memahami signifikansinya secara utuh, kita harus memikirkan dua unsur dasar dari perilaku seseorang, yaitu pikiran dan tindakan.
If we try to express the sense of the word hukm in one word, the nearest English equivalent that strikes our mind would be "judgment" or "decision." However, in order to understand its full significance we must think of the two basic constituents of a person's conduct i.e., thought and action.
Ketika suatu pandangan atau pemikiran begitu menguasai benak seseorang hingga ia menentukan penilaian atau keputusannya, maka tindakannya secara otomatis akan tunduk kepadanya.
When a viewpoint or a thought so completely dominates a person's mind that it comes to determine his judgment or decision, his action will be automatically subordinated to it.
Oleh karena itu, untuk menyatakan gagasan tentang penerapan perintah-perintahnya dalam praktik, Al-Qur'an menggunakan istilah yang sangat bermakna, yaitu hukm bima anzalallah (memutuskan setiap persoalan berdasarkan apa yang diturunkan oleh Allah). Penggunaan istilah ini menunjukkan bahwa seseorang hanya akan mengamalkan ajaran Al-Qur'an apabila cara berpikirnya telah dikuasai oleh Kitab Suci tersebut, dan pengetahuan tentang Hakikat yang diberikannya telah meresap jauh ke dalam hati dan pikirannya.
Therefore, for expressing the idea of putting its injunctions into practice, the Qur'an has employed the highly significant term hukm bima anzalallah (deciding every issue in the light of what is revealed by Allah). The use of this term indicates that a person will act upon the teachings of the Qur'an only when his thinking is dominated by the Holy Book and the knowledge of Reality imparted by' it has gone deep down into both his heart and his mind.
Istilah lain yang digunakan Al-Qur'an untuk menunjukkan gagasan mengamalkan ajaran Kitab Suci adalah iqamah (berpegang teguh pada, atau menegakkan). Istilah ini digunakan dalam ayat ke-69.
Another term that is used by the Qur'an to denote the idea of acting upon the teaching of the Holy Book is lqamah (standing fast by, or establish). It has been used in a ayah 69
dari Surah Al-Ma'idah, yang menyebutkan tentang orang-orang Yahudi dan Nasrani bahwa:
of Surah Al-Ma'idah, which says about the Jews and the Christians that:
Dan sekiranya mereka menegakkan Taurat dan Injil serta seluruh kitab yang diturunkan kepada mereka dari Tuhan mereka, niscaya mereka akan mendapat rezeki dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka.. . . (Al-Ma'idah 366)
And if only they had stood fast by the Torah and the Gospel and all the revelation that were sent to them from their Lord, they would surely have gotten provision from above them and from underneath their feet.. . . (Al-Ma'idah 366)
Kata itu digunakan lagi dalam ayat 71 dari surah yang sama, yang berisi pengumuman tersebut:
Again it is used in ayah 71 of the same Surah, which makes the announcement:
Katakanlah: "Wahai Ahli Kitab! Kamu tidak berpegang pada suatu (ajaran) apa pun, sebelum kamu menegakkan (hukum) Taurat, Injil, dan (Kitab) yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu." . . . (Al-Ma'idah 5:68)
Say: "0 people of the Book! You have no ground to stand upon unless you stand fast by the Torah, the Gospel, and what has been sent down to you from your Lord". . . . (Al-Ma'idah 5:68)
Istilah ḥukm bi mā anzalallāh berkaitan dengan membuat perilaku individu sesuai dengan ajaran Al-Qur'an, sedangkan iqāmah mā unzila minallāh berkaitan dengan perilaku kolektif masyarakat. Istilah ini menunjuk pada penegakan suatu sistem kehidupan yang berlandaskan keadilan sosial, yang menjamin keseimbangan dan keselarasan yang sempurna antara anggota masyarakat dan berbagai golongannya. Ketika manusia tunduk kepada tatanan sosial yang sempurna seperti ini, kemungkinan timbulnya kezaliman dan pelanggaran, kekejaman dan ketidakadilan sepenuhnya tertutup, dan seluruh pintu penindasan politik serta eksploitasi ekonomi pun tertutup. Karena itu, ayat 69 Surah Al-Mā'idah yang dikutip di atas secara khusus menyebut kesejahteraan sosial secara umum dan kemakmuran ekonomi sebagai akibat yang tak terelakkan dari sistem tersebut.
The term hakm bima anzalallah pertains to making the conduct of the individual conform to the teaching of Qur'an, but lqamah ma unzila minallah pertains to the collective conduct of the community. It signifies the establishment of a system of life based on social justice that ensures perfect balance and harmony between the individual members of the society and its different classes. When people come to owe allegiance to such a perfect social order, the possibility of tyranny and transgression, cruelty and injustice is absolutely ruled out and all the doors of political oppression and economic exploitation are closed. This is why the ayah 69 of Surah Al-Mai'dah quoted above specifically refers to the general social well-being and economic prosperity as an inevitable concomitant of such a system.
Penegakan tatanan sosial yang adil dan setara sepenuhnya inilah tujuan yang karenanya Allah (SWT) mengutus para rasul-Nya dan menurunkan Kitab-kitab-Nya.
This establishment of a perfectly just and equitable social order is the very purpose for which Allah (SVVT) sent His messengers and revealed His Books:
Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata (yakni mukjizat-mukjizat dan dalil-dalil), dan Kami turunkan bersama mereka Kitab (yakni petunjuk yang diwahyukan) dan Neraca (yakni syariat), agar manusia dapat menegakkan keadilan.. . . (Al-Hadid 57:25)
, We have surely sent our messengers with clear signs (i.e., miracles and proofs), and sent with them the Book (i.e., revealed guidance) and the Balance (i.e., the Shan'ah), so that mankind may stand by justice.. . . (Al-Hadeed 57:25)
Dalam ruku' kedua Surah Asy-Syura terdapat pembahasan rinci mengenai topik ini. Di sini kita memperoleh gambaran yang jelas tentang keterpaduan antara konsep-konsep dasar Islam, yang disebutkan dalam urutan yang sangat bermakna dan tepat. Konsep-konsep tersebut meliputi otoritas atau keputusan Allah, penegakan Din, keimanan kepada Kitab yang diwahyukan, dan penegakan tatanan sosial yang adil.
In the second ruku' of Surah Al-Shura we have a detailed discussion of this topic. Here we have a clear picture of the coordination subsisting between the fundamental Islamic concepts, mentioned in a highly meaningful and judicious sequence. These include Allah's authority or decision, establishment of Deen,'s belief in the Revealed Book, and the establishment of the just social order.
Pertama-tama, terdapat prinsip mendasar bahwa kewenangan Allah dalam menetapkan keputusan adalah yang tertinggi, dan dalam ayat 10 kita diperintahkan untuk mengakui dan menjunjung tinggi hal tersebut dalam keadaan apa pun.
To begin with, we have the fundamental principle that Allah's authority of decision is supreme, and in ayah 10 we have, accordingly, been directed to recognize and uphold it under all eventualities:
15 Secara umum diterjemahkan sebagai "agama", istilah Deen menunjukkan prinsip-prinsip dasar Petunjuk Ilahi dan pandangan hidup yang utuh, yang terbentuk dari penerapan prinsip-prinsip tersebut.
15 Generally translated as 'religion," the term Deen signifies the fundamental principles of Divine Guidance and the complete way of life that comes into shape from putting these'principles into practice.
Dan apa pun yang kalian perselisihkan, maka keputusannya ada pada Allah ... . (Asy-Syura 42:10)
And whatever it be wherein you differ, the decision thereof is with Allah ... . (Al-Shura 42:10)
Ayat 13 dari surah yang sama merujuk pada perwujudan otoritas atau keputusan Allah dalam bentuk Din dan Syariah. "Din yang sama telah Dia tetapkan bagi kalian, yaitu yang telah Dia wasiatkan kepada Nuh, yang Kami wahyukan kepadamu (wahai Muhammad ﷺ), dan yang Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa; yaitu hendaklah kalian menegakkan din dan janganlah kalian berpecah belah di dalamnya..." (Asy-Syura 42:13)
Ayah 13 of the same Surah refers to the manifestation of Allah's authority or decision in the form of Deen and Shari'ah, The same Deen has He established for you as that which He enjoined on Noah, which We have revealed to you (0 Muhammad!) and that which We enjoined on Abraham, Moses and Jesus; namely, that you should establish Deen and make no divisions therein.. . . (Al-Shura 42:13)
Kemudian dalam ayat 15, Nabi Suci (SAW) diperintahkan untuk menyatakan keimanannya kepada Kitab dan berjuang untuk terwujudnya masyarakat yang adil dengan menegakkan keadilan secara nyata kepada manusia: {Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu, dan janganlah mengikuti keinginan mereka, dan katakanlah: "Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allah; dan aku diperintahkan untuk berlaku adil di antara kamu ...."} (Asy-Syura 42:15)
Then in ayah 15, the Holy Prophet (SAW) has been instructed to declare his belief in the Book and to strive for the creation of a just society by practically dispensing justice to the people: Now then, for that (reason) call (them to the same Deen) and stand steadfast as you are commanded, and follow not their desires but say: "I believe in the Book which Allah has sent down; and I am commanded to do justice among you ...." (Al-Shura 42:15)
Seluruh pembahasan ini dirangkum dalam ayat 17: "Allah-lah yang telah menurunkan Kitab dengan benar dan Mizan (yaitu, Syari'ah, yang dengannya perbuatan ditimbang). Dan apa yang memberitahukanmu bahwa barangkali Hari Kiamat itu sudah dekat?" (Asy-Syura 42: 17)
This whole discussion is summed up in ayah 17: It is Allah Who has sent down the Book in truth and the Balance (i.e., Shari'ah, by which to weigh conduct). And what will make you know that perhaps the Hour is close at hand? (Al-Shura 42: 17)
Di sini, seperti pada ayat dari Surah Al-Hadid yang dikutip di atas, kita kembali menjumpai kata meezan (atau timbangan), yang merupakan istilah yang sangat penting dan digunakan di berbagai tempat dalam Al-Qur'an. Maulana Shabbir Ahmad Usmani (RA) telah memberikan penjelasan yang komprehensif mengenai istilah ini dalam kata-kata berikut:
Here again, as in the ayah from Surah Al-Hadeed quoted above, we have the word meezan (or balance) which is a very significant term used at different places in the Qur'an. Maulana Sahbbir Ahmad Usmani (RA) has offered a comprehensive explanation of the term in the following words:
Allah (SWT) telah membimbing manusia untuk menciptakan neraca material yang dengannya benda-benda fisik ditimbang. Dia juga telah menganugerahkan kepada manusia neraca intelektual, yang merupakan nama lain dari rasa keadilan dan kejujuran. Namun yang paling penting, neraca yang dianugerahkan kepada kita adalah Agama Kebenaran, yang menyelesaikan persoalan mendasar tentang hak masing-masing antara Sang Pencipta dan makhluk-makhluk-Nya, dan dengannya setiap persoalan dapat diputuskan secara adil.
Allah (SVVT) has guided man to devise the material balance by which material objects are weighed. He has also granted man the intellectual balance, which is another name for sense of justice and fair play. But most important, the balance granted to us is the Religion of Truth which settles the basic issue of the respective right of the Creator and His creatures and by which all issues can be justly decided.
Menurut Al-Qur'an, penyebab sebenarnya dari penyimpangan manusia dari agama yang benar, serta kekacauan dan anarki di dunia, adalah kecenderungan jahat mereka untuk mendominasi orang lain dan menjadikan mereka berada di bawah penaklukan. Dalam ayat 14 surah ini, tempat kaum Muslim diseru untuk membendung kecenderungan memecah belah, telah ditunjukkan penyebab orang-orang memisahkan diri dari Agama Allah (SWT) dan membentuk golongan-golongan: {Dan mereka tidak berpecah belah melainkan setelah datang kepada mereka pengetahuan, karena kedengkian di antara mereka.} (Asy-Syura 42: 14)
According to the Qur'an, the real cause of people's deviation from the true religion, and of the chaos and anarchy in the world, is their wicked tendency to dominate over others and keep them under subjugation. In ayah 14 of this very Surah where the Muslims are exhorted to curb schismatic trends, the cauge of people's breaking away from the Re!igion of Allah'(SWT) and forming sects has been pointed out: And they became divided only after knowledge had reached them, through inequity and oppression among themselves.. . . (Al-Shura 42: 14)
Kini kita diajak untuk merenungkan buah akhir dari membentuk pemikiran dan perbuatan kita sesuai dengan ajaran Al-Qur'an.
We are now led to consider the final fruit of molding our thought and action according to the teachings of Qur'an.
Seharusnya, sebagaimana telah kita bahas di atas, adalah tegaknya Kedaulatan Allah dan tegaknya pemerintahan keadilan di dunia.
It should be, as we have discussed above, the establishment of Allah's Sovereignty and the rule of justice in the world.
Ketika tatanan seperti ini ditegakkan, dunia terbebas dari segala bentuk ketidakadilan dan penindasan. Para pendeta dan ulama tidak dapat lagi menempatkan diri sebagai tuhan; orang-orang kaya tidak lagi dapat membatasi peredaran kekayaan hanya di antara mereka sendiri, dan tidak ada lagi kemungkinan adanya paksaan dan eksploitasi dalam bentuk apa pun. Semua menjadi hamba Allah (SWT) dan mulai bersikap satu sama lain seperti saudara. Para penguasa mereka menganggap tugas utama mereka adalah melindungi hak-hak kaum lemah dengan segala cara, dan tidak membiarkan kaum yang kuat berbuat sewenang-wenang terhadap mereka dalam bentuk apa pun.
When such an order is set up, the world becomes free from all sorts of inequity and oppression. Then the priests and divines cannot install themselves as godheads; the wealthy can no longer keep the circulation of wealth confined among themselves, and there is no possibility of any kind of coercion and exploitation. All become servants of Allah (SW) and begin to behave towards one another like brothers. Their rulers consider it their foremost duty to safeguard the rights of the weak at all cost, and not to allow the powerful to tyrannize over them in any way.
Penegakan tatanan yang adil dan setara seperti itu sesuai dengan ajaran Al-Qur'an merupakan kewajiban yang harus dipikul oleh para pengikutnya. Pelaksanaannya adalah tanggung jawab kolektif kaum mukmin, yang kelak akan mereka pertanggungjawabkan di hadapan Allah Yang Maha Kuasa (SWT). Oleh karena itu, sudah saatnya mereka memahami tanggung jawab ini dengan jelas dan berusaha sungguh-sungguh untuk menunaikannya.
The establishment of such a just and equitable order in accordance with the teachings of the Qur'an is the bounden duty of its followers. Its fulfillment is the believers' collective responsibility for which they will be answerable to the Almighty (SVVT). It is, therefore, time they should clearly understand this responsibility and strive hard to discharge it.
Mungkin karena itulah, pada akhir pembahasan dalam Surah Asy-Syura yang telah kami kutip secara ringkas di atas, disebutkan Hari Kiamat dengan kalimat: "Boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat." Ini mengandung peringatan agar kita tidak lalai dan tidak menunda-nunda dalam urusan yang penting ini, supaya kita tidak tiba-tiba disergap oleh kehancuran terakhir. Kewajiban kita terhadap Kitab Allah (SWT) ini akan terpenuhi apabila kita benar-benar mendirikan suatu sistem keadilan sosial, sehingga "manusia dapat berdiri tegak dengan keadilan" dan para penguasa mereka "dapat menegakkan keadilan di antara mereka." Akan terlihat bahwa fondasi dan kerangka sistem ini sudah ada pada prinsip-prinsip dasar Din kita serta tata kehidupannya yang telah dijelaskan oleh Al-Qur'an.
Perhaps that is why at the end of the discussion in Surah Al- Shura which we have reproduced briefly above, there is a mention of the Day of Judgment in the words: 'perhaps the Hour is close at hand." It implies the warning that we should not be guilty of any negligence and delay in this important matter lest we should be suddenly overtaken by the final Doom. This duty that we owe to the Book of Allah (SWT) will be fulfilled if we actually set up a system of social equity so that "mankind may stand by justice" and their rulers "may do justice among them." It will be seen that we have the foundation and structure of this system in the fundamental principles of our Deen and its code of life that have been enunciated by the Qur'an.
Mungkin timbul pertanyaan mengenai langkah-langkah praktis apa yang harus diambil untuk menunaikan kewajiban ini. Meskipun jawaban lengkap atas pertanyaan ini berada di luar cakupan risalah ini, beberapa catatan mengenai topik tersebut tetap layak disampaikan di sini. Pertama-tama, hendaknya dipahami bahwa penegakan prinsip-prinsip dasar Deen dalam masyarakat dan pembentukan tatanan yang adil dan berimbang sebagaimana digariskan oleh Al-Qur'an tidak boleh dibayangkan dengan mengikuti pola gerakan sosial, ekonomi, atau politik yang sekuler, dan kita pun tidak boleh berjuang mencapai cita-cita agung ini sebagaimana kita berjuang demi keberhasilan gerakan-gerakan tersebut.
It may well be asked as to what practical measures should be adopted for the fulfillment of this duty. Although a complete answer to this question is beyond the scope of this booklet, still a few remarks on this topic will not be out of place here. In the first place, let it be understood that the enforcement of the fundamental principles of Deen in the society and the establishment of a just and equitable order as envisaged by the Qur'an should not be conceived on the pattern of any secularized social, economic, or political movement, nor should we strive for the achievement of this splendid ideal as we do for the success of these movements.
Melakukan hal itu akan penuh dengan bahaya besar dan bahkan bisa berujung pada kebinasaan. Kita harus memahami bahwa sebagaimana hanya ada satu metode untuk mewujudkan transformasi individu sebagaimana yang diwajibkan Islam, demikian pula hanya ada satu metode untuk mewujudkan Revolusi Islam dalam masyarakat. Adapun terhadap individu, kita harus terlebih dahulu membuat Al-Qur'an menguasai hatinya dan pikirannya, sehingga perasaan, cara berpikir, dan penalarannya berfungsi selaras dengan semangat Al-Qur'an, dan tindakannya, karenanya, sesuai dengan ajaran-ajaran Al-Qur'an; demikian pula untuk perubahan dalam masyarakat yang dituntut oleh Islam, kita harus terlebih dahulu menerangi pikiran dan hati kaum intelektualnya dengan cahaya Al-Qur'an, sehingga mereka berubah secara intelektual dan spiritual. Setelah kaum intelektual, yang merupakan otak masyarakat, tercerahkan, cahaya Al-Qur'an dapat dengan mudah menyebar kepada orang-orang lain yang merupakan, bisa dikatakan, anggota tubuh masyarakat dan pada umumnya mengikuti otaknya. Dengan demikian, hati seluruh masyarakat akan berdetak selaras dengan ajaran-ajaran Al-Qur'an, dan prinsip-prinsip dasar Deen Allah akan berjalan dan berlaku dalam bentuk sistem keadilan kolektif yang sempurna.
To do so would be fraught with grave danger and may even be suicidal. We must know that just as there is only one method of bringing about the transformation of an individual as required by Islam, similarly there is only one method of effecting an Islamic Revolution in the society. So far as the individual is concerned, we should first make the Qur'an dominate his heart and mind so that his feeling, thinking, and reasoning may function in consonance with the Qur'anic spirit and his actions may, consequently, accord with Qur'anic teachings; and likewise for the change in society demanded by Islam, we have first to illumine the minds and hearts of its intelligentsia with the light of the Qur'an so that they are intellectually and spiritually transformed. After the edification of the intelligentsia who are the brain of the community, the light of the Qur'an could easily spread to other people who are, so to speak, the limbs of the community and generally follow its brain. Thus the heart of the whole community will beat in unison with the teachings of the Qur'an and the fundamental principles of Allah's Deen will come to operate and prevail in the form of a perfect system of collective justice.
Tidak ada jalan lain untuk mewujudkan revolusi ini, dan anggapan bahwa tujuan tersebut dapat dicapai dengan meluncurkan gerakan politik dengan memanfaatkan keterikatan emosional suatu umat Islam terhadap agama warisan mereka adalah sama sekali sia-sia; upaya semacam itu tak ubahnya membangun istana pasir.
There is no other way of bringing about this revolution, and the plea that this goal could be achieved by launching a political movement by exploiting the emotional attachment of a Muslim people to their hereditary religion is absolutely vain, and making such an attempt would be like building sand castles.
Dengan memohon maaf atas penyimpangan ini, saya perlu mengulangi bahwa kewajiban untuk mengamalkan ajaran Al-Qur'an, yang mengambil dua bentuk, yaitu hukm bima anzalallah dan iqamah ma unzila minallah, merupakan perintah yang mutlak bagi kaum Muslimin, baik secara perorangan maupun secara kolektif. Oleh karena itu, masing-masing dari kita sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya, dan seluruh Ummah sesuai dengan kekuatan dan sumber dayanya, hendaknya bersungguh-sungguh berusaha menunaikan tanggung jawab yang besar ini.
Hoping to be excused for this digression, I must repeat that the duty of acting upon the teachings of the Qur'an - which assumes two forms, hukm bima an~alalla and lqamah ma unzila minallahM - is an absolute imperative upon the Muslims, both individually and collectively; and, therefore, each one of us according to his means and capacity and the whole Ummah according to its strength and resources should earnestly endeavor to discharge this great responsibility.
12 Ini merujuk pada peristiwa yang diriwayatkan oleh Al-Qur'an, sebagai berikut: "Dan ketika sebagian dari mereka berkata: 'Mengapa kamu memberi nasihat kepada kaum yang akan dibinasakan Allah atau akan ditimpakan kepada mereka azab yang keras?' Mereka menjawab: '(Kami melakukan ini agar) menjadi alasan bagi kami di hadapan Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.'"
12 This refers to an incident narrated by the Qur'an, as follows: 'When some of them said: 'Why do you preach to a people whom Allah will destroy or visit with a terrible punishment?' (The preachers) replied: '(We are doing this so) that it may be accepted as an excuse by our Lord, and perchance they may fear him.
(Al-A'raf 7:164)
13 Kata-kata ini diikuti oleh peringatan yang seharusnya membuat bergidik setiap orang yang hatinya peka, namun sayangnya kita telah mengadopsi cara-cara yang sama dengan yang telah diperingatkan. Akibatnya, peringatan itu - "Maka tidak ada balasan bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu melainkan kehinaan dalam kehidupan dunia. Dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang paling berat. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan" - sedang menjadi kenyataan bagi kita.
13 These words are followed by a warning that should send a shudder through any person with a sensitive heart, but it is a pity that we have adopted the same ways against which we have been warned. The result is that the warning - "What is the reward for those among you who behave like this but disgrace in this !fe? And on the,Day of Judgment they shall be consigned to the most grievous penalty. Allah is not unmindful of what they do" - is coming true for us.
Adapun kehinaan dalam kehidupan dunia ini, sesungguhnya telah menimpa kita, dan kaum Muslimin di seluruh dunia menampilkan pemandangan yang menyedihkan berupa kesengsaraan dan kehinaan. Mengenai siksa di Akhirat, kita merasa bahwa kita pun sangat layak menerimanya; namun jika Allah (SWT) mengampuni kita karena Kebaikan dan Rahmat-Nya yang tak terbatas, maka itu tentu perkara yang berbeda. "Jika Engkau menyiksa mereka, maka mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana." (Al-An'am 6: 118) Betapa tepatnya hadis Nabi Muhammad ﷺ berikut ini dengan keadaan kita sekarang: "Sesungguhnya Allah mengangkat sebagian kaum karena (mereka mengikuti) Kitab ini, dan merendahkan yang lain (sebagai akibat dari meninggalkannya)." Diriwayatkan oleh Umar Ibnul Khattab (RAA) dan dinukil oleh Imam Muslim (RA).