Tazakkur Wa Tadabbur
Tazakkur Wa Tadabbur
(Mengingatkan melalui Al-Qur'an akan kebenaran-kebenaran mendasar yang secara intuitif diakui oleh fitrah manusia, serta merenungkan maknanya)
(Recalling through the Qufan the fundamental truths intuitively recognized by human nature, and reflecting over its meaning)
Kita telah membahas dua dari klaim yang dimiliki Al-Qur'an atas kita: (i) bahwa kita harus beriman kepadanya dan (ii)
We have discussed two of the claims that the Qur'an has upon us: (i) that we should believe in it and (ii)
kemudian kami melanjutkan dengan menjelaskan klaim ketiga yang dimiliki Al-Qur'an atas kita, yaitu bahwa kita harus memahaminya. Jelas bahwa Al-Qur'an diturunkan agar dapat dipahami. Tidak ada gunanya beriman kepadanya jika kita tidak mengikuti maknanya. Selain itu, bagaimana ia dapat menjadi sumber petunjuk bagi kita jika kita gagal memahami pesannya? Sekadar membaca (yakni membaca tanpa memahami makna teksnya) mungkin dapat dimaklumi bagi orang-orang yang tidak beruntung mendapatkan pendidikan apa pun, dan yang kini telah melewati usia ketika seseorang dapat mempelajarinya. Bahkan bacaan mereka yang terbata-bata mungkin diterima dan dapat mendatangkan pahala dari Allah (SWT). Demikian pula, orang yang sama sekali tidak dapat membaca Al-Qur'an, dan tidak dapat mempelajarinya, mungkin tetap memperoleh pahala dan keberkahan dari Allah (SWT) meskipun ia hanya menggerakkan jarinya dengan penuh kasih dan hormat di sepanjang baris-baris Kitab Suci, seraya meyakini bahwa itu adalah kalam Allah (firman Allah). Namun, keadaan orang-orang yang telah mencurahkan sebagian besar hidupnya untuk pendidikan umum berbeda. Mereka mungkin telah memperoleh pengetahuan tentang berbagai seni dan ilmu, dan mungkin telah mempelajari bahasa asing selain bahasa mereka sendiri. Jika orang-orang terdidik ini membaca Al-Qur'an tanpa berpikir dan tanpa memahami maknanya, maka sangat mungkin di hadapan Allah Yang Maha Kuasa (SWT) mereka dianggap bersalah karena merendahkan dan mengolok-olok Kitab Suci. Bagi mereka, hukuman karena mengabaikan makna dan pesan Al-Qur'an mungkin melebihi pahala membaca teksnya. Akan tetapi, jika mereka bertekad kuat untuk mempelajari Al-Qur'an dan mulai bersungguh-sungguh dalam usaha ini, mereka sementara waktu tetap dapat membaca Al-Qur'an sebatas kemampuan mereka. Mungkin, dalam keadaan demikian, bacaan yang sederhana saja dapat diterima dari mereka dan bahkan mendatangkan pahala dari Allah (SWT).
that we should recite it. Now we proceed to explain the third claim it has upon us. It is that we should understand it. Obviously, the Qur'an has been revealed that it may be understood. There would be no sense in believing in it if we do not follow its meanings. Also, how can it serve as a source of guidance for us if weofail to comprehend its message. Mere recitation (i.e., recitation without understanding the meaning of the text) may be excusable in the case of persons who have not been fortunate enough to receive any education, and who are now past the age at which one can do so. Even a clumsy recitation on their part may be acceptable and may win them a reward from Allah (SVVT). Similarly, a person who cannot read the Qur'an at all, nor can learn how to do so, may get a reward and blessings from Allah (SW) even if he just moves his fingers affectionately and reverently along the lines of the Holy Book, believing it to be kalam Allah (the Word of Allah). However, the case of those persons will be quite different who may have devoted a considerable part of their lives to their secular education - who may have acquired a knowledge of different arts and sciences and may have learnt foreign languages besides their own. If these educated persons were to read the Qur'an thoughtlessly and without understanding its meaning, then it is very much possible that, in the sight of Almighty Allah (SWT), they may be considered guilty of dishonoring and ridiculing the Holy Book. For these persons, it is possible that the punishment for ignoring the meaning and message of the Qur'an may exceed the reward for reciting its text. However, if they make a firm resolve to acquire a knowledge of the Qur'an and start earnest efforts in this direction, they may in the meantime continue to read the Qur'an in the way they can. Perhaps, under the circumstances, recitation, mere and simple, may be acceptable from them and may even bring them a reward from Allah (SWT).
Adapun pemahaman terhadap Al-Qur'an bukanlah perkara yang sederhana. Ia memiliki berbagai tingkatan dan derajat yang dapat dicapai oleh setiap orang sesuai dengan tingkat daya pikirnya masing-masing.
As for the comprehension of the Qur'an, it is not a simple affair. It has numerous stages and grades accessible to different persons according to the levels of their thinking.
Al-Qur'an al-Karim laksana lautan tanpa batas, dari mana seorang ulama dapat mengeluarkan mutiara-mutiara ilmu dan hikmah sesuai dengan kemampuan alami, perangkat intelektual, dan watak mentalnya. Upayanya dalam memahami Al-Qur'an akan diberi balasan sebanding dengan semangat, waktu, dan jerih payah yang ia curahkan untuk mempelajari dan mengkajinya. Pada saat yang sama, akan didapati bahwa sejauh menyangkut pemahamannya, tidak ada seorang pun, betapapun cerdas dan berilmunya, yang akan pernah merasa bahwa ia telah memberikan keadilan kepada Al-Qur'an, meskipun ia mungkin telah menghabiskan seluruh hidupnya membolak-balik halamannya dan merenungkan maknanya. Nabi ﷺ sendiri telah menggambarkan Al-Qur'an sebagai harta (berupa ilmu dan ...
The Holy Qur'an is like an unbounded sea from which a scholar can bring out pearls of knowledge and wisdom according to his natural ability, intellectual equipment, and mental makeup. His efforts to comprehend the Qur'an will be rewarded in proportion to the enthusiasm, time, and labor that he puts into its study and research. At the same time, it will be found that so far as its comprehension is concerned, no person, however intelligent and learned, shall ever feel that he has dpne justice to the Qur'an even though he may have spent his whole life pouring over its pages and meditating over its meanings. The Holy Prophet (SAW) himself has characterized the Qur'an as a treasure (of knowledge and 24
hikmah) yang tidak akan pernah habis. Ia adalah sumber petunjuk sedemikian rupa sehingga manusia akan senantiasa merasa perlu untuk kembali kepadanya dan merenungkannya.
wisdom) which shall never to exhau~tedI.t~ is such a source of guidance that man shall ever continue to feel the need of reverting to it and reflecting upon it.
Biarlah (semua) orang yang ingin berjuang, berjuang.
... for this let (all) those strive who want to strive.
(Al-Muthaffifin 83:26)
(Al-Mutaffifin 83:26)
Oleh karena itu, hendaklah tampil orang-orang yang berani dan bertekad kuat untuk memikul tugas besar penelitian Al-Qur'an, dengan dorongan cita-cita mulia untuk melampaui orang lain dalam bidang ini.
Therefore, let men of courage and determination come forward to undertake the stupendous task of Qur'anic research, fired with the noble ambition of surpassing others in this field.
Al-Qur'an berulang kali mendorong kita untuk mempelajarinya dengan cerdas, dengan menggunakan pemikiran kita, serta melatih daya nalar kita dalam mengikuti argumen-argumennya dan memahami maknanya. Untuk tujuan ini, ia menggunakan kata-kata seperti fahm, 'aql, fiqh, dan fikr; namun istilah penting lainnya, yang lebih luas digunakan dalam Al-Qur'an dalam konteks ini, adalah tazakkur. Untuk memahami makna istilah ini, kita perlu mencatat bahwa Al-Qur'an sering menyebut dirinya zikr, zikra, dan tazkirah. Pada hakikatnya, tazakkur berkaitan dengan tahap pertama dalam memahami Al-Qur'an dan menunjukkan tujuan sebenarnya serta maksud akhir yang seharusnya dilayaninya. Istilah ini juga mengisyaratkan bahwa ajaran-ajaran Al-Qur'an tidaklah asing bagi fitrah manusia. Ajaran tersebut sesungguhnya mencerminkan pengalaman batin manusia dan dimaksudkan untuk membangkitkan kembali ingatan akan sesuatu yang telah diketahui, bukan untuk memasukkan sesuatu yang sama sekali baru. Al-Qur'an menyeru semua orang berpikir yang menjadi sasarannya sebagai ulul albab (orang-orang yang berakal) dan qaumun yaqilun (kaum yang menggunakan akalnya) untuk merenungkan dan memikirkan alam semesta materi di luar diri maupun alam semesta ruhani di dalam diri, karena keduanya penuh dengan tanda-tanda yang jelas akan keberadaan Sang Pencipta Yang Maha Kuasa (SWT).
The Holy Qur'an urges us again and again to study it intelligently, bringing our thought to bear upon it, and exercising our reasoning faculty in following its arguments and comprehending its meanings. For this purpose, it uses such words as fahm, 'aql, fiqh, and fikr;? but another important term, more widely used in the Qur'an in this context is tazakkur. For understanding the significance of this term we have to note that the Qur'an frequently calls itself zikr, zikra and ta~kirahI.n~ r eality, tazakkur pertains to the first stage in the comprehension of the Qur'an and indicates the real purpose and final goal which it should serve. It also alludes to the fact that the Qur'anic teachings are not extraneous to the human nature. It actually reflects the experiences of man's inner self and is meant to awaken reminiscences of something already apprehended, rather than to import anything altogether new. The Holy Qur'an appeals to all thoughtful persons whom it addresses as ulul albab (men of understanding) and qaumun yaqilun (people who use their intellect) to think and ponder over the outer universe of matter as well as the inner universe of the spirit, as both are replete with the unmistakable signs of the Almighty Creator (SW)
Sekaligus, Al-Qur'an mengajak mereka untuk merenungkan tanda-tanda-Nya, yaitu ayat-ayat-Nya yang diturunkan secara ilahi. Dalam Surah Yunus disebutkan:
Simultaneously, the Qur'an invites them to deliberate over its own signqB i.e., its Divinely revealed verses. In Surah Yunus it says:
Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda (kebesaran Kami) secara rinci bagi kaum yang berpikir. (Yunus 10:24)
thus do we explain the signs in detail for those who reflect. (Yunus 10:24)
dan dalam Surah An-Nahl:
and in Surah Nahl:
Verse text is inside { } per rules, so I translate the verse as given, with ﷺ after the Prophet's mention only outside the verse. Here the verse contains no mention of the Prophet by name, so no ﷺ. Dan Kami turunkan kepadamu Az-Zikr (Al-Qur'an) agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan supaya mereka memikirkan.
... and we have sent down unto you the Zikr that you may explain clearly to men what is sent for them, and that they may give thought. (Al-Nahl 16:44)
Dalam surah kedua, Al-Baqarah:
Again, in the same vein, we have in the second Surah, Al- Baqarah:
Demikianlah Allah menjelaskan tanda-tanda-Nya kepadamu, agar kamu memahami(-Nya). (Al-Baqarah 2:242)
Thus Allah makes clear His signs to you, in order that you may understand. (Al-Baqarah 2:242)
Demikian pula, pada awal Surah Yusuf terdapat ayat berikut:
and similarly in the beginning of Surah Yusuf we have the following ayah:
Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur'an dalam bahasa Arab agar kamu memahaminya. (Yusuf 12:2)
Verily, We have sent it down as an Arabic Qur'an in order that you may understand. (Yusuf 12:2)
Dengan merenungkan ketiga kategori tanda (yakni tanda-tanda dalam Al-Qur'an, tanda-tanda di alam fisik, dan tanda-tanda di dunia spiritual hati manusia), seseorang akan mampu melihat keselarasan yang sempurna di antara ketiganya; dan, dengan menyadari keselarasan ini, ia akan memahami kebenaran-kebenaran mendasar yang dibenarkan oleh kesaksian batin dari fitrahnya sendiri. Kebenaran-kebenaran yang dijunjung oleh batin dirinya akan muncul dari kedalamannya dan bersinar dengan segala kecemerlangannya di layar kesadarannya. Dengan kata lain, kesadaran penuh dan mendalam akan Realitas Mutlak, yang merupakan inti dari Iman, kemudian akan timbul ke alam sadarnya seperti ingatan akan sesuatu yang telah terlupakan yang naik dari kedalaman gelap pikiran ke permukaannya dengan bantuan suatu isyarat yang tepat. Fenomena inilah yang disebut Al-Qur'an dengan istilah tazakkur. Setiap orang, baik yang biasa-biasa saja maupun yang intelektual, senantiasa membutuhkan tazakkur, yang diperlukan untuk mengingatkan kembali kebenaran-kebenaran yang telah terlupakan atau untuk menjaga dalam ingatan kebenaran-kebenaran yang mungkin akan terlupakan. Karena alasan inilah Allah (SWT) menjadikan Al-Qur'an begitu mudah untuk keperluan tazakkur, suatu fakta yang telah dinyatakan empat kali dalam Surah Al-Qamar:
Pondering over the three categories of signs (i.e., the Qur'anic signs, the signs in the phys~cal universe. and the signs in the spiritual world of the human heart) a man will be able to perceive a perfect concord between them; and, with the realization of this concord, he will grasp certain fundamental truths which are borne out by the internal testimony of his own nature. The truths cherished by his inner self will emerge from its depths and shine with all their brilliance on the screen of his consciousness. In other words, full and intense awareness of the Absolute Reality, which is the core of Iman, will then spring up to his conscious mind like the memory of a forgotten thing shooting up from the dark depths of the mind to its surface with the aid of a pertinent suggestion. For this very phenomenon, the Qur'an uses the term tazakkur.1° Every person, whether mediocre or an intellectual, is in constant need of tazakkur which is necessary for recalling to the mind the truths that have been forgotten or for keeping in mind the truths that are likely to be forgotten. It is for this reason that Allah (SWT) has made the Qur'an so easy for the purposes of tazakkur - a fact which has been stated four times in Surah Al-Qamar:
Dan sungguh, Kami telah memudahkan Al-Qur'an untuk peringatan. Maka adakah orang yang mengambil pelajaran?
We have made the Qur'an easy as a means of reminding (men of the truths forgotten by them). Is there any who will benefit from this reminding?
(Al-Qamar 54:17,22, 32, 40)
Dengan demikian, Al-Qur'an telah menyatakan dengan tegas dan tanpa keraguan bahwa setiap orang dapat memperoleh manfaat tazakkur darinya. Tidak menjadi soal apakah kecerdasan seseorang terbatas, pengetahuannya tentang logika dan filsafat lemah, atau ia tidak memiliki kepekaan yang halus terhadap bahasa dan sastra. Meskipun demikian kekurangan itu, ia tetap dapat memperoleh tazakkur dari Al-Qur'an jika ia memiliki hati yang mulia, akal yang sehat, dan fitrah yang bersih, tidak tercemar oleh kebengkokan apa pun. Hendaklah ia membaca Al-Qur'an dan terus memahami makna-maknanya yang sederhana.
The Qur'an has thus declared in unequivocal terms that every person can get the benefit of tazakkur from it. It oes not matter if a person's intelligence is limited, and his knowledge of logic and philosophy is poor, and if he has no fine sense of language and literature. In spite of these drawbacks, he can have tazakkur from the Qur'an if he has a noble heart, a sound mind, and an untainted nature not perverted by any kind of crookedness. He should read the Qur'an and should go on understanding its simple meanings.
Ini sudah cukup untuk tujuan tazakkur.
This will be enough for the purposes of tazakkur.
Al-Qur'an telah dibuat mudah dipahami dengan berbagai cara bagi mereka yang berusaha memahaminya dan mengambil pelajaran (tazakkur) dari ayat-ayatnya. Pertama, tema pokok dan pokok-pokok bahasannya bukanlah sesuatu yang baru atau asing bagi fitrah manusia. Ketika membaca Al-Qur'an, seseorang sering merasa seolah-olah sedang mendengarkan gema dari dalam dirinya sendiri. Kedua, metode penarikan kesimpulan yang digunakan sederhana dan alami, dan pokok-pokok bahasan yang sulit dan pelik disampaikan kepada pembaca melalui perumpamaan yang mudah dan sederhana. Ketiga, meskipun Al-Qur'an adalah mahakarya sastra dan teladan kefasihan, bahasanya pada umumnya sederhana, dan seseorang yang memiliki pengetahuan bahasa Arab sekadarnya dapat dengan mudah memahami teks tersebut, kecuali beberapa bagian yang sulit. Meskipun demikian, untuk memperoleh tazakkur dari Al-Qur'an, pengetahuan dasar bahasa Arab mutlak diperlukan. Membaca terjemahan bersama teks saja tidak akan cukup untuk tujuan ini. Saya sungguh-sungguh berpendapat bahwa setiap Muslim wajib memperoleh pengetahuan bahasa Arab sebanyak yang memungkinkannya memahami makna sederhana teks Al-Qur'an saat ia membacanya, tanpa harus berulang kali mengalihkan pandangan untuk merujuk pada terjemahan.
The Qur'an has been rendered easy in different ways for those who try to understand it and derive tazakkur from its ayaat. In the first place, its central theme and basic subjects are nothing new or unfamiliar to the human nature. While reading the Qur'an a man often feels as if he were listening to the echoes of his inner self. Secondly, the mode of inference adopted is simple and natural, and difficult and abstruse subjects have been brought home to the reader by easy and simple parables. Thirdly, although the Qur'an is a masterpiece of literature and a paragon of eloquence, yet its language is generally simple and a man with a smattering of Arabic can easily understand the text except a few difficult portions. In spite of all this, for the attainment of tazakkur from the Qur'an, a basic knowledge of Arabic is a must. Looking into a translation along with reading the text will not be sufficient for this purpose. I most honestly feel that it is imperative for every Muslim to acquire as much knowledge of the Arabic language as may enable him to understand the simple meaning of the Qur'anic text as he reads it along, without having to raise his eyes again and again for consulting a translation.
Saya tidak memahami alasan apa yang akan dikemukakan di hadapan Pengadilan Yang Maha Kuasa (SWT) oleh mereka, kaum Muslim, yang tidak hanya terpelajar tetapi telah meraih gelar sarjana dan pascasarjana serta menguasai ilmu dan seni yang sulit seperti Kedokteran dan Teknik, namun tidak mempelajari bahasa Arab sebanyak yang memungkinkan mereka memahami Kitab Suci-Nya. Karena kepedulian yang tulus dan keprihatinan yang mendalam terhadap kaum Muslim ini, izinkan saya menegaskan bahwa kelalaian mereka dalam mempelajari bahasa Arab sama saja dengan tidak hanya 28
I fail to understand what excuse will be put forward in the Court of the Almighty (SW) in their defense by those Muslims who are not only educated but have obtained graduate and post-graduate degrees and have mastered such difficult arts and sciences like Medicine and Engineering, for not learning so much Arabic that they could follow His Holy Book. Out of a sincere regard and genuine concern for these Muslims, let me assert that their negligence in the matter of learning Arabic is tantamount to not only 28
mengolok-olok Kitab Allah (SWT) sekaligus memperlakukannya dengan penghinaan. Mereka hendaknya menyadari bahwa dengan perilaku sembrono mereka dalam hal ini, mereka sendiri menjerumuskan diri ke dalam siksa yang mengerikan dan hukuman yang menakutkan pada Hari Kiamat.
ridiculing the Book of Allah (SWT) but also treating it with contempt. They should realize that by their irresponsible behavior in this regard they are rendering themselves liable to an awful chastisement and a dreadful penalty on the Day of Judgment.
Menurut hemat saya, mempelajari bahasa Arab sebanyak yang memungkinkan seseorang untuk memahami makna Al-Qur'an dengan mudah adalah kewajiban yang dipikul setiap Muslim terpelajar terhadap Kitab Suci ini, dan tidak menunaikan kewajiban ini merupakan kezaliman besar terhadap Al-Qur'an sekaligus terhadap diri kita sendiri.
In my humble opinion, to learn so much Arabic as may enable a person to follow the meaning of the Qur'an easily is a duty that every educated Muslim owes to the Holy Book, and not to fulfill this duty is a grave injustice to the Qur'an as well as to ourselves.
Tahap kedua dalam memahami Kitab Suci adalah tadabbur fil-Qur'an, yaitu merenungkannya secara mendalam, menjadikannya objek kajian yang sungguh-sungguh, dan menyelami kedalaman ilmu serta hikmahnya. Al-Qur'an memerlukan kajian yang mendalam semacam ini karena ia adalah huda lil-naas, yakni petunjuk bagi umat manusia. Ia tidak hanya membimbing orang awam dengan memaparkan pandangan yang benar tentang Tuhan dan alam semesta serta prinsip-prinsip moral yang kokoh, tetapi juga memuat petunjuk yang sempurna bagi orang-orang berilmu dan berakal, dan selalu menjadi suluh bagi mereka dalam setiap krisis intelektual maupun spiritual dalam kehidupan mereka.
The second stage in the comprehension of the Holy Book is tadabbur fil-Qufan, i.e., thinking over it deeply, making it a subject of intense study, and diving into the depths of its knowledge and wisdom. The Qur'an requires such a deep study because it is huda lil-naas i.e., guidance for humankind. Not only does it guide the common people by presenting before them the correct view of God and the universe as well as sound moral principles, but it also contains perfect guidance for men of learning and understanding and has always served them as a beacon of light in every intellectual or spiritual crisis in their life.
Bahwa Al-Qur'an adalah sesuatu yang harus direnungkan dan dihayati adalah poin yang telah ditegaskan oleh Al-Qur'an itu sendiri.
That the Qur'an is something to be reflected and pondered over is a point which has been emphasized by the Qur'an itself:
Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan keberkahan, agar mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mendapat pelajaran. (Sad 38:29)
Here is a book which we have sent down to you, full of blessings, that they may meditate on its signs, and that men of understanding may receive admonition. (Sad 38:29)
Untuk lebih menegaskan poin ini, ia berkata dengan nada sedikit menegur:
By way of stressing this point further, it says, in a mildly admonishing vein:
Maka apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur'an? ... (An-Nisa 4:82)
So, do they not reflect on the Qur'an? ... (Al-Nisa 4:82)
Maka tidakkah mereka merenungkan Al-Qur'an, ataukah hati mereka terkunci?
Do they not then deeply think over the Qur'an, or are their hearts locked up? (Muhammad 47:24)
Al-Qur'an itu cukup mudah untuk tazakkur, namun pada tingkat yang sama sulit untuk tadabbur. Mereka yang menyelami samudra tak bertepi ini tahu bahwa kedalamannya tidak mungkin diselami sepenuhnya. Kita mempelajari dari riwayat-riwayat yang sahih bahwa para Sahabat (RAA) Nabi Suci (SAW) biasa merenungkan berbagai surah Al-Qur'an selama bertahun-tahun. Diriwayatkan tentang Abdullah bin Umar (RAA) bahwa ia menghabiskan delapan tahun untuk merenungkan Surah Al-Baqarah. Perlu dicatat bahwa hal ini terjadi pada orang-orang yang berbicara dengan bahasa yang sama dengan bahasa Al-Qur'an diturunkan, dan yang, sebagai sezaman dengan Nabi ﷺ, telah menyaksikan sendiri Al-Qur'an diturunkan di hadapan mata mereka. Mereka tidak perlu mempelajari bahasa Arab dan tata bahasanya, atau melakukan penelitian untuk memastikan latar belakang sejarah berbagai ayat atau surah serta sebab-sebab turunnya. Meskipun memiliki segala keuntungan ini, mereka tetap merenungkan setiap surah selama bertahun-tahun. Hal ini menunjukkan bahwa menyelami lautan ilmu dan hikmah ini bukanlah perkara sepele. Sebaliknya, ia menuntut kerja keras yang sungguh-sungguh dan ketekunan yang terus-menerus. Pada masa-masa berikutnya, para ulama besar seperti Tabari (RA), Zamakhsyari (RA), Razi (RA), dan banyak lagi yang setara dengan mereka, mencurahkan seluruh hidup mereka untuk mempelajari Al-Qur'an, namun masing-masing dari mereka paling jauh hanya mampu menafsirkan satu aspek dari Kitab agung ini, dan, jujur saja, bahkan pada aspek itu pun mereka belum sepenuhnya menunaikan haknya.
The Qur'an is quite easy for tazakkur but is, in the same degree, difficult for tadabbur." Those who dive into this boundless ocean know that it is not possible to fathom its depth. We learn from authentic traditions that the Companions (RAA) of the Holy Prophet (SAW) used to ponder over the different Surahs of the Qur'an for years on end. It is reported about Abdullah Ibn Umar (RAA) that he spent eight years pondering over Surah Al-Baqarah. Let it be noted that this was the case with people who spoke the same language in which the Qur'an was revealed and who, being the contemporaries of the Holy Prophet (SAW), had seen it being revealed before their own eyes. There was no necessity for them to learn the Arabic language and its grammar or to undertake research for ascertaining the historical background of different ayaat or Surahs and the occasions on which they were revealed. In spite of all these advantages, they pondered over each Surah for years together. This shows that diving into this sea of knowledge and wisdom is not a child's play. On the other hand, it calls for strenuous labor and constant application. In the later ages, great scholars like Tabari (RA), Zamakhshari (RA), Razi (RA), and many others of the same caliber, dedicated their whole lives to the study of the Qur'an, but each of them at best could interpret a single aspect of this great Book and, honestly speaking, failed to do justice even to that aspect.
Sepanjang empat belas abad, tidak pernah ada seorang ulama pun yang, setelah menulis tafsir Al-Qur'an paling tebal, lantas mengklaim bahwa ia telah mengucapkan kata terakhir tentangnya dan tidak menyisakan ruang bagi pemikiran lebih lanjut.
Throughout the fourteen centuries, there has been no scholar who, having written the most voluminous commentary on the Qur'an, might have claimed that he had said the last word on it and had left no room for further deliberation.
Imam Ghazali (RA) dalam kitab Ihya-ul-Uloom mengutip ucapan seorang arif yang memperlihatkan perbedaan antara membaca Al-Qur'an biasa untuk tazakkur dan mempelajarinya dengan cermat untuk tadabbur. Ia berkata: "Ada cara membaca yang membuat saya membutuhkan satu minggu untuk menyelesaikan Al-Qur'an. Ada jenis bacaan lain yang membuat saya membutuhkan satu bulan, dan ada pula yang membutuhkan satu tahun untuk menyelesaikannya. Ada lagi jenis bacaan yang saya mulai tiga puluh tahun lalu, tetapi hingga kini belum juga memungkinkan saya untuk menyelesaikannya." Syarat untuk mempelajari Al-Qur'an secara mendalam dan penuh renungan sangatlah berat untuk dipenuhi. Seseorang tidak mungkin mencapai syarat-syarat ini kecuali ia mencurahkan dirinya sepenuhnya dan hanya untuk itu, serta menjadikan belajar dan mengajarkan Al-Qur'an sebagai tujuan dan inti dari seluruh hidupnya. Untuk kajian semacam ini, ia memerlukan pengetahuan yang mendalam tentang bahasa Arab beserta tata bahasanya, dan selera sastra yang halus untuk menghargai keindahan, kekuatan, dan kefasihan ungkapannya. Ia juga harus memiliki dasar yang kokoh dalam bahasa tempat Al-Qur'an diturunkan, dengan menelaah secara kritis karya-karya penyair dan orator sebelum Islam. Lalu ada pula istilah-istilah dan cara pengungkapan yang dibentuk oleh Al-Qur'an sendiri. Pemahaman yang jelas tentang hal-hal ini (yang hanya dapat diperoleh setelah membaca Al-Qur'an dengan cermat dalam waktu yang cukup lama) juga merupakan bagian yang harus dimiliki oleh seorang pelajar Al-Qur'an. Selain itu, ia harus mampu menghargai keterpaduan dan kesinambungan dalam Al-Qur'an. Ia harus memahami makna yang dalam dari susunan surah-surah dalam Al-Qur'an saat ini, yang berbeda dengan urutan turunnya surah-surah tersebut. Ia juga harus memahami alur pemikiran antara satu surah dengan surah lainnya, serta di antara ayat-ayat dalam surah yang sama. Ini adalah tugas yang sangat berat, yang bahkan telah menguji kesabaran para ulama yang paling gigih. Namun tugas ini, betapapun berat, harus diselesaikan, dan selama belum diselesaikan, persoalan memahami Al-Qur'an tidak akan timbul. Bahkan, hanya ketika seseorang menyelami Al-Qur'an untuk memahami urutan yang halus di antara bagian-bagiannya, barulah ia dapat membentuk gambaran tentang kedalaman yang tak terukur dari lautan tak bertepi ini, dan mengeluarkan darinya mutiara-mutiara terbaik dari ilmu dan hikmah.
Imam Ghazali (RA) in his Ihya-ul-Uloom has quoted the words of a divine which bring out the difference between the ordinary recitation of the Qur'an for tazakkur and its thoughtful study for tadabbur. He says: "There is a recitation which takes me a week to finish the Qur'an. There is another kind of recitation that takes me a month, and yet another that takes me a year to finish it. There is still another kind of recitation which I commenced thirty years ago but which has not yet enabled me to complete its reading." The qualifications for a deliberative study of the Qur'an are extremely hard to acquire. It is not possible for a man to attain these qualifications unless he devotes himself to it wholly and solely and makes the learning and teaching of the Qur'an the be-all and end-all of his life. For such a study, he requires a thorough knowledge of the Arabic language and its grammar and a refined literary taste to appreciate the beauty, force, and eloquence of expression. He must also acquire a good grounding in the language in which the Qur'an was revealed by a critical study of the works of the pre-Islamic poets and orators. Then there are the terms and modes of expression evolved by the Qur'an itself. A clear understanding of these (which will be possible only after a careful study of the Qur'an for a pretty long time) is also a necessary part of the mental equipment of a student of the Qur'an. Moreover, he should be able to appreciate the coordination and coherence in the Qur'an. He must grasp the deep significance of the present order of the Surahs in the Qur'an, which is different from the chronological order in which they were revealed. He must also comprehend the sequence of thought between one Surah and the other, as well as among the ayaat of the same Surah. This is an extremely arduous task that has defied the patience of even the most determined scholars. But this task, however arduous, has to be accomplished and unless it is accomplished, the question of comprehending the Qur'an will not arise. In fact, it is only when one is diving into the Qur'an for grasping the subtle sequence ampng its parts that one forms an idea of the unfathomable depths of this boundless sea, and brings out from it the finest pearls of knowledge and wisdom.
Selain cabang-cabang ilmu yang disebutkan di atas, pengetahuan yang baik tentang hadis dan kitab-kitab suci terdahulu juga diperlukan untuk memahami Al-Qur'an. Semua ini berkaitan dengan latar belakang ilmu klasik yang seharusnya dimiliki oleh seorang peneliti Al-Qur'an.
Besides the branches of learning referred to above, a good knowledge of ahadith and old Scriptures is also necessary for the comprehension of the Qur'an. All this is with regard to the background of classical knowledge which should be possessed by a research scholar of the Qur'an.
Namun, ini pun belum semuanya. Ia belum sepenuhnya siap untuk menunaikan kajian yang mendalam dan penuh renungan terhadap Al-Qur'an, yakni jenis kajian yang diperlukan untuk tadabbur. Ia masih harus memperhitungkan ilmu-ilmu modern. Kita tahu bahwa ilmu-ilmu eksperimental dan teoretis tidak statis. Tingkat kemajuannya berbeda-beda di setiap zaman. Seorang ulama yang hendak memikul tugas besar memahami Al-Qur'an hendaknya memiliki pemahaman tentang ilmu-ilmu modern, baik ilmu fisika, biologi, maupun sosial. Ia hendaknya sangat menguasai hipotesis dasar dari berbagai ilmu serta metode deduksi dan inferensi yang digunakan masing-masing ilmu. Ia juga hendaknya terus mengikuti perkembangan dan pencapaian terbaru di setiap bidang penting dari upaya keilmuan manusia. Pengetahuan tentang seni dan ilmu modern ini sangat penting baginya, karena akan memperluas wawasan berpikirnya dan meningkatkan kapasitas intelektualnya.
Even this, however, is not all. He is not yet fully equipped to do justice to a deep and thoughtful study of the Qur'an, the type of study required for fadabbur. He has still to reckon with modern sciences. We know that experimental and theoretical sciences are not static. Their level of advancement has been different in different ages. A scholar who wants to undertake the momentous task of comprehending the Qur'an should have an understanding of modern sciences - physical, biological, and social. He should be particularly conversant with the basic hypotheses of different sciences and with the method of deduction and inference employed by each. He should also keep himself in touch with the latest trends and achievements in every important field of human inquiry. This knowledge of modern arts and sciences is essential for him, as it will widen his mental outlook and increase his intellectual capacity.
Dengan bekal demikian, ia akan memulai usaha besarnya. Al-Qur'an adalah samudra tanpa batas, di mana setiap pelayar hanya dapat berlayar sejauh yang mampu dijangkau oleh kapasitas terbatasnya; dan penemuan-penemuan berguna apa yang akan ia peroleh dalam pelayarannya bergantung pada bimbingan yang ia terima dari luasnya ilmunya dan lebarnya wawasannya.
Thus equipped, he will embark upon his great enterprise. The Qur'an is a boundless ocean on which every sailor can sail only as far as his limited capacity can take him; and what useful discoveries he will make on his voyage will depend on the guidance he receives from the range of his knowledge and the breadth of his vision.
Khususnya untuk penyebaran ajaran Al-Qur'an dan penyampaian pesannya di dunia masa kini (yang juga merupakan kewajiban setiap Muslim), diperlukan agar seseorang dibekali sepenuhnya dengan ilmu pengetahuan modern; jika tidak, ia tidak akan mampu menunaikan kewajiban ini. Setiap generasi mewarisi sejumlah besar ilmu dari para pendahulunya dan menyampaikannya kepada generasi berikutnya dengan menambahkan kontribusinya sendiri padanya.
Particularly for the dissemination of the teaching of the Qur'an and the propagation of its message in the present day world (which is also a duty incumbent upon every Muslim), it is necessary that one should be fully equipped with modern knowledge, otherwise he will not be able to discharge this duty. Each generation inherits a large amount of knowledge from its predecessors and transmits it on to the succeeding generation with its own contribution added to it.
Demikianlah pengetahuan terus terakumulasi seiring perpindahannya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Generasi masa kini telah menerima, melalui proses transmisi ini, khazanah pengetahuan yang sangat besar, yang terdiri dari logika dan filsafat, agama dan metafisika, etika dan psikologi, serta ilmu-ilmu sosial lainnya. Timbunan pengetahuan masa kini yang sangat besar ini telah menguasai dan memukau pikiran manusia, sehingga akibatnya mereka mengembangkan keyakinan yang polos terhadap banyak pandangan yang keliru.
Thus knowledge goes on accumulating as it passes from one generation to another. The present generation has received, by this process of transmission, a stupendous stock of knowledge consisting of logic and philosophy, religion and metaphysics, ethics and psychology as well as other social sciences. This huge amount of current knowledge has dominated and dazzled the minds of the people who had, consequently, developed a nai've belief in many wrong views.
Seseorang membutuhkan pengetahuan yang cukup baik tentang ilmu-ilmu modern dan harus memahami tidak hanya materi pokok dari ilmu-ilmu tersebut, tetapi juga sumber-sumber asalnya dan sistem prinsip yang mendasarinya. Hanya dengan demikian ia akan mampu memberikan pukulan telak, sebagaimana yang dilakukan Ibnu Taimiyyah (RA) dan Imam Ghazali (RA), terhadap akar dari pandangan-pandangan keliru yang berkembang pada masanya. Dalam hal ini, zaman sekarang telah mencapai puncak tertinggi. Selain kemajuan luar biasa di bidang ilmu-ilmu sosial, zaman ini juga menyaksikan kemajuan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada ilmu-ilmu fisika dan teknologi, yang telah membuat umat manusia tercengang dan tidak mampu melakukan penilaian kritis terhadap pandangan-pandangan menyesatkan yang telah meluas di dunia modern.
One requires a fairly good knowledge of modern sciences and should be conversant with not only the subject-matter of these sciences but also with their original sources and the system of principles underlying them. Only then he will be able to deal a crushing blow, in the manner of Ibn Taimiyyah (RA) and Imam Ghazali (RA), at the very root of the false notions prevailing in his time. In this respect, the present age has touched the highest watermark. Besides the remarkable progress in the field of social sciences, it has witnessed as unprecedented advancement of the physical sciences and technology which has stunned the humanity and has rendered it incapable of making critical appraisal of the misguiding views that have found currency in the modern world.
Dalam keadaan seperti ini, kewajiban mendesak untuk memahami dan menafsirkan Al-Qur'an tidak dapat terpenuhi kecuali jika orang-orang yang sabar dan tekun mencurahkan diri pada tugas yang agung ini dengan dedikasi yang tulus, dengan membekali diri mereka dengan ilmu klasik maupun ilmu modern yang memadai untuk tugas tersebut. Para ulama Al-Qur'an yang berdedikasi dan benar-benar terbekali ini akan melakukan analisis yang cermat terhadap ilmu modern dan memisahkan yang benar dari yang keliru dengan cahaya Al-Qur'an. Mereka akan mendekati cara berpikir manusia modern, dengan menggunakan istilah-istilah modern dan metode penalaran logis yang canggih secara bijaksana. Dengan demikian mereka mampu menerangi pikiran orang-orezaman mereka dengan cahaya petunjuk Al-Qur'an. Dengan cara ini, tugas "menjelaskan Al-Qur'an kepada manusia" yang dilaksanakan oleh Nabi Muhammad ﷺ sendiri semasa hidupnya, akan dilaksanakan oleh umatnya pada zaman sekarang.
Under these circumstances, the imperative duty of comprehending and interpreting the Qur'an cannot be fulfilled IJ~~~SsoSm e patient and persevering men address themselves to this momentous task with single-minded devotion, equipping themselves with both classical and modern knowledge adequate for the task. These dedicated and fully equipped scholars of the Qur'an would carry out a searching analysis of the modern knowledge and sift the sound from the fallacious in the light of the Qur'an. They would approach the intellect of the modern man, making a judicious use of modem terminology and sophisticated methods of logical reasoning. Thus they would be able to illumine the minds of their contemporaries with the light of Qur'anic guidance. In this way the duty of "explaining the Qur'an to the people which was performed by the Holy Prophet (SAW) himself in his life time would be performed by his Ummah in the present age.
Sekarang timbul pertanyaan: Bagaimana kita dapat melahirkan para ulama semacam itu? Jelas mereka tidak dapat dilahirkan sebelum kita memiliki, di seluruh dunia Islam, jaringan universitas yang memusatkan perhatian pada kajian Al-Qur'an, menjadikannya sebagai poros dan pusat aktivitas intelektual mereka. Di sekeliling departemen pusat ini, universitas-universitas tersebut hendaknya membangun departemen-departemen lain, seperti departemen ilmu-ilmu teoretis seperti logika, metafisika, etika, psikologi, dan agama; departemen ilmu-ilmu sosial seperti ekonomi, ilmu politik, dan hukum; serta departemen ilmu-ilmu fisik seperti matematika, kimia, fisika, geologi, dan astronomi. Setiap mahasiswa yang bergabung dengan universitas semacam itu hendaknya mengambil Studi Al-Qur'an sebagai mata kuliah wajib dan mempelajari satu atau lebih disiplin sebagai mata kuliah pilihan sesuai dengan minat dan bakatnya sendiri. Dengan demikian ia akan mampu melakukan penelitian tentang Al-Qur'an dalam bidang studinya sendiri dan menyampaikan cahaya serta petunjuk Al-Qur'an secara efektif kepada masyarakat.
Now the question arises: How can we produce such scholars? Obviously they cannot be produced until we have, all over the Muslim world, a network of universities which concentrate on Qur'anic research, making it the hub and center of their intellectual activity. Round this central department, these universities should build up other departments like the department of theoretical sciences such as logic, metaphysics, ethics, psychology, and religion; the department of social sciences such as economics, political science, and law; and the department of physical sciences such as mathematics, chemistry, physics, geology, and astronomy. Every student who joins such a university should take up Qur'anic Studies as a compulsory subject and should study one or more of the disciplines as elective subjects according to his own taste and aptitude. Thus he will be able to carry out research on the Qur'an in the sphere of his own study and present the light and guidance of the Qur'an effectively to the people.
Ini bukanlah tugas yang mudah. Karena itu, ia bukan tanggung jawab setiap orang. Tugas ini hanya dibebankan kepada mereka yang dilahirkan dengan dahaga akan ilmu yang tak terpadamkan, dan yang pikirannya terusik oleh persoalan-persoalan keras kepala yang hanya dapat dipecahkan melalui pemikiran dan penalaran yang panjang. Orang-orang seperti itu terdorong untuk menyerap ilmu sebagaimana orang yang kelaparan terdorong mencari makanan dan minuman, dan mereka terus melangkah sambil senantiasa memanjatkan doa: "Ya Tuhanku! Tambahkanlah kepadaku ilmu." Apabila mereka beruntung mendapatkan bimbingan yang tepat, mereka memperoleh bagian yang besar dari ilmu dan hikmah. Memahami dan menafsirkan Al-Qur'an pada hakikatnya adalah keistimewaan orang-orang seperti ini. Namun, setiap penuntut ilmu dapat turut serta dalam tugas mulia ini sesuai dengan kemampuannya dan waktu yang dapat ia curahkan untuk tugas tersebut. Untuk memberikan dorongan kepada orang-orang agar mempelajari Al-Qur'an, Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda:
Obviously, this is not an easy task. That is why it is not the responsibility of every person. It is to be done by only those persons who are born with an unquenchable thirst for knowledge and whose minds are agitated by obstinate problems which can only be solved through prolonged thinking and reasoning. Such men are impelled to imbibe learning as a, starving person is compelled to seek food and drink, and they march on, constantly uttering the prayer: "My Lord! Advance me in knowledge." If they happen to receive proper guidance, they get a goodly share of knowledge and wisdom. Comprehension and interpretation of the Qur'an is, in reality, the privilege of these persons. However, every seeker of knowledge can participate in this noble task according to his ability and the time he can devote to the task. In order to provide an inducement to people for the study of the Qur'an, the Holy Prophet (SAW) has said:
Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya (kepada orang lain). (Diriwayatkan oleh Bukhari)
The best among you are those who learn the Qur'an and teach it (to others). (Narrated by Bukhari)
dan, dalam konteks yang sama, terdapat perintah umum dalam Al-Qur'an:
and, in the same context, we have a general instruction in the Qur'an:
Mengapa tidak ada sebagian dari setiap golongan di antara mereka yang pergi untuk memperdalam pemahaman agama mereka?... (At-Taubah 9:122)
... why did not some people from every habitation leave their homes so that they could develop an understanding of religion. .. . (Al-Taubah 9:122)
Pemahaman terhadap agama ini adalah buah dari kajian yang mendalam dan penuh perenungan terhadap Al-Qur'an. Pemahaman inilah yang ingin ditanamkan oleh Nabi Muhammad ﷺ kepada para Sahabatnya (RA). Beliau secara khusus mendoakan sebagian dari mereka agar dianugerahi wawasan yang tajam dalam agama. Beliau juga memberi syarat pada sabdanya, "Orang-orang terbaik di masa Jahiliyyah adalah orang-orang terbaik di dalam Islam," dengan tambahan "apabila mereka memahami agama."
This understanding of religion is the fruit of a deep and meditative study of Qur'an. It is this understanding which the Holy Prophet (SAW) wanted his Companions (RAA) to develop. He especially prayed for some of them that they might be granted a keen insight into religion. He also qualified his observation that "The best of you in Jahiliyyah are the best of you in IslamH with "provided they understand the religion."
6 Dalam sebuah riwayat panjang yang diriwayatkan dari Sayyidina Ali (RA), terdapat sabda Nabi ﷺ tentang Al-Qur'an: "Para ulama tidak akan pernah merasa puas dengan mempelajari Al-Qur'an, dan daya tariknya tidak akan berkurang karena dibaca berulang kali, serta keajaibannya tidak akan pernah habis (yaitu, mempelajarinya akan terus menghasilkan buah ilmu dan hikmah yang baru)." Diriwayatkan oleh Tirmidzi (RA) dan Darimi (RA).
6 In a long tradition narrated by Sayyidena Ali (RAA), we have the follow~ng remark of the Holy Prophet (SAW) about the Qur'an: "The scholars shall never be satiated with the study of the Qur'an, nor will its appeal ever diminish on account of repeated readings, nor will its marvels be ever exhausted (i.e.. ,its study will ever continue to yield fresh fruits of knowledge and wisdom)." Reported by Tirmidhi (RA) and Darimi (RA).
7 Tiga kata pertama adalah sinonim yang kurang lebih berarti "pemahaman", dan kata terakhir berarti "perenungan".
7 The first three words are approximate synonyms meaning "understanding," and the last one means 'reflection.
8 Kata-kata ini berasal dari akar kata yang sama dengan makna yang sedikit berbeda. Padanan bahasa Inggrisnya adalah "remembrance", "warning" dan "admonition".
8 These are words from the same root with slightly different meanings. Their English equivalents are "remembrance," 'warning" and 'admonition.
9 Al-Qur'an menyebut ayat-ayatnya dengan istilah ayaat, yakni tanda-tanda (kebesaran) Allah. Ayat-ayat ini dipandang sebagai tanda-tanda Allah (SWT) - sama pentingnya dengan tanda-tanda-Nya yang lain, baik di alam semesta maupun di dalam hati setiap manusia. Hal itu karena ayat-ayat Al-Qur'an adalah kalam Allah, dan juga karena, seperti tanda-tanda Allah (SWT) yang lain, ayat-ayat tersebut mengarahkan pikiran manusia kepada Yang Maha Kuasa.
9 The Qur'an calls its verses ayaat, i.e., signs (of Allah). These verses are 'considered signs of Allah (SVVT) - as important as any other of His signs in the universe or in the heart of the human individual. It is because the Qur'anic verses are kalam Allah and also because, like other signs of Allah (SWT), they too turn man's mind to the Almighty.
10 Secara harfiah, kata ini berarti "mengingat; mengenang kembali." Dalam pengertian Qur'ani, istilah ini berarti "mengingat kembali kebenaran-kebenaran yang terlupakan."
10 Literally the word means "to remember; to recall." In the Qur'anic sense of the term it means "to recall forgotten Truths.
11 Kata ini secara harfiah berarti "perenungan" atau "pertimbangan", namun ia digunakan sebagai istilah Qur'ani dengan makna khusus yang telah dijelaskan dalam pembahasan berikut.