Tableegh Wa Tabyeen
Tableegh Wa Tabyeen
(Penyebaran Pesan Al-Qur'an dan Penjelasannya)
(Propagation of the Qur'anic message and its exposition)
Selain empat kewajiban kita terhadap Al-Qur'an, yaitu meyakini bahwa ia adalah Kitab Allah (SWT), membacanya, memahaminya, dan mengamalkan ajarannya, ada kewajiban lain yang dipikul oleh setiap Muslim dan harus ia tunaikan sesuai dengan kekuatan dan kemampuannya, yaitu menyampaikan ajarannya kepada orang lain.
Besides the four duties that we owe to the Qur'an, i.e, believing it to be the Book of Allah (SWT), reading it, understanding it, and acting upon its teachings, another duty which rests upm every Muslim and which he must discharge according to his strength and ability, is that he must communicate its teachings to others.
Untuk "menyampaikan pesan Al-Qur'an kepada manusia," istilah yang tepat dan mencakup adalah tabligh. Mengajarkan Al-Qur'an kepada orang lain juga merupakan bentuk tabligh. Demikian pula, menjelaskan makna-makna Al-Qur'an kepada manusia adalah tabligh pada tingkat yang lebih tinggi.
For "communicating the message of the Qur'an to the people," the appropriate and comprehensive terms is tableegh. Teaching the Qur'an to others is also a form of tableegh. Similarly, explaining the meanings of the Qur'an to the people is tableegh at a higher plane.
Untuk memahami pentingnya kewajiban ini yang kita emban terhadap Al-Qur'an, mari kita renungkan tujuan diturunkannya Kitab yang Mulia ini. Hal ini telah dinyatakan oleh Al-Qur'an sendiri dengan kata-kata berikut:
In order to understand the importance of this duty that we owe to the Qur'an, let us consider the purpose for which the Holy Book was revealed. It has been stated by the Qur'an 'itself in the following words:
Ini (Al-Qur'an) adalah sebuah pesan bagi manusia, agar mereka diberi peringatan dengannya ... (Ibrahim 1452)
This (Qur'an) is a message to the people, in order that they may be warned thereby .... (Ibrahim 1452)
Lagi, ayat ke-19 dari Surah Al-An'am secara tegas menyatakan tujuan pokok diturunkannya Al-Qur'an kepada Nabi (SAW).
Again, it declares the basic objective of its.being revealed to the Holy Prophet (SAW) in ayah 19 of Surah Al-An'am:
Katakanlah (wahai Muhammad ﷺ!): "...dan Al-Qur'an ini diwahyukan kepadaku agar dengannya aku memberi peringatan kepada kamu dan kepada siapa pun yang sampai kepadanya..." (Al-An'am 6:19)
Say (0 Muhammad!): "...and this Qur'an has been revealed to me that I may warn you therewith and whomsoever it may reach.. . ." (Al-An'am 6:19)
Al-Qur'an juga menegaskan dengan kata-kata yang jelas bahwa kewajiban utama Nabi Suci ﷺ adalah menyampaikan pesan Al-Qur'an kepada umat manusia dengan penuh kesetiaan, dan bahwa kelalaian sekecil apa pun dalam menunaikan kewajiban ini merupakan kelalaian serius terhadap misi kenabiannya.
The Qur'an also announces in clear-cut words that it was the foremost duty of the Holy Prophet (SAW) to communicate the message of the Qur'an to mankind with utmost faithfulness, and that the slightest negligence in the fulfillment of this duty would be! a serious dereliction of his prophetic mission.
Oleh karena itu, perintah yang tegas dalam Surah Al-Ma'idah:
Hence the peremptory command in Surah Al-Ma'idah:
Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika tidak, maka engkau tidak menyampaikan risalah-Nya ... . (Al-Ma'idah 5:67)
0 Messenger! Proclaim that which has been sent down to you from your Lord. If you do not, then you have not conveyed His message ... . (Al-Ma'idah 5:67)
Dalam ketaatan yang sempurna terhadap perintah ini, Nabi Suci ﷺ, sejak saat beliau menerima wahyu pertama hingga detik terakhir kehidupan duniawinya, selama penuh 23
In perfect obedience to this command, the Holy Prophet (SAW), right from the moment he received the first revelation to the last minute 6f his earthly life, for full 23
...tahun, menanggung berbagai kesulitan yang tak terhitung dan berjuang tanpa henti untuk menunaikan amanah besar yang dipercayakan kepadanya. Meskipun perjuangan panjang dan heroik ini melalui banyak fase dan ia harus memainkan peran yang berbeda demi terlaksananya misinya, Al-Qur'an tetap menjadi titik poros dari seluruh aktivitasnya. Ia senantiasa sibuk membacakan Al-Qur'an, menjelaskan maknanya, dan menyampaikan pesannya kepada manusia, sehingga mencerahkan pikiran mereka dan menyucikan jiwa mereka. Al-Qur'an menggambarkan metodologi dasar Nabi ﷺ melalui empat istilah yang sangat penting, yaitu: pembacaan ayat-ayat Ilahi, penyucian jiwa, pengajaran tentang hukum, dan penanaman hikmah. Istilah-istilah ini muncul di empat tempat berbeda dalam Al-Qur'an:
years, bore untold hardships and waged a ceaseless struggle to fulfill the momentous duty entrusted to him. Although this long and heroic struggle passed through many phases and he had to play different roles for the fulfillment of his mission, still the Qur'an was, all along, the pivotal point of all his activities. He was constantly occupied with reciting the Qur'an, explaining its meanings and communicating its message to the people, thereby enlightening their minds and purifying their souls. The Qur'an describes the basic methodology of the Holy Prophet (SAW) by means of four highly significant terms, which are: recitation of Divine ayaat, purification of souls, instructions regarding the law, and inculcation of wisdom. These terms appear at four different places in the Qur'an:
... beliau ﷺ membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan hikmah ... (Ali 'Imran 3:164 & Al-Jumu'ah 62:2)
... he (the Messenger) recites to them His ayaat, purifies them, and instructs them in law and wisdom .... (Aal lmran 3:164 & Al-Jumu'ah 62:2)
Jelas, kata-kata ini menunjukkan teknik yang sama seperti yang telah kami sampaikan pada halaman-halaman sebelumnya ketika menjelaskan metode yang benar untuk mewujudkan Revolusi Islam dalam masyarakat kita. Singkatnya, dengan menempuh metode ini dengan keberanian dan ketekunan yang luar biasa selama 23 tahun, Nabi Muhammad ﷺ menunaikan tugasnya dengan sangat baik dan menyampaikan Pesan Allah kepada umat manusia. Beliau juga memohon kerja sama para Sahabat beliau yang setia (RA) untuk menyempurnakan misinya, dengan menasihati mereka agar:
Obviously, these words indicate the same technique as we have suggested in the foregoing pages while explaining the right method of bringing about the Islamic Revolution in our society. In short, pursuing this method with extraordinary courage and perseverance for 23 years, the Holy Prophet (SAW) acquitted himself admirably and communicated Allah's Message to mankind. He also sought the cooperation of his devoted Companions (RAA) for the completion of his mission, exhorting them to:
Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat. (Diriwayatkan oleh Bukhari)
Convey from me to the people even if it be a single ayah. (Narrated by Bukhari)
Setelah menunaikan misi-Nya, Nabi Muhammad ﷺ menyerahkan tanggung jawab untuk menyebarkan risalah Al-Qur'an di masa mendatang kepada umatnya. Setelah beberapa kali memperoleh kesaksian dari manusia bahwa beliau memang telah berhasil menyampaikan Pesan Allah kepada mereka, Nabi ﷺ, dalam khotbah bersejarahnya di hadapan kumpulan 125 ribu Sahabat (RA) pada kesempatan haji terakhir, memberikan instruksi yang berlaku selamanya:
Having accomplished his mission, the Holy Prophet (SAW) transferred the responsibility of propagating the message of the Qur'an in the future to his Ummah. Having obtained more than once the testimony of the people to the effect that he had, indeed, successfully conveyed Allah's Message to them, the Prophet (SAW), in his historic address to a gathering of 125 thousand Companions (RAA) on the occasion of the last pilgrimage, issued the abiding instructions:
Hendaklah orang yang hadir menyampaikan (pesan Allah) kepada yang tidak hadir. (Diriwayatkan oleh Bukhari)
Those who are present should convey (Allah's Message) to those who are not. (Narrated by Bukhari)
Dengan demikian, kewajiban menyebarkan pesan Al-Qur'an ke setiap sudut dunia dipikulkan kepada pundak umat ini untuk selama-lamanya, dan umat secara keseluruhan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah (SWT) atas tugas berat ini. Karena umat terdiri dari individu-individu, setiap individu bertanggung jawab atas pelaksanaan kewajiban ini: para ulama sesuai dengan ilmu dan kemampuan mereka, dan orang awam sesuai dengan sarana dan kesanggupan mereka.
Thus the duty of spreading the message of the Qur'an to every nook and corner of the world was devolved on the shoulders of the Ummah for all time to come, and the Ummah as a whole shall be answerable to the Almighty (SWT) with regard to this arduous duty. As the Ummah consists of the individuals, every individual is responsible for the discharge of this duty: men of learning according to their knowledge and ability and common people according to their means and capability.
Sabda Nabi ﷺ "Sampaikanlah dariku kepada manusia walaupun hanya satu ayat" membuktikan tanpa keraguan sedikit pun bahwa tidak ada seorang pun yang dibebaskan dari kewajiban ini. Jika seseorang hanya bisa membaca teks Arab Al-Qur'an, hendaklah ia mengajarkan kepada orang lain untuk membacanya; orang yang telah menghafal seluruh Al-Qur'an hendaklah membantu orang lain dalam menghafalnya; orang yang bisa menerjemahkan teksnya hendaklah melakukannya untuk orang lain; dan orang yang bisa memahami maknanya hendaklah menjelaskan dan menafsirkannya kepada orang lain. Jika seseorang memahami makna satu surah dan menjelaskannya kepada orang lain, dan jika ia hanya mengetahui satu ayat lalu mengajarkannya kepada orang lain, maka ia telah menunaikan kewajiban menyampaikan Al-Qur'an; namun kewajiban kolektif umat dalam hal ini belum terpenuhi kecuali Al-Qur'an, baik teks maupun pesannya, disebarkan di setiap tempat, di seluruh penjuru dunia.
The words of the Holy Prophet (SAW) "Convey from me to the people though it be a single ayah" prove it beyond any shadow of doubt that no individual is exempt from this duty. If a person can only read the Arabic text of the Qur'an, he should teach others to do so; one who has memorized the whole Qur'an should help others in memorizing it; one who can translate the text, should do so' for others; and one who can comprehend its meaning should explain and interpret it to others. If a person understands the meaning of a single Surah and explains the same to others, and if he knows only a single ayah and teaches it to others, he will be discharging the duty of communicating the Qur'an; but the collective duty of the Ummah in this connection will not be fulfilled unless the Qur'an, both its text and its message, is propagated everywhere, throughout the length and breadth of the world.
Sayangnya, dalam kondisi sekarang, proklamasi universal atas Pesan Allah ini, yang diharapkan dari Ummah Muslim, tampaknya masih jauh atau merupakan cita-cita yang sulit dicapai, karena keadaan telah sampai pada titik di mana Ummah yang dibebani tugas agung dan mulia ini justru telah menjadi tidak mengenal Al-Qur'an. Dewasa ini, Ummah Muslim sendiri perlu diajari Kitab Allah (SW) yang praktis telah mereka tinggalkan. Oleh karena itu, yang sangat mendesak dalam situasi sekarang ini adalah diluncurkannya gerakan untuk belajar dan mengajarkan Al-Qur'an di kalangan kaum Muslimin sendiri, agar mereka dapat mengembangkan sikap baru berupa pengabdian dan minat terhadap kajian Al-Qur'an. Semoga Allah (SWT) memberi kita kekuatan untuk melaksanakan tugas ini. Aamiin! Sebagaimana telah disebutkan pada awal pembahasan ini, bentuk tablîgh (penyampaian) yang lebih tinggi adalah tabyîn (penjelasan). Pesan Al-Qur'an tidak hanya harus disampaikan, tetapi maknanya juga harus dijelaskan dan ditafsirkan kepada manusia. Dalam terminologi Qur'ani, hal ini disebut tabyîn. Karena itu, tablîgh dan tabyîn muncul bersama dalam judul bagian ini. Akan terlihat bahwa penjelasan Al-Qur'an menuntut orang yang mengemban tugas ini untuk berbicara kepada audiensnya sesuai dengan tingkat pemahaman mereka, sehingga kebenaran-kebenaran Al-Qur'an dapat sampai dan dipahami oleh mereka; dan kedua, menjelaskan kepada mereka implikasi serta argumen dari berbagai ayat dan surah.
Unfortunately, under the present conditions, this universal proclamation of Allah's Message, which is expected of the Muslim Ummah, seems to be a far cry or an unattainable ideal, because things have come to such a pass that the Ummah to whom this great and honorific duty was assigned has itself grown ignorant of the Qur'an. Today, the Muslim Ummah itself needs to be instructed in the Book of Allah (SW) which it has practically forsaken. Hence what is urgently required under the present situation is that a movement for learning and teaching the Qur'an should be launched among the Muslims themselves so that they may develop a fresh attitude of devotion to, and interest in the study of the Qur'an. May Allah (SWT) grant us the strength to carry out this task. Ameen! As it has been pointed out in the beginning of this discussion, a higher form of tableegh (communication) is tabyeen (exposition). The message of the Qur'an is not only to be communicated but its meanings are also to be explained and interpreted to the people. In Qur'anic terminology, this has been called tabyeen. Hence tableegh and tabypen appear together in the title of this section. It will be seen that the exposition gf the Qur'an demands that one who undertakes this task should talk to his audience at their own level so that the truths of the Qur'an are brought home to them and, secondly, explain to them the implications and arguments of different ayaat and Surahs.
Perlu dicatat bahwa Al-Qur'an menyebut dirinya sebagai *Bayan* (penjelasan yang gamblang).
It will be noted that the Qur'an calls itself Bayan (a plain statement).
Ini adalah penjelasan yang nyata bagi seluruh manusia, sebuah petunjuk dan pengajaran bagi mereka yang bertakwa kepada Tuhan.
This is a plain statement to mankind, a guidance and instruction to those who are God-conscious.
(Āli ʿImrān 3:138)
(Aal lmran 3:138)
Al-Qur'an sering kali menyifati dirinya sebagai mubeen (jelas), dan ayat-ayatnya disebut bayyinat dan mubayyinat (tanda-tanda atau penjelasan yang nyata). Al-Qur'an juga menegaskan bahwa menjelaskan dan menafsirkan Kitab-kitab Ilahi merupakan tanggung jawab para nabi dan para pengikut mereka, yang kepadanya kitab-kitab tersebut diwahyukan.
The Qur'an frequently characterizes itself as mubeen (clear), and its ayaat as bayyinat and mubayyinat (clear signs or manifestations). It also points out that to explain and interpret the Divine Scriptures is the responsibility of the prophets and their followers to whom these are vouchsafed.
Nabi Muhammad ﷺ ditujukan dalam hal ini dengan kata-kata berikut:
The Holy Prophet Muhammad (SAW) is addressed on this point in the following words:
Dan Kami turunkan kepadamu (wahai Muhammad!) Adz-Dzikr, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan agar mereka memikirkan.
... and We sent down unto you (0 Muhammad!) the Reminder, that you may explain clearly to mankind what is sent down to them, and that they may give thought. (Al-Nahl 16:44)
Telah disebutkan tentang orang-orang Yahudi dan Nasrani bahwa mereka terikat oleh perjanjian untuk menjelaskan Kitab Allah (SWT).
It has, been stated about the Jews and Christians that they were bound by a covenant to explain the Book of Allah (SWT)
untuk umat manusia:
to mankind:
Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian dari orang-orang yang diberi Kitab, (yaitu) hendaklah mereka menerangkannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya... (QS. Ali 'Imran 3:187)
And (remember) when Allah took a covenant from the People of the Book to make it (i.e., the Revelation) known and clear to mankind, and not to hide it.. . . (Aal lmran 3:187)
Ketika mereka tidak memenuhi perjanjian ini dan sebaliknya berusaha menyembunyikan kebenaran, mereka pun terkutuk:
When they did not fulfill this covenant and, on the contrary, tried to conceal the truth, they were accursed:
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk yang telah Kami turunkan, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Kitab, mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh semua yang melaknat. (Al-Baqarah 2: 159)
Verily, those who conceal the clear signs We have sent down, and the guidance after We have made it clear for the people in the Book, on them shall be Allah's Curse and the curse of those entitled to curse. (Al-Baqarah 2: 1 59)
Perlu dicatat bahwa tabyin memiliki beberapa bentuk. Bentuk yang paling sederhana ialah menjelaskan makna-makna zahir Al-Qur'an dengan cara yang mudah dan lugas, dalam bahasa yang umum digunakan oleh masyarakat. Tentu saja, media yang digunakan untuk menjelaskan Al-Qur'an kepada masyarakat harus berupa bahasa mereka sendiri. {Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, agar ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka ....} (Ibrahim 14:4)
It may be noted that tabyeen has different forms. Its simplest form consists in expressing the plain meanings of the Qur'an in an easy, straightforward manner in the common language of the people. Naturally, the medium to be used for explaining the Qur'an to the people has to be their own language And We sent not a messenger except (to teach) in the language of his own people, in order to make things clear to them .... (Ibrahim 14:4)
Tabyin dalam bentuk tertingginya merupakan tugas yang penuh tantangan. Orang yang bertekad menunaikan kewajibannya untuk menjelaskan Al-Qur'an dalam pengertian istilah ini tidak hanya menerjemahkan teksnya, tetapi ia akan berusaha menyingkap ilmu dan hikmah yang terkandung dalam Kitab yang agung ini, serta mengungkap makna-makna tersirat dan signifikansi halus dari ayat-ayat dan surat-suratnya. Ia akan menjelaskan metode penalaran dan penarikan kesimpulan yang digunakan Al-Qur'an, dan dengan bantuan argumen-argumen Qur'ani, ia akan membantah secara efektif anggapan-anggapan keliru dan pandangan-pandangan yang menyesatkan yang beredar di tengah masyarakat. Ia akan berupaya menegakkan kebenaran Al-Qur'an dan ajaran-ajarannya, dengan bernalar secara meyakinkan pada tingkat pemikiran tertinggi yang dapat dijangkau masyarakat pada suatu zaman tertentu sesuai dengan kemajuan intelektual mereka.
Tabyeen in its highest form is rather a job with a challenge. One who resolves upon fulfilling his duty of explaining the Qur'an in this sense of the term will not merely translate its text, but he will try to unfold the knowledge and wisdom contained in this great Book and bring out the implied meanings and subtle significance of its ayaat and Surahs. He will explain the mode of inference and deduction adopted by the Qur'an and repudiate effectively, with the help of Qur'anic arguments, the false notions and misleading views prevalent among the people. He will endeavor to establish the truth of the Qur'an and its teachings, reasoning convincingly at the highest plane of thought .accessible to the people in a particular age according to its intellectual advancement.
Mengenai pertanyaan bagaimana kita dapat menunaikan tanggung jawab untuk menjelaskan Al-Qur'an dan menyampaikan pesannya kepada umat, kita dapat mengatakan bahwa untuk tabyin dalam bentuk yang paling sederhana, kita harus menerbitkan terjemahan dan tafsir Kitab Suci dalam semua bahasa penting di dunia dan menyebarluaskannya secara luas. Adapun kewajiban kita untuk tabyin dalam bentuk yang tertinggi, hal itu tidak dapat ditunaikan dengan baik dan memadai, sebagaimana telah kami sarankan, kecuali kita mendirikan di seluruh dunia Islam sebuah jaringan universitas dan akademi semacam itu yang memusatkan perhatian pada kajian dan penelitian Al-Qur'an, dengan menempatkannya sebagai pusat dalam keseluruhan bidang ilmu mereka. Melalui lembaga-lembaga standar semacam ini, kita akan mampu menjelaskan ajaran Al-Qur'an kepada umat manusia di dunia modern.
Regarding the question as to how can we discharge our responsibility of explaining the Qur'an and bringing its message home to the people, we can say that for tabyeen in its simplest form we should publish translations and commentaries of the Holy Book in all the important languages of the world and circulate them widely. So far as our obligation for tabyeen in its highest form is concerned, it cannot be properly and adequately discharged, as we have already suggested, unless we set up all over the Muslim world a network of such universities and academies as may concentrate on Qur'anic study and research, assigning it the central place in the scheme of their disciplines. Through standard institutions of this type we shall be able to explain the teachings of the Qur'an to the people of the modern world.
18 Secara harfiah berarti "penegakan apa yang telah diturunkan dari Allah", makna sebenarnya dari kesepuluh hal tersebut, sebagaimana telah dijelaskan dalam pembahasan sebelumnya, adalah penerapan nyata prinsip-prinsip dasar Islam dan tata kehidupannya pada tingkat sosial-politik.
18 Literally "establishment of what has been sent from Allah," the true significance of the ten, which has been explained in the preceding discussion, is the actual enforcement of the fundamental principles of Islam and its code of life at the socio-political level.