Kata Pengantar
Foreword
Artikel ini, yang terbit dalam bahasa Urdu dengan judul Musalmanon per Qur'an-e-Majeed kay Huqooq, didasarkan pada dua ceramah yang disampaikan oleh Dr. Israr Ahmad kepada jamaah di Jami'ah Khazra, Samanabad (Lahore) pada dua Jumat berturut-turut di bulan Januari 1968, ketika kaum Muslimin di Pakistan sedang merayakan peringatan 1400 tahun sejak permulaan turunnya Al-Qur'an yang Mulia kepada Nabi Muhammad ﷺ. Selama bulan berikutnya, ceramah dengan topik serupa disampaikan oleh Dr. Israr Ahmad di Ajmal Bagh College, Sadiqabad, Ta'meer-e-Millat High School, Sukkur, dan Government College, Jhang. Naskah ceramah-ceramah tersebut disunting dan diterbitkan dalam majalah bulanan Meesaq pada edisi Mei dan Juni tahun yang sama. Pada November 1969, artikel ini terbit dalam bentuk buklet dengan judul tersebut di atas, dan pada Juli 1972 cetakan keduanya sebanyak sepuluh ribu eksemplar diterbitkan oleh Markazi Anjuman Khuddamul-Qur'an Lahore.
This article, which appeared in Urdu under the title Musalmanon per Qur'an-e-Majeed kay Huqooq, is based on two addresses delivered by Dr. lsrar Ahmad to the Congregations in Jami'ah Khazra, Samanabad (Lahore) on two consecutive Fridays in January 1968, at a time when the Muslims of Pakistan were celebrating the 1400th anniversary of the commencement of the Revelation of the Holy Qur'an to Prophet Muhammad (SAW). During the following month, speeches on similar topics were delivered by Dr. lsrar Ahmad at the Ajmal Bagh College, Sadiqabad, Ta'meer-e- Millat High School, Sukkur, and Government College, Jhang. The text of these addresses and speeches was edited and published in the monthly Meesaq in its May and June issues of the same year. In November 1969, it appeared in the form of a booklet under the title mentioned above, and in July 1972 its second edition of ten thousand copies was published by the Markazi Anjuman Khuddamul- Qur'an Lahore.
Musalmanon per Qur'an-e-Majeed kay Huqooq adalah seruan yang penuh gairah kepada kaum Muslim "untuk kembali kepada Al-Qur'an," untuk memperbarui komitmen mereka dalam mempelajarinya, dan menjadikannya satu-satunya petunjuk bagi kehidupan mereka. Mengingat tujuan mulia di balik buku ini, saya merasa perlu menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris demi manfaat bagi pembaca berbahasa Inggris, serta untuk menjangkau pemikiran masyarakat di luar negeri.
Musalmanon per Qur'an-e-Majeed kay Huqooq is an impassioned call to the Muslims "to return to the Qur'an," to rededicate themselves to its study, and make it the sole guide for their lives. Considering the profound purpose behind the book, I felt that it should be rendered into English for the benefit of our English-reading public as well as for approaching the minds of the people abroad.
Oleh karena itu, saya berniat meminta izin kepada Dr. Israr Sahib untuk menerjemahkan buku ini, ketika suatu hari, dengan rasa senang yang tak terduga, beliau sendiri menyarankan agar saya menerjemahkan Huquq, yang merupakan sebutan singkat dan populer untuk buku ini. Maka terjemahan ini sekarang hadir dengan judul Kewajiban-Kewajiban yang Harus Dipenuhi Umat Islam terhadap Al-Qur'an.
Accordingly, I was thinking of seeking Dr. . lsrar Sahib's permission for the translation of the book when, one day, to my delightful surprise he himself suggested that I should translate the Huquq - that being the brief and popular sobriquet of this book. Hence the translation now appears under the title The Obligations Muslims Owe to the Qur'an.
Terjemahan ini telah diterbitkan dalam bentuk artikel oleh All Pakistan Islamic Education Congress dalam edisi terbaru jurnal mereka, Islamic Education, dengan judul: "Apa yang Dituntut Al-Qur'an dari Para Pengikutnya?" Kini, atas kebaikan dan kerja sama mereka, terjemahan ini hadir kembali dengan judul baru dalam bentuk buklet biasa. Semoga ia bermanfaat dalam mewujudkan tujuan besar yang telah ditetapkan oleh Dr. Israr Ahmad, penulis buku asli, dan yang beliau kejar dengan dedikasi yang penuh keikhlasan. Aamiin.
This translation has already been published in the form of an article by the All Pakistan Islamic Education Congress in a recent issue of their journal Islamic Education under the title: "What Does the Qur'an Demand from its Followers?" and now, through their courtesy and cooperation, it is reappearing under a new title in the form of a regular booklet. I pray that it may prove helpful in the fulfillment of the great purpose which Dr. lsrar Ahmad, the author of the original book, has set before himself and which he is pursuing with a single-minded devotion, Ameen.
Muhammad Ibrahim.
Muhammad lbrahim.
Selama dekade terakhir (yaitu tahun enam puluhan), kompetisi qira'at internasional telah menjadi acara rutin di Dunia Islam. Kompetisi-kompetisi ini, yang diikuti oleh para qari terkenal dari berbagai negara untuk menunjukkan bakat luar biasa mereka dalam membaca Al-Qur'an, telah memenuhi sejumlah tujuan.
During the last decade (i.e., the sixties), international qir'aat competitions have become a regular feature in the Muslim World. These competitions, in which well-known qura' from different countries have been participating to display their remarkable talents for the recitation of the Qur'an, have served a number of purposes.
Khalayak besar yang selama ini mendengarkan dengan penuh takjub lantunan para qari yang termasyhur di dunia selalu tersentuh oleh keindahan melodi, kefasihan, dan keagungan gaya bahasa Al-Qur'an yang unik. Hal itu mungkin untuk sementara waktu memperkuat keyakinan mereka akan asal-usul Al-Qur'an yang bersumber dari Tuhan. Selain itu, lomba-lomba semacam ini telah mempopulerkan tajwid (yaitu seni membaca Al-Qur'an dengan pelafalan yang benar) di Malaysia, Indonesia, dan Pakistan. Anak-anak Muslim di negara-negara tersebut kini dapat membaca Kitab Suci dengan lafal dan intonasi yang jauh lebih baik dibandingkan beberapa tahun lalu.
The large audiences who have been listening spell-bound to the recitations of the world-famous qura' have always been moved by the unique melody, eloquence, and grandeur of the Qur'anic diction. This may have temporarily strengthened their belief in the Divine origin of the Qur'an. Moreover, these competitions have popularized tajweed (i.e., the art of reciting the Qur'an with correct pronunciation) in Malaysia, Indonesia, and Pakistan. The Muslim children in these countries today can recite the Holy Book with much better accent and intonation than they could possibly do a few years ago.
Tanpa bermaksud meremehkan pentingnya membaca Al-Qur'an dengan benar, seseorang mungkin bertanya:
Without intending to minimize the importance of reciting the Qur'an correctly, one might ask the question:
Apakah kompetisi-kompetisi ini telah membantu menjembatani jurang yang menganga antara kita dan Al-Qur'an dewasa ini? Atau, apakah kompetisi-kompetisi tersebut telah membangun hubungan yang nyata antara kita dan Kitab Allah (SWT)? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini adalah: "Tidak." Sayangnya, tujuan besar untuk membangun hubungan yang nyata antara Al-Qur'an dan kita belum tercapai, bahkan oleh berbagai seminar dan simposium keagamaan yang telah diselenggarakan di negara kita maupun di tempat lain selama beberapa tahun terakhir. Para ulama dan cendekiawan yang berpartisipasi dalam diskusi di konferensi dan kolokuium tersebut umumnya hanya membahas topik-topik seperti keagungan Al-Qur'an, keindahan dan keajaibannya, dan sebagainya, namun tidak ada upaya untuk mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan mendasar: Apa kewajiban kita terhadap Al-Qur'an? Dan bagaimana kita dapat menunaikan kewajiban tersebut? Adapun kemuliaan dan keagungan Al-Qur'an, kami meyakini bahwa hal itu tidak terlukiskan dan pemahaman yang memadai atasnya berada di luar jangkauan akal manusia. Hanya Tuhan langit dan bumi, yang Firman-Nya ~t IS, dan Rasul-Nya yang diberkahi ﷺ, kepada siapa Al-Qur'an diturunkan, yang mengetahuinya dengan sempurna. Oleh karena itu, daripada berlancang tangan mencoba menguraikan keistimewaannya yang unik, hal yang paling tepat bagi kita adalah memahami dengan jelas kewajiban dan tanggung jawab kita terhadap Al-Qur'an, lalu melihat apakah kita telah menunaikannya dengan sungguh-sungguh atau belum. Jika kita mendapati bahwa kita belum melakukannya, kita harus benar-benar memikirkan langkah tindakan apa yang harus kita tempuh untuk menunaikannya; lalu menempuh langkah itu tanpa penundaan lebih lanjut, karena keselamatan kita sendiri bergantung pada usaha kita dalam hal ini. Memberikan pujian yang berlebihan kepada Al-Qur'an tidaklah cukup, dan hal itu tidak dapat menggantikan pelaksanaan nyata kewajiban kita terhadap Kitab yang Suci ini.
Have these competitions helped bridge the gulf that yawns between us and the Qur'an today? Or, have they established a real contact between us and the Book of Allah (SVVT)? The answer to these questions is: "No." Unfortunately, the great objective of establishing a real contact between the Qur'an and us has not been achieved even by the different religious seminars and symposia which have been held in our country and elsewhere during the recent years. The savants and scholars who participated in the discussions at these conferences and colloquia have generally dwelt at such topics as the greatness of the Qur'an, its beauties and marvels etc., but no attempt has been made to consider the fundamental questions: What are our obligations towards the Qur'an? And how can we discharge these obligations? So far as the glory and greatness of the Qur'an is concerned, we believe it is indescribable and its adequate comprehension is beyond the reach of human mind. It is best known to the Lord of the heavens and the earth Whose Word ~t IS or to His blessed Messenger (SAW) to whom it was revealed.' Therefore, instead of making a presumptuous attempt at describing its unique merits, the most pertinent thing for us to do is that we should clearly understand our duties and responsibilities towards the Qur'an and then see whether or not we are conscientiously fulfilling these duties and responsibilities. If we find that we are not doing so, we should seriously think about the line of act~on we should adopt for their fulfillment; and then adopt the line without any further delay, because our very salvation depends on our efforts in this direction. Paying pompous compliments to the Qur'an will not be enough and it cannot be a substitute for actually discharging our obligations towards the Holy Book.
Sekarang, apa saja kewajiban-kewajiban ini? Dengan kata lain, apa yang dituntut Al-Qur'an dari kita?
Now what are these obligations? Or, in other words, what does the Qur'an demand of us?
Al-Qur'an membebankan lima tuntutan kepada setiap Muslim. Dengan bahasa yang sederhana, tuntutan-tuntutan tersebut adalah sebagai berikut:
The Qur'an makes five demands of every Muslim. Put in a simple language, these demands are as follows:
Seorang Muslim diwajibkan:
A Muslim is required:
1) beriman kepada Al-Qur'an. 2) membacanya. 3) memahaminya. 4) mengamalkan ajarannya dan. 5) menyampaikan pesan serta ajarannya kepada orang lain.
1) to believe in the Qur'an. 2) to read it. 3) to understand it. 4) to act upon its teachings and. 5) to convey its message and teachings to others.
Penghargaan yang sesungguhnya terhadap kedudukan agung Al-Qur'an berada di luar jangkauan akal dan imajinasi manusia, sedemikian rupa sehingga Al-Qur'an sendiri menggunakan perumpamaan untuk memberi kita gambaran kasar tentang keagungannya. Allah Yang Maha Suci (SWT) berfirman: "Sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, niscaya engkau akan melihatnya tunduk terpecah belah karena takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buatkan untuk manusia agar mereka berpikir." (Al-Hasyr 59:21)
1 The actual appreciation of the exalted status of Holy Qur'an is beyond the reach of human intellect and imagination, so much so that the Qur'an itself uses a similitude to'give us an approximate idea of its own greatness. Almighty Allah (SWT) says: "Had We sent down this Qur'an on a mountain, you would surely have seen it humbling itself and rent asunder by the fear of Allah. Such are the parables wh~ch We put forward to mankind that they may reflect." (Al-Hashr 59.21)
Sekarang kita akan merenungkan tuntutan atau kewajiban-kewajiban ini secara lebih mendalam, disertai penjelasan singkat tentang istilah-istilah yang digunakan dalam Al-Qur'an itu sendiri, agar selain mendapatkan gambaran yang jelas tentang kewajibannya terhadap Al-Qur'an, pembaca juga menjadi akrab dengan terminologi dasar Qur'ani.
We will now ponder over these demands or obligations in some depth, along with a brief explanation of the terms in which they have been expressed in the Qur'an itself, so that besides getting a clear idea of his duties towards the Qur'an, the reader may also become familiar with basic Qur'anic terminology.