Tilawat Wa Tarteel
Tilawat Wa Tarteel
(Membaca Al-Qur'an dengan lambat dan penuh perenungan, dengan pelafalan yang benar)
(Slow, thoughtful reading of the Qur'an with correct pronunciation)
Kata-kata Arab yang setara dengan "reading" (membaca) adalah qira'at dan tilawah. Kedua istilah ini digunakan oleh Al-Qur'an dalam kaitannya dengan pembacaan Al-Qur'an.
he Arabic equivalents for "reading" are qifaat and tilawat. Both these terms have been employed by the Qur'an in connection with the reading of the Qur'an.
Istilah *tilawat* digunakan untuk membaca Kitab Suci dengan segala penghormatan yang layak baginya sebagai kitab suci, dengan pikiran terbuka yang sepenuhnya siap menyerap pengaruhnya, dan dengan keinginan yang kuat untuk membentuk kehidupan kita sesuai dengan ajarannya. Ia adalah istilah yang secara khusus digunakan untuk membaca kitab-kitab samawi. *Qira'at*, sebaliknya, adalah istilah umum yang digunakan untuk membaca kitab jenis apa pun.
The term tilawat is used for reading the Holy Book with all the reverence due to it as a sacred scrip{ure, with an open mind fully disposed to imbibing its influence, and with a keen desire to model our lives upon its teaching. It is a term specifically used for the reading of heavenly books. Qir'aat, however, is a general term used for reading any kind of book.
Perbedaan konotasi kedua kata ini sebagai padanan "membaca" tampak dari makna harfiahnya; sebab tilawat berarti "mengikuti atau berjalan di belakang seseorang," sedangkan qir'aat berarti sekadar "menarik atau menggabungkan hal-hal bersama." Pada mulanya, kata qir'aat digunakan untuk mempelajari Al-Qur'an dan memperoleh ilmunya, dan seorang qari' pada awalnya adalah seorang ulama Al-Qur'an. Seiring berjalannya waktu, the
This difference in the connotation of these two words as equivalents of "reading" is borne out by their literal meanings; for tilawat means "to follow or walk behind some one," while qir'aat means just "to draw or combine things together." In the beginning, the word qir'aat was used for learning the Qur'an and acquiring its knowledge, and a qaan was originally a scholar of the Qur'an. As time passed, the .
Istilah ini secara bertahap tercerabut dari makna asalnya dan kemudian digunakan untuk membaca Al-Qur'an dengan pelafalan dan modulasi yang benar sesuai kaidah tajwid, sedangkan kata tilawat digunakan sebagai istilah umum untuk membaca kitab suci dengan semangat dan penuh khusyuk, dengan tujuan mencari petunjuk dan keberkahan.
term was gradually torn from its original meaning and came to be used for reading the Qur'an with correct pronunciation and modulation according to the rules of tajweed, whereas the word tilawat came to be used as a general term for reading the sacred book with fervor and devotion, for the purpose of seeking guidance and blessings.
Tilawah Al-Qur'an bukan hanya merupakan ibadah yang penting, tetapi juga merupakan cara yang efektif untuk terus menyegarkan iman (man) kita. Al-Qur'an bukanlah kitab yang cukup dipahami sekali untuk selamanya. Ia adalah kitab yang harus dibaca berulang kali dan dipelajari sepanjang masa, karena ia memberikan nutrisi bagi jiwa manusia. Sebagaimana tubuh jasmani kita senantiasa membutuhkan makanan yang diperoleh dari bumi, demikian pula jiwa kita, yang berasal dari alam langit, senantiasa membutuhkan pertolongan Wahyu Ilahi untuk memelihara dan menguatkan dirinya. Seandainya Al-Qur'an cukup dipahami sekali untuk selamanya, tentu tidak akan ada kebutuhan akan Nabi Suci ﷺ.
Tilawat of the Holy Qur'an is not only an important form of worship but also an effective method of continually refreshing our /man (faith). The Qur'an is not a book to be understood once and for all. It is a book to be read again and again and to be studied forever, because it provides sustenance to the human soul. As our earthly body is in constant need of food that is obtained from the.earth, so too our soul, which is of heavenly origin, constantly needs the help of Divine Revelation for fostering and strengthening itself. If the Qur'an were to be understood once and for all, there would have been no need for the Holy Prophet (SAW)
- sungguh, dari semua orang! - untuk membacanya berulang-ulang. Sebaliknya, kita mendapati dari kajian terhadap Al-Qur'an itu sendiri bahwa beliau diperintahkan untuk melakukannya. Pada masa-masa awal kenabiannya, Nabi Muhammad ﷺ secara khusus diperintahkan untuk berdiri melaksanakan shalat di hadapan Tuhannya sebagian besar malam, sambil membaca Al-Qur'an dengan lantunan yang pelan dan berirama. Pada tahap-tahap berikutnya dari perjalanan kenabiannya, terutama ketika beliau menghadapi rintangan yang berat dan dituntut untuk mengerahkan keberanian dan keteguhan yang luar biasa untuk menguatkan dirinya, perintah khusus yang beliau terima dari Tuhannya adalah membaca Al-Qur'an.
- of all people - to read it again and again. On the contrary, we find from the study of the Qur'an itself that he was commanded to do so. In the earliest days of his prophethood, the Holy Prophet (SAW) was especially instructed to stand for the greater part of the night in prayer before his Lord, reciting the Qur'an in slow, rhythmic tones. In the later stages of his prophetic career, particularly when he was faced with heavy odds and was required to muster up special courage and fortitude to sustain himself, the special instruction he received from his Lord was to recite the Qur'an.
Dalam Surah Al-Kahf, dia diberi instruksi berikut:
In Surah Al-Kahf, he was given the following instructions:
Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu dari Kitab Tuhanmu. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya, dan kamu tidak akan menemukan tempat berlindung selain Dia.
And recite what has been revealed to you of the Book of your Lord: None can change His Words, and none will you find as a refuge other than Him.
(QS. Al-Kahf 18:27)
(ACKahf 18:27)
Dan sekali lagi, dalam Surah Al-Ankabut sebuah perintah serupa diulang.
And again, in Surah Al-Ankaboot a similar instruction was repeated:
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu berupa Kitab, dan dirikanlah shalat. . . . (Al-‘Ankabut 29:45)
Recite what has been revealed to you of the Book and establish regular prayer.. . . (Al-Ankaboot 29:45)
Dari fakta-fakta yang telah disebutkan di atas, maka jelaslah bahwa membaca dan mempelajari Al-Qur'an secara terus-menerus dan teratur itu sangat penting, karena ia menjadi makanan bagi jiwa, merupakan sarana untuk menyegarkan dan menghidupkan kembali iman, serta senjata yang andal untuk mengatasi kesulitan dan rintangan yang dihadapi di jalan Allah (SWT). Ayat berikut dari Surah Al-Baqarah menggambarkan bagaimana para pecinta Al-Qur'an menunjukkan penghormatan besar mereka terhadap Kitab ini:
It follows from the facts stated above that constant and regular study of the Holy Qur'an is essential because it provides food for the soul, because it is a mean of refreshing and reviving faith, and a reliable weapon for surmounting difficulties and obstacles that one encounters in the way of Allah (SVVT). The following ayah from Surah Al-Baqarah describes how the lovers of the Qur'an manifested their great regard for this Book:
Mereka yang telah Kami berikan Kitab kepadanya membacanya dengan bacaan yang sebenarnya ... (Al-Baqarah 2:121)
Those to whom we have delivered the Book recite it as it ought to be recited .... (Al-Baqarah 2:121)
Semoga Allah (SWT) memberi kita kekuatan agar kita mampu mempelajari Al-Qur'an sebagaimana seharusnya dipelajari. Pertama-tama, kita harus memahami bagaimana Al-Qur'an seharusnya dibaca dan langkah-langkah apa yang harus ditempuh agar standar bacaan yang disyaratkan dapat dicapai.
May Allah (SVVT) give us strength that we may be able to study the Qur'an as it should be studied. We have, first of all, to understand how the Qur'an ought to be recited and what steps should be taken if the required standard of recitation is to be attained.
1. Tajwid:
1. Tajweed:
Dalam hubungannya dengan ini, langkah pertama yang wajib kita tempuh adalah memperoleh pengetahuan yang menyeluruh tentang huruf-huruf hijaiyah, bunyi-bunyi fonetiknya, dan makna berbagai jenis waqaf (tanda berhenti) yang digunakan dalam Al-Qur'an. Istilah teknis untuk ilmu ini adalah tajwid, yang merupakan keharusan bagi bacaan yang baik dan lancar. Pada tahun tiga puluhan dan empat puluhan, hampir setiap anak Muslim di anak benua India-Pakistan memulai pendidikannya dengan mempelajari tajwid. Sejak awal ia diberi gambaran yang jelas tentang huruf-huruf Al-Qur'an dan bunyi-bunyi fonetiknya yang benar. Meskipun, sebagaimana telah dikemukakan di awal buku kecil ini, beberapa upaya telah dilakukan di Pakistan dan negara-negara Muslim lainnya untuk mempopulerkan tajwid, tetap saja kenyataannya sebagian besar pemuda Muslim, bahkan banyak orang dewasa dan lanjut usia di antara kita, tidak mampu membaca Al-Qur'an dengan baik. Ketidakmampuan membaca bahkan teks Al-Qur'an yang sekadarnya ini disebabkan, di satu sisi, oleh merosotnya sistem pendidikan klasik yang diselenggarakan di masjid-masjid dan maktab-maktab bagi seluruh anak masyarakat, kaya maupun miskin, dan di sisi lain, oleh popularitas taman kanak-kanak dan jenis sekolah dasar modern lainnya yang tidak memasukkan pembacaan Al-Qur'an dalam kurikulumnya. Di sini saya menyarankan agar semua orang seperti itu, dari kelompok usia mana pun mereka berasal, yang tidak memiliki kemampuan membaca Al-Qur'an dengan baik, hendaknya menyadari kekurangannya dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menghilangkannya. Kita juga hendaknya menjadikannya kebijakan yang tegas bahwa pendidikan anak-anak kita akan dimulai dengan tajwid, dan hal pertama yang mereka pelajari adalah cara membaca Al-Qur'an dengan benar. Terlalu menekankan poin ini mungkin tidak begitu diinginkan, namun setiap orang terpelajar wajib memperoleh kemampuan membaca Al-Qur'an dengan lafal dan pengucapan yang benar, dengan memperhatikan secara cermat waqaf yang digunakan di dalamnya.
In this connection, the first step we are required to take is to acquire a thorough knowledge of the Arabic alphabet, their phonetic sounds, and the significance of the different kinds of pauses used in the ~ur'an.T' he technical term used for this knowledge is tajweed, which is a must for a good fluent recitation. In the thirties and forties, almost every Muslim child in the Indo-Pakistan subcontinent would start his education with the learning of tajweed. At the very outset he was given a clear idea of the letters of the Qur'an and their correct phonetic sounds. Although, as already stated in the beginning of this booklet, some efforts have been made in Pakistan and other Muslim countries to popularize tajweed, still the fact remains that a vast majority of the Muslim youth, even a large number of adults and old people among us, cannot read the Qur'an properly. This lack of ability to read even the bare text of the Qur'an is due, on the one hand, to the decline of the classical system of education that was imparted in the mosques and maktabs to all the children of the community, rich and poor, and, on the other hand, to the popularity of the kindergarten and other types of modern primary schools which do not include the recitation of the Qur'an in their curriculum. Here I will suggest that all such persons, to whichever age group they may belong, as do not possess the ability to read the Qur'an properly should realize their deficiency and take necessary steps to remove it. We should also adopt it as a decided policy that the education of our children will start with tajweed and the first thing they will learn will be how to read the Qur'an correctly. Over-emphasis on this point may not be very desirable, nevertheless it is incumbent upon every educated person to acquire the ability of reading the Qur'an with a correct accent and pronunciation, carefully observing the pauses used in it.
2. Wirid Harian:
2. Daily Recitation:
Jika kita ingin memenuhi kewajiban membaca Al-Qur'an, hal kedua yang diharuskan adalah memasukkan pembacaan Al-Qur'an ke dalam rutinitas harian kehidupan kita, dan masing-masing dari kita hendaknya membaca bagian tertentu dari Kitab Suci secara teratur setiap hari. Bagian yang ditetapkan untuk pembacaan harian dapat berbeda-beda bagi setiap orang. Batas maksimum yang mendapat dukungan dari Nabi ﷺ adalah sepertiga Al-Qur'an. Artinya, sepuluh juz hendaknya dibaca setiap hari sehingga pembacaan seluruh Al-Qur'an dapat diselesaikan dalam tiga hari. Batas minimum - dan perhatikanlah, sesuatu yang kurang dari batas minimum ini bahkan tidak terbayangkan hingga beberapa tahun terakhir - dapat berupa satu juz setiap hari, sehingga seluruh Al-Qur'an dapat dibaca dalam sebulan. Sebenarnya, inilah jumlah bacaan paling sedikit yang seharusnya dilakukan setiap hari, dan jumlah yang kurang dari ini tidak akan layak disebut sebagai bacaan.
If we wish to fulfill our obligation of reciting the Qur'an, the second thing we are required to do is to include the recitation of the Qur'an in the daily routine of our life, and each one of us should recite a certain portion of the Holy Book regularly every day. The portion fixed for daily recitation can be different for different people. The maximum portion which has the support of the Holy Prophet (SAW) is one-third of the Qur'an. It means that ten paras should be recited each day so that the recitation of the whole Qur'an may be completed in three days. A minimum portion - and mind you, anything less than this bare minimum could not even be imagined till recent years - could be one para daily, so that the whole Qur'an could be read in a month. In fact, this is the least amount of recitation which should be done every day and an amount less than this would not be worth the name.
Jalan tengah antara maksimum dan minimum adalah membaca seluruh Al-Qur'an dalam seminggu. Memang inilah kebiasaan yang diikuti oleh mayoritas para Sahabat (RAA), dan menurut sebuah riwayat, hal yang sama juga dianjurkan kepada Abdullah Ibn Umar (RAA) oleh Nabi Muhammad ﷺ. Karena alasan inilah Al-Qur'an dibagi menjadi tujuh ahzaab (bagian) pada masa para Sahabat (RAA). Enam ahzaab pertama masing-masing terdiri dari tiga (tidak termasuk Surah Al-Fatihah), lima, tujuh, sembilan, sebelas, dan tiga belas surah, sedangkan yang ketujuh, yang disebut hizbul-mufassal, terdiri dari sisa Kitab Suci tersebut. Setiap hizb terdiri dari kurang lebih empat juz, yang dapat dibaca dengan cukup memuaskan dalam dua jam.
The middle position between the maximum and minimum is that one should read the whole Qur'an in a week. This, indeed, was the practice followed by the majority of the Companions (RAA) and the same according to a tradition was suggested to Abdullah Ibn Umar (RAA) by the Holy Prophet (SAW). It is for this reasbn that the Qur'an was divided into seven ahzaab (sections) in the time of the Companions (RAA).' The first six of the ahzaab consist of three (excluding Surah Al-Fatiha), five, seven, nine, eleven, and thirteen Surahs respectively, and the seventh called hizbul- mufassal consists of the rest of the Holy Book. Every hizb comprises of approximately four paras, which can be recited quite satisfactorily in two hours.
3. Suara yang merdu:
3. Melodious voice:
Untuk pembacaan Al-Qur'an yang benar, seseorang juga diwajibkan membacanya dengan cara yang terbaik dan dengan suara yang semerdu mungkin. Hal ini diperlukan karena hampir setiap manusia dianugerahi rasa cinta terhadap musik dan memiliki kecenderungan alami terhadap bunyi-bunyian yang merdu dan indah. Islam adalah agama yang fitrah; ia tidak mengekang setiap kecenderungan bawaan kita, melainkan menyalurkannya ke jalan yang sehat.
It is also required for the proper recitation of the Qur'an that a person should read it in the best manner and in the most melodious voice possible. This is necessary because almost every human being is gifted with a love for music and has a natural fondness for sweet and melodious sounds. Islam is a natural region; it does not curb any of our inherent tendencies but diverts them into healthy channels.
Karena kita memiliki kecintaan yang naluriah terhadap keindahan penglihatan dan keindahan suara, kita bersikeras pada cetakan Al-Qur'an yang memukau dan pada pembacaannya dengan suara yang lembut dan merdu. Nabi ﷺ telah menganjurkan kita untuk:
As we have an instinctive love for the beauty of sight and the beauty of sound, we insist upon a fascinating printing of the Holy Qur'an and its recitation in a soft melodious voice. The Prophet (SAW) has urged us to:
Hiasilah Al-Qur'an dengan suara kalian. (Diriwayatkan oleh Abu Daud & Nasai)
Adorn the Qur'an with your voices. (Narrated by Abu Daud & Nasai)
Beliau juga telah memperingatkan kita agar tidak lalai dalam perkara ini, dengan sabdanya:
He has also warned us against our negligence in this matter in the words:
Orang yang tidak membaca Al-Qur'an dengan suara yang merdu bukan termasuk golongan kami! (Diriwayatkan oleh Abu Daud)
One who does not recite the Qur'an in a melodious voice is not from us! (Narrated by Abu Daud)
dan Dia juga memberi kita kabar gembira sebagai dorongan tambahan untuk membaca dengan suara yang merdu.
and has given us the following tidings as a further inducement for melodious recitation:
Allah (SWT) tidak mendengarkan sesuatu dengan sangat penuh perhatian sebagaimana Dia mendengarkan Nabi ﷺ.
Allah (SVVT) does not listen to anything so attentively as He listens to the Prophet (SAW)
membaca Al-Qur'an dengan keras menggunakan suara yang merdu.
4. Kondisi Objektif dan Subjektif:
4. Objective and Subjective Conditions:
Membaca Al-Qur'an sebagaimana mestinya bergantung pada terpenuhinya sejumlah syarat, baik yang bersifat objektif maupun subjektif. Syarat objektif yang harus dipenuhi adalah hendaknya seseorang berwudu sebelum memulai bacaan, hendaknya ia duduk menghadap kiblat, dan hendaknya ia memulai bacaannya dengan ta'awwudz (memohon perlindungan Allah dari setan). Adapun secara subjektif, hendaknya ia merenungkan keagungan Kitab ini dan keagungan Dzat yang telah menurunkannya, serta hendaknya ia membacanya dengan konsentrasi dan penghayatan yang penuh, dengan perasaan tunduk dan rendah diri yang mendalam, serta dengan semangat dan kekhusyukan yang sepenuh-penuhnya.
Reciting the Qur'an as it ought to be recited depends upon the fulfillment of a number of objective and subjective conditions. The objective conditions to be fulfilled are that one should perform ablution before starting the recitation, that he should sit facing the qiblah, and that he should start the recitation with taa'wwuz (seeking Allah's protection against the Satan). Subjectively, he should contemplate the greatness of the Book and the greatness of the Being Who has revealed it, and should recite it with complete concentration and absorption, a deep feeling of submissiveness and humility, and utmost fervor and devotion.
Dia hendaknya membaca Kitabullah (SWT) dengan keinginan yang tulus dan sungguh-sungguh untuk mencapai kebenaran, serta dengan tekad yang kuat untuk mengubah dirinya sesuai dengan ajarannya. Ia hendaknya terus-menerus merenungkan dan memikirkan maknanya, bukan dengan tujuan mendapatkan darinya pembenaran atas pemikiran dan teori yang telah ia miliki sebelumnya, melainkan dengan sungguh-sungguh mencari petunjuk yang ditawarkannya. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, makna harfiah dari tilawat adalah "mengikuti atau berjalan tepat di belakang seseorang." Oleh karena itu, dalam pengertian yang sebenarnya, ia menuntut sikap penyerahan diri dan keterbukaan.
He should read the Book of Allah (SWT) with a sincere and earnest desire to get at the truth, and with a firm resolve to transform himself according to its teachings. He should constantly ponder and deliberate over its meanings, not with a view to finding from it a confirmation of his own preconceived thoughts and theories but genuinely seeking from it the guidance that it offers. As explained above, the literal meaning of tilawat is "to follow or walk closely behind someone." Therefore, in the real sense of the term, it demands an attitude of self-abandonment and receptivity.
Sikap seperti inilah, sesungguhnya, inti dari tilawah.
Such an attitude is, indeed, the essence of tilawat.
5. Tartil (Membaca dengan nada yang tenang, terukur, dan berirama):
5. Tarteel (Reading in slow, measured rhythmic tones):
Cara ideal membaca Kitab Suci adalah dengan berdiri dalam shalat tengah malam di hadapan Tuhannya, dengan tangan terlipat penuh kerendahan hati, dan membaca Al-Qur'an dalam keadaan hati yang siap menerima, perlahan dan sabar, berhenti pada tempat-tempat yang semestinya agar hati dapat menyerap pengaruhnya. Cara membaca seperti ini disebut tartil, dan mungkin perintah yang paling penting yang diberikan kepada Nabi ﷺ pada tahap awal misi kenabiannya adalah untuk membaca Al-Qur'an dengan cara ini.
The ideal way in which the Holy Book should be recited is that one should stand in post-midnight prayer before his Lord, with hands folded in all humility, and recite the Qur'an in a receptive state of mind, slowly and patiently, pausing at proper places so as to enable one's heart to imbibe its influence. This kind of recitation is called tarteel, and perhaps the most important instruction that was given to the Holy Prophet (SAW) in the earliest stage of his prophetic mission was to recite the Qur'an in this manner:
Wahai orang yang berselimut! Bangunlah (untuk shalat) di malam hari, tetapi tidak sepanjang malam; separuhnya, atau kurangi sedikit darinya, atau tambahkan sedikit atasnya, dan bacalah Al-Qur'an dengan tartil. (Al-Muzzammil 73:1-4)
0 you wrapped in garments! Stand (in prayer) by night. But not all night; half of it, or a little less, or a little more. And recite the Qur'an in slow, measured rhythmic tones. (Al-Muzzammil 73:l-4)
Membaca Al-Qur'an dengan perlahan dan penuh perenungan, dengan berhenti pada tempat-tempat yang tepat dalam teksnya, memiliki kemiripan dengan cara ia diturunkan. Sebagaimana kita semua ketahui, seluruh Al-Qur'an tidak diturunkan sekaligus, melainkan diturunkan secara bertahap dan berangsur-angsur. Dalam Surah Al-Furqan, sebagai jawaban terhadap orang-orang yang keberatan mengapa Al-Qur'an tidak diturunkan sekaligus, Allah (SWT) berfirman kepada Rasul-Nya ﷺ:
Reading the Qur'an slowly and thoughtfully, making pauses at proper points in its text, has a resemblance with the mode of its revelation. As we all know, the whole Qur'an was not revealed at once but it has descended piecemeal at intervals. In Surah Al-Furqan, by way of answering those who objected as to why the Qur'an was not revealed all at once, Allah (SWT) says addressing His Messenger (SAW):
Demikianlah (Al-Qur'an itu diturunkan), agar Kami memperkuat hatimu (Muhammad) dengannya, dan Kami telah menurunkannya kepadamu secara berangsur-angsur, dengan susunan yang teratur. (Al-Furqan 25:32)
6. Menghafal:
6. Committing to Memory:
Jika Al-Qur'an hendak dibaca sebagaimana Nabi Muhammad ﷺ membacanya, kita harus menghafal sebanyak mungkin dari Kitab Suci ini. Sayangnya, kebiasaan menghafal bagian-bagian Al-Qur'an untuk bacaan panjang dalam shalat setelah tengah malam hampir punah. Namun, tradisi menghafal seluruh Al-Qur'an masih ada. Tentu saja, untuk ini harus dimulai sejak masa kanak-kanak ketika persoalan memahami Al-Qur'an belum timbul, tetapi tradisi inipun kian kehilangan tempat. Sayangnya, menghafal seluruh Al-Qur'an telah diserahkan kepada kalangan miskin dan tertindas dalam masyarakat kita, yang menjadikannya sebagai mata pencaharian. Hal ini tidak demikian hingga beberapa tahun yang lalu. Pada masa sebelum Pemisahan (Partition), kebiasaan menghafal seluruh Al-Qur'an cukup umum, bahkan di kalangan keluarga terhormat dan berkecukupan, dan di beberapa kota di India yang belum terbagi, hampir setiap keluarga Muslim memiliki sedikitnya seorang hafiz (yakni, orang yang telah menghafal seluruh Al-Qur'an). Pada masa itu, dianggap tercela bagi suatu keluarga jika tidak memiliki seorang hafiz di antara anggotanya.
If the Qur'an is to be recited as it was recited by the Holy Prophet (SAW), we have to learn by heart as much of the Holy Book as possible. Unfortunately, the practice of memorizing portions of the Qur'an for long recitations in the post-midnight prayer has almost died out. However, the custom of memorizing the whole Qur'an still exists. Naturally, for this a start has to be made in childhood when the question of understanding the Qur'an does not arise, but even this custom is losing ground. Memorizing the whole Qur'an has unluckily bee& left to a class of poor and down-trodden people in our society who adopt it as a profession. This was not the case till recent years. In the pre-partition days, the custom of memorizing the entire Qut'an was quite common even among respectable, well-to-do families, and in some cities in undivided India almost every Muslim family had at least one hafiz (i.e., one who has learned the whole Qur'an by heart). In those days, it was considered to be discreditable on the part of a family not to have a hafiz among its members.
Tidak diragukan lagi, menghafal Al-Qur'an adalah tradisi yang mulia.
No doubt, memorizing the Qur'an is a noble tradition.
Hal ini merupakan bagian dari ketetapan Ilahi untuk menjaga Al-Qur'an, dan hendaknya terus dilestarikan dengan semangat dan kesungguhan yang diperbarui. Namun, menghafal seluruh Al-Qur'an tidak terjangkau oleh setiap orang. Yang ingin saya tekankan di sini adalah bahwa setiap dari kita hendaknya berusaha sekuat tenaga untuk menghafal sebanyak mungkin bagian Al-Qur'an, agar ia dapat membacakannya kepada Tuhannya ketika berdiri di hadapan-Nya dalam shalat.
It is a part of the Divine dispensation for the preservation of the Qur'an and should be maintained with renewed vigor and enthusiasm. However, committing the whole Qur'an to memory is not within the reach of every person. What I wish to stress here is that every one of us should try his utmost to learn maximum portion of the Qur'an by heart so that he may be able to recite it to his Lord, standing before Him in prayer.
Perlu dicatat bahwa pembagian seluruh teks menjadi tiga puluh juz, dan pembagian setiap juz menjadi bagian-bagian kecil yang disebut ruku', dilakukan jauh belakangan.
3 It may be noted that the present division of the whole text into thirty parts, and of each part into smaller sub-parts called ruku', was made much later.
4. Adalah pengalaman yang lazim bagi para ulama Al-Qur'an yang tekun bahwa ketika mereka dibingungkan oleh suatu persoalan intelektual yang membebani pikiran mereka, mereka mendapati bahwa, selama membaca Al-Qur'an, sebuah petunjuk untuk memecahkan persoalan itu tiba-tiba terlintas di benak mereka. Mereka memperoleh pencerahan dari suatu ayat Al-Qur'an yang telah mereka baca ratusan kali sebelumnya, namun karena pikiran mereka tidak tersita oleh persoalan tersebut, ayat itu tidak memberikan tafsir yang relevan untuk pemecahannya.
4 It is a common experience of the devoted scholars of the Qur'an that when they are perplexed by an intellectual problem weighing upon their minds, they found that, during course of their recitation of the Qur'an, a clue to the solution of the problem suddenly struck their minds. They got the enlightenment from a passage of the Qur'an which they had read hundred times before, but as their mlnd was not preoccupied by the problem, the passage did not yield the interpretation relevant to its solution.
5 Abu Musa Al-Asy'ari (RA)
5 Abu Musa At-Ash'ari (RAA)