Iman Wa Ta'zeem
Iman Wa Ta'zeem
(Keyakinan akan asal-usul Ilahi Al-Qur'an dan sikap penghormatan terhadapnya)
(Belief in the Divine origin of the Qur'an and an attitude of reverence towards it)
Istilah Qur'ani untuk keimanan kepada realitas spiritual adalah *īmān* (iman), yang memiliki dua tahap: *iqrār bil-lisān* (pengakuan dengan lisan) dan *taṣdīq bil-qalb* (keyakinan yang tulus dari hati). Pengakuan lisan atas keyakinan terhadap realitas-realitas spiritual yang dijunjung oleh Islam merupakan syarat masuknya seseorang ke dalam pangkuan agama ini, tetapi keimanan yang sejati baru akan tampak ketika keyakinan itu berkembang menjadi keyakinan batin yang kuat.
The Qur'anic term for belief in a spiritual reality is /man (faith) which has two phases: lqrar bil-lisan (verbal profession) and tasdeeq bil-qalb (heart-felt conviction). A verbal profession of a belief in the spiritual realities upheld by Islam is the condition of a person's admittance into the fold of this religion, but true faith will emerge only when that belief deepens into a strong inward conviction.
Sekarang apa yang dimaksud dengan beriman kepada Al-Qur'an? Artinya, pertama-tama seseorang harus mengucapkan secara lisan bahwa Al-Qur'an adalah Firman Allah (SWT) yang diwahyukan oleh-Nya melalui malaikat pilihan-Nya Jibra'il (AS), kepada rasul-Nya yang terakhir, Nabi Muhammad ﷺ. Setelah mengucapkan pengakuan ini, seseorang akan diterima sebagai anggota masyarakat Muslim, meskipun ia mungkin belum mencapai iman yang sejati. Baru ketika ia mulai memegang keyakinan ini dengan keyakinan batin yang mendalam, cahaya iman yang sejati akan menerangi hatinya. Maka ia akan mendapati hatinya penuh dengan penghormatan terhadap Kitab Suci. Seiring iman-nya semakin kuat, pikirannya akan semakin tunduk di bawah pengaruh Al-Qur'an, dan rasa hormatnya kepadanya akan semakin dalam. Dengan demikian, iman dan penghormatan berjalan bersama. Dari kajian Al-Qur'an, kita mengetahui bahwa orang pertama yang beriman kepada Kitab yang diwahyukan ini tidak lain adalah Nabi ﷺ sendiri, yang kemudian diikuti oleh para Sahabatnya (RA).
Now what is meant by having faith in the Qur'an? It means that one should, in the first instance, verbally profess that the Qur'an is the Word of Allah (SW) that was revealed by Him through His chosen angel Jibra'eel (AS), to the last of His messengers, Prophet Muhammad (SAW). Having made this profession, a person will be accepted as a member of the Muslim community, although he may not have yet attained true faith. It is only when he comes to cherish this belief with a deep, inward conviction that the light of true faith will illumine his heart. Then he will find his heart to be full of reverence for the Holy Book. As his faith becomes stronger and stronger, his mind will come more and more under the spell of the Qur'an, and his feeling of reverence for it will become deeper and deeper. Thus faith and reverence go together. We learn from the study of the Qur'an that the first individual to believe in this ~evealedB ook was none other than the Prophet (SAW) himself who was followed by his Companions (RAA).
Rasul beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, begitu pula orang-orang yang beriman ....
The Messenger believed in what was revealed to him from his Lord, as well as the believers ....
(Al-Baqarah 2:285)
Keyakinan mereka adalah keyakinan batin yang mendalam bahwa Al-Qur'an adalah kalam Allah (Firman Tuhan). Keyakinan ini menumbuhkan dalam diri mereka sikap hormat terhadap Al-Qur'an dan menanamkan di dalam hati mereka cinta dan kecintaan yang tak terbatas kepadanya. Karena alasan inilah Nabi Muhammad ﷺ senantiasa menanti-nanti datangnya Wahyu dengan penuh harap, beliau menjadi tidak sabar apabila wahyu untuk sementara waktu terhenti, dan ketika wahyu itu kembali turun beliau berusaha menghafalnya dengan penuh semangat dan kesungguhan, sedemikian rupa sehingga Allah (SWT), karena cinta dan kasih sayang-Nya kepada Rasul-Nya ﷺ, melarang beliau bersikap tergesa-gesa dalam hal ini dengan instruksi berikut:
Their belief was a deep inward conviction that the Qur'an was kalam Allah (the Word of God). This conviction developed in them a reverential attitude towards the Qur'an and created in their hearts an unbounded love and devotion for it. It was for this reason that the Holy Prophet (SAW) used to wait anxiously for the Revelation to come, that he a would get impatient if it was temporarily suspended, and when it was resumed he would try to memorize it with utmost avidity and eagerness, so much so that Allah (SWT), out of love and affection for his Messenger (SAW), forbade him to be impatient in this regard with the following instructions:
... dan janganlah engkau tergesa-gesa membaca Al-Qur'an ... (Taha 20:114)
... do not be in haste for the Qur'an .... (Taha 20:114)
Dan janganlah engkau menggerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur'an) karena hendak cepat-cepat menguasainya.
And do not move your tongue quickly (in trying to memorize the Revelation) to make haste therewith.
(Al-Qiyamah 75:16)
Pada suatu tahap awal, kesinambungan dalam proses turunnya wahyu Al-Qur'an pernah terputus untuk waktu yang tidak biasa lamanya. Diriwayatkan bahwa keterputusan ini menimbulkan kegelisahan dan kesedihan yang sangat besar pada Nabi ﷺ, hingga beliau sering terpikir untuk menjatuhkan diri dari sebuah gunung. Begitu dalam kecintaan beliau kepada Al-Qur'an, sehingga beliau menghabiskan sebagian besar malam dalam salat dan membaca Al-Qur'an. Beliau akan berdiri membaca Al-Qur'an berjam-jam hingga kedua kakinya bengkak. Para Sahabat (RAA) juga sama terpikatnya dengan Kitab Suci ini, dan mereka membacanya berjam-jam di malam hari.
Once at an early stage, the continuity in the process of Qur'anic revelation was interrupted f~arn untisually long period. It is reported that this interruption caused the Holy Prophet (SAW) so much anguish and distress that he would often think of throwing himself down from a mountain. So deep was his devotion for the Qur'an that he would spend the greater part of the night in prayer and recitation. He would stand reciting the Qur'an for long hours until his feet would get swollen. His Companions (RAA) were equally enamored of the Holy Book and would recite it for long hours at night.
Banyak di antara mereka yang menjadikannya sebagai kebiasaan untuk menkhatamkan seluruh Al-Qur'an sekali dalam seminggu. Nabi Muhammad ﷺ, meskipun beliau sendiri adalah penerima Wahyu Al-Qur'an, sering meminta para Sahabatnya (RAA) untuk membacakan Al-Qur'an kepada beliau, dan beliau akan tersentuh hingga menangis karena kuatnya perasaan yang tergugah di dalam hatinya ﷺ.
Many of them had made it a point to go through the whole Qur'an once a week. The Holy Prophet (SAW), though himself the recipient of the Qur'anic Revelation, often asked his Companions (RAA) to recite the Qur'an to him and would be moved to tears by the intensity of feelings roused in his heart.
Tentu saja, alasan mengapa para Sahabat Nabi Muhammad ﷺ sampai memiliki cinta dan penghormatan yang begitu mendalam terhadap Al-Qur'an di dalam hati mereka, dan memperlakukannya dengan sangat hormat, adalah karena keyakinan mereka bahwa Al-Qur'an merupakan Wahyu dari Yang Maha Kuasa telah mencapai tingkat keyakinan tertinggi, yaitu tingkat ketika suatu kenyataan diterima sebagai Kebenaran Mutlak. Sekarang mari kita periksa kondisi keimanan kita terhadap Al-Qur'an. Kita memang mengaku bahwa Al-Qur'an "adalah Wahyu Ilahi, dan sesungguhnya kita patut bersyukur kepada Allah (SWT) karena Dia telah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang meyakini hal ini tentang Kitab-Nya; namun kebanyakan dari kita tidak yakin dari dalam hati bahwa ia adalah Firman Allah (SWT), Wahyu dari Pencipta langit dan bumi. Inilah sebab sesungguhnya mengapa kita menjauh dari Al-Qur'an dan bersikap acuh terhadapnya. Bahkan introspeksi dan koreksi diri yang sekadarnya pun akan membuktikan bahwa hati kita kosong dari keyakinan yang benar terhadap Al-Qur'an, dan alih-alih memelihara iman yang sejati, hati kita telah menjadi tempat bersemayamnya keraguan dan kecurigaan. Saudara-saudara sesama Muslim mungkin tidak senang dengan cara bicara terus terang saya ini; namun tetap merupakan kenyataan bahwa kita kaum Muslimin sangat kekurangan keimanan yang teguh terhadap asal-usul Ilahi Al-Qur'an. Keadaan ragu dan tidak pasti yang kita alami dewasa ini telah digambarkan di dalam Al-Qur'an dengan kata-kata berikut:
Obviously, the reason why the Companions of the Holy Prophet (SAW) came to entertain such a deep love and reverence for the Qur'an in their hearts, and regarded it with so much reverence, was that their belief in the Qur'an being a Revelation from the Almighty had reached the highest stage of conviction - a stage at which a reality is accepted as an Absolute Truth. Now let us examine the condition of our faith in the Qur'an. We do profess that the Qur'an 'is a Divine Revelation and, indeed, we should be thankful to the Almighty that He has included us among those who hold this belief about His Book; but most of us are not inwardly convinced of its being the Word of Allah (SVVT), a Revelation from the Creator of the heavens and the earth. This is the real cause of our estrangement from, and indifference to the Qur'an. Even a casual introspection and self-examination will prove that our hearts are devoid of the true belief in the Qur'an and, instead of harboring true faith, they have become the dwellings of doubts and misgivings. My fellow Muslims might resent this plain speaking on my part; nevertheless, it is a fact that we Muslims woefully lack a staunch faith in the Divine origin of the Qur'an. The state of doubt and uncertainty in which we find ourselves today has been described in the Qur'an in the following words:
Sesungguhnya orang-orang yang mewarisi Kitab setelah mereka (Yahudi dan Nasrani) benar-benar berada dalam keraguan yang mencemaskan terhadapnya. (Asy-Syura 42:14)
... truly, those who have inherited the Book after them are in suspicious (disquieting) doubt concerning it. (Al-Shura 42:14)
Kurangnya iman inilah yang menyebabkan kita tidak menemukan rasa hormat terhadap Al-Qur'an di dalam hati, tidak tergerak untuk mempelajarinya, tidak menunjukkan minat untuk merenungkan maknanya, dan tidak pernah terpikir untuk mencari petunjuknya dalam menjalani kehidupan. Selama kekurangan yang mengerikan ini belum kita perbaiki, tidak ada gunanya pengajaran agama dalam jumlah berapa pun.
This lack of faith is the reason why we neither find any reverence for the Qur'an in our hearts, nor feel inclined to study it, nor evince any interest in pondering over its meaning, nor ever think of seeking its guidance in conducting our lives. As long as we do not make up this dreadful deficiency, no useful purpose will be served by any amount of religious instruction.
Oleh karena itu, kewajiban pertama dan utama setiap Muslim adalah memeriksa keimannya terhadap Al-Qur'an, untuk melihat apakah keyakinannya bahwa Al-Qur'an adalah kitab suci dan samawi hanyalah sebuah dogma yang tidak ada hubungannya dengan kehidupan praktisnya, ataukah ia benar-benar yakin bahwa Al-Qur'an adalah Firman Allah (SWT) yang diturunkan kepada umat manusia agar mereka mencari petunjuk darinya dan menjadikannya sebagai pedoman hidup yang nyata. Jika kita memegang keyakinan ini, kita mungkin memiliki alasan untuk merasa puas dan bersyukur kepada Allah (SWT). Namun jika tidak, yang sayangnya merupakan keadaan sebagian besar orang, maka kita harus terlebih dahulu memperbaiki kekurangan dalam iman kita ini, karena pelaksanaan kewajiban kita yang lain terhadap Al-Qur'an bergantung pada keyakinan ini.
The first and foremost duty of every Muslim, therefore, is to check his belief in the Qur'an to see whether his belief in the Qur'an being a sacred and heavenly book is a mere dogma which has nothing to do with his practical life, or whether he is really convinced of its being a Word of Allah (SWT) which has been vouchsafed to mankind to seek guidance from it and make it a practical code of life. If we hold this conviction, we may have reason to be satisfied and be thankful to Allah (SWT), but if not - which unfortunately is the case with a vast majority - we should first of all make up this deficiency in our faith, because the fulfillment of our other obligations to the Qur'an is dependent upon this very conviction.
Mungkin ada yang bertanya, bagaimana kekurangan ini dapat dilengkapi. Tentu saja, cara yang paling mudah dan paling efektif untuk memperoleh dan menambah iman adalah bergaul dengan orang-orang saleh yang hatinya diterangi cahaya iman yang sejati. Para Sahabat Nabi ﷺ memperoleh iman mereka yang istimewa berkat pengaruh yang menginspirasi dari Guru mereka ﷺ, yang sendirinya merupakan perwujudan iman dan keyakinan. Setelah wafatnya Nabi ﷺ, tidak seorang pun dapat berangan-angan untuk mencapai tingkat iman yang sama seperti yang telah dicapai para Sahabat (RA) karena kehadiran fisik beliau ﷺ di tengah mereka. Namun, metode memperbaiki dan menyempurnakan iman dengan bergaul bersama orang-orang saleh tetap akan memberikan manfaat yang sangat besar bahkan pada masa kini; maka, kita perlu berpaling kepada orang-orang saleh di antara kita untuk terus menyegarkan iman kita. Adapun orang-orang saleh itu sendiri, mereka pada gilirannya akan menemukan sumber cahaya iman yang terbesar dalam Al-Qur'an itu sendiri. Mereka juga akan mempelajari dengan cermat biografi Nabi ﷺ dan para Sahabat (RA) agar mereka dapat menikmati persahabatan intelektual dan spiritual dengan Rasulullah ﷺ dan para Sahabat (RA). Adapun iman kepada Al-Qur'an dan pertumbuhannya, kita hanya bergantung pada satu sumber, yaitu Al-Qur'an itu sendiri.
It may be asked as to how can this deficiency be made up. Obviously, the easiest and the most effective way to acquire and augment faith is to move in the society of godly persons whose hearts are illumined by the light of true faith. The Companions of the Holy Prophet (SAW) owed their unique faith to the inspiring influence of their Master (SAW), who himself was an embodiment of faith and certitude. After the death of the Holy Prophet (SAW), one can never dream of attaining the same degree of faith as the Companions (RAA) had attained on account of his physical presence among them, still the method of improving and perfecting faith in the company of the pious will be followed with immense advantage even today; so, we need to turn to the pious among us for continually refreshing our faith. So far as the pious are concerned, they, in their turn, will find the greatest source of the light of faith in the Holy Qur'an itself. They will also make a careful study of the biographies of the Holy Prophet (SAW) and his Companions (RAA) so that they may be able to enjoy an intellectual and spiritual companionship of Allah's Messenger (SAW) and his Companions (RAA). As regards the faith in the Qur'an and its growth, we have to depend upon one source only, that is the Holy Qur'an itself.
Pada kenyataannya, iman bukanlah sesuatu yang dapat ditanamkan ke dalam diri kita dari luar. Iman adalah perwujudan dari kebenaran-kebenaran mendasar yang terus-menerus berkelebat dalam batin kita, lalu ditangkap dan dipantulkan oleh hati. Dapat dikatakan bahwa hati manusia adalah cermin yang indah, yang secara otomatis menangkap dan memantulkan cahaya kebenaran-kebenaran universal yang membentuk iman. Yang terjadi, terkadang permukaan cermin ini menjadi buram di bawah pengaruh lingkungan dan pendidikan yang keliru, sehingga gagal menangkap dan memantulkan cahaya batin iman. Untuk memoles cermin ini agar dapat memantulkan cahaya batin manusia dengan jelas, Allah (SWT), karena kasih sayang-Nya kepada umat manusia, telah menurunkan Firman-Nya, yang mendorong kita untuk mengenali cahaya di dalam diri kita sendiri dan mengingatkan kita akan kebenaran-kebenaran yang merupakan pemahaman intuitif dari fitrah kita yang asali.
In reality, /man (or faith) is not something that can be planted in us from outside. It is an embodiment of fundamental truths that continually flash through our inner being and are caught and reflected by our heart. We can say that the human heart is a wonderful mirror that automatically catches and reflects the light of those universal truths that constitute Iman. What happens is that sometimes the surface of this mirror gets blurred under the effect of wrong environment and education and fails to catch and reflect the inner light of Iman. To polish this mirror so that it may clearly reflect man's inner light, Allah (SWT), out of His Benevolence to mankind, has revealed His Word, urging us to discern the light inside ourselves and reminding us of the truths which are the intuitive apprehensions of our primordial nature.
Sebuah wawasan dan pengingat (tentang kebenaran-kebenaran yang tertanam dalam fitrah manusia) bagi setiap hamba yang kembali kepada Allah dengan bertaubat. (Qaf 503)
An insight and reminder (of the truths ingrained in human nature) for every servant who turns to Allah in repentance. (Qaf 503)
Jika Kitab Suci dipelajari dan maknanya direnungkan dalam pencarian kebenaran yang tulus, maka tirai-tirai kegelapan akan tersingkap satu demi satu, dan batin kita akan diterangi oleh cahaya iman. Setelah cermin hati pernah dijadikan mampu memantulkan cahaya iman dengan jelas, kita tetap harus kembali kepada Al-Qur'an setiap kali kita mendapati permukaannya yang bercahaya menjadi kusam dan buram di bawah pengaruh godaan duniawi. Hadis berikut, yang diriwayatkan dari Abdullah Ibn Umar (RAA), menyinggung efek pengilapan Al-Qur'an pada cermin hati:
If the Holy Book is studied and its meanings are pondered over in a genuine quest for truth, all the veils of darkness are lifted, one after another, and out inner self is illumined by the light of faith. After the heart's mirror has once been rendered capable of clearly reflecting the light of faith, we shall still have to revert to the Qur'an whenever we find that its shining surface is becoming dull and hazy under the effect of worldly temptations. The following tradition, narrated on the authority of Abdullah Ibn Umar (RAA), refers to the polishing effect of the Qur'an on the mirror of the heart:
Rasulullah ﷺ pernah bersabda: "Sesungguhnya hati-hati ini berkarat sebagaimana besi berkarat di dalam air." Beliau ditanya bagaimana karat hati itu bisa dibersihkan. Beliau menjawab: "Dengan sering mengingat kematian dan membaca Al-Qur'an." (Diriwayatkan oleh Baihaqi)
The Holy Prophet (SAW) once remarked: "Surely, these hearts get rusted as iron gets rusted in water." He was asked how the heart's rust could be rubbed off. He replied: 'By frequent remembrance of death and the recitation of the Qur'an." (Narrated by Bayhaqi)
Inti persoalannya adalah bahwa jika keyakinan kita terhadap asal-usul Ilahi Al-Qur'an hanya sebatas dogma, maka keyakinan itu tidak akan membawa perubahan apa pun pada kondisi kita saat ini maupun pada sikap acuh tak acuh kita terhadap Al-Qur'an. Jika kita ingin berlaku adil terhadap Al-Qur'an dan memenuhi tuntutan yang diajukannya kepada kita, pertama-tama kita harus memiliki keyakinan yang mendalam di dalam hati bahwa Al-Qur'an memang merupakan Pesan terakhir dan final dari Allah (SWT) yang disampaikan kepada rasul terakhir-Nya ﷺ untuk membimbing umat manusia. Begitu kita memiliki keyakinan ini, sikap kita terhadap Al-Qur'an akan mengalami perubahan yang radikal. Begitu kita menyadari bahwa Al-Qur'an adalah Wahyu dari Tuhan kita, Pencipta kita, Zat Yang Maha Agung yang sekecil apa pun pemahaman tentang-Nya melampaui batas-batas imajinasi kita, cara berpikir kita akan sepenuhnya terrevolusi.
The crux of the matter is that if our belief in the Divine origin of the Qur'an remains a mere dogma, it will not bring about any change in our present conditions and in our attitude of cold indifference towards the Qur'an. If we wish to do justice to the Qur'an and fulfill the demands it makes from us, we should first of all have the deep inner conviction that the Qur'an is, indeed, the last and final Message of Allah (SW) delivered to the last of His messengers for the ,guidance of mankind. As soon as we come to have this conviction, our attitude towards the Qur'an will undergo a radical change. As soon as we realize that it is a Revelation from our Lord, our Creator, that Most Exalted Being Whose slightest apprehension transcends the bounds of our imagination,? our thinking will be completely revolutionized.
Kita kemudian akan merasa bahwa Al-Qur'an adalah nikmat terbesar bagi kita di bawah kolong langit ini. Membacanya akan menguatkan dan menyuburkan jiwa kita, dan merenungkan maknanya akan melembutkan hati dan menerangi akal kita. Sejak saat itu, kita tidak akan pernah merasa puas dengan mempelajarinya; dan bahkan setelah mencurahkan daya terbaik pikiran dan akal kita untuk melayaninya, serta mengabdikan seluruh hidup kita untuk merenungkan maknanya, kita tetap akan merasa belum mampu menunaikan hak Al-Qur'an yang mulia, kitab terbesar di antara kitab-kitab langit.
We shall then feel that the Qur'an is the greatest blessing for us under the sun. Its recitation will sustain and nourish our souls, and contemplation over its meanings will chasten our hearts and enlighten our minds. From that point onwards, we shall never feel satiated with its study; and even after dedicating the best powers of our mind and intellect to its service, and having devoted our whole life to meditation over its meanings, we shall feel that we have not been able to do justice to the Glorious Qur'an, the greatest of the heavenly books.
2 Menurut Abu Bakr Siddiq (RA), 'pemahaman yang paling jelas tentang Allah (SWT) yang mungkin dicapai manusia terletak pada pengakuan atas ketidakmampuan total untuk memahami-Nya.' Sayyidina Ali (RA) diriwayatkan telah menambahkan kalimat berikut pada ucapan tersebut, seolah melengkapi bait syair itu: 'dan mengkaji secara ingin tahu hakikat Dzat-Nya dapat menjerumuskan pada syirik.'
2 According to Abu Bakr Siddique (RAA). 'the clearest apprehension of Allah (SWT) possible to man lies in admitting one's total inability to apprehend Him.' Sayyidena Ali (RAA) is said to have made the following addition to these words, as if to complete the couplet: 'and to make an inquisitive probe into His being can lead to polytheism.'