Pendahuluan
Introduction
Pertumbuhan agnostisisme di dunia Barat belakangan ini sangat mencolok. Di Inggris dan Amerika Serikat, misalnya, terjadi peningkatan murtad dari agama Kristen yang belum pernah tercatat dalam sejarah modern. Pertumbuhan agnostisisme yang pesat sebagian besar bersamaan dengan menyebarnya Ateisme Baru. Tokoh-tokoh Ateisme Baru seperti Richard Dawkins, Sam Harris, Christopher Hitchens, dan Daniel Dennett dibedakan sama besarnya oleh gaya polemik dan substansi argumen mereka; ciri gaya utama mereka tampaknya adalah kemarahan terhadap dampak agama bagi masyarakat (Taylor). Selain kemarahan moral, para Ateis Baru umumnya menggunakan serangkaian argumen ilmiah dan keagamaan, mulai dari anggapan bahwa Darwinisme meniadakan argumen rancangan bagi keberadaan God, hingga argumen yang menyatakan bahwa agama telah dan terus menghambat perkembangan ilmu pengetahuan.
The growth of agnosticism in the Western world in recent times has been remarkable. In both the UK and US, to take just two examples, there has been an increase in Christian apostasy the like of which has never been recorded in recent history. The exponential growth of agnosticism has coincided, by and large, with the spread of New Atheism. New Atheists like Richard Dawkins, Sam Harris, Christopher Hitchens and Daniel Dennett are distinguished as much by polemical style as argumentative substance; their main stylistic distinguisher seemingly is outrage on the effects of religion on society (Taylor). Aside from moral outrage, New Atheists typically employ a series of scientific and religious arguments which range from postulating that Darwinism negates the design argument for God’s existence, to arguments suggesting that religion has and continues to inhibit scientific development.
Mengingat pergeseran demografis menuju agnostisisme di Barat, pertanyaan yang penting adalah seberapa efektif argumen-argumen ini selama ini.
Considering the demographic movement towards agnosticism in the West, the vital question is how effective have these arguments been?
Untuk mengatasi hal ini, saya akan berupaya menjelaskan argumen-argumen yang dikemukakan oleh para pembela ateisme. Dengan mendekati persoalan dari perspektif sejarah, saya juga akan membandingkan berbagai reaksi teologis (baik Kristen maupun Muslim) terhadap sains secara umum, dan mempertanyakan apakah narasi New Atheist tentang benturan antara sains dan agama benar-benar terwujud dalam sejarah. Selanjutnya, saya akan memaparkan pendekatan-pendekatan sosiologis yang berupaya menjelaskan proses sekularisasi, serta menilai sejauh mana pendekatan tersebut berguna untuk memahami gerakan menuju agnostisisme. Berikutnya, saya akan meneliti data demografis dan survei dengan fokus pada dunia berbahasa Inggris, dan memastikan apakah Muslim maupun Kristen sama-sama menjadikan sains (atau Darwinisme secara khusus) sebagai alasan untuk murtad. Akhirnya, saya akan menilai klaim-klaim ilmiah teologis yang saling bersaing dari kalangan Muslim dan Kristen, serta mengkaji bagaimana klaim-klaim tersebut disanggah melalui penggunaan media sosial oleh New Atheist untuk memajukan perjuangan mereka. Untuk tujuan ini, saya akan menggunakan program berbasis Python guna menganalisis akun Twitter lima pembela New Atheist selama satu tahun, serta interaksi orang-orang dengan cuitan-cuitan pada akun tersebut. Karena New Atheist sangat bergantung pada media sosial, lapisan analisis ini bertujuan mengungkap efektivitas argumen New Atheist terhadap individu religius, baik Kristen maupun Muslim, dalam konteks berbahasa Inggris.
To address this, I will strive to explain the arguments made by atheist apologists. By approaching the matter from a historical perspective, I will also compare various theological reactions (both Christian and Muslim) to science in general, and ask whether the New Atheist narrative of a clash between science and religion has manifested in history. I will subsequently describe the sociological approaches that seek to explain processes of secularisation and assess how useful these may be in understanding a movement towards agnosticism. Next, I will examine the demographic and survey data focusing on the English speaking world and establish whether Muslims and Christians both choose science (or Darwinism in particular) as reasons for apostasy. Finally, I will assess competing Muslim and Christian theological scientific claims and will examine how these claims are refuted by New Atheists’ use of social media to further their cause. To this end, I will use python-based programmes to assess the Twitter accounts of five New Atheist apologists for one year and the interaction people have with tweets on these accounts. Since New Atheists depend largely on social media, this layer of analysis aims to uncover the effectiveness of New Atheist arguments on religious individuals; both Christian and Muslim, in English speaking contexts.
Mengingat bahwa polemik New Atheist dimaksudkan sebagai serangan terhadap agama, sangat penting bagi para pemimpin agama Kristen maupun Islam untuk menyadari argumen-argumen New Atheist dan mampu menanggapinya. Di atas segalanya, para pemimpin agama memiliki kewajiban sosial untuk membina anggota jemaat mereka mengenai isu-isu yang mungkin tidak secara langsung bersifat teologis, tetapi yang memengaruhi teologi.
Given that New Atheist polemics are intended as an attack on religion, it is vital that both Christian and Muslim religious leaders are aware of and capable of responding to the arguments of the New Atheists. Above all, religious leaders have a social duty to edify their congregation members on issues which may not be directly theological, but which do impact theology.