Infiltrasi Dunia Muslim oleh Para Misionaris
The Infiltration Of The Muslim World By The Missionaries
Setelah berbagai upaya untuk menghadapi Negara Islam, kekuatan-kekuatan Eropa menyadari bahwa kaum Muslimin tidak dapat dikalahkan secara militer. Maka mereka mulai mencari cara lain untuk melemahkan dan mengalahkan kaum Muslimin. Pada akhirnya mereka menyimpulkan bahwa satu-satunya cara untuk mengalahkan kaum Muslimin adalah dengan merampas pemahaman mereka tentang Islam, sehingga Negara Islam runtuh dari dalam. Perdana Menteri Inggris yang keji, seorang Yahudi bernama Disraeli, pernah memegang sebuah salinan Al-Qur'an di House of Commons dan berkata bahwa kaum Muslimin tidak akan pernah dapat dikalahkan selama Al-Qur'an ini belum diambil dari mereka, sambil menunjuk ke arah Al-Qur'an. Yang ia maksud adalah bahwa pemahaman tentang Islam harus dirampas dari kaum Muslimin agar mereka dapat dikalahkan; dan inilah yang benar-benar mereka upayakan untuk dicapai.
After many attempts to take on the Islamic State, the European powers realised that the Muslims were militarily undefeatable. So they set about looking for other means of weakening and defeating the Muslims. They concluded at the end that the only way to defeat the Muslims was to take their understanding of Islam away from them, and thus cause the Islamic State to collapse from within. The vicious Jewish Prime Minister of Britain, Disraeli, once held a copy of the Qur’an in the House of Commons and said that the Muslims can never be defeated until this is taken from them, pointing to the Qur’an. What he meant was that the understanding of Islam must be taken away from the Muslims in order to defeat them; and this is exactly what they set out to achieve.
Menaburkan benih-benih beracun nasionalisme adalah awal dari kampanye baru itu.
Sowing the poisonous seeds of nationalism was the start of the new campaign.
Eropa berupaya mencapai tujuannya untuk menghancurkan Negara Islam dengan mengirimkan agen-agennya yang menyamar sebagai misionaris yang bergerak di bidang ilmu pengetahuan dan bantuan kemanusiaan.
Europe set out to achieve its objective of destroying the Islamic State by sending its agents disguised as missionaries involved in the field of science and humanitarian aid.
Invasi ini dirancang agar dinas intelijen politik dan departemen-departemen kolonial dapat menanamkan akarnya di jantung dunia Muslim. Kesalahan besar pada pihak Negara Islam adalah membiarkan para misionaris ini beroperasi dengan bebas, tanpa menyadari akibat-akibat yang akan segera menyusul.
This invasion was designed to allow the political intelligence and the colonial departments to establish their roots in the heart of the Muslim world. The great mistake on the part of the Islamic State was that it allowed these missionaries to operate freely, not realising the consequences that were about to follow.
Misi-misi ini, yang terdiri dari agen-agen Inggris, Prancis, dan Amerika, memiliki dua tujuan utama.
These missionaries, which consisted of British, French and American agents, had two main objectives.
i) Untuk menjauhkan kaum Muslimin dari pemahaman Islam yang benar, dengan menanamkan keraguan dan dugaan ke dalam benak kaum Muslimin mengenai 'aqidah mereka.
i) To distance the Muslims from the correct understanding of Islam, by inserting doubt and conjecture into the minds of the Muslims regarding their ‘aqeedah.
ii) Untuk menciptakan perpecahan di antara bangsa Turki, Persia, dan Arab. Hal ini dilakukan dalam bentuk benih beracun berupa nasionalisme.
ii) To create a rift between the Turks, the Persians and the Arabs. This was in the form of the poisonous seed of nationalism.