Sepenuhnya Bebaskan Hatimu untuk Ilmu dan Singkirkan Semua Rintangan
Completely Free Your Heart For Knowledge And Remove All Obstacles
Ibnul Qayyim (semoga Allah merahmatinya) berkata:
Ibn al-Qayyim (may Allah have Mercy on him) said:
"Mendapatkan apa yang kamu inginkan bergantung pada memutus kebiasaan dan keterikatan pada hal-hal lain."
“Getting what you want depends on cutting off habits and attachment to anything else.
Adat (kebiasaan) adalah ketika seseorang cenderung kepada apa yang lebih menyenangkan, seperti sistem-sistem dan tradisi-tradisi yang sudah biasa dijalani orang, lalu menempatkannya setara dengan Syari'ah. Bahkan, mereka mungkin memperlakukan adat-adat tersebut dengan penghormatan yang lebih besar daripada Syari'ah, dan mencela orang yang tidak mematuhinya, bahkan menyatakan orang tersebut sebagai kafir, pelaku bid'ah, atau sesat, serta memboikot dan menghukumnya karena menentang tradisi dan kebiasaan tersebut.
Habits are when one leans towards what is more relaxing, such as the systems and traditions that people are accustomed to and place at the same level as the Shari’ah. In fact, they might even treat these habits with greater reverence than the Shari’ah, and reprimand those who do not abide by them - even declaring such a person to be a disbeliever, innovator, or misguided, and boycotting and punishing him for going against these traditions and habits.
Demi tradisi-tradisi ini, mereka mematikan tradisi-tradisi Nabi ﷺ, dan membuat tradisi mereka sendiri sebagai sekutu baginya ﷺ, menyatakan persekutuan dan permusuhan karenanya. Maka, yang baik menurut mereka adalah apa yang sejalan dengan tradisi-tradisi ini, dan yang buruk adalah apa yang bertentangan dengannya.
For the sake of these traditions, they kill off the traditions of the Prophet (peace be upon him), and make their own traditions as partners with him (peace be upon him) – declaring alliance and enmity for them. So, the good in their eyes is what goes along with these traditions, and the bad is what contradicts them.
Kebiasaan dan tradisi ini telah menguasai berbagai golongan anak Adam: para raja, para pemimpin, para ahli fikih, kaum sufi, orang-orang miskin, para penguasa, dan masyarakat umum. Maka, anak-anak diajarkan kebiasaan-kebiasaan itu sejak dini, orang-orang tua dibesarkan di atasnya, dan kebiasaan-kebiasaan itu diperlakukan seperti sunnah. Bahkan, bagi orang-orang yang berpegang padanya, kebiasaan-kebiasaan itu lebih dipentingkan daripada sunnah. Siapa pun yang terikat oleh kebiasaan semacam itu akan terpenjara, terputus, tertimpa musibah besar, dan akhirnya meninggalkan Al-Qur'an dan Sunnah demi kebiasaan tersebut.
These habits and traditions have taken over various groups of the children of Adam – the kings, the leaders, the jurists, the Sufis, the impoverished, the authority figures, and the general populace. So, the young are taught them at an early age, and the old are raised upon them, and they are treated like sunan. Rather, they are more important in the eyes of those who abide by them than sunan. Whoever is restrained by such habits is imprisoned, cut off, afflicted with great misfortune, and end up abandoning the Qur’an and Sunnah for them.
Barangsiapa mencari kehormatan apa pun dari mereka, ia adalah orang yang bodoh di sisi Allah, dan barangsiapa mengikuti mereka dan meninggalkan Al-Qur'an dan Sunnah, maka ia tidak akan diterima oleh Allah. Inilah penghalang dan rintangan terbesar bagi seorang hamba dalam perjalanannya menuju Allah dan Rasul-Nya ﷺ.
Whoever seeks any type of honor with them is a fool with Allah, and whoever follows them instead of the Qur’an and Sunnah will not be accepted by Allah. These are the greatest barriers and obstacles for the slave on his journey to Allah and His Messenger (peace be upon him).
Adapun rintangan-rintangan ini, yaitu berbagai macam pertentangan lahiriah dan batiniah terhadap Syariat yang melukai hati dalam perjalanannya menuju Allah, membuatnya tidak bergerak, dan memutusnya di tengah jalannya. Rintangan itu ada tiga: syirik, bid'ah, dan dosa. Rintangan syirik diatasi dengan berpegang teguh pada Tauhid, rintangan bid'ah diatasi dengan menerapkan Sunnah, dan rintangan dosa diatasi dengan taubat yang sungguh-sungguh. Rintangan-rintangan ini tidak tampak bagi seorang hamba sampai ia benar-benar memulai perjalanannya menuju Allah dan Akhirat. Baru pada saat itulah rintangan-rintangan ini disadari, dan ia akan merasakan pengaruhnya yang melumpuhkan sesuai dengan seberapa sungguh-sungguh dan seberapa penuh perhatian ia menempuh jalan ini. Jika tidak, ia hanya akan tetap diam, tanpa merasakan pengaruh-pengaruhnya yang tersembunyi.
As for these obstacles, they are the many types of outer and inner contradictions to the Shari’ah that injure the heart upon its journey to Allah and render it immobile, and they cut it off on its path. They are three things: shirk, innovation, and sin. So, the obstacle of shirk is overcome by grasping onto Tawhid, and the obstacle of innovation is overcome by implementing the Sunnah, and the obstacle of sin is overcome by true repentance. These obstacles do not become evident to the slave until he actually begins his journey to Allah and the Hereafter. Only then are these obstacles noticed, and he will notice their handicapping effect in accordance with how intensely and attentively he is traversing this path. Otherwise, he will simply remain still, not feeling their hidden effects.
Adapun hubungan-hubungan yang harus diputus, yaitu hubungan hati dengan segala sesuatu yang dapat dilekati dan dikaitkan selain Allah dan Rasul-Nya ﷺ, berupa kenikmatan dan keinginan duniawi, ketenaran yang ditawarkannya, serta hubungan dengan sesama manusia. Ketiga hal ini tidak mungkin diputus dan disingkirkan kecuali dengan kekuatan keterikatan dan kelekatan pada tujuan yang lebih tinggi. Selain itu, memutus hal-hal tersebut tanpa melekatkan diri pada sesuatu yang lain adalah mustahil. Jiwa tidak akan meninggalkan objek yang dicintai dan diinginkannya kecuali untuk melekatkan diri pada sesuatu yang lebih dicintai dan lebih agung nilainya baginya daripada yang ditinggalkannya. Semakin kuat keterikatannya pada apa yang dicarinya, semakin lemah keterikatannya pada yang lain, dan sebaliknya. Keterikatan pada objek yang dicari itu tampak dalam kerinduan yang sangat kuat kepadanya, dan hal itu sesuai dengan seberapa banyak pengetahuan tentang objek tersebut, seberapa mulia objek itu, dan keutamaannya di atas segala sesuatu yang lain.44
As for the connections to cut off, these are to anything that the heart can be attached and connected to in place of Allah and His Messenger (peace be upon him) - of the pleasures and desires of this world, the fame it offers, and relationships with others. There is no way to cut off and push away these three things except with the strength of the connection and attachment to a higher goal. Otherwise, cutting these things off without attaching yourself to something else is impossible. The soul does not abandon the object it loves and desires except to attach itself to what is even more beloved and greater in importance to it than what it has abandoned. The stronger its connection becomes to what it seeks, the weaker its connection becomes to anything else, and vice versa. The connection to the object that is sought is manifested in the intense desire for it, and this is in accordance with how much is known of this object, how noble that object is, and its virtue over everything else.”44
Dan memang benar seperti yang dikatakan Ibnul Qayyim, bahwa untuk mencapai tujuan yang diinginkan, seseorang harus meninggalkan kebiasaan-kebiasaan keliru, memutus keterikatan dengan segala hal selain tujuan itu, dan mengatasi rintangan-rintangan untuk mewujudkannya. Dan sebagaimana beliau katakan juga, hal itu bergantung pada kuatnya keterikatan dan keinginan seseorang terhadap tujuan yang lebih tinggi. Maka, semakin besar keinginanmu terhadap sesuatu, semakin ringan pengorbanan yang engkau keluarkan, dan engkau pun merasa seolah-olah telah mencapai apa yang engkau cari.
And it is just as Ibn al-Qayyim said, as reaching your desired destination requires that you abandon your false habits, cut off connections to anything else, and overcome the obstacles to doing so. And it is just as he said in that it depends on the strength of your attachment and desire for a higher goal. So, the more your desire for something increases, the easier the sacrifice you put forth seems, and you feel as if you’ve already reached what you’re seeking.
Waktu untuk sampai ke sana tampak hanya beberapa hari saja, hanya beberapa keinginan untuk ditinggalkan – keinginan palsu yang seperti fatamorgana – sebagaimana al-Imam Ahmad (semoga Allah merahmatinya) berkata: "Jika seseorang mengingat kematian, maka segala sesuatu dari dunia ini tampak tidak berarti. Itu hanyalah satu jenis makanan sebagai pengganti jenis makanan lain, satu jenis pakaian sebagai pengganti jenis pakaian lain, dan hari-hari yang tersisa hanya sedikit." Maka, penuntut ilmu hendaknya memiliki keinginan yang besar terhadap Akhirat dan apa yang ada di sisi Allah, serta keterikatan yang kuat pada tujuan yang lebih tinggi. Ilmu sudah cukup menyibukkan dirinya dari kenikmatan dan gemerlap kehidupan ini, dan hari-hari yang tersisa hanya sedikit.
The time to get there seems like just a few days, just a few desires to give up – false desires that are like a mirage – just like al-Imam Ahmad (may Allah have Mercy on him) said: “If one remembers death, everything from this world seems insignificant. It is just one type of food instead of another, one type of dress instead of another, and the remaining days are only few.” So, the student of knowledge is one who should have a great desire for the Hereafter and what is with Allah, and a strong attachment to the higher goal. Knowledge is enough of a preoccupation from the pleasures and glitter of this life, and the remaining days are only few.
“Al-Ash’ath Abu ar-Rabi’ meriwayatkan bahwa Syu’bah berkata kepadanya: “Engkau tekun dengan bisnismu, lalu engkau menjadi kaya dan sukses. Aku tekun dengan Hadis, lalu aku menjadi miskin.” Sufyan bin ‘Uyaynah meriwayatkan bahwa Syu’bah berkata: “Siapa yang mempelajari Hadis, ia akan menjadi miskin.”
“al-Ash’ath Abu ar-Rabi’ narrated that Shu’bah said to him: “You stuck with your business, and you became wealthy and successful. I stuck with Hadith, and I became poor.” Sufyan bin ‘Uyaynah narrated that Shu’bah said: “Whoever studies Hadith will become poor.
Aku menjadi sangat miskin hingga aku menjual sebuah periuk milik ibuku seharga tujuh dinar." Az-Zubayr bin Abi Bakr berkata: "Keponakan perempuanku berkata kepada keluarga kami: "Pamanku adalah yang terbaik bagi keluarganya. Ia tidak mengambil istri kedua atau membeli budak." Maka aku berkata: "Istriku mengatakan bahwa buku-buku ini lebih menyibukkanku daripada tiga istri lainnya."."45
I became poor to the point that I sold a pot that belonged to my mother for seven dinars.” az-Zubayr bin Abi Bakr said: “My niece said to our family: “My uncle is the best to his family. He didn’t take a second wife or purchase a slave.” So, I said: “My wife says that these books of mine are more distracting for me than three other wives would be.”””45
at-Tahhan berkata:
at-Tahhan said:
Dengan pernyataannya, Syu'bah bermaksud menunjukkan kenyataan yang dialaminya, serta memberi nasihat kepada murid-muridnya – para penuntut ilmu Hadits – yang waktunya seluruhnya habis untuk menuntut ilmu. Mereka tidak mampu mencari nafkah yang dapat memenuhi kebutuhan diri mereka dan kebutuhan orang-orang yang menjadi tanggungan mereka, sehingga mereka menjadi beban bagi orang lain, padahal hal ini bertentangan dengan apa yang diperintahkan dalam Sunnah yang murni. Dan tidak boleh dipahami dari ucapan Syu'bah bahwa ia menyesali keuntungan duniawi yang terlewatkan olehnya, karena ia adalah seorang yang mulia dan zuhud, hingga al-Mahdi memberinya hadiah sebesar 30.000 dirham, lalu ia langsung membagikannya.
“With his statement, Shu’bah meant to show the reality of what happened to him, and to advise his students – the students of Hadith – whose studies drain all of their time. They are unable to earn the money that will fulfill their needs and the needs of those under their care, causing them to become a burden on people, and this is contrary to what is commanded in the pure Sunnah. And it should not be understood from the words of Shu’bah that he regretted the worldly gains he missed out on, as he was a noble and abstinent person, to the point that al-Mahdi gave him 30,000 dirhams as a gift, which he immediately distributed.
Barangsiapa ingin membaca lebih banyak tentang kemuliaan dan zuhud beliau, hendaknya merujuk kepada *Hilyat al-Awliya'* karya Abu Nu'aym (7/144-147). Demikian pula, tidak boleh dipahami dari ucapannya bahwa ia berupaya menghalangi orang untuk mempelajari Hadis. Sebaliknya, ia ingin mendorong mereka untuk mempelajari Hadis sekaligus mencari nafkah.”46 Sufyan bin 'Uyaynah berkata: "Tempat-tempat tinta ini tidak masuk ke rumah seorang pun kecuali membuat hidup istri dan anak-anaknya menjadi sulit." at-Tahhan berkata: "Tempat-tempat tinta yang dimaksud di sini adalah yang digunakan oleh para ahli Hadis, yang mereka bawa ke mana pun mereka pergi untuk menuliskan riwayat-riwayat yang mereka dengar."
Whoever wishes to read more about his nobility and zuhd, let him refer to Abu Nu’aym’s ‘Hilyat al-Awliya’’ (7/144-147). Likewise, it should not be understood from his words that he sought to discourage people from studying Hadith. Rather, he wanted to encourage them to study Hadith while simultaneously earning a living.”46 Sufyan bin ‘Uyaynah said: “These ink jars do not enter the home of any man except that they make life hard for his wife and children.” at-Tahhan said: “The ink jars referred to here are the ones used by the people of Hadith that they’d take with them wherever they went in order to write down the narrations they heard.
Yang dimaksud Sufyan adalah bahwa kebanyakan ahli hadis sibuk dengan menulis dan belajar sehingga mengabaikan mencari nafkah bagi keluarga mereka. Akibatnya, istri dan anak-anak mereka menjadi kekurangan dan berada dalam keadaan sulit karena tinta-tinta ini, yang menjadi penyebab kesibukan sehingga lalai mencari nafkah.” Ibnu Jama'ah berkata:
And what Sufyan meant was that most of the people of Hadith were preoccupied with writing and studying from earning a living for their families. As a result, their wives and children would be left in need, and would be left in a situation of hardship because of these ink jars that were the cause of preoccupation from earning a living.” Ibn Jama’ah said:
Seorang penuntut ilmu hendaknya memanfaatkan masa muda dan waktu luangnya dalam hidupnya untuk memperoleh ilmu sebanyak mungkin, dan janganlah ia tertipu oleh godaan untuk menunda-nunda urusannya ke hari lain.
“The student of knowledge should utilize his youth and free time in his life to gain as much as he can, and he should not be deceived by the temptation to put things off for another day.
Setiap jam yang berlalu dari hidupnya sangat berharga dan tidak akan tergantikan. Hendaknya ia memutus sebanyak mungkin hubungan yang mengalihkan perhatian dan rintangan-rintangan yang menghalangi ilmu yang ia cari, dan sebaliknya mengerahkan tenaga dan kemampuannya untuk memperoleh ilmu sebanyak mungkin, karena rintangan-rintangan tersebut seperti penghalang jalan di hadapannya.
Every hour that passes of his life is crucial and will not be replaced. He should cut off what he can of the distracting relationships and preventative obstacles that are in the way of the knowledge he seeks, and should instead exert his energy and power in gaining as much as he can, since these obstacles are like roadblocks in his way.
Inilah sebabnya para Salaf lebih memilih untuk menjauh dari keluarga dan tanah air mereka, karena jika perhatian seseorang terbagi-bagi, ia akan kehilangan penemuan rincian dan hakikat yang seharusnya bisa ia peroleh, dan Allah tidak memberikan dua hati dalam rongga dada seseorang. Al-Khatib al-Baghdadi menyebutkan dalam kitab *Al-Jami'*-nya bahwa sebagian dari mereka berkata: "Ilmu ini tidak akan diberikan kecuali kepada orang yang menutup pabriknya, merusak kebunnya, meninggalkan teman-temannya, dan kerabat dekatnya telah meninggal, sehingga ia tidak perlu menghadiri pemakaman." Meskipun ungkapan ini mungkin mengandung sedikit berlebihan, maksudnya adalah bahwa seseorang harus mengumpulkan pikiran dan konsentrasinya untuk ilmu ini.47
This is why the Salaf preferred to move far from their families and homelands, because if one’s concerns become spread out, he will miss out on discovering details and realities that he would’ve otherwise come across, and Allah did not give a man two hearts in his chest. al- Khatib al-Baghdadi mentioned in his ‘Jami’’ that some of them said: “This knowledge is not granted except to he who shuts down his factory, destroys his garden, abandons his friends, and whose closest relatives have died, such that he does not have to attend a funeral.” While this may contain some degree of exaggeration, the point is that one must gather his thoughts and concentration for this knowledge.”47
Perlu disebutkan bahwa dengan memutus diri dari urusan duniawi, seseorang tidak boleh mengabaikan orang-orang yang berada dalam tanggungannya, atau duduk diam tanpa berusaha mencari nafkah, sehingga hidupnya bergantung pada belas kasihan orang lain yang bisa memberi atau menahan pemberian kepadanya. Asy-Syafi'i berkata: "Jangan meminta pendapat kepada orang yang di rumahnya tidak ada tepung, karena ia tidak memiliki logika yang sehat." Yang dimaksud dengan memutus diri dari berbagai kesibukan adalah melepaskan diri dari hal-hal yang tidak dibutuhkan, sambil tetap seimbang dalam mencari penghidupan, serta membebaskan hati dan tenaga untuk mencari ilmu. Sebagaimana Abu Yusuf al-Qadi berkata: "Ilmu tidak akan memberikan sedikit pun darinya kepadamu sampai engkau memberikan seluruh dirimu kepadanya." Dan Rasulullah ﷺ bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Tsauban: "Dinar terbaik adalah dinar yang dibelanjakan seseorang untuk keluarganya, dinar yang ia belanjakan untuk hewan tunggangannya di jalan Allah, dan dinar yang ia belanjakan untuk sahabat-sahabatnya di jalan Allah." Abu Qilabah (salah seorang perawi) berkata: "Beliau memulai dengan keluarga. Siapakah yang pahalanya lebih besar daripada orang yang membelanjakan untuk anak-anaknya demi menjaga mereka, dan melalui dirinya Allah memberikan keuntungan bagi mereka serta membuat mereka berkecukupan?"48
It should be mentioned that by cutting himself off, one is not supposed to neglect those under his care or sit back from working to make a living, living at the mercy of those who would give or withhold from him. ash-Shafi’i said: “Do not consult one who does not have flour in his home, as he is devoid of sound logic.” Rather, what is meant by cutting yourself off from distractions is those things you are not in need of, while being balanced in seeking a living and freeing your heart and energy for seeking knowledge. It is as Abu Yusuf al-Qadi said: “Knowledge is something that will not give you even a fraction of itself until you give it all of yourself.” And the Messenger of Allah (peace be upon him) said, as Thawban narrated: “The best dinar is one that a person spends on his family, and the dinar which he spends on his animal for the Sake of Allah, and the dinar he spends on his companions for the Sake of Allah.” Abu Qilabah (one of the narrators) said: “He started with family. Who has greater reward than the one who spends on his children to preserve them, and through whom Allah brings profit for them and makes them rich?”48
Dan Abu Hurairah (radhiyallahu 'anhu) meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Dari dinar yang kamu infakkan di jalan Allah, untuk memerdekakan budak, sebagai sedekah kepada orang yang membutuhkan, atau untuk menafkahi keluargamu, yang paling besar pahalanya adalah yang kamu nafkahkan untuk keluargamu."49
And Abu Hurayrah (may Allah be Pleased with him) narrated the Messenger of Allah (peace be upon him) as saying: “Of the dinar you spend as a contribution for Allah's Sake, to set free a slave, as a charity given to a needy, or to support your family, the one with the greatest reward is that which you spend on your family.”49
Khaythamah berkata: "Ketika kami duduk bersama 'Abdullah bin 'Umar, qahraman-nya datang. Ibnu 'Umar bertanya kepadanya: "Apakah engkau sudah memberikan perbekalan kepada para budak?" Ia menjawab: "Belum." Maka ia berkata: "Pergilah dan berikan kepada mereka, karena Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah seseorang dianggap berdosa jika ia menahan perbekalan dari orang-orang yang berada di bawah tanggungannya."" 50 An-Nawawi berkata: "Qahraman adalah bendahara yang bertanggung jawab atas urusan orang banyak, mirip dengan wakil atau perwakilan, dan ini adalah kata dalam bahasa Persia."51
Khaythamah said: “While we were sitting in the company of 'Abdullah bin 'Umar, his qahraman entered. Ibn 'Umar asked him: “Have you given the slaves their provision?” He replied: “No.” Upon this, he said: “Go and give it to them, as the Messenger of Allah (peace be upon him) said: “It is enough of a sin for a man that he withholds provision from those under his authority.””50 an-Nawawi said: “And a qahraman is a treasurer that is responsible for the affairs of the people, much like a delegate or representative, and this is a Persian word.”51
Dan Sufyan ats-Tsauri, jika seseorang datang kepadanya untuk menuntut ilmu, ia akan bertanya: "Apakah kamu punya cara untuk menopang dirimu secara finansial?" Jika orang itu punya cukup untuk menafkahi dirinya, ia akan membolehkannya belajar. Jika tidak, ia akan menyuruhnya pergi mencari nafkah terlebih dahulu.52
And Sufyan ath-Thawri, if a man came to seek knowledge with him, would ask: “Do you have some way of sustaining yourself financially?” If he had enough to support himself, he would allow him to study. If he didn’t, he would have him go earn a living first.52
Jika demikian, maka kita seharusnya memahami teks-teks para Salaf yang menanggung kemiskinan demi mencari ilmu sebagai berarti bahwa mereka hanya memiliki apa yang mereka butuhkan untuk menghidupi diri dan keluarga mereka, dan bahwa yang mereka hindari adalah menghabiskan berjam-jam tenggelam dalam pengejaran dunia dan gemerlapnya. Bahkan, para Salaf begitu mencintai ilmu sehingga hal ini memengaruhi aspek duniawi kehidupan mereka, sebagaimana al-Bukhari meriwayatkan bahwa Abu Hurairah berkata: “Kalian mengatakan bahwa Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ, dan kalian bertanya mengapa kaum Muhajirin dan Anshar tidak meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ sebanyak yang diriwayatkan Abu Hurairah? Saudara-saudaraku dari kalangan Muhajirin sibuk dengan perdagangan mereka di pasar, dan aku selalu menyertai Rasulullah ﷺ, merasa cukup dengan apa yang mengenyangkan perutku, dan aku hadir ketika mereka tidak hadir, dan aku menghafal ketika mereka lupa. Saudara-saudaraku dari kalangan Anshar sibuk dengan harta mereka, dan aku adalah seorang miskin dari golongan Ahlus-Suffah, mengingat riwayat-riwayat yang mereka lupakan. Dan Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Tidak ada seorang pun yang membentangkan kainnya hingga aku selesai dengan ucapanku ini lalu mengumpulkannya kembali ke dadanya, kecuali ia akan mengingat apa pun yang aku katakan.’ Maka aku membentangkan kain berwarna yang sedang kukenakan hingga Rasulullah ﷺ selesai dengan pernyataannya, lalu aku mengumpulkannya ke dadaku. Maka aku tidak pernah lupa sedikit pun dari riwayat-riwayat ini.”53
If this is so, we should then interpret the texts of the Salaf withstanding poverty to seek knowledge to mean that they had just what they needed to sustain themselves and their families, and that what they tried to avoid was spending hours drowning in the pursuit of the dunya and its glitter. In fact, the Salaf loved knowledge so much that this affected the worldly aspect of their lives, as al-Bukhari reported that Abu Hurayrah said: “You say that Abu Hurayrah narrates too much from the Messenger of Allah (peace be upon him), and you ask why the Mujahirin and Ansar do not narrate from the Messenger of Allah (peace be upon him) as much as Abu Hurayrah does? My brothers from the Muhajirin were busy with their business in the marketplace, and I would stick with the Messenger of Allah (peace be upon him), content with what filled my stomach, and I was there when they were not, and I would memorize if they would forget. My brothers from the Ansar were busy with their wealth, and I was a poor man of the people of as-Suffah, remembering the narrations that they used to forget. And the Messenger of Allah (peace be upon him) said: “Nobody spreads his garment until I have finished this speech and then gathers it to him except that he will remember whatever I say.” So, I spread my colored garment which I was wearing until Allah's Messenger (peace be upon him) had finished his statement, and then I gathered it to my chest. So, I did not forget any of these narrations.”53
Dia juga berkata: “Dahulu aku menyertai Nabi ﷺ hanya untuk mengisi perutku, dan itu di masa ketika aku tidak makan roti yang dipanggang atau mengenakan pakaian yang dihias. Tidak ada seorang laki-laki maupun perempuan yang melayaniku, dan aku dahulu mengikatkan batu di atas perutku, serta meminta seseorang membacakan satu ayat dari Al-Qur’an untukku, padahal aku sudah mengetahuinya.”54
He also said: “I used to accompany the Prophet (peace be upon him) to fill my stomach, and that was when I did not eat baked bread or wear decorated clothes. No man or woman would serve me, and I used to bind stones over my belly and ask somebody to recite a verse from the Qur’an for me, even though I knew it.”54
Dan al-Bukhari memberi judul sebuah bab dalam bagian ilmu di dalam kitab Shahih-nya dengan ‘Bab: Menghafal Ilmu’, dan beliau memasukkan di dalamnya kisah Abu Hurairah: “Orang-orang mengatakan bahwa Abu Hurairah banyak meriwayatkan hadits. Seandainya bukan karena dua ayat dalam Kitab Allah, niscaya aku tidak akan meriwayatkan satu hadits pun:
And al-Bukhari titled a chapter in the section on knowledge in his ‘Sahih’ ‘Chapter: the Memorization of Knowledge,’ and he included in it the story of Abu Hurayrah: “The people say that Abu Hurayrah narrates too much. Were it not for two verses in the Book of Allah, I wouldn’t have narrated a single hadith:
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan bukti-bukti yang jelas, keterangan-keterangan, dan petunjuk yang telah Kami turunkan setelah Kami menjelaskannya kepada manusia dalam Kitab, mereka itulah yang dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh mereka yang melaknat, kecuali orang-orang yang bertobat, memperbaiki diri, dan menerangkan (kebenaran) yang mereka sembunyikan. Maka terhadap mereka itu Aku menerima tobat mereka, dan Akulah Yang Maha Menerima tobat, Maha Penyayang.}55
{“Verily, those who conceal the clear proofs, evidences, and guidance which We have sent down after We have made it clear for the people in the Book, they are the ones cursed by Allah and cursed by the cursers, except those who repent and do righteous deeds, and openly declare the truth which they concealed. These, I will accept their repentance, and I am the One Who accepts repentance, the Merciful.”}55
Sesungguhnya saudara-saudara kami dari kalangan Muhajirin sibuk dengan pasar, dan saudara-saudara kami dari kalangan Anshar sibuk dengan harta mereka, sedangkan Abu Hurairah selalu menyertai Rasulullah ﷺ, merasa cukup dengan apa yang mengisi perutnya, menghadiri apa yang tidak mereka hadiri, dan menghafal apa yang tidak mereka hafal.56
Indeed, our brothers from the Muhajirin were busy with the marketplace, and our brothers from the Ansar were busy with their wealth, and Abu Hurayrah stuck with the Messenger of Allah (peace be upon him), content with what was in his stomach, attending what they did not attend, and memorizing what they did not memorize.”56
Al-Hafidh Ibnu Hajar (rahimahullah) berkata:
al-Hafidh Ibn Hajar (may Allah have Mercy on him) said:
"Ia tidak memasukkan dalam bab ini apa pun mengenai siapa pun selain Abu Hurairah, dan hal itu karena ia adalah sahabat yang paling banyak menghafal hadis. Asy-Syafi'i berkata: "Abu Hurairah adalah yang paling banyak menghafal di antara seluruh perawi pada masanya." Dan Ibnu 'Umar berdiri di dekat jenazahnya, memohonkan rahmat Allah baginya, seraya berkata: "Ia dahulu menghafal sabda-sabda Nabi ﷺ untuk kaum Muslimin.""57
“He did not include in this chapter anything regarding anyone but Abu Hurayrah, and this is because he was the Companion who memorized the most hadith. ash-Shafi’i said: “Abu Hurayrah memorized the most out of all the narrators of his time.” And Ibn ‘Umar stood at his funeral, invoking Allah’s Mercy for him, saying: “He would memorize the statements of the Prophet (peace be upon him) for the Muslims.””57
An-Nawawi (semoga Allah merahmatinya) berkata:
an-Nawawi (may Allah have Mercy on him) said:
“Perkataannya “…merasa cukup dengan apa yang ada di perutnya…” berarti bahwa ia tetap bersama Nabi ﷺ, merasa puas dengan apa yang ia butuhkan untuk menopang hidupnya, dan tidak berusaha mengumpulkan harta untuk ditabung.”58
“His saying “…content with what was in his stomach…” means that he stuck with the Prophet (peace be upon him), satisfied with what he needed to sustain himself, and was not concerned with gathering money to save up.”58
Ibnu Katsir meriwayatkan dari Sa'id bin Hind bahwa Abu Hurairah berkata: Nabi ﷺ bersabda kepadanya: "Tidakkah engkau bertanya kepadaku tentang harta rampasan perang ini sebagaimana yang telah ditanyakan oleh para sahabatmu kepadaku?" Maka Abu Hurairah berkata: "Aku memohon kepadamu agar engkau mengajarkan kepadaku dari apa yang telah Allah ajarkan kepadamu."59
Ibn Kathir repored from Sa’id bin Hind that Abu Hurayrah said that the Prophet (peace be upon him) said to him: “Will you not ask me about this war booty that your companions have asked me about?” So, Abu Hurayrah said: “I ask you to teach me from what Allah has taught you.”59
Abu Hurairah (radhiyallahu 'anhu) menghafal hadis paling banyak di antara para Sahabat Nabi ﷺ meskipun waktu kebersamaannya dengan beliau ﷺ singkat. Hal itu karena pendapat yang umum diterima menyebutkan bahwa ia memeluk Islam pada tahun ketujuh setelah hijrah, di antara peristiwa Hudaibiyah dan Khaibar. Saat itu usianya sekitar tiga puluh tahun, dan ia senantiasa bersama Rasulullah ﷺ hingga beliau wafat. Maka, ia paling banyak menghafal dan meriwayatkan, padahal ia hanya menemani Nabi ﷺ tidak lebih dari tiga tahun. Semua itu karena ia tulus dalam ilmu ini, melepaskan diri dari belenggu dunia, dan membebaskan hatinya dari segala kesibukan dan kepedulian lainnya.
Abu Hurayrah (may Allah be Pleased with him) memorized the most hadith of the Companions of the Prophet (peace be upon him) despite the short time in which he accompanied him (peace be upon him), as what is commonly accepted is that he accepted Islam in the 7th year after the Hijrah, sometime between the incidents of al-Hudaybiyah and Khaybar. He was around 30 years of age at the time, and he was always with the Messenger of Allah (peace be upon him) until he died. So, he memorized and narrated the most, despite the fact that he only accompanied the Prophet (peace be upon him) for not more than three years. This was all because he was sincere with this knowledge, threw off the shackles of this world, and freed his heart from all other distractions and concerns.
Maka, penuntut ilmu harus memutus segala gangguan, karena jika konsentrasinya terpecah ke sana kemari, ia akan kehilangan banyak hal yang dapat ia temukan. Para Salaf mendahulukan ilmu di atas segala sesuatu yang lain. Misalnya, diriwayatkan bahwa al-Imam Ahmad (semoga Allah merahmatinya) tidak menikah hingga setelah berusia 40 tahun! Dan seorang budak perempuan pernah dihadiahkan kepada Abu Bakr al-Ambari. Suatu kali ketika perempuan itu masuk menemuinya, ia sedang berusaha menarik kesimpulan dari suatu persoalan, dan ia mengalami kesulitan dalam hal itu. Maka ia berkata: "Kembalikan dia kepada pedagangnya." Perempuan itu bertanya: "Mengapa? Apa salahku?" Ia menjawab: "Tidak ada, hanya saja hatiku teralihkan karenamu, dan engkau tidak layak membuatku terhalang dari ilmuku."60
“So, the student of knowledge should cut off all distractions, because if one’s concentration is spread here and there, he will miss out on discovering many things. The Salaf would put preference to knowledge over and above everything else. For example, it was narrated that al-Imam Ahmad (may Allah have Mercy on him) did not get married until after he was 40! And a slave girl was given as a gift to Abu Bakr al-Ambari. When she entered upon him one time, he was in the middle of trying to come to a conclusion on an issue, and had trouble doing so. So, he said: “Take her back to the trader.” She asked: “Why? What did I do?” He replied: “Nothing, except that my heart was distracted by you, and you are not worth me being prevented from my knowledge.”60
Asy-Syafi'i (semoga Allah merahmatinya) berkata: "Tidak akan berhasil orang yang menuntut ilmu ini sementara ia kaya dan tinggi kedudukannya. Akan tetapi, orang yang berhasil adalah mereka yang menuntutnya dalam keadaan rendah hati, hidup sederhana, dan melayani para ulama." Dan Ibnu Wahb meriwayatkan bahwa Malik bin Anas (semoga Allah merahmatinya) berkata: "Tidak akan memperoleh apa yang ia inginkan dari ilmu ini seseorang hingga ia merasakan kemiskinan yang membuatnya lebih memilih ilmu di atas segala sesuatu."61
ash-Shafi’i (may Allah have Mercy on him) said: “Nobody who seeks this knowledge while he is wealthy and high in status will succeed. Rather, those who seek it while they are humble, having a low standard of living, and are serving the scholars will succeed.” And Ibn Wahb narrated that Malik bin Anas (may Allah have Mercy on him) said: “Nobody will get what he wants from this knowledge until he experiences poverty that causes him to prefer it over anything.”61
44 ‘al-Fawa’id’ (hlm. 204)
44 ‘al-Fawa’id’ (p. 204)
"al-Jami' li Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami'" (1/99)
45 ‘al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami’’ (1/99)
46 at-Tahhan’s commentary on al-Khatib’s ‘Jami’’ (1/99)
46 at-Tahhan’s commentary on al-Khatib’s ‘Jami’’ (1/99)
47 ‘Tadhkirat as-Sami’ wal-Mutakallim’ (hlm. 70)
47 ‘Tadhkirat as-Sami’ wal-Mutakallim’ (p. 70)
Sahih Muslim (994)
48 ‘Sahih Muslim’ (994)
49 ‘Sahih Muslim’ (995)
49 ‘Sahih Muslim’ (995)
Sahih Muslim (996)
50 ‘Sahih Muslim’ (996)
51 ‘Sharh Sahih Muslim’ (7/82)
51 ‘Sharh Sahih Muslim’ (7/82)
52 ‘al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami’’ (1/98)
52 ‘al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami’’ (1/98)
al-Bukhari (2047, 2350, dan 7354) dan Muslim (2492)
53 al-Bukhari (2047, 2350, and 7354) and Muslim (2492)
54 'Sahih al-Bukhari' (5432)
54 ‘Sahih al-Bukhari’ (5432)
55 al-Baqarah; 159-160
55 al-Baqarah; 159-160
56 ‘Sahih al-Bukhari’ (118)
56 ‘Sahih al-Bukhari’ (118)