Makan, Tidur, dan Berbicara Sejarang Mungkin
Eat, Sleep, And Speak As Seldom As Possible
Sebelumnya kita telah menyinggung bahwa penuntut ilmu hendaknya makan sedikit dan dari yang halal, "dan cara melatih diri untuk mengalahkan keinginan perut adalah dengan membiasakan diri merasa puas dengan sedikit. Maka, hendaknya seseorang secara perlahan dan bertahap mengurangi asupan makanannya hingga ia mencapai tingkat yang sedang, dan sebaik-baik urusan adalah yang pertengahan.
We previously touched upon the fact that the student of knowledge should eat little and from what is halal, “and the way to train oneself to overcome the desire of the stomach is to get used to being satisfied with little. So, one should slowly and gradually reduce his food intake so that he arrives at a moderate level, and the best of affairs are the moderate ones.
Ia membatasi dirinya hanya sebatas yang cukup agar tidak terhalang dari ibadah, dan ia mampu menjaga kekuatannya. Ia tidak boleh merasa lapar maupun kenyang. Hanya dengan demikian tubuhnya akan menjadi sehat, cita-citanya menjadi tinggi, dan hatinya menjadi jernih. Jika ia makan lebih dari ini, ia akan terdorong untuk lebih banyak tidur, dan kecerdasannya akan menurun.86
He cut himself down to just enough that he is not prevented from worship, and is able to preserve his strength. He should feel neither hungry nor full. Only then will his body become healthy, his aspirations high, and his conscience clear. If he eats any more than this, he will be driven to sleep more, and will have lower intellect.”86
Adapun makanan Anda yang halal, ini wajib bagi setiap Muslim, dan lebih wajib lagi bagi penuntut ilmu, karena penuntut ilmu adalah benteng pengetahuan tentang apa yang halal dan haram. Kita telah menyinggung masalah kehati-hatian dalam makanan dan minuman, dan bagaimana Nabi ﷺ menahan diri dari memakan sebuah kurma yang beliau temukan di atas tempat tidurnya karena khawatir bahwa kurma itu berasal dari sedekah, sedangkan sedekah tidak halal bagi beliau ﷺ.
As for your food being halal, this is required of every Muslim, and is even more required of the student of knowledge, as the student of knowledge is the bastion of knowledge of what is halal and haram, and we’ve already touched upon the issue of caution when it comes to food and drink, and how the Prophet (peace be upon him) held back from eating a date that he found on his bed out of fear that it was from the charity, since charity was not permissible for him (peace be upon him).
Maka, penuntut ilmu terlalu sibuk untuk memikirkan makanan dan minuman, dan orang yang melihat tembus kemilau kehidupan dunia ini tidak akan gemuk. Bahkan, semangatnya membuatnya lupa untuk makan banyak. Inilah Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah, yang "tidak pernah terdengar meminta makanan - makan siang maupun makan malam - betapapun lamanya ia sibuk dengan suatu urusan yang berkaitan dengan ilmu dan amal. Bahkan, terkadang ia diberi makanan, lalu ia membiarkannya dalam waktu lama sebelum menyentuhnya, dan jika ia makan darinya, ia hanya memakan sedikit suapan. Ia tidak pernah menyebut-nyebut kenikmatan dunia ini, dan tidak pernah berbicara atau bertanya tentangnya. Bahkan, seluruh perhatian dan pembicaraannya hanyalah dalam mencari akhirat dan apa yang dapat mendekatkannya kepada Allah Yang Maha Tinggi."87
So, the student of knowledge is too busy to think of food and drink, and the one who sees through the glitter of this life will not be fat. Rather, his passion makes him forget to eat a lot. Here is Shaykh al-Islam Ibn Taymiyyah, who “was never heard asking for food - dinner or supper – no matter how long he remained busy with some matter related to knowledge and action. Rather, he would sometimes be given food that he would leave for a long time before even turning to it, and if he ate from it, would only eat small bits. He would never mention the delights of this world, and would never speak or ask about it. Rather, all of his concern and conversation was in seeking the Hereafter and what could bring him closer to Allah, the Exalted.”87
An-Nu'man bin Basyir meriwayatkan bahwa 'Umar bin al-Khattab (semoga Allah ridha kepada keduanya) menyebutkan kemiskinan yang menimpa orang-orang, dengan berkata: "Aku melihat Rasulullah ﷺ menghabiskan sepanjang hari dalam keadaan gelisah karena lapar, sebab beliau tidak mendapatkan bahkan kurma berkualitas rendah untuk mengisi perutnya."88
an-Nu’man bin Bashir narrated that ‘Umar bin al-Khattab (may Allah be pleased with them both) was mentioning the poverty that the people had become stricken with, saying: “I saw the Messenger of Allah (peace be upon him) spend the whole day upset because of hunger, as he could not get even low quality dates with which to fill his stomach.”88
Abu Hurayrah melewati sekelompok orang yang sedang makan daging domba panggang, lalu mereka mengajaknya duduk dan makan bersama. Ia menolak seraya berkata: "Rasulullah ﷺ meninggalkan dunia ini tanpa pernah sekalipun merasa kenyang dengan roti gandum."89
Abu Hurayrah passed by a group of people who were eating a roasted sheep, and they invited him to sit and eat with them. He refused, saying: “The Messenger of Allah (peace be upon him) left this world without even satisfying his hunger with barley bread.”89
Dan Anas bin Malik (radhiyallahu 'anhu) berkata: "Nabi ﷺ tidak pernah makan di atas meja makan atau di piring pribadi, dan beliau tidak pernah makan roti tipis yang dipanggang dengan baik hingga beliau wafat."90
And Anas bin Malik (may Allah be Pleased with him) said: “The Prophet (peace be upon him) never ate his meals at a dining table or in an individual plate, and he never ate thin, well-baked bread until he died.”90
- Tidur -
- Sleeping -
Adapun tidur: "Penuntut ilmu hendaknya mengurangi tidurnya sebanyak yang ia mampu tanpa merugikan tubuh dan pikirannya, dan ia tidak boleh tidur lebih dari delapan jam semalam – sepertiga dari waktunya – dan jika ia mampu tidur kurang dari itu, maka hendaklah ia melakukannya."91
As for sleeping: “The student of knowledge should reduce it as much as he can without hurting his body and mind, and he should not sleep more then eight hours a night – one third of his time – and if he is able to sleep less than this, he should.”91
az-Zarnuji (semoga Allah merahmatinya) berkata:
az-Zarnuji (may Allah have Mercy on him) said:
Al-Hasan bin Ziyad mulai menuntut ilmu pada usia 80 tahun, dan selama empat puluh tahun, ia tidak pernah tidur semalam penuh di atas ranjangnya, dan Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani tidak tidur di malam hari.
“al-Hasan bin Ziyad began studying at the age of 80, and for forty years, he did not sleep an entire night on his bed, and Muhammad bin al-Hasan ash-Shaybani would not sleep at night.
Dia biasa meletakkan buku-bukunya di hadapannya, dan jika ia merasa bosan dengan satu buku, ia beralih ke buku lain. Ia juga meletakkan di hadapannya sebuah wadah berisi air yang ia gunakan untuk menjaga dirinya tetap terjaga, sambil berkata: "Tidur berasal dari panas, dan seseorang harus menolaknya dengan air dingin."92
He would place his books in front of him, and if he became bored of one book, he’d move on to another. He would also place in front of him a container of water that he’d use to keep himself awake, saying: “Sleep comes from heat, and one must repel it with cold water.””92
Dan Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian pergi tidur, setan mengikat tiga simpul di tengkuknya, dan pada setiap simpul ia membacakan: ‘Malam masih panjang, maka tidurlah.’ Maka jika ia bangun dan menyebut nama Allah, satu simpul terlepas. Jika ia berwudu, dua simpul terlepas. Dan jika ia shalat, terlepaslah seluruh simpul, sehingga di pagi hari ia menjadi bersemangat dan berjiwa baik. Jika tidak, ia menjadi pagi dalam keadaan buruk dan malas.”
And Abu Hurayrah narrated that the Prophet (peace be upon him) said: “When any one of you goes to sleep, Satan ties three knots at the back of his neck, sealing each knot by saying: ‘You have a long night. So, sleep.’ So, if one wakes up and mentions Allah, a knot is loosened. If he performs ablution, two knots are loosened. And if he prays, all the knots will be loosened, and in the morning he will be active and in a good mood.
- Diam -
- Silence -
Adapun tentang mengurangi tingkat bicara, Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam."99
As for reducing your level of speech, the Prophet (peace be upon him) said: “Whoever believes in Allah and the Last Day, let him say what is good or remain silent.”99
an-Nawawi berkata:
an-Nawawi said:
Ini berarti bahwa jika seseorang ingin mengatakan sesuatu, hendaknya ia memikirkan terlebih dahulu apakah yang ingin ia katakan itu benar-benar baik dan terpuji, wajib, atau dianjurkan. Jika demikian, hendaknya ia mengatakannya. Jika ia tidak melihat bahwa itu baik dan terpuji, hendaknya ia tidak mengatakannya, baik itu haram, makruh, ataupun mubah – semuanya sama saja. Dalam hal ini, ucapan yang pada umumnya diperbolehkan hendaknya dihindari karena khawatir hal itu dapat mengarah kepada ucapan yang haram atau makruh, dan hal ini sering terjadi. Berdasarkan hadits ini, al-Imam asy-Syafi'i (semoga Allah meridhainya) berkata: jika engkau ingin mengatakan sesuatu, maka hendaklah ia berpikir. Jika engkau menyimpulkan bahwa tidak ada bahayanya, maka bicaralah.
“This means that if one wants to say something, he should to whether what he wants to say is definitely good and praiseworthy, obligatory or encouraged. If so, he should say it. If he doesn’t see that it is good and praiseworthy, he should not say it, whether it is forbidden, disliked, or permissible – they are all the same. In this case, speech which is normally allowed should be avoided out of fear that it can lead to forbidden or disliked speech, and this happens a lot. Based on this hadith, al-Imam ash-Shafi’i (may Allah be Pleased with him) said that if you wish to say something, let him think. If you conclude that there is no harm, speak.
"Jika engkau menyimpulkan bahwa ucapanmu akan mendatangkan bahaya, maka janganlah berbicara."100
If you conclude that your words will bring about harm, do not speak.”100
Ibnu Hajar (semoga Allah merahmatinya) berkata:
Ibn Hajar (may Allah have Mercy on him) said:
"Dan ini termasuk dari kemampuannya ﷺ dalam menggabungkan banyak makna dalam kata-kata yang sedikit, karena setiap ucapan itu baik, buruk, atau condong kepada salah satu dari keduanya. Termasuk dalam ucapan yang baik adalah segala sesuatu yang wajib atau dianjurkan, dan beliau ﷺ membolehkan ucapan ini meskipun berbagai jenisnya, begitu pula apa pun yang dapat mengarah kepadanya. Adapun ucapan yang buruk atau yang dapat mengarah kepada hal buruk, beliau ﷺ memerintahkan kita untuk diam apabila kita ingin terlibat di dalamnya."
- Dosa-Dosa Lisan -
- The Sins Of The Tongue -
Ibnu Qudamah (semoga Allah merahmatinya) berkata:
Ibn Qudamah (may Allah have Mercy on him) said:
"Dosa-dosa lisan itu banyak. Ia memiliki cita rasa tertentu di dalam hati, dan muncul dari watak seseorang. Tidak ada jalan untuk selamat dari bahayanya kecuali dengan diam. Abu ad-Darda' (semoga Allah meridhainya) berkata: "Gunakanlah telingamu lebih banyak daripada mulutmu, karena engkau diberi dua telinga dan satu mulut agar engkau lebih banyak mendengar daripada berbicara," dan Makhlad bin al-Husayn berkata: "Selama lima puluh tahun, aku tidak pernah mengucapkan satu kata pun yang kusesali." Adapun dosa-dosa lisan adalah sebagai berikut:"
“The sins of the tongue are many. They have a certain taste in the heart, and they spring forth from a person’s nature. There is no way to be saved from their danger except to remain silent. Abu ad-Darda’ (may Allah be Pleased with him) said: “Use your ears more than your mouth, as you were given two ears and one mouth so that you’d listen more than you talk,” and Makhlad bin al-Husayn said: “For fifty years, I haven’t spoken a single word that I regret.” As for the sins of the tongue, they are:
• Berbicara tentang hal yang tidak menjadi urusanmu:
• Speaking about what does not concern you:
Ketahuilah bahwa orang yang menghargai waktunya tidak akan menyia-nyiakannya untuk hal-hal yang tidak mendatangkan manfaat baginya. Kesadaran ini mengharuskan dirinya untuk menahan lisannya dari hal-hal yang bukan urusannya. Sebab, orang yang meninggalkan dzikir kepada Allah dan malah sibuk dengan hal-hal yang bukan urusannya seperti orang yang mampu membeli permata, tetapi justru membeli lumpur. Dan inilah kerugian seumur hidup.
Know that he who values his time will not waste it in what doesn’t benefit him, and this is a realization that mandates the imprisonment of the tongue from what is of no concern to him. This is because the one who leaves off the remembrance of Allah and instead busies himself with what doesn’t concern him is like the one who is able to buy a gem, and instead buys some mud, and this is the loss of a lifetime.
Dikatakan kepada Luqman (’alaihis salam): “Bagaimana engkau bisa menjadi begitu bijaksana?” Ia menjawab: “Aku tidak meminta sesuatu yang tidak aku butuhkan, dan aku tidak berbicara tentang sesuatu yang tidak menjadi urusanku.” Diriwayatkan pula bahwa Luqman (’alaihis salam) masuk menemui Dawud (’alaihis salam) ketika ia sedang menyusun baju besinya. Ia takjub dengan apa yang dilihatnya dan ingin bertanya apa yang sedang dilakukannya. Namun, kebijaksanaannya mencegahnya untuk bertanya.
It was said to Luqman (peace be upon him): “How did you become so wise?” He replied: “I do not ask for what I don’t need, and I don’t speak about what doesn’t concern me.” And it was narrated that Luqman (peace be upon him) entered upon Dawud (peace be upon him) while he was putting together his armor. He was amazed at what he was seeing, and wanted to ask what he was doing. However, his wisdom prevented him from doing so.
86 ‘Mukhtasar Minhaj al-Qasidin’ (hlm. 163)
86 ‘Mukhtasar Minhaj al-Qasidin’ (p. 163)
87 ‘Ghayat al-Amani’ (2/173)
87 ‘Ghayat al-Amani’ (2/173)
88 ‘Sahih Muslim’ (2978)
88 ‘Sahih Muslim’ (2978)
89 'Sahih al-Bukhari' (5414)
89 ‘Sahih al-Bukhari’ (5414)
90 ‘Sahih al-Bukhari’ (5415)
90 ‘Sahih al-Bukhari’ (5415)
91 ‘Tadhkirat as-Sami’ wal-Mutakallim’ (hlm. 77)
91 ‘Tadhkirat as-Sami’ wal-Mutakallim’ (p. 77)
92 ‘Ta’lim al-Muta’allim wa Turuq at-Ta’allum’ (hlm. 23)
92 ‘Ta’lim al-Muta’allim wa Turuq at-Ta’allum’ (p. 23)
Al-Bukhari (1142) dan Muslim (776)
93 al-Bukhari (1142) and Muslim (776)
Al-Bukhari (3270) dan Muslim (774)
94 al-Bukhari (3270) and Muslim (774)
95 adh-Dhariyat; 15-19
95 adh-Dhariyat; 15-19
69 Al-Haqqah; 24
96 al-Haqqah; 24
97 ‘Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim’ (4/233)
97 ‘Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim’ (4/233)
98 ‘Taysir al-Karim ar-Rahman’ (8/23)