Murnikan Niat Anda untuk Allah dalam Menuntut Ilmu
Purify Your Intention For Allah In Seeking Knowledge
Abu Hamid al-Ghazali (semoga Allah merahmatinya) berkata:
Abu Hamid al-Ghazzali (may Allah have Mercy on him) said:
Ketahuilah bahwa niat (niyyah), kehendak (iradah), dan tujuan (qasd) adalah berbagai istilah yang semuanya bermakna sama, dan itu merupakan gambaran keadaan hati ketika ia menjadi sumber bagi dua hal:
“Know that intention (niyyah), will (iradah), and goal (qasd) are various terms that all mean the same thing, and it is a description of the state of the heart when it is a source for two things:
ilmu dan amal.
knowledge and action.
Ilmu didahulukan atas amal, karena ilmu adalah fondasi dan syaratnya, sedangkan amal mengikutinya, sebab amal adalah buah yang tumbuh dari ilmu. Hal ini karena setiap perbuatan, yaitu setiap gerakan dan aktivitas yang disengaja, tidak terjadi kecuali dengan tiga hal: ilmu, kehendak, dan kemampuan. Tidak ada seorang pun yang mengerjakan sesuatu tanpa mengetahuinya. Maka, ia harus memiliki ilmu.
Knowledge comes first - as it is the foundation and condition - and action follows it, since it is the fruit that branches from knowledge. This is because every action – that is, every intentional movement and motion – does not occur without three things: knowledge, will, and ability. Nobody does something without knowing of it. So, he must have knowledge.
Demikian pula, tidak ada seorang pun yang melakukan sesuatu tanpa memiliki kehendak untuk melakukannya. Maka, seseorang harus memiliki kehendak untuk melakukan sesuatu, dan makna kehendak (iradah) adalah bahwa hati condong kepada apa yang ia pandang sesuai dengan apa yang ia cari.
Likewise, nobody does something without having the will to do it. So, one must have the will to do something, and the meaning of will (iradah) is that the heart reaches out to what it sees as being in accordance with what it seeks.
Manusia diciptakan sedemikian rupa sehingga terkadang ia melakukan apa yang sesuai dengan keinginan hatinya, dan terkadang melakukan apa yang bertentangan dengan keinginan hatinya. Dalam keadaan seperti itu, ia perlu mendekatkan diri pada apa yang baik baginya, dan menjauhkan diri dari apa yang akan membahayakannya. Hal ini menuntut agar ia mengetahui dan memahami apa yang akan memberi manfaat dan mudarat baginya, sehingga ia dapat mendekatkan yang bermanfaat dan menghindari yang membahayakan. Sebab, siapa yang tidak melihat atau tidak mengetahui makanan, ia tidak dapat menjangkaunya dan menariknya mendekat kepadanya; dan siapa yang tidak melihat api, ia tidak dapat menghindarinya. Maka, Allah telah menciptakan petunjuk dan pengetahuan, serta telah menyediakan sarana-sarana tertentu untuk memperolehnya, yaitu indera lahir dan indera batin.
The human was created such that he sometimes does that which is in accordance with what his heart seeks, and sometimes does that which conflicts with what his heart seeks. In such a case, he needs to draw near to that which is good for him, and to drive away what will harm him. This requires that he know and understand what will benefit and harm him, such that he can bring this close and avoid that, since whoever does not see or know what food is cannot reach over and pull it towards him, and whoever does not see fire cannot escape from it. So, Allah has Created guidance and knowledge, and has provided certain means of attaining them, and these are the external and internal senses.
Jadi, niat pada hakikatnya adalah kehendak dan tindakan menuju serta condong kepada apa yang dicari, baik hal itu terjadi secara retrospektif maupun pada saat melihat apa yang dicari.
So, intention is essentially the will and the act of reaching out to and leaning towards what one seeks, whether this occurs retrospectively or at the time of seeing what is sought after.
Maka, langkah pertama bagi seseorang untuk terdorong melakukan sesuatu adalah ia memiliki tujuan yang memotivasinya untuk bertindak, dan tujuan adalah sasaran dari niatnya. Seseorang terdorong untuk keluar dan melakukan sesuatu ketika ia memiliki tujuan dan niat, serta mengarahkan kekuatan dan kemampuannya menuju tujuannya melalui gerakan fisik, dan inilah yang disebut amal (perbuatan).4
Therefore, the first step in one being pushed to do something is that he has a goal which motivates him to act, and goal is the target of one’s intention. One is pushed to go out and do something when he has a goal and intention, and directs his power and ability towards his goal by way of physical movement, and this is known as action.”4
Karena itu, telah ditetapkan dalam agama bahwa Allah – Yang Mahaperkasa dan Mahaagung – tidak menerima amal kecuali amal yang dilakukan semata-mata untuk mencari Wajah-Nya, dan Nabi ﷺ menunjukkan pentingnya niat serta kewajiban memurnikannya dari hal-hal yang dapat merusak tujuan seseorang dan membatalkan amalnya.
Because of this, it is established in the Religion that Allah – the Mighty and Majestic – does not accept actions except those that are done purely seeking His Face, and the Prophet (peace be upon him) indicated the significance of the intention and the obligation of purifying it from what can corrupt one’s goal and nullify his action.
‘Alqamah bin Waqqas al-Laythi (semoga Allah meridainya) berkata: “Aku mendengar ‘Umar bin al-Khattab (semoga Allah meridainya) di atas mimbar berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang mendapatkan apa yang dia niatkan. Maka barangsiapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya ﷺ, hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Dan barangsiapa berhijrah untuk mendapatkan dunia atau untuk menikahi seorang wanita, maka hijrahnya adalah kepada apa yang ia niatkan untuk hijrah.””5
‘Alqamah bin Waqqas al-Laythi (may Allah be Pleased with him) said: “I heard ‘Umar bin al- Khattab (may Allah be Pleased with him) on the pulpit, saying: “I heard the Messenger of Allah (peace be upon him) say: “Indeed, actions are by intentions, and for every person is what he intended. So, whoever migrated to Allah and His Messenger (peace be upon him), his migration is to Allah and His Messenger (peace be upon him). And whoever migrated to obtain a portion of the world or to marry a woman, his migration is to what he migrated for.”””5
an-Nawawi (semoga Allah merahmatinya) berkata:
an-Nawawi (may Allah have Mercy on him) said:
Kaum Muslimin sepakat mengenai keagungan hadis ini, banyaknya faedah yang terkandung di dalamnya, dan keshahihannya. Asy-Syafi'i dan lainnya berkata: "Hadis ini merupakan seperempat dari Islam." 'Abdurrahman bin Mahdi dan lainnya berkata: "Wajib bagi setiap orang yang menulis sebuah kitab untuk memulainya dengan hadis ini, guna mengingatkan penuntut ilmu agar memperbarui niatnya." Al-Khaththabi meriwayatkan hal ini dari para ulama pada umumnya, dan al-Bukhari serta lainnya mengamalkannya. Mereka memulai (kitab mereka) dengan hadis ini sebelum yang lain, dan al-Bukhari mencantumkannya di tujuh tempat dalam kitabnya.
“The Muslims are unanimous in regards to the significance of this hadith, the numerous benefits contained within it, and its authenticity. ash-Shafi’i and others said: “It constitutes one quarter of Islam.” ‘Abd ar-Rahman bin Mahdi and others said: “It is a must for whoever writes a book to begin it with this hadith in order to remind the student of knowledge to renew his intention.” And al-Khattabi reported this from the scholars in general, and al- Bukhari and others applied this. They started with it before anything else, and al-Bukhari included it in seven places in his book.
Dan mayoritas ulama, ahli bahasa, dan fuqaha mengatakan bahwa kata ‘innama’ menunjukkan makna pembatasan (hashr) – ia menegaskan apa yang disebutkan dan menafikan selainnya – sehingga makna hadis tersebut adalah bahwa amal perbuatan dinilai berdasarkan niat di baliknya, dan tidak dianggap sama sekali jika tidak ada niat di baliknya.
And the majority of scholars, linguists, and jurists said that the word ‘indeed’ is indicative of totality – it confirms what is mentioned, and denies everything else – rendering the meaning of the hadith to be that actions are considered based on the intentions behind them, and are not considered at all if there is no intention behind them.
Dan mengenai sabdanya (ﷺ) “…dan bagi setiap orang adalah apa yang ia niatkan…”, para ulama mengatakan bahwa maksud disebutkannya setelah “Sesungguhnya setiap amal itu tergantung niatnya” adalah untuk menegaskan bahwa menentukan niat merupakan syarat bagi setiap amal. Maka, jika seseorang hendak mengqadha shalat, tidak cukup baginya hanya berniat mengqadha shalat. Ia harus menentukan bahwa ia sedang shalat Zhuhur, dan seterusnya. Seandainya bukan karena frasa kedua ini, orang bisa menafsirkan frasa pertama sebagai isyarat bolehnya berniat secara umum tanpa menentukan amal yang diniatkan.
And regarding his (peace be upon him) saying “…and for every person is what he intended…” they said that the point of mentioning it after “Indeed, actions are by intentions…” is that it emphasizes that specifying the intention is a condition for any action. So, if one were to make up a prayer, it would not be enough for him to intend to make up a prayer. Rather, he must specify that he is praying Dhuhr, etc. and were it not for this second phrase, one could interpret the first to indicate the permissibility of making a general intention without specifying the action intended.
Dan mengenai sabdanya (ﷺ) “…Maka barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya…” maksudnya adalah bahwa barangsiapa yang dengan hijrahnya mencari Wajah Allah, maka ia akan memperoleh pahalanya di sisi Allah, dan barangsiapa yang berniat meraih kehidupan dunia atau seorang istri, maka itulah yang akan ia peroleh, dan ia tidak akan mendapatkan apa pun dari akhirat sebagai hasil dari hijrah ini. Dan makna hijrah secara bahasa adalah meninggalkan sesuatu, dan yang dimaksud di sini adalah seseorang meninggalkan suatu negeri. Penyebutan seorang wanita bersama urusan duniawi dapat ditafsirkan dengan dua cara. Salah satunya adalah bahwa seorang laki-laki berhijrah untuk menikahi seorang wanita bernama Ummu Qais, sehingga ia dijuluki ‘orang yang berhijrah karena Ummu Qais.’ Penafsiran kedua adalah bahwa hal itu disebutkan semata-mata untuk menegaskan peringatan dengan menyebutkan contoh khusus dari suatu konsep umum guna menjelaskan beratnya perkara tersebut, dan Allah lebih mengetahui.7
And regarding his (peace be upon him) saying “…So, whoever migrated to Allah and His Messenger (peace be upon him), his migration is to Allah and His Messenger (peace be upon him)…” means that whoever seeks with his migration the Face of Allah will have his reward with Allah, and whoever intends the worldly life or a wife, that will be what he gains, and he will have nothing from the Hereafter as the result of this migration. And the linguistic meaning of migration (hijrah) is to abandon something, and what is meant here is that one abandons a land. The mention of a woman alongside the worldly matters can be interpreted in two ways, one of them being that a man migrated to marry a woman named Umm Qays, and was thus named ‘the one who migrated for Umm Qays.’6 The second interpretation is that this was mentioned simply to emphasize the warning by way of mentioning a specific example of a general concept to clarify its gravity, and Allah Knows best.”7
Dan telah ditetapkan dalam Syariat bahwa Allah tidak menerima amal ibadah apa pun yang tidak dilakukan semata-mata mengharap Wajah-Nya yang Mulia, dan dalil-dalil atas hal ini dari Al-Qur'an dan Sunnah sangat banyak, seperti:
“And it is established in the Shar’ that Allah doesn’t accept any act of worship that is not done strictly seeking His Noble Face, and the proofs for this from the Qur’an and Sunnah are plenty, such as:
1 – Sabdanya:
1 – His Saying:
Katakanlah: "Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian. Telah diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Esa."
{“Say: ‘I am only a man like you. It has been inspired to me that your Deity is One.
{Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah dia mengerjakan amal saleh dan janganlah dia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”}8
So, whoever hopes for the Meeting with his Lord, let him work righteousness and associate none as a partner in the worship of his Lord.’”}8
Maknanya: janganlah mencari dengan amalan-amalan ini sesuatu pun selain Wajah Allah Yang Maha Tinggi.
Meaning: do not seek with these actions anything besides the Face of Allah, the Exalted.
2 – Sabda beliau juga:
2 – His Saying, as well:
{"Dan mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah, dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama…"}9
{“And they were not commanded except to worship Allah, making the Religion sincerely for Him…”}9
3 – Sabda beliau ﷺ:
3 – His (peace be upon him) saying:
"Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang mendapatkan apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia atau untuk menikahi seorang wanita, maka hijrahnya kepada apa yang ia hijrahkan untuknya." Diriwayatkan oleh al-Bukhari di awal kitab *Sahih*-nya, serta Muslim dan yang lainnya, dari ‘Umar bin al-Khattab.
“Indeed, actions are by intentions, and for every person is what he intended. So, whoever migrated to Allah and His Messenger (peace be upon him), his migration is to Allah and His Messenger (peace be upon him). And whoever migrated to obtain a portion of the world or to marry a woman, his migration is to what he migrated for.””” Reported by al-Bukhari at the beginning of his ‘Sahih,’ as well as Muslim and others, on the authority of ‘Umar bin al-Khattab.
4 – Sabda beliau ﷺ juga:
4 – His (peace be upon him) saying, as well:
"Berikanlah kabar gembira kepada umat ini tentang kemuliaan, keteguhan di muka bumi, kemenangan, dan kepemimpinan dalam agama. Dan barangsiapa di antara mereka yang melakukan amal akhirat dengan maksud mencari dunia, maka ia tidak akan memperoleh bagian di akhirat." Diriwayatkan oleh Ahmad dan putranya dalam tambahan-tambahan pada kitab *Al-Musnad* (5/134), serta Ibnu Hibban dalam kitab *Shahih*-nya (4/311 dalam *Al-Mawarid* karya Al-Hakim), dan ia berkata: "Sanadnya shahih." Adz-Dzahabi menyetujuinya, begitu pula Al-Mundziri (1/31). Aku (Al-Albani) berkata: sanad dari 'Abdullah (putra Ahmad bin Hanbal) adalah shahih menurut syarat Al-Bukhari.
“Give this nation the glad tidings of glory, establishment in the land, victory, and religious authority. And whoever of them performs an action of the Hereafter seeking with it this world, he will have no portion of the Hereafter from it.” Reported by Ahmad and his son in the additions to the ‘Musnad’ (5/134), Ibn Hibban in his ‘Sahih’ (4/311 in the ‘Mawarid’ of al-Hakim), and he said: “Its chain is authentic,” and adh- Dhahabi agreed with him, as did al-Mundhiri (1/31). I (al-Albani) say that the chain of ‘Abdullah (the son of Ahmad bin Hambal) is authentic according to the conditions of al- Bukhari.
5 – Dan dari Abu Umamah (semoga Allah meridhainya), beliau berkata:
5 – And from Abu Umamah (may Allah be Pleased with him), who said:
“Seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dan berkata: “Bagaimana jika seseorang berperang untuk mencari pahala dan kemasyhuran? Apa yang akan ia peroleh?” Maka beliau menjawab: “Ia tidak mendapatkan apa-apa.” Laki-laki itu mengulangi pertanyaannya tiga kali, dan Nabi ﷺ tetap menjawab: “Ia tidak mendapatkan apa-apa.” Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amal kecuali yang dilakukan dengan ikhlas dan semata-mata mengharap Wajah-Nya.”” Diriwayatkan oleh an-Nasa’i (2/59), dan sanadnya baik, sebagaimana dikatakan al-Mundziri (1/24).
“A man came to the Prophet (peace be upon him) and said: “What if a man fights to seek reward and reputation? What will he have?” So, he replied: “He has nothing.” The man repeated the question three times, with the Prophet (peace be upon him) replying: “He has nothing.” He then said: “Indeed, Allah does not accept any action except that which is sincere and seeking His Face.”” Reported by an-Nasa’i (2/59), and its chain is good, as al-Mundhiri said (1/24).
6 – Sabda beliau ﷺ:
6 – His (peace be upon him) saying:
“Allah – Yang Mahakuasa dan Mahaagung – berfirman: “Aku adalah Yang Paling Tidak Membutuhkan sekutu. Maka, barangsiapa melakukan suatu amal untuk-Ku dengan menyekutukan selain-Ku di dalamnya, Aku berlepas diri darinya, dan Aku akan membiarkannya bersama sekutu yang ia persekutukan dengan-Ku.”” Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam ‘az-Zuhd’ dari hadits Abu Hurairah, dan sanadnya sahih sesuai syarat Muslim. Ia juga meriwayatkan riwayat serupa dalam ‘Sahih’-nya (8/223).”10
“Allah – the Mighty and Majestic – Said: “I am the most Self-Sufficient that I do not need partners. So, whoever does an action for Me in which he associates others with Me, I am free from him, and will leave him for the one he associated with Me.”” Narrated by Ibn Majah in ‘az-Zuhd’ from the hadith of Abu Hurayrah, and its chain is authentic upon the conditions of Muslim, and he reported a similar narration in his ‘Sahih’ (8/223).”10
Jadi, wajib memurnikan niat hanya untuk Allah dalam setiap amal, sebagaimana kata Ibnu al-Qayyim: "Sebagaimana Dia adalah satu-satunya Tuhan yang tiada selain-Nya, maka demikian pula ibadah wajib ditujukan kepada-Nya dan tidak kepada selain-Nya. Maka, sebagaimana Dia dikhususkan sebagai Tuhan, Dia pun harus dikhususkan dalam ibadah. Amal yang benar adalah amal yang bebas dari riya dan terikat dengan Sunnah."11
So, it is a must to purify one’s intention for Allah in every single action, as Ibn al-Qayyim said: “Just as He is One Deity with none besides Him, it is likewise necessary that worship be for Him and none besides Him. So, just as He is singled out as a Deity, He must be singled out for worship. The righteous action is that which is free of showing off and bound by the Sunnah.”11
Sulayman bin ‘Abdillah (semoga Allah merahmatinya) berkata: "Dan ini adalah dua pilar amal yang diterima: harus benar dan dilakukan dengan ikhlas. Amal yang benar adalah yang sesuai dengan Sunnah, sebagaimana ditunjukkan oleh firman-Nya:
Sulayman bin ‘Abdillah (may Allah have Mercy on him) said: “And these are two pillars of the accepted action: it must be correct and sincerely done. The correct action is that which is in accordance with the Sunnah, as indicated by His Saying:
{"…hendaklah dia mengerjakan amal saleh…}12
{“…let him work righteousness…}12
Dan amal yang ikhlas adalah amal yang bebas dari syirik tersembunyi dan syirik yang tampak, sebagaimana ditunjukkan oleh firman-Nya:
And the sincere action is that which is free from hidden and apparent shirk, as is indicated by His Saying:
{"...dan janganlah mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya..."}13 14
{“…and associate none as a partner in the worship of his Lord…”}13 14
Penuntut ilmu hendaknya memurnikan niatnya ketika mencari ilmu, "…dan niat yang benar dalam mencari ilmu adalah hanya menginginkan Wajah Allah, mengamalkannya, menghidupkan Syariat-Nya, menerangi hatinya sendiri, memperindah batinnya, mendekatkan diri kepada Allah pada Hari Kiamat, dan menjadikan dirinya calon untuk apa yang Dia siapkan bagi kekasih-kekasih-Nya berupa keridhaan dan keutamaan yang besar. Sufyan ats-Tsauri berkata: 'Aku tidak pernah berusaha memperbaiki sesuatu yang sesulit niatku.' Ia tidak boleh mencari dengannya keuntungan duniawi, seperti memperoleh kedudukan, status, harta, atau membuat dirinya tampak hebat dan berilmu di hadapan orang-orang terdekatnya, memiliki pengaruh di majelis-majelis ilmu, dan sebagainya, sehingga menukar yang baik dengan yang buruk. Abu Yusuf (semoga Allah merahmatinya) berkata: 'Wahai manusia! Carilah Allah dengan ilmu kalian, karena aku tidak pernah duduk dalam suatu majelis dengan maksud merendahkan diri, kecuali aku bangkit darinya lebih baik daripada semua orang lain, dan aku tidak pernah duduk dalam suatu majelis dengan maksud menjadi lebih baik dari semua orang lain, kecuali aku terbuka aibnya.' Ilmu adalah ibadah dan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Maka, jika niatmu murni dalam ibadah ini, ia akan diterima, disucikan, dan diberkahi. Dan jika engkau menjadikannya untuk selain Keridhaan Allah, ia akan batal, sia-sia, dan engkau akan kehilangan nilainya."
The seeker of knowledge is to purify his intention when seeking knowledge, “…and the correct intention when seeking knowledge is to intend only the Face of Allah, acting upon that, bringing life to His Shari’ah, lighting up his own heart, beautifying his inner self, getting closer to Allah on the Day of Resurrection, and making oneself a candidate for what He has prepared for His beloved of great pleasure and virtue. Sufyan ath-Thawri said: “I never attempted to remedy something as difficult as my intention.” He should not seek with it any worldly gains, such as obtaining position, status, money, or making himself look great and knowledgeable in front of those closest to him, having a presence in the circles of knowledge, etc. thereby exchanging the good for the bad. Abu Yusuf (may Allah have Mercy on him) said: “O people! Seek Allah with your knowledge, as I have never sat in a circle in which I sought to humble myself except that I got up from it better than everyone else, and I never sat in a circle in which I sought to be better than everyone else except that I was exposed.” Knowledge is an act of worship and a means of gaining nearness to Allah. So, if your intention is pure in this worship, it will be accepted, purified, and blessed. And if you intend with it other than the Pleasure of Allah, it will be nullified, wasted, and you will lose its value.
Mungkin saja seseorang luput dari tujuan-tujuan mulia ini dan tidak mencapainya, sehingga tenaga dan usahanya pun terbuang sia-sia.15
It might be that one can miss out on these noble goals and not achieve them, thereby wasting his energy and effort.”15
Semua yang telah disebutkan di atas dapat dirangkum dalam hadis Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahih-nya, dari Abu Hurairah: "Orang pertama yang akan dimasukkan ke dalam Neraka pada Hari Kiamat ada tiga: seorang ulama, seorang mujahid, dan seorang dermawan."
All of the above can be summarized in the hadith of the Messenger of Allah (peace be upon him) that was reported by Muslim in his ‘Sahih,’ on the authority of Abu Hurayrah: “The first who will be consumed by the Fire on the Day of Resurrection will be three: a scholar, a Mujahid, and a generous donator.
Adapun sang ulama, Allah akan mendatangkannya dan bertanya kepadanya: "Apa yang telah engkau lakukan di dunia?" Maka ia akan berkata: "Aku menuntut ilmu karena Engkau, dan aku menyebarkannya dengan mengharap keridaan-Mu." Lalu dikatakan kepadanya: "Engkau berdusta. Engkau menuntut ilmu agar disebut sebagai seorang ulama, dan itu telah terwujud, dan engkau telah memperoleh balasanmu di dunia." Kemudian ia diperintahkan untuk dilemparkan ke dalam Neraka.
As for the scholar, Allah will bring him and ask him: ‘What did you do in the dunya?’ So, he will say: ‘I acquired knowledge for Your Sake, and I spread it seeking Your Pleasure.’ So, it will be said to him: ‘You lied. You learned so that you would be referred to as a scholar, and it was done, and you have obtained your reward in the dunya.’ Then, he will be ordered thrown into Hell.
Kemudian, orang yang berderma akan didatangkan, lalu Allah bertanya kepadanya: 'Apa yang telah kamu lakukan di dunia?' Ia menjawab: 'Aku mengumpulkan harta dari cara yang halal, dan aku menyedekahkannya demi Engkau.' Dikatakan kepadanya: 'Engkau dusta. Engkau menyedekahkan hartamu agar dikatakan bahwa engkau dermawan, dan itu telah terwujud, dan engkau telah mendapatkan balasanmu di dunia.' Kemudian, ia diperintahkan untuk dilemparkan ke dalam neraka.
Then, the donator will be brought, and Allah will ask him: ‘What did you do in the dunya?’ He will say: ‘I acquired wealth from permissible means, and I donated it for Your Sake.’ It will be said to him: ‘You lied. You donated your money so that it would be said that you are generous, and it was done, and you have had your reward in the dunya.’ Then, he will be ordered thrown into Hell.
"Kemudian, sang pejuang akan dihadirkan dan ditanya: 'Apa yang telah kamu lakukan?' 'Aku berperang di jalan-Mu hingga aku terbunuh.' 'Kamu berdusta. Kamu berperang agar disebut sebagai orang yang berani, dan itu telah terwujud, dan kamu telah mengambil balasanmu di dunia.' Kemudian, dia akan diperintahkan untuk dilemparkan ke dalam Neraka."16
Then, the fighter will be brought, and asked: ’What did you do?’ ‘I fought in Your Cause until I was killed.’ ‘You lied. You fought so that you would be referred to as a brave man, and it was done, and you took your reward in the dunya.’ Then, he will be ordered thrown into Hell.”16
an-Nawawi (semoga Allah merahmatinya) berkata:
an-Nawawi (may Allah have Mercy on him) said:
“Sabda beliau ﷺ mengenai pejuang, ulama, dan dermawan, serta hukuman mereka karena perbuatan mereka yang dilakukan bukan untuk Wajah Allah, dan masuknya mereka ke dalam Neraka, semua ini merupakan dalil atas ditegaskannya larangan riya’ dan beratnya hukuman bagi pelakunya, serta atas kewajiban niat yang ikhlas dalam setiap amal, sebagaimana firman Allah:”
“His (peace be upon him) statement regarding the fighter, the scholar, and the generous donator, and their punishment for their actions being for other than Allah’s Face, and their entering the Fire – these are all proofs for the emphasized prohibition of showing off and the severe punishment for doing so, as well as for the obligation of having a pure intention in one’s actions, as Allah Said:
{"Dan mereka tidak diperintah kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama…"}17
{“And they were not commanded except to worship Allah, making the Religion sincerely for Him…”}17
"Dan ini juga menunjukkan bahwa teks-teks umum tentang keutamaan jihad itu merujuk kepada orang yang hanya mencari Ridha Allah, sebagaimana halnya dengan teks-teks yang memuji para ulama dan para dermawan – semuanya ditafsirkan hanya berkenaan dengan orang yang melakukan hal-hal tersebut karena Allah, Yang Maha Tinggi."18
And it also shows that the general texts regarding the virtues of Jihad are referring to the one who seeks only the Pleasure of Allah, just as with the texts praising the scholars and generous donators – all of these are interpreted to be only in regards to the one who does these things for Allah, the Exalted.”18
Dan hadis yang disebutkan sebelumnya tidak menyisakan keraguan bahwa penuntut ilmu harus memurnikan niatnya dalam menuntut ilmu, sehingga pencariannya terhadap ilmu tidak ditujukan kepada siapa pun selain Allah, untuk mencari Keridhaan-Nya dan mengharapkan pahala-Nya, bukan agar ia menggunakan ilmu ini untuk meninggikan diri di mata orang lain, menduduki leher mereka, dan berdiri di atas pundak mereka, sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa menuntut ilmu untuk menyaingi para ulama, untuk membanggakan diri di hadapan orang-orang bodoh, atau agar orang-orang memandang kepadanya, maka ia berada di dalam Neraka.”19
And the aforementioned hadith leaves no question that the student of knowledge should purify his intention in his studies, such that his seeking of knowledge is not for anyone other than Allah, seeking His Pleasure, and hoping for His reward - not so that he would use this knowledge to be elevated in the eyes of others, sitting on their necks, and standing on their shoulders, as the Messenger of Allah (peace be upon him) said: “Whoever seeks knowledge in order to compete with the scholars, to prove himself superior to the ignorant, or to make the people look up to him, he is in the Fire.”19
‘Abd as-Salam Harun, *Tahdhib Ihya' 'Ulum ad-Din* (2/253).
4 ‘Abd as-Salam Harun’s ‘Tahdhib Ihya’ ‘Ulum ad-Din’ (2/253).
5 Diriwayatkan oleh al-Bukhari (1, 54, 2529, 3898, 5070, 6689, dan 6953), Muslim (1907), Ahmad (1/25 dan 43), Abu Dawud (2201), at-Tirmidzi (1647), an-Nasa’i (1/58-60 dan 6/158), Malik (983), Ibnu Hibban (388 & 389), Ibnu Jarud (64), at-Tahawi (3/96), ad-Daraqutni (10/50), al-Bayhaqi (1/41), Abu Nu’aym (8/42), al-Khatib al-Baghdadi (4/244 dan 9/346), dan al-Baghawi (1 & 206)
5 Reported by al-Bukhari (1, 54, 2529, 3898, 5070, 6689, and 6953), Muslim (1907), Ahmad (1/25 and 43), Abu Dawud (2201), at-Tirmidhi (1647), an-Nasa’i (1/58-60 and 6/158), Malik (983), Ibn Hibban (388 & 389), Ibn Jarud (64), at-Tahawi (3/96), ad-Daraqutni (10/50), al-Bayhaqi (1/41), Abu Nu’aym (8/42), al-Khatib al- Baghdadi (4/244 and 9/346), and al-Baghawi (1 & 206)
6 Kisah ini diriwayatkan oleh at-Tabarani dalam ‘al-Mu’jam al-Kabir’ (8540) melalui sanad Abu Mu’awiyah dari al-A’mash. Al-Haythami berkata dalam ‘Majma’ az-Zawa’id’ (2/101): “Para perawinya adalah perawi kitab ‘Sahih’”, dan Ibnu Hajar berkata: “Dan sanad ini shahih sesuai syarat Syaikhain.” Namun, beliau juga berkata dalam ‘Fath al-Bari’ (1/10): “Tetapi, tidak ada petunjuk bahwa hadits niat berkaitan dengan kisah ini, dan saya tidak menemukan sesuatu pun dalam berbagai jalur periwayatan yang menjelaskan hal tersebut.”
6 The story was reported by at-Tabarani in ‘al-Mu’jam al-Kabir’ (8540) on the authority of Abu Mu’awiyah from al-A’mash, and al-Haythami said in ‘Majma’ az-Zawa’id’ (2/101): “Its men are the men of the ‘Sahih,’” and Ibn Hajar said: “And this chain is authentic with the conditions of the Shaykhayn.” However, he also said in ‘Fath al- Bari’ (1/10): “But, there is no indication that the hadith of intentions was related to this story, and I do not find anything in the various paths of narration that make this evident.”.
Syarh Shahih Muslim (13/53).
7 ‘Sharh Sahih Muslim’ (13/53).
8 al-Kahf; 110
8 al-Kahf; 110
9 al-Bayyinah; 5
9 al-Bayyinah; 5
10 Al-Albani’s ‘Ahkam al-Jana’iz wa Bida’uha’ (hlm. 52)
10 al-Albani’s ‘Ahkam al-Jana’iz wa Bida’uha’ (p. 52)