Berakhlaklah Terbaik Terhadap Gurumu
Have The Best Manners With Your Teacher
Allah telah menjelaskan dalam Kitab-Nya – dan Dia adalah Pemilik hati, Maha Mengetahui yang gaib – bahwa peringatan tidak membangunkan setiap orang, dan tidak bermanfaat bagi semua yang mendengarnya.
Allah clarified in His Book – and He is the Lord of the hearts, and the Knower of the Unseen – that a reminder does not awaken everyone, and it does not benefit all who hear it.
Bahkan, ada syarat-syarat dan batasan-batasan untuk hal ini.
Rather, there are conditions and restrictions to this:
{"Sesungguhnya dalam hal itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya sedang ia menyaksikan."}128
{“Verily, therein is indeed a reminder for he who has a heart or gives ear while he is heedful.”}128
Ibnul Qayyim (semoga Allah merahmatinya) berkata:
Ibn al-Qayyim (may Allah have Mercy on him) said:
"Jika kamu ingin mengambil manfaat dari Al-Qur'an, kumpulkanlah hatimu ketika ia dibacakan, pusatkanlah pendengaranmu, dan bersikaplah seolah-olah kamu sedang diajak bicara langsung oleh Allah, karena itu adalah firman dari-Nya kepadamu melalui lisan Rasul ini ﷺ, sebagaimana Yang Mahatinggi berfirman:
“If you want to benefit from the Qur’an, gather your heart when it is recited, focus your hearing, and act like you are being directly addressed by Allah, as it is an address from Him to you upon the tongue of this Messenger (peace be upon him), as the Exalted Said:
{"Sesungguhnya dalam hal itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya sedang ia menyaksikan."} Dan hal ini karena diperolehnya manfaat dan pengaruh yang paling besar dari sesuatu bergantung pada objek yang menimbulkan pengaruh tersebut, sasaran yang menyertainya dan akan merasakan pengaruh itu, syarat-syarat yang diperlukan agar pengaruh itu dapat dirasakan, serta hilangnya hal-hal yang hendak dihilangkan oleh pengaruh tersebut.
{“Verily, therein is indeed a reminder for he who has a heart or gives ear while he is heedful.”} And this is because gaining the most benefit and effect from something depends on the object causing the effect, the accompanying target that will feel that effect, the conditions necessary for that effect to be felt, and the removal of what that effect is meant to remove.
Semua ini terdapat dalam ayat di atas dengan cara yang paling jelas dan ringkas.
All of this is found in the above verse in the most clear and concise manner possible:
{"Sesungguhnya dalam hal itu benar-benar terdapat peringatan..."} merujuk pada segala sesuatu dari awal surah hingga titik ini.
{“Verily, therein is indeed a reminder…”} referring to everything from the beginning of the surah to this point.
Dan firman-Nya {"…bagi orang yang memiliki hati…"} merujuk pada sasaran pengaruh (tadzkir), yaitu hati yang hidup dan mengenal Allah, sebagaimana Allah berfirman dalam ayat lain:
And His Saying {“…for he who has a heart…”} is referring to the target of the affect, meaning the heart that is alive and knows Allah, as Allah Said in another verse:
"Sesungguhnya ia (Al-Qur'an) adalah peringatan dan Al-Qur'an yang jelas, untuk memberi peringatan kepada orang yang hidup…"
{“Indeed, it is a reminder and a clear Qur’an to warn he who is alive…”}129
Maksudnya, memiliki hati yang hidup.
Meaning, has a heart that is alive.
Sabda-Nya {“…atau memasang pendengaran…”} bermakna bahwa ia mengarahkan pendengarannya dan memusatkan indranya pada apa yang diucapkan kepadanya, dan ini termasuk dari syarat-syarat terpengaruh oleh perkataan yang diucapkan.
His Saying {“…or gives ear…”} means that he directs his listening and focuses his senses to what is being said to him, and this is from the conditions of being affected by words that are spoken.
Firman-Nya {“…sedang dia menyimak…”} berarti bahwa dia memiliki hati yang hadir dan tidak lalai. Ibnu Qutaybah berkata: “Dia mendengarkan Kitab Allah sementara hatinya dan pemahamannya ada di sana, dan dia tidak teralihkan.” Ini merupakan isyarat tentang apa yang dimaksudkan untuk dihilangkan oleh pengaruh Al-Qur’an, yaitu keteralihan dan ketidakhadiran hati, ketidakmampuannya untuk memahami apa yang disampaikan kepadanya, serta kurangnya wawasan dan perenungan terhadapnya.
His Saying {“…while he is heedful…”} means that he has a heart that is present and not absent. Ibn Qutaybah said: “He listens to the Book of Allah while his heart and comprehension are there, and he is not distracted.” This is an indication of what is meant to be removed by the effect of the Qur’an, which is the distraction and absence of the heart, its inability to understand what is being relayed to it, and its lack of insight and reflection upon it.
Jadi, apabila sumber pengaruhnya ada (yaitu Al-Qur'an), objek yang dipengaruhi ada (yaitu hati yang hidup), syarat untuk merasakan pengaruhnya ada (yaitu fokus dan memperhatikan), dan penghalangnya telah dihilangkan (yaitu gangguan pada hati dan ketidakmampuan memahami makna yang diucapkan), maka dengan semua faktor ini hadir, hasilnya pun tercapai (yaitu pengaruh dan manfaat Al-Qur'an serta peringatan itu dirasakan).
So, if the source of the effect is there (the Qur’an), and the target of the effect is there (the heart that is alive), and the conditions of feeling the effect are there (to focus and pay attention), and the removal of the obstacle is there (the distraction of the heart and inability to understand the meaning of what is being said) – with all of these factors are present, the result is achieved (the effect and benefit of the Qur’an and reminder is felt).
Demikianlah, ilmu hanya diperoleh dengan kerendahan hati dan memusatkan perhatian serta fokus. Asy-Sya'bi (semoga Allah merahmatinya) berkata: "Zaid bin Tsabit pernah menshalatkan jenazah. Lalu dibawakan seekor bagal untuknya agar ia dapat menungganginya pulang, dan Ibnu 'Abbas datang lalu memegang tali kekangnya untuk menuntunnya. Maka Zaid berkata kepadanya: 'Lepaskanlah, wahai sepupu Rasulullah ﷺ.' Ibnu 'Abbas berkata: 'Beginilah kami diperintahkan untuk memperlakukan para ulama!'"130
So, knowledge is only attained by humbly lending one’s attention and focus. ash-Sha’bi (may Allah have Mercy on him) said: “Zayd bin Thabit prayed a funeral prayer. A mule was then brought for him to ride away on, and Ibn ‘Abbas came and took hold of its reigns to lead him away. So, Zayd said to him: “Let go of it, O cousin of the Messenger of Allah (peace be upon him).” Ibn ‘Abbas said: “This is how we were commanded to treat the scholars!””130
Dan para Salaf dahulu memandang dengan penuh penghormatan dan rasa hormat yang luar biasa kepada orang-orang yang mereka ambil ilmunya, dan hal ini terlihat jelas dari adab mereka dalam menghadiri majelis ilmu, khususnya bagaimana mereka memuliakan guru-guru mereka. al-Khatib meriwayatkan banyak riwayat seperti ini.
And the Salaf used to look with the utmost reverence and respect to those they learned from, and this is evident when looking at their manners in attending circles of knowledge, specifically how they would honor their teachers. al-Khatib reported many such narrations:
“al-Mughirah berkata: “Kami dahulu memuliakan Ibrahim an-Nakha’i sebagaimana orang memuliakan penguasa.” Ayyub berkata: “Seorang laki-laki pernah duduk bersama al-Hasan selama tiga tahun dan tidak bertanya kepadanya sesuatu pun karena segan dan hormat kepadanya.” Ishaq ash-Shahidi berkata: “Aku pernah melihat Yahya al-Qattan shalat ‘Ashar. Kemudian ia bersandar pada pangkal menara masjid, sementara di hadapannya berdiri Ali bin al-Madini, ash-Shadhakuni, Amr bin Ali, Ahmad bin Hambal, Yahya bin Ma’in, dan lainnya, semuanya bertanya kepadanya tentang hadits sambil berdiri. Hal itu berlangsung hingga shalat Maghrib, dan ia tidak mempersilakan seorang pun dari mereka untuk duduk, dan tidak seorang pun dari mereka yang duduk karena segan dan hormat kepadanya.” al-Ghulabi berkata: “Ibnu al-Khayyat memuji Malik bin Anas, dengan mengatakan:”
“al-Mughirah said: “We would honor Ibrahim an-Nakha’i just as one would honor the ruler.” Ayyub said: “A man would sit with al-Hasan for three years and not ask him anything out of awe and respect for him.” Ishaq ash-Shahidi said: “I would see Yahya al-Qattan praying ‘Asr. He would then lean on the base of the mosque’s minaret, and standing in front of him would be ‘Ali bin al-Madini, ash-Shadhakuni, ‘Amr bin ‘Ali, Ahmad bin Hambal, Yahya bin Ma’in, etc. – all asking him about Hadith while they were standing up. This would go on until the Maghrib prayer, and he would not offer any of them to sit, and none of them would sit out of awe and respect of him.” al-Ghulabi said: “Ibn al-Khayyat praised Malik bin Anas, saying:
Dia memberikan jawabannya tanpa mengurangi kewibawaannya * Sementara orang-orang yang bertanya kepadanya mengangkat dagu mereka; Cahaya ketenangan dan kehormatan kewenangan yang benar * Begitulah mereka menghormatinya tanpa ia menjadi penguasa… Dan ‘Abd ar-Rahman bin Harmalah al-Aslami berkata: “Tidak seorang pun berani bertanya kepada Sa’id bin al-Musayyab tentang sesuatu hingga ia meminta izin terlebih dahulu, sebagaimana izin penguasa dimohonkan untuk suatu hal.”131
He gives his answer without reducing his awe * While those asking him have their chins raised; The light of tranquility and the honor of righteous authority * This is how they respect him without him being an authority… And ‘Abd ar-Rahman bin Harmalah al-Aslami said: “Nobody dared to ask Sa’id bin al- Musayyab about anything until he would seek his permission, just as the ruler’s permission is sought for something.””131
Dan dikatakan bahwa asy-Syafi'i (semoga Allah meridhainya) dikritik karena kerendahan hatinya kepada para ulama, dan beliau berkata:
“And it is said that ash-Shafi’i (may Allah be Pleased with him) was criticized for his humility to the scholars, and he said:
"Aku merendahkan diriku kepada mereka, dan mereka memuliakanku * Dan engkau tidak akan dimuliakan kecuali jika engkau merendahkan dirimu…" Dan Ahmad bin Hambal (semoga Allah meridhainya) berkata kepada Khalaf al-Ahmar (semoga Allah merahmatinya): "Aku tidak akan duduk kecuali di hadapanmu. Kita diperintahkan untuk merendahkan diri kepada orang-orang yang kita ambil ilmunya."132
I humble myself to them, and they honor me * And you will not be honored unless you humble yourself… And Ahmad bin Hambal (may Allah be Pleased with him) said to Khalaf al-Ahmar (may Allah have Mercy on him): “I will not sit except between your hands. We were commanded to be humble to those we learn from.””132
Penuntut ilmu hendaknya tunduk kepada gurunya dalam urusan-urusannya, dan janganlah ia berusaha membantah dan menentang pendapat maupun keputusannya. Sebaliknya, ia hendaknya bersikap kepada gurunya seperti orang sakit kepada dokternya: meminta nasihatnya dalam hal yang ia inginkan, mengharapkan keridhaannya, menjaga kehormatannya, dan mendekatkan diri kepada Allah dengan melayaninya. Hendaknya ia menyadari bahwa merendahkan diri di hadapan syekhnya adalah suatu kemuliaan, dan merendahkan diri untuknya akan mengangkat derajatnya.
“The seeker of knowledge should submit to his teacher in his affairs, and he should not seek to contradict and oppose him in his opinions and decisions. Rather, he should be with him like the sick is with his doctor – consulting him in what he wants, intending his pleasure, protecting his honor, and gaining nearness to Allah by serving him. He should realize that humility to his shaykh is an honor, and lowering yourself for him raises you.
Penuntut ilmu hendaknya memandang gurunya dengan pandangan penuh segan dan hormat, karena hal itu akan membantunya mengambil manfaat darinya. Sebagian kalangan Salaf biasa bersedekah sebelum mengunjungi gurunya, seraya berkata: "Ya Allah! Tutupilah dariku aib-aib guruku, dan jangan halangi aku dari keberkahan ilmunya."133
The student of knowledge should look to his teacher with the eye of awe and respect, as this will help him to benefit from him. Some of the Salaf would give some charity before going to visit their shaykh, saying: “O Allah! Hide the faults of my shaykh from me, and do not prevent me from the blessing of his knowledge.””133
“Dan asy-Syafi‘i (semoga Allah merahmatinya) berkata: ‘Aku membalik halaman-halaman kitabku di hadapan Malik (semoga Allah merahmatinya) dengan sangat lembut dan pelan, agar ia tidak terganggu oleh suaranya, sebagai bentuk penghormatan kepadanya.’ Dan Hamdan al-Asfahani berkata: ‘Aku pernah bersama Syarik (semoga Allah merahmatinya), lalu beberapa anak Khalifah al-Mahdi datang kepadanya. Ia pun bersandar ke dinding dan tidak menoleh kepada mereka ketika mereka bertanya tentang sebuah hadis. Mereka lalu bolak-balik datang dan mengulangi pertanyaan yang sama, hingga mereka berkata: “Apakah engkau merendahkan anak-anak para penguasa?” Maka Syarik berkata: “Tidak. Namun, ilmu lebih berharga di sisi Allah daripada aku memberikannya dengan cara seperti itu.” Lalu orang-orang itu duduk, menempelkan lutut mereka sejajar dengan lutut Syarik, dan ia berkata: “Beginilah seharusnya ilmu dicari.”’”134
“And ash-Shafi’i (may Allah have Mercy on him) said: “I would turn the pages of my books in front of Malik (may Allah have Mercy on him) in a very soft, quiet way so that he wouldn’t be bothered by its noise, out of respect for him.” And Hamdan al-Asfahani said: “I was with Sharik (may Allah have Mercy on him), and some of the children of the Khalifah al-Mahdi came to him. So, he leaned against the wall, and did not turn to them when they asked him about a hadith. They then came back and forth, asking the same question until they said: “Do you belittle the children of the rulers?” So, Sharik said: “No. However, knowledge is more valuable with Allah than that I give it in such a manner.” So, the men sat down, putting their knees on par with his knees, and he said: “This is how knowledge is to be sought.””134
"Dan hendaknya ia tidak memanggil gurunya (syaikhnya) dengan cara yang tidak sopan, dan tidak memanggilnya dari jarak jauh."
“And he should not address his shaykh in an informal way, and should not call him from a distance.
Al-Khatib berkata: "Hendaknya ia tidak mengatakan 'Wahai guru!' atau 'Wahai ulama, apa pendapatmu tentang ini? Bagaimana pandanganmu tentang ini?' dan sebagainya. Juga, ia tidak boleh menyebut gurunya dengan namanya saja ketika sang guru tidak hadir, kecuali dengan menambahkan gelar penghormatan padanya, seperti 'Syaikh,' 'Ustadz,' atau 'Syaikhuna.' Hendaknya ia mengetahui hak-hak gurunya atas dirinya, tidak melupakan keutamaannya atasnya, dan sangat memperhatikan penjagaan kehormatannya serta menolak setiap ghibah terhadapnya. Ia harus marah karena membela gurunya, dan jika ia tidak mampu melakukannya, hendaklah ia berdiri dan meninggalkan majelis mana pun yang di dalamnya hal itu terjadi. Ia hendaknya mendoakan gurunya ketika gurunya masih hidup, dan memperhatikan keluarga, anak-anak, serta sahabat-sahabatnya setelah wafatnya. Ia hendaknya menziarahi kuburnya, memohonkan ampunan Allah untuknya, dan bersedekah atas namanya. Hendaknya ia meneladani gurunya dalam ketenangan, ketenteraman, dan petunjuknya, serta meneladani kebiasaannya dalam ilmu agama. Ia hendaknya meniru gerak-geriknya dalam kebiasaan dan ibadah rutinnya, serta mengambil akhlaknya. Intinya, hendaknya ia menjadikan gurunya sebagai teladan."135
And al-Khatib said: “He should not say ‘O teacher!’ or ‘O scholar, what do you think about this? What is your take on this?’ etc. Also, he shouldn’t refer to him by his first name in his absence except by attaching to it a title of respect, such as ‘Shaykh,’ ‘Ustadh,’ or ‘Shaykhuna.’ And he should know the rights of his shaykh upon him, and should not forget his virtue over him, and should put great importance on protecting his honor and repelling any backbiting of him. He should become enraged for his sake, and if he is unable to do this, he should get up and leave any gathering where this is taking place. He should supplicate for his shaykh during his life, and he should tend to his family, children, and friends after his death. He should visit his grave and ask Allah’s Forgiveness for him and give charity on his behalf. He should imitate him in being calm, quiet, and guided, and should imitate his habits in knowledge of the Religion. He should imitate his movements in his regular habits and worship, and adopt his manners. Essentially, he should take him as an example.”135
- Menghadapi Guru yang Keras -
- Dealing With A Harsh Teacher -
Dan penuntut ilmu hendaknya bersabar terhadap kekerasan gurunya, dan hendaknya lembut kepadanya. Al-Khatib meriwayatkan bahwa asy-Syafi'i berkata: "Dua orang laki-laki biasa mengunjungi al-A'masy. Salah seorang dari mereka tertarik pada hadis, sedangkan yang lain tidak. Suatu hari al-A'masy marah kepada orang yang tertarik pada hadis itu. Orang yang lain berkata: 'Jika dia marah kepadaku seperti dia marah kepadamu, aku tidak akan kembali kepadanya.' Maka al-A'masy berkata: 'Karena itu, dia bodoh seperti kamu. Dia meninggalkan apa yang akan bermanfaat baginya karena akhlakku yang buruk.'"136
And the student of knowledge should be patient with the harshness of his teacher, and should be soft with him. al-Khatib reported that ash-Shafi’i said: “Two men used to visit al- A’mash. One of them was interested in Hadith, and the other was not. So, one day al-A’mash got mad at the one who was interested in Hadith. The other man said: “If he got mad at me the way he did at you, I wouldn’t come back to him.” So, al-A’mash said: “Therefore, he is an idiot like you. He leaves what will benefit him due to my bad manners.”””136
Asy-Syafi'i (semoga Allah merahmatinya) juga meriwayatkan kisah serupa dari Sufyan bin 'Uyaynah, ketika dikatakan kepada Sufyan: "Orang-orang ini datang kepadamu dari berbagai penjuru dunia, dan kamu malah marah kepada mereka?! Mereka semua bisa bangkit dan meninggalkanmu!" Ia berkata: "Jika mereka melakukan itu, mereka adalah orang-orang yang bodoh, karena mereka meninggalkan apa yang bermanfaat bagi mereka hanya karena akhlakku yang buruk."137
And ash-Shafi’i (may Allah have Mercy on him) narrated a similar incident from Sufyan bin ‘Uyaynah, where it was said to Sufyan: “These people come to you from all corners of the world, and you get mad at them?! They can all get up and leave you!” He said: “If they did this, they would be idiots, as they leave what will benefit them due to my bad manners.””137
Ibn Jama'ah (semoga Allah merahmatinya) berkata:
Ibn Jama’ah (may Allah have Mercy on him) said:
"Penuntut ilmu hendaknya bersabar atas kekerasan dan perlakuan buruk dari gurunya, dan hal itu tidak boleh membuatnya berpaling darinya. Ia hendaknya berprasangka baik ketika guru melakukan tindakan yang tidak baik, dan hendaknya menanggapi setiap kekerasan dari syaikhnya dengan meminta maaf sendiri, bertobat kepada Allah, memohon ampunan-Nya, dan menyalahkan dirinya sendiri. Sikap ini akan menjaga kecintaannya kepada syaikh tersebut, melindungi hatinya, dan lebih bermanfaat bagi penuntut ilmu di dunia dan di akhirat."
“The seeker of knowledge should withstand his teacher’s harshness and bad treatment, and this should not turn him away from him. He should give him the benefit of the doubt when it comes to any bad actions on his part, and should respond to any harshness from his shaykh by apologizing himself, repenting to Allah, seeking His Forgiveness, and placing the blame on himself. This will preserve his love for this shaykh, will protect his heart, and is more beneficial for the student in this life and the next.
- Adab Mengunjungi Syaikh Anda -
- The Manners Of Visiting Your Shaykh -
Jika Anda mendapati guru Anda sedang tidur, jangan meminta untuk menemuinya. Sebaliknya, duduklah dan tunggulah sampai ia bangun, atau pergi jika Anda menghendaki.
If you find your shaykh sleeping, do not ask to see him. Rather, sit and wait until he wakes up, or leave if you wish.
Al-Khatib al-Baghdadi (semoga Allah merahmatinya) meriwayatkan:
al-Khatib al-Baghdadi (may Allah have Mercy on him) reported:
Ibnu 'Abbas (semoga Allah meridainya) berkata: "Ketika Rasulullah ﷺ wafat, aku berkata kepada salah seorang dari kaum Anshar: 'Mari kita pergi bertanya kepada para sahabat Rasulullah ﷺ, karena mereka banyak jumlahnya hari ini.' Ia berkata: 'Aku heran kepadamu, wahai Ibnu 'Abbas! Apakah engkau kira mereka akan memperhatikanmu, padahal para sahabat yang paling utama masih ada di antara mereka?' Maka aku meninggalkannya, dan aku mulai bertanya kepada para sahabat Rasulullah ﷺ tentang hadis. Jika aku mendengar bahwa seseorang memiliki sebuah hadis, aku akan mendatangi pintunya, dan jika aku mendapatinya sedang tidur, aku akan menggelar selembar kain di tanah di depan rumahnya dan menunggunya. Angin akan meniupkan debu ke tubuhku, dan akhirnya ia keluar seraya berkata: 'Wahai saudara sepupu Rasulullah ﷺ! Apa yang membawamu ke sini? Mengapa engkau tidak mengirim utusan untuk memanggilku? Tentu aku yang akan datang kepadamu.' Aku menjawab: 'Lebih pantas aku yang datang kepadamu,' lalu aku bertanya kepadanya tentang hadis-hadis Nabi ﷺ. Lelaki Anshar itu hidup hingga ia melihat orang-orang berkumpul di sekelilingku dan bertanya kepadaku, dan ia berkata: 'Pemuda itu lebih cerdas daripada aku!'" Dan Ibnu 'Abbas (semoga Allah meridainya) berkata: "Aku mendapati sebagian besar ilmu Rasulullah ﷺ di lingkungan kaum Anshar ini. Aku menunggu di depan pintu salah seorang dari mereka, dan jika aku ingin izin masuk, tentu aku akan diizinkan."
“Ibn ‘Abbas (may Allah be Pleased with him) said: “When the Messenger of Allah (peace be upon him) died, I said to one of the Ansar: “Come. Let us go ask the Companions of the Messenger of Allah (peace be upon him), as they are plenty in number today.” He said: “I am amazed at you, Ibn ‘Abbas! Do you think they will pay attention to you when the most important of the Companions are amongst them?” So, I left him, and I began to ask the Companions of the Messenger of Allah (peace be upon him) about Hadith. If I heard that a man had a hadith with him, I would go to his door, and if I found him sleeping, I would spread a blanket on the ground in front of his home and wait for him. The wind would blow dirt on me, and he would eventually come out saying: ‘O cousin of the Messenger of Allah (peace be upon him)! What brings you here? Why didn’t you send for me? I would’ve come to you.’ I would say: “It is more incumbent upon me to come to you,” and I’d ask him about the ahadith of the Prophet (peace be upon him). That Ansari man lived until he saw the people gathering around me and asking me, and he would say: “That young boy was smarter than me!”” And Ibn ‘Abbas (may Allah be Pleased with him) said: “I found most of the knowledge of the Messenger of Allah (peace be upon him) in this neighborhood of the Ansar. I would wait at the door of one of them, and if I wanted permission to enter, I would’ve gotten it.
128 Qaf; 37
128 Qaf; 37
129 Ya Sin; 69-70
129 Ya Sin; 69-70
130 ‘al-Fawa’id’ (hal. 5)
130 ‘al-Fawa’id’ (p. 5)
131 ‘al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami’’ (1/184)
131 ‘al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami’’ (1/184)
132 ‘Tadhkirat as-Sami’ wal-Mutakallim’ (hlm. 87)
132 ‘Tadhkirat as-Sami’ wal-Mutakallim’ (p. 87)
133 ‘Tadhkirat as-Sami’ wal-Mutakallim’ (hlm. 88)
133 ‘Tadhkirat as-Sami’ wal-Mutakallim’ (p. 88)
134 ‘al-Majmu’’ (1/36)
134 ‘al-Majmu’’ (1/36)
135 ‘Tadhkirat as-Sami’ wal-Mutakallim’ (hlm. 89)
135 ‘Tadhkirat as-Sami’ wal-Mutakallim’ (p. 89)
"Al-Jami' li Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami'" (1/222)
136 ‘al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami’’ (1/222)
137 ‘Tadhkirat as-Sami’ wal-Mutakallim’ (hlm. 90) dan ‘al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami’’ (1/223)
137 ‘Tadhkirat as-Sami’ wal-Mutakallim’ (p. 90) and ‘al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami’’ (1/223)
138 ‘Tadhkirat as-Sami’ wal-Mutakallim’ (hlm. 91)
138 ‘Tadhkirat as-Sami’ wal-Mutakallim’ (p. 91)
Jami' Bayan al-'Ilm wa Fadlih (1/171)
139 ‘Jami’ Bayan al-‘Ilm wa Fadlih’ (1/171)