Pendahuluan
Introduction
Sejak awal kehidupan manusia di planet ini, Manusia selalu berusaha memahami Alam, tempatnya sendiri dalam tatanan Penciptaan, dan tujuan Kehidupan itu sendiri. Dalam pencarian Kebenaran ini, yang membentang selama berabad-abad dan berbagai peradaban, agama yang terorganisir telah membentuk kehidupan manusia dan, sampai batas besar, menentukan jalannya sejarah. Sementara sebagian agama didasarkan pada teks tertulis, yang diklaim oleh para pengikutnya sebagai terinspirasi secara ilahi, yang lain hanya mengandalkan pengalaman manusia.
Ever since the dawn of human life on this planet, Man has always tried to understand Nature, his own place in the scheme of Creation and the purpose of Life itself. In this quest for Truth, spanning many centuries and diverse civilizations, organized religion has shaped human life and, to a large extent, has determined the course of history. While some religions have been based on written text, claimed by their followers to be divinely inspired, others have relied solely on human experience.
Al-Qur’an, sumber utama keimanan Islam, adalah kitab yang diyakini oleh para pengikutnya, kaum Muslimin, berasal sepenuhnya dari Tuhan. Kaum Muslimin juga meyakini bahwa kitab ini berisi petunjuk bagi seluruh umat manusia. Karena pesan Al-Qur’an diyakini berlaku untuk segala zaman, seharusnya ia relevan bagi setiap masa. Namun, apakah Al-Qur’an lulus dari ujian ini?
Al-Qur’an, the main source of the Islamic faith, is a book believed by its followers, the Muslims, to be completely of Divine origin. Muslims also believe that it contains guidance for all humankind. Since the message of the Qur’an is believed to be for all times, it should be relevant to every age. But does the Qur’an pass this test?
Dalam buku kecil ini, saya bermaksud memberikan analisis yang objektif mengenai keyakinan Muslim tentang asal-usul ilahi Al-Qur'an, khususnya dalam cahaya penemuan-penemuan ilmiah yang telah mapan.
In this booklet, I intend to give an objective analysis of the Muslim belief regarding the Divine origin of the Qur’an, particularly in the light of established scientific discoveries.
Ada suatu masa dalam sejarah peradaban dunia ketika "mukjizat", atau apa yang dianggap sebagai mukjizat, lebih diutamakan daripada akal dan logika manusia. Tentu saja, definisi umum tentang "mukjizat" adalah sederhananya, segala sesuatu yang terjadi di luar jalannya kehidupan yang normal dan yang tidak dapat dijelaskan oleh manusia.
There was a time, in the history of world civilization, when ‘miracles’, or what were perceived to be miracles, took precedence over human reason and logic. Of course, the normal defination of ‘miracle’ is simply, anything that takes place out of the normal course of life and for which humankind has no explanation.
Namun, kita harus berhati-hati sebelum menerima sesuatu sebagai mukjizat. Pada tahun 1993, ‘The Times of India’, Mumbai, memberitakan bahwa ‘seorang wali’ bernama ‘Baba Pilot’ mengaku telah tinggal terendam di bawah air dalam sebuah bak selama tiga hari tiga malam berturut-turut. Akan tetapi, ketika para wartawan ingin memeriksa dasar bak air tempat ia mengklaim telah melakukan ‘keajaibannya’, ia menolak membiarkan mereka melakukannya. Ia berargumen dengan bertanya bagaimana seseorang dapat memeriksa rahim seorang ibu yang melahirkan anak.
However, we must be careful before accepting something as a miracle. In 1993, ‘The Times of India’, Mumbai, reported that ‘a saint’ by the name ‘Baba Pilot’ claimed to have stayed continuously submerged under water in a tank for three consecutive days and nights. However, when reporters wanted to examine the bottom of the tank of water in which he claimed to have performed his ‘miraculous feat’, he refused to let them do so. He argued by asking as to how one could examine the womb of a mother that gives birth to a child.
Jelas sang 'wali' itu punya sesuatu yang ingin disembunyikan! Klaimnya hanyalah tipuan semata untuk mendapatkan publisitas.
Obviously the ‘saint’ had something to conceal! His claim was a gimmick simply to gain publicity.
Tentu saja, tidak ada manusia modern yang memiliki sedikit pun kecenderungan berpikir rasional yang akan menerima "mukjizat" semacam itu. Jika mukjizat palsu semacam itu dijadikan ujian keilahian, maka kita harus menerima semua pesulap dunia yang terkenal karena trik dan ilusi sihir mereka yang cerdik sebagai manusia-manusia Tuhan yang sejati! Sebuah kitab yang mengaku berasal dari Tuhan pada hakikatnya juga mengklaim dirinya sebagai mukjizat. Klaim semacam itu seharusnya dapat diverifikasi dengan mudah di setiap zaman, menurut ukuran zaman tersebut. Kaum Muslim meyakini bahwa Al-Qur'an adalah wahyu terakhir dan final dari Tuhan, mukjizat dari segala mukjizat, yang diturunkan sebagai rahmat bagi umat manusia.
Surely, no modern person with even the slightest inkling towards rational thinking would accept such a ‘miracle’. If such false miracles are the tests of divinity, then we would have to accept all world famous magicians known for their ingenious magical tricks and illusions, as genuine God-men! A book, claiming to be of Divine origin, is in effect, claiming to be a miracle. Such a claim should be easily verifiable in any age, according to the standards of that age. Muslims believe, that the Qur’an is the last and final revelation of God, the miracle of miracles, revealed as a mercy to mankind.
Mari kita selidiki kebenaran keyakinan ini.
Let us therefore investigate the veracity of this belief.
Tantangan Al-Qur'an
The Challenge Of The Qur’an
Sastra dan puisi telah menjadi sarana ekspresi dan kreativitas manusia dalam semua budaya.
Literature and poetry have been instruments of human expression and creativity, in all cultures.
Dunia juga pernah menyaksikan suatu masa ketika sastra dan puisi menempati kedudukan yang terhormat, serupa dengan kedudukan yang kini dinikmati oleh ilmu pengetahuan dan teknologi.
The world also witnessed an age when literature and poetry occupied pride of position, similar to that now enjoyed by science and technology.
Bahkan para ulama non-Muslim pun sepakat bahwa Al-Qur'an adalah sastra Arab par excellence, yakni sastra Arab terbaik di muka bumi. Al-Qur'an menantang seluruh umat manusia untuk mendatangkan yang serupa dengannya.
Even non-Muslim scholars agree that the Qur’an is Arabic literature par excellence – that it is the best Arabic literature on the face of the earth. The Qur’an challenges mankind to produce the likes of it:
"Dan jika kamu ragu terhadap apa yang Kami turunkan secara bertahap kepada hamba Kami, maka buatlah satu surah yang semisal dengannya; dan panggillah saksi-saksimu atau penolong-penolongmu (jika ada) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar."
“And if ye are in doubt as to what We have revealed from time to time to Our servant, then produce a Surah like thereunto; and call your witnesses or helpers (if there are any) besides Allah, if your (doubts) are true.
"Tetapi jika kamu tidak dapat melakukannya – dan sesungguhnya kamu pasti tidak dapat – maka takutlah kepada Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu – yang disediakan bagi orang-orang yang kafir." [Al-Qur'an 2:23-24]1
“But if ye cannot – and of a surety you cannot – then fear the Fire whose fuel is Men and Stones – which is prepared for those who reject Faith.” [Al-Qur’an 2:23-24]1
Tantangan Al-Qur'an adalah untuk mendatangkan satu surah (bab) yang serupa dengan surah-surah yang terkandung di dalamnya. Tantangan yang sama itu diulang dalam Al-Qur'an beberapa kali.
The challenge of the Qur’an, is to produce a single Surah (chapter) like the Surahs it contains. The same challenge is repeated in the Qur’an several times.
Tantangan untuk menghasilkan sebuah surah yang, dalam keindahan, kefasihan, kedalaman dan maknanya, setidaknya sedikit menyerupai salah satu surah Al-Qur'an, hingga hari ini belum pernah terpenuhi.
1 Al-Qur’an 2:23-24 menunjukkan Surah atau Bab No. 2 dan Ayat atau Ayat-ayat 23 dan 24. Notasi yang sama diikuti di seluruh buku ini. Rujukan dan terjemahan Al-Qur’an berasal dari terjemahan Al-Qur’an oleh Abdullah Yusuf Ali, edisi revisi baru, 1989, diterbitkan oleh Amana Corporation, Maryland, USA.
1 Al-Qur’an 2:23-24 indicates Surah or Chapter No. 2 and Aayaat or Verses 23 and 24. The same notation is followed throughout this book. References and translation of the Qur’an are from the translation of the Qur’an by Abdullah Yusuf Ali, new revised edition, 1989, published by Amana Corporation, Maryland, USA.