Saya memerlukan teks dalam bahasa Inggris yang ingin diterjemahkan. Silakan kirimkan teksnya.
3 Miscellaneous Rules
24. Hadhaarah dan madaniyyah adalah dua kata yang banyak digunakan. Keduanya telah dipakai untuk satu hal, yaitu hasil dari pikiran. Kata-kata ini digunakan untuk filsafat, pemikiran, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan pandangan tentang kehidupan. Kedua kata tersebut juga menjadi digunakan untuk benda-benda inderawi yang nyata, yang merupakan hasil industri dan teknologi, serta untuk segala bentuk nyata lainnya dalam kehidupan. Dikatakan: "Hadhaarah bangsa-bangsa terdahulu", atau "peradaban (madaniyyah) bangsa-bangsa masa lampau", yang berarti apa yang ditinggalkan oleh bangsa-bangsa tersebut, dalam hal pemikiran yang berkaitan dengan pandangan tentang kehidupan, seperti agama dan filsafat dan sebagainya; serta apa yang mereka tinggalkan, dalam hal artefak dan bentuk-bentuk material seperti bangunan, peralatan buatan, dan sejenisnya. Dikatakan pula: "budaya atau peradaban zaman ini", yang berarti segala sesuatu yang dihasilkan oleh akal, baik berupa pemikiran maupun bentuk-bentuk material. Penggunaan istilah-istilah ini dengan cara seperti itu adalah keliru. Apa yang dihasilkan akal, dalam hal yang berkaitan dengan pandangan tentang kehidupan, sama sekali berbeda dengan bentuk-bentuk nyata dan material yang dihasilkannya, seperti industri dan penemuan. Pendapat yang benar adalah bahwa istilah pertama (Hadhaarah) seharusnya digunakan untuk makna pertama dari kedua makna ini, sedangkan istilah kedua (madaniyyah) seharusnya digunakan untuk makna kedua. Dengan demikian, Hadhaarah didefinisikan sebagai sekumpulan konsep tentang kehidupan, sedangkan madaniyyah didefinisikan sebagai benda-benda nyata dan material.
24. Hadhaarah and madaniyyah are two words that are used widely. They have come to be applied to one thing and that is the result of the mind. It is used for philosophy, thought and anything related to the viewpoint about life. Both words became used for the tangible sensed objects, which are a result of industry and technology and for all other tangible forms in life. It is said: “the Hadhaarah of the previous nations”, or “the civilisation (madaniyyah) of the former nations”, meaning what has been left by these nations, in terms of thoughts relating to the viewpoint about life, such as religion and philosophy and so on; and what they have left, in terms of artefacts and material forms such as buildings, manufactured tools and the like. It is also said: “the culture or civilisation of this age”, meaning everything the mind has produced, in terms of thoughts and material forms. The use of these terms in this manner is mistaken. What the mind produces, in terms of what is related to the viewpoint about life, is completely different from tangible and material forms that it produces, such as industry and inventions. The correct opinion is that the first term (Hadhaarah) should be used for the first of these two meanings, while the second term (madaniyyah) should be used for the second meaning. Thus, Hadhaarah is defined as a host of concepts about life, while madaniyyah is defined as the tangible and material objects.
Peradaban (Hadhaarah) berbeda-beda sesuai dengan perbedaan bangsa-bangsa dan cara hidup mereka. Peradaban Komunis berbeda dengan peradaban Barat. Peradaban Islam berbeda dengan peradaban Barat maupun peradaban Komunis. Hingga saat ini tidak ada yang disebut peradaban manusia, karena konsep-konsep yang dipegang oleh bangsa-bangsa dan umat-umat tentang kehidupan itu berbeda-beda dan tidak selaras. Peradaban-peradaban yang dimiliki umat manusia semuanya berbeda dan tidak selaras. Demikian pula dalam sejarah dunia, kita hanya melihat peradaban-peradaban yang berbeda dan tidak selaras. Maka peradaban Islam berbeda dengan peradaban Romawi; peradaban Yunani berbeda dengan peradaban Persia, dan seterusnya. Dengan demikian, ungkapan ‘peradaban manusia’ tidak memiliki realitas.
Civilisations (Hadhaarah) differ according to the difference in peoples and ways of life. The Communist civilisation is different to the Western civilisation. The Islamic civilisation is different to that of the Western civilisation or the Communist civilisation. To this day there is nothing called human civilisation, because the concepts nations and peoples hold concerning life are different and disparate. The civilisations that human kind has are all different and disparate. Also in the history of the world, we only see civilisations that are different and disparate. So the civilisation of Islam is different to the civilisation of Rome; the Greek civilisation is different to that of the Persians and so on and so forth. Thus, the expression ‘human civilisation’ has no reality.
25. Peradaban Islam bertentangan dengan peradaban Barat. Ia juga bertentangan dengan peradaban Komunis. Landasan peradaban Islam adalah akidah Islam. Hal ini berlawanan dengan landasan peradaban Barat, yaitu pemisahan agama dari negara, dan berlawanan dengan peradaban Komunis, yang landasannya adalah materialisme, yakni bahwa manusia, kehidupan dan alam semesta berkembang dengan sendirinya. Dengan demikian, menurut pandangannya, hakikat alam ini adalah materi, dan perubahan-perubahan di alam ini adalah berbagai perwujudan dari materi yang terus berkembang. Demikianlah dilihat dari segi landasannya.
25. The Islamic civilisation contradicts the Western civilisation. It also contradicts the Communist civilisation. The basis of the Islamic civilisation is the Islamic ‘Aqeedah. This is contrary to the basis of the Western civilisation, which is the separation of religion from state, and contrary to the Communist civilisation, whose basis is materialism, i.e. that man, life and universe evolve on their own. So, according to its view, the nature of the world is matter and changes in the world are different manifestations of evolving matter. This is with regards to the basis.
Adapun gambaran tentang kehidupan, bagi Kapitalisme ia adalah manfaat, sedangkan bagi Komunisme ia adalah evolusi materi, yakni perubahan yang tak terelakkan dari satu keadaan ke keadaan lain dalam gerak yang menaik. Hal ini berbeda dengan Islam, yang menjadikan gambaran tentang kehidupan sebagai tolok ukur halal dan haram. Adapun kebahagiaan, bagi peradaban Barat dan Komunis hanya berarti satu hal, yaitu terpenuhinya kenikmatan-kenikmatan indrawi; sedangkan dalam Islam kebahagiaan adalah ketenangan yang tetap, baik kenikmatan-kenikmatan indrawi itu terpenuhi maupun tidak. Ketika manusia memiliki ketenangan yang tetap, maka ia telah meraih kebahagiaan; jika ia tidak mencapai ketenangan yang tetap, maka ia tidak akan meraih kebahagiaan, bahkan jika ia telah memenuhi seluruh kenikmatan indrawinya. Kebahagiaan tidak dapat diraih tanpa ketenangan yang tetap melalui upaya mencari keridhaan Allah I. Dengan demikian, kebahagiaan pada hakikatnya adalah mencari Ridwan (keridhaan) Allah (SWTH), karena melalui jalan inilah ketenangan yang tetap dapat dicapai. Oleh karena itu, peradaban Islam benar-benar bertentangan dengan peradaban Barat dan Komunis, akibat pertentangan dalam landasan, gambaran tentang kehidupan, dan makna kebahagiaan.
As for the depiction of life, for Capitalism it is one of benefit, while for Communism it is evolution of matter, i.e. the inevitable change from one state to another in an ascending motion. This is different to Islam, where its depiction of life is the criteria of Halaal and Haraam. As for happiness, for the Western and Communist civilisations it means only one thing and that is the satisfaction of the sensual pleasures; whereas in Islam happiness is the constant tranquillity, whether the sensual pleasures have been satisfied or not. When man has constant tranquillity, then he has attained happiness; if he does not achieve constant tranquillity, then he will not attain happiness, even if he has satisfied all his sensual pleasures. Happiness cannot be attained without the constant tranquillity through seeking the pleasure of Allah I. Thus happiness, fundamentally, is to seek the Good Pleasure (ridwaan) of Allah (SWTH); because it is through this way that constant tranquillity is achieved. Therefore, the Islamic civilisation is in complete contradiction with the Western and Communist civilisations, due to the contradiction in the basis, depiction of life and meaning of happiness.
26. Tidak diperbolehkan mengambil dari peradaban non-Islam, karena tidak diperbolehkan bagi seorang Muslim untuk mengadopsi pemikiran tentang kehidupan yang tidak bersumber dari Islam. Ia hanya dibatasi untuk mengambil dari Islam dan dilarang mengambil dari sumber lain mana pun, baik perkara itu berkaitan dengan pandangan hidup, maupun dengan solusi bagi persoalan-persoalan kehidupan. Tidak diperbolehkan mengambil dari peradaban mana pun selain peradaban Islam. Adapun madaniyyah, hal ini perlu diteliti; jika ia tidak dipengaruhi oleh pandangan hidup lain, maka boleh diambil, seperti industri, senjata dan alat-alat hiasan, jenis-jenis pakaian, perhiasan dan kecantikan. Semua ini termasuk kategori ‘benda’, dan hukum asal tentang benda (dalam Islam) adalah mubah (ibaahah). Namun, jika ia dipengaruhi oleh pandangan hidup asing, maka tidak boleh mengadopsinya, seperti gambar-gambar dan patung-patung untuk benda-benda yang memiliki rahasia kehidupan (rooH), serta hal-hal lain yang terdapat larangan secara eksplisit. Jadi, madaniyyah boleh diambil selama tidak ada larangan. Adapun hadhaarah (peradaban), ia tidak boleh diambil dengan cara apa pun.
26. It is not allowed to take from the non-Islamic civilisation, since it is not allowed for a Muslim to adopt thoughts about life that do not come from Islam. He is restricted to taking from Islam and forbidden to take from any other source, whether the matter is linked to the viewpoint about life, or to solutions to life’s problems. It is not allowed to take from any civilisation other than the Islamic civilisation. As for the madaniyyah, this needs to be look into; if it is not influenced by another viewpoint about life, then it is allowed to take, such as industry, weapons and ornamental tools, types of clothing, adornment and beautification. These are classed as ‘objects’; and the original opinion about objects (in Islam) is permissibility (ibaaHah). However, if they are influenced by a foreign viewpoint about life, then it is not allowed to adopt them, such as the drawings and statues for things that possess the secret of life (rooH); besides other such things for which there is an explicit prohibition. So it is allowed to take madaniyyah, but as long as there is no prohibition. As for the civilisation (Hadhaarah), it cannot be taken in any way whatsoever.
27. Seseorang harus membedakan antara disiplin-disiplin empiris dan topik-topik yang termasuk di dalamnya, seperti matematika, di satu sisi, dan disiplin-disiplin budaya di sisi lain. Disiplin-disiplin empiris beserta topik-topik terkait bersifat universal dan tidak khas bagi suatu bangsa, dan tidak pula terkait dengan suatu pandangan hidup. Fakta-fakta yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan itu sama di Rusia dan di Amerika, dan itu adalah ilmu yang sama tanpa perbedaan. Ilmu-ilmu tersebut sama bagi semua bangsa dan umat, baik kuno maupun modern. Ilmu-ilmu itu tidak berbeda menurut perbedaan bangsa dan umat, dan tidak pula berbeda menurut perbedaan pandangan hidup. Hal ini berbeda dengan budaya, yaitu informasi yang memengaruhi pikiran dan penilaiannya terhadap berbagai hal. Budaya ini berbeda menurut perbedaan pandangan hidup. Maka, pandangan budaya di Rusia berbeda dengan pandangan budaya di Amerika. Demikian pula, perundang-undangan, ekonomi, sejarah, dan sebagainya di Rusia dan Amerika berbeda. Begitu pula, budaya Islam berbeda dengan budaya komunis atau budaya kapitalis. Pandangan budaya dalam Islam berbeda dengan pandangan budaya Barat dan kaum Komunis. Karena itu, harus dibuat pembedaan antara pendidikan dalam pengertian modernnya dan budaya. Dengan demikian, ilmu-ilmu empiris dan topik-topik terkaitnya dipelajari sesuai kebutuhan, dan diambil dari siapa pun manusianya. Namun, jika ilmu-ilmu ini menyebabkan penyimpangan dari keyakinan atau melemahkan keyakinan, maka pengajaran ilmu-ilmu tertentu tersebut menjadi terlarang. Apabila pengaruh buruknya telah hilang, barulah ilmu-ilmu itu boleh dipelajari. Hal ini berbeda dengan kasus budaya, karena pengajarannya dibatasi pada budaya Islam dan tidak melampaui pandangan budaya Islam. Namun dalam pendidikan tingkat tinggi serta pada tingkat penelitian dan kajian analitis lainnya, diperbolehkan mengajarkannya untuk membantah dan membatalkannya, bukan untuk mengadopsinya. Tidak ada satu pun dari budaya ini yang diajarkan tanpa disertai bantahannya pada saat yang bersamaan. Hal ini karena Al-Qur'an yang mulia telah menyebutkan keyakinan-keyakinan orang lain, namun menyebutkannya untuk menjelaskan, membatalkan, dan membantahnya.
27. One should make a distinction between the empirical disciplines and subjects that are included within them such as maths on one hand, and the cultural disciplines on the other. The empirical disciplines and their related topics are universal and not specific to a nation, nor are they linked to a viewpoint about life. The facts related to science are the same in Russia as they are in America and they are the same sciences without any difference. They are the same for all peoples and nations, whether ancient or modern. They do not differ according to the difference in the nations and peoples, nor do they differ according to the viewpoint about life. This is different to culture, which is the information that influences the mind and its judgment on things. This culture differs according to the different viewpoints. So the cultural outlook in Russia differs from the cultural outlook in America. Thus, legislation, economy, history etc. are different in Russia and America. Likewise, the Islamic culture is different to the communist culture or the capitalist culture. The cultural outlook in Islam is different to that of the West and the Communists. That is why a distinction must be made between education, in its modern sense, and culture. Thus, the empirical sciences and their related subjects are studied according to need and they are taken from any human being. However, if these sciences lead to deviation from the beliefs or weakness in the convictions, then it will be forbidden to teach these particular sciences. When their effect has gone, then they can be studied. This is different to the case of culture, because teaching is restricted to the Islamic culture and does not go beyond the cultural outlook of Islam. In higher-level education and in other levels of research and analytical study though, it is allowed to teach them in order to refute and invalidate them, not to adopt them. Nothing is taught from this culture without giving the refutation at the same time. This is because the Noble Qur’an has mentioned the beliefs of others, but it mentioned them to clarify, invalidate and refute them.
Adapun teknologi dan industri seperti perdagangan, pelayaran, dan pertanian, hal-hal tersebut dapat dimasukkan ke dalam ilmu pengetahuan dan karena itu boleh diambil. Ada pula hal-hal yang termasuk dalam kebudayaan, seperti menggambar potret makhluk yang memiliki ruh atau membuat salib (yang digunakan oleh umat Kristen); hal-hal seperti ini tidak diambil, karena dipengaruhi oleh pandangan-pandangan lain tentang kehidupan.
As for technologies and industries such as trade, shipping and agriculture, they may be included within the sciences and consequently taken. There might be matters included under culture, such as drawing portraits of things that have rooH or manufacturing crosses (that are used by Christians), these are not taken, because they are affected by other viewpoints about life.
28. Terdapat perbedaan antara tariqah (metode), wasilah (sarana) dan uslub (gaya). Metode ditetapkan berdasarkan pandangan tentang kehidupan dan berbeda sesuai dengan perbedaan pandangan tentang kehidupan. Metode tetap konsisten dengan pandangan tentang kehidupan dan tidak berubah. Adapun sarana dan gaya ditentukan oleh tindakan yang hendak dilakukan dan tidak berbeda sesuai dengan pandangan tentang kehidupan. Sarana dan gaya tidak tetap dan dapat berubah. Dengan demikian, menimbulkan pertentangan merupakan bagian dari metode Komunis. Jihad menurut pandangan Islam merupakan bagian dari metodenya. Penjajahan terhadap bangsa-bangsa dari perspektif kapitalis termasuk dari metode mereka. Adapun alat-alat yang digunakan, seperti tank, pedang dan bom nuklir, serta cara penggunaan benda-benda tersebut, dalam hal rencana perang, teknologi militer dan sebagainya, semuanya termasuk sarana dan gaya. Oleh karena itu, tidak diperbolehkan mengambil metode dari sumber mana pun selain Islam. Sebaliknya, metode yang dibawa Islam harus dipegang teguh. Adapun sarana dan gaya, boleh diambil sebagaimana dan kapan pun ditemukan, selama tidak ada larangan yang tegas.
28. There is a difference between Tareeqah (method), waseelah (means) and usloob (style) The method is decided based on the viewpoint about life and differs according to the difference in the viewpoint about life. The method remains consistent with the viewpoint about life and does not change. As for the means and styles, they are determined by the action one wishes to undertake and do not differ according to the viewpoint about life. They are not constant and they are subject to change. Thus, instigating contradictions is part of the Communist method. Jihad according to the Islamic viewpoint is part of its method. Colonisation of people from the capitalist perspective is from their method. As for the tools used, such as tanks, swords and nuclear bombs, and the manner in which such things are used, in terms of war plans, military technology etc., they are all part of the means and styles. Therefore, it is not allowed to take the method from any source other than Islam. Rather, the method brought by Islam has to be adhered to. As for the means and styles, they can be taken as and when they are found, unless there is an explicit prohibition.