Pertanyaan dan Jawaban Seputar Doa Qunut
Questions & Answers Regarding The Du’aa Of Qunoot
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin, semoga Allah merahmatinya, ditanya:
Shaykh Muhammad Ibn Saalih al-‘Uthaymeen, may Allaah have mercy on him, was asked:
Q: Apakah boleh menambahkan kata-kata tambahan pada doa ini, yang diajarkan oleh Nabi ﷺ kepada al-Hasan Ibn ‘Alee ( )?
Q: Is it permissible to add additional words to this Du’aa, which the Prophet () taught al-Hasan Ibn ‘Alee ( )?
A: Tidak ada masalah jika seseorang ingin menambahkan kata-kata lain pada doa Qunut ini dalam shalat Witir. Jika ia shalat sendirian, maka ia juga boleh berdoa dengan apa pun yang ia inginkan. Namun, lebih utama bagi seseorang untuk memilih doa-doa yang komprehensif dan umum, sebagaimana Nabi ﷺ biasa berdoa dengan doa-doa yang komprehensif dan umum, dan di waktu lain beliau berdoa dengan doa-doa yang lebih khusus. Imam juga wajib untuk tidak memperpanjangnya atas jamaah, agar tidak memberatkan atau menyulitkan mereka.16
A: There is no problem should a person wish to increase this Du’aa of Qunoot during the Witr prayer with additional words. If he were alone (in prayer), then he may also make Du’aa with whatever he likes. However, it is preferable for a person to choose comprehensive and general supplications as the Prophet () used to supplicate with comprehensive, general supplications and other times would supplicate with ones that are more specific. It is also incumbent upon the Imaam not to prolong it upon the people so not as to put a burden or hardship upon them.16
Q: Syaikh, semoga Allah merahmatinya, juga pernah ditanya tentang seseorang yang berdoa namun doanya tidak segera dikabulkan. Ia mungkin berkata, "Saya sudah berdoa tetapi tidak dikabulkan." A: Segala puji dan syukur hanya bagi Allah, dan saya memanjatkan shalawat serta salam kepada Nabi kita, Muhammad ﷺ, kepada keluarganya, dan kepada para sahabatnya. Saya memohon kepada Allah () agar Dia menganugerahkan kepada saudara-saudara saya dan kepada diri saya taufik untuk mengikuti apa yang benar dalam akidah, ucapan, dan perbuatan.
Q: The Shaykh, may Allaah have mercy on him, was also asked about a person who makes Du’aa yet is not immediately answered. He may say, “I make Du’aa but it is not answered.” A: All praise and thanks are due to Allaah, and I send peace and prayers upon our Prophet, Muhammad, upon his family, and upon his companions. I ask Allaah () to bestow upon my brothers and myself success in following that, which is correct in ‘Aqeedah (principles of faith), statement, and action.
Allah (SWT) berfirman:
Allaah () says:
“Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untukmu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.’” [Surah Ghafir, 40:60] Sang penanya mengatakan bahwa ia berdoa kepada Allah (SWT), namun Allah tidak mengabulkan doanya. Kenyataan ini menimbulkan masalah dan kebingungan baginya ketika dibandingkan dengan ayat mulia ini, yang di dalamnya Allah (SWT) berjanji akan mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Nya, dan Allah tidak pernah mengingkari janji. Jawabannya adalah bahwa terdapat syarat-syarat agar doa seseorang dikabulkan yang harus dipenuhi.
“And your Lord said, ‘Call upon Me; I will answer you.’ Indeed, those who reject My worship will enter Hell humiliated, disgraced.” [Soorah Ghaafir, 40:60] The questioner says he makes Du’aa to Allaah () yet Allaah does not respond to him. So this reality presents a problem and confusion for him when contrasted with this noble verse in which Allaah () promises to answer the one who makes Du’aa to Him, and Allaah never breaks a promise. The answer to this is that there are conditions for one’s Du’aa being answered that need fulfillment.
Syarat Pertama: Ikhlas kepada Allah () yaitu seseorang memohon hanya kepada Allah semata, dengan menghadap kepada-Nya dengan hati yang penuh perhatian dan jujur. Ia harus bersungguh-sungguh ketika memohon kepada-Nya, dengan meyakini sepenuhnya bahwa Allah () Maha Kuasa untuk mengabulkan permohonannya, serta berharap dan menanti-nanti agar Dia mengabulkannya.
The First Condition: Sincerity to Allaah () in that one sincerely calls upon Allaah alone, turning to Him with an attentive and truthful heart. He must be earnest while asking Him, knowing with certainty that Allaah () is completely capable of responding to his call, and hoping and expecting Him to answer.
Syarat Kedua: Orang tersebut harus merasakan bahwa ketika berdoa, ia sangat membutuhkan Allah (), dan bahwa hanya Allah yang mendengar serta mengabulkan doa orang yang terdesak untuk memanggil-Nya.
The Second Condition: The person must feel that while making Du’aa, he is in dire need of Allaah (), and that Allaah alone is the only One Who hears and answers the Du’aa of the one compelled to call upon Him.
Adapun orang yang berdoa kepada Allah sementara ia merasa dirinya berkecukupan tanpa Allah dan tidak benar-benar membutuhkan-Nya, namun ia hanya berdoa karena kebiasaan atau untuk menguji pengaruhnya, maka orang seperti itu tidak layak mendapatkan jawaban.
As for someone calling upon Allaah while feeling himself self-sufficient without Allaah and not in dire need of Him, yet he merely makes Du’aa out of habit or to test the effect, then such a person is not worthy of a response.
Syarat Ketiga: Orang tersebut harus berhati-hati sepenuhnya untuk menghindari memakan sesuatu yang haram, karena memakan yang haram menghalangi doanya dikabulkan, sebagaimana telah ditetapkan dalam sebuah hadits yang sahih bahwa Nabi (ﷺ) bersabda:
The Third Condition: The person must take all precautions to avoid eating anything forbidden because eating that which is impermissible prevents one’s supplications from being answered as has been established in an authentic Hadeeth that the Prophet () said:
Sesungguhnya Allah itu baik dan hanya menerima yang baik. Dan Allah memerintahkan orang-orang beriman dengan perintah yang sama seperti yang Dia perintahkan kepada para rasul. Dia (SWT) berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan bersyukurlah kepada Allah jika kamu hanya menyembah-Nya." [Surah al-Baqarah, 2:172] Dan Dia (SWT) berfirman:
Indeed, Allaah is good and only accepts that which is good. And Allaah commands the believers with the likes of which He commands the messengers; He () said, “O you who believe, eat of the good things We have provided you and be grateful to Allaah if it is Him that you worship.” [Soorah al-Baqarah, 2:172] And He () said:
“Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik dan kerjakanlah amal saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” [QS. al-Mu'minun, 23:51] Kemudian Nabi ﷺ menyebutkan seorang laki-laki yang - setelah menempuh perjalanan jauh - rambutnya kusut dan badannya berdebu. Ia menengadahkan tangannya ke langit seraya berkata, “Ya Rabb, ya Rabb”, padahal makanannya haram dan pakaiannya haram. Ia diberi nutrisi dari yang haram,17 maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan?18
“O Messengers, eat from the good foods and work righteousness. Indeed, I know what you do.” [Soorah al-Muminoon, 23:51] Then the Prophet () mentioned a man who - having traveled far - is disheveled and dusty. He stretches his hands to the sky saying, “O Lord, O Lord”, yet his food if Haraam and his clothes are Haraam. He is taking nourishment from that which is Haraam,17 so how could he be answered?18
Nabi ﷺ tidak mengabulkan doa orang seperti ini, padahal ia sebenarnya telah memenuhi sebagian sarana fisik yang menjadikan doa dikabulkan, yaitu:
The Prophet () excluded such a man from being answered even though he actually fulfilled some of the physical means by which Du’aa is answered, and they are:
1. Orang itu mengangkat kedua tangannya ke arah langit, yakni kepada Allah (), karena Dia berada di atas langit, di atas 'Arsy. Mengulurkan kedua tangan kepada Allah termasuk sebab terkabulnya doa, sebagaimana telah disebutkan dalam Hadits:
1. The man raised his hands towards the sky, meaning to Allaah (), because He is above the heavens, above the throne. Stretching out the hands to Allaah is from the means of having one’s supplication answered as has come in the Hadeeth:
Sesungguhnya Allah Maha Pemalu dan Maha Pemurah. Dia merasa malu ketika seseorang menengadahkan kedua tangannya kepada-Nya, lalu mengembalikannya dalam keadaan kosong dan tertolak.19
“Indeed, Allaah is shy and generous. He is shy, when a man raises his hands to Him, to return them empty and rejected.”19
2. Orang ini berdoa kepada Allah () dengan menggunakan nama "Rabb" dengan mengucapkan, "Ya Rabb, ya Rabb". Bertawassul kepada Allah dengan nama ini juga termasuk sebab terkabulnya doa seorang hamba. Rabb adalah Pencipta, Pemilik, dan Pengatur segala urusan. Di tangan-Nya kekuasaan atas langit dan bumi. Oleh karena itu, kebanyakan doa dalam Al-Qur'an yang mulia mengandung nama ini:
2. This man supplicated to Allaah () using the name “Lord” by saying, “O Lord, O Lord”. Seeking nearness to Allaah by this name is also from the means of a servant having his Du’aa answered. The Lord is the creator, the owner, and the arranger of all affairs. In His hand is the control of the heavens and earth. For this reason, you find most of the supplications in the noble Qur’aan contain this name:
"Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mendengar seorang penyeru (Nabi Muhammad ﷺ) menyerukan kepada iman, yaitu: 'Berimanlah kamu kepada Tuhanmu,' maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang berbakti. Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami apa yang Engkau janjikan kepada kami melalui rasul-rasul-Mu dan janganlah Engkau hinakan kami pada Hari Kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji." "Maka Tuhan mereka mengabulkan doa mereka: 'Sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan; sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain.
“Our Lord, indeed, we have heard a caller (Prophet Muhammad) calling to Faith, saying, ‘Believe in your Lord,’ so we have believed. Our Lord, forgive us of our sins and remove from us our misdeeds and cause us to die with the righteous people. Our Lord, grant us what You promised us through Your Messengers and do not disgrace us on the Day of Resurrection. Indeed, You do not fail in Your Promise.” “So their Lord responded to them, ‘Never will I allow to be lost the work of any worker among you, whether male or female; you are of one another.
Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halaman mereka, yang disakiti karena Aku, yang berperang dan yang terbunuh, pasti Aku hapuskan dari mereka kesalahan-kesalahan mereka, dan pasti Aku masukkan mereka ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sebagai pahala dari Allah. Dan di sisi Allah ada pahala yang paling baik.’” [QS. Aali-‘Imraan: 193-195] Maka bertawassul kepada Allah dengan menggunakan nama ini termasuk sebab terkabulnya doa seseorang.
So those who immigrated, driven out from their homes, harmed in My Cause, fought, or were killed – I will surely remove from them their misdeeds, and I will surely admit them into gardens beneath which rivers flow as a reward from Allaah. And Allaah has with Him the best reward.’” [Soorah Aali-‘Imraan, 3:193-195] So seeking nearness to Allaah by using this name is from the means of one’s Du’aa being responded to.
3. Orang ini (dalam Hadis pada hlm. 23) sedang dalam perjalanan, dan sebagian besar waktu, perjalanan adalah saat di mana doa-doa dikabulkan. Hal ini karena ketika seseorang sedang bepergian, ia biasanya merasakan kebutuhan dan kebergantungan kepada Allah lebih besar daripada ketika ia berada di rumah, aman bersama keluarganya. Hal ini terutama berlaku lebih lagi pada masa-masa dahulu ketika bepergian.
3. This man (in the Hadeeth on pg. 23) was traveling and most of the time, traveling on a journey is a time in which supplications are answered. This is because when one is journeying, he usually feels a sense need and reliance upon Allaah more than when he is at home, secure with his family. This was even more so, especially traveling during those past times.
Nabi ﷺ menyebutkan dalam hadis bahwa laki-laki ini "kusut dan berdebu", yang berarti ia tidak berada dalam keadaan biasanya. Seolah-olah hal yang paling penting baginya pada saat itu adalah kembali kepada Allah dan memohon kepada-Nya dalam keadaan apa pun, baik dalam keadaan tidak rapi dan berdebu maupun dalam keadaan nyaman dan bergelimang kemewahan. Dan keadaan kusut dan berdebu ini mungkin berpengaruh terhadap dikabulkannya doa seseorang, berdasarkan hadis di mana Nabi ﷺ bersabda bahwa Allah turun ke langit terendah pada hari 'Arafah, membanggakan di hadapan para malaikat orang-orang yang berdiri dan berdoa kepada-Nya, seraya berfirman:
The Prophet () mentioned in the Hadeeth that this man was, “disheveled and dusty” meaning that he was not in the normal state he usually is. It was as if the most important thing to him at that time was turning to Allaah and supplicating to Him no matter what state he was in, whether untidy and dusty or comfortable in luxury. And this state of being disheveled and dusty may have some affect on one’s Du’aa being responded to due to the Hadeeth in which the Prophet () said that Allaah descends to the lowest heaven on the day of ‘Arafah, boasting to the angels of those who stand and supplicate to Him, saying:
"Lihatlah hamba-hamba-Ku. Mereka datang kepada-Ku dalam keadaan kusut dan berdebu."20
“Look at My servants. They have come to Me disheveled and dusty.”20
Meskipun ia telah memenuhi semua sarana agar doanya dikabulkan, semua itu tidak memberinya manfaat sama sekali, karena makanannya haram, pakaiannya haram, dan ia sepenuhnya dinafkahi dengan cara yang haram. Maka Nabi ﷺ bersabda, “Lalu bagaimana doanya bisa dikabulkan?” Demikianlah beberapa syarat yang, jika tidak terpenuhi, dapat membuat doa seseorang tampak tidak dikabulkan. Namun, jika syarat-syarat itu telah terpenuhi dan Allah (SWT) tetap tidak segera mengabulkan orang yang berdoa, maka hal itu disebabkan oleh suatu alasan tertentu dan hikmah Allah yang Dia (SWT)
Even while fulfilling all of these means of having his Du’aa answered, they did not benefit him at all because his food was Haraam, his clothing Haraam, and he was completely nourished by Haraam means. So the Prophet () said, “So how could he be answered?” So these are some conditions that, when not fulfilled, may make ones’ supplication seem unanswered. However, if they are fulfilled and still Allaah () does not immediately respond to the caller, then that is due to a certain reason and Allaah’s wisdom that He ()
knows yet the caller is unaware of. Dan mungkin saja kita mencintai dan menginginkan sesuatu padahal itu sebenarnya buruk bagi kita. Maka jika seseorang berusaha sebaik-baiknya memenuhi syarat-syarat Du'a, namun ia merasa doanya tidak segera dikabulkan, boleh jadi Allah justru mencegah darinya keburukan yang lebih besar daripada itu, atau Dia menyimpan balasan dan pengabulannya hingga Hari Kiamat, di mana Dia akan membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda. Maka jika ia telah memenuhi syarat-syaratnya (namun tidak dikabulkan karena hikmah Allah, dan tidak pula dicegah darinya keburukan yang lebih besar daripada yang ia mohonkan agar dihindarkan), maka ia akan diberi pahala dua kali: sekali karena ibadahnya berdoa kepada Allah semata, dan sekali lagi karena kesulitan dan kesedihannya atas tidak segera dikabulkannya Du'a-nya. Dengan demikian, Allah akan menyimpan baginya sesuatu yang lebih besar dan lebih sempurna.
knows yet the caller is unaware of. And it is possible that we love and want something but it is really bad for us. So if one tries his best to fulfill the conditions of Du’aa, yet he feels he is not immediately responded to, then it may be that Allaah will instead prevent an evil greater than that from befalling him, or He may save the reward and response until the Day of Resurrection on which He will repay with increased rewards. So if he fulfills the conditions (yet is not answered due to Allaah’s wisdom nor is an evil prevented from afflicting him greater than that for which he made Du’aa about) then he will be given a reward twice – once for his act of worship of supplicating to Allaah alone, and once for his trouble and grief of not having his Du’aa immediately answered. So Allaah will save for him that which is greater and more complete.
Juga, seseorang tidak boleh menganggap jawaban atas doanya lambat, karena hal itu sebenarnya termasuk salah satu cara yang dapat menghalangi doa untuk dikabulkan dan dijawab. Hal ini didasarkan pada sebuah hadits di mana Nabi ﷺ bersabda:
Also, one must not consider the response to his supplication to be slow for this is actually one of the ways of preventing Du’aa from being accepted and answered. This is based on a Hadeeth in which the Prophet () said:
“Setiap dari kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, dengan berkata: ‘Aku telah berdoa tetapi tidak dikabulkan untukku.’”21
“Each of you will be answered as long as he is not hasty, saying, ‘I made Du’aa but it was not answered for me.’”21
Seseorang tidak boleh terburu-buru dalam menanti jawaban, dan tidak boleh berputus asa lalu meninggalkan berdoa.
So a person should not try to rush the response or despair and leave making Du’aa.
Bahkan, hendaknya ia terus-menerus berdoa kepada Allah setiap kali ia memohon kepada-Nya, karena itu merupakan bentuk ibadah yang dengannya ia mendekatkan diri kepada-Nya dan memperoleh pahala.
Rather, he should persist in calling upon Allaah for each time you supplicate to Him, that is a form of worship by which you draw nearer to Him and are rewarded.
Maka, saudaraku, hendaklah engkau senantiasa tekun berdoa dengan tulus kepada Allah () saja dalam seluruh urusanmu, baik yang umum maupun yang khusus, baik perkara kecil maupun perkara besar. Bahkan seandainya tidak ada alasan lain selain bahwa berdoa hanya kepada Allah () adalah ibadah, maka sudah sepatutnya seseorang terus-menerus teguh dalam amalan ini. Dan keberhasilan itu hanya ada pada Allah.
So, my brother, you must stay constant upon making Du’aa sincerely to Allaah () alone in all of your affairs, the general and specific, the minor and critical matters. And even if there was nothing other than the fact that making Du’aa to only Allaah () is worship, then it would definitely be worthwhile for a person to constantly remain steadfast on this action. And with Allaah lies all success.
16 Dikutip dari "Majmoo' Fataawaa wa Rasaail" (14/138).
16 Taken from “Majmoo’ Fataawaa wa Rasaail” (14/138).
17 Haram baik secara zatnya (seperti makanan, minuman, dan pakaian) atau diperoleh dengan cara yang haram.
17 Either impermissible (Haraam) in itself (food, drink, clothing) or obtained by impermissible means.
18 Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim (no. 1015).
18 The Hadeeth was recorded by Muslim (no. 1015).
19 Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 3809), dan Syaikh al-Albani menyatakannya sahih dalam “Shahih Sunan at-Tirmidzi” (no. 2819), Abu Dawud (no. 1488) – “Shahih Sunan Abi Dawud” (no. 1320), Ibnu Majah (no. 3865) – “Shahih Sunan Ibnu Majah” (no. 3117), dan oleh Ahmad.
19 Recorded by at-Tirmidhee (no. 3809) and Shaykh al-Albaanee said it is authentic in “Saheeh Sunan at- Tirmidhee” (no. 2819), Aboo Daawood (no. 1488) – “Saheeh Sunan Abee Daawood” (no. 1320), Ibn Maajah (no. 3865) – “Saheeh Sunan Ibn Maajah” (no. 3117), and by Ahmad.
21 Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhaarii (no. 6340), Muslim (no. 2735), at-Tirmidzii (no. 3387), Abuu Daawuud (no. 1484), Ibnu Maajah (no. 3853) dan oleh Imaam Ahmad.
21 This Hadeeth is recorded by al-Bukhaaree (no. 6340), Muslim (no. 2735), at-Tirmidhee (no. 3387), Aboo Daawood (no. 1484), Ibn Maajah (no. 3853) and by Imaam Ahmad.


