Penjelasan tentang "Barangsiapa yang engkau jadikan sahabat setia, tidak akan pernah dihinakan."
The Explanation of “Whoever You show loyalty towards will never be humiliated.”
Kalimat ini dan kalimat berikutnya ("…dan siapa pun yang Engkau musuhi tidak akan pernah dimuliakan.") keduanya memberikan penjelasan dan rincian lebih lanjut tentang permohonan kami sebelumnya, "Peliharalah aku sebagai sahabat bersama orang-orang yang Engkau pelihara." Jika Allah mengawasi dan menjaga seseorang sebagaimana seorang sahabat, maka orang itu pasti tidak akan pernah dihinakan. Sebaliknya, jika Dia memusuhi seseorang, maka orang tersebut tidak akan pernah dimuliakan. Oleh karena itu, hal ini mengharuskan kita untuk mencari kemuliaan hanya dari Allah (SWT) semata, serta takut dan memohon perlindungan dari kehinaan dan kenistaan di hadapan Allah. Tidak mungkin seseorang benar-benar terhina dan nista apabila Allah telah menjadi sahabat dan pelindungnya. Yang terpenting adalah berusaha meraih persahabatan dengan Allah seperti ini.
This sentence and the next one (“…and whoever You show enmity towards will never be honored.”) both provide more explanation and details of our previous request, “Care for me as a companion with those You have cared for.” If Allaah watches over and guards a person as a companion would, then he would definitely never be humiliated. On the contrary, if He were to show enmity towards someone, such a person would never be honored. So this requires us to seek honor only from Allaah () alone and we fear and seek refuge from being dishonored and disgraced before Allaah. It is not possible for one to be truly humiliated and disgraced when Allaah has become his companion and guardian. The important thing is to try to achieve this type of companionship with Allaah.
Namun, bagaimana seseorang dapat memperoleh kebersamaan dan kecintaan-Nya?
Yet, how does one gain His companionship and loyalty?
Kedekatan, persahabatan, dan kesetiaan semacam ini dapat dicapai dengan mewujudkan dua sifat yang penting, yang keduanya telah dijelaskan oleh Allah (SWT) dalam Kitab-Nya: "Ingatlah, sesungguhnya para wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak bersedih hati, (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa." [Surah Yunus, 10:62-63] Dari kedua sifat ini (1-iman, 2-takwa yang terus-menerus dan penuh rasa takut kepada Allah), yang pertama berada di dalam hati dan yang kedua tampak pada anggota tubuh. "Orang-orang yang beriman" berada di dalam hati, dan "...dan mereka selalu bertakwa" tampak pada anggota tubuh. Maka ketika hati dan anggota tubuh bersih dan lurus, orang memperoleh kedekatan dan persahabatan ini karena kedua sifat tersebut. Namun, hal ini tidak diperoleh oleh mereka yang hanya mengaku sebagai kekasih dekat Allah, seperti mereka yang menempuh jalan yang sama dengan jalan para rahib, atau mereka yang membuat-buat dalam syariat Allah sesuatu yang bukan darinya, seraya berkata: "Kami adalah wali Allah!" Maka persahabatan, kesetiaan, dan perlindungan dari Allah (SWT) yang memuliakan hamba ini terkandung dalam dua sifat agung ini: iman yang benar (Eemaan11) dan takwa yang terus-menerus serta penuh rasa takut kepada Allah (Taqwaa12). Ulama Islam yang terkenal, Ibnu Taimiyah, berkata mengenai ayat ini:
This kind of allegiance, companionship, and loyalty is achievable by actualizing two significant characteristics, both of which Allaah () has clarified in His book, “Indeed, for the close allies of Allaah there will be no fear upon them, nor will they grieve – those who believe and are constantly, fearfully conscious (of Allaah).” [Soorah Yoonus, 10:62-63] Of these two characteristics (1-belief, 2-constant, fearful consciousness of Allaah), one occurs in the heart and one upon the limbs. “Those who believe” is in the heart, and “…and are constantly, fearfully conscious (of Allaah)” occurs upon the limbs. So when the heart and limbs are pure and correct, people gain this alliance and companionship by virtue of these two characteristics. However, it is not obtained by those who merely claim to be close companions of Allaah such as those who take the same paths as the monks used to, or those who innovate into the legislation of Allaah that which is foreign to it, claiming, “We are the close ones (Walee) to Allaah!” So this companionship, loyalty, and guardianship from Allaah () which honors the servant is contained within these two great attributes: the true belief (Eemaan11) and the constant, fearful consciousness of Allaah (Taqwaa12). The famous scholar of Islaam, Ibn Taymiyyah, said regarding this verse:
"Orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa (kepada Allah)." [Surah Yunus, 10:63] Beliau bersabda, "Barang siapa adalah seorang mukmin sejati yang senantiasa bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menjadi penolong, pelindung, dan pendampingnya." Ini benar karena Al-Qur'an menunjukkan hal tersebut.
“Those who believe and are constantly, fearfully conscious (of Allaah).” [Soorah Yoonus, 10:63] He said, “Whoever is a true believer who constantly remains conscious of Allaah, then Allaah will be an ally, a guardian, and a companion to him.” This is correct because the Qur’aan indicates this.
11 Iman adalah memiliki keyakinan yang benar kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, Hari Akhir, serta beriman kepada takdir segala sesuatu, baik maupun buruknya. Hal ini diriwayatkan dalam sebuah Hadis yang dicatat oleh Muslim (no. 8). Iman juga terdiri dari keyakinan dalam hati, ucapan di lisan, dan amalan anggota badan.
11 Eemaan is to have the correct belief in Allaah, His angels, His books, His messengers, the Last Day, and to believe in the pre-decree of everything, the good and bad of it. This was reported in a Hadeeth recorded by Muslim (no. 8). Eemaan also consists of a belief in the heart, a statement on the tongue, and actions of the limbs.
12. Seorang tabi'in terkemuka, Talq bin Habeeb, pernah ditanya tentang makna taqwa, lalu ia menjawab, "Taqwa adalah engkau taat kepada Allah dengan mengharap rahmat-Nya, di atas cahaya dari Allah; dan taqwa adalah engkau meninggalkan perbuatan maksiat kepada Allah karena takut kepada-Nya, di atas cahaya dari Allah." Riwayat ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam "Kitaabul-Eemaan" (no. 99), dan Syaikh al-Albaanee menyatakannya sahih.
12 A famous successor to the Companions, Talq Ibn Habeeb, was asked the meaning of Taqwaa to which he replied, “Taqwaa is that you act in obedience to Allaah hoping for His mercy, upon a light from Allaah; and Taqwaa is that you leave acts of disobedience to Allaah out of fear of Him, upon a light from Allaah.” This narration was reported by Ibn Abee Shaybah in “Kitaab al-Eemaan” (no. 99) and Shaykh al-Albaanee declared it to be authentic.