Penjelasan Tentang: "…dan lindungilah aku dari keburukan apa yang Engkau tetapkan…"
The Explanation Of: “…and Protect Me From The Evil Of What You Have Decreed…”
Allah (SWT) menetapkan apa yang baik dan apa yang buruk. Adapun ketetapan-Nya terhadap apa yang baik, yaitu sesuatu yang sepenuhnya dan mutlak baik pada dirinya sendiri, baik ketetapan dan keputusan atasnya, maupun pada apa yang dihasilkan darinya.
Allaah () decrees that which is good and that which is evil. As for His decreeing that which is good, it is that which is certainly and absolutely good in itself – the decree and decision of it, and in that which results from it.
Contoh ketetapan yang baik adalah ketetapan dan keputusan untuk memberi manusia rezeki, keamanan dan rasa aman, ketenangan, petunjuk, pertolongan, dan sebagainya. Semua ini baik dalam ketetapannya maupun akibatnya.
An example of good decree would be the decree and decision to provide mankind with sustenance, safety and security, tranquility, guidance, support, etc. These are all good in their decree and its result.
Adapun menetapkan (takdir) yang buruk, sebenarnya itu baik dalam ketetapan-Nya (Allah hanya menetapkan keputusan berdasarkan tingkat hikmah yang paling tinggi), meskipun ia dapat berakibat keburukan.
As for decreeing that which is evil, it is actually good in its decree (Allaah makes decisions only based on the highest level of wisdom) even though it may result in evil.
Contoh dari jenis yang terakhir ini adalah kekeringan – tertahannya hujan. Hal ini menimbulkan keburukan (kesulitan bagi manusia), namun ketetapan Allah atasnya adalah baik. Bagaimana menetapkan kekeringan bisa menjadi sesuatu yang baik? Seandainya seseorang bertanya, “Allah menetapkan dan memutuskan untuk menimpakan kepada kita masa kekeringan; ternak mati dan tanaman rusak, lalu bagaimana itu bisa baik?” Maka kita jawab: dengarkanlah firman Allah (), “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” [Surah ar-Rum, 30:41] Dalam hal ini, ketetapan itu mengandung kebaikan yang paling utama dan alasan yang paling terpuji, yaitu manusia kembali kepada Allah (), kembali dari berbuat maksiat kepada-Nya menuju ketaatan kepada-Nya. Jadi akibatnya bisa berupa keburukan, namun ketetapan dan keputusan awalnya adalah baik.
An example of this latter type would be a drought – the withholding of rain. This results in evil (hardships upon the people), yet Allaah’s decreeing it is good. How is decreeing a drought something good? If someone were to ask, “Allaah decreed and decided to put upon us a time of drought; the livestock die and the crops are ruined, so how is this good?” To this we reply to listen to this statement of Allaah (), “Corruption has appeared throughout the land and sea by (as a result of) what the hands of people have earned so that He may let them taste part of what they have done that perhaps they may return (in repentance).” [Soorah ar-Room, 30:41] In this case, the decree is for the utmost good and the most praiseworthy reason – the people returning to Allaah (), returning from sinning against Him to His obedience. So the result may be evil, yet the initial decree and decision is good.
Jadi dalam pernyataan ini, kata "Maa" berarti "apa", dan di sini ia berfungsi sebagai Ism al-Mawsul, yaitu kata ganti penghubung (kata sambung relatif).
So in this statement is the word Maa “What” and here it is a Ism-ul-Mawsul “a Relative Pronoun”.
Maka makna yang benar adalah:
Thus the proper meaning is:
"Lindungilah kami dari kejahatan yang Engkau tetapkan" Allah Yang Maha Tinggi menetapkan sesuatu dengan keburukan karena (hikmah-Nya) yang sempurna dan terpuji. Kata 1 (maa) "apa" di sini bukanlah Maa al-Masdariyyah "Untuk memperkenalkan klausa yang setara dengan masdar atau infinitif" yang berarti "Ketetapan ilahi-Mu mengandung kejahatan", melainkan merupakan kata ganti relatif dengan makna U V (al-Ladhee) "yang". Hal ini karena ketetapan dan keputusan Allah tidak pernah buruk pada dirinya sendiri. Karena itu, Nabi ﷺ pernah bersabda ketika memuji Tuhannya, "Kebaikan, seluruhnya, ada di kedua tangan-Mu, dan keburukan tidak disandarkan kepada-Mu."10
“Protect us from the evil that You decreed” Allaah Most High decrees with evil due to (His) complete and commendable wisdom. The 1 (maa) “what” here is not Maa al-Masdariyyah “To introduce a clause equivalent to a masdar or infinitive” which would mean “Your divine decree contains evil” rather it is a relative pronoun with the meaning of U V (al-Ladhee) “The one who”. This is because the decree and decision of Allaah is never evil in itself. For this, the Prophet () once said while praising his Lord, “The good, all of it, is in Your two hands, and evil is not attributed to You.”10
Demikianlah, kejahatan tidak pernah disandarkan atau dinisbatkan kepada Allah.
So evil is never associated with or attributed to Allaah.
10 Ini adalah bagian dari sebuah hadis panjang yang diriwayatkan oleh Muslim (no. 771), at-Tirmidzi (no. 3422), an-Nasa'i (no. 897), Abu Dawud (no. 760), dan oleh Imam Ahmad.
10 This is part of a long Hadeeth recorded by Muslim (no. 771), at-Tirmidhee (no. 3422), an-Nasaaee’ (no.897), Aboo Daawood (no. 760), and by Imaam Ahmad.