Penjelasan tentang: "Ya Allah, beri aku petunjuk bersama orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk…"
The Explanation Of: “o Allaah, Guide Me With Those You Have Guided…”
Tunjukilah aku kepada kebenaran dan tolonglah aku untuk mengamalkannya. Petunjuk yang sempurna dan bermanfaat adalah petunjuk yang Allah berikan kepada seorang hamba dalam hal ilmu sekaligus amal. Petunjuk tanpa amal tidak memberi manfaat yang sebenarnya; bahkan ia dapat membawa mudarat, karena jika seseorang tidak mengamalkan apa yang ia ketahui, maka ilmunya itu justru menjadi bukti yang memberatkannya.
Meaning: Guide me to the truth and assist me in acting in accordance with it. Complete, beneficial guidance is that in which Allaah combines for a servant in both knowledge and action. Guidance without action is of no real benefit; rather it is even harmful because if a person does not act in accordance with what he knows, his knowledge then becomes evidence against him.
Contoh petunjuk berupa ilmu tetapi tanpa amal adalah firman Allah, "Adapun kaum Tsamud, Kami telah memberi mereka petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai kebutaan daripada petunjuk." [Surah Fushshilat, 41:17] Maknanya: Kami telah menjelaskan jalan kepada mereka dan Kami telah menyampaikan ilmu kepada mereka.
An example of guidance in the form of knowledge yet with no action is the verse of Allaah “As for Thamood, We guided them, but they preferred blindness over guidance.” [Soorah Fussilat, 41:17] Meaning: We clarified the path to them and We conveyed the knowledge to them.
Namun mereka lebih memilih kebutaan daripada petunjuk, dan kepada Allah kami memohon perlindungan dari hal itu.
However, they preferred blindness over guidance, and from this we seek refuge with Allaah.
Dan juga termasuk dari jenis petunjuk ini, yaitu petunjuk berupa ilmu dan penjelasan kebenaran, adalah firman Allah () kepada Nabi (), "Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus." [Surah asy-Syura, 42:52] Maknanya: Engkau mengarahkan manusia kepada jalan yang lurus dan mengajarkan mereka tentangnya. Adapun jenis petunjuk lainnya, yaitu pemberian taufik, contoh jenis ini adalah firman-Nya, "Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi." [Surah al-Qasas, 28:56] Ini adalah petunjuk berupa pemberian taufik kepada seseorang dalam amal perbuatannya. Dalam hal ini, Rasulullah ()
Also from this type of guidance, which is knowledge and clarifying the truth, is the statement of Allaah () to the Prophet (), “And indeed, you guide to the straight path.” [Soorah ash-Shooraa, 42:52] Meaning: You direct the people to the straight path and teach them about it. As for the other type of guidance which is the granting of success, an example of this type is the verse, “Indeed, you do not guide whoever you like.” [Soorah al-Qasas, 28:56] This is the guidance of granting one success in their deeds. In this case, the Messenger ()
...tidak pernah mampu memberikan keberhasilan amal baik seseorang, karena jenis petunjuk ini hanya milik Allah semata. Seandainya Nabi ﷺ mampu memberikan petunjuk semacam itu, tentu beliau akan memberi petunjuk kepada pamannya, Abu Thalib. Beliau telah mencobanya dengannya, dan bahkan ketika Abu Thalib hampir meninggal, Nabi ﷺ berkata kepadanya, "Wahai paman, ucapkanlah 'Tidak ada yang berhak disembah selain Allah,' suatu kalimat yang dengannya aku akan bersaksi untukmu di hadapan Allah." Namun ketetapan Allah (SWT) telah berlaku bahwa ia termasuk penghuni Neraka, dan dari hal ini kita berlindung kepada Allah. Maka ia tidak bersaksi dan tidak meyakini bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah. Perkataan terakhir Abu Thalib sebelum meninggal adalah bahwa ia akan tetap berada di atas agama 'Abdul-Muththalib. Meski demikian, Allah (SWT) mengizinkan utusan-Nya ﷺ untuk memberi syafaat kepadanya, bukan semata-mata karena ia paman Nabi ﷺ, tetapi karena Abu Thalib terus-menerus membela Nabi ﷺ dan Islam (meskipun ia sendiri tidak menerima Islam). Oleh karena itu, Nabi ﷺ...
is never able to grant someone the success of their good actions as this type of guidance is specific to Allaah alone. If the Prophet () were capable of that type of guidance, he would have guided his uncle, Aboo Taalib. He tried this with him and even when he (Aboo Taalib) was about to die, the Prophet () said to him, “O uncle, declare, ‘There is nothing worthy of worship except Allaah,’ – a statement by which I will testify on your behalf before Allaah.” But the decree of Allaah () had already passed that he would be from the inhabitants of the Fire, and from this we seek refuge with Allaah. So he neither testified nor believed that nothing has the right to be worshipped except Allaah. The last thing Aboo Taalib said before dying was that he would remain upon the religion of ‘Abdul-Muttalib.5 Despite this, Allaah () permitted His messenger () to intercede for him, not just because he was the Prophet’s uncle, but because Aboo Taalib used to continually defend the Prophet () and Islaam (even though he did not personally accept Islaam). Therefore, the Prophet ()
Beliau ﷺ memberi syafaat untuk Abu Thalib, dan karena syafaat ini, beliau ﷺ bersabda tentang pamannya, "Dia berada di lapisan Neraka yang paling bawah, dan seandainya bukan karena aku, dia pasti berada di bagian Neraka yang paling bawah dan paling dalam."6
interceded for Aboo Taalib and because of this intercession, he () said about his uncle, “He is in the lowest part of the Fire, and if it were not for me, he would have been in the lowest, deepest part of the Fire.”6
Selain itu, Nabi ﷺ bersabda, "Mudah-mudahan syafaatku bermanfaat baginya pada Hari Kiamat sehingga ia ditempatkan di bagian neraka yang paling bawah, yang hanya mencapai mata kakinya, namun dari situ otaknya akan mendidih." Maka ketika kita mengucapkan dalam Doa Qunut, "Berilah kami petunjuk bersama orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk," kita sedang memohon kepada Allah kedua jenis petunjuk, yaitu petunjuk berupa ilmu dan petunjuk berupa amal. Dengan cara ini, firman-Nya berikut juga mencakup kedua jenis petunjuk tersebut, "Tunjukilah kami jalan yang lurus." [QS. al-Fatihah, 1:6] Oleh karena itu, ketika seseorang membaca doa ini, hendaknya ia dengan hati yang hadir mengingat bahwa ia sedang memohon kedua jenis petunjuk, yaitu petunjuk berupa ilmu yang benar dan petunjuk untuk mengamalkannya.
In addition, the Prophet () said, “Perhaps my intercession will benefit him on the Day of Resurrection so that he will be put into the lowest part of the Fire, it reaching only to his ankles, yet from which, his brain will boil.” So when we say in the Du’aa of Qunoot, “Guide us with those You have guided,” we are asking Allaah for both types of guidance – the guidance of knowledge and the guidance of action. In this way, the following verse includes both of these types of guidance, “Guide us to the straight path.” [Soorah al-Faatihah, 1:6] So when one says this Du’aa, he should, with his heart present, call to mind that he is asking for both types of guidance – the guidance of the correct knowledge and the guidance of acting in accordance with it.
Adapun lafaz "…dengan orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk," ini merupakan cara bertawassul (mendekatkan diri kepada Allah) dengan menyebutkan karunia-Nya kepada orang lain, yaitu bahwa Dia telah memberi mereka petunjuk. Maka dari itu, kita juga memohon kepada-Nya agar Dia menganugerahkan karunia yang sama kepada kita dan memberi kita petunjuk. Dengan kata lain, kita memohon kepada-Mu (ya Allah) agar diberi petunjuk, sebab hal itu hanyalah karena rahmat dan hikmah-Mu serta karunia-Mu yang telah lalu, sebagaimana Engkau telah memberi petunjuk kepada orang-orang lain.
As for the wording, “…with those You have guided,” this is a way of at-Tawassul (seeking nearness to Allaah) by mentioning His favors on others in that He guided them. So we therefore also ask Him to bestow the same favor upon us and guide us. In other words, we ask You (Allaah) for guidance, for that is only by virtue of Your mercy and wisdom and your past favors as You have guided others.
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhaari (no. 1360, 3884, 4675), Muslim (no. 24), an-Nasaa'i (no. 2035), dan Ahmad.
5 The Hadeeth was recorded by al-Bukhaaree (no. 1360, 3884, 4675) Muslim (no. 24), an-Nasaaee’ (no. 2035), and by Ahmad.
6 Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhaari (no. 3883, 6208) dan Muslim (no. 209), serta Imam Ahmad.
6 The Hadeeth is recorded by al-Bukhaaree (no. 3883, 6208) and Muslim (no. 209) as well as Imaam Ahmad.
7 Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhaari (no. 3885, 6564) dan Muslim (no. 210), dan juga oleh Ahmad.
7 The Hadeeth is recorded by al-Bukhaaree (no. 3885, 6564) and Muslim (no. 210) and also by Ahmad.