Perbedaan antara Spontanitas dan Ketaatan yang Cepat
The Difference Between Spontaniety And Quick Observance
Spontanitas dan kecepatan dalam memperhatikan keduanya berasal dari satu hal, yaitu kecepatan dalam memahami. Namun, spontanitas disertai dengan hasil-hasilnya, seperti ketika seorang wanita berkata kepada Umar bahwa suaminya berdiri shalat malam dan berpuasa di siang hari; juga ketika seorang wanita memberikan apel kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau ﷺ membaginya menjadi dua bagian dan memberikan satu bagiannya kepadanya. Pada contoh wanita yang mengadu kepada Umar, orang Badui yang bersama Umar memahami bahwa wanita itu mengadu tentang suaminya dan tidak memujinya.
Spontaniety and quick observance both come from one matter, which is quick understanding. However, spontaniety comes together with its results, such as when the woman said to Omar that her husband stood the night praying and fasted the day; also when the woman gave the apple to the Messenger and he divided it into two parts and gave her one part. In the example of the woman that complained to Omar, the Bedouin who was with Omar understood that she complained about her husband and did not praise him.
Pemahaman bahwa ini adalah keluhan dan bukan pujian termasuk spontanitas. Adapun wanita yang memberikan apel kepada Rasulullah ﷺ, ia bermaksud menanyakan tentang haid, maka Rasulullah ﷺ memahami maksudnya dan menjawabnya. Contoh ini termasuk kecepatan memperhatikan (sur'atul mulahazah), bukan spontanitas. Hal ini karena Rasulullah ﷺ memahami dari apel tersebut bahwa yang dimaksud adalah haid, sehingga ini termasuk kecepatan memperhatikan, meskipun didasarkan pada pemahaman yang cepat.
The understanding that this is a complaint and not praise is spontaniety. As for the woman who gave the apple to the Messenger , she intended to know about menstruation, so the Messenger understood her purpose and answered her. This example is quick observance and not spontaniety. This is because the Messenger understood from the apple that she meant menstruation, so this was quick observance, though it was based on quick understanding.
Pengamatan cepat (al-faraasah) adalah memahami maksud pembicara atau pelaku dengan cepat, sedangkan kecerdasan spontan (al-badiihah) adalah memahami maksud pembicara dan pelaku dengan cepat, tetapi dengan perbedaan. Pada kecerdasan spontan, seseorang memahami maksud pembicara dari ucapannya. Namun, ucapan itu bisa memiliki banyak makna; jika seseorang memahami makna yang benar, maka itulah kecerdasan spontan. Sedangkan pengamatan cepat terjadi ketika pembicara atau pelaku menyamarkan ucapannya, padahal ia bermaksud pada satu makna tertentu yang kamu tangkap.
Quick observance is to understand the purpose of the speaker or the doer quickly, whereas spontaniety is to understand the purpose of the speaker and the doer quickly but with a difference. In spontaniety, one understands the purpose of the speaker from the speech. However, the speech may have many meanings, if one understood the correct meaning then this is spontaniety. While quick observance is that the speaker or the doer obscures his speech, while he aims at one particular meaning that you grasp.
Dengan demikian, pemahamanmu terhadapnya adalah kecepatan menangkap maksud (quick observance), bukan spontanitas. Maka ucapan atau perbuatan itu dipahami dengan cepat. Spontanitas dan kecepatan menangkap maksud memiliki kesamaan dalam aspek ini, tetapi keduanya kemudian berpisah. Jika tujuan pembicara atau pelaku hanya satu, tetapi ia mengaburkan ucapan atau perbuatannya, maka ini disebut kecepatan menangkap maksud. Namun, jika ia memaksudkan banyak perkara, tetapi ia mengaburkan perkara-perkara tersebut, maka yang digunakan adalah spontanitas, bukan kecepatan menangkap maksud. Dengan demikian, mengaburkan ucapan atau perbuatan mengarah pada kecepatan menangkap maksud, sedangkan mengaburkan tujuan mengarah pada spontanitas.
Thus, your understanding of him is quick observance and not spontaniety. Thus, the speech or the action is understood quickly; spontaniety and quick observance share that aspect, but they then depart from each other. If the purpose of the speaker or the doer is only one thing, but he obscures his words or action, then this is quick observance. However, when he means many matters, but he obscures these matters, then you should use spontaniety and not quick observance. Thus, obscuring the speech or the action leads to quick observance, while obscuring the purpose leads to spontaniety.
Kedua hal, yakni spontanitas dan pengamatan cepat, tidak dapat ada kecuali dengan pemikiran yang cepat. Oleh karena itu, keduanya hanya dapat ada pada orang-orang yang cerdas. Namun, pemahaman yang cepat ini hanya mengarah pada satu hal, yaitu pada pengamatan cepat atau pada spontanitas. Jika ketidakjelasan atau kekaburan terdapat dalam ucapan atau perbuatan itu sendiri, maka itu adalah pengamatan cepat. Jika ketidakjelasan atau kekaburan terdapat dalam tujuan dari ucapan atau perbuatan tersebut, maka itu adalah spontanitas.
The two matters, spontaniety and quick observance, can’t exist except with quick thinking. Therefore, both can only exist in intelligent people. However, this quick understanding only leads to one thing, either to quick observance or to spontaniety. If the obscurity or vagueness were in the speech or the action itself, it would be quick observance. If the obscurity or vagueness were in the purpose of the speech or action, it would be spontaniety.
Oleh karena itu, dalam pernyataannya kepada Umar tentang suaminya, wanita itu menyamarkan maksudnya dan membuatnya samar. Sementara itu, wanita yang memberikan apel kepada Rasulullah ﷺ menyamarkan perbuatannya tetapi tidak menyamarkan maksudnya. Oleh sebab itu, tindakan terhadap wanita bersama Rasulullah ﷺ termasuk kesigapan dalam mengamalkan syariat, sedangkan tindakan terhadap wanita bersama Umar termasuk spontanitas. Inilah perbedaan antara menyamarkan maksud, sehingga disebut spontanitas, dan menyamarkan ucapan atau perbuatan, sehingga disebut kesigapan dalam mengamalkan syariat. Yang diharapkan adalah berkembangnya spontanitas, bukan kesigapan dalam mengamalkan syariat.
Therefore, in her statement to Omar about her husband, the woman obscured her purpose and made it vague. While the woman who gave an apple to the Messenger obscured the action but did not obscure the purpose. Therefore, the action regarding the woman with the Messenger was quick observance, while the action regarding the woman with Omar was spontaniety. This is the difference between making the purpose vague, so it would be spontaniety, and making the speech or the work vague, so it would be quick observance. What is hoped for is the development of spontaniety and not quick observance.