Penanganan Masalah
The Treatment Of The Problem
Kelambanan dalam berpikir adalah masalahnya. Kelambanan ini berasal dari dominasi Barat atas negeri ini dan dominasi pemikirannya atas rakyat. Oleh karena itu, pada awalnya mungkin tampak bagi pikiran bahwa penanganan terhadap sumber ini adalah solusi bagi masalah tersebut. Namun, setelah diperiksa dengan saksama, ada dua hal yang tampak.
Slowness in thinking is the problem. This slowness comes from the domination of the West over the country and the domination of its thoughts over the people. Therefore, it may seem at first to the mind that the treatment of this origin is the solution to the problem. However, after close examination, two matters are noticed:
Pertama, ini adalah penyederhanaan masalah yang berlebihan. Kedua, ini berarti melarikan diri dari upaya mengatasi masalah. Oleh karena itu, asal-usul ini hanya perlu dicatat selama proses pengobatan, tetapi solusinya tidak bergantung padanya. Adapun penyederhanaan masalah, Barat dan dominasinya adalah sumber dari segala kesulitan, termasuk lambannya berpikir. Memusatkan pengobatan pada akarnya berarti bahwa penghapusannya akan menghilangkan kelambanan tersebut. Meskipun ini benar secara keseluruhan, hal itu perlu ditindaklanjuti. Dengan demikian, kurangnya perhatian terhadap tindak lanjut merupakan penyederhanaan masalah. Jadi, masalahnya adalah penghapusan akarnya dan adanya tindak lanjut. Adanya tindak lanjut diperlukan, bahkan jika akarnya telah dihapus. Tindak lanjut itulah yang mengarah pada penghapusan apa yang ditinggalkan oleh akar, bukan akarnya itu sendiri. Oleh karena itu, tindak lanjut adalah asal-usul pengobatan dan bukan penghapusan akar. Maka tindak lanjut adalah solusinya, baik akar yang berupa dominasi Barat tetap ada maupun tidak. Namun, penghapusan akar mengurangi kebutuhan akan tindak lanjut dan membuatnya lebih efektif.
firstly, this is an over-simplification of the problem. Secondly, this means escape from treating the problem. Therefore, this origin has only to be noted during treatment, but the solution does not depend on it. As for the simplification of the problem, the West and its domination is the source of all the predicaments, including slowness of thinking. Focusing the treatment on the basis means that its removal would remove the slowness. Though this is true as a whole, it needs pursuance. Thus, the lack of observance of pursuance is a simplification of the problem. So, the problem is the removal of the basis and the presence of pursuance. The presence of pursuance is necessary, even if the basis is removed. The pursuance is what leads to the removal of what the basis left, not the basis itself. Therefore, pursuance is the origin of the treatment and not the removal of the basis. So pursuance is the solution whether the basis, which is the domination of the West, remained or not. However, the removal of the basis reduces the pursuance and makes it more effective.
Dengan demikian, pelaksanaan adalah hal yang menjadi awal dari pengobatan. Pelaksanaan itulah yang menghilangkan pengaruh dari dasar ini. Oleh karena itu, pelaksanaan diperlukan sebelum hal lainnya.
Accordingly, pursuance is what the treatment starts with. Pursuance is what removes the effects of this basis. Thus, pursuance is necessary before anything else.
Dengan demikian, pengobatan atas lambatnya berpikir adalah pengejaran. Pengejaran itu tak terelakkan, karena tanpa itu tidak ada solusi. Oleh karena itu, pengobatan yang sebenarnya atas kelambatan dalam berpikir, yakni atas tidak adanya spontanitas atau upaya mengembangkannya, adalah pengejaran. Pengejaran ini difokuskan pada kelambatan berpikir sebagai berikut:
Thus, the treatment of slow thinking is pursuance. Pursuance is inevitable, for there is no solution without it. Therefore, the true treatment of the slowness in thinking, i.e. of the absence of spontaniety or its development, is pursuance. Pursuance is focused on slowness of thinking as follows:
Pertama: Perlu menghadirkan banyak hal kepada orang-orang dan kepada individu-individu agar mereka memikirkannya. Melalui pemikiran mereka tentang hal-hal ini dan tentang apa yang terjadi di hadapan mereka, kelambanan dalam berpikir mungkin dapat terlihat. Pengamatan atau perasaan tentang kelambanan ini dijadikan titik awal dalam pengobatan. Maka kita harus mengambil pengamatan atau perasaan semacam itu dan mempelajarinya secara menyeluruh hingga kita memahami hakikatnya. Misalnya, kita menghadirkan kepada orang-orang sesuatu, seperti masa depan mereka, keadaan mereka saat ini, atau sejarah mereka. Kita mendapati mereka menganalisis masa depan ini dengan lambat hingga ia lepas dari genggaman mereka. Mereka juga menganalisis realitas dan sejarah mereka dengan cara yang sama. Padahal, analisis tentang masa depan berbeda dengan analisis tentang realitas dan berbeda pula dengan analisis tentang sejarah. Namun, kebiasaan mereka berpikir lambat dan fakta bahwa hal itu telah menjadi bawaan bagi mereka, membuat mereka membutuhkan waktu lama dalam menganalisis dan mereka memfilsafatkan hal-hal yang bersifat otomatis, hingga masa depan, realitas, atau sejarah menjadi kabur alih-alih semakin jelas. Kelambanan dalam berpikir ini adalah fenomena yang menonjol pada mereka semua. Maka kita tidak membahas apa yang telah kita hadirkan, apa pun itu; sebaliknya, kita mengambil fenomena yang tampak pada mereka semua. Kita memegangnya, menangkapnya, dan menyerangnya dengan keras; kita menjelaskan bahwa ia termasuk salah satu cacat yang paling menonjol, sehingga membuatnya dibenci oleh orang-orang, hingga benar untuk dikatakan kepada mereka bahwa madu adalah kotoran lebah. Jika mereka membenci kelambanan dalam berpikir, yakni membenci analisis yang lambat, akan muncul kecenderungan dalam diri mereka menuju kecepatan berpikir. Kecenderungan ini adalah tanda pertama kesembuhan. Jika kecenderungan ini tidak tampak dengan jelas, maka kita harus menciptakannya dalam diri mereka. Hal itu dapat dilakukan melalui isyarat, atau dengan pengobatan yang cepat dan efek dari kecepatan tersebut. Dengan demikian, kecenderungan ini akan ada pada sebagian dari mereka, jika tidak pada semuanya. Namun, tidak akan lama sebelum ia ada pada mereka semua. Dengan demikian, menyajikan persoalan dan menyerang fenomena yang tampak akan membawa kita pada kecenderungan menuju kecepatan. Ini adalah tanda pertama keberhasilan. Penanganan kelambanan tidak dihasilkan dari penjelasan dan demonstrasi, atau melalui pidato dan penulisan buku. Penanganan itu justru dihasilkan dari penggunaan sejumlah kata terbatas yang mengandung tindakan, atau melalui tindakan itu sendiri. Inilah yang disebut mengejar (pursuance). Dengan demikian, mengejar adalah sejumlah kata terbatas dan tindakan yang tampak.
Firstly: It is necessary to present many things to the people and to the individuals so that they think of them. Through their thinking about these things and about what occurs in front of them, slowness in thinking might be noticed. This observance or sensation of the slowness is taken as the starting point in the treatment. So we should take such observance or such sensation and study it thoroughly until we understand its reality. For example, we present to the people something, like their future, their current situation or their history. We find them analyse this future slowly until it slips away from their hands. They also analyse their reality and their history in the same manner. This is despite the fact that analysis of the future is different to the analysis of the reality and to the analysis of history. However, their use of slow thinking and the fact that it became innate to them, makes them take a long time in analysis and they philosophise the automatic things, until the future, the reality or the history becomes vague instead of increasing in clarity. This slowness in thinking is the prominent phenomenon in all of them. So we do not discuss what we presented, whatever it is; rather we take the phenomenon apparent in all of them. We hold it, seize it and attack it strongly; we explain that it is one of the most prominent faults, making it loathsome to the people, to the point that it is right to say to them that honey is the excrement of the bees. If they disliked slowness in thinking, i.e. they hated slow analysis, inclination in them towards speed in thinking would appear. This tendency is the first sign of recovery. If this tendency does not appear clearly, then we have to create it in them. This can be through allusion, or by quick treatments and the effect of the speed. Thus this tendency will exist in some of them, if not in all of them. However, it will not take a long time before it exists in all of them. Thus, presenting the matter and attacking the apparent phenomenon would lead us to the tendency towards speed. This would be the first indication of success. The treatment of slowness does not result from explanation and demonstration, or through speeches and writing books. It rather results from the use of a limited number of words that contain actions, or through the actions themselves. This is pursuance. Accordingly, pursuance is a limited number of words and apparent actions.
Kedua: Perlu untuk terus menindaklanjuti dengan presentasi dan kegigihan dalam usaha ini, sampai muncul rasa bosan pada orang-orang atau individu-individu dari usaha ini, seolah-olah mereka berkata, "Tolonglah, cukup sudah." Tidak diharapkan bahwa semua orang akan mengatakan bahwa itu sudah cukup. Dan tidak memadai jika hanya satu atau dua orang yang mengatakan hal itu.
Secondly: It is necessary to follow up the presentation and the insistence in this pursuance, until boredom appears to the people or the individuals from this pursuance, as if they were to say, “please, it is enough”. It is not expected that all of the people will say that it is enough. Nor is it satisfactory that one or two people said that.
Sebaliknya, hendaknya dirasakan bahwa orang-orang sudah jemu dengan pengejaran itu. Pada titik itulah pengejaran dihentikan. Tidaklah benar untuk terus mengejarnya hingga semua orang jemu terhadapnya, tanpa merasakan atau menyadarinya. Pengejaran tidak boleh dihentikan hanya karena beberapa orang yang cerdas, atau sejumlah kecil dari orang-orang. Justru yang diperlukan adalah seseorang terus menindaklanjuti hingga ia merasa bahwa pengejaran itu tidak lagi berguna. Pada titik itu, seseorang menghentikan pengejaran begitu ia merasakannya.
Rather, it should be felt that the people were fed up with the pursuance. At that point, pursuance is ceased. It is not correct to pursue this until all the people were fed up of it, without feeling or sensing it. Pursuance should not cease just because of a few intelligent individuals, or a small number of the people. It is rather necessary that one follow up till one feels that pursuance would be of no use. At that point one stops pursuance once one felt that.
Hal ini karena diasumsikan bahwa perasaan tersebut ada berdasarkan realitas yang menyeluruh, bukan realitas dari beberapa individu yang cerdas saja.
This is because it is supposed that this feeling existed based on a comprehensive reality and not a reality of a few intelligent individuals.
Ketiga: Dakwah harus bervariasi. Artinya, setelah menyampaikan kepada manusia tentang masa depan, keadaan saat ini, dan sejarah mereka, perlu juga disampaikan kepada mereka tentang kehidupan mereka, kejenuhan kehidupan ini, dan caranya. Cara hidup mereka juga disampaikan kepada mereka, serta perlindungan terhadap cara hidup ini, bahkan dengan pedang, yaitu dengan kekuatan.
Thirdly: Pursuance has to vary. This means, after presenting to the people their future, current situation and their history, it is necessary to present to them their life, the monotony of this life and its manner. Their way of life is also presented to them and the protection of this way of life, even by the sword, i.e. force.
Selain itu, pandangan terhadap orang yang menyelisihi jalan ini harus tanpa toleransi maupun kelalaian; bahkan harus berupa pandangan yang sampai pada permusuhan. Berbagai perkara lain kemudian disajikan dengan cara yang beragam. Ini mencakup perkara-perkara yang membutuhkan pemikiran dan bukan yang bersifat otomatis, seperti usaha dagang, kursi, dan piring.
Moreover, the outlook towards the one who disagrees with this way should be without tolerance or negligence; it should even be an outlook that reaches hostility. Other matters are then presented, in a varied way. This should include those matters that require thinking and not automatic ones, like the venture, the chair and the plate.
Mereka seharusnya termasuk golongan orang-orang yang perlu berpikir.
They rather should be of those that need thinking.
Keempat: Seseorang harus berada dalam keadaan sadar atas perkara-perkara ketika ia menyampaikannya kepada orang banyak, sadar akan pengaruhnya dan akan cara berpikir orang-orang mengenainya. Hal ini agar renungannya, yakni kesadarannya, menjadi sarana untuk menguji kebenaran putusan-putusan yang ia keluarkan dan ketepatan pandangan-pandangan yang ia ungkapkan. Hal ini juga agar serangan diarahkan pada tempat yang tepat, menurut pandangan pendengar maupun pembicara. Jika seseorang kehilangan kesadaran, ia akan kehilangan segalanya, sebab tidak ada manfaat dari kesungguhan, pengulangan, atau keragaman tanpa adanya kesadaran dan renungan. Dengan demikian, kesadaran dan renungan termasuk hal-hal yang wajib untuk meraih keberhasilan.
Fourthly: One has to be in a state of awareness of the matters when he presents them to the people, aware of their effect and of the people’s thinking regarding them. This is in order that his reflection, i.e. awareness, is a means of testing the validity of the judgements he issues and the correctness of the observances that he expresses. This is also in order to launch the attack in the right place, in the view of the listener and the speaker. If one lost awareness one would lose everything, for there is no advantage from the pursuance or the repetition or the diversity, without the presence of awareness and reflection. Thus, awareness and reflection are among the necessities for success.
Adapun orang-orang yang akan melaksanakan pengobatan ini, pada awalnya tampak di benak bahwa yang melakukannya haruslah para pemimpin, orang-orang yang tulus, atau mereka yang bertanggung jawab atas umat atau individu. Padahal kenyataannya, siapa pun dapat melakukannya terhadap orang lain maupun terhadap dirinya sendiri, selama ia memenuhi empat syarat tersebut. Oleh karena itu, pengobatan ini tidak dirancang untuk dilakukan oleh orang tertentu saja. Pengobatan ini justru dirancang secara umum, mencakup para pemimpin, orang-orang yang tulus, para wali, dan setiap orang yang mungkin dari kalangan umat. Bahkan jika engkau menghadapkan persoalan itu pada dirimu sendiri lalu mengobati dirimu sendiri, engkau tetap akan diobati dengan benar dan itu sudah mencukupi. Maka harus dipahami dengan jelas bahwa pengobatan ini menjadi milik setiap orang; setiap orang dapat melaksanakannya, meskipun ia seorang diri dan meskipun dilakukan terhadap dirinya sendiri. Yang dipentingkan adalah pengobatannya, bukan siapa yang melaksanakannya.
As for the ones who will carry out the treatment, it appears at first to the mind that it should be the leaders, sincere ones or those in charge of the people or individuals. In reality, any person can do that with people or with himself, as long as he followed the four conditions. Therefore, the treatment is not designed for a particular person to undertake. It is rather designed in a general way that includes the leaders, sincere ones, guardians and any possible person from the Ummah. Even if you presented the matter to yourself and treated yourself, you would be treated correctly and it would be enough. Therefore, it must be well known that this treatment is the property of every man; every man can undertake it, even if he was one person and even if it was on himself. So what counts is the treatment, not who carries it out.