Lampiran
Appendix
Vonis terhadap hadis-hadis yang disebutkan dalam Kata Pengantar
Verdicts on the ahadith mentioned in the Foreword
1. Mutawatir, sebagaimana dinyatakan oleh banyak ulama, di antaranya Ibnu Taimiyyah, as-Suyuti, Najm ad-Din al-Iskandari (w. 981) dan al-'Ijlouni (w. 1162). Tentang hadis ini, ad-Daraqutni berkata, "Ia adalah yang paling..."
1. Mutawatir, as declared by many scholars, including Ibn Taimiyyah, al-Suyuti, Najm al-Din al-Iskandari (d. 981) and al-'Ijlouni (d. 1162). About this hadith, al-Daraqutni said, "It is the most.
2. Hadits sahih riwayat al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu 'Asakir: "Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, siapa yang menjaganya, ia akan masuk surga." Dalam beberapa riwayat hadits ini yang terdapat pada at-Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim dan lainnya, nama-nama tersebut disebutkan di akhir hadits; namun setidaknya ada tiga daftar berbeda yang diberikan, misalnya salah satu daftar berbunyi, "Dia adalah Allah, yang tiada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang, ..., Yang Maha Penyantun," sementara daftar lain berbunyi "Allah, Yang Esa, Yang Mutlak, ..., Yang tiada sesuatu pun serupa dengan-Nya." Telah disepakati bahwa riwayat-riwayat terakhir ini adalah da'if, dan inilah sebabnya al-Bukhari dan Muslim tidak memasukkannya dalam kitab Sahih mereka. At-Tirmidzi berkata dalam Sunan-nya, "Hadits (versi) ini gharib; diriwayatkan melalui berbagai jalur dari Abu Hurairah, namun kami tidak mengetahui penyebutan nama-nama tersebut dalam banyak riwayat, kecuali riwayat ini." Ibnu Taimiyah berkata, "Al-Walid (salah seorang perawi hadits ini) meriwayatkan nama-nama tersebut dari (perkataan) salah seorang gurunya dari Syam ... penyebutan khusus nama-nama tersebut bukan berasal dari sabda Nabi ﷺ, berdasarkan kesepakatan para ahli hadits." Ibnu Katsir berkata dalam Tafsir-nya, pada ayat 180 surah al-A'raf, bahwa riwayat-riwayat ini adalah mudraj. Ibnu Hajar memiliki pandangan serupa dalam syarahnya terhadap Sahih al-Bukhari. Berbagai ulama telah menyusun daftar berbeda dari 99 nama berdasarkan kajian mereka terhadap Al-Qur'an dan Sunnah, di antaranya Ja'far ash-Shadiq, Sufyan bin 'Uyainah, Ibnu Hazm, al-Qurthubi, Ibnu Hajar dan Shalih bin 'Utsaimin.
authentic one regarding the virtues of any surah." It is related by al-Bukhari, Muslim and others. 2. The following is the sahih hadith of al- Bukhari, Muslim, al-Tirmidhi, Ibn Majah and Ibn 'Asakir: "Verily, Allah has Ninety-Nine Names which if a person safeguards them, he will enter the Garden." In some narrations of this hadith found in al-Tirmidhi, Ibn Majah, al-Hakim and others, the names are listed at the end; however, at least three different listings are given, e.g. one list being, "He is Allah, besides whom there is no other deity, the Merciful, the Compassionate, ..., the Forbearing" while another is "Allah, the Unique, the Absolute, ..., the One who has nothing like unto Him." It is agreed that these latter narrations are da'if, and this is why al-Bukhari and Muslim did not include them in their Sahihs. Al-Tirmidhi says in his Sunan, "This (version of the) hadith is gharib; it has been narrated from various routes on the authority of Abu Hurairah, but we do not know of the mention of the Names in the numerous narrations, except this one." Ibn Taimiyyah says, "Al-Walid (one of the narrators of the hadith) related the Names from (the saying of) one of his Syrian teachers ... specific mention of the Names is not from the words of the Prophet (may Allah bless him and grant him peace), by the agreement of those familiar with Hadith."87 Ibn Kathir says in his Tafsir, under verse 180 of Surah al- A'raf, that these narrations are mudraj. Ibn Hajar takes a similar view in his commentary on Sahih al-Bukhari. Various scholars have given different lists of 99 Names from their study of the Qur'an and Sunnah, including Ja'far al- Sadiq, Sufyan b. 'Uyainah, Ibn Hazm, al-Qurtubi, Ibn Hajar and Salih b. 'Uthaimin.
3. Ibn Taimiyyah berkata, "Itu bukan dari perkataan Nabi (semoga Allah memberinya rahmat dan keselamatan), dan tidak diketahui adanya sanad untuknya, baik yang sahih maupun yang da'if"; al-Zarkasyi (w. 794 H), Ibn Hajar, al-Suyuti dan yang lainnya sependapat dengannya. Al-Qari berkata, "Tetapi maknanya benar, disimpulkan dari firman Allah: *Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku*, yakni untuk mengenal/mengetahui Aku, sebagaimana telah dijelaskan oleh Ibnu 'Abbas (semoga Allah meridai keduanya)." Pernyataan-pernyataan ini disebutkan oleh al-'Ijlauni, yang menambahkan, "Ungkapan ini sering muncul dalam perkataan para sufi, yang bersandar padanya dan membangun sebagian prinsip mereka di atasnya."88.
3. Ibn Taimiyyah says, "It is not from the words of the Prophet (may Allah bless him and grant him peace), and there is no known isnad for it, neither sahih nor da'if"; al-Zarkashi (d. 794), Ibn Hajar, al-Suyuti and others agreed with him. Al-Qari says, "But its meaning is correct, deduced from the statement of Allah, I have not created the Jinn and Mankind, except to worship Me, i.e. to recognise/know me, as Ibn 'Abbas (may Allah be pleased with them both) has explained." These statements are mentioned by al-'Ijlouni, who adds, "This saying occurs often in the words of the Sufis, who have relied on it and built upon it some of their principles."88.
4. Al-'Ijlouni berkata, "Al-Saghani (w. 650) berkata: Maudu'. Saya berkata: Tetapi maknanya benar, meskipun ia bukan hadis." no. 2123. 'Ali al-Qari berkata, "Tetapi maknanya benar, karena al-Dailami meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas secara marfu': 'Bahwa Jibril datang kepadaku dan berkata: Wahai Muhammad! Seandainya bukan karena engkau, Surga tidak akan diciptakan, dan seandainya bukan karena engkau, Neraka tidak akan diciptakan', dan dalam riwayat Ibnu 'Asakir: 'Seandainya bukan karena engkau, dunia tidak akan diciptakan'." Al-Albani juga mengutip penilaian al-Saghani, dan mengomentari ucapan al-Qari sebagai berikut, "Tidak tepat menetapkan benarnya maknanya tanpa menetapkan keotentikan riwayat dari al-Dailami, dan itu adalah sesuatu yang tidak saya temukan dibahas oleh seorang pun dari para ulama. Adapun saya pribadi, meskipun saya belum menemukan sanadnya, saya tidak ragu akan kelemahannya; cukup menjadi petunjuk bagi kita bahwa al-Dailami sendirian dalam meriwayatkannya. Adapun riwayat Ibnu 'Asakir, Ibnu al-Jauzi juga meriwayatkannya dalam sebuah hadis marfu' yang panjang dari Salman dan berkata, 'Ia maudu'', dan al-Suyuti menguatkan hal ini dalam al-La'ali."89.
4. Al-'Ijlouni says, "Al-Saghani (d. 650) said: Maudu'. I say: But its meaning is correct, even if it is not a hadith." no. 2123. 'Ali al- Qari says, "But its meaning is correct, for al- Dailami has related from Ibn 'Abbas as marfu': 'that Jibril came to me and said: O Muhammad! Were it not for you, the Garden would not have been created, and were it not for you, the Fire would not have been created', and in the narration of Ibn 'Asakir: 'Were it not for you, the world would not have been created'." Al- Albani also quotes al-Saghani's verdict, and comments on al-Qari's words thus, "It is not appropriate to certify the correctness of its meaning without establishing the authenticity of the narration from al-Dailami, which is something I have not found any of the scholars to have addressed. Personally, although I have not come across its isnad, I have no doubt about its weakness; enough of an indication for us is that al-Dailami is alone in reporting it. As for the narration of Ibn 'Asakir, Ibn al-Jauzi also related it in a long marfu' hadith from Salman and said, 'It is maudu', and al-Suyuti endorsed this in al-La'ali."89.
5. Sahih - diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.
5. Sahih - related by al-Bukhari and Muslim.
6. Al-'Ijlouni berkata, "Al-Ghazali menyebutkannya dalam Ihya' 'Ulum al-Din dengan redaksi: Allah berfirman, 'Langit-Ku dan bumi-Ku tidak dapat memuat Aku, tetapi hati hamba-Ku yang beriman, yang lembut dan rendah hati, dapat memuat Aku.'" Al-'Iraqi berkata dalam catatannya atas Al-Ihya', "Aku tidak menemukan dasar (yaitu sanad) baginya," dan al-Suyuti sependapat dengannya, mengikuti al-Zarkashi. Al-'Iraqi kemudian berkata, "Namun dalam hadits Abu 'Utbah riwayat al-Tabarani terdapat: ... bejana-bejana Tuhanmu adalah hati hamba-hamba-Nya yang saleh, dan yang paling dicintai-Nya adalah hati yang paling lembut dan paling halus." Ibnu Taimiyyah berkata, "Hal ini disebutkan dalam riwayat-riwayat Israiliyat, tetapi tidak diketahui sanad dari Nabi ﷺ untuknya." Al-Sakhawi berkata dalam Al-Maqasid, mengikuti gurunya al-Suyuti dalam Al-La'ali, "Tidak diketahui sanad dari Nabi ﷺ untuknya, dan maknanya adalah bahwa hatinya dapat memuat keimanan kepada-Ku, cinta kepada-Ku, dan makrifat kepada-Ku. Adapun orang yang berkata bahwa Allah menjelma (hulul) di dalam hati manusia, maka ia lebih kafir daripada orang-orang Nasrani, yang mengkhususkan hal itu hanya pada Al-Masih. Tampaknya penyebutan Ibnu Taimiyyah tentang riwayat Israiliyat mengacu pada apa yang diriwayatkan Ahmad dalam Al-Zuhd dari Wahb bin Munabbih, yang berkata bahwa Allah membukakan langit bagi Yehezkiel hingga ia melihat Arsy, lalu Yehezkiel berkata, 'Maha Suci Engkau! Maha Perkasa Engkau, wahai Tuhanku!' Maka Allah berfirman, 'Sesungguhnya langit dan bumi terlalu lemah untuk memuat-Ku, tetapi hati hamba-Ku yang beriman, yang lembut dan rendah hati, memuat-Ku'." Ia juga mengutip dari tulisan al-Zarkashi bahwa salah seorang ulama berkata bahwa hadits ini palsu, dibuat oleh seorang murtad (dari agama), dan paling sering dikutip oleh seorang penceramah kepada orang awam, 'Ali bin Wafa, untuk tujuannya sendiri, yang berkata pada saat kenikmatan spiritual dan tarian, "Thawaflah mengelilingi Rumah Tuhanmu." Selanjutnya ia mengatakan bahwa al-Thabarani meriwayatkan dari Abu 'Utbah al-Khawlani secara marfu', "Sesungguhnya Allah memiliki bejana-bejana di antara manusia di bumi, dan bejana-bejana Tuhanmu adalah hati hamba-hamba-Nya yang saleh, dan yang paling Dia cintai di antara mereka adalah yang paling lembut dan paling halus"; dalam sanadnya terdapat Baqiyyah bin al-Walid, seorang mudallis, namun ia telah secara jelas menyatakan mendengar hadis tersebut.90 Al-Albani menilai hadis terakhir yang disebutkan ini sebagai hasan.91.
6. Al-'Ijlouni says, "Al-Ghazali mentioned it in Ihya' 'Ulum al-Din with the wording, Allah says, "Neither My heaven nor My earth could contain Me, but the soft, humble heart of my believing slave can contain Me." Al-'Iraqi said in his notes on Al-Ihya', "I do not find a basis (i.e. isnad) for it", and al-Suyuti agreed with him, following al-Zarkashi. Al-'Iraqi then said, "But in the hadith of Abu 'Utbah in al-Tabarani there occurs: ... the vessels of your Lord are the hearts of His righteous slaves, and the most beloved to Him are the softest and most tender ones." Ibn Taimiyyah said, "It is mentioned in the Israelite traditions, but there is no known isnad from the Prophet (may Allah bless him and grant him peace) for it." Al-Sakhawi said in Al- Maqasid, following his shaykh al-Suyuti in Al- La'ali, "There is no known isnad from the Prophet (may Allah bless him and grant him peace) for it, and its meaning is that his heart can contain belief in Me, love of Me and gnosis of Me. But as for the one who says that Allah incarnates in the hearts of the people, then he is more of an infidel than the Christians, who specified that to Christ alone. It seems that Ibn Taimiyyah's mention of Israelite tradition refers to what Ahmad has related in Al-Zuhd from Wahb b. Munabbih who said that Allah opened the heavens for Ezekiel until he saw the Throne, so Ezekiel said, 'How Perfect are You! How Mighty are You, O Lord!' So Allah said, 'Truly, the heavens and the earth were too weak to contain Me, but the soft, humble heart of my believing slave contains Me'." He also quoted from al- Zarkashi's writing that one of the scholars said that it is a false hadith, fabricated by a renegade (from the religion), and that it is most-often quoted by a preacher to the masses, 'Ali b. Wafa, for his own purposes, who says at the time of spiritual rapture and dance, "Go round the House of your Lord." He further said that al-Tabarani has related from Abu 'Utbah al- Khawlani as marfu', "Truly, Allah has vessels from amongst the people of the earth, and the vessels of your Lord are the hearts of his righteous slaves, and the most beloved of them to Him are the softest and most tender ones"; in its isnad is Baqiyyah b. al-Walid, a mudallis, but he has clearly stated hearing the hadith."90 Al-Albani rates this last hadith mentioned as hasan.91.
7. Al-Nawawi berkata, "Hadits ini tidak dapat dibuktikan." Ibnu Taimiyyah berkata, "Maudu' (palsu)." Al-Sam'ani berkata, "Hadits ini tidak dikenal sebagai marfu', tetapi dikutip sebagai ucapan Yahya bin Mu'adz al-Razi." Al-Suyuthi membenarkan perkataan al-Nawawi, dan juga berkata, "Hadits ini tidak sahih." Al-Fairuzabadi berkata, "Ini bukan ucapan Nabi ﷺ, meskipun kebanyakan orang mengira ini adalah hadits, namun sama sekali tidak sahih. Bahkan, hal ini hanya diriwayatkan dalam riwayat-riwayat Israiliyat: Wahai manusia! Kenallah dirimu, niscaya engkau akan mengenal Tuhanmu." Ibnu al-Gharas berkata, setelah mengutip putusan al-Nawawi, "... tetapi kitab-kitab para sufi, seperti Syaikh Muhyiddin Ibnu 'Arabi dan lainnya, dipenuhi dengannya, dikutip seolah-olah sebuah hadits." Ibnu 'Arabi juga berkata, "Hadits ini, meskipun tidak terbukti melalui jalur periwayatan, terbukti bagi kami melalui jalur Kasyf ('penyingkapan', ketika dalam keadaan trance)." Mengenai metodologi ini, al-Albani berkata, "Menshahihkan hadits melalui Kasyf adalah bid'ah yang buruk dari kaum sufi, dan bersandar padanya mengarah kepada penshahihan hadits-hadits palsu dan tidak berdasar ... Hal ini karena, bahkan dalam keadaan terbaik sekalipun, Kasyf seperti opini, yang bisa benar atau salah - dan itu pun jika tidak ada hawa nafsu pribadi yang ikut campur! Kita memohon kepada Allah agar menyelamatkan kita darinya, dan dari segala sesuatu yang tidak diridhai-Nya."93.
7. Al-Nawawi said, "It is not established." Ibn Taimiyyah said, "Maudu'." Al-Sam'ani said, "It is not known as marfu', but it is quoted as a statement of Yahya b. Mu'adh al-Razi." Al- Suyuti endorsed al-Nawawi's words, and also said, "This hadith is not authentic." Al- Fairozabadi said, "It is not a Prophetic statement, although most of the people think it is a hadith, but it is not authentic at all. In fact, it is only related in the Israelite traditions: O Man! Know yourself: you will know your Lord." Ibn al-Gharas said, after quoting al-Nawawi's verdict, "... but the books of the Sufis, such as Shaykh Muhi al-Din Ibn 'Arabi and others, are filled with it, being quoted like a hadith." Ibn 'Arabi also said, "This hadith, although it is not proved by way of narration, is proved to us by way of Kashf ('unveiling', while in a trance)."92 Regarding this methodology, al-Albani says, "Authenticating ahadith by way of Kashf is a wicked innovation of the Sufis, and depending upon it leads to the authentication of false, baseless ahadith ... This is because, even at the best of times, Kashf is like opinion, which may be right or wrong - and that is if no personal desires enter into it! We ask Allah to save us from it, and from everything with which He is not pleased."93.
8. Sahih. Diriwayatkan oleh Malik dalam Al-Muwatta', al-Shafi'i dalam Al-Risalah (hlm. 110, terj. Inggris) dan Muslim (1:382; terj. Inggris 1:272). Ini adalah pertanyaan pertama dari dua pertanyaan yang diajukan Nabi ﷺ kepada seorang budak perempuan untuk menguji imannya; pertanyaan kedua adalah, "Siapakah aku?" Ia menjawab, "Di atas langit" dan "Engkau adalah Rasulullah" secara berurutan, lalu beliau ﷺ bersabda, "Merdekakanlah dia, karena dia seorang mukminah." Jawaban pertamanya, yang terdapat dalam Al-Qur'an (67:16-17, kata fi dapat bermakna 'di atas/pada', sebagaimana dalam 6:11, 20:71 & 27:8), menunjukkan bahwa Allah berada di atas dan terpisah dari ciptaan-Nya, tidak bercampur dengannya, yaitu keyakinan keliru yang mengarah kepada penyembahan terhadap ciptaan.
8. Sahih. Related by Malik in Al-Muwatta', al- Shafi'i in Al-Risalah (p. 110, Eng. trans.) and Muslim (1:382; Eng. trans. 1:272). This was the first of two questions which the Prophet (may Allah bless him and grant him peace) put to a slave-girl to test her faith, the second one being, "Who am I?" She answered, "Above the heaven" and "You are the Messenger of Allah" respectively, to which he said, "Free her, for she is a believer." Her first answer, which is found in the Qur'an (67:16-17, the word fi can mean 'above/on', as in 6:11, 20:71 & 27:8), means that Allah is above and separate from His creation, not mixed in with it, the erroneous belief which leads to worship of creation.
9. Maudu' (palsu), sebagaimana dinyatakan oleh al-Saghani dan lainnya. Para ulama berbeda pendapat mengenai apakah maknanya benar atau tidak, dalam hal apa, dan sejauh mana.94 Hadis ini kadang digunakan untuk membenarkan nasionalisme dan patriotisme yang memecah belah dan bertentangan dengan Islam.
9. Maudu', as stated by al-Saghani and others. Scholars differ as to whether its meaning is correct or not, in what way, and to what extent.94 It is sometimes used to justify divisive, anti- Islamic nationalism and patriotism!.
10. Sahih. Diriwayatkan oleh Malik sebagai mursal/mu'allaq/balaghat (tergantung pilihan istilah), dan diriwayatkan dua kali secara musnad oleh al-Hakim. Makna hadis ini terkandung dalam Al-Qur'an, dalam penyebutan Kitab dan Hikmah (2:129, 2:151, 2:231, 3:164, 4:113, 33:34 & 62:2); al-Shafi'i berkata, "Saya pernah mendengar orang-orang yang paling berilmu tentang Al-Qur'an mengatakan bahwa Hikmah adalah Sunnah" (Al-Risalah, terj. Inggris, hlm. 111).
10. Sahih. Related by Malik as mursal/mu'allaq/balaghat (depending on choice of terminology), and related twice as musnad by al- Hakim. The meaning of the hadith is contained in the Qur'an, in the mention of the Book and Wisdom (2:129, 2:151, 2:231, 3:164, 4:113, 33:34 & 62:2); al-Shafi'i says, "I have heard the most knowledgeable people about the Qur'an say that the Wisdom is the Sunnah" (Al-Risalah, Eng. trans., p. 111).
1. Sahih. Diriwayatkan oleh al-Tirmidhi, Ahmad, Ibn Abi 'Asim, al-Hakim, al-Tabarani, al-Dailami dan al-Tahawi.95 Frasa Ahl al-Bayt (anggota keluarga rumah) merujuk: (i) terutama kepada istri-istri Nabi ﷺ, dari konteks yang jelas pada ayat Al-Qur'an yang relevan (33:33); (ii) kepada 'Ali, Fatimah, Hasan & Husain, berdasarkan "hadis kain" (lihat Sahih Muslim, Kitab Keutamaan para Sahabat). Tidak adil dan tidak seimbang untuk mengecualikan salah satu dari kedua kelompok ini dari hadis tersebut.
11. Sahih. Related by al-Tirmidhi, Ahmad, Ibn Abi 'Asim, al-Hakim, al-Tabarani, al-Dailami and al-Tahawi.95 The phrase Ahl al-Bayt (members of the house) refers: (i) primarily to the Prophet's wives (may Allah bless him and grant him peace), from the clear context of the relevant verse of the Qur'an (33:33); (ii) to 'Ali, Fatimah, Hasan & Husain, from the "hadith of the garment" (cf. Sahih Muslim, Book of the Virtues of the Companions). It is imbalanced and unjust to exclude either of these categories from the hadith.
12. Sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad, dan terkenal di kalangan masyarakat. Riwayat yang paling lengkap berbunyi: "Abu Bakar akan masuk Surga; 'Umar akan masuk Surga; 'Utsman akan masuk Surga; 'Ali akan masuk Surga; Talhah akan masuk Surga; az-Zubair akan masuk Surga; 'Abdurrahman bin 'Auf akan masuk Surga; Sa'd bin Abi Waqqash akan masuk Surga; Sa'id bin Zaid akan masuk Surga; Abu 'Ubaidah bin al-Jarrah akan masuk Surga."
12. A sahih hadith related by Abu Dawud, al- Tirmidhi, Ibn Majah & Ahmad, and well-known amongst the people. The fullest narration is, "Abu Bakr will be in the Garden; 'Umar will be in the Garden; 'Uthman will be in the Garden; 'Ali will be in the Garden; Talhah will be in the Garden; al-Zubair will be in the Garden; 'Abd al-Rahman b. 'Auf will be in the Garden; Sa'd b. Abi Waqqas will be in the Garden; Sa'id b. Zaid will be in the Garden; Abu 'Ubaidah b. al-Jarrah will be in the Garden.".
13. Diriwayatkan oleh Ishaq b. Rahawaih dan al-Baihaqi dengan sanad yang sahih sebagai perkataan 'Umar. Hadis ini juga dihimpun oleh Ibn 'Adi dan al-Dailami dari Ibn 'Umar sebagai marfu', tetapi dalam sanadnya terdapat 'Isa b. Abdullah, yang lemah. Namun, hadis ini dikuatkan oleh riwayat lain dari Ibn 'Adi, dan juga didukung oleh hadis dalam kitab Sunan bahwa seorang laki-laki bermimpi melihat Nabi ﷺ ditimbang dengan Abu Bakr, dan ternyata beliau lebih berat; kemudian Abu Bakr ditimbang dengan seluruh umat ...96.
13. Related by Ishaq b. Rahawaih and al-Baihaqi with a sahih isnad as a statement of 'Umar. It is also collected by Ibn 'Adi and al-Dailami from Ibn 'Umar as marfu', but in its isnad is 'Isa b. Abdullah, who is weak. However, it is strengthened by another narration of Ibn 'Adi, and also supported by the hadith in the Sunan that a man saw in a dream that Prophet (may Allah bless him and grant him peace) was weighed against Abu Bakr, and was found to be heavier; then Abu Bakr was weighed against everyone else ...96.
14. Diriwayatkan oleh al-Hakim, al-Tabarani dan lainnya. Hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Tirmidzi dengan redaksi, "Aku adalah Rumah Hikmah, dan 'Ali adalah pintunya". Al-Daraqutni menilai hadis ini mudtarib, baik dari segi isnad maupun matan; al-Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini gharib dan munkar; al-Bukhari mengatakan bahwa tidak ada riwayat yang sahih untuknya; Ibn Ma'in mengatakan bahwa hadis ini adalah kebohongan belaka. Penolakan serupa terhadap hadis ini dilaporkan dari Abu Zur'ah, Abu Hatim dan Yahya bin Sa'id. Al-Hakim menyatakan redaksi asli hadis ini sahih dari segi isnad, tetapi Ibn al-Jauzi menganggap kedua redaksi tersebut sebagai maudu', dan al-Dhahabi sependapat dengannya. Beberapa ulama belakangan, di antaranya Ibn Hajar al-'Asqalani, Ibn Hajar al-Makki dan al-Suyuti, menyatakan hadis ini hasan karena banyaknya jalur periwayatannya. Al-'Ijlouni berkata, "... tidak satu pun dari hal ini mengurangi nilai kesepakatan para pengikut Sunnah dari kalangan Sahabat, Tabi'in dan generasi setelah mereka, bahwa sahabat yang terbaik secara keseluruhan adalah Abu Bakr, kemudian 'Umar ...", dan ia mengutip pandangan ini dari Ibn 'Umar dan dari 'Ali sendiri, sebagaimana tercatat dalam Sahih al-Bukhari.97 Al-Albani menyatakan hadis ini maudu'.98.
14. Related by al-Hakim, al-Tabarani and others. It is also related by al-Tirmidhi with the wording, "I am the House of Wisdom, and 'Ali is its Door". Al-Daraqutni labelled the hadith as mudtarib, both in isnad and text; al-Tirmidhi said it is gharib and munkar; al-Bukhari said that it has no sahih narration; Ibn Ma'in said that it is a baseless lie. Similar dismissals of the hadith are reported from Abu Zur'ah, Abu Hatim and Yahya b. Sa'd. Al-Hakim declared the original hadith as sahih in isnad, but Ibn al- Jauzi regarded both versions as maudu', and al- Dhahabi agreed with him. Several of the later scholars, including Ibn Hajar al-'Asqalani, Ibn Hajar al-Makki and al-Suyuti declared it hasan due to its various routes of narration. Al- 'Ijlouni says, "... none of this devalues the consensus of the Adherents to the Sunnah from the Companions, the Successors and those after them, that the best of the Companions overall is Abu Bakr, followed by 'Umar ...", and quotes this view from Ibn 'Umar and 'Ali himself, as recorded in Sahih al-Bukhari.97 Al-Albani declares the hadith to be maudu'.98.
15. Hadis da'if atau maudu', sebagaimana dinyatakan oleh Ahmad b. Hanbal, Ibnu 'Abd al-Barr, al-Bazzar dan banyak ulama lainnya. Ibnu Hazm menyatakan bahwa bukan hanya isnadnya yang tidak sahih, tetapi hadis ini juga tidak mungkin benar karena dua alasan lain: (i) para Sahabat tidaklah maksum, sehingga mereka pernah melakukan kesalahan, maka tidak benar jika dikatakan bahwa mengikuti salah seorang dari mereka pasti membawa kepada petunjuk; (ii) perumpamaan dengan bintang itu keliru, karena tidak setiap bintang memberi petunjuk dalam setiap perjalanan! Terdapat perumpamaan lain dengan bintang yang sahih, yang disebutkan dalam Sahih Muslim: Nabi ﷺ bersabda, "Bintang-bintang adalah penjaga langit, maka apabila bintang-bintang itu lenyap, akan datang kepada langit apa yang dijanjikan baginya (yaitu Hari Kiamat). Aku adalah penjaga para Sahabatku, maka apabila aku wafat, akan datang kepada para Sahabatku apa yang dijanjikan bagi mereka (yaitu fitnah dan cobaan yang besar). Para Sahabatku adalah penjaga bagi umatku, maka apabila para Sahabatku wafat, akan datang kepada umatku apa yang dijanjikan baginya (yaitu perpecahan, tersebarnya bid'ah, dan lain-lain)." (4:1961, terj. Ing. IV:1344).
15. A da'if or maudu' hadith, as stated by Ahmad b. Hanbal, Ibn 'Abd al-Barr, al-Bazzar and many others. Ibn Hazm states that not only is the isnad unsound, but the hadith cannot be true for two further reasons: (i) the Companions were not infallible, and hence made mistakes, so it would be wrong to say that following any of them leads to guidance; (ii) the comparison with the stars is wrong, for not every star guides one through every journey! There is a different, authentic comparison with the stars given in Sahih Muslim: the Prophet (may Allah bless him and grant him peace) said, "The stars are the custodians of the sky, so when the stars depart, there will come to the sky what is promised for it (i.e. on the Day of Judgment). I am the custodian of my Companions, so when I depart, there will come to my Companions what is promised for them (i.e. great trials and tribulations). My Companions are the custodians for my Ummah, so when my Companions depart, there will come to my Ummah what is promised for it (i.e. schisms, spread of innovations, etc.)." (4:1961, Eng. trans. IV:1344).
16. Tidak ada isnad untuk hadis ini. Al-Subki (w. 756 H) berkata, "Hadis ini tidak dikenal oleh para ulama hadis, dan saya tidak menemukan isnad untuknya, baik yang sahih, da'if, maupun maudu'." Hadis ini, bersama hadis sebelumnya, sering dijadikan dalih untuk dua sikap ekstrem: (i) mengikuti pendapat manusia secara membabi buta, tanpa merujuk kepada Al-Qur'an dan Sunnah; (ii) mengikuti pendapat ulama yang paling mudah, atau yang paling sesuai dengan keinginan, lagi-lagi tanpa merujuk kepada sumber-sumber pokok.
16. No isnad exists for this hadith: al-Subki (d. 756) said, "It is not known to the scholars of Hadith, and I cannot find an isnad for it, whether sahih, da'if, or maudu'." It, along with the previous one, is often used to justify the following two extremes: (i) blind following of the views of men, with no reference to the Qur'an and Sunnah; (ii) conveniently following whichever scholar holds the easiest view, or that most agreeable to one's desires, again without reference to the fundamental sources.
17. Banyak riwayat hadis ini terdapat dalam kitab-kitab koleksi Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim, Ahmad dan lainnya. Riwayat-riwayat tersebut berbeda-beda derajatnya, ada yang sahih, hasan, dan da'if, namun hadis ini tetap dinyatakan mapan. Di antara ulama yang menshahihkan hadis ini adalah al-Tirmidzi, al-Hakim, al-Syathibi, Ibnu Taimiyah, Ibnu al-Qayyim, al-Dzahabi, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar dan al-'Iraqi. Kebanyakan riwayat menyebutkan perpecahan orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan, yang semuanya berada di Neraka kecuali satu, sebelum disebutkan bahwa umat Islam akan terpecah lebih banyak lagi. Dalam sebagian riwayat, Nabi ﷺ menggambarkan golongan yang selamat dengan berbagai sebutan: "al-Jama'ah (kelompok, jamaah, kelompok utama)", "kelompok terbesar (al-sawad al-a'zham)", dan "golongan yang mengikuti apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya." Hadis ini tidak berarti bahwa mayoritas umat Islam akan berada di Neraka, karena sebagian besar mereka ("orang awam") tidak terlibat dalam bid'ah yang memecah belah secara sengaja. Selain itu, penyebutan Neraka tidak selalu berarti bahwa tujuh puluh dua golongan tersebut akan kekal di dalamnya, atau bahwa golongan-golongan itu kafir.
17. Numerous narrations of this hadith are found in the collections of Abu Dawud, al-Tirmidhi, Ibn Majah, al-Hakim, Ahmad and others: they vary in being sahih, hasan, or da'if, but the hadith is established. Among those who have authenticated this hadith are al-Tirmidhi, al- Hakim, al-Shatibi, Ibn Taimiyyah, Ibn al-Qayyim, al-Dhahabi, Ibn Kathir, Ibn Hajar and al-'Iraqi. Most narrations mention the splitting-up of the Jews and the Christians into seventy-one or seventy-two sects, all being in the Fire except one, prior to mention of the Muslims dividing even more. In some of the narrations, the Prophet (may Allah bless him and grant him peace) describes the Saved Sect variously as "the Jama'ah (community, congregation, main body)", "the largest body (al-sawad al-a'zam)" and "that which follows what I and my Companions are upon." The hadith does not mean that the majority of Muslims will be in the Hellfire, for most of them ("the masses") are not involved in intentional, divisive innovation; further, mention of the Fire does not necessarily imply that the seventy-two sects will remain there forever, or that those sects are disbelievers.
18. Meskipun Mahdi tidak disebutkan secara eksplisit dalam kitab-kitab al-Bukhari dan Muslim, banyak hadis sahih yang mutawatir maknanya menyebutkan kedatangan Mahdi, seorang laki-laki bernama Muhammad bin 'Abdullah dan keturunan Nabi ﷺ melalui Fatimah, yang akan menjadi Pemimpin (Imam, Khalifah) kaum Muslimin, memerintah selama tujuh tahun dan memenuhi dunia dengan keadilan dan kesetaraan setelah dunia dipenuhi kezaliman dan penindasan. Ia juga akan memerangi Dajjal bersama Jesus putra Maryam. Penulis, dalam bukunya The Concept of the Mahdi among the Ahl al-Sunnah, telah menyebutkan 37 ulama yang mengumpulkan hadis-hadis tentang Mahdi dengan sanad mereka sendiri, dan 69 ulama setelahnya yang menulis untuk mendukung konsep tersebut, dibandingkan dengan 8 ulama yang menolak gagasan itu. Hadis-hadis yang menubuatkan tentang Dajjal (Al-Masih Palsu), seorang laki-laki bermata satu yang memiliki kekuatan luar biasa dan akan diikuti oleh orang-orang Yahudi, serta kembalinya Jesus Kristus putra Maryam (semoga keselamatan atas keduanya), yang akan turun di Damaskus dan shalat di belakang Mahdi, membunuh Dajjal di gerbang Lod di Palestina, mematahkan Salib, membunuh Babi, menikah dan memiliki anak, serta hidup selama empat puluh tahun sebelum wafat secara alami, adalah mutawatir maknanya. Hadis-hadis tersebut telah dikumpulkan oleh al-Bukhari dan Muslim, serta ahli hadis lainnya. 19. Mutawatir maknanya, dan dikumpulkan oleh al-Bukhari, Muslim dan lainnya.
18. Although the Mahdi is not mentioned explicitly in the collections of al-Bukhari and Muslim, numerous sahih ahadith, which are mutawatir in meaning, speak of the coming of the Mahdi, a man named Muhammad b. 'Abdullah and a descendant of the Prophet (may Allah bless him and grant him peace) through Fatimah, who will be the Leader (Imam, Khalifah) of the Muslims, rule for seven years and fill the world with justice and equity after it had been filled with tyranny and oppression. He will also fight the Dajjal along with Jesus son of Mary. The author, in his The Concept of the Mahdi among the Ahl al-Sunnah, has named 37 scholars who collected ahadith about the Mahdi with their own isnads and 69 later scholars who wrote in support of the concept, compared to 8 scholars who rejected the idea. The ahadith prophesying the Dajjal (False Christ), a one-eyed man who will have miraculous powers and will be followed by the Jews, and the return of Jesus Christ son of Mary (peace be upon them), who will descend in Damascus and pray behind the Mahdi, kill the Dajjal at the gate of Lod in Palestine, break the Cross, kill the Pig, marry and have children and live for forty years before dying a natural death, are mutawatir in meaning. They have been collected by al-Bukhari and Muslim, as well as other traditionists. 19. Mutawatir in meaning, and collected by al- Bukhari, Muslim and others.
20. Mutawatir secara makna, dan diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, dan lainnya. Penyebutan tidak diterimanya syafaat pada Hari Kiamat dalam Al-Qur'an, misalnya 2:48 dan 2:123, harus dipahami dalam cahaya ayat-ayat lain, misalnya 20:109, dan hadits-hadits sahih. Pahala melihat Allah bagi orang-orang beriman disebutkan dalam Al-Qur'an, misalnya 75:22-23 dan 83:15. Hadits-hadits ini dan hadits-hadits dari dua kategori sebelumnya umumnya ditolak oleh kaum Mu'tazilah klasik (kaum Rasionalis), serta oleh mereka yang today dipengaruhi oleh mereka, berdasarkan satu atau lebih dari alasan berikut: (i) hadits-hadits tersebut bertentangan dengan Al-Qur'an (menurut pandangan mereka); (ii) bertentangan dengan akal (menurut pandangan mereka), dan (iii) hadits-hadits itu berstatus ahad, bukan mutawatir, sehingga tidak dapat diterima dalam perkara akidah (suatu argumen yang keliru). Oleh karena itu, para ulama yang menulis 'aqidah (akidah) Ahl al-Sunnah memasukkan konsep-konsep ini ke dalamnya, untuk menegaskan penolakan mereka terhadap gagasan-gagasan keliru kaum Mu'tazilah. Hadits-hadits sahih lain yang ditolak oleh kaum Mu'tazilah juga banyak, termasuk hadits-hadits yang menggambarkan Mi'raj Nabi ﷺ (kenaikan ke langit), yang juga mutawatir secara makna.
20. Mutawatir in meaning, and collected by al- Bukhari, Muslim and others. Mention of the inadmissibility of intercession on the Day of Judgment in the Qur'an, e.g. 2:48 2:123, must be understood in the light of other verses, e.g. 20:109 and sahih ahadith. The reward of seeing Allah for the believers is referred to in the Qur'an, e.g. 75:22-23 and 83:15. These ahadith and those of the previous two categories were generally rejected by the classical Mu'tazilah (Rationalists), as well by those influenced by them today, on one or more of the following bases: (i) they contradict the Qur'an (in their view); (ii) they contradict Reason (in their view), and (iii) they are ahad, not mutawatir, and hence not acceptable in matters of belief (a flawed argument). Hence, the scholars who wrote the 'aqidah (creed) of the Ahl al-Sunnah included these concepts in it, to confirm their denial of the wrong ideas of the Mu'tazilah. Other authentic ahadith rejected by the Mu'tazilah are many, and include those describing the Prophet's Mi'raj (ascension to the heavens), which are again mutawatir in meaning.
21. Hadis dengan lafaz ini adalah da'if, tetapi maknanya tercakup dalam hadis riwayat Ibnu Majah dan al-Nasa'i bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dan berkata, "Wahai Rasulullah! Aku bermaksud pergi berperang (dalam suatu ekspedisi militer), tetapi aku datang untuk meminta nasihatmu." Beliau bertanya, "Apakah ibumu masih hidup?" Ia menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Maka tinggallah bersamanya, karena surga berada di bawah telapak kakinya." Hadis yang terakhir ini dinyatakan sahih oleh al-Hakim, al-Dhahabi, dan al-Mundziri.99.
21. The hadith with this wording is da'if, but its meaning is contained in the hadith of Ibn Majah and al-Nasa'i that a man came to the Prophet (may Allah bless him and grant him peace) and said, "O Messenger of Allah! I intend to go on a (military) expedition, but I have come to ask your advice." He said, "Is your mother alive?" He said, "Yes." He said, "Then stay with her, for the Garden is under her feet." This latter hadith is declared to be sahih by al-Hakim, al-Dhahabi and al-Mundhiri.99.
22. Sebuah hadits sahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim dan lainnya.
22. A sahih hadith, collected by al-Bukhari, Muslim and others.
23. Hadis ini memiliki banyak jalur periwayatan dari lebih dari selusin Sahabat, termasuk dua puluh Tabi'in yang tampaknya meriwayatkan dari Anas saja. Hadis ini dikumpulkan oleh Ibnu Majah, al-Baihaqi, al-Tabarani dan lainnya, tetapi semuanya da'if menurut Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahuwaih, Ibnu 'Abd al-Barr, al-Bazzar dan lainnya, meskipun sebagian ulama menshahihkan beberapa jalur tertentu. Al-Baihaqi mengatakan bahwa matannya masyhur sedangkan isnadnya da'if, sementara al-Hakim dan Ibnu al-Salah memandangnya sebagai contoh utama hadis masyhur yang tidak sahih. Namun, para ulama hadis belakangan menganggapnya memiliki jalur periwayatan yang cukup untuk dikuatkan hingga derajat hasan atau sahih, pandangan yang dinyatakan oleh al-Mizzi, al-'Iraqi, Ibnu Hajar, al-Suyuti dan al-Albani. 100.
23. This hadith has many chains of narration on the authority of more than a dozen Companions, including twenty Successors apparently reporting from Anas alone. They are collected by Ibn Majah, al-Baihaqi, al-Tabarani and others, but all of them are da'if, according to Ahmad b. Hanbal, Ishaq b. Rahuwaih, Ibn 'Abd al-Barr, al- Bazzar and others, although some scholars authenticated a few of the chains. Al-Baihaqi said that its text is mashhur while its isnad is da'if, while al-Hakim and Ibn al-Salah regarded it as a prime example of a mashhur hadith which is not sahih. However, it is regarded by later scholars of Hadith as having enough chains of narration to be strengthened to the level of hasan or sahih, a view which is stated by al- Mizzi, al-'Iraqi, Ibn Hajar, al-Suyuti and al- Albani.100.
24. Tambahan pernyataan ini terdapat dalam beberapa riwayat yang lemah dari hadits sebelumnya, dan dinyatakan sebagai maudu' oleh Ibnu Hibban, Ibnul Jauzi, as-Sakhawi dan al-Albani.101.
24. This additional statement is found in a few of the (weak) narrations of the previous hadith, and is declared as maudu' by Ibn Hibban, Ibn al- Jauzi, al-Sakhawi and al-Albani.101.
25. Disebutkan oleh al-Manjaniqi dalam kumpulan hadis-hadisnya tentang perawi yang lebih tua meriwayatkan dari yang lebih muda, dengan sanad dari al-Hasan al-Basri. Al-Khatib al-Baghdadi berkata bahwa hadis ini maudu' jika dinisbatkan sebagai riwayat dari Nabi ﷺ, tetapi ia sebenarnya merupakan ucapan al-Hasan al-Basri.102.
25. Mentioned by al-Manjaniqi in his collection of ahadith of older narrators reporting from younger ones, on the authority of al-Hasan al- Basri. Al-Khatib al-Baghdadi said that it is maudu' as a narration from the Prophet (may Allah bless him and grant him peace), but that it is a statement of al-Hasan al-Basri.102.
26. Diriwayatkan secara marfu' oleh al-Baihaqi dengan isnad yang da'if, menurut al-'Iraqi. Ibnu Hajar berkata bahwa sebenarnya itu adalah ucapan Ibrahim bin Abi 'Ablah, seorang Tabi'in.103.
26. Related as marfu' by al-Baihaqi with a da'if isnad, according to al-'Iraqi. Ibn Hajar said that it is actually a saying of Ibrahim b. Abi 'Ablah, a Successor.103.
*NB: Para ulama ahli hadis sepakat bahwa hadis da'if atau maudu' tidak boleh disandarkan kepada Nabi ﷺ, misalnya dengan mengatakan, "Nabi ﷺ bersabda: ...", meskipun maknanya dianggap benar atau sekalipun itu sebenarnya perkataan seorang ulama Muslim, karena hal tersebut merupakan cara berdusta atas nama Nabi ﷺ.
*NB: The scholars of Hadith agree that a da'if or maudu' hadith must not be attributed to the Prophet (may Allah bless him and grant him peace), e.g. by saying, "The Prophet said: ...", even if the meaning is considered to be correct or if it is actually the saying of a Muslim scholar, for that would be a way of lying about the Prophet (may Allah bless him and grant him peace).