Rijal Al-hadith (Kajian tentang Para Perawi Hadis)
Rijal Al-hadith (the Study Of The Reporters Of Hadith)
Mustalah al-Hadith sangat erat kaitannya dengan Rijal al-Hadith (ilmu tentang para perawi hadis). Dalam meneliti para perawi suatu hadis, pernyataan-pernyataan penguatan atau pencelaan yang disampaikan oleh para pakar yang diakui, dari kalangan Tabi'in dan generasi setelah mereka, terbukti sangat membantu. Contoh-contoh pernyataan tersebut, diurutkan dari tingkat penguatan yang tertinggi, adalah:
Mustalah al-Hadith is strongly associated with Rijal al-Hadith (the study of the reporters of hadith). In scrutinising the reporters of a hadith, authenticating or disparaging remarks made by recognised experts, from amongst the Successors and those after them, were found to be of great help. Examples of such remarks, in descending order of authentication, are:
"Imam" (pemimpin), "Hafiz" (penjaga).
• "Imam (leader), Hafiz (preserver).".
"Terpercaya, dapat dipercaya."
• "Reliable, trustworthy.".
• "Membuat kesalahan."
• "Makes mistakes.".
"Lemah."
• "Weak.".
"Ditinggalkan (oleh para ahli hadis)."
• "Abandoned (by the traditionists).".
"Pendusta, biasa memalsukan hadits."5.
• "Liar, used to fabricate ahadith."5.
Perawi-perawi yang telah disepakati dengan pernyataan seperti dua yang pertama dapat memberikan sumbangan pada sanad yang sahih ("sahih", lihat selanjutnya). Sanad yang memuat seorang perawi yang digambarkan dengan dua pernyataan terakhir kemungkinan besar adalah da'if jiddan (sangat lemah) atau maudu' (palsu). Perawi-perawi yang menjadi subjek pernyataan seperti dua yang di tengah di atas akan menyebabkan sanad menjadi da'if (lemah), meskipun beberapa perawi yang meriwayatkan hadis yang sama secara independen seringkali akan meningkatkan peringkat hadis ke tingkat hasan (baik). Jika komentar tentang seorang perawi tertentu saling bertentangan, suatu putusan yang cermat harus dicapai setelah analisis mendalam, misalnya terhadap alasan yang diberikan untuk setiap celaan, bobot setiap jenis kritik, tingkat ketelitian atau kelonggaran masing-masing kritikus, dan sebagainya.
Reporters who have been unanimously described by statements such as the first two may contribute to a sahih ("sound", see later) isnad. An isnad containing a reporter who is described by the last two statements is likely to be da'if jiddan (very weak) or maudu' (fabricated). Reporters who are the subject of statements such as the middle two above will cause the isnad to be da'if (weak), although several of them relating the same hadith independently will often increase the rank of the hadith to the level of hasan (good). If the remarks about a particular reporter conflict, a careful verdict has to be arrived at after in-depth analysis of e.g. the reason given for any disparagement, the weight of each type of criticism, the relative strictness or leniency of each critic, etc.
Komentar-komentar paling awal yang dikutip dalam kitab-kitab Rijal berasal dari sejumlah Tabi'in, kemudian dari generasi setelah mereka hingga masa enam ahli hadis kanonik, yaitu periode tiga abad pertama Islam. Daftar nama-nama tersebut disediakan oleh penulis dalam tesisnya, Criticism of Hadith among Muslims with reference to Sunan Ibn Majah, pada akhir bab IV, V, dan VI. Di antara karya-karya paling awal yang tersedia dalam bidang ini adalah Tarikh karya Ibn Ma'in (w. 233), Tabaqat karya Khalifa b. Khayyat (w. 240), Tarikh karya al-Bukhari (w. 256), Kitab al-Jarh wa 'l-Ta'dil karya Ibn Abi Hatim (w. 327), dan Tabaqat karya Muhammad b. Sa'd (w. 320).
The earliest remarks cited in the books of Rijal go back to a host of Successors, followed by those after them until the period of the six canonical traditionists, a period covering the first three centuries of Islam. A list of such names is provided by the author in his thesis, Criticism of Hadith among Muslims with reference to Sunan Ibn Majah, at the end of chapters IV, V and VI. Among the earliest available works in this field are Tarikh of Ibn Ma'in (d. 233), Tabaqat of Khalifa b. Khayyat (d. 240), Tarikh of al- Bukhari (d. 256), Kitab al-Jarh wa 'l-Ta'dil of Ibn Abi Hatim (d. 327) and Tabaqat of Muhammad b. Sa'd (d. 320).
Sejumlah ahli hadits secara khusus melakukan upaya untuk menghimpun informasi tentang para perawi dalam lima kitab hadits yang terkenal, yaitu karya al-Bukhari (w. 256 H), Muslim (w. 261 H), Abu Dawud (w. 275 H), al-Tirmidzi (w. 279 H), dan al-Nasa'i (w. 303 H), dengan memberikan penilaian yang menguatkan maupun yang melemahkan secara terperinci. Karya besar pertama yang juga memuat para perawi Ibnu Majah (w. 273 H) adalah kitab sepuluh jilid karya al-Hafizh 'Abdul Ghani al-Maqdisi (w. 600 H), yang dikenal dengan nama Al-Kamal fi Asma' al-Rijal. Kemudian, Jamaluddin Abu al-Hajjaj Yusuf bin 'Abdurrahman al-Mizzi (w. 742 H) menyusun versi yang telah disunting dan diringkas dari karya ini, dengan memberi keterangan tentang tempat dan negeri asal para perawi; ia menamainya Tahdzib al-Kamal fi Asma' al-Rijal dan menerbitkannya dalam dua belas jilid. Selanjutnya, salah seorang murid al-Mizzi yang cerdas, Syamsuddin Abu 'Abdullah Muhammad bin Ahmad bin 'Utsman bin Qaimaz al-Dzahabi (w. 748 H), merangkum karya gurunya dan menghasilkan dua ringkasan: yang lebih panjang disebut Tadzhib al-Tahdzib, dan yang lebih pendek disebut Al-Kasyif fi Asma' Rijal al-Kutub al-Sittah.
A number of traditionists made efforts specifically for the gathering of information about the reporters of the five famous collections of hadith, those of al-Bukhari (d. 256), Muslim (d. 261), Abu Dawud (d. 275), al- Tirmidhi (d. 279) and al-Nasa'i (d. 303), giving authenticating and disparaging remarks in detail. The first major such work to include also the reporters of Ibn Majah (d. 273) is the ten-volume collection of al-Hafiz 'Abd al-Ghani al-Maqdisi (d. 600), known as Al-Kamal fi Asma' al-Rijal. Later, Jamal al-Din Abu 'l-Hajjaj Yusuf b. 'Abd al-Rahman al-Mizzi (d. 742) prepared an edited and abridged version of this work, punctuated by places and countries of origin of the reporters; he named it Tahdhib al- Kamal fi Asma' al-Rijal and produced it in twelve volumes. Further, one of al-Mizzi's gifted pupils, Shams al-Din Abu 'Abdullah Muhammad b. Ahmad b. 'Uthman b. Qa'imaz al- Dhahabi (d. 748), summarised his shaikh's work and produced two abridgements: a longer one called Tadhhib al-Tahdhib and a shorter one called Al-Kashif fi Asma' Rijal al-Kutub al- Sittah.
Usaha serupa dengan karya al-Mizzi dilakukan oleh Ibnu Hajar (wafat 852 H), yang menyusun sebuah ringkasan yang panjang namun tetap dipadatkan, dengan sekitar sepertiga isi karya aslinya dihilangkan, berjudul Tahdzib at-Tahdzib dalam dua belas jilid yang lebih ringkas. Kemudian, ia meringkasnya lagi menjadi karya yang relatif sederhana berjumlah dua jilid, yang disebut Taqrib at-Tahdzib.
A similar effort with the work of al-Mizzi was made by Ibn Hajar (d. 852), who prepared a lengthy but abridged version, with about one- third of the original omitted, entitled Tahdhib al-Tahdhib in twelve shorter volumes. Later, he abridged this further to a relatively-humble two- volume work called Taqrib al-Tahdhib.
Karya al-Dhahabi tidak dibiarkan begitu saja tanpa suntingan; al-Khazraji (Safi al-Din Ahmad b. 'Abdullah, wafat setelah 923) meringkasnya sekaligus memberikan tambahan yang berharga, sehingga lahirlah kitabnya, al-Khulasah. Sejumlah karya serupa membahas hanya perawi yang terpercaya, misalnya Kitab al-Thiqat karya al-'Ijli (wafat 261) dan Tadhkirah al-Huffaz karya al-Dhahabi, atau hanya perawi yang dicela, misalnya Kitab al-Du'afa' wa al-Matrukin karya al-Nasa'i dan Kitab al-Majruhin karya Muhammad b. Hibban al-Busti (wafat 354). Dua karya lain di bidang ini yang memuat sejumlah besar perawi, baik yang tsiqah maupun yang dicela, adalah Mizan al-I'tidal karya al-Dhahabi dan Lisan al-Mizan karya Ibn Hajar.
The work of al-Dhahabi was not left unedited; al- Khazraji (Safi al-Din Ahmad b. 'Abdullah, d. after 923) summarised it and also made valuable additions, producing his Khulasah. A number of similar works deal with either trustworthy reporters only, e.g. Kitab al-Thiqat by al-'Ijli (d. 261) and Tadhkirah al-Huffaz by al-Dhahabi, or with disparaged authorities only, e.g. Kitab al-Du'afa' wa al-Matrukin by al- Nasa'i and Kitab al-Majruhin by Muhammad b. Hibban al-Busti (d. 354). Two more works in this field which include a large number of reporters, both authenticated and disparaged, are Mizan al-I'tidal of al- Dhahabi and Lisan al-Mizan of Ibn Hajar.