Klasifikasi Hadis: Berdasarkan Keandalan dan Hafalan Para Perawi
The Classification Of Hadith: According To The Reliability And Memory Of The Reporters
Hukum akhir terhadap suatu hadis, yaitu sahih (shahih), hasan, da'if (lemah), atau maudu' (palsu, dibuat-buat), bergantung secara krusial pada faktor ini.
The final verdict on a hadith, i.e. sahih (sound), hasan (good), da'if (weak) or maudu' (fabricated, forged), depends critically on this factor.
Di antara para ahli hadis awal, yang sebagian besar berasal dari dua abad pertama, hadis hanya dibagi ke dalam dua kategori: sahih dan da'if; at-Tirmidzi adalah orang pertama yang membedakan hasan dari da'if. Inilah sebabnya mengapa para ahli hadis dan fuqaha seperti Ahmad, yang kadang tampak berargumen berdasarkan hadis da'if, sebenarnya bersandar pada hadis-hadis yang kemudian dikenal sebagai hasan.65
Among the early traditionists, mostly of the first two centuries, ahadith were classified into two categories only: sahih and da'if; al- Tirmidhi was to be the first to distinguish hasan from da'if. This is why traditionists and jurists such as Ahmad, who seemed to argue on the basis of da'if ahadith sometimes, were in fact basing their argument on the ahadith which were later to be known as hasan.65
Sekarang kita akan mengkaji secara lebih rinci keempat golongan hadits penting ini.
We now examine in more detail these four important classes of ahadith.
Sahih.
Sahih.
Al-Syafi'i menyatakan persyaratan berikut agar sebuah hadis yang tidak mutawatir dapat diterima: "Setiap perawi harus terpercaya dalam agamanya; ia harus dikenal jujur dalam periwayatannya, memahami apa yang ia riwayatkan, mengetahui bagaimana perbedaan ungkapan dapat mengubah makna, dan meriwayatkan lafaz hadis secara harfiah, bukan hanya maknanya. Hal ini karena jika ia tidak mengetahui bagaimana perbedaan ungkapan dapat mengubah keseluruhan makna, ia tidak akan tahu apakah ia telah mengubah yang halal menjadi haram. Oleh karena itu, jika ia meriwayatkan hadis sesuai lafaznya, tidak akan ditemukan perubahan makna sama sekali. Selain itu, ia harus seorang penghafal yang baik jika ia meriwayatkan dari hafalannya, atau penjaga tulisannya yang baik jika ia meriwayatkan dari catatannya. Ia harus sesuai dengan riwayat para huffaz (otoritas terkemuka dalam hadis), jika ia meriwayatkan sesuatu yang mereka riwayatkan juga. Ia tidak boleh menjadi seorang mudallis, yaitu orang yang meriwayatkan dari seseorang yang pernah ia temui sesuatu yang tidak ia dengar darinya, dan ia tidak boleh meriwayatkan dari Nabi ﷺ hal yang bertentangan dengan apa yang dilaporkan oleh sumber-sumber terpercaya darinya. Selain itu, orang di atasnya (dalam isnad) harus memiliki kualitas yang sama, [dan seterusnya,] hingga hadis tersebut bersambung tanpa terputus kepada Nabi ﷺ atau kepada otoritas di bawahnya."
Al-Shafi'i states the following requirement in order for a hadith which is not mutawatir to be acceptable: "Each reporter should be trustworthy in his religion; he should be known to be truthful in his narrating, to understand what he narrates, to know how a different expression can alter the meaning, and report the wording of the hadith verbatim, not only its meaning. This is because if he does not know how a different expression can change the whole meaning, he will not know if he has changed what is lawful into what is prohibited. Hence, if he reports the hadith according to its wording, no change of meaning will be found at all. Moreover, he should be a good memoriser if he happens to report from his memory, or a good preserver of his writings if he happens to report from them. He should agree with the narrations of the huffaz (leading authorities in Hadith), if he reports something which they do also. He should not be a mudallis, who narrates from someone he met something he did not hear, nor should he report from the Prophet (may Allah bless him and grant him peace) contrary to what reliable sources have reported from him. In addition, the one who is above him (in the isnad) should be of the same quality, [and so on,] until the hadith goes back uninterrupted to the Prophet (may Allah bless him and grant him peace) or any authority below him."66.
Namun Ibn al-Salah mendefinisikan hadis sahih dengan lebih cermat, dengan mengatakan: "Hadis sahih adalah hadis yang sanadnya bersambung, yang diriwayatkan oleh para perawi yang kuat hafalannya dari perawi-perawi semacam itu, dan yang terbebas dari keganjilan (syadz) pada matannya maupun cacat (illah) pada sanadnya."
Ibn al-Salah, however, defines a sahih hadith more precisely by saying: "A sahih hadith is the one which has a continuous isnad, made up of reporters of trustworthy memory from similar authorities, and which is found to be free from any irregularities (i.e. in the text) or defects (i.e. in the isnad).".
Berdasarkan definisi di atas, tidak tersisa ruang bagi hadis lemah apa pun, baik misalnya yang munqati', mu'dal, mudtarib, maqlub, shadhdh, munkar, ma'lul, maupun yang mengandung mudallis. Definisi tersebut juga mengecualikan hadis hasan, sebagaimana akan dibahas di bawah judul tersendiri.
By the above definition, no room is left for any weak hadith, whether, for example, it is munqati', mu'dal, mudtarib, maqlub, shadhdh, munkar, ma'lul, or contains a mudallis. The definition also excludes hasan ahadith, as will be discussed under that heading.
Dari seluruh penghimpun hadis, al-Bukhari dan Muslim sangat dikagumi karena upaya mereka yang tak kenal lelah dalam mengumpulkan hadis-hadis sahih saja. Umumnya dipahami bahwa semakin terpercaya dan semakin baik hafalan para perawinya, semakin sahih pula hadisnya. Sanad: al-Shafi'i --- Malik --- Nafi' --- 'Abdullah bin 'Umar --- Nabi ﷺ, disebut "sanad emas" karena para perawinya yang termasyhur.67.
Of all the collectors of hadith, al-Bukhari and Muslim were greatly admired because of their tireless attempts to collect sahih ahadith only. It is generally understood that the more trustworthy and of good memory the reporters, the more authentic the hadith. The isnad: al- Shafi'i --- Malik --- Nafi' --- 'Abdullah b. 'Umar --- The Prophet (may Allah bless him and grant him peace), is called a "golden isnad" because of its renowned reporters.67.
Sebagian ahli hadis lebih mengutamakan Shahih al-Bukhari daripada Shahih Muslim, karena al-Bukhari selalu mencari perawi yang pernah bertemu atau berjumpa satu sama lain, meskipun hanya sekali seumur hidup. Sebaliknya, Muslim menerima perawi yang cukup diketahui semasa dengan gurunya langsung dalam periwayatan.68.
Some traditionists prefer Sahih al-Bukhari to Sahih Muslim because al-Bukhari always looked for those reporters who had either accompanied or met each other, even if only once in their lifetime. On the other hand, Muslim would accept a reporter who is simply found to be contemporary to his immediate authority in reporting.68.
Penilaian berikut hanya diberikan untuk hadits sahih.
The following grading is given for sahih ahadith only:
1. Hadis-hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.
1. those which are transmitted by both al- Bukhari and Muslim.
2. Yang diriwayatkan oleh al-Bukhari saja.
2. those which are transmitted by al-Bukhari only.
3. Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim saja, yaitu yang tidak terdapat dalam dua kitab di atas, tetapi
3. those which are transmitted by Muslim only those which are not found in the above two collections, but .
4. yang sesuai dengan syarat-syarat al-Bukhari dan Muslim.
4. which agree with the requirements of both al-Bukhari and Muslim.
5. yang sesuai dengan syarat al-Bukhari saja.
5. which agree with the requirements of al- Bukhari only.
6. yang sesuai dengan syarat-syarat Muslim saja; dan 7. yang dinyatakan sahih oleh ahli hadis lainnya.69.
6. which agree with the requirements of Muslim only; and 7. those declared sahih by other traditionists.69.
Hasan.
Hasan.
Al-Tirmidhi memaksudkan dengan hadis hasan: hadis yang tidak syadz, tidak memuat perawi yang tercela dalam sanadnya, dan diriwayatkan melalui lebih dari satu jalur periwayatan.70.
Al-Tirmidhi means by hadith hasan: a hadith which is not shadhdh, nor contains a disparaged reporter in its isnad, and which is reported through more than one route of narration.70.
Al-Khattabi (w. 388 H) menyebutkan definisi yang sangat ringkas: "Hadis yang diketahui sumbernya dan para perawinya jelas."
Al-Khattabi (d. 388) states a very concise definition, "It is the one where its source is known and its reporters are unambiguous.".
Dengan ini yang dimaksud adalah bahwa para perawi hadis tidak boleh diragukan keadaannya, seperti pada hadis mursal atau munqati', atau hadis yang di dalamnya terdapat seorang mudallis.
By this he means that the reporters of the hadith should not be of a doubtful nature, such as with the mursal or munqati' hadith, or one containing a mudallis.
Ibnu Ash-Shalah membagi hadits hasan ke dalam dua kategori:
Ibn al-Salah classifies hasan into two categories:
1. yang memiliki sanad yang di dalamnya terdapat perawi yang mastur (tersembunyi, yaitu tidak ada tokoh terkemuka yang meriwayatkan darinya), namun ia tidak sepenuhnya ceroboh dalam periwayatannya, dengan syarat ada teks serupa yang juga diriwayatkan melalui sanad lain.
1. one with an isnad containing a reporter who is mastur ("screened", i.e. no prominent person reported from him) but is not totally careless in his reporting, provided that a similar text is reported through another isnad as well.
2. Hadis yang sanadnya memuat perawi yang dikenal jujur dan dapat dipercaya, tetapi satu tingkat di bawah perawi hadis sahih dalam hal hafalan dan ketelitiannya dalam memelihara hadis. Pada kedua kategori tersebut, Ibn al-Salah mensyaratkan agar hadis itu bebas dari syudzudz (keganjilan).71
2. one with an isnad containing a reporter who is known to be truthful and reliable, but is a degree less in his preservation/memory of hadith in comparison to the reporters of sahih ahadith. In both categories, Ibn al-Salah requires that the hadith be free of any shudhudh (irregularities).71
Al-Dhahabi, setelah menyebutkan berbagai definisi, berkata, "Hadis hasan adalah hadis yang lebih baik daripada hadis da'if, namun belum mencapai derajat hadis sahih."72 Berdasarkan definisi ini, sanad-sanad berikut termasuk hasan menurut al-Dhahabi.
Al-Dhahabi, after giving the various definitions, says, "A hasan hadith is one which excels the da'if but nevertheless does not reach the standard of a sahih hadith."72 In the light of this definition, the following isnads are hasan according to al-Dhahabi.
1. Bahz b. Hakam --- ayahnya --- kakeknya.
1. Bahz b. Hakam --- his father --- his grandfather.
2. 'Amr b. Syu'aib --- ayahnya --- kakeknya.
2. 'Amr b. Shu'aib --- his father --- his grandfather.
3. Muhammad b. 'Amr --- Abu Salamah --- Abu Hurairah.
3. Muhammad b. 'Amr --- Abu Salamah --- Abu Hurairah.
Perawi-perawi seperti al-Harith b. 'Abdullah, 'Asim b. Damurah, Hajjaj b. Artat, Khusaif b. 'Abd al-Rahman dan Darraj Abu al-Samh mendapat penilaian yang berbeda-beda: sebagian ahli hadis menyatakan hadis-hadis mereka hasan, sebagian lain menyatakannya da'if.73
Reporters such as al-Harith b. 'Abdullah, 'Asim b. Damurah, Hajjaj b. Artat, Khusaif b. 'Abd al- Rahman and Darraj Abu al-Samh attract different verdicts: some traditionists declare their ahadith hasan, others declare them da'if.73.
Contoh hadits hasan.
Example of a hasan hadith.
Malik, Abu Dawud, al-Tirmidhi dan al-Hakim meriwayatkan melalui sanad-sanad mereka dari 'Amr bin Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda.
Malik, Abu Dawud, al-Tirmidhi and al-Hakim reported through their isnads from 'Amr b. Shu'aib --- his father --- his grandfather, that the Messenger of Allah (may Allah bless him and grant him peace) said.
"Seorang pengendara adalah setan (yakni pembangkang), dua pengendara adalah dua setan, tetapi tiga orang sudah menjadi rombongan musafir."
"A single rider is a devil (i.e. disobedient), two riders are two devils, but three makes a travelling party.".
Al-Tirmidhi menilai hadits ini hasan karena isnad di atas, yang belum memenuhi syarat untuk disebut hadits sahih.74.
Al-Tirmidhi declares this hadith to be hasan because of the above isnad, which falls short of the requirements for a sahih hadith.74.
Beberapa hadis lemah dapat saling menguatkan hingga mencapai derajat hasan Menurut definisi at-Tirmidzi dan Ibnu ash-Shalah, sejumlah hadis lemah yang serupa mengenai suatu masalah tertentu dapat dinaikkan ke derajat hasan apabila kelemahan yang terdapat pada para perawinya bersifat ringan. Hadis semacam ini disebut hasan li ghairihi (hasan karena faktor lain), untuk membedakannya dari jenis yang telah dibahas sebelumnya, yaitu hasan li dzatihi (hasan karena dirinya sendiri). Demikian pula, beberapa hadis hasan dengan tema yang sama dapat menjadikan hadis itu sahih li ghairihi, yang dibedakan dari sahih li dzatihi yang telah dibahas sebelumnya.
Several weak ahadith may mutually support each other to the level of hasan According to the definitions of al-Tirmidhi and Ibn al-Salah, a number of similar weak ahadith on a particular issue can be raised to the degree of hasan if the weakness found in their reporters is of a mild nature. Such a hadith is known as hasan li ghairihi (hasan due to others), to distinguish it from the type previously-discussed, which is hasan li dhatihi (hasan in itself). Similarly, several hasan ahadith on the same subject may make the hadith sahih li ghairihi, to be distinguished from the previously-discussed sahih li dhatihi.
Namun, jika kelemahannya sangat berat (misalnya perawinya dituduh berdusta atau hadis itu sendiri berstatus syadz), hadis-hadis yang sangat lemah seperti ini tidak akan saling menguatkan dan tetap lemah. Sebagai contoh, hadis yang terkenal, "Barang siapa menjaga empat puluh hadis untuk umatku, maka Allah akan membangkitkannya pada Hari Kiamat bersama golongan orang-orang yang berilmu", telah dinyatakan lemah (da'if) oleh sebagian besar ahli hadis, meskipun diriwayatkan melalui beberapa jalur.75.
However, in case the weakness is severe (e.g., the reporter is accused of lying or the hadith is itself shadhdh), such very weak ahadith will not support each other and will remain weak. For example, the well-known hadith, "He who preserves forty ahadith for my Ummah will be raised by Allah on the Day of Resurrection among the men of understanding", has been declared to be da'if by most of the traditionists, although it is reported through several routes.75.
Da'if.
Da'if.
Hadis yang tidak mencapai derajat hasan adalah da'if. Biasanya, kelemahannya berupa keterputusan dalam isnad, yang dalam hal ini hadis tersebut bisa berstatus mursal, mu'allaq, mudallas, munqati', atau mu'dal, sesuai dengan sifat pasti dari keterputusan tersebut, atau berupa keadaan salah seorang perawi yang tercela, seperti karena dianggap berdusta, banyak melakukan kesalahan, menyelisihi riwayat sumber-sumber yang lebih terpercaya, terlibat dalam bid'ah, atau keadaan dirinya yang tidak jelas.
A hadith which fails to reach the status of hasan is da'if. Usually, the weakness is one of discontinuity in the isnad, in which case the hadith could be mursal, mu'allaq, mudallas, munqati' or mu'dal, according to the precise nature of the discontinuity, or one of a reporter having a disparaged character, such as due to his telling lies, excessive mistakes, opposition to the narration of more reliable sources, involvement in innovation, or ambiguity surrounding his person.
Semakin sedikit jumlah dan tingkat keparahan cacat, semakin ringan kelemahannya. Semakin banyak cacat, baik dari segi jumlah maupun tingkat keparahannya, semakin dekat hadis itu dengan status maudu' (palsu).76 Sebagian hadis, sesuai dengan variasi sifat kelemahan yang terkait dengan para perawinya, berada di peringkat terbawah derajat hasan atau di peringkat teratas derajat da'if. Perawi-perawi seperti 'Abdullah b. Lahi'ah (seorang hakim terkenal dari Mesir), 'Abd al-Rahman b. Zaid b. Aslam, Abu Bakr b. Abi Maryam al-Himsi, Faraj b. Fadalah, dan Rishdin b. Sa'd termasuk dalam kategori yang memiliki peringkat beragam semacam ini, karena mereka bukanlah perawi yang sangat kuat hafalannya, namun juga tidak sepenuhnya ditinggalkan oleh para ahli hadis.77.
The smaller the number and importance of defects, the less severe the weakness. The more the defects in number and severity, the closer the hadith will be to being maudu' (fabricated).76 Some ahadith, according to the variation in the nature of the weakness associated with its reporters, rank at the bottom of the hasan grade or at the top of the da'if grade. Reporters such as 'Abdullah b. Lahi'ah (a famous judge from Egypt), 'Abd al-Rahman b. Zaid b. Aslam, Abu Bakr b. Abi Maryam al-Himsi, Faraj b. Fadalah, and Rishdin b. Sa'd attract such types of varying ranks as they are neither extremely good preservers nor totally abandoned by the traditionists.77.
Maudu'.
Maudu'.
Al-Dhahabi mendefinisikan maudu' (palsu, hasil pemalsuan) sebagai istilah yang diterapkan pada suatu hadis yang isinya bertentangan dengan kaidah-kaidah yang telah mapan dari sabda Nabi ﷺ, atau para perawinya termasuk seorang pendusta, misalnya empat puluh hadis yang dikenal sebagai Wad'aniyyah, atau kumpulan kecil hadis yang dipalsukan dan diklaim diriwayatkan oleh 'Ali al-Rida, Imam kedelapan dari kalangan Syi'ah Ithna 'Ashariyyah.78
Al-Dhahabi defines maudu' (fabricated, forged) as the term applied to a hadith, the text of which goes against the established norms of the Prophet's sayings (may Allah bless him and grant him peace), or its reporters include a liar, e.g. the forty ahadith known as Wad'aniyyah or the small collection of ahadith which was fabricated and claimed to have been reported by 'Ali al-Rida, the eighth Imam of the Ithna 'Ashari Shi'ah.78.
Sejumlah ahli hadis telah mengumpulkan hadis-hadis palsu secara terpisah agar dapat membedakannya dari hadis-hadis lain; di antara mereka adalah Ibnu al-Jauzi dalam al-Maudu'at, al-Jauzaqani dalam Kitab al-Abatil, as-Suyuti dalam al-La'ali al-Masnu'ah fi 'l-Ahadith al-Maudu'ah, dan 'Ali al-Qari dalam al-Maudu'at. Sebagian dari hadis-hadis ini diketahui palsu berdasarkan pengakuan para pembuatnya sendiri. Misalnya, Muhammad bin Sa'id al-Maslub biasa berkata, "Tidak keliru membuat sanad bagi suatu ucapan yang benar."79 Pemalsu terkenal lainnya, 'Abdul Karim Abu al-Auja, yang dibunuh dan disalib oleh Muhammad bin Sulaiman bin 'Ali, gubernur Basrah, mengakui bahwa dirinya telah memalsukan empat ribu hadis yang menyatakan halal hal yang haram dan sebaliknya.80
A number of traditionists have collected fabricated ahadith separately in order to distinguish them from other ahadith; among them are Ibn al-Jauzi in al-Maudu'at, al-Jauzaqani in Kitab al-Abatil, al-Suyuti in al-La'ali al- Masnu'ah fi 'l-Ahadith al-Maudu'ah, and 'Ali al- Qari in al-Maudu'at. Some of these ahadith were known to be spurious by the confession of their inventors. For example, Muhammad b. Sa'id al-Maslub used to say, "It is not wrong to fabricate an isnad for a sound statement."79 Another notorious inventor, 'Abd al-Karim Abu 'l-Auja, who was killed and crucified by Muhammad b. Sulaiman b. 'Ali, governor of Basrah, admitted that he had fabricated four thousand ahadith declaring lawful the prohibited and vice-versa.80.
Hadis maudu' juga dikenali melalui bukti eksternal, yaitu adanya ketidaksesuaian pada tanggal atau waktu suatu peristiwa tertentu.81 Misalnya, ketika khalifah kedua, 'Umar b. al-Khattab, memutuskan untuk mengusir orang-orang Yahudi dari Khaibar, beberapa tokoh Yahudi datang kepada 'Umar dengan membawa sebuah dokumen yang tampaknya membuktikan bahwa Nabi ﷺ bermaksud agar mereka tetap tinggal di sana dengan membebaskan mereka dari jizyah (pajak bagi non-Muslim yang berada di bawah kekuasaan kaum Muslimin). Dokumen itu disaksikan oleh dua orang Sahabat, Sa'd b. Mu'adh dan Mu'awiyah b. Abi Sufyan. 'Umar menolak dokumen tersebut secara tegas, karena ia mengetahui bahwa dokumen itu palsu: penaklukan Khaibar terjadi pada tahun 6 H, sedangkan Sa'd b. Mu'adh wafat pada tahun 3 H, tepat setelah Perang Khandaq, dan Mu'awiyah baru memeluk Islam pada tahun 8 H, setelah Penaklukan Makkah!82
Maudu' ahadith are also recognised by external evidence related to a discrepancy found in the dates or times of a particular incident.81 For example, when the second caliph, 'Umar b. al- Khattab decided to expel the Jews from Khaibar, some Jewish dignitaries brought a document to 'Umar apparently proving that the Prophet (may Allah bless him and grant him peace) had intended that they stay there by exempting them from the jizyah (tax on non-Muslims under the rule of Muslims); the document carried the witness of two Companions, Sa'd b. Mu'adh and Mu'awiyah b. Abi Sufyan. 'Umar rejected the document outright, knowing that it was fabricated because the conquest of Khaibar took place in 6 AH, whereas Sa'd b. Mu'adh died in 3 AH just after the Battle of the Trench, and Mu'awiyah embraced Islam in 8 AH, after the conquest of Makkah!82.
Penulis, dalam Kritik Hadis di kalangan Muslim dengan merujuk pada Sunan Ibn Majah, telah memberikan lebih banyak contoh hadis palsu di bawah delapan kategori berikut tentang sebab-sebab pemalsuan:83.
The author, in his Criticism of Hadith among Muslims with reference to Sunan Ibn Majah, has given more examples of fabricated ahadith under the following eight categories of causes of fabrication:83.
1. Perbedaan politik.
1. political differences.
2. Golongan-golongan berdasarkan perbedaan dalam masalah akidah.
2. factions based on issues of creed.
3. Rekayasa (fabrikasi) oleh zanadiqah (musuh dari dalam yang menyebarkan keyakinan sesat).
3. fabrications by zanadiqah (enemies-within spreading heretical beliefs).
4. Pemalsuan oleh para pencerita (kisah-kisah yang dibuat-buat)
4. fabrications by story-tellers.
5. fabrikasi oleh para zahid yang bodoh.
5. fabrications by ignorant ascetics.
6. Prasangka yang memihak kepada kota, ras, atau imam tertentu.
6. prejudice in favour of town, race or a particular imam.
7. Penemuan untuk motif pribadi.
7. inventions for personal motives.
8. Peribahasa yang diubah menjadi hadits.
8. proverbs turned into ahadith.
Serupa dengan kategori terakhir di atas adalah kasus Isra'iliyat ("riwayat-riwayat Israiliyat"), yaitu kisah-kisah dari kalangan Yahudi dan Nasrani84 yang secara keliru dinisbatkan kepada Nabi ﷺ.
Similar to the last category above is the case of Isra'iliyat ("Israelite traditions"), narrations from the Jews and the Christians84 which were wrongly attributed to the Prophet (may Allah bless him and grant him peace).