Pendahuluan
Introduction
Umat manusia saat ini berada di tepi jurang, bukan karena bahaya kehancuran total yang menggantung di atas kepalanya—karena itu hanyalah gejala dan bukan penyakit yang sebenarnya—melainkan karena umat manusia kehilangan nilai-nilai vital yang diperlukan tidak hanya untuk perkembangannya yang sehat, tetapi juga untuk kemajuan yang sesungguhnya.
Mankind today is on the brink of a precipice, not because of the danger of complete annihilation which is hanging over its head-this being just a symptom and not the real disease -but because humanity is devoid of those vital values which are necessary not only for its healthy development but also for its real progress.
Bahkan dunia Barat pun menyadari bahwa peradaban Barat tidak mampu menyajikan nilai-nilai yang sehat untuk membimbing umat manusia. Ia tahu bahwa ia tidak memiliki sesuatu pun yang dapat memuaskan hati nuraninya sendiri dan membenarkan keberadaannya.
Even the Western world realises that Western civilization is unable to present any healthy values for the guidance of mankind. It knows that it does not possess anything which will satisfy its own conscience and justify its existence.
Demokrasi di Barat telah menjadi begitu mandul sehingga ia meminjam dari sistem blok Timur, khususnya dalam sistem ekonomi, dengan nama sosialisme. Hal yang sama terjadi pada blok Timur. Teori-teori sosialnya, yang terutama di antaranya adalah Marxisme, pada mulanya menarik bukan hanya sejumlah besar orang dari Timur tetapi juga dari Barat, karena ia merupakan cara hidup yang berlandaskan suatu akidah. Namun kini Marxisme telah kalah di ranah pemikiran, dan jika dikatakan bahwa tidak satu pun bangsa di dunia yang benar-benar Marxis, itu bukanlah suatu berlebihan. Secara keseluruhan teori ini bertentangan dengan fitrah manusia dan kebutuhan-kebutuhannya. Ideologi ini hanya berkembang di masyarakat yang rusak moralnya atau di masyarakat yang telah menjadi takut akibat suatu bentuk kediktatoran yang berkepanjangan. Tetapi kini, bahkan dalam keadaan seperti ini, sistem ekonomi materialistisnya pun gagal, padahal inilah satu-satunya fondasi yang menopang bangunannya. Rusia, yang merupakan pemimpin negara-negara komunis, kini sendiri menderita kekurangan pangan. Padahal pada masa Tsar, Rusia biasa memproduksi pangan berlebih, namun sekarang ia harus mengimpor pangan dari luar negeri dan harus menjual cadangan emasnya untuk keperluan tersebut. Penyebab utamanya adalah kegagalan sistem pertanian kolektif, atau dapat dikatakan, kegagalan sebuah sistem yang bertentangan dengan fitrah manusia.
Democracy in the West has become infertile to such an extent that it is borrowing from the systems of the Eastern bloc, especially in the economic system, under the name of socialism. It is the same with the Eastern bloc. Its social theories, foremost among which is Marxism, in the beginning attracted not only a large number of people from the East but also from the West, as it was a way of life based on a creed. But now Marxism is defeated on the plane of thought, and if it is stated that not a single nation in the world is truly Marxist, it will not be an exaggeration. On the whole this theory conflicts with man's nature and its needs. This ideology prospers only in a degenerate society or in a society which has become cowed as a result of some form of prolonged dictatorship. But now, even under these circumstances, its materialistic economic system is failing, although this was the only foundation on which its structure was based. Russia, which is the leader of the communist countries, is itself suffering from shortages of food. Although during the times of the Tsars Russia used to produce surplus food, it now has to import food from abroad and has to sell its reserves of gold for this purpose. The main reason for this is the failure of the system of collective farming, or, one can say, the failure of a system which is against human nature.
Umat manusia sangat membutuhkan kepemimpinan baru! Kepemimpinan umat manusia oleh manusia Barat kini sedang merosot, bukan karena budaya Barat menjadi miskin secara materi, atau karena kekuatan ekonomi dan militernya melemah. Masa sistem Barat telah berakhir terutama karena ia kehilangan nilai-nilai yang memberi kehidupan, yang dahulu memungkinkannya menjadi pemimpin umat manusia.
It is essential for mankind to have new leadership! The leadership of mankind by Western man is now on the decline, not because Western culture has become poor materially or because its economic and military power has become weak. The period of the Western system has come to an end primarily because it is deprived of those life-giving values which enabled it to be the leader of mankind.
Kepemimpinan baru perlu melestarikan dan mengembangkan buah-buah material dari kejeniusan kreatif Eropa, serta memberikan kepada umat manusia cita-cita dan nilai-nilai luhur yang sejauh ini belum ditemukan oleh umat manusia, dan yang juga akan mengenalkan umat manusia kepada suatu cara hidup yang selaras dengan fitrah manusia, yang positif dan konstruktif, serta dapat dipraktikkan.
It is necessary for the new leadership to preserve and develop the material fruits of the creative genius of Europe, and also to provide mankind with such high ideals and values as have so far remained undiscovered by mankind, and which will also acquaint humanity with a way of life which is harmonious with human nature, which is positive and constructive, and which is practicable.
Islam adalah satu-satunya sistem yang memiliki nilai-nilai dan cara hidup ini.
Islam is the only System which possesses these values and this way of life.
Masa kebangkitan kembali ilmu pengetahuan juga telah berakhir. Masa ini, yang dimulai dengan Renaisans pada abad keenam belas Masehi dan mencapai puncaknya pada abad kedelapan belas dan kesembilan belas, tidak memiliki semangat yang menghidupkan.
The period of the resurgence of science has also come to an end. This period, which began with the Renaissance in the sixteenth century after Christ and reached its zenith in the eighteenth and nineteenth centuries, does not possess a reviving spirit.
Semua ideologi nasionalistik dan chauvinistik yang muncul di zaman modern, dan semua gerakan serta teori yang lahir darinya, juga telah kehilangan vitalitasnya. Singkatnya, semua teori individual atau kolektif buatan manusia terbukti gagal.
All nationalistic and chauvinistic ideologies which have appeared in modern times, and all the movements and theories derived from them, have also lost their vitality. In short, all man-made individual or collective theories have proved to be failures.
Pada saat yang genting dan membingungkan ini, tibalah giliran Islam dan umat Islam—giliran Islam, yang tidak melarang penemuan-penemuan material. Sebaliknya, Islam memandangnya sebagai kewajiban manusia sejak awal mula zaman, ketika Tuhan menunjuknya sebagai wakil-Nya di bumi, dan Islam menganggapnya, dengan syarat-syarat tertentu, sebagai ibadah kepada Tuhan dan salah satu tujuan penciptaan manusia. "Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." (Al-Qur'an 2:30)
At this crucial and bewildering juncture, the turn of Islam and the Muslim community has arrived -the turn of Islam, which does not prohibit material inventions. Indeed, it counts it as an obligation on man from the very beginning of time, when God deputed him as His representative on earth, and regards it under certain conditions a5 worship of God and one of the purposes of man's creation. "And when Your Sustainer said to the angels, I am going to make My representative on earth.," (Qur'an 2:30)
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (2:143)
"And I have not created jinns and men except that they worship Me." (2:143)
Demikianlah, kini giliran umat Islam untuk menunaikan tugas bagi umat manusia yang telah diwajibkan oleh Tuhan kepadanya.
Thus the turn of the Muslim community has come to fulfill the task for mankind which God has enjoined upon it.
"Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk kebaikan manusia. Kalian menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan kalian beriman kepada Allah."
"You are the best community raised for the good of mankind. You enjoin what is good and forbid what is wrong, and you believe in God." (3:110)
{Dan demikianlah Kami menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan Rasul (Muhammad ﷺ) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.} (QS. Al-Baqarah: 143)
"Thus We have made you a middle community, so that you be witnesses for mankind as the Messenger is a witness for you." (2:143)
Islam tidak dapat menjalankan peranannya kecuali dengan mengambil bentuk konkret dalam sebuah masyarakat, bahkan dalam sebuah bangsa; karena manusia tidak mau mendengarkan, terutama di zaman ini, sebuah teori abstrak yang tidak terlihat terwujud dalam masyarakat yang hidup. Dari sudut pandang ini, kita dapat mengatakan bahwa umat Islam telah lenyap selama beberapa abad, sebab umat Islam ini tidak menunjukkan nama sebuah negeri tempat Islam bermukim, juga bukan sekelompok orang yang leluhurnya hidup di bawah sistem Islam pada masa silam. Umat Islam adalah nama bagi sekelompok orang yang tata krama, gagasan dan konsep, aturan dan peraturan, nilai dan kriteria mereka, semuanya bersumber dari sumber Islam. Umat Islam dengan karakteristik seperti ini lenyap pada saat hukum-hukum Tuhan terhenti berlaku di muka bumi.
Islam cannot fulfill its role except by taking concrete form in a society, rather, in a nation; for man does not listen, especially in this age, to an abstract theory which is not seen materialized in a living society. From this point of view, we can say that the Muslim community has been extinct for a few centuries, for this Muslim community does not denote the name of a land in which Islam resides, nor is it a people whose forefathers lived under the Islamic system at some earlier time. It is the name of a group of people whose manners, ideas and concepts, rules and regulations, values and criteria, are all derived from the Islamic source. The Muslim community with these characteristics vanished at the moment the laws of God became suspended on earth.
Jika Islam ingin kembali memainkan peran sebagai pemimpin umat manusia, maka perlu bagi umat Islam untuk dikembalikan kepada bentuk aslinya.
If Islam is again to play the role of the leader of man- kind, then it is necessary that the Muslim community be restored to its original form.
Perlu dilakukan kebangkitan kembali atas umat Islam yang kini terkubur di bawah reruntuhan tradisi buatan manusia selama beberapa generasi, dan yang terhimpit di bawah beban hukum-hukum dan adat-istiadat palsu yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan ajaran Islam, dan yang, meskipun demikian, tetap menyebut dirinya "dunia Islam." Saya menyadari bahwa antara upaya "kebangkitan" dan tercapainya "kepemimpinan" masih terdapat jarak yang sangat jauh, karena umat Islam sudah lama lenyap dari keberadaan dan pengamatan, dan kepemimpinan umat manusia sejak lama telah beralih kepada ideologi-ideologi lain, bangsa-bangsa lain, konsep-konsep lain, dan sistem-sistem lain.
It is necessary to revive that Muslim community which is buried under the debris of the man-made traditions of several generations, and which is crushed under the weight of those false laws and customs which are not even remotely related to the Islamic teachings, and which, in spite of all this, calls itself the 'world of Islam.' I am aware that between the attempt at 'revival' and the attainment of 'leadership' there is a great distance, as the Muslim community has long ago vanished from existence and from observation, and the leadership of mankind has long since passed to other ideologies and other nations, other concepts and other systems.
Ini adalah era ketika kejeniusan Eropa menciptakan karya-karya luar biasa di bidang sains, budaya, hukum, dan produksi material, yang dengan itu umat manusia telah mencapai puncak kreativitas dan kenyamanan materi yang tinggi. Tidaklah mudah untuk mencela para penemu hal-hal yang luar biasa seperti itu, terlebih lagi karena apa yang kita sebut "dunia Islam" sepenuhnya kosong dari semua keindahan ini.
This was the era during which Europe's genius created its marvellous works in science, culture, law and material production, due to which mankind has progressed to great heights of creativity and material comfort. It is not easy to find fault with the inventors of such marvellous things, especially since what we call the 'world of Islam' is completely devoid of all this beauty.
Namun, meskipun demikian, kebangkitan Islam tetap perlu diwujudkan. Jarak antara kebangkitan Islam dan pencapaian kepemimpinan dunia mungkin sangatlah jauh, dan mungkin terdapat rintangan besar di sepanjang jalan; namun langkah pertama harus diambil demi kebangkitan Islam.
But in spite of all this, it is necessary to revive Islam. The distance between the revival of Islam and the attainment of world leadership may be vast, and there may be great difficulties on the way; but the first step must be taken for the revival of Islam.
Agar kita dapat menjalankan tugas kita dengan wawasan dan hikmah, kita terlebih dahulu harus mengetahui dengan jelas hakikat sifat-sifat yang menjadi dasar bagi umat Islam untuk menunaikan kewajibannya sebagai pemimpin dunia.
If we are to perform our task with insight and wisdom, we must first know clearly the nature of those qualities on the basis of which the Muslim community can fulfill its obligation as the leader of the world.
Ini sangat penting agar kita tidak melakukan kekeliruan pada tahap pertama rekonstruksi dan kebangkitannya.
This is essential so that we may not commit any blunders at the very first stage of its reconstruction and revival.
Komunitas Muslim saat ini tidak mampu, dan memang tidak dituntut, untuk menghadirkan di hadapan umat manusia kejeniusan besar dalam penemuan-penemuan material, yang akan membuat dunia menundukkan kepala di hadapan keunggulannya dan dengan demikian memulihkan kembali kepemimpinan dunianya. Daya cipta Eropa jauh lebih maju di bidang ini, dan setidaknya untuk beberapa abad mendatang kita tidak dapat berharap untuk bersaing dengan Eropa dan meraih keunggulan atasnya dalam bidang-bidang tersebut.
The Muslim community today is neither capable of nor required to present before mankind great genius in material inventions, which will make the world bow its head before its supremacy and thus re-establish once more its world leadership. Europe's creative mind is far ahead in this area, and at least for a few centuries to come we cannot expect to compete with Europe and attain supremacy over it in these fields.
Maka kita harus memiliki kualitas lain, yaitu kualitas yang tidak dimiliki oleh peradaban modern.
Hence we must have some other quality, that quality which modern civilization does not possess.
Namun hal ini tidak berarti bahwa kita boleh mengabaikan kemajuan material. Kita juga harus mencurahkan perhatian dan usaha penuh ke arah itu, bukan karena pada tahap ini hal tersebut merupakan syarat mutlak untuk meraih kepemimpinan umat manusia, melainkan karena hal itu merupakan syarat mutlak bagi keberadaan kita itu sendiri. Islam pun, yang mengangkat manusia ke kedudukan sebagai khalifah Tuhan di bumi, dan yang dalam kondisi tertentu menganggap tanggung jawab sebagai khalifah ini sebagai ibadah kepada Tuhan dan tujuan penciptaan manusia, menjadikan kemajuan material wajib bagi kita.
But this does not mean that we should neglect material progress. We should also give our full attention and effort in this direction, not because at this stage it is an essential requirement for attaining the leadership of mankind, but because it is an essential condition for our very existence; and Islam itself, which elevates man to the position of representative of God on earth, and which, under certain conditions, considers the responsibilities of this representative as the worship of God and the purpose of man's creation, makes material progress obligatory for us.
Untuk meraih kepemimpinan umat manusia, kita harus memiliki sesuatu untuk ditawarkan selain kemajuan material, dan kualitas lain ini hanya dapat berupa iman dan cara hidup yang, di satu sisi, memelihara manfaat sains dan teknologi modern, dan di sisi lain, memenuhi kebutuhan dasar manusia pada tingkat keunggulan yang sama seperti yang telah dipenuhi teknologi dalam bidang kenyamanan material. Dan kemudian iman dan cara hidup ini harus mewujud dalam bentuk nyata di tengah masyarakat manusia, dengan kata lain, dalam sebuah masyarakat Muslim.
To attain the leadership of mankind, we must have something to offer besides material progress, and this other quality can only be a faith and a way of life which on the one hand conserves the benefits of modern science and technology, and on the other fulfills the basic human needs on the same level of excellence as technology has fulfilled them in the sphere of material comfort. And then this faith and way of life must take concrete form in a human society - in other words, In a Muslim society.
Jika kita melihat sumber dan landasan cara hidup modern, menjadi jelas bahwa seluruh dunia terbenam dalam Jahiliyyah, [Kejahilan terhadap petunjuk Ilahi], dan segala kenyamanan materi yang menakjubkan serta penemuan-penemuan tingkat tinggi tidak mengurangi kejahilan ini. Jahiliyyah ini berakar pada pemberontakan terhadap kedaulatan Tuhan di bumi. Ia memindahkan kepada manusia salah satu sifat terbesar Tuhan, yaitu kedaulatan, dan menjadikan sebagian manusia sebagai penguasa atas yang lain. Kini Jahiliyyah tidak lagi berbentuk sederhana dan primitif seperti Jahiliyyah kuno, melainkan berbentuk klaim bahwa hak untuk menciptakan nilai, membuat aturan perilaku kolektif, dan memilih jalan hidup apa pun berada di tangan manusia, tanpa mempedulikan apa yang telah ditetapkan Tuhan. Akibat dari pemberontakan terhadap otoritas Tuhan ini adalah penindasan terhadap makhluk-makhluk-Nya. Maka, direndahkannya rakyat jelata di bawah sistem komunis dan eksploitasi individu serta bangsa-bangsa akibat keserakahan akan kekayaan dan imperialisme di bawah sistem kapitalis hanyalah konsekuensi dari pemberontakan terhadap otoritas Tuhan dan penyangkalan terhadap martabat manusia yang dianugerahkan oleh Tuhan kepadanya.
If we look at the sources and foundations of modern ways of living, it becomes clear that the whole world is steeped in Jahiliyyah, [Ignorance of the Divine guidance] and all the marvellous material comforts and high-level inventions do not diminish this ignorance. This Jahiliyyah is based on rebellion against God's sovereignty on earth. It transfers to man one of the greatest attributes of God, namely sovereignty, and makes some men lords over others. It is now not in that simple and primitive form of the ancient Jahiliyyah, but takes the form of claiming that the right to create values, to legislate rules of collective behavior, and to choose any way of life rests with men, without regard to what God has prescribed. The result of this rebellion against the authority of God is the oppression of His creatures. Thus the humiliation of the common man under the communist systems and the exploitation of individuals and nations due to greed for wealth and imperialism under the capitalist systems are but a corollary of rebellion against God's authority and the denial of the dignity of man given to him by God.
Dalam hal ini, cara hidup Islam adalah unik, karena dalam sistem-sistem selain Islam, sebagian orang menyembah orang lain dalam satu bentuk atau bentuk lainnya. Hanya dalam cara hidup Islam semua manusia terbebas dari perbudakan sebagian manusia terhadap manusia lainnya dan mengabdikan diri hanya kepada penyembahan Tuhan, hanya mengambil petunjuk dari-Nya, dan hanya tunduk kepada-Nya.
In this respect, Islam's way of life is unique, for in systems other that Islam, some people worship others in some form or or another. Only in the Islamic way of life do all men become free from the servitude of some men to others and devote themselves to the worship of God alone, deriving guidance from Him alone, and bowing before Him alone.
Di sinilah jalan-jalan itu berpisah, dan inilah konsep baru yang kita miliki serta dapat kita persembahkan kepada umat manusia: konsep ini beserta cara hidup yang diatur olehnya untuk seluruh aspek praktis kehidupan manusia. Inilah pesan vital yang belum diketahui umat manusia. Ia bukanlah hasil ciptaan Barat maupun buah kejeniusan Eropa, baik Timur maupun Barat.
This is where the roads separate, and this is that new concept which we possess and can present to mankind - this and the way of life which this concept organizes for all the practical aspects of man's life. This is that vital message of which mankind does not know. It is not a product of Western invention nor of European genius, whether eastern or western.
Tanpa keraguan, kita memiliki hal baru ini yang sempurna pada tingkat tertinggi, suatu hal yang tidak diketahui oleh umat manusia dan tidak mampu mereka 'hasilkan'.
Without doubt, we possess this new thing which is perfect to the highest degree, a thing which mankind does not know about and is not capable of 'producing'.
Namun sebagaimana telah kami nyatakan sebelumnya, keindahan sistem baru ini tidak dapat dihargai kecuali ia mengambil bentuk yang nyata. Oleh karena itu, sebuah komunitas harus menata urusan-urusannya sesuai dengannya dan menunjukkannya kepada dunia. Untuk mewujudkan hal ini, kita perlu memulai gerakan kebangkitan Islam di salah satu negara Muslim.
But as we have stated before, the beauty of this new system cannot be appreciated unless it takes a concrete form. Hence it is essential that a community arrange its affairs according to it and show it to the world. In order to bring this about, we need to initiate the movement of Islamic revival in some Muslim country.
Hanya gerakan kebangkitan semacam itu yang pada akhirnya akan mencapai kedudukan kepemimpinan dunia, baik jarak waktunya dekat maupun jauh. Bagaimana mungkin tugas menghidupkan kembali Islam dapat dimulai?
Only such a revivalist movement will eventually attain to the status of world leadership, whether the distance is near or far. How is it possible to start the task of reviving Islam?
Diperlukan adanya suatu barisan terdepan yang berangkat dengan tekad ini lalu terus berjalan di jalannya, menembus lautan luas Jahiliyah yang telah meliputi seluruh dunia. Selama perjalanannya, barisan ini harus menjaga jarak sampai batas tertentu dari Jahiliyah yang menyeluruh ini, sekaligus tetap mempertahankan sebagian ikatan dengannya.
It is necessary that there should be a vanguard which sets out with this determination and then keeps walking on the path, marching through the vast ocean of Jahiliyyah which has encompassed the entire world. During its course, it should keep itself somewhat aloof from this all-encompassing Jahiliyyah and should also keep some ties with it.
Perlu bagi barisan terdepan ini untuk mengetahui tonggak-tonggak dan patok-patok jalan menuju tujuan ini, agar mereka dapat mengenali titik awal, hakikat, tanggung jawab, dan tujuan akhir dari perjalanan panjang ini. Tidak hanya itu, mereka juga harus menyadari posisi mereka dalam menghadapi Jahiliyyah ini, yang telah menancapkan pasaknya di seluruh penjuru bumi: kapan harus bekerja sama dengan orang lain dan kapan harus memisahkan diri dari mereka; sifat-sifat dan kualitas apa yang harus mereka tumbuhkan, dan dengan sifat-sifat dan kualitas apa Jahiliyyah yang ada di sekitar mereka dipersenjatai; bagaimana berbicara kepada orang-orang Jahiliyyah dengan bahasa Islam, dan topik-topik serta persoalan apa yang harus dibahas; serta di mana dan bagaimana memperoleh petunjuk dalam semua hal tersebut.
It is necessary that this vanguard should know the landmarks and the milestones of the road toward this goal so that they may recognize the starting place, the nature, the responsibilities and the ultimate purpose of this long journey. Not only this, but they ought to be aware of their position as opposed to this Jahiliyyah, which has struck its stakes throughout the earth: when to co-operate with others and when to separate from them: what characteristics and qualities they should cultivate, and with what characteristics and qualities the Jahiliyyah immediately surrounding them is armed; how to address the people of Jahiliyyah in the language of Islam, and what topics and problems ought to be discussed; and where and how to obtain guidance in all these matters.
Tonggak-tonggak perjalanan itu tentu ditentukan oleh cahaya sumber pertama dari agama ini, yaitu Al-Qur'an yang mulia, dan dari ajaran-ajaran dasarnya, serta dari konsep yang ditanamkannya dalam benak kelompok pertama kaum Muslimin, yaitu mereka yang dibangkitkan oleh Tuhan untuk menunaikan kehendak-Nya, mereka yang pernah mengubah arah sejarah manusia ke arah yang telah ditetapkan oleh Tuhan.
The milestones will necessarily be determined by the light of the first source of this faith-the Holy Qur'an - and from its basic teachings, and from the concept which it created in the minds of the first group of Muslims, those whom God raised to fulfill His will, those who once changed the course of human history in the direction ordained by God.
Saya telah menulis "Milestones" untuk gerakan perintis ini, yang saya pandang sebagai kenyataan yang sedang dinanti dan segera terwujud. Empat bab [bab-bab ini adalah "The Nature of the Qur'anic Method" (Hakikat Metode Qur'ani), "Islamic Concept and Culture" (Konsep dan Budaya Islam), "Jihaad in the Cause of God" (Jihad di Jalan Allah), dan "Revival of the Muslim Community and its characteristics" (Kebangkitan Kembali Umat Islam dan Ciri-cirinya)] diambil dari tafsir saya, Fi Jilal al-Qur'an, [Di Bawah Naungan Al-Qur'an, sebuah tafsir Al-Qur'an], yang telah saya ubah di sana-sini sedikit agar sesuai dengan topik. Pendahuluan ini dan bab-bab lainnya saya tulis pada waktu yang berbeda-beda. Dalam menulis bab-bab ini, saya telah menuangkan kebenaran-kebenaran mendalam yang saya pahami selama merenungkan jalan hidup yang disajikan dalam Al-Qur'an yang mulia. Pikiran-pikiran ini mungkin tampak acak dan tidak saling berkaitan, namun ada satu hal yang sama di antara semuanya; yaitu, pikiran-pikiran ini adalah tonggak-tonggak di sepanjang jalan, dan memang sifat tanda-tanda di sepanjang jalan itu tidak saling berkaitan. Secara keseluruhan, tulisan-tulisan ini merupakan seri pertama dari sebuah rangkaian, dan dengan pertolongan Allah saya berharap dapat menulis lebih banyak kumpulan tentang topik ini.
I have written "Milestones" for this vanguard, which I consider to be a waiting reality about to be materialized. Four chapters [ These chapters are "The Nature of the Qur'anic Method". "Islamic Concept and Culture", "Jihaad in the Cause of God", and "Revival of the Muslim Community and its characteristics.] are taken from my commentary, Fi Jilal al-Qur'an, [ In the Shades of the Qur'an, a commentary on the Qur'an.] which I have changed here and there slightly to suit the topic. This introduction and the other chapters I wrote at various times. In writing these chapters I have set down the deep truths which I grasped during my meditations over the way of life presented in the Holy Qur'an. These thoughts may appear random and disconnected, but one thing is common among them; that is, these thoughts are milestones on the road,' and it is the nature of signs along the road to be disconnected. Taken together, these writings are a first installment of a series, and with God's help I hope to write some more collections on this topic.
Dan petunjuk itu berasal dari Tuhan.
And the guidance is from God.