Konsep dan Budaya Islam
The Islamic Concept And Culture
Dalam bab keenam kami telah menunjukkan bahwa bagian pertama dari rukun Islam yang pertama adalah pengabdian hidup seseorang hanya kepada Allah; inilah makna dari "La ilaha illa Allah". Bagian keduanya berarti bahwa jalan pengabdian ini datang dari Nabi Muhammad ﷺ: "Muhammadar Rasul Allah" menunjuk pada fakta ini. Penyerahan diri yang sempurna kepada Allah tercapai dengan berserah diri kepada-Nya melalui keyakinan, praktik, dan dalam hukum. Tidak ada seorang Muslim pun yang dapat meyakini bahwa makhluk lain dapat menjadi 'tuhan', dan ia juga tidak dapat meyakini bahwa seseorang dapat 'disembah' sebagai makhluk Allah, atau bahwa ia dapat diberi kedudukan 'kedaulatan'. Dalam bab tersebut kami telah menjelaskan makna ibadah, keyakinan, dan kedaulatan. Berikut ini akan kami tunjukkan makna sejati kedaulatan dan hubungannya dengan budaya.
In the sixth chapter we have shown that the first part of the first pillar of Islam is the dedication of one's life to God alone; this is the meaning of "La ilaha illa Allah". The second part means that the way of this dedication comes from the Prophet Muhammad: "Muhammadar Rasul Allah" points to this fact. Complete submission to God comes by submitting to Him through belief, practice and in law. No Muslim can believe that another being can be a 'deity', nor can he believe that one can 'worship' a creature of God or that he can be given a position of 'sovereignty'. We explained in that chapter the meaning of worship, belief and sovereignty. In what follows we will show the true meaning of sovereignty and its relationship to culture.
Dalam konsep Islam, kedaulatan Tuhan tidak hanya berarti bahwa seseorang harus menurunkan semua ketentuan hukum dari Tuhan dan menghakimi sesuai dengan ketentuan-ketentuan tersebut. Dalam Islam, makna 'Syariah' tidak terbatas pada ketentuan-ketentuan hukum semata, melainkan mencakup prinsip-prinsip administrasi, sistem, dan tata caranya. Makna sempit ini (yakni bahwa Syariah terbatas pada ketentuan-ketentuan hukum) tidak berlaku bagi Syariah dan tidak sesuai dengan konsep Islam. Yang dimaksud dengan 'Syariah Tuhan' adalah segala sesuatu yang ditetapkan oleh Tuhan untuk mengatur kehidupan manusia; ia mencakup prinsip-prinsip akidah, prinsip-prinsip administrasi dan keadilan, prinsip-prinsip moral dan hubungan antarmanusia, serta prinsip-prinsip ilmu pengetahuan.
In the Islamic concept, the sovereignty of God means not merely that one should derive all legal injunctions from God and judge according to these injunctions; in Islam the meaning of the 'Shari'ah' is not limited to mere legal injunctions, but includes the principles of administration, its system and its modes. This narrow meaning (i.e., that the Shari'ah is limited to legal injunctions) does not apply to the Shari'ah nor does it correspond to the Islamic concept. By 'the Shari'ah of God is meant everything legislated by God for ordering man's life; it includes the principles of belief, principles of administration and justice, principles of morality and human relationships, and principles of knowledge.
Syariat mencakup keyakinan dan konsep-konsep Islam beserta implikasinya mengenai sifat-sifat Tuhan, hakikat kehidupan, apa yang tampak dan apa yang tersembunyi di dalamnya, hakikat manusia, serta hubungan timbal balik di antara semua itu. Demikian pula, syariat mencakup urusan politik, sosial dan ekonomi beserta prinsip-prinsipnya, dengan maksud agar semuanya mencerminkan penyerahan diri yang sempurna hanya kepada Tuhan. Syariat juga mencakup urusan hukum (inilah yang dewasa ini disebut sebagai 'syariah', padahal makna sejati 'Syariat' dalam Islam sama sekali berbeda). Syariat mengatur akhlak, tata krama, nilai-nilai dan standar-standar masyarakat, yang menjadi tolok ukur bagi pribadi-pribadi, tindakan-tindakan dan peristiwa-peristiwa. Syariat juga mencakup segala aspek ilmu pengetahuan serta prinsip-prinsip seni dan sains. Dalam semua hal ini dibutuhkan petunjuk dari Tuhan, sebagaimana petunjuk itu juga dibutuhkan dalam urusan hukum.
The Shari'ah includes the Islamic beliefs and concepts and their implications concerning the attributes of God, the nature of life, what is apparent and what is hidden in it, the nature of man, and the interrelationships among these. Similarly, it includes political, social and economic affairs and their principles, with the intent that they reflect complete submission to God alone. It also includes legal matters (this is what today is referred to as the 'Shari'ah', while the true meaning of the 'Shari'ah in Islam is entirely different). It deals with the morals, manners, values and standards of the society, according to which persons, actions and events are measured. It also deals with all aspects of knowledge and principles of art and science. In all these guidance from God is needed, just as it is needed in legal matters.
Kita telah membahas kedaulatan Tuhan dalam kaitannya dengan pemerintahan dan sistem hukum, dan juga dalam kaitannya dengan masalah moral, hubungan antarmanusia, serta nilai-nilai dan standar yang berlaku dalam suatu masyarakat. Hal yang perlu dicatat adalah bahwa nilai-nilai dan standar, moral dan tata krama, semuanya didasarkan pada keyakinan dan konsep yang berlaku dalam masyarakat, dan bersumber dari sumber Ilahi yang sama dengan asal keyakinan itu.
We have discussed the sovereignty of God in relation to government and the legal system, and also in relation to matters of morals, human relationships, and values and standards which prevail in a society. The point to note was that the values and standards, morals and manners, are all based on the beliefs and concepts prevalent in the society and are derived from the same Divine source from which beliefs are derived.
Hal yang akan tampak aneh, bukan hanya bagi orang awam tetapi juga bagi penulis tentang Islam, adalah kembalinya kita kepada Islam dan kepada sumber Ilahi untuk mendapatkan petunjuk dalam bidang ilmu pengetahuan dan seni.
The thing which will appear strange, not only to the common man but also to writers about Islam, is our turning to Islam and to the Divine source for guidance in spheres of science and art.
Sebuah buku telah diterbitkan tentang seni, yang menunjukkan bahwa segala upaya artistik hanyalah cerminan dari konsep, keyakinan, dan intuisi seseorang; upaya tersebut mencerminkan gambaran apa pun tentang kehidupan dan dunia yang terdapat dalam intuisi seseorang. Semua hal ini tidak hanya diatur oleh konsep-konsep Islam, melainkan, sebenarnya, konsep ini merupakan kekuatan pendorong bagi kreativitas seorang Muslim. Konsep Islam tentang alam semesta menentukan hubungan manusia dengan seluruh alam semesta dan dengan Penciptanya. Pokok bahasannya yang mendasar adalah hakikat manusia dan kedudukannya di alam semesta, tujuan hidupnya, fungsinya, serta nilai sejati kehidupannya. Semua ini tercakup dalam konsep Islam, yang bukan sekadar gagasan abstrak, melainkan kekuatan pendorong yang hidup dan aktif, yang memengaruhi emosi serta tindakan manusia. [Buku, The Principles of Islamic Art, karya Muhammad Qutb.] Singkatnya, persoalan seni dan pemikiran sastra serta hubungannya dengan bimbingan Ilahi memerlukan pembahasan yang rinci, dan, sebagaimana telah kami nyatakan sebelumnya, pembahasan ini akan tampak asing bukan hanya bagi orang-orang terpelajar, tetapi bahkan bagi kaum Muslim yang meyakini kedaulatan God dalam urusan hukum.
A book has already been published on the subject of art in which it has been pointed out that all artistic efforts are but a reflection of a man's concepts, beliefs and intuitions; they reflect whatever pictures of life and the world are found in a man's intuition. All these affairs are not only governed by the Islamic concepts, but, in fact, this concept is a motivating power for a Muslim's creativity. The Islamic concept of the universe defines man's relationship to the rest of the universe and to his Creator. Its basic subject is the nature of man and his position in the universe, the purpose of his life, his function, and the true value of his life. These are all included in the Islamic concept, which is not merely an abstract idea but is a living, active motivating force which influences man's emotions and actions. [The book, The Principles of Islamic Art, by Muhammad Qutb.] In short, the question of art and literary thought and its relationship to Divine guidance requires a detailed discussion, and, as we have stated before, this discussion will appear strange not only to educated people but even to those Muslims who believe in the sovereignty of God in matters of law.
Seorang Muslim tidak boleh mencari bimbingan dalam urusan iman, dalam konsep hidup, dalam ibadah, dalam akhlak dan urusan manusia, dalam nilai dan standar, dalam prinsip-prinsip ekonomi dan urusan politik, serta dalam penafsiran proses sejarah, kepada sumber selain Allah. Oleh karena itu, adalah kewajibannya untuk mempelajari semua itu dari seorang Muslim yang ketakwaan dan akhlaknya, keyakinan dan perbuatannya, tidak tercela.
A Muslim cannot go to any source other than God for guidance in matters of faith, in the concept of life, acts of worship, morals and human affairs, values and standards, principles of economics and political affairs and interpretation of historical processes. It is, therefore, his duty that he should learn all these from a Muslim whose piety and character, belief and action, are beyond reproach.
Namun, seorang Muslim boleh belajar ilmu-ilmu abstrak seperti kimia, fisika, biologi, astronomi, kedokteran, industri, pertanian, administrasi (terbatas pada aspek teknisnya), teknologi, seni militer, dan ilmu serta seni sejenis, baik dari seorang Muslim maupun non-Muslim. Namun, prinsip dasarnya adalah bahwa ketika komunitas Muslim telah terbentuk, ia harus menyediakan para ahli di semua bidang ini dalam jumlah yang memadai, karena semua ilmu dan seni ini merupakan kewajiban kifayah (Fardhu Kifayah) bagi kaum Muslimin (yaitu, harus ada cukup banyak orang yang mendalami berbagai ilmu dan seni ini untuk memenuhi kebutuhan masyarakat). Jika suasana yang layak tidak disediakan bagi berkembangnya ilmu dan seni ini dalam masyarakat Muslim, maka seluruh masyarakat dianggap berdosa; namun selama kondisi ini belum tercapai, seorang Muslim diperbolehkan mempelajarinya dari seorang Muslim atau non-Muslim serta memperoleh pengalaman di bawah bimbingannya, tanpa membedakan agama. Inilah urusan-urusan yang termasuk dalam Hadis, "Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian." Ilmu-ilmu ini tidak berkaitan dengan konsep dasar seorang Muslim tentang kehidupan, alam semesta, manusia, tujuan penciptaannya, tanggung jawabnya, hubungannya dengan alam fisik dan dengan Sang Pencipta; ilmu-ilmu ini juga tidak berkaitan dengan prinsip-prinsip hukum, aturan dan regulasi yang mengatur kehidupan individu dan kelompok, serta tidak pula berkaitan dengan akhlak, adab, tradisi, kebiasaan, nilai-nilai, dan standar yang berlaku dalam masyarakat dan yang membentuk wujud serta bentuk masyarakat tersebut. Dengan demikian, tidak ada bahaya bahwa seorang Muslim, dengan mempelajari ilmu-ilmu ini dari non-Muslim, akan merusak keimanannya atau kembali kepada Jahiliyyah.
However, a Muslim can go to a Muslim or to a non-Muslim to learn abstract sciences such as chemistry, physics, biology, astronomy, medicine, industry, agriculture, administration (limited to its technical aspects), technology, military arts and similar sciences and arts; although the fundamental principle is that when the Muslim community comes into existence it should provide experts in all these fields in abundance, as all these sciences and arts are a sufficient obligation (Fard al-Kifayah) on Muslims (that is to say, there ought to be a sufficient number of people who specialize in these various sciences and arts to satisfy the needs of the community). If a proper atmosphere is not provided under which these sciences and arts develop in a Muslim society, the whole society will be considered sinful; but as long as these conditions are not attained, it is permitted for a Muslim to learn them from a Muslim or a non-Muslim and to gain experience under his direction, without any distinction of religion. These are those affairs which are included in the Hadith, "You know best the affairs of your business". These sciences are not related to the basic concepts of a Muslim about life, the universe, man, the purpose of his creation, his responsibilities, his relationship with the physical world and with the Creator; these are also not related to the principles of law, the rules and regulations which order the lives of individuals and groups, nor are they related to morals, manners, traditions, habits, values and standards which prevail in the society and which give the society its shape and form. Thus there is no danger that a Muslim, by learning these sciences from a non- Muslim, will distort his belief or will return to Jahiliyyah.
Namun, sejauh menyangkut penafsiran atas usaha manusia, baik yang bersifat individual maupun kolektif, hal ini berkaitan dengan teori-teori tentang hakikat manusia dan tentang proses-proses sejarah. Demikian pula, penjelasan tentang asal-usul alam semesta dan asal-usul kehidupan manusia termasuk bagian dari metafisika (tidak berkaitan dengan ilmu-ilmu abstrak seperti kimia, fisika, astronomi, atau kedokteran, dan sebagainya); dan dengan demikian kedudukannya serupa dengan urusan hukum, aturan, dan peraturan yang mengatur kehidupan manusia. Hal-hal ini secara tidak langsung memengaruhi keyakinan manusia; oleh karena itu, tidak diperbolehkan bagi seorang Muslim mempelajarinya dari siapa pun selain dari seorang Muslim yang takut kepada Tuhan dan saleh, yang mengetahui bahwa petunjuk dalam perkara-perkara ini datang dari Tuhan. Tujuan utamanya adalah agar seorang Muslim menyadari bahwa semua urusan ini berkaitan dengan imannya, dan bahwa mencari petunjuk dari Tuhan dalam perkara-perkara ini merupakan konsekuensi yang niscaya dari iman kepada keesaan Tuhan dan kerasulan Muhammad ﷺ.
But as far as the interpretation of human endeavor is concerned, whether this endeavor be individual or collective, this relates to theories of the nature of man and of the historical processes. Similarly, the explanation of the origin of the universe, the origin of the life of man, are part of metaphysics (not related to the abstract sciences such as chemistry, physics, astronomy or medicine, etc.); and thus their position is similar to legal matters, rules and regulations which order human life. These indirectly affect man's beliefs; it is therefore not permissible for a Muslim to learn them from anyone other than a God-fearing and pious Muslim, who knows that guidance in these matters comes from God. The main purpose is, a Muslim should realize, that all these affairs are related to his faith, and that to seek guidance from God in these matters is a necessary consequence of the faith in the Oneness of God and the Messengership of Muhammad.
Namun demikian, seorang Muslim boleh mempelajari semua pendapat dan pemikiran para penulis jahili, bukan dari sudut pandang untuk membangun keyakinan dan konsepnya sendiri, melainkan untuk tujuan mengetahui penyimpangan-penyimpangan yang dianut oleh Jahiliyyah, agar ia dapat mengetahui bagaimana meluruskan penyimpangan buatan manusia tersebut berdasarkan keyakinan Islam yang benar dan membantahnya sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Islam yang shahih.
However, a Muslim can study all the opinions and thoughts of jahili writers, not from the point of view of constructing his own beliefs and concepts, but for the purpose of knowing the deviations adopted by Jahiliyyah, so that he may know how to correct these man-made deviations in the light of the true Islamic belief and rebut them according to the sound principles of the Islamic teachings.
Filsafat, penafsiran sejarah, psikologi (kecuali pengamatan dan hasil eksperimen yang bukan merupakan opini siapa pun), etika, teologi dan perbandingan agama, sosiologi (tidak termasuk statistik dan pengamatan), semua ilmu ini memiliki arah yang di masa lalu maupun sekarang telah dipengaruhi oleh keyakinan dan tradisi jahiliah. Karena itulah semua ilmu ini, secara terang-terangan maupun tersirat, berbenturan dengan landasan dasar agama mana pun, dan terutama dengan Islam.
Philosophy, the interpretation of history, psychology (except for those observations and experimental results which are not part of anyone's opinion) ethics, theology and comparative religion, sociology (excluding statistics and observations)-all these sciences have a direction which in the past or the present has been influenced by jahili beliefs and traditions. That is why all these sciences come into conflict, explicitly or implicitly, with the fundamentals of any religion, and especially with Islam.
Situasi mengenai bidang-bidang pemikiran dan pengetahuan manusia ini tidak sama dengan fisika, kimia, astronomi, biologi, kedokteran, dan sebagainya - selama ilmu-ilmu yang disebut terakhir ini membatasi diri pada eksperimen praktis dan hasilnya, dan tidak melampaui cakupannya ke dalam filsafat spekulatif. Misalnya, biologi Darwinis melampaui cakupan pengamatannya, tanpa dasar dan alasan yang jelas dan semata-mata demi menyatakan suatu pendapat, dengan membuat asumsi bahwa untuk menjelaskan permulaan kehidupan dan evolusinya tidak perlu mengandaikan adanya kekuatan di luar dunia fisik.
The situation concerning these areas of human thought and knowledge is not the same as with physics, chemistry, astronomy, biology, medicine, etc. - as long as these last- mentioned sciences limit themselves to practical experiments and their results, and do not go beyond their scope into speculative philosophy. For example, Darwinist biology goes beyond the scope of its observations, without any rhyme or reason and only for the sake of expressing an opinion, in making the assumption that to explain the beginning of life and its evolution there is no need to assume a power outside the physical world.
Berkenaan dengan perkara-perkara ini, petunjuk yang benar dari Tuhannya sudah cukup bagi seorang Muslim. Petunjuk menuju keimanan dan penyerahan diri sepenuhnya hanya kepada Tuhan ini jauh lebih unggul daripada segala upaya spekulatif manusia dalam urusan-urusan tersebut, sehingga upaya-upaya itu tampak sangat konyol dan tidak masuk akal.
Concerning these matters, the true guidance from his Sustainer is sufficient for a Muslim. This guidance toward belief and complete submission to God alone is so superior to all man's speculative attempts in these affairs that they appear utterly ridiculous and absurd.
Pernyataan bahwa "Budaya adalah warisan manusia" dan bahwa ia tidak memiliki negara, kebangsaan, atau agama adalah benar hanya dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, selama kita tidak melampaui batas ilmu-ilmu tersebut dan menyelami penafsiran metafisik, dan mulai menjelaskan tujuan manusia serta peran historisnya dalam istilah filosofis, bahkan menjelaskan seni, sastra, dan intuisi manusia secara filosofis.
The statement that "Culture is the human heritage" and that it has no country, nationality or religion is correct only in relation to science and technology-as long as we do not jump the boundary of these sciences and delve into metaphysical interpretations, and start explaining the purpose of man and his historical role in philosophical terms, even explaining away art and literature and human intuition philosophically.
Di luar makna terbatas ini, pernyataan tentang kebudayaan tersebut merupakan salah satu tipu daya yang dimainkan oleh Yahudi sedunia, yang tujuannya adalah menghapus segala batasan, terutama batasan yang ditetapkan oleh iman dan agama, agar orang-orang Yahudi dapat menyusup ke dalam tubuh politik seluruh dunia dan kemudian bebas melanggengkan rancangan jahat mereka. Di urutan teratas daftar kegiatan ini adalah riba, yang tujuannya adalah agar seluruh kekayaan umat manusia berakhir di tangan lembaga-lembaga keuangan Yahudi yang beroperasi dengan sistem bunga.
Beyond this limited meaning, this statement about culture is one of the tricks played by world Jewry, whose purpose is to eliminate all limitations, especially the limitations imposed by faith and religion, so that the Jews may penetrate into body politic of the whole world and then may be free to perpetuate their evil designs. At the top of the list of these activities is usury, the aim of which is that all the wealth of mankind end up in the hands of Jewish financial institutions which run on interest.
Namun demikian, Islam berpandangan bahwa - kecuali ilmu-ilmu abstrak dan penerapan praktisnya - ada dua jenis kebudayaan: kebudayaan Islam, yang didasarkan pada konsep Islam, dan kebudayaan jahiliah, yang mewujud dalam berbagai corak kehidupan yang semuanya tetap berdasar pada satu hal, yaitu memberikan kedudukan tuhan kepada pemikiran manusia sehingga benar atau salahnya tidak dinilai berdasarkan petunjuk Tuhan. Kebudayaan Islam mencakup seluruh urusan teoretis dan praktis, dan di dalamnya terdapat prinsip, metode, dan karakteristik yang menjamin perkembangan dan kelestarian segala aktivitas kebudayaan.
However, Islam considers that - excepting the abstract sciences and their practical applications-there are two kinds of culture; the Islamic culture, which is based on the Islamic concept, and the jahili culture, which manifests itself in various modes of living which are nevertheless all based on one thing, and that is giving human thought the status of a god so that its truth or falsity is not to be judged according to God's guidance. The Islamic culture is concerned with all theoretical and practical affairs, and it contains principles, methods and characteristics which gurantee the development and perpetuation of all cultural activities.
Perlu diingat bahwa metode eksperimental, yang merupakan semangat dinamis dari budaya industri Eropa modern, tidak berasal dari Eropa melainkan berasal dari universitas-universitas Islam di Andalusia dan di Timur. Prinsip metode eksperimental merupakan cabang dari konsep Islam dan penjelasannya tentang dunia fisik, fenomena-fenomenanya, kekuatan-kekuatannya, dan rahasia-rahasianya. Kemudian, dengan mengadopsi metode eksperimental, Eropa memasuki masa kebangkitan ilmiah, yang secara bertahap membawanya ke puncak-puncak ilmu pengetahuan yang besar. Sementara itu, dunia Islam perlahan menjauh dari Islam, akibatnya gerakan ilmiah pertama-tama menjadi lamban dan kemudian berakhir sama sekali. Sebagian penyebab keadaan lamban ini berasal dari dalam masyarakat Muslim, dan sebagian lagi berasal dari luar, seperti invasi terhadap dunia Muslim oleh orang-orang Kristen dan Zionis. Eropa menyingkirkan landasan keyakinan Islam dari metodologi ilmu-ilmu empiris, dan akhirnya, ketika Eropa memberontak terhadap Gereja, yang atas nama Tuhan menindas rakyat jelata, Eropa mencabut dari ilmu-ilmu empiris metode Islamnya yang menghubungkannya dengan petunjuk Tuhan.
One ought to remember the fact that the experimental method, which is the dynamic spirit of modern Europe's industrial culture, did not originate in Europe but originated in the Islamic universities of Andalusia and of the East. The principle of the experimental method was an offshoot of the Islamic concept and its explanations of the physical world, its phenomena, its forces and its secrets. Later, by adopting the experimental method, Europe entered into the period of scientific revival, which led it step by step to great scientific heights. Meanwhile, the Muslim world gradually drifted away from Islam, as a consequence of which the scientific movement first became inert and later ended completely. Some of the causes which led to this state of inertia were internal to the Muslim society and some were external, such as the invasions of the Muslim world by the Christians and Zionists. Europe removed the foundation of Islamic belief from the methodology of the empirical sciences, and finally, when Europe rebelled against the Church, which in the name of God oppressed the common people, it deprived the empirical sciences of their Islamic method of relating them to God's guidance.
Dengan demikian, seluruh dasar pemikiran Eropa menjadi jahili dan sepenuhnya asing dari konsep Islam, bahkan menjadi bertentangan dan berbenturan dengannya. Oleh karena itu, seorang Muslim perlu kembali kepada petunjuk Tuhan untuk mempelajari konsep hidup Islam, baik dengan usahanya sendiri jika memungkinkan, atau jika tidak, dengan menuntut ilmu dari seorang Muslim yang takut kepada Tuhan, yang ketakwaan dan imannya dapat dipercaya.
Thus the entire basis of European thought became jahili and completely estranged from the Islamic concept, and even became contradictory and conflicting with it. It is necessary for a Muslim, therefore, to return to the guidance of God in order to learn the Islamic concept of life- on his own, if possible, or otherwise to seek knowledge from a God-fearing Muslim whose piety and faith are reliable.
Dalam Islam, ungkapan "Carilah ilmu dari orang yang mengetahuinya" tidak dapat diterima untuk ilmu-ilmu yang berkaitan dengan akidah, agama, akhlak dan nilai-nilai, adat dan kebiasaan, serta segala urusan yang menyangkut hubungan antarmanusia.
In Islam the saying, 8'Seek knowledge from the one who knows", is not acceptable with respect to those sciences which relate to faith, religion, morals and values, customs and habits, and all those matters which concern human relationships.
Tidak diragukan lagi bahwa Islam membolehkan seorang Muslim mempelajari kimia, fisika, astronomi, kedokteran, teknologi dan pertanian, administrasi, serta ilmu-ilmu teknis sejenis dari seorang non-Muslim atau dari seorang Muslim yang tidak bertakwa, dengan syarat tidak tersedia ilmuwan Muslim yang takut kepada Tuhan untuk mengajarkan ilmu-ilmu tersebut. Inilah keadaan yang terjadi sekarang, karena kaum Muslim telah menjauh dari agama dan cara hidup mereka, serta melupakan bahwa Islam menetapkan mereka sebagai wakil Tuhan dan membebankan tanggung jawab kepada mereka untuk mempelajari seluruh ilmu dan mengembangkan berbagai kemampuan demi memenuhi kedudukan tinggi yang telah dianugerahkan Tuhan kepada mereka. Namun Islam tidak membolehkan kaum Muslim mempelajari prinsip-prinsip iman mereka, implikasi konsep mereka, tafsir Al-Qur'an, Hadis, Nabi ﷺ, filsafat sejarah, tradisi masyarakat mereka, konstitusi pemerintahan mereka, bentuk politik mereka, dan cabang-cabang ilmu sejenis itu dari sumber-sumber non-Islam atau dari siapa pun selain seorang Muslim yang saleh, yang iman dan ilmu agamanya diketahui dapat dipercaya.
No doubt Islam permits a Muslim to learn chemistry, physics, astronomy, medicine, technology and agriculture, administration and similar technical sciences from a non-Muslim or from a Muslim who is not pious - and this under the condition that no God-fearing Muslim scientists are available to teach these sciences. This is the situation which exists now, because Muslims have drifted away from their religion and their way of life, and have forgotten that Islam appointed them as representatives of God and made them responsible for learning all the sciences and developing various capabilities to fulfill this high position which God has granted them. But Islam does not permit Muslims to learn the principles of their faith, the implications of their concept, the interpretation of the Qur'an, Hadith, the Prophet-peace be on him-the philosophy of history, the traditions of their society, the constitution of their government, the form of their politics, and similar branches of knowledge, from non-Islamic sources or from anyone other than a pious Muslim whose faith and religious knowledge is known to be reliable.
Orang yang menulis baris-baris ini telah menghabiskan empat puluh tahun hidupnya untuk membaca buku dan melakukan penelitian di hampir semua bidang ilmu pengetahuan manusia. Ia mendalami beberapa cabang ilmu secara khusus, dan mempelajari cabang-cabang lain karena ketertarikan pribadi. Kemudian ia kembali kepada sumber mata air imannya. Ia merasakan bahwa apa pun yang telah ia baca sejauh itu tidak ada artinya dibandingkan dengan apa yang ia temukan di sini. Ia tidak menyesali telah menghabiskan empat puluh tahun hidupnya dalam pencarian ilmu-ilmu ini, karena ia menjadi mengenal hakikat Jahiliyyah, penyimpangan-penyimpangannya, kesalahan-kesalahannya, dan kebodohannya, serta kemegahan dan kebisingannya, klaim-klaimnya yang congkak dan membanggakan diri. Akhirnya, ia yakin bahwa seorang Muslim tidak dapat memadukan kedua sumber ini, yaitu sumber petunjuk Ilahi dan sumber Jahiliyyah, dalam pendidikannya.
The person who is writing these lines has spent forty years of his life in reading books and in research in almost all aspects of human knowledge. He specialized in some branches of knowledge and he studied others due to personal interest. Then he turned to the fountainhead of his faith. He came to feel that whatever he had read so far was as nothing in comparison to what he found here. He does not regret spending forty years of his life in the pursuit of these sciences, because he came to know the nature of Jahiliyyah, its deviations, its errors and its ignorance, as well as its pomp and noise, its arrogant and boastful claims. Finally, he was convinced that a Muslim cannot combine these two sources-the source of Divine guidance and the source of Jahiliyyah - for his education .
Ini bukan pendapat pribadi saya; ini adalah perkara yang sangat serius dan tidak pantas diputuskan hanya berdasarkan opini seseorang. Bersandar pada pendapat seorang Muslim tidak perlu dibahas ketika standar Ilahi telah memberi kita jalan untuk menilai persoalan tersebut. Inilah keputusan Allah dan Rasul-Nya ﷺ, dan kita mengembalikan persoalan ini kepada keduanya. Kita mengembalikannya kepada keduanya sebagaimana layaknya seorang Mukmin, karena setiap perkara yang diperselisihkan semestinya dikembalikan kepada putusan Allah dan Nabi-Nya ﷺ.
Even then, this is not my personal opinion; this is a grave matter to be decided merely by some person's opinion, and the question of depending on a Muslim's opinion does not arise when the Divine standard provides us a way to judge the matter. This is the decision of God and His Messenger - peace be on him - and we refer it to them. We refer it to them in the same manner as is befitting for a Believer, as all controversial decisions ought to be referred to the judgement of God and His Prophet-peace be on him.
Allah Yang Maha Tinggi berfirman secara umum mengenai tujuan akhir orang-orang Yahudi dan Nasrani terhadap kaum Muslimin: Correction: per the rules, "God" must be translated as the Indonesian word for God, not "Allah". Corrected version: Tuhan Yang Maha Tinggi berfirman secara umum mengenai tujuan akhir orang-orang Yahudi dan Nasrani terhadap kaum Muslimin:
God Most High says in general terms concerning the ultimate aims of the Jews and Christians against Muslims:
Banyak di antara Ahli Kitab yang ingin mengembalikan kalian menjadi kafir setelah kalian beriman, karena dengki yang ada dalam diri mereka, padahal kebenaran telah jelas bagi mereka; maka maafkanlah dan biarkanlah mereka sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
"Many among the People of the Book wish to turn you back from your faith toward unbelief, due to their envy, even after the truth has been known to them; but forgive and excuse them until God brings about His decision. Indeed, God has power over everything." (2:109)
{Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu sampai engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)". Dan sesungguhnya jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah pengetahuan yang sampai kepadamu, maka engkau tidak akan memperoleh pelindung dan penolong bagi dirimu dari Allah.} (2:120)
"The Jews and Christians will not be pleased with you unless you follow their way. Say: "Indeed, God's guidance is the true guidance'. And if, after this knowledge has come to you, you follow their desires, then you will find no helper or friend against God." (2:120)
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian mengikuti sekelompok dari Ahli Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kalian menjadi kafir setelah kalian beriman." (3:100)
"O you who believe! If you follow a party of the People of the Book, they will return you to the state of unbelief after you have believed." (3:100)
Diriwayatkan oleh Hafiz Abu Y'ala, Rasulullah ﷺ bersabda: "Janganlah kalian bertanya kepada Ahli Kitab tentang sesuatu pun. Mereka tidak akan memberi petunjuk kepada kalian, bahkan mereka sendiri telah tersesat. Jika kalian mendengarkan mereka, kalian bisa jadi membenarkan suatu kebatilan atau mendustakan suatu kebenaran. Demi Allah, seandainya Musa masih hidup di tengah-tengah kalian, ia tidak akan diperbolehkan (oleh Allah) kecuali mengikuti aku." Setelah peringatan dari Allah kepada kaum Muslimin ini mengenai rancangan jangka panjang orang-orang Yahudi dan Nasrani, akan sangat picik pandangan kita jika kita jatuh dalam ilusi bahwa ketika orang Yahudi dan Nasrani membahas keyakinan atau sejarah Islam, atau ketika mereka mengajukan usulan mengenai masyarakat, politik, atau ekonomi Muslim, mereka melakukannya dengan niat baik, atau dengan memikirkan kesejahteraan kaum Muslimin, atau untuk mencari petunjuk dan cahaya. Orang-orang yang, setelah pernyataan tegas dari Allah ini, tetap berpikir demikian sungguh-sungguh tertipu.
As reported by Hafiz Abu Y'ala, the Messenger of God- peace be on him- said: "Do not ask the People of the Book about anything. They will not guide you, In fact, they are themselves misguided. If you listen to them, you might end up accepting some falsehood or denying some truth. By God, If Moses had been alive among you, he would not be permitted (by God) anything except to follow me." After this warning to the Muslims from God concerning the ultimate designs of the Jews and Christians, it would be extremely short-sighted of us to fall into the illusion that when the Jews and Christians discuss Islamic beliefs or Islamic history, or when they make proposals concerning Muslim society or Muslim politics or economics, they will be doing it with good intentions, or with the welfare of the Muslims at heart, or in order to seek guidance and light. People who, after this clear statement from God, still think this way are indeed deluded.
Demikian pula, firman Allah Yang Maha Tinggi: "Katakanlah: 'Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)'", menetapkan satu-satunya sumber yang harus dituju setiap Muslim untuk memperoleh petunjuk dalam semua urusan ini, sebab apa pun yang berada di luar petunjuk Allah adalah kesesatan, dan tidak ada selain Dia yang dapat memberi petunjuk, sebagaimana jelas dari penekanan dalam ayat, "Katakanlah: 'Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)'". Tidak ada kekaburan dalam makna ayat ini, dan tidak ada penafsiran lain yang mungkin.
Similarly, the saying of God Most High: "Say: 'Indeed, God's guidance is the true guidance", determines the unique source to which every Muslim should turn for guidance in all these affairs, as whatever is beyond God's guidance is error and none other than He can guide, as is clear from the emphasis in the verse, "Say: 'Indeed, God's guidance is the true guidance". There is no ambiguity in the meaning of this verse and no other interpretation is possible.
Ada juga perintah tegas untuk menjauhi orang yang berpaling dari mengingat Tuhan dan yang tujuannya hanya dunia ini. Dijelaskan bahwa orang seperti itu mengikuti sekadar dugaan, dan seorang Muslim dilarang mengikuti dugaan, serta ia hanya mengetahui apa yang tampak dalam kehidupan dunia ini dan tidak memiliki pengetahuan yang sebenarnya.
There i5 also a decisive injunction to avoid a person who turns away from the remembrance of God and whose only object is this world. It is explained that such a person follows mere speculation-and a Muslim is forbidden to follow speculation - and he knows only what is apparent in the life of this world and does not possess the true knowledge.
"Berpalinglah dari orang yang berpaling dari peringatan Kami dan tidak menginginkan selain kehidupan dunia ini. Itulah batas pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dia lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." (53: 29-30)
"Avoid a person who has turned away from Our remembrance and does not desire anything beyond the life of this world, and this is the extent of his knowledge. Your Sustainer knows best who has gone astray from His path, and He knows best who is guided." (53: 29-30)
{Mereka hanya mengetahui yang lahir dari kehidupan dunia, sedangkan mereka lalai terhadap akhirat.} (30:7)
"They only know what is apparent in the life of this world, and are negligent of the Hereafter." (30:7)
Seseorang yang lalai dalam mengingat Tuhan dan sepenuhnya sibuk dengan urusan kehidupan dunia ini—dan itulah keadaan semua "ilmuwan" zaman sekarang—hanya mengetahui apa yang tampak, dan ini bukanlah jenis pengetahuan yang sepenuhnya dapat diandalkan oleh seorang Muslim dari pemiliknya, kecuali apa yang diperbolehkan untuk dipelajari dari mereka sejauh menyangkut pengetahuan teknis. Ia hendaknya mengabaikan penafsiran mereka mengenai persoalan psikologis dan konseptual. Bukankah ini bukan pengetahuan yang berulang kali dipuji dalam Al-Qur'an, misalnya dalam ayat, "Samakah orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Mereka yang mengambil ayat-ayat seperti itu di luar konteksnya dan berargumen adalah keliru. Ayat lengkap tempat pertanyaan retoris ini diajukan adalah sebagai berikut:
A person who is negligent in remembering God and is completely occupied with the affairs of this life-and that is the case with all the 'scientists' of today- knows only what is apparent, and this is not the type of knowledge, for which a Muslim can rely completely on its possessor, except for what is permitted to be learned from them to the extent of technical knowledge. He should ignore their interpretations concerning psychological and conceptual matters. This is not that knowledge which is praised repeatedly in the Qur'an for example in the verse, "Are they equal -those who know and those who do not know"? Those who take such verses out of context and argue are in error. The complete verse in which this rhetorical question is posed is as follows:
"... Atau apakah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Samakah orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya hanya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (39:9)
". . . Or is he who is worshipful in the watches of the night, prostrating and standing, he being afraid of the Hereafter and hoping for the mercy of His Sustainer? Say: Are they equal - those who know and those who do not know? Indeed, the thinking persons take heed." (39:9)
Hanya orang yang di kegelapan malam tetap beribadah, berdiri, atau bersujud, yang takut akan Akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya, yang benar-benar berilmu, dan ilmulah yang dimaksud oleh ayat di atas; yaitu ilmu yang menuntun kepada Tuhan dan mengingat-Nya, bukan ilmu yang memutarbalikkan fitrah manusia menuju pengingkaran terhadap Tuhan.
Only such a person who, in the darkness of the night, remains worshipping, standing or prostrating, who fears the Hereafter, and hopes for the mercy of his Sustainer, is truly knowing, and it is his knowledge to which the above verse refers; that is to say, the knowledge which guides toward God and the remembrance of Him,. and not that knowledge which distorts human nature toward denial of God.
Ruang lingkup ilmu pengetahuan tidak terbatas pada pokok-pokok keimanan, kewajiban-kewajiban agama, atau hukum-hukum tentang apa yang halal dan apa yang haram; ruang lingkupnya sangat luas. Ia mencakup semua itu, dan juga pengetahuan tentang hukum-hukum alam serta segala persoalan yang berkaitan dengan peran manusia yang dilimpahkan oleh Tuhan. Namun, ilmu apa pun yang landasannya tidak didasarkan pada iman berada di luar definisi ilmu yang dimaksud dalam Al-Qur'an dan yang pemilik-pemiliknya dipuji. Ada hubungan yang erat antara iman dan semua ilmu yang membahas alam semesta dan hukum-hukum alam, seperti astronomi, biologi, fisika, kimia, dan geologi. Semua ilmu ini menuntun manusia menuju Tuhan, kecuali jika ia diselewengkan oleh opini dan spekulasi pribadi, lalu disajikan tanpa konsep tentang Tuhan. Keadaan yang disayangkan seperti inilah yang sesungguhnya terjadi di Eropa. Bahkan, pernah tiba suatu masa dalam sejarah Eropa ketika muncul perselisihan yang sangat menyakitkan dan penuh kebencian antara para ilmuwan dan Gereja yang represif; akibatnya, seluruh gerakan ilmiah di Eropa bermula dengan sikap tidak bertuhan. Gerakan ini sangat mendalam memengaruhi semua aspek kehidupan; bahkan, ia mengubah secara menyeluruh watak pemikiran Eropa. Pengaruh permusuhan komunitas ilmiah terhadap Gereja tidak berhenti pada Gereja atau ajarannya, melainkan diarahkan terhadap seluruh agama, sehingga semua ilmu berbalik melawan agama, baik yang berupa filsafat spekulatif maupun ilmu-ilmu teknis atau abstrak yang sama sekali tidak berhubungan dengan agama [Lihat bab "Al-Fisam al-Nakad" dalam buku The Future Belongs to This Religion.] Cara berpikir Barat dan seluruh ilmu pengetahuan bermula di atas landasan pengaruh beracun ini, dengan permusuhan terhadap seluruh agama, dan terutama dengan permusuhan yang lebih besar terhadap Islam. Permusuhan terhadap Islam ini sangat nyata, dan sering kali merupakan hasil dari sebuah skema yang telah dirancang dengan matang, yang tujuannya pertama-tama adalah untuk mengguncang landasan keyakinan Islam, kemudian secara bertahap meruntuhkan struktur masyarakat Muslim.
The sphere of knowledge is not limited to articles of faith, religious obligations, or laws about what is permissible and what is forbidden; its sphere is very wide. It includes all these and also the knowledge of natural laws and all matters concerning man s delegated role before God. However, any knowledge, the foundation of which is not based on faith, is outside the definition of that knowledge which is referred to in the Qur'an and the possessors of which are considered praiseworthy. There is a strong relationship between faith and all those sciences which deal with the universe and natural laws, such as astronomy, biology, physics, chemistry and geology. All these sciences lead man toward God, unless they are perverted by personal opinions and speculations, and presented devoid of the concept of God. Such a regrettable situation actually occurred in Europe. In fact, there came a time in European history when very painful and hateful differences arose between scientists and the oppressive Church; consequently the entire scientific movement in Europe started with Godlessness. This movement affected all aspects of life very deeply; in fact, it changed the entire character of European thought. The effect of this hostility of the scientific community toward the Church did not remain limited to the Church or to its beliefs, but was directed against all religion, so much so that all sciences turned against religion, whether they were speculative philosophy or technical or abstract sciences having nothing to do with religion [ Refer to the chapter, "Al- Fisam al-Nakad", in the book The Future Belongs to This Religion.] The Western ways of thought and all the sciences started on the foundation of these poisonous influences with an enmity toward all religion, and in particular with greater hostility toward Islam. This enmity toward Islam is especially pronounced and many times is the result of a well-thought-out scheme, the object of which is first to shake the foundations of Islamic beliefs and then gradually to demolish the structure of Muslim society.
Jika, meskipun mengetahui hal ini, kita tetap bersandar pada cara berpikir Barat, bahkan dalam mengajarkan ilmu-ilmu keislaman, itu akan menjadi kebutaan yang tidak termaafkan dari pihak kita. Sesungguhnya, menjadi kewajiban kita, ketika mempelajari ilmu-ilmu yang murni ilmiah atau teknologi, yang tidak kita miliki sumbernya selain sumber-sumber Barat, untuk tetap waspada dan menjauhkan ilmu-ilmu tersebut dari spekulasi-spekulasi filosofis, karena spekulasi-spekulasi filosofis ini umumnya bertentangan dengan agama dan khususnya dengan Islam. Pengaruh yang sedikit dari spekulasi tersebut dapat mencemari mata air Islam yang jernih.
If, in spite of knowing this, we rely on Western ways of thought, even in teaching the Islamic sciences, it will be an unforgiveable blindness on our part. Indeed, it becomes incumbent on us, while learning purely scientific or technological subjects for which we have no other sources except Western sources, to remain on guard and keep these sciences away from philosophical speculations, as these philosophical speculations are generally against religion and in particular against Islam. A slight influence from them can pollute the clear spring of Islam.