Karakteristik Masyarakat Islam dan Metode yang Benar untuk Pembentukannya
The Characteristics Of The Islamic Society And The Correct Method For Its Formation
Pesan Islam yang dibawa oleh Rasulullah, Muhammad ﷺ, merupakan mata rantai terakhir dari rangkaian panjang seruan kepada Tuhan yang dilakukan oleh para Nabi yang mulia. Sepanjang sejarah, pesan ini tetap sama: bahwa manusia hendaknya mengakui bahwa Pemelihara dan Tuhan mereka yang sejati adalah Tuhan Yang Esa, bahwa mereka hendaknya tunduk kepada-Nya semata, dan bahwa penghambaan manusia kepada sesama manusia harus dihapuskan. Kecuali sebagian kecil orang di sana-sini dalam sejarah, umat manusia secara keseluruhan tidak pernah mengingkari keberadaan Tuhan dan kekuasaan-Nya atas alam semesta; mereka justru keliru dalam memahami sifat-sifat Tuhan yang sebenarnya, atau dalam menjadikan selain Tuhan sebagai sekutu bagi-Nya. Penyekutuan terhadap Tuhan ini terjadi baik dalam keyakinan dan ibadah, maupun dalam menerima kekuasaan selain Tuhan. Kedua aspek ini adalah Syirik [Syirik adalah kata bahasa Arab yang merujuk pada penisbatan sifat-sifat, kekuasaan, atau otoritas Tuhan kepada selain-Nya dan/atau menyembah selain-Nya.] dalam pengertian bahwa keduanya menjauhkan manusia dari agama Tuhan, yang dibawa oleh para Nabi. Setelah setiap Nabi, ada suatu masa ketika manusia memahami agama ini, namun kemudian secara bertahap generasi-generasi berikutnya melupakannya dan kembali kepada Jahiliyah. Mereka mulai lagi di jalan Syirik, kadang dalam keyakinan dan ibadah mereka, kadang dalam ketundukan mereka kepada otoritas orang lain, dan kadang dalam keduanya.
The message of Islam brought by the Messenger of God, Muhammad - peace be on him -was the last link in the long chain of invitations toward God by the noble Prophets. Throughout history, this message has remained the same: that human beings should recognise that their true Sustainer and Lord is One God, that they should submit to Him Alone, and that the lordship of man be eliminated. Except for a few people here and there in history, mankind as a whole has never denied the existence of God and His sovereignty over the universe; it has rather erred in comprehending the real attributes of God, or in taking other gods besides God as His associates. This association with God has been either in belief and worship, or in accepting the sovereignty of others besides God. Both of these aspects are Shirk [Shirk is an Arabic word which refers to ascribing the attributes, power or authority of God to others besides Him and/or worshipping others besides Him.] in the sense that they take human beings away from the religion of God, which was brought by the Prophets. After each Prophet, there was a period during which people understood this religion, but then gradually later generations forgot it and returned to Jahiliyyah. They started again on the way of Shirk, sometimes in their belief and worship and sometimes in their submission to the authority of others, and sometimes in both.
Sepanjang setiap periode sejarah manusia, seruan menuju Tuhan selalu memiliki satu hakikat. Tujuannya adalah 'Islam', yang berarti menundukkan manusia kepada Tuhan, membebaskan mereka dari perbudakan terhadap sesama manusia agar mereka dapat mengabdikan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Benar, membebaskan mereka dari cengkeraman kekuasaan manusia dan hukum, sistem nilai, serta tradisi buatan manusia, sehingga mereka mengakui kedaulatan dan otoritas Tuhan Yang Maha Esa dan Benar serta mengikuti hukum-Nya dalam segala bidang kehidupan. Islam yang dibawa Muhammad ﷺ datang untuk tujuan ini, sebagaimana halnya risalah para Nabi terdahulu. Seluruh alam semesta berada di bawah kekuasaan Tuhan, dan manusia, sebagai bagian kecil darinya, secara niscaya tunduk pada hukum-hukum fisik yang mengatur alam semesta. Perlu pula diakui otoritas yang sama sebagai pembuat hukum bagi kehidupan manusia. Manusia tidak seharusnya memutuskan diri dari otoritas ini untuk membangun sistem dan tatanan hidup yang terpisah. Pertumbuhan manusia, kondisi sehat dan sakitnya, serta hidup dan matinya berada di bawah tatanan hukum-hukum alamiah yang berasal dari Tuhan; bahkan dalam akibat perbuatan sukarelanya, ia tidak berdaya di hadapan hukum-hukum universal. Manusia tidak dapat mengubah sunnah Tuhan dalam hukum-hukum yang berlaku di alam semesta. Oleh karena itu, dikehendaki agar ia juga mengikuti Islam dalam aspek-aspek kehidupannya yang diberi pilihan, dan menjadikan Hukum Ilahi sebagai penentu dalam seluruh urusan kehidupan, sehingga tercipta keselarasan antara manusia dan seluruh alam semesta. [Lihat Towards Understanding Islam, karya A. A. Maududi, untuk penjelasan mengenai poin ini.] Jahiliyah, sebaliknya, adalah kekuasaan seseorang atas orang lain, dan dalam hal ini ia bertentangan dengan sistem alam semesta serta membawa aspek hidup manusia yang tidak sukarela ke dalam pertentangan dengan aspek sukarelanya. Inilah Jahiliyah yang dihadapi setiap Nabi Tuhan, termasuk Nabi terakhir ﷺ, dalam seruan mereka menuju penyerahan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jahiliyyah ini bukanlah teori yang abstrak; bahkan dalam keadaan tertentu, ia sama sekali tidak memiliki teori. Ia selalu berwujud sebuah gerakan hidup dalam suatu masyarakat yang memiliki kepemimpinannya sendiri, konsep-konsep dan nilai-nilainya sendiri, serta tradisi, kebiasaan, dan perasaannya sendiri. Ia adalah masyarakat yang terorganisasi, dengan kerja sama yang erat dan loyalitas di antara individu-individunya, dan ia selalu siap sedia serta hidup untuk mempertahankan eksistensinya, baik secara sadar maupun tidak sadar. Ia menghancurkan setiap unsur yang tampak membahayakan kepribadiannya.
Throughout every period of human history the call toward God has had one nature. Its purpose is 'Islam', which means to bring human beings into submission to God, to free them from servitude to other human beings so that they may devote themselves to the One True God, to deliver them from the clutches of human lordship and man-made laws, value systems and traditions so that they will acknowledge the sovereignty and authority of the One True God and follow His law in all spheres of life. The Islam of Muhammad - peace be on him-came for this purpose, as well as the messages of the earlier Prophets. The entire universe is under the authority of God, and man, being a small part of it, necessarily obeys the physical laws governing the universe. It is also necessary that the same authority be acknowledged as the law-giver for human life. Man should not cut himself off from this authority to develop a separate system and a separate scheme of life. The growth of a human being, his conditions of health and disease, and his life and death are under the scheme of those natural laws which come from God; even in the consequences of his voluntary actions he is helpless before the universal laws. Man cannot change the practice of God in the laws prevailing in the universe. It is therefore desirable that he should also follow Islam in those aspects of his life in which he is given a choice and should make the Divine Law the arbiter in all matters of life so that there may be harmony between man and the rest of the universe. [See Towards Understanding Islam, by A. A. Maududi, for an explanation of this point.] Jahiliyyah, on the other hand, is one man's lordship over another, and in this respect it is against the system of the universe and brings the involuntary aspect of human life into conflict with its voluntary aspect. This was that Jahiliyyah which confronted every Prophet of God, including the last Prophet-peace be on Him-in their call toward submission to One God. This Jahiliyyah is not an abstract theory; in fact, under certain circumstances it has no theory at all. It always takes the form of a living movement in a society which has its own leadership, its own concepts and values, and its own traditions, habits and feelings. It is an organized society and there is a close cooperation and loyalty between its individuals, and it is always ready and alive to defend its existence consciously or unconsciously. It crushes all elements which seem to be dangerous to its personality.
Ketika Jahiliyyah mengambil bentuk, bukan sebagai sebuah 'teori', melainkan sebagai gerakan yang aktif seperti ini, maka setiap upaya untuk menghapus Jahiliyyah tersebut dan untuk membawa manusia kembali kepada Tuhan, yang menyajikan Islam semata-mata sebagai sebuah teori, akan menjadi tidak diinginkan, bahkan cenderung sia-sia. Jahiliyyah menguasai dunia praktis, dan untuk mendukungnya terdapat sebuah organisasi yang hidup dan aktif. Dalam keadaan seperti ini, usaha-usaha teoretis semata untuk melawannya bahkan tidak dapat menandingi, apalagi melampauinya. Ketika tujuannya adalah menghapus sistem yang ada dan menggantinya dengan sistem baru yang dalam karakter, prinsip, serta seluruh aspek umum dan khususnya berbeda dengan sistem jahili yang berkuasa, maka sudah sewajarnya sistem baru ini juga turun ke medan perjuangan sebagai sebuah gerakan yang terorganisasi dan kelompok yang layak. Sistem ini harus turun ke medan perjuangan dengan tekad bahwa strategi, organisasi sosialnya, dan hubungan antarindividunya harus lebih kokoh dan lebih kuat daripada sistem jahili yang ada.
When Jahiliyyah takes the form, not of a 'theory' but of an active movement in this fashion, then any attempt to abolish this Jahiliyyah and to bring people back to God which presents Islam merely as a theory will be undesirable, rather useless. Jahiliyyah controls the practical world, and for its support there is a living and active organization. In this situation, mere theoretical efforts to fight it cannot even be equal, much less superior, to it. When the purpose is to abolish the existing system and to replace it with a new system which in its character' principles and all its general and particular aspects, is different from the controlling jahili system, then it stands to reason that this new system should also come into the battlefield as an organized movement and a viable group. It should come into the battlefield with a determination that its strategy, its social organization, and the relationship between its individuals should be firmer and more powerful than the existing jahili system.
Landasan teoretis Islam, di setiap masa dalam sejarah, adalah bersaksi "La ilaha illa Allah" - "Tidak ada tuhan selain Allah" - yang berarti bersaksi bahwa satu-satunya Tuhan yang benar adalah Allah, bahwa Dia adalah Pemelihara, bahwa Dia adalah Penguasa alam semesta, dan bahwa Dia adalah Raja yang sesungguhnya; meyakini-Nya dalam hati, beribadah kepada-Nya semata, dan menerapkan hukum-hukum-Nya. Tanpa penerimaan penuh terhadap "La ilaha illa Allah" ini, yang membedakan orang yang mengaku Muslim dari non-Muslim, maka ucapan tersebut tidak akan memiliki makna praktis, dan menurut hukum Islam pun tidak akan memiliki bobot apa pun.
The theoretical foundation of Islam, in every period of history, has been to witness "La ilaha illa Allah"- "There is no deity except God" - which means to bear witness that the only true deity is God, that He is the Sustainer, that He is the Ruler of the universe, and that He is the Real Sovereign; to believe in Him in one's heart, to worship Him Alone, and to put into practice His laws. Without this complete acceptance of "La ilaha illa Allah", which differentiates the one who says he is a Muslim from a non-Muslim, there cannot be any practical significance to this utterance, nor will it have any weight according to Islamic law.
Secara teoretis, untuk menegakkannya berarti manusia harus mengabdikan seluruh hidupnya dalam ketundukan kepada Allah, tidak memutuskan suatu urusan atas dasar dirinya sendiri, melainkan harus merujuk kepada perintah-perintah Allah mengenai urusan tersebut dan mengikutinya. Kita mengetahui petunjuk Allah hanya melalui satu sumber, yaitu melalui Rasulullah ﷺ. Oleh karena itu, dalam bagian kedua dari akidah Islam, kita bersaksi "Wa ashhadu anna Muhammadar Rasulullah", yang berarti "Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah".
Theoretically, to establish it means that people should de- vote their entire lives in submission to God, should not decide any affair on their own, but must refer to God's injunctions concerning it and follow them. We know of God's guidance through only one source, that is, through the Messenger of God-peace be on him. Thus, in the second part of the Islamic creed, we bear witness 'Wa ashhadu anna Muhammadar Rasul Allah" - "And I bear witness that Muhammad is the Messenger of God".
Oleh karena itu, perlu bahwa landasan teoritis Islam, yaitu akidah, mewujud dalam bentuk kelompok yang terorganisasi dan aktif sejak awal. Perlu bahwa kelompok ini memisahkan diri dari masyarakat jahiliah, menjadi mandiri dan berbeda dari masyarakat jahiliah yang aktif dan terorganisasi, yang bertujuan menghalangi Islam. Pusat kelompok baru ini hendaknya adalah sebuah kepemimpinan baru, kepemimpinan yang pertama kali hadir pada diri Nabi ﷺ sendiri, dan setelah beliau diserahkan kepada mereka yang berjuang untuk mengembalikan manusia kepada kedaulatan Tuhan, kekuasaan-Nya dan hukum-hukum-Nya. Seseorang yang bersaksi bahwa tiada tuhan selain Tuhan dan bahwa Muhammad adalah utusan Tuhan hendaknya memutuskan hubungan loyalitasnya dengan masyarakat jahiliah, yang telah ia tinggalkan, dan dengan kepemimpinan jahiliah, baik dalam wujud para pendeta, tukang sihir, atau peramal bintang, maupun dalam bentuk kepemimpinan politik, sosial, atau ekonomi, sebagaimana halnya kaum Quraisy pada masa Nabi ﷺ. Ia harus memberikan loyalitas penuhnya kepada gerakan Islam yang baru dan kepada kepemimpinan Muslim.
It is therefore necessary that Islam's theoretical foundation-belief-materialize in the form of an organized and active group from the very beginning. It is necessary that this group separate itself from the jahili society, becoming independent and distinct from the active and organized jahili society whose aim is to block Islam. The center of this new group should be a new leadership, the leadership which first came in the person of the Prophet-peace be on him- himself, and after him was delegated to those who strove for bringing people back to God's sovereignty, His authority and His laws. A person who bears witness that there is no deity except God and that Muhammad is God's Messenger should cut off his relationship of loyalty from the jahili society, which he has forsaken, and from jahili leadership, whether it be in the guise of priests, magicians or astrologers, or in the form of political, social or economic leadership, as was the case of the Quraish in the time of the Prophet-peace be on him. He will have to give his complete loyalty to the new Islamic movement and to the Muslim leadership.
Langkah yang menentukan ini harus diambil tepat pada saat seseorang mengucapkan dengan lisannya, "La ilaha illa Allah, Muhammadar Rasul Allah." Masyarakat Muslim tidak dapat terwujud tanpa ini. Ia tidak dapat terwujud hanya sebagai keyakinan dalam hati setiap individu Muslim, betapapun banyak jumlah mereka, kecuali mereka menjadi sebuah kelompok yang aktif, harmonis dan kooperatif, berdiri dengan jati dirinya sendiri, yang unsur-unsurnya yang berbeda, seperti anggota-anggota tubuh manusia, bekerja bersama untuk pembentukannya, penguatannya, perluasannya, dan untuk pertahanannya dari semua unsur yang menyerang sistemnya, dengan bekerja di bawah kepemimpinan yang independen dari kepemimpinan jahiliah, yang mengatur berbagai usahanya menjadi satu tujuan yang harmonis, serta mempersiapkan penguatan dan perluasan karakter Islamnya, dan mengarahkan mereka untuk menghapuskan pengaruh lawan mereka, yaitu kehidupan jahiliah.
This decisive step must be taken at the very moment a person says, "La ilaha illa Allah, Muhammadar Rasul Allah" with his tongue. The Muslim society cannot come into existence without this. It cannot come into existence simply as a creed in the hearts of individual Muslims, however numerous they may be, unless they become an active, harmonious and cooperative group, distinct by itself, whose different elements, like the limbs of a human body, work together for its formation, its strengthening, its expansion, and for its defense against all those elements which attack its system, working under a leadership which is independent of the jahili leadership, which organizes its various efforts into one harmonious purpose, and which prepares for the strengthening and widening of their Islamic character and directs them to abolish the influences of their opponent, the jahili life.
Islam didirikan dengan cara seperti ini. Ia didirikan di atas satu akidah yang, meskipun ringkas, mencakup seluruh kehidupan. Akidah ini segera menggerakkan sekelompok orang yang hidup, dinamis, dan layak, yang menjadi mandiri dan terpisah dari masyarakat jahiliah, dan langsung menantangnya; ia tidak pernah datang sebagai teori abstrak yang tidak memiliki wujud praktis. Dan di masa depan, kebangkitan Islam hanya dapat terwujud dengan cara ini. Tidak ada jalan lain untuk menghidupkan kembali Islam di bawah naungan jahiliah, pada zaman maupun negeri mana pun ia muncul, selain mengikuti watak alaminya dan mengembangkannya menjadi sebuah gerakan dan sistem yang organik.
Islam was founded in this manner. It was founded on a creed which, although concise, included the whole of life. This creed immediately brought into action a viable and dynamic group of people who became independent and separate from the jahili society, immediately challenging it; it never came as an abstract theory devoid of practical existence. And, in the future it can be brought about only in this manner. There is no other way for the revival of Islam in the shade of Jahiliyyah, in whatever age or country it appears, except to follow its natural character and to develop it into a movement and an organic system.
Ketika Islam, sesuai dengan metode yang dijelaskan di atas, membentuk sebuah komunitas Muslim di atas dasar ini, mengorganisasikannya menjadi kelompok yang aktif, dan menjadikan iman ini sebagai satu-satunya dasar hubungan antarindividu dalam kelompok tersebut, tujuan akhirnya adalah membangkitkan "kemanusiaan manusia", mengembangkannya, menjadikannya kuat dan tangguh, serta menjadikannya faktor yang paling dominan di antara semua aspek yang terdapat dalam diri manusia. Islam berupaya mewujudkan tujuan ini melalui ajaran-ajarannya, aturan-aturannya, hukum-hukumnya, dan perintah-perintahnya.
When Islam, according to the method described above, starts a Muslim community on this basis, forms it into an active group, and makes this faith the sole basis for the relationship between the individuals of this group, its ultimate aim is to awaken the 'humanity of man', to develop it, to make it powerful and strong, and to make it the most dominant factor among all the aspects found in man's being. It seeks to implement this purpose through its teachings, its rules, its laws and injunctions.
Beberapa karakteristik manusia memiliki kesamaan dengan karakteristik hewan, bahkan dengan benda mati. Hal ini telah menyesatkan para penganut 'Jahiliyyah ilmiah' hingga menganggap manusia tidak lebih dari seekor hewan, bahkan tidak lebih dari benda mati! Namun, meskipun manusia memiliki karakteristik yang sama dengan hewan dan benda mati, manusia juga memiliki karakteristik tertentu lainnya yang membedakannya dan menjadikannya ciptaan yang unik.
Some human characteristics are common with those of animals, even with those of inorganic matter. This has misled the exponents of 'scientific Jahiliyyah' to consider man to be nothing more than an animal, or even than inorganic matter! But in spite of the characteristics which man shares with animals and inorganic matter, man possesses certain other characteristics which distinguish him and make him a unique creation.
Bahkan para penganut "ketidaktahuan ilmiah" pun dipaksa untuk mengakui hal ini, bukti dari fakta-fakta observasional mencekik mereka; namun bahkan saat itu, pengakuan mereka terhadap fakta ini tidak tulus maupun tegas. [Yang paling menonjol di antara para Darwinis modern adalah Julian Huxley.] Dalam hal ini, jasa yang diberikan oleh cara hidup Islam yang murni telah menghasilkan hasil yang nyata dan berharga.
Even the exponents of 'scientific ignorance' were forced to admit this, the evidence of observational facts choking them; but even then, their admission of this fact is neither sincere nor unequivocal. [Foremost among the modern Darwinists is Julian Huxley.] In this respect the service rendered by Islam's pure way of life has produced concrete and valuable results.
Islam mendasarkan masyarakat Islam semata-mata pada ikatan keimanan, bukan pada ikatan-ikatan rendah yang berdasarkan ras dan warna kulit, bahasa dan negeri, serta kepentingan kedaerahan dan kebangsaan. Alih-alih menekankan sifat-sifat yang sama-sama dimiliki manusia dan hewan, Islam justru mengedepankan sifat-sifat kemanusiaan pada diri manusia, memeliharanya, dan menjadikannya faktor yang dominan. Di antara hasil konkret dan gemilang dari sikap ini adalah bahwa masyarakat Islam menjadi komunitas yang terbuka dan merangkul semua, di mana orang-orang dari berbagai ras, bangsa, bahasa, dan warna kulit menjadi anggotanya, dan tidak tersisa lagi jejak sifat-sifat hewani yang rendah tersebut. Sungai-sungai bakat unggul dan beragam kemampuan dari seluruh ras manusia mengalir ke samudra luas ini dan berbaur di dalamnya. Perpaduan mereka melahirkan tingkat peradaban yang tinggi dalam rentang waktu yang sangat singkat, yang memukau dunia, serta memadukan intisari seluruh kemampuan, gagasan, dan kebijaksanaan manusia pada masa itu, meskipun pada zaman tersebut perjalanan sulit dilakukan dan sarana komunikasi berjalan lambat.
Islam based the Islamic society on the association of belief alone, instead of the low associations based on race and color, language and country, regional and national interests. Instead of stressing those traits which are common to both man and animal, it promoted man's human qualities, nurtured them and made them the dominant factor. Among the concrete and brilliant results of this attitude was that the Islamic society became an open and all-inclusive community in which people of various races, nations, languages and colors were members, there remaining no trace of these low animalistic traits. The rivers of higher talents and various abilities of all races of mankind flowed into this vast ocean and mixed in it. Their intermingling gave rise to a high level of civilization in a very short span of time, dazzling the whole world, and compounding the essences of all the human capabilities, ideas and wisdom of that period, in spite of the fact in those times travel was difficult and the means of communication were slow.
Dalam masyarakat Islam yang agung ini, orang Arab, Persia, Suriah, Mesir, Maroko, Turki, Cina, India, Romawi, Yunani, Indonesia, dan Afrika berkumpul bersama; singkatnya, bangsa-bangsa dari segala negara dan segala ras. Berbagai karakteristik mereka menyatu, dan dengan kerja sama, keharmonisan, dan persatuan yang saling mendukung, mereka ikut serta dalam membangun komunitas Islam dan kebudayaan Islam. Peradaban yang mengagumkan ini bukanlah 'peradaban Arab', bahkan untuk sehari pun; ia murni 'peradaban Islam'. Ia tidak pernah berupa 'kebangsaan', melainkan selalu menjadi komunitas keyakinan.
In this great Islamic society Arabs, Persians, Syrians, Egyptians, Moroccans, Turks, Chinese, Indians, Romans, Greeks, Indonesians, Africans were gathered together- in short, peoples of all nations and all races. Their various characteristics were united, and with mutual cooperation, harmony and unity they took part in the construction of the Islamic community and Islamic culture. This marvellous civilization was not an 'Arabic civilization', even for a single day; it was purely an 'Islamic civilization'. It was never a 'nationality' but always a community of belief'.
Dengan demikian, mereka semua berkumpul dalam kedudukan yang setara dalam ikatan kasih sayang, dengan pikiran mereka tertuju pada satu tujuan; dengan demikian, mereka mengerahkan kemampuan terbaik mereka, mengembangkan sifat-sifat bangsa mereka secara optimal, dan membawa esensi pengalaman pribadi, kebangsaan, dan sejarah mereka untuk pembangunan satu komunitas ini, yang mana mereka semua termasuk di dalamnya secara setara, dan di mana ikatan mereka yang sama adalah melalui hubungan mereka dengan Tuhan Pemelihara mereka. Dalam komunitas ini, 'kemanusiaan' mereka berkembang tanpa hambatan apa pun.
Thus they all came together on an equal footing in the relationship of love, with their minds set upon a single goal; thus they used their best abilities, developed the qualities of their race to the fullest, and brought the essence of their personal, national and historical experiences for the development of this one community, to which they all belonged on an equal footing and in which their common bond was through their relationship to their Sustainer. In this community their 'humanity' developed without any hindrance.
Ini adalah karakteristik yang tidak pernah dicapai oleh kelompok manusia mana pun dalam seluruh sejarah umat manusia! Masyarakat yang paling termasyhur dan paling dikenal dalam sejarah kuno dianggap adalah Kekaisaran Romawi.
These are characteristics which were never achieved by any other group of people in the entire history of mankind! The most distinguished and best known society in ancient history is considered to be the Roman Empire.
Bangsa-bangsa dari berbagai ras, bahasa, dan watak berkumpul dalam masyarakat ini, tetapi semua itu tidak didasarkan pada 'hubungan kemanusiaan', dan tidak ada keyakinan yang luhur yang menjadi faktor pemersatu di antara mereka; sebaliknya, masyarakat mereka tertata dalam sistem kelas, yakni kelas 'bangsawan' dan kelas 'budak', di seluruh Kekaisaran.
Peoples of various races, languages and temperaments came together in this society, but all this was not based on 'human relation- ship' nor was any sublime faith the uniting factor among them; rather their society was ordered on a class system, the class of 'nobles' and the class of 'slaves', throughout the Empire.
Selain itu, bangsa Romawi secara umum memegang kepemimpinan, sementara bangsa-bangsa lain dianggap sebagai rakyatnya.
Moreover, the Roman race - in general - had the leadership and the other races were considered its subjects.
Oleh karena itu, masyarakat ini tidak dapat mencapai ketinggian yang telah dicapai oleh masyarakat Islam, dan tidak membawa berkah-berkah yang telah dibawa oleh masyarakat Islam.
Hence this society could not achieve that height which was achieved by the Islamic society and did not bring those blessings which were brought by the Islamic society.
Berbagai masyarakat juga muncul di zaman modern. Misalnya, perhatikan Kerajaan Inggris. Ia serupa dengan masyarakat Romawi yang merupakan pewarisnya. Ia didasarkan pada keserakahan nasional, di mana bangsa Inggris memegang kepemimpinan dan mengeksploitasi koloni-koloni yang dianeksasi oleh Kekaisaran tersebut. Hal yang sama berlaku pula bagi kekaisaran-kekaisaran Eropa lainnya.
Various societies have also appeared in modern times. For example, consider the British Empire. It is like the Roman society to which it is an heir. It is based on national greed, in which the British nation has the leadership and exploits those colonies annexed by the Empire. The same is true of other European empires.
Kekaisaran Spanyol dan Portugis pada masanya, serta Kekaisaran Prancis, sama-sama setara dalam hal penindasan dan eksploitasi. Komunisme juga hendak membangun tatanan masyarakat baru dengan meruntuhkan tembok ras dan warna kulit, bangsa dan wilayah geografis, tetapi ia tidak berpijak pada 'hubungan antarmanusia' melainkan pada 'sistem kelas'. Dengan demikian, masyarakat komunis serupa dengan masyarakat Romawi, hanya dengan penekanan yang dibalik: di sana kaum bangsawan memiliki keistimewaan, sedangkan di sini kaum proletar yang memiliki keistimewaan. Emosi yang mendasari kelas ini adalah kebencian dan iri hati terhadap kelas-kelas lain. Masyarakat yang egois dan penuh dendam semacam itu tidak mungkin tidak membangkitkan emosi rendah pada individu-individunya. Dasarnya sendiri diletakkan dengan membangkitkan sifat-sifat kebinatangan, lalu mengembangkan dan memperkuatnya. Maka, menurut pandangannya, kebutuhan paling mendasar manusia adalah kebutuhan yang sama dengan binatang, yaitu 'makanan, tempat tinggal, dan seks'. Dari sudut pandangnya, seluruh sejarah manusia tidak lain adalah perjuangan untuk mendapatkan makanan! Islam, kemudian, adalah satu-satunya jalan hidup Ilahi yang memunculkan sifat-sifat terluhur manusia, mengembangkan dan memanfaatkannya untuk membangun masyarakat manusia. Islam tetap unik dalam hal ini hingga hari ini.
The Spanish and Portuguese Empires in their times, and the French Empire, all are equal in respect to oppression and exploitation. Communism also wanted to establish a new type of society, demolishing the walls of race and color, nation and geographical region, but it is not based on 'human relationship' but on a 'class system'. Thus the communist society is like the Roman society with a reversal of emphasis; there nobles had distinction, while here the proleteriat has distinction. The underlying emotion of this class is hatred and envy of other classes. Such a selfish and vengeful society cannot but excite base emotions in its individuals. The very basis of it is laid down in exciting animalistic characteristics, and in developing and strengthening them. Thus, in its view, the most fundamental needs of a human being are those which are common with the animals, that is, 'food, shelter and sex. From its point of view, the whole of human history is nothing but a struggle for food! Islam, then, is the only Divine way of life which brings out the noblest human characteristics, developing and using them for the construction of human society. Islam has remained unique in this respect to this day.
Mereka yang menyimpang dari sistem ini dan menginginkan sistem lain, baik yang didasarkan pada nasionalisme, warna kulit dan ras, perjuangan kelas, atau teori-teori rusak serupa, sungguh adalah musuh umat manusia! Mereka tidak menghendaki manusia mengembangkan sifat-sifat mulia yang telah dianugerahkan kepadanya oleh Penciptanya, dan mereka juga tidak ingin melihat masyarakat manusia memperoleh manfaat dari perpaduan harmonis atas segala kemampuan, pengalaman, dan sifat yang telah berkembang di antara berbagai ras umat manusia.
Those who deviate from this system and want some other system, whether it be based on nationalism, color and race, class struggle, or similar corrupt theories, are truly enemies of mankind! They do not want man to develop those noble characteristics which have been given to him by his Creator nor do they wish to see a human society benefit from the harmonious blending of all those capabilities, experiences and characteristics which have been developed among the various races of mankind.
Allah Yang Maha Tinggi berfirman tentang orang-orang seperti itu: Note: The rules say to write the Indonesian word for God, never "Allah". Corrected: Tuhan Yang Maha Tinggi berfirman tentang orang-orang seperti itu:
God Most High says about such people:
Katakanlah: "Maukah Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedang mereka mengira bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya." Mereka itulah orang-orang yang ingkar terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan terhadap perjumpaan dengan-Nya, maka hapuslah amal-amal mereka, dan Kami tidak akan memberikan timbangan bagi mereka pada hari Kiamat. Itulah balasan mereka, neraka Jahanam, disebabkan kekafiran mereka dan karena mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai bahan ejekan. (QS. Al-Kahfi: 103-106)
"Say: Shall We tell you who will be the greatest losers in their deeds? Those whose effort goes astray in the present life, while they think that they are doing good deeds. Those are they who disbelieve in the signs of their Lord and in the encounter with Him. Their works have failed, and on the Day of Resurrection We shall not assign to them any value. That is their payment-Hell-for that they were unbelievers and took My signs and My Messengers in mockery." (18:103- 106)
Tuhan Yang Maha Kuasa berkata benar.
God Almighty speaks the truth.