Hukum Universal
The Universal Law
Islam membangun fondasi keyakinan dan amalannya di atas prinsip penyerahan diri secara total kepada Tuhan semata. Keyakinan, bentuk-bentuk ibadah, dan aturan hidupnya secara seragam merupakan ungkapan dari penyerahan diri ini dan merupakan penerapan praktis dari pernyataan bahwa tidak ada tuhan selain Tuhan. Perincian kehidupan diambil dari praktik Rasulullah ﷺ dan merupakan konsekuensi praktis dari pernyataan bahwa Muhammad adalah Rasulullah ﷺ.
Islam constructs its foundation of belief and action on the principle of total submission to God alone. Its beliefs, forms of worship and rules of life are uniformly an expression of this submission and are a practical interpretation of the declaration that there is no deity except God. The details of life are derived from the practice of the Messenger of God - peace be on him-and are a practical consequence of the declaration that Muhammad is the Messenger of God.
Islam membangun seluruh strukturnya sedemikian rupa sehingga kedua bagian dari syahadat ini menentukan sistem dan karakteristiknya. Ketika Islam membangun strukturnya dengan cara ini, memberikannya kedudukan yang terpisah dan unik di antara semua sistem lain yang dikenal manusia, maka Islam sesungguhnya selaras dengan hukum universal, yang berlaku bukan hanya dalam keberadaan manusia, tetapi juga di seluruh alam semesta.
Islam builds its entire structure in such a way that these two parts of the declaration determine its system and its characteristics. When Islam builds its structure in this manner, giving it a separate and unique position among all other systems known to man, then Islam actually becomes harmonious with the universal law, which is operative not only in human existence but throughout the whole universe as well.
Menurut konsep Islam, seluruh alam semesta telah diciptakan oleh Tuhan. Alam semesta mulai ada ketika Tuhan menghendakinya, lalu Dia menetapkan hukum-hukum alam tertentu yang diikutinya, dan sesuai dengannya seluruh bagian-bagiannya yang beragam beroperasi secara harmonis:
According to the Islamic concept, the whole universe has been created by God. The universe came into existence when God willed it, and then He ordained certain natural laws which it follows and according to which all its various parts operate harmoniously:
"Sesungguhnya perkara Kami apabila Kami menghendaki sesuatu, Kami hanya berkata kepadanya: 'Jadilah!', maka jadilah ia." (16:40)
"When We wish to bring something into existence, We say to it, 'Be', and there it is." (16:40)
"Dan Dia menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat." (25:2)
"And He created everything, and measured it in due proportion." (25:2)
Di balik alam semesta ini terdapat Kehendak yang mengaturnya, Kekuasaan yang menggerakkannya, dan Hukum yang mengaturnya.
Behind this universe there is a Will which administers it, a Power which moves it, a Law which regulates it.
Kekuatan ini menjaga keseimbangan antara berbagai bagian alam semesta dan mengendalikan gerak-geraknya; dengan demikian, mereka tidak saling bertabrakan, tidak ada gangguan dalam sistemnya, gerak-gerak teratur mereka tidak tiba-tiba berhenti, dan mereka tidak menjadi kacau. Hal ini akan terus berlangsung selama kehendak Ilahi menghendaki demikian. Seluruh alam semesta tunduk pada Kehendak, Kekuasaan, dan Otoritas Tuhan; tidak mungkin baginya untuk membangkang terhadap Kehendak Ilahi dan hukum yang telah ditetapkan-Nya walau sesaat pun. Karena ketaatan dan kepatuhan inilah alam semesta terus berjalan dengan harmonis, dan tidak ada kehancuran, perpecahan, atau gangguan yang dapat masuk ke dalamnya kecuali jika Tuhan menghendakinya.
This Power keeps a balance between the various parts of the universe and controls their motions; thus they neither collide with each other nor is there any disturbance in their system, nor do their regular motions come to a sudden stop, nor do they become disorganized. This will continue as long as the Divine will wishes it to continue. The whole universe is obedient to God's Will, His Power and His Authority; it is not possible for it to disobey the Divine Will and its ordained law for a single moment. Due to this obedience and submission, the universe continues to go on in a harmonious fashion, and no destruction or dispersion or disturbance can enter into it unless God wills it.
Sesungguhnya Tuhan kalian adalah Allah, yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang, yang mengikutinya dengan cepat. Matahari, bulan, dan bintang-bintang dikendalikan dengan perintah-Nya. Ketahuilah, penciptaan dan perintah hanyalah milik-Nya. Maha Berkah Allah, Tuhan semesta alam.
"Indeed, your Sustainer is God, Who created the heavens and the earth in six periods and then established Himself upon the throne of sovereignty. He causes the night to cover up the day and the day to follow the night. The sun and the moon and the stars are controlled by His command, The creation and the command are for Him alone. Glorious is God, the Sustainer of the worlds." (7:54)
Manusia adalah bagian dari alam semesta; hukum-hukum yang mengatur sifat kemanusiaan tidak berbeda dari hukum-hukum yang mengatur alam semesta. Tuhan adalah Pencipta alam semesta sekaligus Pencipta manusia. Tubuh manusia tersusun dari bahan-bahan bumi, namun Tuhan telah menganugerahkan kepadanya sifat-sifat tertentu yang menjadikannya lebih dari bumi tempat ia diciptakan; Tuhan memberinya rezeki menurut suatu ukuran. Dalam fungsi-fungsi tubuhnya, manusia secara tidak sadar mengikuti hukum-hukum alam yang sama dengan makhluk-makhluk lainnya. Penciptaannya terjadi menurut kehendak Tuhan, bukan menurut kehendak ayah dan ibunya. Ayah dan ibu memang mampu bersatu, namun mereka tidak mampu mengubah sperma menjadi manusia. Manusia lahir menurut tahapan perkembangan dan cara kelahiran yang telah ditetapkan Tuhan baginya; ia bernapas dengan udara Tuhan dalam jumlah dan cara yang telah ditetapkan oleh Tuhan; ia memiliki perasaan dan akal, ia merasakan sakit, menjadi lapar dan haus, makan dan minum. Singkatnya, ia harus hidup menurut hukum-hukum Tuhan dan dalam hal ini ia tidak memiliki pilihan. Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara dirinya dengan benda-benda mati maupun hidup lainnya di alam semesta. Semuanya tunduk sepenuhnya kepada Kehendak Tuhan dan kepada hukum-hukum ciptaan-Nya.
Man is a part of the universe; the laws which govern human nature are no different from the laws governing the universe. God is the Creator of the universe as well as of man. Man's body is made of earthly material, yet God has bestowed upon him certain characteristics which make him more than the earth from which he is made; God provides him according to a measure. In his bodily functions man involuntarily follows the same laws of nature as other creatures. His creation is according to the will of God rather than of his father and mother. The father and mother are able to come together; yet they are not able to transform a sperm into a human being. Man is born according to the method of development and the method of birth which God has prescribed for him; he breathes God's air in the quantity and fashion prescribed by God; he has feelings and understanding, he experiences pain, becomes hungry and thirsty, eats and drinks - in short, he has to live according to the laws of God and he has no choice in the matter. In this respect there is no difference between him and other inanimate or animate objects of the universe. All unconditionally submit to the Will of God and to the laws of His creation.
Dia yang telah menciptakan alam semesta dan manusia, dan yang menjadikan manusia tunduk pada hukum-hukum yang juga mengatur alam semesta, telah pula menetapkan sebuah Syari'ah bagi perbuatan-perbuatan manusia yang bersifat sukarela. Jika manusia mengikuti hukum ini, maka kehidupannya selaras dengan fitrahnya sendiri. Dari sudut pandang ini, Syari'ah tersebut juga merupakan bagian dari hukum universal yang mengatur seluruh alam semesta, termasuk aspek fisik dan biologis manusia.
He Who has created the universe and man, and Who made man obedient to the laws which also govern the universe, has also prescribed a Shari'ah for his voluntary actions. If man follows this law, then his life is in harmony with his own nature. From this point of view, this Shari'ah is also a part of that universal law which governs the entire universe, including the physical and biological aspects of man.
Setiap firman Tuhan, baik berupa perintah maupun larangan, janji maupun peringatan, aturan maupun petunjuk, merupakan bagian dari hukum universal dan sama akuratnya serta benarnya dengan hukum-hukum apa pun yang dikenal sebagai "hukum alam", yaitu hukum-hukum yang ditetapkan oleh Tuhan bagi alam semesta, yang kita dapati berlaku setiap saat sesuai dengan apa yang telah Tuhan tetapkan bagi mereka sejak awal penciptaan.
Each word of God, whether it is an injunction or a prohibition, a promise or an admonition, a rule or guidance, is a part of the universal law and is as accurate and true as any of the laws known as the "laws of nature" -the Divinely- ordained laws for the universe-which we find to be operative every moment according to what God has prescribed for them from the dawn of creation.
Maka Syariah yang telah Allah berikan kepada manusia untuk mengatur hidupnya juga merupakan hukum yang universal, karena ia terkait dengan hukum umum alam semesta dan selaras dengan hukum tersebut. Ketaatan kepada Syariah ini menjadi suatu keniscayaan bagi manusia agar kehidupannya dapat menjadi harmonis danselaras dengan seluruh alam semesta; bukan hanya itu, satu-satunya jalan untuk mewujudkan keharmonisan antara hukum-hukum fisik yang berlaku dalam kehidupan biologis manusia dan hukum-hukum moral yang mengatur tindakan sukarelanya hanyalah melalui ketaatan kepada Syariah. Hanya dengan cara inilah kepribadian manusia, baik batin maupun lahiriahnya, menjadi terpadu.
Thus the Shari'ah which God has given to man to organize his life is also a universal law, as it is related to the general law of the universe and is harmonious with it. This obedience to the Shari'ah becomes a necessity for human beings so that their lives may become harmonious and in tune with the rest of the universe; not only this, but the only way in which harmony can be brought about between the physical laws which are operative in the biological life of a man and the moral laws which govern his voluntary actions is solely through obedience to the Shari'ah. Only in this way does man's personality, internal and external, become integrated.
Manusia tidak dapat memahami seluruh hukum alam semesta, dan ia pun tidak mampu memahami kesatuan sistem ini; ia bahkan tidak dapat memahami hukum-hukum yang mengatur dirinya sendiri, yang darinya ia tidak dapat menyimpang sedikit pun. Dengan demikian, ia tidak mampu membuat hukum bagi suatu sistem kehidupan yang dapat selaras sepenuhnya dengan alam semesta, atau yang bahkan dapat menyelaraskan kebutuhan jasmaninya dengan perilaku lahiriahnya. Kemampuan ini hanya dimiliki oleh Sang Pencipta alam semesta dan manusia, yang tidak hanya menguasai alam semesta tetapi juga urusan manusia, dan yang menerapkan satu hukum yang seragam sesuai dengan kehendak-Nya.
Man cannot understand all the laws of the universe, nor can he comprehend the unity of this system; he cannot even understand the laws which govern his own person, from which he cannot deviate by a hair's breadth. Thus he is incapable of making laws for a system of life which can be in complete harmony with the universe or which can even harmonize his physical needs with his external behavior. This capability belongs solely to the Creator of the universe and of men, Who not only controls the universe but also human affairs, and Who implements a uniform law according to His will.
Kepatuhan terhadap Syariat Tuhan ini diperlukan demi terciptanya keharmonisan tersebut, bahkan lebih diperlukan daripada penegakan keyakinan Islam, karena tidak ada individu atau kelompok individu yang benar-benar menjadi Muslim sampai mereka sepenuhnya berserah diri kepada Tuhan semata dengan cara yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ, sehingga dengan perbuatan mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Tuhan dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah ﷺ.
This obedience to the Shari'ah of God is necessary for the sake of this harmony, even more necessary than the establishment of the Islamic belief, as no individual or group of individuals can be truly Muslim until they wholly submit to God alone in the manner taught by the Messenger of God- peace be on him, thus testifying by their actions that there is no deity except God and that Muhammad is God's Messenger.
Keselarasan total antara kehidupan manusia dan hukum alam semesta sepenuhnya bermanfaat bagi umat manusia, karena inilah satu-satunya jaminan terhadap segala bentuk perselisihan dalam kehidupan. Hanya dalam keadaan ini mereka akan berdamai dengan diri mereka sendiri dan berdamai dengan alam semesta, hidup selaras dengan hukum-hukumnya dan geraknya. Dengan cara yang sama, mereka akan memiliki ketenangan batin, karena perbuatan mereka akan sejalan dengan tuntutan fitrah mereka yang sebenarnya, tanpa pertentangan antara keduanya. Sesungguhnya, Syariah God menyelaraskan perilaku lahiriah manusia dengan fitrah batiniahnya dengan cara yang mudah. Ketika seseorang berdamai dengan fitrahnya sendiri, perdamaian dan kerja sama antarindividu akan mengikuti secara otomatis, karena mereka semua hidup bersama di bawah satu sistem, yang merupakan bagian dari sistem umum alam semesta.
Total harmony between human life and the law of the universe is entirely beneficial for mankind, as this is the only guarantee against any kind of discord in life. Only in this state will they be at peace with themselves and at peace with the universe, living in accord with its laws and its movements. In the same way, they will have peace of mind, as their actions will agree with their true natural demands, with no conflict between the two. Indeed, the Shari'ah of God harmonizes the external behavior of man with his internal nature in an easy way. When a man makes peace with his own nature, peace and cooperation among individuals follow automatically, as they all live together under one system, which is a part of the general system of the universe.
Dengan demikian, berkah turun kepada seluruh umat manusia, karena jalan ini dengan mudah mengantarkan kepada pengetahuan tentang rahasia-rahasia alam, kekuatan-kekuatannya yang tersembunyi, dan harta karun yang tersimpan di luasnya alam semesta. Manusia memanfaatkannya untuk kemaslahatan seluruh umat manusia, di bawah bimbingan Syariah Tuhan, tanpa pertentangan atau persaingan.
Thus, blessings fall on all mankind, as this way leads in an easy manner to the knowledge of the secrets of nature, its hidden forces, and the treasures concealed in the expanses of the universe. Man uses these for the benefit of all mankind, under the guidance of the Shari'ah of God, without any conflict or competition.
Berbeda dengan syariat Tuhan, adalah hawa nafsu manusia:
In contrast to the Shari'ah of God are men's whims:
"Seandainya kebenaran mengikuti hawa nafsu mereka, niscaya rusaklah langit dan bumi serta siapa yang ada di dalamnya." (23:71)
"Had the truth followed their opinions, the heavens and the earth and whosoever is in them would surely have been corrupted." (23:71)
Dari sini kita mengetahui bahwa kebenaran itu satu dan bukan banyak. Ia adalah landasan agama ini, langit dan bumi ditegakkan di atasnya, seluruh urusan dunia dan akhirat diatur olehnya, manusia akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Tuhan atas dasarnya, dan mereka yang menyimpang dari kebenaran akan dihukum olehnya, serta manusia akan diadili oleh Tuhan menurut kebenaran itu. Kebenaran tidak dapat dibagi-bagi, dan ia adalah nama bagi hukum umum yang telah Tuhan tetapkan bagi segala urusan; dan segala sesuatu yang ada, entah mengikutinya atau dihukum olehnya.
From this we come to know that the truth is one and not many. It is the foundation of this religion, the heavens and earth are based upon it, all the affairs of this world and of the next are settled by it, man will be accountable to God on the basis of it, and those who deviate from the truth are punished by it, and people will be judged by God according to it. Truth is indivisible, and it is the name of that general law which God has ordained for all affairs; and everything in existence either follows it or is punished by it.
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu sebuah Kitab yang di dalamnya ada sebutan tentangmu; maka apakah kamu tidak memikirkannya?" Berapa banyak negeri yang zalim telah Kami binasakan dan Kami ciptakan sesudah mereka kaum yang lain. Ketika mereka merasakan datangnya azab Kami, tiba-tiba mereka lari meninggalkannya. (Lalu dikatakan kepada mereka), "Janganlah kamu lari, kembalilah kepada kemewahan yang kamu nikmati dan kepada tempat tinggalmu, supaya kamu ditanya."
"We have sent to you a Book which speaks about you; do you not then use your reason? Many a wicked town have We destroyed and have replaced them with other people. When they felt Our Might approaching, they started to run. (It was said to them), 'Do not run; return to the luxury that you gloated in and to your homes; maybe you shall be questioned' .
Mereka berkata: "Celakalah kami! Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim." Maka mereka terus-menerus mengucapkan keluhan itu hingga Kami jadikan mereka seperti tanaman yang dituai, yang sudah padam (tidak bernyawa lagi). Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Jika Kami hendak membuat suatu permainan, tentu Kami dapat membuatnya dari sisi Kami sendiri, jika Kami memang hendak melakukannya. Bahkan Kami melemparkan yang hak kepada yang batil, lalu yang hak itu menghancurkannya, maka seketika itu lenyaplah yang batil. Dan celakalah kamu atas apa yang kamu sifatkan (kepada Tuhan). Kepunyaan-Nya-lah apa yang ada di langit dan di bumi. Dan orang-orang yang di sisi-Nya, mereka tidak merasa enggan untuk beribadah kepada-Nya dan tidak (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya. (Al-Anbiya': 10-20)
They said: 'Woe upon us! We have been evil-doers'. So they did not stop crying until We made them stubble, silent and still. We did not create the heavens and the earth and whatsoever is between them as a sport. Had We desired to adopt it for Us as a diversion, We would have taken it to Us from Ourselves, had We done so. Nay, but We held the truth against falsehood, and it prevails over it, and behold! falsehood vanishes away. Then woe to you for what you ascribe (to God). To Him belongs whatsoever is in the heavens and the earth, and those who are with Him do not be- come too proud to worship Him; neither do they grow weary of glorifying Him by night and by day and never failing." (21: 10-20)
Fitrah manusia dalam kedalamannya memiliki kesadaran penuh akan kebenaran ini. Bentuk dan tubuh manusia, serta tatanan alam semesta yang luas di sekelilingnya, mengingatkannya bahwa alam semesta ini didasarkan pada kebenaran, dan kebenaran adalah hakikatnya, serta berkaitan dengan suatu hukum pusat yang menopangnya. Dengan demikian, tidak ada kekacauan di dalamnya, tidak ada pertentangan antarbagiannya; ia tidak bergerak secara acak, tidak pula bergantung pada kebetulan, dan tidak lepas dari rencana menyeluruh; ia juga bukan permainan di tangan hawa nafsu manusia, melainkan berjalan dengan lancar pada jalur yang tepat, terperinci, dan telah ditetapkan.
Human nature in its depths has full awareness of this truth. Man's form and body, and the organization of the vast universe around him, reminds him that this universe is based on truth, and truth is its essence, and it is related to a central law which sustains it. Thus, there is no disturbance in it, no conflict between its parts; it does not move at random, nor does it depend on chance, nor is it devoid of an overall plan; neither is it a sport in the hands of human caprices, but runs smoothly on a precise, detailed and prescribed course.
Konflik bermula ketika manusia menyimpang dari kebenaran yang tersembunyi di kedalaman fitrahnya sendiri, di bawah pengaruh hawa nafsunya, dan ketika ia mengikuti hukum-hukum yang didasarkan pada pendapatnya sendiri, alih-alih mengikuti perintah-perintah Tuhan. Alih-alih tunduk kepada Tuan Yang Sejati bersama seluruh alam semesta, ia justru memberontak dan membangkang.
Conflict begins when man deviates from the truth which is hidden in the depths of his own nature, under the influence of his desires, and when he follows laws based on his own opinions instead of following God's commandments. Instead of submitting to his True Master along with the rest of the universe, he rebels and revolts.
Ketika konflik antara manusia dan fitrahnya sendiri, serta antara manusia dan alam semesta, meluas ke kelompok-kelompok manusia, bangsa-bangsa, dan ras-ras, maka seluruh kekuatan dan sumber daya alam semesta tidak lagi dimanfaatkan untuk kemaslahatan seluruh umat manusia, melainkan untuk kehancuran dan untuk melakukan kekerasan terhadap orang lain.
When this conflict between man and his own nature, and man and the universe, spreads to human groups, nations and races, then all the forces and resources of the universe are utilized not for the benefit of all mankind, but for its destruction and for violence against others.
Dari uraian di atas menjadi jelas bahwa tujuan penegakan hukum Tuhan di bumi bukanlah semata-mata demi kehidupan akhirat. Dunia ini dan akhirat bukanlah dua entitas yang terpisah, melainkan tahapan-tahapan yang saling melengkapi. Hukum yang diberikan oleh Tuhan tidak hanya menyelaraskan kedua tahapan ini, tetapi juga menyelaraskan kehidupan manusia dengan hukum umum alam semesta. Maka, ketika terciptanya keselarasan antara kehidupan manusia dan alam semesta, hasilnya tidak ditunda untuk kehidupan akhirat, melainkan telah berlaku bahkan di dunia ini. Namun, hasil tersebut akan mencapai kesempurnaannya di akhirat.
It becomes clear from the above discussion that the purpose of the establishment of God's law on earth is not merely for the sake of the next world. This world and the next world are not two separate entities, but are stages complementary to each other. The law given by God not only harmonizes these two stages but also harmonizes human life with the general law of the universe. Thus, when harmony between human life and the universe ensues, its results are not postponed for the next world but are operative even in this world. However, they will reach their perfection in the Hereafter.
Inilah, maka, landasan konsep Islam tentang alam semesta dan kehidupan manusia sebagai bagian dari alam semesta ini. Dengan sifatnya sendiri, konsep ini berbeda dari semua konsep lain yang dikenal umat manusia. Inilah sebabnya konsep ini membawa tanggung jawab dan kewajiban tertentu yang tidak ditemukan dalam konsep-konsep hidup lainnya.
This, then, is the foundation of the Islamic concept of the universe and of human life as a part of this universe. By its very nature, this concept is different from all other concepts known to mankind. This is why this concept implies certain responsibilities and obligations which are not found in other concepts of life.
Menurut konsep ini, ketaatan kepada Syariah Tuhan sebenarnya merupakan konsekuensi dari kebutuhan untuk menyelaraskan kehidupan manusia dengan hukum tersebut, yang berlaku di dalam diri manusia sendiri dan di seluruh alam semesta.
According to this concept, obedience to the Shari'ah of God is actually a consequence of the need to harmonize human life with that law which is operative within man himself and in the rest of the universe.
Kebutuhan ini menuntut agar hukum yang mengatur urusan sosial manusia harus selaras dengan hukum umum alam semesta; kebutuhan ini menuntut agar manusia tunduk hanya kepada Tuhan, bersama seluruh alam semesta, dan agar tidak ada seorang pun yang mengklaim ketuhanan atas orang lain.
This need demands that the law which governs the social affairs of human beings should be in accordance with the general law of the universe; it demands that man submit to God alone, with the rest of the universe, and that no man should claim lordship over others.
Sebuah gambaran tentang kebutuhan akan keselarasan yang telah kita bicarakan terdapat dalam percakapan antara Ibrahim – semoga kesejahteraan tercurah atasnya – bapak umat Islam, dan Namrud. Orang ini adalah seorang tiran dan mengklaim kedaulatan mutlak atas rakyatnya; namun ia tidak mengklaim kedaulatan atas langit, planet, dan bintang-bintang. Ketika Nabi Ibrahim – semoga kesejahteraan tercurah atasnya – mengajukan argumen bahwa Dia yang berkuasa atas alam semesta adalah satu-satunya yang juga berhak berkuasa atas manusia, ia pun terdiam tanpa kata.
A suggestion of this need for harmony which we have been talking about is found in the conversation between Abraham- peace be on him - the father of the Muslim community, and Nimrod. This man was a tyrant and claimed absolute sovereignty over his subjects; yet he did not claim sovereignty over the heavens, the planets and stars. When the Prophet Abraham - peace be on him - put forward the argument that He Who has authority over the universe is the only One to have authority over human beings too, he became speechless:
"Tidakkah engkau memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya, karena Tuhan telah memberinya kekuasaan (kerajaan)? Ketika Ibrahim berkata: 'Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan,' ia berkata: 'Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan.' Ibrahim berkata: 'Sesungguhnya Tuhan menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat!' Maka terdiamlah orang kafir itu. Dan Tuhan tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim."
"Have you considered the case of the man who argued with Abraham concerning his Sustainer, because God had given him rule over a country? When Abraham said: My Lord is He Who gives life and Who gives death,' he replied: 'I give life and I give death.' Abraham said: 'Indeed, God brings out the sun from the east. Then do you bring it out from the west?' Then the unbeliever became speechless. And God does not guide the evil-doing people". (2: 258)
Apakah mereka mencari agama selain agama Allah, padahal kepada-Nya berserah diri segala yang ada di langit dan di bumi, baik dengan suka rela maupun terpaksa, dan kepada-Nya mereka dikembalikan?
"Do they seek a religion other than the religion of God, while whatever is in the heavens and the earth submits to Him willingly, and will return to Him?" (3:83)