Generasi Qur'ani yang Unik
The Unique Qur'anic Generation
Para penyeru (dai) Islam di setiap negeri dan pada setiap masa hendaknya memperhatikan satu aspek tertentu dari sejarah Islam, dan mereka hendaknya merenungkannya secara mendalam. Hal ini berkaitan dengan metode dakwah kepada Islam dan cara-cara pembinaannya.
The callers to Islam in every country and in every period should give thought to one particular aspect of the history of Islam, and they should ponder over it deeply. This is related to the method of inviting people to Islam and its ways of training.
Pada suatu masa, Risalah ini melahirkan satu generasi, yaitu generasi para Sahabat Nabi ﷺ, semoga Tuhan meridhai mereka, yang tiada bandingannya dalam sejarah Islam, bahkan dalam seluruh sejarah manusia. Setelah itu, tidak pernah lagi ditemukan generasi lain dengan kualitas seperti ini. Memang benar kita menemukan beberapa individu dengan kualitas seperti ini di sana-sini dalam sejarah, tetapi tidak pernah lagi terdapat sejumlah besar orang seperti itu dalam satu wilayah sebagaimana yang terjadi pada periode awal Islam.
At one time this Message created a generation - the generation of the Companions of the Prophet, may God be pleased with them - without comparison in the history of Islam, even in the entire history of man. After this, no other generation of this caliber was ever gain to be found. It is true that we do find some individuals of this caliber here and there in history, but never again did a great number of such people exist in one region as was the case during the first period of Islam.
Ini adalah kebenaran sejarah yang nyata dan terbuka, dan kita seharusnya merenunginya secara mendalam agar kita dapat menggali rahasia-rahasianya.
This is an obvious and open truth of history, and we ought to ponder over it deeply so that we may reach its secrets.
Al-Qur'an dari Risalah ini masih ada di tangan kita, dan Hadis Rasulullah ﷺ, yaitu tuntunannya dalam urusan-urusan praktis, serta sejarah kehidupan sucinya juga ada di tangan kita, sebagaimana dahulu ada di tangan umat Islam generasi pertama yang sejarahnya tidak dapat lagi dihasilkan oleh sejarah mana pun. Satu-satunya perbedaan adalah pribadi Rasulullah ﷺ; tetapi apakah ini rahasianya?
The Qur'an of this Message is still in our hands, and the Hadith of the Messenger of God - peace be on him, i.e. his guidance in practical affairs, and the history of his sacred life are also in our hands, as they were in the hands of the first Muslim community whose equal history could not produce again. The only difference is the person of the Messenger of God - peace be on him; but is this the secret?
Seandainya pribadi Nabi - semoga kesejahteraan tercurah atasnya - mutlak diperlukan bagi tegaknya dan terwujudnya risalah ini, niscaya Tuhan tidak akan menjadikan Islam sebagai risalah universal, tidak akan menetapkannya sebagai agama bagi seluruh umat manusia, tidak akan memberinya kedudukan sebagai Risalah Ilahi yang terakhir bagi umat manusia, dan tidak akan menjadikannya petunjuk bagi seluruh penghuni planet ini dalam segala urusan mereka hingga akhir zaman.
Had the person of the Prophet - peace be on him - been absolutely essential for the establishment and fruition of this message, God would not have made Islam a universal message, ordained it as the religion for the whole of mankind, given it the status of the last Divine Message for humanity, and made it to be a guide for all the inhabitants of this planet in all their affairs until the end of time.
Allah telah mengambil tanggung jawab untuk memelihara Al-Qur'an yang mulia atas Diri-Nya sendiri, karena Dia mengetahui bahwa Islam dapat ditegakkan dan dapat memberi manfaat bagi umat manusia bahkan setelah masa Nabi ﷺ. Oleh karena itu Dia memanggil Nabi-Nya ﷺ kembali kepada rahmat-Nya setelah dua puluh tiga tahun menjalankan kerasulan, dan menyatakan agama ini berlaku hingga akhir zaman. Maka, ketiadaan Rasulullah ﷺ bukanlah sebab yang sebenarnya dari fenomena ini, dan tidak pula menjelaskannya.
God has taken the responsibility for preserving the Holy Qur'an on Himself because He knows that Islam can be established and can benefit mankind even after the time of the Prophet - peace be on him. Hence He called His Prophet - peace be on him - back to His mercy after twenty three years of messengership and declared this religion to be valid until the end of time. Therefore the absence of the Messenger of God - peace be on him - is not the real cause for, nor does it explain, this phenomenon.
Oleh karena itu, kami mencari alasan-alasan lain, dan untuk tujuan ini kami melihat mata air yang jernih itu, tempat generasi pertama kaum Muslimin melepaskan dahaga mereka. Mungkin sesuatu telah tercampur ke dalam mata air yang jernih itu.
We look, therefore, for some other reasons, and for this purpose we look at that clear spring from which the first generation of Muslims quenched their thirst. Perhaps something has been mixed with that clear spring.
Kita perlu melihat cara mereka menerima pelatihan. Mungkin ada perubahan yang telah masuk ke dalamnya.
We should look at the manner in which they received their training. Perhaps some changes have found their way into it.
Mata air yang diminum oleh para Sahabat Nabi ﷺ adalah Al-Qur'an; hanya Al-Qur'an, sedangkan Hadis Nabi ﷺ dan ajaran-ajarannya merupakan cabang dari sumber mata air ini. Ketika seseorang bertanya kepada Ummul Mukminin, Aisyah - semoga Tuhan meridainya - tentang akhlak Nabi ﷺ, beliau menjawab, "Akhlak beliau adalah Al-Qur'an" [Al-Nisaa]. Al-Qur'an Suci adalah satu-satunya sumber yang mereka reguk untuk melepaskan dahaga, dan inilah satu-satunya cetakan yang membentuk kehidupan mereka. Inilah satu-satunya petunjuk bagi mereka, bukan karena tidak ada peradaban, kebudayaan, ilmu pengetahuan, buku, atau sekolah. Sesungguhnya ada kebudayaan Romawi, peradabannya, buku-bukunya, dan hukum-hukumnya, yang bahkan hingga hari ini dianggap sebagai fondasi budaya Eropa. Ada warisan kebudayaan Yunani, yaitu logika, filsafatnya, dan seni-seninya, yang hingga kini masih menjadi sumber inspirasi bagi pemikiran Barat. Ada peradaban Persia, seni, puisi, dan legendanya, serta agama dan sistem pemerintahannya. Ada pula banyak peradaban lain, dekat maupun jauh, seperti kebudayaan India dan Tiongkok, dan sebagainya. Kebudayaan Romawi dan Persia berdiri di sebelah utara dan selatan Semenanjung Arab, sementara kaum Yahudi dan Kristen bermukim di jantung Arabia. Maka kami yakin bahwa generasi ini tidak menjadikan Kitab Tuhan sebagai satu-satunya sandaran untuk memahami agama mereka karena ketidaktahuan terhadap peradaban dan kebudayaan, melainkan semuanya berjalan menurut rencana dan metode yang matang. Contoh tujuan ini tampak dalam ketidaksenangan yang diungkapkan oleh Rasulullah ﷺ ketika 'Umar - semoga Tuhan meridainya - membawa beberapa lembar dari Taurat. Rasulullah ﷺ bersabda, "Demi Tuhan, seandainya Musa hidup di tengah kalian hari ini, ia tidak punya pilihan selain mengikuti aku" [Diriwayatkan oleh al-Hafidh Abu Ya'la dari Hammad, dari al-Sya'bi, dari Jabir]. Jelas dari peristiwa ini bahwa Rasulullah ﷺ dengan sengaja membatasi generasi pertama kaum Muslimin, yang sedang menjalani tahap-tahap awal pendidikan, hanya pada satu sumber petunjuk, yaitu Kitab Allah. Maksud beliau adalah agar kelompok ini mengabdikan diri semata-mata kepada Kitab Allah dan mengatur kehidupan mereka hanya menurut ajarannya. Itulah sebabnya Rasulullah ﷺ merasa tidak senang ketika 'Umar, semoga Allah meridhainya, beralih kepada sumber lain selain Al-Qur'an. Sesungguhnya Rasulullah ﷺ bermaksud menyiapkan generasi yang bersih hatinya, bersih pikirannya, dan bersih pemahamannya. Pendidikan mereka harus didasarkan pada metode yang ditetapkan oleh Tuhan yang menurunkan Al-Qur'an, yang telah disucikan dari pengaruh semua sumber lainnya.
The spring from which the Companions of the Prophet - peace be on him-drank was the Qur'an; only the Qur'an as the Hadith of the Prophet and his teachings were offspring of this fountainhead. When someone asked the Mother of the Faithful, Aisha-may God be please- with her,-about the character of the Prophetpeace be on him,-she answered, "His character was the Qur'an" [ Al-Nisaa] The Holy Qur'an was the only source from which they quenched their thirst, and this was the only mold in which they formed their lives. This was the only guidance for them, not because there was no civilization or culture or science or books or schools. Indeed, there was Roman culture, its civilization, its books and its laws, which even today are considered to be the foundation of European culture. There was the heritage of Greek culture- its logic, its philosophy and its arts, which are still a source of inspiration for Western thought. There was the Persian civilization, its art, its poetry and its legends, and its religion and system of government. There were many other civilizations, near or far, such as the Indian and Chinese cultures, and so on. The Roman and Persian cultures were established to the north and to the south of the Arabian peninsula, while the Jews and Christians were settled in the heart of Arabia. Thus we believe that this generation did not place sole reliance on the Book of God for the understanding of their religion because of any ignorance of civilization and culture, but it was all according to a well thought out plan and method. An example of this purpose is found in the displeasure expressed by the Messenger of God - peace be on him - when 'Umar-may God be pleased with him-brought some pages from the Torah. The Messenger of Godpeace be on him-said, "By God, if even Moses had been alive among you today, he would have no recourse except to follow me" [Reported by al-Hafidh Abu Yala from Himad, from al-Shubi, from Jabir.] It is clear from this incident that the Messenger of God - peace be on him - deliberately limited the first generation of Muslims, which was undergoing the initial stages of training, to only one source of guidance, and that was the Book of God. His intention was that this group should dedicate itself purely to the Book of God and arrange its lives solely according to its teachings. That is why the Messenger of God -peace be on him-was displeased when 'Umar-may God be pleased with him-turned to a source different from the Qur'an In fact, the Messenger of God-peace be on him-intended to prepare a generation pure in heart, pure in mind, pure in understanding. Their training was to be based on the method prescribed by God Who gave the Qur'an, purified from the influence of all other sources.
Generasi ini, maka, hanya minum dari mata air ini saja dan dengan demikian meraih keistimewaan yang unik dalam sejarah. Pada masa-masa berikutnya terjadi bahwa sumber-sumber lain bercampur dengannya. Sumber-sumber lain yang digunakan oleh generasi-generasi kemudian mencakup filsafat dan logika Yunani, legenda-legenda Persia kuno beserta gagasan-gagasannya, kitab-kitab suci dan tradisi Yahudi, teologi Kristen, dan, selain itu, serpihan-serpihan dari agama-agama dan peradaban-peradaban lain. Semua ini bercampur dengan tafsir-tafsir Al-Qur'an dan dengan ilmu kalam, sebagaimana juga bercampur dengan fikih dan ushulnya. Generasi-generasi setelah generasi ini memperoleh pendidikan dari sumber campuran tersebut, dan karena itu, orang-orang seperti generasi ini tidak pernah muncul lagi.
This generation, then, drank solely from this spring and thus attained a unique distinction in history. In later times it happened that other sources mingled with it. Other sources used by later generations included Greek philosophy and logic, ancient Persian legends and their ideas, Jewish scriptures and traditions, Christian theology, and, in addition to these, fragments of other religions and civilizations. These mingled with the commentaries on the Qur'an and with scholastic theology, as they were mingled with jurisprudence and its principles. Later generations after this generation obtained their training from this mixed source, and hence the like of this generation never arose again.
Dengan demikian, kita dapat mengatakan tanpa keraguan bahwa alasan utama perbedaan antara kelompok pertama Muslim yang unik dan istimewa dengan Muslim generasi berikutnya adalah karena kemurnian sumber pertama petunjuk Islam telah bercampur dengan berbagai sumber lain, sebagaimana telah kami jelaskan.
Thus we can say without any reservations that the main reason for the difference between the first unique and distinguished group of Muslims and later Muslims is that the purity of the first source of Islamic guidance was mixed with various other sources, as we have indicated.
Ada sebab mendasar lain yang turut menciptakan perbedaan ini, yaitu perbedaan dalam metode belajar generasi yang unik ini.
There is another basic cause which has operated in creating this difference. That difference is in the method of learning of this unique generation.
Mereka dari generasi pertama tidak mendekati Al-Qur'an dengan tujuan memperoleh budaya dan informasi, atau dengan tujuan mencari cita rasa dan kenikmatan. Tidak seorang pun dari mereka datang kepada Al-Qur'an untuk menambah jumlah pengetahuannya demi ilmu itu sendiri, atau untuk memecahkan suatu masalah ilmiah atau hukum, atau untuk menghilangkan suatu kekeliruan dalam pemahamannya. Mereka justru kembali kepada Al-Qur'an untuk mengetahui apa yang telah ditetapkan Sang Pencipta Yang Mahakuasa bagi dirinya dan bagi kelompok tempat ia hidup, untuk kehidupannya dan untuk kehidupan kelompoknya.
They of the first generation did not approach the Qur'an for the purpose of acquiring culture and information, nor for the purpose of taste or enjoyment. None of them came to the Qur'an to increase his sum total of knowledge for the sake of knowledge itself or to solve some scientific or legal problem, or to remove some defect in his understanding. He rather turned to the Qur'an to find out what the Almighty Creator had prescribed for him and for the group in which he lived, for his life and for the life of the group.
Beliau mendekatinya dengan tujuan untuk segera mengamalkan apa yang didengarnya, seperti seorang prajurit di medan perang yang membaca "Buletin Hari Ini" agar ia tahu apa yang harus dilakukan. Beliau tidak membaca banyak ayat Al-Qur'an dalam satu waktu, karena beliau memahami bahwa hal itu akan membebankan kewajiban dan tanggung jawab yang tak tertanggungkan di pundaknya.
He approached it to act on what he heard immediately, as a soldier on the battle- field reads "Today's Bulletin" so that he may know what is to be done. He did not read many verses of the Qur'an in one session, as he understood that this would lay an unbearable burden of duties and responsibilities on his shoulders.
Paling banyak, beliau (para sahabat) hanya membaca sepuluh ayat, menghafalkannya, lalu mengamalkannya. Hal ini kita ketahui dari sebuah riwayat yang disampaikan oleh Abdullah bin Mas'ud.
At most he would read ten verses, memorize them, and then act upon them. We know this from a tradition reported by Abdullah bin Mas'ood .
Pemahaman ini—bahwa perintah itu untuk diamalkan—membuka pintu-pintu kenikmatan ruhani dan ilmu. Seandainya mereka membaca Al-Qur'an hanya demi perdebatan, pembelajaran dan informasi, pintu-pintu ini tidak akan terbuka. Terlebih lagi, amal menjadi mudah, beban tanggung jawab terasa ringan, dan Al-Qur'an menjadi bagian dari kepribadian mereka, menyatu dengan kehidupan dan akhlak mereka, sehingga mereka menjadi contoh hidup dari iman—iman yang tidak tersembunyi dalam benak atau buku, melainkan menampakkan diri dalam gerak yang dinamis, yang mengubah keadaan, peristiwa, dan jalannya kehidupan.
This understanding-the understanding that instruction is for action-opened the doors to spiritual fulfillment and to knowledge. If they had read the Qur'an only for the sake of discussion, learning and information, these doors would not have opened. Moreover, action became easy, the weight of responsibilities became light, and the Qur'an became a part of their personalities, mingling with their lives and characters so that they became living examples of faith - a faith not hidden in intellects or books, but expressing itself in a dynamic movement which changed conditions and events and the course of life.
Sesungguhnya, Al-Qur'an ini tidak membuka perbendaharaannya kecuali bagi orang yang menerimanya dengan semangat ini: semangat untuk mengetahui dengan niat untuk mengamalkannya. Al-Qur'an tidak diturunkan untuk menjadi kitab yang berisi muatan intelektual, atau kitab sastra, atau untuk dianggap sebagai kitab cerita atau sejarah, meskipun ia memiliki semua segi tersebut. Al-Qur'an diturunkan untuk menjadi sebuah jalan hidup, jalan yang diabdikan kepada Tuhan. Oleh karena itu, Tuhan Yang Mahatinggi menurunkannya kepada mereka secara bertahap, untuk dibaca dari waktu ke waktu:
Indeed, this Qur'an does not open its treasures except to him who accepts it with this spirit: the spirit of knowing with the intention of acting upon it. It did not come to be a book of intellectual content, or a book of literature, or to be considered as a book of stories or history, although it has all these facets. It came to become a way of life, a way dedicated to God. Thus, God Most High imparted it to them in a gradual manner, to be read at intervals:
"Dan Kami telah menurunkan Al-Qur'an ini secara berangsur-angsur agar engkau dapat membacakannya kepada manusia dengan perlahan-lahan, dan Kami telah menurunkannya dengan bertahap." (17:106)
"We have revealed this Qur'an little by little so that you may recite it to people at intervals, and We have revealed it gradually." (17:106)
Al-Qur'an tidak diturunkan sekaligus; melainkan diturunkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat Islam dalam menghadapi persoalan-persoalan baru, sesuai dengan berkembangnya gagasan dan konsep, sesuai dengan kemajuan kehidupan sosial secara umum, dan sesuai dengan tantangan-tantangan baru yang dihadapi umat Islam dalam kehidupan praktisnya.
The Qur'an did not come down all at once; rather it came down according to the needs of the Islamic society in facing new problems, according to the growth of ideas and concepts, according to the progress of general social life, and according to new challenges faced by the Muslim community in its practical life.
Satu ayat atau beberapa ayat akan diturunkan sesuai dengan keadaan dan peristiwa khusus, dan ayat-ayat itu menjawab pertanyaan yang muncul di benak orang-orang, menjelaskan hakikat suatu keadaan tertentu, dan menetapkan cara menghadapinya. Ayat-ayat tersebut meluruskan kesalahan mereka, baik dalam pemahaman maupun dalam praktik, mendekatkan mereka kepada Tuhan, dan menjelaskan kepada mereka hikmah dari berbagai aspek alam semesta dalam cahaya sifat-sifat Tuhan. Dengan demikian, mereka benar-benar menyadari bahwa setiap saat dalam hidup mereka berada di bawah bimbingan dan pengarahan terus-menerus dari Sang Pencipta Yang Maha Kuasa, dan bahwa mereka sedang menempuh jalan kehidupan di bawah naungan rahmat Tuhan. Karena rasa hubungan yang terus-menerus dengan Tuhan ini, kehidupan mereka dibentuk sesuai dengan cara hidup suci yang diajarkan oleh-Nya.
One verse or a few verses would be revealed according to the special circumstances and events, and they would answer questions which arose in the minds of people, would explain the nature of a particular situation, and would prescribe a way of dealing with it. These verses would correct their mistakes, either of understanding or of practice, would bring them closer to God, and would explain to them the wisdom of the various aspects of the universe in the light of God's attributes. Thus they clearly realized that every moment of their lives was under the continuous guidance and direction of the Almighty Creator and that they were traversing the path of life under the wings of God's mercy. Because of this sense of constant relationship with God, their lives were molded according to that sacred way of life which was being instructed by Him.
Demikianlah, menerapkan petunjuk ke dalam tindakan adalah metode kelompok pertama kaum Muslimin. Metode generasi berikutnya adalah menjadikan petunjuk sebagai bahan diskusi akademis dan kesenangan. Dan tidak diragukan lagi, inilah faktor utama kedua yang membuat generasi-generasi berikutnya berbeda dari generasi pertama Islam yang istimewa itu.
Thus, instruction to be translated into action was the method of the first group of Muslims. The method of later generations was instruction for academic discussion and enjoyment. And without doubt this is the second major factor which made later generations different from the first unique generation of Islam.
Sebab ketiga juga berperan dalam sejarah kaum Muslimin; kita perlu memperhatikannya pula.
A third cause is also operative in the history of Muslims; we ought to look at it also.
Ketika seseorang memeluk Islam pada masa Nabi ﷺ, ia akan segera memutuskan diri dari Jahiliyyah. [Keadaan kebodohan terhadap petunjuk dari Tuhan.] Ketika ia melangkah ke dalam lingkaran Islam, ia akan memulai kehidupan baru, memisahkan diri sepenuhnya dari kehidupan masa lalunya dalam kebodohan terhadap Hukum Ilahi. Ia akan memandang perbuatan-perbuatannya selama hidup dalam kejahiliyahan dengan rasa curiga dan takut, dengan perasaan bahwa perbuatan itu kotor dan tidak dapat ditoleransi dalam Islam! Dengan perasaan ini, ia akan berpaling kepada Islam untuk mendapatkan petunjuk baru; dan jika pada suatu saat godaan menguasainya, atau kebiasaan lama menariknya, atau jika ia menjadi lalai dalam menjalankan perintah-perintah Islam, ia akan gelisah dengan perasaan bersalah dan merasa perlu untuk menyucikan diri dari apa yang telah terjadi, lalu ia akan kembali kepada Al-Qur'an untuk membentuk dirinya sesuai dengan petunjuknya.
When a person embraced Islam during the time of the Prophet-peace be on him-he would immediately cut himself off from Jahiliyyah. [The state of ignorance of the guidance from God.] When he stepped into the circle of Islam, he would start a new life, separating himself completely from his past life under ignorance of the Divine Law. He would look upon the deeds during his life of ignorance with mistrust and fear, with a feeling that these were impure and could not be tolerated in Islam! With this feeling, he would turn toward Islam for new guidance; and if at any time temptations overpowered him, or the old habits attracted him, or if he became lax in carrying out the injunctions of Islam, he would become restless with a sense of guilt and would feel the need to purify himself of what had happened, and would turn to the Qur'an to mold himself according to its guidance.
Dengan demikian, akan ada pemisahan antara Islam seorang Muslim saat ini dan Jahiliyah masa lalunya, dan ini setelah keputusan yang matang; akibatnya, seluruh hubungannya dengan Jahiliyah akan terputus dan ia sepenuhnya terikat pada Islam, meskipun akan ada sedikit timbal balik dengan kaum musyrik dalam kegiatan perdagangan dan urusan sehari-hari; namun hubungan pemahaman adalah satu hal, sedangkan urusan sehari-hari adalah hal lain.
Thus, there would be a break between the Muslim's present Islam and his past Jahiliyyah, and this after a well thought out decision, as a result of which all his relationships with Jahiliyyah would be cut off and he would be joined completely to Islam, although there would be some give-and-take with the polytheists in commercial activity and daily business; yet relationships of understanding are one thing and daily business is something else.
Penolakan terhadap lingkungan jahiliah, adat istiadat dan tradisinya, serta gagasan dan konsepnya ini berasal dari penggantian syirik dengan konsep Keesaan Tuhan, dari pandangan hidup dan dunia jahiliah dengan pandangan Islam, serta dari peleburan ke dalam komunitas Islam yang baru di bawah kepemimpinan baru dan pengabdian seluruh loyalitas dan komitmen kepada masyarakat dan kepemimpinan baru tersebut.
This renunciation of the jahili environment, its customs and traditions, its ideas and concepts, proceeded from the replacement of polytheism by the concept of the Oneness of God, of the jahili view of life and the world by that of the Islamic view, and from absorption into the new Islamic community under a new leadership and dedication of all loyalties and commitments to this new society and new leadership.
Ini adalah titik perpisahan dan awal dari sebuah perjalanan baru, perjalanan yang bebas dari tekanan nilai, konsep, dan tradisi masyarakat jahiliah. Seorang Muslim tidak menghadapi sesuatu yang berat selain penyiksaan dan penindasan; namun ia telah memutuskan di dalam lubuk hatinya bahwa ia akan menghadapinya dengan tenang, sehingga tidak ada tekanan dari masyarakat jahiliah yang akan memengaruhi keteguhannya dalam melanjutkan perjuangan.
This was the parting of the ways and the starting of a new journey, a journey free from the pressures of the values, concepts and traditions of the jahili society. The Muslim encountered nothing burdensome except the torture and oppression; but he had already decided in the depths of his heart that he would face it with equanimity, and hence no pressure from the jahili society would have any effect on his continuing steadfastness.
Kita pun dikelilingi oleh Jahiliyyah saat ini, yang memiliki sifat yang sama seperti pada periode awal Islam, mungkin sedikit lebih dalam. Seluruh lingkungan kita, keyakinan dan gagasan orang-orang, kebiasaan dan kesenian mereka, aturan dan hukum mereka, adalah Jahiliyyah, bahkan sampai pada taraf bahwa apa yang kita anggap sebagai budaya Islam, sumber-sumber Islam, filsafat Islam dan pemikiran Islam juga merupakan bentukan Jahiliyyah! Inilah sebabnya nilai-nilai Islam yang sejati tidak pernah masuk ke dalam hati kita, mengapa pikiran kita tidak pernah tercerahkan oleh konsep-konsep Islam, dan mengapa tidak ada sekelompok orang di antara kita yang muncul dengan kualitas generasi pertama Islam.
We are also surrounded by Jahiliyyah today, which is of the same nature as it was during the first period of Islam, perhaps a little deeper. Our whole environment, people's beliefs and ideas, habits and art, rules and laws-is Jahiliyyah, even to the extent that what we consider to be Islamic culture, Islamic sources, Islamic philosophy and Islamic thought are also constructs of Jahiliyyah! This is why the true Islamic values never enter our hearts, why our minds are never illuminated by Islamic concepts, and why no group of people arises among us who are of the calibre of the first generation of Islam.
Oleh karena itu, dalam rangka gerakan Islam, perlu bagi kita pada tahap-tahap awal pelatihan dan pendidikan kita untuk melepaskan diri dari semua pengaruh Jahiliyyah tempat kita hidup dan dari mana kita memperoleh manfaat. Kita harus kembali kepada sumber murni itu, tempat orang-orang tersebut memperoleh petunjuk mereka, sumber yang bebas dari segala percampuran atau pencemaran. Kita harus kembali kepadanya untuk menggali dari situ konsep kita tentang hakikat alam semesta, hakikat keberadaan manusia, dan hubungan keduanya dengan Dzat Yang Sempurna, Yang Maha Nyata, yaitu Tuhan Yang Maha Tinggi. Dari sumber itu pula kita harus menggali konsep kita tentang kehidupan, prinsip-prinsip pemerintahan, politik, ekonomi, serta seluruh aspek kehidupan lainnya.
It is therefore necessary-in the way of the Islamic movement-that in the early stages of our training and education we should remove ourselves from all the influences of the Jahiliyyah in which we live and from which we derive benefits. We must return to that pure source from which those people derived their guidance, the source which is free from any mixing or pollution. We must return to it to derive from it our concepts of the nature of the universe, the nature of human existence, and the relationship of these two with the Perfect, the Real Being, God Most High. From it we must also derive our concepts of life, our principles of government, politics, economics and all other aspects of life.
Kita harus kembali kepadanya dengan rasa ingin diberi petunjuk untuk taat dan beramal, bukan untuk diskusi akademis dan kesenangan. Kita hendaknya kembali kepadanya untuk mengetahui jenis manusia seperti apa yang ia minta kita menjadi, lalu kita menjadi seperti itu.
We must return to it with a sense of instruction for obedience and action, and not for academic discussion and enjoyment. We should return to it to find out what kind of person it asks us to be, and then be like that.
Selama proses ini, kita juga akan menemukan keindahan artistik dalam Al-Qur'an, kisah-kisah yang menakjubkan dalam Al-Qur'an, gambaran-gambaran tentang Hari Kiamat dalam Al-Qur'an, logika intuitif Al-Qur'an, dan segala manfaat lain yang dicari dalam Al-Qur'an oleh kalangan akademisi dan sastrawan. Kita akan menikmati semua aspek lain ini, tetapi semuanya bukan tujuan utama kajian kita. Tujuan utama kita adalah mengetahui jalan hidup apa yang dituntut Al-Qur'an dari kita, pandangan menyeluruh tentang alam semesta yang ingin Al-Qur'an tanamkan pada kita, bagaimana hakikat pengetahuan kita tentang Tuhan yang diajarkan Al-Qur'an, jenis akhlak dan adab yang diperintahkannya, serta sistem hukum dan konstitusi apa yang ingin ia kita tegakkan di dunia.
During this process, we will also discover the artistic beauty in the Qur'an, the marvellous tales in the Qur'an, the scenes of the Day of Judgment in the Qur'an, the intuitive logic the Qur'an, and all other such benefits which are sought in the Qur'an by academic and literary people. We will enjoy all these other aspects, but these are not the main object of our study. Our primary purpose is to know what way of life is demanded of us by the Qur'an, the total view of the universe which the Qur'an wants us to have, what is the nature of our knowledge of God taught to us by the Qur'an, the kind of morals and manners which are enjoined by it, and the kind of legal and constitutional system it asks us to establish in the world.
Kita juga harus membebaskan diri dari cengkeraman masyarakat jahili, konsep-konsep jahili, tradisi-tradisi jahili, dan kepemimpinan jahili. Misi kita bukanlah berkompromi dengan praktik-praktik masyarakat jahili, dan kita pun tidak boleh setia kepadanya.
We must also free ourselves from the clutches of jahili society, jahili concepts, jahili traditions and jahili leadership. Our mission is not to compromise with the practices of jahili society, nor can we be loyal to it.
Masyarakat jahiliyah, karena karakteristik jahiliyahnya, tidak layak untuk dikompromikan. Tujuan kita adalah pertama-tama mengubah diri kita sendiri agar kemudian kita dapat mengubah masyarakat.
Jahili society, because of its jahili characteristics, is not worthy to be compromised with. Our aim is first to change ourselves so that we may later change the society.
Tujuan utama kami adalah mengubah praktik-praktik masyarakat ini. Tujuan kami adalah mengubah sistem Jahili hingga ke akar-akarnya, sistem yang pada dasarnya bertentangan dengan Islam dan yang, dengan bantuan kekerasan dan penindasan, menghalangi kami dari menjalani kehidupan sebagaimana dituntut oleh Pencipta kami.
Our foremost objective is to change the practices of this society. Our aim is to change the Jahili system at its very roots -this system which is fundamentally at variance with Islam and which, with the help of force and oppression, is keeping us from living the sort of life which is demanded by our Creator.
Langkah pertama kita adalah mengangkat diri kita di atas masyarakat jahiliah beserta segala nilai dan konsepnya. Kita tidak akan mengubah nilai dan konsep kita sendiri, baik sedikit maupun banyak, demi membuat kesepakatan dengan masyarakat jahiliah ini. Tidak pernah! Kita dan mereka berada di jalan yang berbeda, dan jika kita melangkah walau hanya selangkah bersama mereka, kita akan kehilangan tujuan sepenuhnya dan sekaligus kehilangan arah.
Our first step will be to raise ourselves above the jahili society and all its values and concepts. We will not change our own values and concepts either more or less to make a bargain with this jahili society. Never! We and it are on different roads, and if we take even one step in its company, we will lose our goal entirely and lose our way as well.
Kami tahu bahwa dalam perjalanan ini kita akan menghadapi kesulitan dan cobaan, dan kita harus berkorban besar. Namun jika kita hendak berjalan di atas jejak generasi Muslim pertama, yang melalui mereka Tuhan menegakkan sistem-Nya dan memberinya kemenangan atas Jahiliyyah, maka kita tidak akan lagi menjadi tuan atas kehendak kita sendiri.
We know that in this we will have difficulties and trials, and we will have to make great sacrifices. But if we are to walk in the footsteps of the first generation of Muslims, through whom God established His system and gave it victory over Jahiliyyah, then we will not be masters of our own wills.
Oleh karena itu, sangat dianjurkan agar kita senantiasa menyadari hakikat langkah yang kita tempuh, hakikat kedudukan kita, dan hakikat jalan yang harus kita lalui untuk keluar dari kejahilan, sebagaimana generasi Sahabat Nabi ﷺ yang luar biasa dan unik telah keluar darinya.
It is therefore desirable that we should be aware at all times of the nature of our course of action, of the nature of our position, and the nature of the road which we must traverse to come out of ignorance, as the distinguished and unique generation of the Companions of the Prophet - peace be on him-came out of it.