Karakteristik Cara Berpikir Islam
Characteristics Of The Islamic Way Of Thinking
Dengan munculnya banyak permasalahan yang diakibatkan oleh tidak adanya cara berpikir Islami, sebagian anggota Umat Islam berusaha menentukan arah kebangkitan. Setiap upaya untuk membangkitkan Umat Islam tidak dapat berhasil tanpa merekonstruksi cara berpikir Islami di kalangan kaum Muslimin. Tanpa gambaran yang jelas tentang apa yang terkandung dalam cara berpikir Islami, upaya membangkitkan kaum Muslimin akan ditakdirkan gagal dan akan mengulangi kesalahan yang sama seperti upaya-upaya masa lalu yang gagal. Oleh karena itu, memahami sepenuhnya karakteristik yang unik ini sangat penting bagi proses kebangkitan, agar kebangkitan tersebut tidak terpengaruh oleh emosi, reaksi, dan faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran. Setelah membahas faktor-faktor dan penyebab yang mengakibatkan rusaknya cara berpikir Islami, perlu disebutkan beberapa karakteristik khas dari cara berpikir Islami. Karakteristik ini dapat disimpulkan dengan menelaah wahyu, yang menjadi sumber budaya Islam, serta dengan mempelajari bagaimana para Sahabat menghadapi persoalan yang mereka hadapi. Berikut ini beberapa karakteristik tersebut:
With the emergence of the many problems that resulted from the absence of the Islamic way of thinking, some members of the Muslim Ummah attempted to define the course of revival. Any attempt to revive the Muslim Ummah cannot succeed without reconstructing the Islamic way of thinking among the Muslims. Without a clear picture of what the Islamic way of thinking consists of, reviving the Muslims would be doomed to failure and would repeat the same mistakes of past attempts which failed. Thus, fully comprehending these unique characteristics is vital to the revival process in order to keep the revival detached from the emotions, reactions, and factors that precipitated the decline. After addressing the factors and causes that resulted in corrupting the Islamic way of thinking, it is necessary to mention some distinguishing characteristics of the Islamic way of thinking. These characteristics can be deduced by examining the wahi, which defines the source of the Islamic culture, and by studying how the Sahabah dealt with the issues that faced them. Following are some of these characteristics:
1) Eksistensi Kebenaran dan Kebatilan sebagai Sesuatu yang Mutlak, Bukan Relatif
1) The Existence Of Truth And Falsehood As Absolute And Not Relative
Tujuan cara berpikir Islam adalah mencapai kebenaran, yang mengharuskan adanya keyakinan bahwa kebenaran dan kebatilan itu ada, serta bahwa yang benar dan yang salah merupakan fakta yang mutlak, bukan relatif.
The objective of the Islamic way of thinking is to reach the truth, which necessitates believing in the existence of truth and falsehood and in the correct and incorrect as absolute, and not relative, facts.
Ciri paling membedakan kehidupan ini adalah bahwa ia tersusun dari fakta, bukan ilusi. Setiap kajian atau pemikiran yang objektif dan serius harus mengakui fakta yang tidak dapat disangkal bahwa realitas-realitas mutlak itu ada; jika tidak, kajian semacam itu akan merosot menjadi cerita khayalan dan spekulasi yang tidak mampu membangun konsep-konsep yang kokoh. Dengan demikian, setiap penelitian, pengkajian, atau pemikiran tidak boleh kosong dari tujuan atau dimaksudkan sekadar untuk hiburan; kajian atau penelitian semacam itu akan sia-sia dan tidak menghasilkan konsep-konsep yang bermanfaat, selain pemikiran dangkal dan filsafat yang abstrak.
The most distinguishing feature of this life is that it consists of facts and not illusions. Any objective and serious study or thought must acknowledge the undeniable fact that absolute realities exist; otherwise, such a study would degenerate into fanciful storytelling and speculation that cannot construct any sustainable concepts. With this in mind, any research, study, or thinking cannot be devoid of purpose or for entertainment; any such study or research would be in vain and would bear no productive concepts aside from superficial thoughts and abstract philosophies.
Mencapai kebenaran harus menjadi satu-satunya motif di balik setiap kajian atau penelitian, dan setelah kebenaran tercapai serta terbukti secara meyakinkan, kaum Muslimin wajib tunduk kepadanya dan menjadikannya bagian dari cara berpikir mereka.
Reaching the truth must be the sole motive behind any study or research, and once the truth is reached and is proven conclusively, Muslims must abide by it and adopt it as part of their thinking.
Tidak boleh ada perhatian yang diberikan kepada pendapat dan tradisi masyarakat umum, atau kepada untung atau rugi apa pun yang mungkin terkait dengan berpegang pada kebenaran. Kebenaran harus diterima semata-mata berdasarkan nilainya sendiri. Siapa pun yang menyadari kebenaran lalu tidak mau tunduk kepadanya telah dengan sengaja menjuluki dirinya sendiri sebagai munafik, dan telah menipu serta memperdaya dirinya sendiri, yang sudah cukup untuk menggolongkan orang seperti itu sebagai orang yang bodoh.
No attention should be given to the opinions and traditions of the masses, or to any cost or benefit that may be associated with adhering to the truth. The truth must be accepted only based on its merits. Anyone who realizes the truth and failed to abide by it has willingly labeled himself a hypocrite and has cheated and deceived himself, which suffices to classify such a person as ignorant.
2) Mengenali Dalil, Jenis-jenisnya, dan Ruang Lingkupnya
2) Recognizing The Daleel, Its Types, And Its Domain
Manusia menghadapi banyak persoalan dalam kehidupan sehari-harinya, mulai dari yang bersifat politik dan ekonomi hingga yang bersifat intelektual dan budaya. Agar dapat menjalani hidup dengan segala persoalannya yang beragam, manusia harus membentuk atau mengadopsi pandangan dan pemikiran tertentu terkait persoalan-persoalan tersebut, dan pengadopsian ini akan menjadi dasar untuk menempuh suatu tindakan tertentu dalam menghadapi atau menyelesaikan persoalan-persoalan itu.
Human being encounter many issues in their daily lives, ranging from political and economic to intellectual and cultural. In order to proceed through life with its myriad of issues, the human being must develop or adopt certain opinions and thoughts related to these issues, and this adoption will serve as the basis for pursuing a specific course of action in addressing or resolving these issues.
Pendapat atau pemikiran yang paling akurat dan benar pasti akan membawa pada langkah tindakan yang paling efektif dalam menyelesaikan suatu masalah. Dan keakuratan atau kebenaran suatu pemikiran atau pendapat hanya bergantung pada kekuatan bukti yang mendukungnya. Oleh karena itu, tidak ada gagasan, pendapat, hukum, atau pemikiran yang boleh diambil tanpa daleel (dalil)-nya. Proses mengadopsi pendapat atau pemikiran tidak boleh dilakukan karena kemudahan atau ketertarikan (baik terhadap pendapatnya itu sendiri maupun terhadap orang yang membawanya). Tidak seorang pun boleh mengadopsi suatu pemikiran atau pendapat atas dasar keuntungan pribadi, emosi, reaksi, atau sekadar meniru. Pada akhirnya, dalil adalah satu-satunya kriteria untuk menentukan pendapat mana yang benar.
The most accurate and correct opinion or thought will doubtless lead to the most effective course of action in resolving an issue. And the accuracy or correctness of any thought or opinion will depend solely upon the strength of evidence that supports the thought or opinion. Therefore, no idea, opinion, rule or thought should be taken without its daleel (evidence). The process of adopting opinions or thoughts should not be done out of convenience or fascination (either with the opinion itself or with the one who carries it). No one should adopt any thought or opinion on the basis of personal benefit, emotion, reaction, or imitation. Ultimately, the daleel is the sole criterion for determining which opinion is correct.
Alasan menjadikan dalil sebagai satu-satunya landasan dalam mengambil pemikiran, perbuatan, pendapat, atau hukum apa pun adalah bahwa kaum Muslimin akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan mereka ketika menghadap Allah (SWT). Pertanggungjawaban ini berlangsung secara individual, di mana setiap orang hanya akan ditanya tentang perbuatannya sendiri. Orang tua, saudara kandung, keluarga, teman, syaikh, pemimpin, mas'ul, pemerintah, negara, maupun kepentingan dan keinginan pribadi, tidak akan memberi manfaat kepada seorang individu pun pada Hari Kiamat.