Faktor-Faktor yang Menyebabkan Penyimpangan dari Cara Berpikir Islam
Factors Resulting In The Divergence From The Islamic Way Of Thinking
Baik kemunduran maupun kebangkitan merupakan hasil dari momentum intelektual yang dimulai oleh manusia. Kebangkitan diharapkan terjadi jika upaya atau momentum tersebut dibangun di atas pemikiran yang menyeluruh dan masyarakat bergerak sesuai dengannya. Sebaliknya, kemunduran diharapkan berlaku jika pemikiran yang menyeluruh ini tidak ada dan masyarakat gagal menjadikan pemikiran semacam itu sebagai kerangka acuan mereka.
Both decline and revival are products of the intellectual momentum which people initiate. The revival is expected to occur if such an effort or momentum is built upon a comprehensive thought and the people proceeded accordingly. On the contrary, the decline is expected to prevail if this comprehensive thought is absent and the people fail to consider any such thought as their frame of reference.
Oleh karena itu, setiap diskusi atau penelitian yang berkaitan dengan faktor-faktor penyebab kemunduran yang sedang dihadapi Ummat harus membahas persoalan ini. Dengan menelusuri sejarah intelektual Ummat Islam, dapat diketahui bahwa kaum Muslimin pada tiga generasi pertama menjadikan Islam sebagai satu-satunya kerangka acuan. Mereka mengambil Islam sebagaimana Nabi ﷺ memerintahkan mereka untuk mengambilnya, yaitu dengan meneliti realitas melalui proses berpikir yang mendalam dan menyeluruh. Aqidah Islam yang dibangun melalui proses intelektual ini menjadi rujukan bagi pemikiran kaum Muslimin. Aqidah ini kemudian menjadi landasan bagi para Sahabat dalam membangun pemahaman mereka tentang hukum-hukum dan sistem Islam untuk mengatur kehidupan mereka.
Therefore, any discussion or research related to the factors resulting in the current decline the Ummah is facing must address this issue. By surveying the intellectual history of the Muslim Ummah, one discovers that Muslims during the first three generations maintained Islam as the sole frame of reference. They adopted Islam the way the Prophet (saaw) instructed them to - by scrutinizing the reality through a deep and comprehensive thinking process. The Islamic Aqeedah, built through this intellectual process, became a reference for the thinking of Muslims. This Aqeedah would serve as the foundation upon which the Sahabah would build their understanding of the Islamic rules and systems to govern their lives with.
Kaum Muslimin sangat memperhatikan proses ini, dan Nabi ﷺ senantiasa mengawasi dengan saksama untuk meluruskan setiap penyimpangan dalam pendekatan ini. Beliau segera membetulkan para Sahabat dan menjelaskan setiap kesalahpahaman yang timbul, betapapun besar atau kecilnya. Misalnya, ketika Nabi ﷺ
Muslims were particularly concerned about this process, and the Prophet (saaw) kept a vigilant eye in correcting any diversion in this approach. He would immediately correct the Sahabah and censor any misunderstanding that arose, regardless of its magnitude. For example, when the Prophet (saaw)
Nabi ﷺ memberitahu para Sahabat bahwa penghuni Jannah diciptakan untuk Jannah, dan penghuni Jahannam diciptakan untuk Jahannam. Para Sahabat bertanya kepadanya, "Lalu mengapa kita harus beramal?" Nabi ﷺ menjawab mereka, "Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang ia diciptakan untuknya." Dalam peristiwa ini, Nabi ﷺ melihat adanya kekeliruan dalam cara berpikir mereka ketika para Sahabat mengaitkan amal mereka secara negatif dengan perkara gaib, dalam hal ini yang mereka anggap sebagai ilmu Allah (SWT). Nabi ﷺ segera meluruskan kesalahpahaman ini dengan menjelaskan bahwa seorang Muslim seharusnya mengaitkan amalnya dengan apa yang dapat ia pahami dan ia indra, yaitu Hukum Syar'i, bukan dengan apa yang tidak dapat ia jangkau atau pahami, yaitu perkara gaib.
told the Sahabah that the people of Jannah were created for the Jannah, and the people of Jahannam were created for Jahannam, the Sahabah asked him, "Then why would we work?" He (saaw) told them, "You should work, and each one will proceed towards what he was created for." In this incident, the Prophet (saaw) detected a problem in their thinking when the Sahabah sought to connect their actions in a negative fashion with the Ghaib, in this case what they perceived as the being the Knowledge of Allah (swt). The Prophet (saaw) immediately corrected this misunderstanding by explaining to them that the Muslim should connect his actions with what he can comprehend and perceive, which is the Hukm Sharii, rather than with what he cannot fathom or comprehend, which is the Ghaib.
Dalam peristiwa lain, gerhana terjadi setelah wafatnya Ibrahim, putra Nabi ﷺ.
In another incident, an eclipse occurred after the death of Ibrahim, the son of the Prophet (saaw).
Sebagian orang mulai keliru menghubungkan terjadinya gerhana dengan peristiwa ini. Nabi ﷺ segera meluruskan pemahaman mereka dengan menjelaskan kepada orang-orang bahwa mereka tidak boleh mengaitkan fenomena alam apa pun dengan proses kehidupan, karena tidak ada hubungan antara keduanya. Beliau bersabda kepada para Sahabat, "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda Allah, dan keduanya tidak mengalami gerhana karena kelahiran atau kematian seseorang." Proses peluruskan ini tidak hanya terjadi pada masa Nabi ﷺ, tetapi juga berlanjut pada masa para Sahabat. Diriwayatkan bahwa Abu Bakr meluruskan orang-orang ketika mereka keliru memahami ayat berikut:
Some people began to mistakenly connect the occurrence of the eclipse to this incident. The Prophet (saaw) immediately corrected their understanding by explaining to the people that they should not connect any natural phenomenon with the process of life and because there is no relationship between the two. He told the Sahabah, "Both the sun and the moon are signs of Allah, and they do not have their eclipse due to the birth or death of any individual." This correction process did not just happen during the time of the Prophet (saaw) but also continued during the Era of the Sahabah. It was reported that Abu Bakr corrected the people when they incorrectly understood the following ayah:
"Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu. Jika kamu mendapat petunjuk, orang yang sesat tidak akan memberi mudarat kepadamu. Kepada Allah-lah kembali kamu semua." [TMQ 5:105].
"O You who believe. Guard your own selves. If you follow guidance, no harm can come to you from those who go astray. The return of all of you is to Allah." [TMQ 5:105].
Sebagian orang keliru memahami ayat ini dan mengklaim bahwa seorang Muslim hanya perlu memperhatikan dirinya sendiri dan tidak perlu peduli terhadap orang lain. Abu Bakr menjelaskan kepada mereka bahwa ayat tersebut bukanlah isyarat untuk berhenti menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran (Amr bil-Ma'ruf wa nahy anil-Munkar). Sebaliknya, ayat itu memerintahkan kaum Muslimin agar tidak mengikuti orang-orang yang melakukan kesalahan. Ayat itu selanjutnya menyebutkan bahwa kesalahan yang dilakukan oleh orang-orang tersebut tidak akan membahayakan kaum Muslimin kecuali jika mereka mengikuti dan melakukan kesalahan yang sama. Setelah menjelaskan makna ayat yang benar, Abu Bakr juga mengutip sebuah hadis di mana Nabi ﷺ bersabda:
Some people misunderstood this ayah to claim that a Muslim should care only for himself and not have any concern for others. Abu Bakr explained to them that the ayah is not an indication to stop enjoining the good and forbidding the evil (Amr bil-Ma'ruf wa nahy anil-Munkar). Instead, the ayah is ordering the Muslims not to follow such persons who commit mistakes. The ayah further mentions that the mistakes committed by such individuals will not harm the Muslims unless they follow them and commit the same mistakes. Abu Bakr, after explaining the ayah's correct meaning, also quoted a hadith in which the Prophet (saaw) said:
"Kalian tetap harus melaksanakan amar ma'ruf dan nahi mungkar, dan tetap meminta pertanggungjawaban dari orang zalim serta memaksanya untuk menghentikan kezalimannya. Jika tidak, Allah akan mendatangkan azab, dan kalian berdoa kepada Allah namun doa kalian tidak akan dikabulkan." Dalam peristiwa lain, Umar ibn al-Khattab sedang membaca ayat:
"You will continue performing Amr bil- Ma'ruf wa nahy anil-Munkar, and you will continue to hold the oppressor accountable and force him to cease his oppression. Otherwise, Allah will send a punishment, and you will make Du'a to Allah but your Du'a will not be answered." In another incident, Umar ibn al Khattab was reciting the ayah:
"dan buah-buahan dan rumput-rumputan." [TMQ 80:31] Seorang sahabat bertanya kepadanya, "Apa yang dimaksud dengan 'abba' ini?" Umar menyadari bahwa ia bertanya tentang sesuatu yang berkaitan dengan perkara gaib, lalu memerintahkannya untuk tidak melakukan hal itu dan cukup puas dengan makna umum ayat yang menggambarkan nikmat-nikmat Jannah. Selain itu, Umar menyadari bahwa makna umum teks tersebut sudah jelas dan dapat dipahami tanpa harus mengetahui arti kata "abba." Contoh lain yang menggambarkan proses koreksi ini terjadi ketika kaum Muslimin menghadapi Romawi dalam Perang Yarmuk. Seorang Muslim yang merasa kewalahan menghadapi jumlah tentara Romawi berkata, "Orang Arab terlalu sedikit dan orang Romawi terlalu banyak. Alangkah hebatnya orang Romawi dan alangkah kecilnya orang Arab." Khalid bin al-Walid menjawab, "Seharusnya kamu berkata, 'Alangkah hebatnya kaum Muslimin dan alangkah kecilnya orang Romawi,' karena prajurit akan menjadi hebat dengan kemenangan dan akan menjadi kecil dengan kekalahan." Dalam peristiwa ini, Khalid meluruskan seluruh kriteria keseimbangan kekuatan antara pasukan, dan menjelaskan kepada orang tersebut bahwa ukuran kebesaran sebuah pasukan seharusnya didasarkan pada kemenangannya, bukan pada jumlahnya.
"and fruits and abba." [TMQ 80:31] A sahabi asked him, "What is this 'abba'?" Umar noticed that he was asking about something related to the Ghaib and instructed him not to do so and to be content with the ayah's general meaning of describing the bounties of the Jannah. Also, Umar realized that the general meaning of the text is clear and can be understood without understanding the meaning of the word "abba." Another example which illustrates this corrective process occurred when the Muslims faced the Romans in the Battle of Yarmuk. A Muslim who was overwhelmed by the numbers of the Roman Army stated, "Arabs are too little and Romans are too many. How great the Romans are and how little the Arabs are." Khalid ibn al-Walid replied, "You should say, 'How great Muslims are and how little the Romans are,' since the soldiers will be great by the victory and will be little by the defeat." In this incident, Khalid corrected the entire criteria of the balance of power between armies, and explained to that individual that the measure of an army's greatness should be based on its victories and not on its size.
Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ serta para Sahabat sesudah beliau sangat memperhatikan proses berpikir. Mereka meluruskan kesalahpahaman terhadap suatu konsep, di samping membenarkan cara berpikir siapa pun yang perlu diluruskan. Oleh karena itu, kaum Muslimin senantiasa berupaya menghilangkan setiap gagasan asing dari Islam demi menjaga pemahaman Islam yang benar dan menutup kemungkinan munculnya penyimpangan. Kaum Muslimin sangat cermat dalam menjaga sudut pandang mereka terhadap kehidupan, di samping memelihara pemahaman mereka tentang Aqidah, pemikiran dan hukum-hukum Islam, serta mekanisme yang melaluinya mereka memahami Islam.
These examples illustrate that the Prophet (saaw) as well as the Sahabah after him were very concerned about the thinking process. They would correct the misunderstanding of a certain concept in addition to addressing the way of thinking of anyone whom they needed correction. Therefore, Muslims always strove to eliminate any alien idea from Islam in order to preserve the correct understanding of Islam and eliminate the possibility of any divergence emerging. Muslims paid careful attention towards maintaining their point of view towards the life in addition to preserving their understanding of the Aqeedah, the Islamic thoughts and rules, and the mechanism through which they understood Islam.
Namun, pada generasi ketiga, pola-pola penyimpangan mulai muncul dalam pemikiran sebagian kaum Muslimin ketika mereka memasukkan sejumlah gagasan asing ke dalam pemikiran mereka. Akibatnya, pemahaman Islam di kalangan kaum Muslimin secara bertahap menurun. Padahal kaum Muslimin diharapkan mempertahankan tingkat pemahaman yang tinggi, namun mereka gagal melakukannya sebagai akibat dari akumulasi beberapa faktor. Tiga faktor paling signifikan yang berkontribusi terhadap kemunduran pemikiran di kalangan kaum Muslimin adalah: Filsafat Yunani, filsafat Timur atau Oriental, dan invasi intelektual Barat yang baru-baru ini terjadi.
However, by the third generation, patterns of divergence began to appear in the thinking of some Muslims when they incorporated some alien ideas into their thinking. Consequently, the understanding of Islam among Muslims gradually deteriorated. Even though Muslims are expected to maintain a high level of understanding, they failed to do so as a result of an accumulation of several factors. The three most significant factors which contributed to the decline of the thinking among Muslims were: Greek Philosophy, the Oriental or Eastern Philosophies, and the recent Western intellectual invasion.
Filsafat Yunani
Greek Philosophy
Filsafat Yunani dapat dianggap sebagai suatu pandangan hidup yang khas, karena ia memiliki akidah serta pemikiran-pemikiran dasar tertentu, yang semuanya melahirkan cara berpikir yang unik dan berlandaskan logika.
Greek philosophy can be considered a specific outlook toward life since it has an Aqeedah as well as certain key fundamental thoughts, all of which produce a unique way of thinking based upon logic.
Falsafah ini sampai kepada kaum Muslim melalui dua jalur: kaum Kristen yang hidup di bawah Negara Islam, dan gerakan penerjemahan. Kaum Kristen yang diperintah oleh kaum Muslim sudah memiliki filsafat Yunani, karena Kristen telah kehilangan segala pemikiran dan konsep rasional, sehingga tidak dapat dijadikan landasan untuk membangun pemikiran yang substansial. Karena kekurangan ini, kaum Kristen mulai menoleh kepada filsafat dan logika Yunani untuk menyusun sistem pemikiran mereka. Sayangnya, sebagian kaum Muslim juga terpengaruh oleh pemikiran Yunani, lalu mereka mulai mempelajari filsafat Yunani dengan anggapan bahwa dengan demikian mereka dapat menghadapi kaum Kristen secara intelektual dengan perangkat yang sama.
This philosophy was exposed to Muslims through two channels: The Christians living under the Islamic State, and the Translation movement. The Christians who were ruled by Muslims were already equipped with the Greek philosophy because Christianity became devoid of any rational thoughts and concepts and, therefore, could not be considered as an basis for building any substantial thoughts upon. Due to this deficiency, the Christians began to look towards Greek philosophy and logic in order to their system of thoughts. Unfortunately, some Muslims were influenced by the Greek thoughts as well, and they began studying Greek philosophy, thinking that doing so would enable them to intellectually face the Christians with the same tools.
Mereka tidak menyadari bahwa menyelami filsafat Yunani akan membuat mereka terpengaruh olehnya.
They failed to realize that delving into Greek philosophy would lead them to be influenced by it.
Kaum Muslimin tidak memahami bahwa setiap cara berpikir ditentukan oleh akidah yang khas, sehingga pada akhirnya orang yang mengadopsi suatu cara berpikir akan terpengaruh oleh akidah yang membentuk cara berpikir tersebut.
The Muslims did not understand that any way of thinking is defined by a unique Aqeedah, which will result in the person adopting any way of thinking to ultimately be influence by the Aqeedah which shaped such a way of thinking.
Contoh yang menggambarkan bagaimana kaum Muslim mengandalkan filsafat Yunani untuk memperkuat argumen mereka adalah ketika orang-orang Kristen menyatakan bahwa Kristus adalah Kalimat Allah yang diberikan kepada Maryam. Menurut argumen mereka, karena kalimat itu merupakan salah satu Sifat Allah, maka ia bersifat kekal, sebab setiap kata sifat yang menerangkan sesuatu terkait dengan objek yang diterangkannya. Dan karena objek dalam hal ini adalah Allah, Yang Maha Kekal, maka setiap sifat yang berhubungan dengan Allah juga bersifat kekal. Kesimpulan yang ditarik orang-orang Kristen dari logika ini adalah bahwa Kristus itu kekal dan tidak diciptakan. Untuk mendukung klaim mereka, mereka mengutip ayat berikut dari Alkitab: "Pada mulanya adalah Firman, dan Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah." Sebagian kaum Muslim, seperti kaum Mu'tazilah, berpendapat bahwa metode terbaik untuk membantah argumen Kristen adalah dengan menyatakan bahwa Al-Qur'an itu makhluk. Menurut mereka, jika dikatakan bahwa Al-Qur'an, yang merupakan Kalam Allah, itu makhluk, maka akan berkonsekuensi pada kesimpulan bahwa Kristus juga makhluk, dengan dasar bahwa Kristus juga merupakan Kalimat Allah. Akibatnya, seluruh pembahasan konsep tentang Sifat-sifat Allah dipengaruhi oleh pendekatan ini. Kaum Mu'tazilah menyatakan bahwa tidak ada perbedaan antara Sifat-sifat Allah dan Dzat-Nya, dan keduanya adalah satu dan sama. Mereka menyebarkan gagasan bahwa sifat-sifat yang melekat pada Dzat Allah tidak terpisah dari Dzat-Nya. Menurut mereka, jika Sifat-sifat Allah yang kekal dipisahkan dari Dzat-Nya, hal itu akan berakibat pada adanya beberapa hal yang kekal, dan hal ini akan membenarkan adanya konsep Trinitas.
Filsafat Timur
Eastern Philosophies
Dua di antara filsafat Timur yang paling berpengaruh bagi kaum Muslim adalah filsafat India dan filsafat Persia. Banyak orang Persia dan Hindu yang menjadi Muslim, namun mereka berupaya mendamaikan pemikiran lama mereka dengan pemikiran Islam baru yang mereka anut. Pada akhirnya, banyak filsafat dan karya sastra mereka diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, dan akibatnya, banyak konsep mereka, seperti Brahmanisme, Dualisme, dan ajaran Mazdak, tersebar di kalangan kaum Muslim. Zanadiqah (kaum ahli bid'ah)
Two of the most significant Eastern philosophies that influenced Muslims were the Indian and the Persian philosophies. Many Persians and Hindus became Muslims, but they attempted to reconcile between their old thoughts and the new Islamic thoughts they adopted. Eventually, many of their philosophies and literature was translated into Arabic, and as a result, many of their concepts, such as Brahmanism, Dualism, and the ideas of Mazdak, spread among Muslims. Heretics (Zanadiqah)
muncul untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam, sebagian menyebarkan ajaran komunis Mazduk,² sementara yang lain mempromosikan Brahmanisme,³ yang berakar pada gagasan menyiksa tubuh demi meninggikan aspek spiritual. Selain individu, muncul pula kelompok-kelompok sekte secara utuh yang landasan dan strukturnya melampaui batas-batas Islam, di antaranya Karamitah dan Hashashin (Assassin).
emerged for the first time in Muslim history, some propagating the Communistic teachings of Mazduk,2 while others promoting Brahmanism,3 which is rooted in the notion of torturing the body in order to elevate the spiritual aspect. In addition to individuals, entire sects whose foundation and structure exceeded the boundaries of Islam emerged, among them the Karamitah and Hashashin (Assassins).
Penyebaran tasawuf yang pesat di kalangan umat Islam merupakan salah satu hasil yang paling nyata dari filsafat-filsafat Timur. Tasawuf bermula sebagai seruan kepada kaum Muslimin untuk melepaskan diri dari urusan-urusan duniawi, seperti urusan keuangan dan politik serta kenikmatan-kenikmatan materi, dan memusatkan perhatian semata-mata pada Akhirat.
The rapid spread of Sufism among Muslims was one of the most evident products of the Eastern philosophies. Sufism began as a call for Muslims to detach themselves from the worldly issues, such as financial and political affairs and material enjoyments, and to focus solely on the Hereafter.
Namun kemudian tasawuf memasukkan banyak gagasan asing seperti Brahmanisme, Inkarnasi, dan Dualisme. Sejak itu, tasawuf berkembang dari seruan untuk melepaskan diri dari urusan kehidupan duniawi menjadi filsafat menyeluruh dengan gagasan, simbol, cara berpikir, tatanan, literatur, dan puisinya sendiri. Pemikiran sufi menjadi terkenal karena penggunaan simbol-simbol khas dan gaya komunikasi yang tidak dapat dipahami oleh siapa pun kecuali para sufi itu sendiri. Misalnya, para sufi mengklaim bahwa setiap ayat atau hadis memiliki dua makna: makna yang dipahami oleh orang awam (makna lahir), dan makna batin (tersembunyi), yang hanya dapat dipahami oleh mereka. Mereka membenarkan pendirian ini dengan alasan bahwa segala sesuatu tersingkap bagi mereka sebagai hasil dari praktik-praktik tertentu dan amal ibadah yang mereka lakukan. Berikut ini beberapa contoh ayat beserta makna batin yang dikaitkan para sufi kepadanya: Allah (SWT) berfirman, "Dia membiarkan dua laut mengalir yang keduanya bertemu; antara keduanya ada batas yang tidak dapat dilanggar oleh masing-masing." [QS. ] Ibnu Arabi, seorang sufi terkemuka, berkata tentang ayat ini: "Dua laut (laut asin dan laut tawar) masing-masing merujuk kepada tubuh jasmani dan roh, dan keduanya bertemu dalam eksistensi manusia."
Invasi Intelektual Barat
The Western Intellectual Invasion
Ketika kaum Muslimin mengalami kemunduran intelektual, Eropa mulai muncul sebagai kekuatan intelektual baru di dunia. Pada masa ini, Eropa mengalami Renaisans, yang menghasilkan munculnya Kapitalisme sebagai ideologi baru. Ideologi Kapitalis berlandaskan pada akidah Sekuler yang mengatur hubungan antara Gereja dan Negara. Para pemikir seperti Hobbes dan Rousseau mulai menyebarkan konsep-konsep yang baru muncul, yaitu Demokrasi, Kebebasan, Individualisme, dan Liberti. Berjalan seiring dengan perkembangan intelektual tersebut, muncul pula cara berpikir ilmiah yang dirangkul oleh Eropa. Semua perkembangan intelektual ini mengantarkan Eropa memasuki Revolusi Industri. Dengan munculnya ideologi Kapitalis dan Revolusi Industri, Barat tampil sebagai kekuatan intelektual dan material baru di dunia.
While Muslims were experiencing a state of intellectual decline, Europe began to emerge as a new intellectual power in the world. During this time, Europe experienced the Renaissance, which resulted in the emergence of Capitalism as a new ideology. The Capitalist ideology had as its foundation the Secular creed which defined the relationship between Church and State. Thinkers such as Hobbs and Rosseau began propagating the newly-emerging concepts of Democracy, Freedom, Individualism, and Liberty. Parallel to the intellectual development was the emergence of the scientific way of thinking, which Europe embraced. All of these intellectual developments ushered Europe into the Industrial Revolution. With the emergence of the Capitalist ideology and the Industrial Revolution, the West emerged as a new intellectual and material force in the world.
Kaum Muslimin, yang puas dengan keunggulan militer mereka, entah tidak menyadari atau lalai terhadap perubahan besar yang sedang terjadi di hampir seluruh Eropa. Kepuasan ini semakin diperkuat oleh keyakinan mereka bahwa Islam tidak dapat ditaklukkan, oleh sejarah panjang Negara Islam yang menikmati posisi sebagai Negara Pertama di dunia selama seribu tahun, serta oleh kemampuan mereka mengalahkan baik Tentara Salib maupun bangsa Mongol. Perasaan puas ini makin bertambah dengan kenyataan bahwa kaum Muslimin mampu menyapu wilayah Eropa, hingga akhirnya mencapai Prancis Tengah dan Wina.
Muslims, content with their military superiority, were either unaware or heedless of the sweeping changes which were occurring throughout most of Europe. This contentment was further strengthened by their belief that Islam could not be conquered, the long history the Islamic State enjoyed as the First State in the world for a millennium, and their ability to defeat both the Crusaders and the Moguls. Further adding to this feeling of contentment was the fact that the Muslims were able to sweep across Europe, ultimately reaching Central France and Vienna.
Meskipun Negara Utsmani adalah raksasa militer, pengaruh politik dan intelektualnya sangat kecil. Secara politik dan intelektual, kaum Muslimin mengalami kemunduran akibat terkumpulnya beberapa faktor internal, dan kemerosotan ini menjadi semakin meluas dan nyata pada masa Negara Utsmani. Kaum Muslimin dalam kondisi kemunduran ini tidak siap menghadapi perubahan mendadak yang melanda Eropa, sehingga kemajuan yang dicapai Eropa menjadi kejutan bagi kaum Muslimin yang membuat mereka terkejut. Jika kaum Muslimin sebelumnya terus-menerus memperluas wilayah kekuasaannya ke negeri-negeri baru, kaum Muslimin pada masa Negara Utsmani justru menyaksikan bangsa-bangsa Eropa, khususnya Spanyol, Portugal, Belanda, Inggris, dan Prancis, menjajah negeri-negeri Muslim di berbagai kawasan. Dahulu, orang-orang Eropa terpaksa melintasi dunia Islam untuk berdagang dengan bangsa-bangsa dan wilayah lain di daerah terpencil seperti Tiongkok. Namun, dengan ditemukannya jalur perdagangan baru oleh Vasco da Gama, Magellan, Columbus, dan lainnya, Eropa tidak lagi bergantung semata-mata kepada kaum Muslimin dalam hal ini.
1 Allah (SWT) berfirman:
1 Allah (swt) says:
Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka jadilah ia. [TMQ 36:82].
"Verily, His Command, when He intends a thing, is only that He says to that thing, 'Be,' and it is."[TMQ 36:82].
Mazduk adalah seorang imam tinggi Zoroastrian di Persia pada abad ke-5 yang juga terkenal sebagai seorang filsuf Zoroastrian.
2 Mazduk was a Zorastrian high priest in 5th century Persia who was also well-known as a Zorastrian philosopher.
Brahmanisme berpendapat bahwa manusia tersusun dari dua unsur yang saling bertentangan: unsur materi dan unsur spiritual.
3 Brahmanism claims that man is composed of two antagonistic elements: The material and spiritual components.
Karena keduanya saling bertentangan, seseorang harus merampas dirinya sendiri secara materi demi meninggikan dirinya secara spiritual, hingga mencapai keadaan kesempurnaan spiritual yang oleh para pengikutnya disebut keadaan "Nirwana." 4 Inggris sangat bersemangat merekrut para ulama untuk melaksanakan rencana-rencananya terhadap dunia Islam. Contoh kedekatan Inggris dengan para ulama semacam itu adalah ketika Khalifah meminta kehadiran Muhammad ﷺ Abduh di Istanbul.
Because they are antagonistic, one would have to deprive himself materially in order to elevate himself spiritually, until reaching a state of spiritual perfection which its adherents termed the state of "Nirvana." 4 The British were keen in recruiting scholars in order to carry out their plans for the Muslim world. An example of Britain's close ties with such scholars is when the Khalifah requested Muhammad Abdu's presence in Istanbul.
Muhammad Abduh, yang khawatir akan keselamatan dirinya, pergi ke Istanbul dan tinggal sebagai tamu Konsulat Inggris, yang memberikan tekanan cukup besar kepada Khalifah agar menjamin keselamatan Abduh.
Muhammad Abdu, fearful for his security, traveled to Istanbul and resided as a guest of the British Consulate, which exerted considerable pressure upon the Khalifah to secure Abdu's safety.
5 Perdebatan dalam aspek ini tidak ada kaitannya dengan apakah perkara yang hendak diadopsi (atau ditolak) itu sesuai dengan Islam, atau menyerupai Islam. Kaum Muslimin diperintahkan untuk mengadopsi, mematuhi, dan berpegang hanya pada hukum-hukum Syar'i yang diambil dari nash Islam yang sahih. Jika suatu hukum tidak bersumber dari nash, meskipun tampak serupa dengan Islam, maka hukum tersebut tidak boleh diambil. Kaum Muslimin dilarang mengadopsi perundang-undangan kufur apa pun, sekalipun perundang-undangan tersebut tidak bertentangan dengan Islam pada suatu titik tertentu.