Setiap bangsa yang maju dan mengadopsi ideologinya secara intelektual akan membentuk kesadaran publik, yang berarti pandangan masyarakat terhadap isu dan persoalan besar akan menyatu. Kesadaran publik yang menyatu ini terwujud ketika sudut pandang terhadap manusia, kehidupan, dan alam semesta konsisten serta dibangun di atas keyakinan mendasar yang dicapai secara intelektual.
Any progressing nation which adopts its ideology in an intellectual way will form a public awareness, which means that the public’s outlook towards the major issues and problems will be unified. This unified public awareness materializes when the point of view towards man, life, and the universe, is consistent and is built upon a fundamental conviction that is arrived at intellectually.
Tanpa kesadaran publik semacam itu atau pandangan hidup yang menyatu, Ummat akan kehilangan kesatuan intelektualnya dan, akibatnya, akan berada di bawah pengaruh banyak pemikiran dan emosi yang saling bertentangan.
Without such public awareness or a unified outlook toward life, the Ummah will lose its intellectual unity, and, as a result, will come under the influence of many conflicting thoughts and emotions.
Meskipun dihadapkan pada satu kasus atau persoalan, cara pandang terhadapnya akan berbeda-beda, dan upaya untuk menanganinya pun akan terpecah-pecah. Dengan demikian, apa pun yang dibangun atau dicapai suatu kelompok dapat dihancurkan oleh tindakan kelompok lain. Pada akhirnya, permusuhan akan menyebar, yang akan melenyapkan setiap upaya untuk mewujudkan satu kesatuan. Allah (SWT) telah memperingatkan kaum Muslimin tentang perselisihan semacam itu ketika Dia berfirman:
Even when presented with one case or issue, its perception will vary, and the efforts to deal with this case will be scattered. Thus, what any group may build or achieve may be destroyed by the function of another group. At the end, animosity will spread, which will dissolve any attempt to establish a unified entity. Allah (swt) warned the Muslims about such a dispute when He said:
"Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu gentar dan hilang kekuatanmu, dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." [TMQ 8:46] Selanjutnya, Allah (SWT) menyatakan bahwa persatuan Fikr yang menyatukan hati merupakan salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan kepada kaum Muslimin:
"And obey Allah and His Messenger, and do not dispute (with one another) lest you lose courage and your strength departs, and be patient. Surely, Allah is with those who are patient." [TMQ 8:46] Furthermore, Allah (swt) states that the unity of the Fikr that unifies the hearts is one of the greatest favors that Allah gave to the Muslims:
"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (pada masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kamu, lalu menjadikan kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya." [TMQ 3:103] Namun, kaum Muslim kehilangan kesadaran publik mereka, kehilangan pandangan yang menyatukan mereka, dan menjadi dikuasai oleh berbagai pandangan yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pola pikir Islam dan kegagalan dalam menerapkan Islam secara benar, serta karena upaya para penjajah dan alat-alat mereka dalam menyebarkan budaya Barat. Dewasa ini, ada Muslim Kapitalis yang menyerukan, baik dengan sengaja maupun tidak, pemisahan agama dari kehidupan publik. Demikian pula terdapat Muslim Komunis, Muslim Nasionalis, Muslim Sosialis, Muslim yang hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri, Muslim Pragmatis, Muslim yang membenarkan tindakan para penguasa, dan Muslim yang acuh tak acuh, masing-masing dengan sudut pandang yang berbeda. Jika mereka bertemu untuk mendiskusikan suatu persoalan, mereka segera berselisih satu sama lain, dan diskusi itu akan berujung pada situasi di mana masing-masing pihak saling melontarkan hinaan atau saling memberi julukan yang merendahkan, lalu berpisah dengan permusuhan satu sama lain. Akibatnya, masyarakat di dunia Islam hidup dalam kubu-kubu yang berbeda, masing-masing dengan pandangan atau sudut pandang khasnya sendiri. Setiap kubu mengisolasi diri dari yang lain, dan hanya bertemu untuk memperoleh kepentingan tertentu, sebagai formalitas, atau untuk saling bertentangan.
"And hold fast, all of you together, to the Rope of Allah (the Qur’an) and be not divided among yourselves. And remember Allah’s Favor on you, for you were enemies to one another, but He joined your hearts together so that, by His Grace, you became brethren (in Islam), and you were on the brink of a pit of fire, and He saved you from it." [TMQ 3:103] However, Muslims lost their public awareness and lost their unified outlook and became controlled by different outlooks. This is because of the lack of the Islamic way of thinking and because of the failure to adopt Islam in its correct way, as well as because of the efforts of the Colonialists and their tools in propagating the Western culture. Nowadays, there are Capitalist Muslims who call, intentionally or unintentionally, for the separation of Deen from the public life. Similarly, there exist Communist Muslims, Nationalist Muslims, Socialist Muslims, Muslims who are concerned solely about their interests, Pragmatic Muslims, Muslims who justify the acts of the rulers, and careless Muslims, each one having a distinct point of view. If they meet to discuss any issue, they will immediately differ with each other, and the discussion will either escalate to a level where each side will hurl insults at one another or label each other with derogatory names and depart with animosity towards each other. As a result, societies in the Muslim world live in different camps, each one of them having their own distinct outlook or point of view. And each camp isolates itself from the others, meeting only to acquire a specific interest or as a formality or to clash with one another.
Perpecahan intelektual adalah bencana terburuk yang menimpa umat. Kaum Muslimin dewasa ini mendekati setiap persoalan, bahkan persoalan-persoalan kritis atau yang sudah jelas dan tidak menyisakan ruang bagi perbedaan pemahaman, dari sudut pandang yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang unik setiap individu.
The intellectual division is the worst disaster that struck the Ummah. Muslims today approach any issue, even critical or clear-cut issues that leave no room for divergent understandings, from a distinct angle according to each individual’s unique point of view.
Misalnya, persoalan persatuan dan langkah-langkah spesifik menuju tujuan ini sebenarnya jelas dan terdefinisi dengan baik. Namun, banyaknya pendapat yang terserak dan pemahaman yang berbeda mengenai persoalan ini mencerminkan terpecahnya opini publik di tengah Ummah. Sebagian orang menyikapi persoalan ini dengan sembrono, atau karena tidak peduli dan apatis, bahkan tidak menganggapnya sebagai persoalan sama sekali. Sebagian lain menyikapinya dengan antusiasme besar, tetapi jika antusiasme mereka diperiksa dengan cermat, akan tampak bahwa ia semata-mata didasarkan pada slogan tanpa landasan intelektual. Seseorang akan mendapati kaum Nasionalis Sosial menyerukan persatuan berdasarkan Sosialisme, dan kaum Nasionalis Sekuler menyerukan persatuan berdasarkan pemisahan Deen dari kehidupan publik. Juga, seseorang akan melihat kaum Nasionalis Islamis menyerukan agar setiap negara bersatu berdasarkan Islam namun terpisah dari negara-negara lain, dengan alasan bahwa setiap negara memiliki keadaan khusus tersendiri. Dan kaum Ultra-nasionalis menolak persatuan secara mutlak karena memandangnya sebagai ancaman bagi kedaulatan tanah airnya sendiri. Ada pula orang-orang yang menyerukan persatuan untuk tiap kawasan, seperti Afrika Utara, Semenanjung Arab, Anak Benua India, dan wilayah Turki. Dengan demikian, kaum Muslimin bahkan tidak sepakat mengenai cakupan persatuan, apalagi mengenai langkah-langkah untuk mencapainya.
For example, the issue of unity, and the specific steps towards this objective, are clear-cut and well defined. Yet the multitude of scattered opinions and divergent understandings regarding this issue reflects the fractured public opinion of the Ummah. Some would approach this issue carelessly or, out of lack of concern or apathy, would not even consider it an issue. Others would approach the issue with great enthusiasm, but carefully scrutinizing their enthusiasm will reveal that it is based purely on slogans without any intellectual basis. One will find the Social Nationalists calling for unity based on Socialism, and the Secular Nationalists calling for unity based on the separation of the Deen from the public life. Also, one will see the Islamist Nationalist calling for each country to be united based on Islam but separated from the other countries, claiming that each country has its own unique circumstances. And the Ultra-nationalist would reject the unity outright because he views it as a threat to the sovereignty of his own homeland. And there are people who call for unity for each region, such as North Africa, the Arabian Peninsula, Subcontinent, and the Turkish Regions. Thus, the Muslims cannot even agree as to the scope of unity, let alone what steps to take towards achieving it.
Bahkan mengenai hakikat persatuan itu sendiri pun terdapat perbedaan. Sebagian orang mendefinisikan persatuan sebagai kerja sama antara berbagai pemerintahan dalam beberapa urusan, seperti penghapusan visa atau pembebasan bea cukai. Sebagian lain menyerukan pembentukan liga di antara rakyat sambil mempertahankan entitas-entitas politik sebagaimana adanya. Yang lain menyerukan konfederasi atau federasi, dan yang lainnya lagi menyerukan persatuan total. Sebagian menyerukan semacam integrasi ekonomi yang berpusat pada pembentukan pasar bersama, sementara yang lain hanya menyerukan persatuan dalam kebijakan luar negeri melalui organisasi-organisasi politik seperti Liga Arab. Ironisnya, setiap kelompok berbicara tentang persatuan, tetapi ketika mereka saling berhadapan, mereka segera berpencar dan tidak mencapai apa pun.
Even regarding the nature of unity itself, there are differences. Some define unity as cooperation between the different governments on some issues, such as canceling the visas or lifting customs dues. Some would call to establish a league among the people while maintaining the political entities as they are. Others would call for a confederation or a federation, and still others would call for a total unity. Some would call for some sort of economic integration centered around establishing common markets, while others would call for unity only in the foreign policy through political organizations such as the Arab League. Ironically each camp would speak about unity, but with each other, they will immediately disperse and achieve nothing.
Semua perbedaan ini ada hanya dalam hal tujuan persatuan. Dalam hal metodologi, perbedaannya jauh lebih parah. Kaum Pragmatis akan membiarkan metode ditentukan oleh situasi. Kaum Gradualis menyerukan agar negara-negara bersepakat pada tingkat persatuan minimum sebagai langkah pertama sambil berupaya menuju tahap berikutnya. Ada pula kalangan pejabat yang menginginkan para penguasa yang menentukan metodologinya, serta kaum revolusioner yang ingin mencapai persatuan melalui revolusi massa. Sebagian lain menyerukan aneksasi, bahkan jika dilakukan dengan paksaan. Perbedaan-perbedaan ini terdapat dalam setiap kubu yang menyerukan persatuan. Hanya di dalam kubu Nasionalis saja sudah terdapat kaum revolusioner, gradualis, pragmatis, dan lainnya.
All of these differences exist regarding the objective of unity alone. Regarding the methodology, the differences are much worse. The Pragmatists will leave the method to the situation to determine. The Gradualists would call for the states to agree on the minimum level of unity as a first step while working for the next stage. One will see the officials who want the rulers to decide upon the methodology as well as revolutionaries who want to reach the unity based on mass revolution. And some will call for annexation, even if done by force. These fferences exist in each camp that call for the unity. In the Nationalist camp alone, there exist revolutionaries, gradualists, pragmatists, and others.
Semua perbedaan ini ada dalam konsep persatuan secara umum. Jika diteliti lebih rinci, akan tampak perbedaan yang lebih banyak lagi. Yang memperparah masalah adalah adanya sebagian orang yang tidak serius dalam pembahasan, dan hanya membahas untuk melampiaskan emosi mereka. Selain orang-orang seperti itu, ada pula pihak lain yang terkait dengan kaum Imperialis, baik secara langsung dengan berkoordinasi bersama mereka, maupun secara tidak langsung dengan bertindak dengan cara yang melayani agenda mereka. Golongan pertama dengan sengaja bekerja sama dengan kaum Imperialis untuk menentang segala gagasan tentang persatuan yang benar, sedangkan golongan kedua tanpa disadari menyeret Ummah ke dalam konflik dan peristiwa berulang yang melayani agenda pihak lain dengan mengorbankan sumber daya Ummah.
All of these differences exist regarding the concept of unity in the general sense. Examining the details will reveal even further differences. What exasperates the problem are the existence of some who are not serious in their discussion and discuss simply to discharge their emotions. And in addition to such individuals, there exist others who are connected to the Imperialists, either directly by coordinating with them or indirectly by acting in a manner that serves their agenda.6 The former would deliberately collaborate with the Imperialists in working against any notion of correct unity, while the latter would unknowingly draw the Ummah into repeated conflicts and events that would serve the agenda of others at the expense of the Ummah’s resources.
Situasi seperti ini sejalan dengan hadis ketika Nabi ﷺ menggambarkan keadaan kaum Muslimin pada masa kini: "Pada hari itu, kalian banyak jumlahnya, tetapi kalian seperti buih." Meskipun jumlah dan sumber daya mereka sangat besar, umat Islam tidak memiliki nilai apa pun tanpa kesadaran publik yang bersatu atau pandangan hidup yang bersatu. Sebagian orang berpendapat bahwa perbedaan yang ada merupakan fenomena yang alami dan sehat. Mereka bahkan melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa Barat maju meskipun terdapat perbedaan dalam masyarakat pluralistik mereka. Argumen ini gagal membedakan antara perbedaan dalam cara berpikir, yang akan membawa pada runtuhnya kesadaran publik dan mendatangkan malapetaka bagi bangsa mana pun termasuk Barat, dengan perbedaan yang muncul dari pemahaman atas persoalan-persoalan tertentu sambil tetap menjaga persatuan kesadaran publik, yang memang bersifat alami.
Such a situation reflects the hadith in which the Prophet (saaw) described the situation of the Muslims nowadays: "At that day, you will be great in number, but you will be like the foam." In spite of their tremendous number and resources, the Muslim Ummah has no value without any unified public awareness or unified outlook towards life. Some would claim that the differences that exist is a natural and healthy phenomenon. They will go further by claiming that the West is progressing despite the differences that exist in their pluralistic societies. This argument fails to distinguish between differences in the way of thinking, which will lead to dismantling the public awareness and spell disaster for any nation including the West, and the differences resulting from understanding certain issues while maintaining the unity of the public awareness, which is natural.
Barat telah memecahkan masalah membangun suatu kerangka berpikir yang khas setelah puluhan tahun perjuangan di Eropa. Pemisahan Negara dan Gereja, dan kemudian penerimaan Kapitalisme, menyebabkan Barat menyatukan kesadaran publik di sekitar satu pandangan hidup yang sama. Dengan demikian, muncullah cara berpikir yang khas di tengah masyarakat, dan seluruh masyarakat diatur ulang berdasarkan titik pusat ini. Bahkan perasaan dan sikap masyarakat pun berada dalam kerangka tersebut.
The West already solved the problem of building a specific frame of thinking after decades of struggle in Europe. The separation of State and Church, and the subsequent adoption of Capitalism, caused the West to unify the public awareness along a common outlook towards life. By doing so, a distinct way of thinking emerged among the people, and the entire society was reorganized based upon this focal point. Even the feelings and attitudes of the people existed within this frame.
Partai-partai politik, berbagai asosiasi seperti lembaga pemikir dan serikat buruh, serta berbagai individu seperti akademisi, jurnalis, intelektual, ahli hukum, dan bahkan sebagian ulama, semuanya hanyalah berbagai saluran untuk mengekspresikan pandangan dunia yang sama dan menyatu ini. Sifat kehidupan di bawah Kapitalisme memfasilitasi munculnya perbedaan-perbedaan pendapat ini dalam kerangka ideologi yang sama.
Political parties, different associations such as think tanks and labor unions, various individuals such as academics, journalists, intellectuals, jurists, and even some clergy, all became just different outlets of expressing this common unified outlook. The nature of life under Capitalism facilitated the creation of these differences of opinion within a common ideological framework.
Sebagian orang mungkin mengira bahwa arus-arus yang ada di Barat saling bertentangan satu sama lain, bahkan bertentangan dengan kerangka kerja yang sama ini. Namun, gerakan Sosialis atau Nasionalis yang menyerukan integrasi rakyat mereka ke dalam Uni Eropa, gerakan keagamaan yang menganut "nilai-nilai Kristen", serta kelompok ekstrem kiri dan kanan, tidak bertentangan dengan kerangka Kapitalis ini, karena semua gerakan dan arus tersebut bekerja di dalam kerangka yang ada. Misalnya, partai-partai Komunis di banyak negara Eropa menyerukan perubahan melalui pemungutan suara publik, bukan melalui perjuangan kelas sebagaimana ditetapkan oleh ideologi Komunis. Selain itu, partai-partai tersebut membentuk koalisi dan front bersama gerakan-gerakan lain sebagaimana dilakukan gerakan pragmatis mana pun. Hal yang sama berlaku bagi semua gerakan dan partai lainnya di Barat. Oleh karena itu, Barat tidak maju karena perbedaan, melainkan karena persatuan dalam cara berpikir yang merujuk pada satu sudut pandang tertentu.
Some would think that the existing currents in the West conflict with one another and even with this common framework. However, the Socialist or Nationalist movements that call for integration of their people into the European Union, religious movements who espouse "Christian values," and extreme leftist and rightists, do not conflict with this Capitalist framework because all of these movements and currents work within the existing framework. For example, the Communist parties in many European nations call for change through public votes and not through the class struggle as laid down by the Communist ideology. Furthermore, such parties establish coalitions and fronts with other movements any other pragmatic movement would. The same applies to all other movements and parties in the West. Therefore, the West is not progressing because of the differences but rather because of the unity in their way of thinking which refers to a specific point of view.
Berbeda dengan Barat, kaum Muslimin belum menuntaskan satu pun persoalan intelektual yang krusial, dan perjuangan intelektual mereka belum mencapai kesimpulan. Hingga hari ini, umat Islam sebagai satu kesatuan belum mengambil sikap terhadap persoalan-persoalan seperti: kebangkitan dan cara mencapainya; kemajuan teknologi dan cara menyikapinya, serta apakah hal itu terjadi melalui pengalihan teknologi atau melalui cara lain; persatuan dan cara membangunnya; serta prioritas umat dan dari mana harus memulai. Semua persoalan ini masih belum terselesaikan dan menggantung di hadapan kaum Muslimin, menunggu seseorang yang mau menanganinya. Meskipun sejumlah gerakan mungkin telah menyelesaikan sebagian persoalan tersebut, umat sebagai satu entitas belum menyelesaikannya. Perlu dicatat bahwa adanya kelompok-kelompok berbeda yang sampai pada kesimpulan yang berlainan dalam persoalan-persoalan ini, sementara mereka menyimpan temuan dan penelitian mereka sendiri dan melarang anggotanya berkomunikasi dengan kelompok lain karena khawatir kehilangan anggota, tidaklah cukup. Bahkan, fenomena ini tidak akan berhasil menyatukan kesadaran publik, dan justru memperparah perpecahan yang sudah ada.
Contrary to the West, the Muslims did not yet settle any critical intellectual issue, and they have not yet conclude the intellectual struggle. To this day, Muslims as an Ummah have yet to take a stand towards issues such as: The revival and how to achieve it; technological advancement and how to approach it, and whether it occurs through transferring technology or through other means; the unity nd how to build it; and the priorities of the Ummah and where to start. All of these issues remain unsettled and dangling before the Muslims waiting for someone to address them. Although some movements may have resolved such issues, the Ummah as an entity has not. It must be noted that having different groups that reach distinct conclusions in these issues while keeping their findings and research to themselves and banning the members of the group from communicating with other groups for fear of losing their members, is not enough. In fact, this phenomenon will not succeed in unifying the public awareness and actually exasperates the already-existing division.
Akibat perpecahan intelektual dalam sudut pandang hidup ini, terbuka lebar peluang bagi setiap persoalan, bahkan persoalan kecil, untuk melahirkan banyak pendapat dan pendekatan apabila dibahas di kalangan kaum Muslimin. Sebagai contoh, bahkan persoalan menghilangkan kemungkaran kecil seperti tempat minum-minuman keras akan menghasilkan beragam pendapat yang berbeda, dan terkadang saling bertentangan. Para rezim memanfaatkan keadaan ini bahkan berupaya mempertahankannya dengan menekankan perbedaan semacam ini dan memasarkannya sebagai tanda keterbukaan dan kemajuan. Mereka akan menyajikan kasus demi kasus kepada umat, satu demi satu, untuk menciptakan lebih banyak kebingungan dan memperdalam perselisihan. Untuk memperlancar proses ini, media terus-menerus menyajikan persoalan kepada publik tanpa solusi, atau paling baik dengan solusi yang saling bertentangan. Dan ketika masyarakat hampir menuntaskan satu persoalan dengan mencapai pemahaman tertentu, para rezim memunculkan persoalan baru untuk menyibukkan massa, sehingga umat tidak pernah benar-benar menuntaskan persoalan apa pun secara intelektual. Pada akhirnya, masyarakat akan terus beranggapan bahwa mereka membutuhkan penguasa ini untuk menolong mereka dan menjaga keutuhan negara, terlepas dari catatan kekejaman dan kejahatannya terhadap rakyat.
As a result of this intellectual division in the very point of view of life, the platform exists for any issue, even small issues, to result in multitudes of opinions and approaches if discussed among Muslims. For example, even the issue of removing a small munkar such as a bar will result in a vast array of diverging opinions that sometimes will conflict one another. The regimes take advantage of this situation and even work to maintain it by emphasizing this type of difference and market it as a sign of openness and progress. They would present case after case to the Ummah, one after another, to create more confusion and intensify the differences. To facilitate this process, the media keeps presenting issues to the public either without solutions or, at best, with conflicting solutions. And when the people are on the verge of settling one issue by arriving at a specific understanding towards it, the regimes present a new issue to keep the masses busy and, as a result, prevent the Ummah from ever settling any issue intellectually. At the end, the masses will keep thinking that they are in need of this ruler to help them and to maintain the integrity of the country, regardless of his record of atrocities and crimes against the people.
Oleh karena itu, kaum Muslimin harus berupaya membangun kesadaran umum yang berlandaskan Islam, dengan mengadopsi Islam secara benar sebagai cara berpikir yang khas, serta menegakkan Aqidah Islam sebagai titik acuan intelektual. Ini adalah tantangan terpenting yang dihadapi kaum Muslimin dewasa ini, karena menyatukan kesadaran umum akan menjaga keberadaan cara berpikir yang benar. Begitu kesatuan intelektual tercapai, pemikiran, agenda, dan titik acuan bagi Ummat akan menyatu, dan terwujudlah kerangka umum yang memungkinkan kaum Muslimin membahas berbagai persoalan dengan fokus dan kejelasan.
Therefore, the Muslims must work to build the public awareness based on Islam by adopting Islam in the correct manner as a distinct way of thinking and establishing the Islamic Aqeedah as the intellectual reference point. This is the most important challenge facing Muslims nowadays because unifying the public awareness will maintain the existence of the correct way of thinking. Once the intellectual unity is achieved, the thoughts, the agenda, and the reference point for the Ummah will unite, and the general frame within which the Muslims can discuss issues with focus and clarity will materialize.
Dalam kerangka ini, memiliki perbedaan pendapat dalam masalah-masalah rinci merupakan fenomena yang sehat dan akan berkontribusi pada pertumbuhan intelektual serta dinamika Ummah. Dengan demikian, jalan menuju kebangkitan akan menjadi jelas, dan Ummah akan melangkah ke arah itu dengan memanfaatkan sumber dayanya secara efektif dan terkoordinasi. Sekadar menyerukan kepada orang-orang untuk "Bersatulah," atau untuk "Koordinasikanlah upaya kalian," atau untuk "Saling membantulah dalam apa pun yang kalian sepakati," tidaklah cukup. Persatuan semacam itu tidak akan pernah terwujud kecuali pemikiran Ummah telah bersatu.
Within this frame, having different opinions in detailed issues is a healthy phenomenon that will contribute to the intellectual growth and dynamism of the Ummah. As a result, the path for the revival will be clear, and the Ummah will proceed towards it utilizing its resources in an effective and coordinated manner. Simply calling the people to "Get united," or to "Coordinate your efforts," or to "Help each other in whatever you agree upon," will not suffice. Such a unity can never materialize unless the thinking of the Ummah is united.
Pihak-pihak kolonial Barat beserta alat-alat mereka menyadari bahaya dari orang-orang yang berupaya membangun kesadaran publik Ummah, dan mereka menganggap kesadaran semacam itu lebih berbahaya daripada hal lainnya. Karena itu, banyak upaya dilakukan untuk mencegah terbentuknya kesadaran publik yang bersatu berdasarkan Islam. Upaya-upaya tersebut antara lain: melecehkan orang-orang yang bekerja untuk persatuan intelektual semacam itu dengan intimidasi, penyiksaan, dan perampasan hak-hak dasar; mengisolasi individu-individu tersebut dari Ummah dengan melarang mereka menggunakan sarana komunikasi massa apa pun, seperti televisi; berusaha mengalihkan perhatian mereka; serta menggunakan berbagai alat untuk menyerang mereka dan merusak citra mereka. Di sisi lain, setiap seruan yang membesar-besarkan perpecahan dan mendirikan penghalang antara Ummah dengan kesadaran publik yang bersatu akan didorong. Akibatnya, setiap individu yang menyerukan agar tetap bersifat umum dan menghindari pembahasan yang spesifik atau mendalam mengenai berbagai persoalan, tidak memandang sesuatu secara menyeluruh, atau tidak membahas persoalan apa pun sama sekali, maupun menghindari pendapat yang berbeda dari pendapat yang ia pegang, justru diberi sorotan untuk menyampaikan gagasan mereka. Orang-orang seperti itu bukan hanya melakukan kejahatan terhadap Ummah, tetapi juga terhadap diri mereka sendiri.
The Western Colonial powers and their tools realize the danger of those who are working to establish the public awareness of the Ummah, and they consider them more of a danger than anything else. For this reason, many attempts are made to prevent the establishment of a unified public awareness based on Islam. These efforts include: Harassing those who work for such an intellectual unity by intimidation, torture, and deprivation of basic rights; isolating such individuals from the Ummah by barring them from using any means of mass communication such as television; trying to divert them; and using some tools to attack them and to distort their image. On the other hand, any call that magnifies the division and erects barriers between the Ummah and a unified public awareness will be encouraged. As a result, any individual that calls for remaining general and avoiding specific or deep discussion regarding the issues, not looking at things comprehensively, or not discussing any issues at all, nor avoiding any opinion different than what the individual carries, are given the spotlight to present their ideas. Such individuals are not only committing a crime against the Ummah but against themselves as well.