Bagaimana Umat Islam Mempelajari Islam Saat Ini
How Muslims Study Islam Today
Dengan meneliti kondisi kaum Muslimin saat ini, terlihat bahwa kaum Muslimin memperoleh Islam melalui tiga metode utama.
Examining Muslims today shows that the Muslims acquire Islam through three principle methods
Metode Skolastik, atau Akademis
The Scholastic, Or Academic, Method
Metode ini menekankan penyampaian Islam sebagai kurikulum dalam format keilmuan, di mana informasi, bukan konsep dan pemikiran, menjadi inti materinya. Hubungan murid dan guru adalah pendekatan metode ini, dan pemberian instruksi merupakan gayanya. Jika murid lulus, ia akan menyerupai sebuah buku yang menyimpan informasi lalu memuntahkannya kembali, dan Islam baginya hanya akan berupa informasi yang didiktekan kepadanya. Orang seperti itu akan mengulang kutipan dari para ulama dan karya-karya mereka tanpa berpikir kritis atau mempertimbangkan dalil dan argumen, sebab ia memang tidak mampu melakukannya. Kemampuannya hanya terbatas pada menyampaikan kembali informasi yang diberikan kepadanya, seperti basis data yang mengunduh informasi ketika diprogram untuk melakukannya.
This method emphasizes delivering Islam as a curriculum in a scholastic format in which information, and not concepts and thoughts, is the substance. The student-teacher relationship is the approach of this method, and giving instructions constitutes its style. If the student graduates, he will resemble a book that carries information and spits it out, and Islam would consist of nothing more than information dictated to him. Such a person would repeat quotations from scholars and their works without any critical thinking or consideration to the evidences and arguments simply because he cannot do so. His capability would be confined to relaying the information that was handed to him just as a database would download information when programmed to do so.
Mempelajari Islam dengan metode yang keliru seperti ini tidak akan melahirkan pemikir yang berlandaskan Islam, dan tidak pula mujtahid. Yang dihasilkan hanyalah manusia-manusia buku yang kontribusinya terbatas pada menyalin karya orang lain dan menulis beberapa syarah atasnya. Metode semacam itu mungkin berguna dalam mempelajari disiplin yang berbasis informasi, seperti geografi atau sejarah. Namun, metode ini tidak dapat dijadikan cara untuk mempelajari akidah dan pemikiran, karena akidah Islam beserta pemikirannya harus diperoleh secara intelektual melalui proses dinamis, yaitu mengaitkan pemikiran dengan realitas hingga menjadi pemikiran yang berakar kuat, bukan sekadar informasi teoretis yang dibawa seseorang seperti kata-kata pada halaman sebuah buku.
Studying Islam in this erroneous method will produce neither a thinker based on Islam nor a mujtahid, but will produce human textbooks whom the extent of their contributions will be limited to copying the works of others and writing some commentaries on them. Such a method could be useful in studying an information-based discipline such as geography or history. However, it cannot be taken as a method of studying the Aqeedah and the thoughts because the Islamic Aqeedah and its thoughts must be acquired intellectually through a dynamic process of relating the thoughts to the situation until they become firmly-rooted thoughts and not just theoretical information carried by the person like the words on the pages of a book.
Metode Emosional
The Emotional Method
Inti dari metode ini adalah menghadirkan kisah-kisah dan dakwah melalui tokoh-tokoh Islam. Metode ini bergantung pada pendekatan emosional, bukan pada proses berpikir, untuk mendorong seseorang agar bertindak.
The essence of this method entails bringing stories and preaching Islamic personalities. It depends on the emotional approach and not the thinking process in order to push a person to function.
Karena pendekatan ini menyadari bahwa emosi, menurut sifat dasarnya, dapat lepas kendali, maka ia bergantung pada pemrograman individu dengan cara tertentu. Individu yang memperoleh Islam melalui metode ini akan mulai mempelajari bahwa disiplin dan ketaatan kepada para syaikh dan al-mas'ooleen adalah bagian dari Islam.
Because this approach realizes that emotions by their intrinsic nature can get out of control, it depends on programming the individual in a specific way. The individual who acquires Islam through this method will start learning that discipline and obedience towards the shaykhs and the mas’ooleen is a part of Islam.
Metode ini, dibandingkan dengan yang lain, tergolong baru karena dipengaruhi oleh ilmu-ilmu berbasis psikologi yang datang bersama disiplin seperti psikologi, sosiologi, dan pendidikan. Pendekatan ini tidak menjadikan manusia, kehidupan, dan alam semesta sebagai objek pemikiran dan penelitian, melainkan menempatkan jiwa manusia dan perkembangannya sebagai tujuan akhir. Ruang lingkup pemikiran dan penelitian tetap terbatas pada jiwa individu, dengan mendorong aspek-aspek positifnya dan menangani aspek-aspek negatifnya. Selain itu, pendekatan ini menghubungkan individu-individu tersebut secara emosional dengan para mas'ooleen dan para syaikh, sebagaimana seseorang terhubung dengan ayahnya atau terapisnya. Akibatnya, mereka yang memperoleh Islam dengan cara ini menjadi terikat pada tokoh-tokoh tertentu yang mereka anggap suci dan teladani tanpa berpikir.
This method is, relatively speaking, a new method because it was influenced by the psychologicalbased sciences that came with disciplines such as psychology, sociology, and education. This approach does not regard man, life and the universe as the subject of thinking and research but instead places the human psyche and its development as the ultimate objective. The scope of thinking and research remains restricted to the psyche of the individual through promoting its positive aspects and treating its negative aspects. Also, it connects such individuals with the mas’ooleen and the shaykhs emotionally in the same manner that a person is connected with his father or therapist. As a result, those who acquired Islam in this way are attached to certain personalities whom they regard as holy and follow as examples without any thinking.
Metode Sufi
The Sufi Method
Pendekatan ini dipengaruhi oleh gagasan bahwa manusia terdiri dari dua komponen, yaitu ruh dan aspek materi, yang saling bertentangan. Dengan demikian, manusia memiliki dorongan ruhani yang harus ditingkatkan, dan satu-satunya cara untuk melakukannya adalah dengan menghilangkan kebutuhan fisik tubuh. Proses ini berlanjut hingga seseorang mencapai tingkatan di mana ia menyatu dengan Tuhan dan melihat Tuhan dalam dirinya. Dari sudut pandang metode ini, Islam beserta aturan-aturannya hanyalah tanda dan simbol yang membimbing manusia dalam perjalanannya menuju Tuhan. Nilai dari aturan dan simbol ini terletak pada pemahaman makna-makna tersembunyi atau tersirat, yang oleh kaum Sufi disebut "Haqiqah" atau hakikat.
This approach is influenced by the notion that the human being consists of two components – the spirit and the material aspect – that are mutually antagonistic. Thus, the human being has a spiritual momentum that must be elevated, and the only way to do so is to deprive the body of its physical needs. This process continues until the person attains a level where he merges with God and he sees God in himself. From the vantage point of this method, Islam and its rules as mere signs and symbols guiding the person in his path towards God. The value of these rules and symbols lay in comprehending their concealed or hidden meanings, what the Sufis call the "Haqiqah" or the reality.
"Haqiqah" ini berbeda dari apa yang mereka sebut makna lahiriah, yang mereka gunakan untuk menunjuk pada syariat.
This "Haqiqah" is distinct from what they refer to as the apparent meaning, which they use to denote the Shariah.
Tasawuf menjunjung gagasan Fatalisme, yaitu bahwa segala sesuatu telah ditentukan sebelumnya dan manusia tidak memiliki kehendak sendiri. Oleh karena itu, kaum Sufi menyatakan bahwa seseorang harus pasrah pada keadaannya dan tidak dapat mengubahnya.
Sufism upholds the idea of Fatalism in which everything is predestined and man has no will of his own. Thus, the Sufis claim that a person must surrender to his situation and cannot change it.
Selain itu, tasawuf menganjurkan manusia untuk hidup menyendiri dan memberikan tafsir metafisik terhadap fenomena-fenomena alam di alam semesta. Para sufi juga menganjurkan sikap pasif, penyerahan diri secara total kepada realitas, dan sikap acuh terhadap realitas, karena menurut klaim mereka, sifat-sifat ini mencirikan orang yang menekan dirinya sendiri, hawa nafsunya, dan kecenderungan jasmaniahnya. Sifat-sifat ini diperlukan bagi orang yang ingin menyembunyikan pikirannya, karena sifat-sifat tersebut merupakan langkah pertama menuju fana dan melebur ke dalam wujud Tuhan.
Furthermore, Sufism encourages the human being to live in seclusion and give the natural phenomena in the universe a metaphysical interpretation. The Sufis also encourage passiveness, total surrender to the reality, and being careless about the reality because, according to their claim, these qualities characterize the one who suppresses himself, his desires, and his physical inclinations. These qualities are needed for the one who wants to conceal his mind because they constitute the first step towards evanescence and merging into God’s entity.