Metode Islam dalam Menuntut Ilmu
The Islamic Method Of Acquiring Knowledge
Metode yang digunakan seorang Muslim dalam memperoleh ilmu dan pemikiran sangat menentukan dampak pemikiran Islam terhadap individu. Jika metode memperoleh ilmu itu benar dan berlandaskan pada penelitian, pemikiran yang mendalam, serta analisis (sebagaimana Allah (swt) perintahkan), maka hasilnya akan efektif, dan orang tersebut akan menjadi pribadi yang berideologi, yang berpikir dengan cara yang khas. Allah (swt) memerintahkan manusia untuk memikirkan berbagai aspek ciptaan-Nya secara mendalam dan tercerahkan:
The method by which the Muslim acquires knowledge and thought is critical in determining the impact of the Islamic thoughts upon the individual. If the method of acquiring knowledge was correct and based upon research, profound thinking, and analysis (as Allah (swt) ordered) then it will produce effective results, and such a person will turn into an ideological person who thinks in a distinct manner. Allah (swt) orders the human being to think about many aspects of His Creation in a profound and enlightened manner:
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." [TMQ 3:190] "Maka tidakkah mereka memperhatikan Al-Qur'an dengan saksama? Sekiranya Al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, pastilah mereka mendapati di dalamnya banyak pertentangan." [TMQ 4:82] "Terangkanlah kepadaku! Air yang kamu minum, apakah kamu yang menurunkannya dari awan, ataukah Kami yang menurunkannya?" [TMQ 56:68-69] "Dia diciptakan dari air yang memancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada." [TMQ 86:6-7] "Maka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan?" [TMQ 88:17-20] Dalam semua ayat ini, Allah mengarahkan manusia untuk berpikir dan menganalisis agar di dalam dirinya terbangun akidah Islam melalui keyakinan yang pasti.
"Verily! In the creation of the heavens and the earth, and in the alternation of night and day, there are indeed signs for men of understanding." [TMQ 3:190] "Do they not then consider the Qur’an carefully? Had it been from other than Allah, they would surely have found within it many contradictions." [TMQ 4:82] "Tell Me! The water that you drink — is it you who causes it to come down from the rain clouds, or are We the Cause for it to come down?" [TMQ 56:68-69] "He is created from a fluid poured forth — proceeding from between the back bone and the ribs." [TMQ 86:6-7] "Do they not look at the camels, how they are created? And at the heaven, how it is raised? And at the mountains, how they are rooted and fixed firm? And at the earth, how it is spread out?" [TMQ 88:17-20] In all of these ayahs, Allah directs the human being to think and analyze in order to build the Aqeedah of Islam within him through a definite conviction.
Dengan demikian, metode yang dianjurkan Islam dalam menuntut ilmu berlandaskan akal dan mencakup berpikir, meneliti, serta menganalisis. Metode ini tidak dibangun di atas keyakinan buta, kepercayaan emosional, atau ketundukan tanpa diskusi. Metode semacam itu tidak akan melahirkan iman yang dinamis, dan tidak dapat dijadikan landasan bagi suatu pandangan hidup maupun fondasi untuk membangun pemikiran lain. Seseorang yang memeluk Islam melalui cara-cara tersebut akan tetap menjadi tawanan konsep-konsep yang ia bawa dari latar belakang sebelumnya. Meskipun orang seperti itu mungkin berpaling kepada Islam dalam lingkup yang terbatas, misalnya dalam aspek ibadahnya, ia tetap akan merujuk kepada konsep-konsep lain dalam cara berpikirnya. Ia akan terus berpindah-pindah antara iman yang dangkal, yang tidak dibangun di atas proses berpikir yang benar, dan keterlibatan dalam diskusi tanpa kerangka berpikir yang jelas, yang pada akhirnya akan membawanya menyimpang dari Islam atau bahkan tersesat sama sekali.
Thus, the method that Islam encourages in pursuing knowledge is based upon the intellect and entails thinking, research, and analysis. It is not built upon blind faith, emotional belief, or submission without any discussion. Such methods will not produce a dynamic Iman and cannot serve either as a foundation for a point of view of life or as a foundation to build other thoughts upon. A person who adopts Islam through these methods will remain a hostage to the concepts that he carried from his previous background. Although such a person may turn to Islam in a limited scope for such aspects as his ibadat, he will continue in his thinking to refer to other concepts. He will constantly shift between a superficial Iman that is not built upon a correct thinking process and indulging in discussion without a specific frame of mind, which will lead him either to diverging or straying from Islam altogether.
Dan ia tidak akan lepas dari pusaran ini kecuali dengan salah satu dari tiga cara: berkompromi antara apa yang telah ia anut dari Islam dan konsep-konsep keliru yang sudah ia miliki sebelumnya demi menjembatani kesenjangan di antara keduanya; atau memisahkan Islam dari pemikirannya dengan membatasi Islam hanya pada ritual-ritualnya dan berpikir secara sekuler atau pragmatis; atau memutuskan untuk tidak berpikir sama sekali kecuali dalam urusan mencari nafkah, demi menyelamatkan dirinya dari penyimpangan. Semua pilihan ini keliru dan, pada kenyataannya, tidak akan mengeluarkan seseorang dari pusaran ini. Pada akhirnya, siklus ini akan menguras kekuatan orang tersebut, terutama kapasitas intelektualnya. 5
And he will not escape this spiral except by either compromising between what he adopted from Islam and whatever erroneous concepts he already possesses in order to bridge the gap, or by separating Islam from his thinking by restricting Islam to his rituals and thinking in a secular or pragmatic manner, or by deciding not to think at all except in his livelihood in order to save himself from diverting. All of these options are incorrect and, in reality, will not get the person out of this spiral. Eventually, this cycle with drain the person’s power, particularly his intellectual capacity, 5
Manakah harta paling berharga yang dimiliki manusia dalam kehidupan ini. Spiral tanpa henti semacam ini timbul dari metode yang keliru dalam memeluk Islam dan dalam memperoleh ilmu.
which is the most valuable possession of man in this life. Such an endless spiral results from an incorrect method of adopting Islam and acquiring knowledge.