6. Tulang
6. Bones
"Lalu Kami jadikan segumpal daging itu tulang-belulang"
and We made that lump into bones
Dari tahap mudghah, tulang-tulang (`idhaam) diciptakan. Ini adalah tahap berikutnya. Kata `idhaam dalam bahasa Arab berarti tulang, dan secara khusus digunakan untuk tulang-tulang tangan dan kaki, atau tulang-tulang lengan dan kaki pada hewan, yang di atasnya terdapat daging.70
From the mudghah stage, `idhaam are created. This is the next stage. The word `idhaam in the Arabic language means bone, and is specifically applied to the bones of the hands and feet, or of the arms and legs of an animal, upon which is the flesh.70
TAFSIR ILMIAH
SCIENTIFIC INTERPRETATION
Tahap *idhaam* berkaitan dengan perkembangan kerangka aksial dan anggota gerak, yang terjadi sekitar minggu ke-5. Barry Mitchell dan Ram Sharma menjelaskan:
The `idhaam stage pertains to the development of the axial and limb skeleton, occuring at around the 5th week. Barry Mitchell and Ram Sharma explain:
Asal sel mesenkim yang membentuk jaringan tulang berbeda-beda di setiap bagian tubuh. Sel mesenkim yang membentuk kerangka aksial berasal dari somit mesodermal, sedangkan tulang-tulang kerangka apendikular berasal dari mesenkim somatopleural dari mesoderm lempeng lateral. Setelah sampai di tujuannya, sel-sel mesenkim berkondensasi dan membentuk model-model tulang. Diferensiasi selanjutnya dari sel mesenkim menjadi kondroblas atau osteoblas dikendalikan secara genetik.71.
The origin of mesenchymal cells forming the skeletal tissues varies in different regions of the body. Mesenchymal cells forming the axial skeleton arise from the mesodermal somites, whereas the bones of the appendicular skeleton are derived from the somatopleuric mesenchyme of the lateral plate mesoderm. After reaching their destination the mesenchymal cells condense and form models of bones. The subsequent differentiation of mesenchymal cells into chondroblasts or osteoblasts is genetically controlled.71.
‘Tulang-tulang anggota tubuh’ adalah makna yang ditetapkan untuk kata `idhaam, sehingga dapat merujuk pada perkembangan tunas anggota tubuh yang menjadi awal pembentukan anggota tubuh dan rangka apendikular. Barry Mitchell dan Ram Sharma menjelaskan lebih lanjut mengenai pembentukan anggota tubuh dan rangka apendikular:
‘Limb bones’ is the specified meaning of the word `idhaam, and therefore can refer to the development of the limb buds which give rise to the development of the limbs and the appendicular skeleton. Barry Mitchell and Ram Sharma elaborate on the formation of the limb and appendicular skeleton:
Kerangka apendikular terdiri dari gelang anggota gerak (girdle) dan tulang-tulang anggota gerak. Tulang-tulang kerangka apendikular berkembang dari kondensasi mesenkim yang kemudian menjadi model tulang rawan.72 [See Figure 7]
The appendicular skeleton consists of limb girdles and the bones of the limbs. The bones of the appendicular skeleton develop from mesenchymal condensations which become cartilaginous models.72 [See Figure 7]

John Allen dan Beverley Kramer juga memberikan komentar tentang pembentukan tulang anggota badan.
John Allen and Beverley Kramer also comment on limb bone formation.
Mesenkim tunas anggota badan pada mulanya berupa massa yang homogen, tetapi segera terjadi kondensasi di dalamnya, dan kondensasi ini mengalami kondrifikasi sehingga membentuk model tulang rawan dari berbagai tulang. Setiap model tulang rawan dikelilingi oleh perikondrium, yang merupakan kondensasi mesenkim. Pusat osifikasi (pusat osifikasi primer) terbentuk pada setiap model tulang rawan melalui masuknya osteoblas (sel pembentuk tulang) dari mesenkim di sekitarnya. Mesenkim di sekelilingnya kini disebut periosteum (yang mengelilingi tulang). Osteoblas kemudian menghasilkan tulang, yang membentuk unsur-unsur kerangka anggota badan. 73.
The limb mesenchyme is at first a homogenous mass but soon condensations occur in it and these chondrify to form cartilaginous models of the various bones. Each cartilage model is surrounded by perichondrium which is a condensation of mesenchyme. An ossific centre (primary ossification centre) is formed upon each cartilage model by the ingrowth of osteobalsts (bone-forming cells) from the surrounding mesenchyme. The surrounding mesenchyme is now termed periosteum (surrounding the bone). Osteoblasts now produce bone which give rise to the skeletal elements of the limbs. 73.
Terdapat paralel yang jelas antara tahap *'idhaam* dalam Al-Qur'an dengan pandangan embriologi modern, yaitu perkembangan rangka aksial, rangka anggota gerak, dan rangka apendikular.
There are clear parallels between the qur'anic `idhaam stage and the view modern embryology takes i.e. the development of the axial, limb and appendicular skeleton.
RINGKASAN
SUMMARY
Tahap `idhaam: Pembentukan kerangka aksial, anggota gerak, dan kerangka apendikular.
The `idhaam stage: The formation of the axial, limb and appendicular skeleton.
DARI SEGUMPAL DARAH MENJADI TULANG
FROM A LUMP TO BONES
Kesalahpahaman yang umum, yang biasanya dibuat oleh mereka yang bukan ahli bahasa Arab, adalah bahwa ayat ini dapat diterjemahkan secara harfiah sebagai “dan Kami jadikan segumpal daging itu menjadi tulang-tulang”. Dari sini, mereka menyimpulkan bahwa ayat ini tidak ilmiah karena segumpal daging tidak mungkin berubah menjadi tulang-tulang. Namun, pandangan ini didasarkan pada pemahaman yang kasar terhadap tata bahasa Arab dan kefasihan al-Qur’an. Ayat ini, dari sudut pandang tata bahasa, memiliki makna: “dan Kami jadikan dari/daripada/keluar dari segumpal daging itu tulang-tulang”.
A common misconception, usually made by non-Arabists, is that this verse can be literally translated as “and We made that lump into bones”. From this, they conclude that this verse is unscientific because a lump of flesh cannot turn into a mass of bones. However, this is based upon a crude understanding of Arabic grammar and the Qur’an's eloquence. This verse, from a grammatical perspective, has the meanings of: “and We made of/from/out of the lump bones”.
Inilah sebabnya Yusuf Ali menerjemahkan ayat ini sebagai "kemudian Kami jadikan dari gumpalan itu tulang-belulang"74; Shakir menerjemahkannya sebagai "kemudian Kami jadikan (pada) gumpalan daging tulang-belulang"; dan A J Arberry, dalam terjemahan Al-Qur'an-nya yang hingga kini masih digunakan oleh kalangan akademisi, menerjemahkan ayat ini sebagai "kemudian Kami ciptakan dari jaringan itu tulang-belulang".75
This is why Yusuf Ali translates this verse as “then we made out of that lump bones”74; Shakir translates it as “then We made (in) the lump of flesh bones”; and A J Arberry, in his translation of the Qur’an which is still used by academics today, translates this verse as “then We created of the tissue bones”.75
TULANG BUKAN ASLI
NOT REAL BONES
Proposisi lain dari para pengkaji adalah bahwa pada tahap ini belum ada tulang yang sesungguhnya. Dikatakan bahwa tulang-tulang yang tampak itu hanyalah tulang rawan karena penulangan (ossifikasi) belum selesai, dan oleh sebab itu Al-Qur’an dianggap tidak akurat. Meskipun argumen ini cukup valid, ia keliru sasaran. Kata ‘idhaam mencakup bentuk tulang rawan dari tulang-tulang tersebut ketika kerangka tulang mulai terbentuk. Selain itu, proses ossifikasi dimulai pada minggu ke-8,76 dan berlanjut setelah kelahiran, dengan penyelesaian akhir proses ossifikasi sekitar masa pubertas. Barry Mitchell dan Ram Sharma menjelaskan:
Another proposition from commentators is that at this stage there are no real bones. It is argued that the apparent bones are mere cartilage as ossification is incomplete and, as such, the Qur’an must therefore be inaccurate. Although a valid contention, it is misplaced. `idhaam encompasses the cartilaginous form of the bones as the skeletal framework is put in place. Additionally, the process of ossification begins by the 8th week,76 continuing on after birth, with the eventual completion of the ossification process at around puberty. Barry Mitchell and Ram Sharma explain:
Pusat-pusat osifikasi pertama kali muncul di tulang-tulang anggota tubuh selama minggu kedelapan. Pada minggu kedua belas, batang tulang-tulang anggota tubuh sudah mengalami osifikasi, meskipun tulang-tulang karpal pada pergelangan tangan tetap berupa tulang rawan hingga setelah kelahiran. Osifikasi dari ketiga tulang tarsal terbesar pada pergelangan kaki dimulai sekitar 16 minggu, tetapi beberapa tulang tarsal yang lebih kecil baru mengalami osifikasi 3 tahun setelah kelahiran.77.
The centres of ossification first appear in the limb bones during the eighth week. By the twelfth week, the shafts of the limb bones are ossified, though the carpal bones of the wrist remain cartilaginous until after birth. The ossification of the three largest tarsal bones of the ankle begins about 16 weeks, but some of the smaller tarsal bones do not ossify until 3 years after birth.77.
Dari sudut pandang ini, akan menjadi suatu kekeliruan medis untuk beranggapan bahwa bayi baru lahir atau remaja muda tidak memiliki tulang hanya karena mereka memerlukan osifikasi, terlebih lagi karena osifikasi selesai pada akhir masa pertumbuhan pesat pubertas. Namun seandainya hal ini benar, dan kita hendak menganggap tahap ini sebagai tahap "tanpa tulang", seolah-olah demikian, maka makna kata `idhaam (إدغام) memungkinkan tafsir yang mencakup semuanya, karena "model tulang rawan dari berbagai tulang"78 termasuk dalam maknanya.
From this perspective, it would be a medical absurdity to assume newborns or young teenagers do not have bones simply because they require ossification, especially since ossification completes at the end of the growth-spurt of puberty. Nevertheless if this were the case, and we are to take this stage as being ‘boneless’, as it were, the derisions of the word `idhaam allow for an all encompassing interpretation because the “cartilaginous models of the various bones”78 is included in its meaning.