Kesimpulan
Conclusion
Makalah ini mengusulkan analisis ilmiah-linguistik terhadap surah Al-Mu'minun ayat 12 hingga 14. Referensi kedokteran modern digunakan untuk menghubungkan detail-detail linguistik yang signifikan dengan ilmu pengetahuan kontemporer. Hasilnya secara jelas menggambarkan bahwa Al-Qur'an sejalan dengan embriologi modern.
This paper proposed a scientific-linguistic analysis of chapter 23 verses 12 to 14 of the Qur’an. Modern medical references were used to correlate between significant linguistic details and contemporary science. The results clearly illustrate the Qur’an as being concurrent with modern embryology.
Selain itu, bantahan terhadap pandangan Al-Qur'an mengenai perkembangan embrio manusia disampaikan dengan penekanan khusus pada tesis plagiarisme, yang mengajukan tuduhan bahwa Nabi Muhammad ﷺ menyalin Galen dan Aristoteles. Bantahan-bantahan yang diberikan menunjukkan bahwa tesis plagiarisme tidak dapat dipertahankan, serta tidak memiliki daya jelas dan cakupan penjelasan yang memadai.
Additionally, contentions to the qur’anic view on the development of the human embryo were responded to with particular emphasis on the plagiarisation thesis, which puts forward the charge that the Prophet Muhammad ﷺ copied Galen and Aristotle. The responses provided expose the plagiarisation thesis as untenable, and lacking in explanatory power and scope.
Diharapkan bahwa makalah ini akan membuka pintu bagi diskusi yang tulus, bernuansa, dan terbuka mengenai wacana Qur'ani. Perlu dipahami bahwa untuk memahami Al-Qur'an diperlukan kajian yang mendalam, bukan sekadar membaca ayat-ayatnya secara dangkal. Ambil analogi sebuah lautan yang luas. Berenang di permukaannya tidak akan pernah memberi para ilmuwan pengetahuan tentang rahasia-rahasianya. Demikian pula, mengenai kedalaman Al-Qur'an, Tuhan menjelaskan hal ini:
It is hoped that this paper will open the door for sincere, nuanced and frank discussions concerning the qur’anic discourse. It must be understood that in order to comprehend the Qur’an, a deep study is required rather than a superficial reading of its verses. Take the analogy of a vast sea. Swimming on the surface will never give scientists knowledge of its secrets. Similarly, concerning the depth of the Qur’an, God makes this clear:
Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambah lagi dengan tujuh laut sesudahnya, niscaya kalimat-kalimat Allah tidak akan habis. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.127
And if whatever trees upon the earth were pens and the sea [was ink], replenished by thereafter seven more seas, the words of God would not be exhausted. Indeed, God is Exalted in Might and Wise.127