1.2. Pentingnya
1.2. Importance
Sudah seharusnya jelas, bahkan dari kutipan-kutipan yang diberikan, bahwa untuk memahami ajaran Al-Qur'an secara tepat, seseorang harus benar-benar memahami implikasi dari keempat istilah ini. Sesungguhnya, Al-Qur'an akan kehilangan seluruh maknanya bagi siapa pun yang tidak mengetahui apa yang dimaksud dengan ilaah atau rabb, apa yang termasuk ‘ibadah, dan apa yang dimaksud Al-Qur'an ketika menggunakan kata deen. Ia juga akan gagal mempelajari apa itu Tauhid (keyakinan akan Keesaan Allah dalam pengertian yang paling utuh), atau apa yang menjadi lawannya, yaitu syirik (menisbatkan kepada selain Allah, baik seluruhnya maupun sebagian, salah satu sifat atau atribut Allah yang khusus bagi-Nya).
It should however be obvious even from the quotations given that it is essential for proper comprehension of the teachings of the Qur'ān fully to understand the implications of these four terms. The Qur'ān will in fact lose its whole meaning for anyone who does not know what is meant by ilaah or rabb, what constitutes ’ibadah, and what the Qur'ān means when it uses the word deen. He will fail to learn what Tawhid (belief in the One-ness of Allah in the fullest sense) is, or what constitutes its anti-thesis, that is, shirk (the attribution to others, either wholly or partially, of any of Allah’s exclusive qualities or attributes).
Tidak mungkin baginya untuk menjadikan ibadahnya, atau agamanya, hanya untuk Allah semata. Dan tidak jauh lebih baik dari orang yang sama sekali bodoh itu adalah orang yang hanya memiliki gambaran samar tentang makna istilah-istilah tersebut, karena dalam hal itu seluruh ajaran Al-Qur'an akan tetap samar dan tidak lengkap baginya, dan baik keyakinan maupun perilakunya akan secara fatal banyak sekali kekurangan. Ia tentu akan terus mengucapkan kalimat syahadat, bahkan menjelaskan bahwa maknanya adalah tidak ada ilah selain Allah, namun dalam praktiknya ia akan tetap memperlakukan banyak yang lain sebagai ilah pula. Ia akan menjalani hidup dengan menyatakan bahwa tidak ada rabb selain Allah, namun meskipun demikian akan ada banyak yang ia perlakukan sebagai rabb. Ia akan memprotes dan menegaskan, dengan sungguh-sungguh dan penuh keikhlasan, bahwa ia tidak memberikan ibadahnya kepada selain Allah, namun ia akan terus memberikannya kepada yang lain tanpa menyadarinya. Jika ada seseorang yang sekadar mengisyaratkan bahwa ia memiliki agama lain, ia akan merasa tersinggung sehingga hampir berkelahi dengan penuduhnya, padahal dalam praktiknya, tanpa disadari ia sedang menyerahkan kesetiaannya kepada banyak agama lain.
It will not be possible for him to make his ’ibadah, or his deen, exclusive for Allah alone. And little better than such a completely ignorant man would be the one who has only a vague idea of what the terms imply, because in that case the whole teaching of the Qur'ān will remain vague and incomplete for him, and both his belief and his conduct will fatally leave much to be desired. He will no doubt keep on reciting the words of the kalimah, and even explain that it means that there is no ilaah but Allah, and yet, in practice, he will keep treating many another to be an ilaah too. He will go through life proclaiming that there is no rabb but Allah, and yet for all that there will be many whom he will be treating as rabbs. He will protest, and affirm, with all seriousness and sincerity, that he does not give his ’ibadah to any but Allah, and will yet keep giving to others unknowingly. If anyone even so much as hints that he has any other deen, he would feel offended enough to come to blows with the accuser, and yet in practice, he will unwittingly be giving his allegiance to many another deen.
Tidak seorang pun akan pernah mendengarnya menggunakan kata Allah atau rabb untuk selain Allah kecuali dalam pengertian khusus sebagaimana kedua kata itu digunakan dalam Al-Qur'an, namun ia sebenarnya bertingkah laku seolah-olah memiliki banyak ilah dan banyak rabb, tanpa menyadari hal itu, sama seperti orang yang tidak pernah menyadari bahwa ia telah berbicara dengan prosa sepanjang hidupnya sampai ia benar-benar diberitahu tentang hal itu. Jika seseorang berkata kepadanya secara terang-terangan bahwa ia memberikan ibadahnya kepada selain Allah, dan dengan demikian melakukan syirik, ia mungkin marah besar dan bahkan bertengkar hebat, namun menurut kriteria yang berlaku, ia tanpa sadar telah hidup sebagai penyembah selain Allah, sebagai pengikut agama-agama selain Islam, tanpa pernah menduga bahwa keadaannya memang demikian.
No one will ever hear him actually use the words Allah or rabb in respect of any but in the specific sense in which the words have been employed in the Qur'ān, but he will be conducting himself as if he had many an ilaah and many a rabb though without realising this, just like the person who never realised until he was specifically told that he had been uttering prose all his life. If someone were to tell him in so many words that he was giving his ’ibadah to others, and thus committing shirk, he might resent this strongly and even quarrel violently, but according to the criteria applicable he will unconsciously have been living as a worshipper of others as an adherent of the deens of others, without ever suspecting that in fact was the case.