3.2. Anggapan-Anggapan Keliru tentang Rububiyyah
3.2. False Notions about Rububiyyah
Contoh-contoh di atas dengan jelas memperlihatkan makna kata rabb, dan sekarang kita dapat melanjutkan dengan meninjau berbagai keyakinan keliru yang berkembang di kalangan kaum dan bangsa yang tersesat tentang rububiyyah (yakni sifat-sifat dan atribut orang yang menjadi rabb), yang hendak dibantah oleh Al-Qur'an, serta keyakinan apa yang diajarkan oleh Al-Qur'an. Hal ini mungkin paling baik dilakukan dengan membahas satu per satu kasus bangsa-bangsa atau kaum tertentu yang disebut dalam Al-Qur'an, sehingga kita memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang pemahaman-pemahaman keliru yang mereka yakini.
The above examples clearly bring out the meanings of the word rabb, and we may now proceed to look at those false notions which existed among the misguided tribes and people about rubūbiyyah (that is, the qualities and attributes of one who is a rabb) which the Qur'ān sought to refute, and what are the beliefs that the Qur'ān advocates. This can perhaps best be done by taking up, one by one, the cases of those particular nations or people who find mention in the Qur'ān, and thus get a clearer idea of the wrong notions which they entertained.
3.2.1. Kaum Nabi Nuh
3.2.1. Hazrat Nuh’s People
Orang-orang yang paling awal dibahas dalam Al-Qur'an adalah mereka yang di tengah-tengahnya Hazrat Nuh (Nuh, semoga kedamaian tercurah atasnya) diutus sebagai Nabi. Dari Al-Qur'an jelas bahwa orang-orang ini tidak mengingkari keberadaan Tuhan, sebagaimana terlihat dari komentar berikut tentang beliau yang dilontarkan oleh para pemimpin mereka:
The earliest of such people dealt with in the Qur'ān were those among whom Hazrat Nuh (Noah, peace be upon him) was raised as Prophet. It is clear from the Qur'ān that these people did not deny the existence of God, cf. the following comment about him by their leaders:
Dia hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang hanya ingin menegakkan kekuasaannya atas kalian. Seandainya Tuhan benar-benar menghendaki (untuk mengutus seorang rasul), tentu Dia akan memilih malaikat sebagai gantinya…. (al-Mu’minoon 23:24)
…He is but a man like any of you, who only wants to establish his own hold over you. If God had really wanted (to send any messenger) He would surely have chosen angels instead…. (al-Mu’minoon 23:24)
Mereka juga tidak mengingkari bahwa Allah adalah Pencipta alam semesta dan Rabb dalam pengertian pertama dan kedua dari kata tersebut. Di antara nasihat-nasihat yang disampaikan Hazrat Nuh kepada mereka adalah:
Nor did they deny that Allah was the Creator of the universe and the Rabb in the first and second senses of the word. Among the exhortations to them by Hazrat Nuh were:
Dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nya kamu akan dikembalikan. (al-Hud 11:34)
…He is your Rabb, and unto Him shall you be returned. (al-Hud 11:34)
Mohonlah ampunan kepada Rabb-mu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun.
Seek the forgiveness of your Rabb, (for) verily He is Oft-Forgiving.
(an-Nuh 71:10)
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, dan menjadikan bulan di antara langit-langit itu sebagai cahaya, dan menjadikan matahari sebagai pelita (yang cemerlang)? Dan (ketahuilah bahwa)
Do you not see how Allah has made the seven heavens one above the other, and made the moon a light in their midst, and the sun a (glorious) lamp? And (it was)
3.2.2. Kaum 'Ad
3.2.2. The ’Aad People
Kaum berikutnya adalah kaum 'Aad. Mereka juga tidak mengingkari keberadaan Tuhan, atau bahwa Dia adalah Ilah, namun pada saat yang sama mereka juga mengakui-Nya sebagai Rabb sebesar dan dengan arti yang sama seperti kaum Hazrat Nuh. Maka titik perselisihan antara mereka dan Nabi yang diutus kepada mereka, Hazrat Hud, pun sama juga: {Dan kepada kaum 'Aad (Kami utus) saudara mereka, Hud, yang berkata kepada mereka:}
The next in line were the ’Aad. They too did not deny the existence of God, or His being the Ilah but at the same time they too believed in Him as the Rabb to the same extent and in the same sense as had Hazrat Nuh’s people. And so the points of disagreement between them, and the Prophet sent to them, Hazrat Hud, were the same too: And to the Aad (We sent) their brother (that Is kinsman) Hud, who said to them:
"Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada ilah bagimu selain Dia; maka apakah kamu tidak bertakwa kepada-Nya?" (Mereka) berkata: "Apakah engkau datang kepada kami agar kami hanya menyembah Allah saja, dan meninggalkan apa yang disembah oleh nenek moyang kami?" (al-A'raf 7:65-70)
‘O’ my people, give your ’ibadah to Allah (because) there is no ilaah but He; will you not fear Him?” (And) they said: ‘Have you come to us to make us give all of our ’ibadah to Allah alone, exclusively, and give up those to whom our ancestors used to give theirs?’ (al-A’raaf 7:65-70)
Mereka berkata: ‘Seandainya Rabb kami menghendaki, niscaya Dia akan menurunkan malaikat-malaikat (bukan kamu, yang adalah manusia seperti kami)....' (al-Fussilat 41:14)
…They said: ‘If our Rabb had wanted, He would have sent down angels (instead of you, a human like us).... (al-Fussilat 41:14)
Itulah kaum 'Aad, yang mengingkari ayat-ayat Rabb mereka, mendurhakai rasul-rasul-Nya, dan justru menuruti setiap penguasa yang sewenang-wenang dan menentang kebenaran (al-Hud 11:59)
These then were the ’Aad, who refused to obey the commands of their Rabb, who did not obey His messengers, and who (instead) obeyed every despotic transgressor (against Truth) (al-Hud 11:59)
3.2.3. Kaum Thamūd
3.2.3. The Thamūd
Kemudian ada kaum Thamūd, yang merupakan kaum paling durhaka setelah kaum ’Aad. Pada dasarnya, penyimpangan mereka sama dengan penyimpangan kaum Hazrat Nuh dan kaum ’Aad. Mereka juga meyakini keberadaan Allah dan bahwa Dia adalah Ilaah dan Rabb, tetapi mereka tidak mengakui bahwa Dia adalah satu-satunya ilaah, bahwa hanya Dia yang berhak menerima seluruh ’ibadah, dan bahwa Dia adalah Rabb dalam segala arti kata tersebut. Mereka bersikeras bahwa selain Allah ada pihak lain yang juga dapat mengabulkan doa, memberikan karunia, dan menghilangkan kesusahan, dan dalam urusan moral serta budaya, mereka mengambil hukum dari para pemimpin dan pendeta mereka, alih-alih mengikuti petunjuk Ilahi. Hal inilah yang membuat mereka menjadi kaum yang tersesat secara menyedihkan dan mendatangkan hukuman Allah atas mereka:
Then there were the Thamūd, the worst transgressors after the ’Aad. Basically, their deviation was the same as that of the people of Hazrat Nuh and the ’Aad. They also believed in the existence of Allah and His being the Ilaah and the Rabb but they did not agree that He was the only ilaah, that He alone was worthy of all ’ibadah, and that He was Rabb in all the senses of the word. They insisted that there were others, besides Allah, who too could accept prayers, grant favours, and remove distress, and in moral and cultural matters they took their law from their chiefs and priests instead of following Divine guidance. It was this which made them into a tragically misled people and brought down on them Allah’s punishment:
Dan (wahai Muhammad ﷺ) jika mereka berpaling (dan tidak mendengarkan apa yang engkau sampaikan), maka katakanlah kepada mereka: Aku memperingatkan kalian akan azab seperti azab yang menimpa kaum ‘Ad dan Tsamud, yang kepada mereka datang para Nabi silih berganti, yang menyeru mereka agar tidak menyembah selain Allah, dan yang jawaban mereka hanyalah: “Jika Rabb kami menghendaki, tentu Dia akan menurunkan malaikat-malaikat; maka kami mengingkari risalah yang kalian bawa.” (al-Fussilat 41:13-14)
And (O’ Muhammad) if they turn away (and do not listen to what you say) then say to them: I am warning you of a punishment the like of that which visited the ’Aad and the Thamud, to whom Prophets came repeatedly telling them not to give their ’ibadah to any but Allah, and whose only reply was:‘If our Rabb had wanted, He would surely have sent down angels, (but since He did not), we reject the message which you bring’. (al-Fussilat 41:13-14)
Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Saleh, yang berkata kepada mereka: "Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada ilah bagimu selain Dia."... Mereka menjawab: "Wahai Saleh, sungguh, sebelum ini engkau menjadi harapan kami. Apakah engkau melarang kami menyembah apa yang disembah oleh nenek moyang kami?"... ()
3.2.4. Kaum Nabi Ibrahim dan Namrud
3.2.4. The People of Hazrat Ibrahim and Namrud
Berikutnya dalam hal kepentingan adalah kaum Nabi Ibrahim (Abraham, semoga kedamaian tercurah kepadanya), dan signifikansi kasus mereka adalah bahwa umumnya dianggap bahwa raja mereka, Namrud (Nimrod), tidak beriman kepada Tuhan melainkan mengaku dirinya sendiri sebagai Tuhan. Namun kenyataannya, ia memang beriman kepada Tuhan, dan juga meyakini-Nya sebagai Pencipta serta Pengatur urusan alam semesta, dan pengakuannya sendiri sebagai rabb hanya dalam pengertian ketiga, keempat, dan kelima dari istilah tersebut.
Next in importance are the people of Hazrat Ibrahim (Abraham, may peace be upon him), and the significance of their case is that it is commonly thought that their King, Namrud (Nimrod), did not believe in God but claimed himself to be God instead. The fact, however, is that he did believe in God, and also believed Him to be the Creator and the Regulator of the affairs of the universe, and his own claim to be a rabb was only in the third, fourth, and fifth senses of the term.
Kesalahpahaman lain yang umum adalah anggapan bahwa orang-orang ini tidak memiliki keyakinan kepada Tuhan maupun bahwa Dia adalah Ilaah dan Rabb, padahal sebenarnya keyakinan mereka dalam hal-hal ini tidak banyak berbeda dengan keyakinan kaum Nabi Nuh dan kaum Tsamud. Mereka memang percaya akan keberadaan Tuhan, dan mengenal-Nya sebagai Rabb, Pencipta langit dan bumi, serta Penguasa tertinggi alam semesta. Mereka juga tidak mengingkari hak-Nya untuk disembah oleh manusia. Yang keliru ialah bahwa mereka menganggap benda-benda langit sebagai sekutu bagi-Nya dalam rubūbiyyah pada makna pertama dan kedua dari istilah tersebut, dan dengan demikian mereka menyekutukan Tuhan dalam batas itu. Adapun makna ketiga, keempat, dan kelima dari istilah tersebut, di sini mereka justru memperlakukan raja-raja mereka sebagai rabb.
Another common misconception is that these people had no belief in God nor in his being the Ilaah and the Rabb, although in fact their beliefs on these points were little different from those of the people of Hazrat Nuh and the Thamūd. They did believe in the existence of God, and also knew Him as the Rabb, the Creator of the heavens and the earth, and the Supreme Ruler of the universe. Nor, for that matter, did they deny His right to man’s worship. Where they were mistaken was in regarding the heavenly bodies as partners with him in rubūbiyyah in the first and second senses of the term and hence in associating them with God to that extent. As for the third, fourth, and fifth meanings of the term, here it was their kings whom they treated as the rabbs.
Al-Qur'ān yang mulia begitu jelas dalam hal-hal ini sehingga mengejutkan bagaimana kesalahpahaman yang baru saja disebutkan itu bisa muncul dan diterima secara luas. Ambil contoh kisah pencarian kebenaran Hazrat Ibrahim sebagaimana diceritakan dalam Al-Qur'ān:
3.2.5. Kaum Luth
3.2.5. Lot’s People
Selanjutnya dalam urutan sejarah adalah kaum Sodom, yang tugas memperbaiki mereka dipercayakan kepada keponakan Hazrat Ibrahim, Lot (semoga kedamaian tercurah atas keduanya). Dari Al-Qur'an kita juga mengetahui tentang kaum ini bahwa meskipun mereka tidak mengingkari keberadaan Tuhan maupun bahwa Dia adalah Pencipta dan Rabb dalam pengertian pertama dan kedua dari kata tersebut, mereka menolak mengakui-Nya sebagai demikian dalam pengertian ketiga, keempat, dan kelima, dan juga menolak otoritas Nabi Lot sebagai wakil-Nya yang terpercaya untuk menetapkan hukum bagi perilaku mereka. Yang mereka inginkan adalah dibiarkan berbuat sesuka hati, dan inilah kejahatan sebenarnya serta alasan mereka mendatangkan murka Tuhan atas diri mereka. Inilah yang dikatakan Al-Qur'an tentang mereka: Ketika saudara sedarah mereka, Lot, berkata kepada mereka, "Tidakkah kalian takut kepada Tuhan? Lihatlah! Aku adalah utusan yang terpercaya bagi kalian (dari Tuhan). Maka (percayalah pada apa yang kukatakan dan) berusahalah menyelamatkan diri kalian dari murka Ilahi, dan lakukanlah apa yang kukatakan kepada kalian. Aku tidak meminta imbalan apa pun untuk diriku, karena imbalanku ada pada Tuhan. Apakah kalian, tidak seperti seluruh umat manusia lainnya, mendatangi laki-laki (untuk memuaskan nafsu seksual kalian) dan meninggalkan istri-istri yang telah diciptakan Rabb kalian untuk keperluan itu? Sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang paling zalim." (Asy-Syu'ara' 26:161-166)
The next in historical order are the people of Sodom, the task of whose reformation was entrusted to Hazrat Ibrahim’s nephew, Lot (may peace be upon both). From the Qur'ān we know about these people too that while they neither denied the existence of God nor His being the Creator and the Rabb in the first and the second senses of the word, they refused to acknowledge Him as such in the third, fourth, and fifth senses, and also repudiated the authority of the Prophet Lot as His trusted representative to lay down the law for their conduct. What they wanted was to be left to do as they pleased, and this was their real crime and the reason for their bringing God’s wrath upon their heads. This is what the Qur'ān says about them: When their kinsman Lot said to them,‘Will you not fear God? Look! I am a trusted messenger to you (from God). Therefore (believe what I say and) try to save yourselves from Divine wrath, and do as 1 tell you, I ask no regard for myself, because my reward lies with God. Do you, unlike the whole of the rest of humanity, turn to boys (for your Sexual satisfaction) and leave aside the wives your Rabb has created for you for this purpose? Surely, you are the worst of wrongdoers.’ (Ash-Shu’araa’ 26:161-166)
Jelas bahwa kata-kata ini hanya dapat ditujukan kepada suatu kaum yang tidak mengingkari keberadaan Tuhan maupun bahwa Dia adalah Pencipta dan Pemelihara. Karena itulah mereka tidak membalas dengan bertanya siapa Tuhan itu, atau bagaimana Dia dapat mengaku sebagai Pencipta, atau bagaimana Dia menjadi Rabb mereka. Yang mereka katakan justru adalah, ‘Dengarlah, wahai Lut, jika engkau tidak berhenti dari dakwahmu, niscaya engkau pasti akan terusir dari negeri ini.’ ({asy-Syu'araa' 26:167})
3.2.6. Kaum Syu'aib
3.2.6. Shu’aib’s People
Selanjutnya adalah kaum Madyan dan kaum Aikah (nama kuno untuk Tabuk), yang kepada mereka Hazrat Syu'aib ﷺ diutus sebagai nabi. Kita tahu bahwa kaum ini adalah keturunan Hazrat Ibrahim (semoga kedamaian tercurah atasnya), sehingga tidak dapat dipertanyakan bahwa mereka tidak mengenal Tuhan atau tidak meyakini-Nya sebagai Ilaah dan Rabb. Sebenarnya mereka adalah kaum yang pada mulanya beragama Islam, tetapi keyakinan dan perilaku mereka telah rusak seiring berjalannya waktu. Bahkan tampaknya dari Al-Qur'an bahwa mereka mengaku sebagai orang-orang beriman, karena Hazrat Syu'aib berulang kali berkata kepada mereka: "Jika kamu benar-benar beriman"; "Jika kamu benar-benar orang-orang beriman." Pemeriksaan terhadap ceramah-ceramahnya dan jawaban-jawaban mereka dengan jelas menunjukkan bahwa mereka sama-sama percaya kepada Allah dan mengakui-Nya sebagai Ilaah dan Rabb, namun keliru dalam dua hal. Pertama, dalam arti supernatural, mereka menyekutukan-Nya dengan yang lain sebagai ilaah dan rabb juga, sehingga tidak memberikan ibadah mereka kepada-Nya secara eksklusif; dan kedua, mereka berpendapat bahwa sifat-Nya sebagai Rabb tidak meliputi wewenang-Nya untuk menetapkan hukum guna mengatur perilaku moral, sosial, ekonomi, dan budaya, atau mereka mengklaim kebebasan bertindak bagi diri mereka sendiri sejauh menyangkut bidang-bidang tersebut:
Next come the people of Madyan and of Aikah (the ancient name of Tabuk), to whom Hazrat Shu’aib صلى الله عليه وسلمwas sent as prophet. We know that these people were descendants of Hazrat Ibrahim (on whom be peace) and so there can be no question of their not knowing God or not believing in him to be the Ilaah and the Rabb. They were in fact a people who had originally been Muslims but whose beliefs as also conduct had become corrupted through the passage of time. It would even appear from the Qur'ān, that they claimed to be believers, because Hazrat Shu’aib repeatedly says to them; “If you truly believe”; “If you truly are believers.” An examination of his discourses and of their answers clearly shows that they both believed in Allah and acknowledged Him as the Ilaah and the Rabb, but went wrong on two points. Firstly, in the supernatural sense they associated others with Him as also being ilaahs and rabbs and so did not give Him their ’ibadah exclusively and, secondly, they held that His being the Rabb did not extend to His having authority to lay down the law for regulating moral, social, economic and cultural behaviour, or they claimed freedom of action for themselves so far as these spheres were concerned:
Kepada (penduduk) Madyan, Kami utus saudara mereka Syu'aib (yang berkata kepada mereka): "Wahai kaumku, sembahlah Allah (saja), tidak ada ilah bagi kalian selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepada kalian bukti yang nyata dari Rabb kalian. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan janganlah kalian merugikan manusia atas hak-hak mereka, dan janganlah kalian berbuat kerusakan di bumi setelah diperbaiki. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian orang-orang yang beriman. ... Dan jika ada segolongan di antara kalian yang beriman kepada apa yang aku diutus dengannya, dan ada segolongan lain yang tidak beriman, maka tunggulah sampai Allah memutuskan antara kami dan kalian. Dan Dialah Hakim yang paling baik."
3.2.7. Firaun dan Kaumnya
3.2.7. The Pharaoh and his People
Selanjutnya, kita sampai pada Fir'aun dan kaumnya, yang mengenainya terdapat kesalahpahaman yang bahkan lebih besar dibandingkan dengan kasus Namrud dan kaumnya. Pandangan yang umum dipegang adalah bahwa Fir'aun tidak hanya mengingkari keberadaan Tuhan, tetapi juga mengaku sendiri sebagai Tuhan, yaitu bahwa ia telah begitu tersesat hingga berani menganggap dirinya sebagai pencipta langit dan bumi, dan bahwa kaumnya pun begitu hilang akal hingga tanpa mempertanyakan lagi menerima pengakuan tersebut.
Next, we come to the Pharaoh and his people, regarding whom there are even greater misconceptions than in the case of Namrud and his people. The view generally held is that the Pharaoh not only denied the existence of God but himself claimed to be God, that is, that he had become so misled as to presume to be the creator of the heavens and the earth, and that his people too were so bereft of reason as to unquestioningly subscribe to such claim.
Al-Qur'an Suci dan sejarah justru menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan besar antara kaumnya dengan kaum Namrud dalam keyakinan mereka tentang Tuhan, baik sebagai Ilaah maupun sebagai Rabb. Satu-satunya perbedaan adalah adanya prasangka rasial terhadap Bani Israil, yang mendorong orang-orang Mesir untuk menolak mengakui secara terbuka Tuhan sebagai Ilaah dan Rabb, meskipun mereka mengetahui bahwa Dia ada, sebagaimana juga banyak penganut ateisme yang mengaku di zaman kita sekarang.
The Holy Qur'ān and history both show, on the contrary, that there was little difference between his people and those of Namrud in regard to their beliefs about God as both the Ilaah and the Rabb. The only difference was the existence of a racial bias against the Bani-Israel which prompted the Egyptians to refuse, to openly acknowledge God as the Ilaah and the Rabb, although they knew that He existed, as do also many a professing atheist in our own day.
Faktanya, setelah diberi kekuasaan tinggi oleh raja, Nabi Yusuf (semoga kedamaian tercurah kepadanya) telah berjuang sekuat tenaga untuk membawa rakyat ke jalan Islam, dan dampak usahanya bertahan hingga masa Nabi Musa (semoga kedamaian tercurah kepadanya). Meskipun tidak semua orang menerima iman yang benar, tidak ada seorang pun setelah masa Nabi Yusuf yang sama sekali tidak mengetahui keberadaan Tuhan atau bahwa Dialah satu-satunya Pencipta langit dan bumi. Lebih dari itu, ajaran Nabi Yusuf juga telah menanamkan pada setiap orang keyakinan bahwa Dia adalah Ilaah dan Rabb dalam arti supranatural, sehingga tidak ada seorang pun yang mengingkari keberadaan-Nya. Adapun mereka yang tetap berpegang pada keyakinan mereka, kesesatan mereka pun terletak pada menyekutukan selain Dia. Dan pengaruh ajaran-ajaran ini belum sepenuhnya lenyap hingga masa Nabi Musa (Musa, semoga kedamaian tercurah kepadanya). [Jika seseorang mempercayai apa yang tertulis dalam Perjanjian Lama, tampaknya sekitar seperlima penduduk Mesir pada akhirnya menerima iman Nabi Yusuf (semoga kedamaian tercurah kepadanya). Jumlah total orang Israel yang meninggalkan Mesir bersama Nabi Musa (semoga kedamaian tercurah kepadanya) disebutkan sekitar dua juta orang, sementara jumlah total penduduk Mesir pada waktu itu disebutkan lebih dari seratus juta.]
3.2.8. Orang-Orang Yahudi dan Nasrani
3.2.8. The Jews and Christians
Setelah kaum Firaun, golongan berikutnya menurut urutan sejarah adalah Bani Israil dan orang-orang yang menganut agama Yahudi atau Kristen. Dalam kasus mereka, tentu tidak ada persoalan bahwa mereka mengingkari keberadaan Tuhan atau tidak meyakini-Nya sebagai al-Ilaah dan ar-Rabb. Al-Qur'an sendiri menegaskan keyakinan mereka kepada-Nya dalam hal ini, sehingga pertanyaan yang timbul adalah tentang kekeliruan khusus yang menjadi alasan mereka disifati dalam Al-Qur'an sebagai "orang-orang yang sesat". (al-Fātihah 1:7)
After Pharaoh’s people, the next in historical order are the Israelites and those people who adopted the Jewish religion or Christianity. In their case, there can obviously be no question about their either not acknowledging the existence of God or not believing in His being the Ilaah and the Rabb. The Qur'ān itself affirms their belief in Him on the point and the question which therefore arises is of the particular error for which they were characterised in the Qur'ān as “those who went astray”. (al-Fātihah 1:7)
Jawaban singkatnya adalah:
A brief answer is:
Katakanlah (wahai Muhammad): "Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu berlebih-lebihan dalam (urusan) agamamu secara tidak benar, dan janganlah kamu mengikuti keinginan orang-orang yang telah sesat sebelum(mu), dan telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka sendiri telah tersesat dari jalan yang lurus."
Say (O Muhammed): ‘O people of the Book: Do not exaggerate concerning your faith, and adopt not the wrong notions of those who have gone astray before you, who misled many others, and themselves too strayed from the straight path.’(al-Ma’idah 5:77)
Dari sini, seseorang dapat menyimpulkan bahwa pada hakikatnya orang-orang Yahudi dan Nasrani pun melakukan kesalahan yang sama dengan yang sebelumnya telah menimpa kaum-kaum lain, dan bahwa pada mereka hal itu timbul dari sikap berlebihan dalam beragama. Mari kita telaah persoalan ini secara lebih rinci, dengan bantuan Al-Qur'ān:
From this, one may conclude that, in essence, the Jews and Christians too were guilty of the same error into which others had fallen earlier, and that in their case this arose out of exaggerated piety. Let us go into the matter in some detail, with the help of the Qur'ān:
Dan orang-orang Yahudi berkata: "'Uzair (Ezra) adalah putra Tuhan", sedangkan orang-orang Kristen berkata: "Isa (Yesus) adalah putra Tuhan." (at-Taubah 9:30)
3.2.9. Kaum Musyrik Mekah
3.2.9. The Meccan Pagans
Terakhir, kita sampai pada penduduk Mekkah, kepada siapa Nabi Muhammad ﷺ diutus sebagai Rasul Allah, dan kepada mereka pula pesan Al-Qur'an pertama kali ditujukan.
Last of all, we come to the Meccans, to whom Prophet Muhammad صلى الله عليه وسلم, was sent as God’s Messenger and to whom therefore the Qur'ān’s message was immediately addressed.
Apa sebenarnya sifat kekeliruan mereka? Apakah mereka tidak mengenal Tuhan, atau mereka mengingkari keberadaan-Nya, dan apakah Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم diutus sebagai Rasul Allah untuk membuat mereka mengakui keberadaan-Nya? Ataukah mereka mengingkari bahwa Dia adalah Ilaah dan Rabb, sehingga tujuan Al-Qur'an yang mulia adalah untuk meyakinkan mereka akan ketuhanan dan rububiyyah-Nya? Apakah mereka berpendapat bahwa Dia tidak layak disembah dan dipuja, ataukah mereka tidak percaya bahwa Dia mampu mendengar doa mereka dan mengabulkan permohonan mereka? Apakah mereka menganggap bahwa Lat, Manat, dan Uzza serta Hubal dan tuhan-tuhan lain yang mereka sembah itulah pencipta yang sebenarnya, penguasa, perancang, pengatur dan pengelola alam semesta serta pemberi rezeki bagi seluruh makhluk di dalamnya? Menurut keyakinan mereka, apakah tuhan-tuhan mereka itu sumber segala hukum serta kode moral dan sosial? Ketika kita mempelajari Al-Qur'an, kita mendapati bahwa semua pertanyaan semacam itu dijawab dengan tidak.
What was the nature of their error? Were they ignorant of God, or did they deny His existence, and was the Holy Prophet صلى الله عليه وسلم sent as God’s Messenger to make them acknowledge His existence? Or did they deny His being the Ilaah and the Rabb, and was it therefore the purpose of the Holy Qur'ān to persuade them of His godhood and Rububiyyah? Did they hold that He was not worthy of worship and adoration, or did they disbelieve His being able to listen to their prayers and grant their supplications? Did they think that Lat, Manat, and Uzza and Hubal and their other supposed gods were the real creators, masters, planners and organisers and administrators of the universe and the providers for all the creatures in it? Were their gods, according to them, the sources of all law and moral and social codes? When we study the Qur'ān, we find all such questions answered in the negative.
Orang-orang musyrik Arab tidak hanya mengakui keberadaan Tuhan, tetapi mereka juga meyakini Dia sebagai Pencipta dan Penguasa alam semesta serta para tuhan mereka sendiri, dan juga sebagai Ilaah dan Rabb. Kepada-Nyalah mereka memanjatkan segala doa mereka sebagai pilihan terakhir, ketika segala upaya lain gagal, dan mereka mengakui hak-Nya atas ibadah dan pengagungan mereka. Adapun tuhan-tuhan mereka, mereka tidak meyakini bahwa tuhan-tuhan itu adalah pencipta dan penguasa mereka, bukan pula pencipta dan penguasa alam semesta, dan tidak pula mampu memberikan petunjuk dalam urusan sosial dan moral kehidupan, lihat:
3.2.10. Pesan Al-Qur'ān
3.2.10. The Message of the Qur'ān
Uraian terperinci tentang konsepsi-konsepsi keliru dari berbagai kaum sebelum Islam di atas dengan jelas memperlihatkan bahwa dari masa paling awal hingga turunnya Al-Qur'an, tidak ada satu pun dari mereka yang disebut dalam Al-Qur'an sebagai orang-orang yang melampaui batas, sesat, dan tersesat, yang sesungguhnya mengingkari keberadaan Tuhan, atau bahwa Dia adalah Rabb dan Ilaah. Namun, semuanya keliru dengan cara yang hampir sama, yaitu dengan membagi sifat-sifat rubūbiyyah, dalam lima makna yang berbeda, ke dalam dua kompartemen yang terpisah.
The foregoing detailed exposition of the misguided conceptions of various pre-Islamic people make it patently clear that from earliest times to the revelation of the Qur'ān, none of those whom it mentions as the transgressors, the misguided, and the astray, actually denied the existence of God, or His being the Rabb and the Ilaah. All, however, went wrong in much the same ways in dividing the attributes of rubūbiyyah, in its five different senses, into two separate compartments.
Sejauh menyangkut sifat-sifat Allah seperti sifat-Nya sebagai Rabb (Pemelihara), Pemberi rezeki, serta Pelindung dan Penolong makhluk dalam pengertian transendental, orang-orang memandangnya sebagai sesuatu yang terpisah dari yang lain. Dan meskipun dalam ranah ini mereka mengakui Allah sebagai Rabb Yang Mahatinggi, mereka juga meyakini bahwa para malaikat dan berbagai tuhan, jin, serta kekuatan-kekuatan gaib, bintang-bintang dan benda-benda langit lainnya, para nabi dan wali serta orang-orang saleh lainnya, juga memiliki bagian-bagian yang berbeda dalam rubūbiyyah ini.
Insofar as such attributes of Allah as His being the Cherisher, the Provider, and the Protector and Helper of the creatures in the transcendental sense were concerned, the people regarded them as something apart from the rest. And, although in this sphere they did regard Allah as the Supreme Rabb, they also believed that the angels and various gods, the genii, and invisible forces, the stars, and other heavenly bodies, the Prophets and saints and other holy men, also had different shares in this rubūbiyyah.
Adapun sifat-sifat lainnya, yaitu bahwa Allah adalah Penguasa Tertinggi, Sumber segala otoritas, Pembuat Hukum Tertinggi, dan Tuhan Yang Mahakuasa atas seluruh ciptaan, dan seterusnya, maka manusia ada yang menyerahkan peran-peran tersebut sepenuhnya kepada manusia-manusia tertentu, atau ada pula yang, meskipun secara teori menetapkan peran-peran itu bagi Allah, dalam praktiknya memperlakukan seluruh rububiyyah dalam ranah moral, budaya, dan politik seolah-olah berada pada tangan mereka.
As for the remaining attributes, namely, Allah’s being the Supreme Sovereign, the Fountainhead of authority, the Supreme Law-giver, and the Supreme Lord of all creation etc., the people either assigned these roles wholly to particular human beings or, while assigning them to God in theory, in practice treated the entire rubūbiyyah in moral, cultural, and political spheres as vesting in these beings.