Apakah Tuhan Maha Penyayang? – Tanggapan Islam terhadap Kejahatan dan Penderitaan
Is God Merciful? – Islam’s Response To Evil And Suffering
Ketika saya masih kecil, orang tua saya selalu memarahi saya karena mencoba meminum wiski kakek saya. Bisa dibayangkan, seorang anak yang aktif dan penasaran mengamati kakeknya menyeruput cairan kental, berwarna emas, dan halus ini. Saya ingin mencobanya! Namun, setiap kali saya berusaha diam-diam meminum minuman yang menggoda itu, saya selalu mendapat masalah besar. Saya tidak pernah mengerti mengapa, sehingga pikiran-pikiran negatif tentang orang tua saya terus berkecamuk di benak saya. Bertahun-tahun kemudian, sekarang saya menyadari mengapa mereka tidak mengizinkan saya meminum wiski kakek saya; minuman itu bisa saja meracuni saya. Minuman beralkohol dengan kadar 40 persen tentu tidak akan nyaman bagi perut dan hati saya yang masih muda. Namun, ketika saya masih kecil, saya tidak memiliki akses kepada hikmah yang menjadi dasar keputusan orang tua saya, meskipun saya merasa berhak untuk bersikap negatif terhadap mereka.
When I was a child, my parents would always chide me for trying to drink my grandfather’s whisky. You can imagine, an active and inquisitive young child observing his grandfather sip this thick, gold, smooth liquid. I wanted some! However, every time I attempted to secretly drink the enticing beverage, I would get into big trouble. I never understood why, thus negative thoughts about my parents would race through my mind. Fast-forward many years, I now realise why they didn’t allow me to drink my grandfather’s whisky; it could have poisoned me. A 40 percent volume alcoholic drink would not have been pleasant on my young stomach or liver. However, when I was younger, I did not have access to the wisdom that formed the basis of my parents’ decision, yet I thought I was justified in my negativity towards them.
Hal ini merangkum sikap kaum ateis terhadap Tuhan ketika mencoba memahami kejahatan dan penderitaan di dunia. Kisah di atas tidak dimaksudkan untuk meremehkan penderitaan dan rasa sakit yang dialami manusia. Sebagai manusia, kita harus merasakan empati dan mencari cara untuk meringankan kesulitan orang lain. Namun, contoh tersebut dimaksudkan untuk mengangkat sebuah poin konseptual. Karena kepedulian yang tulus dan sah terhadap manusia dan makhluk hidup lainnya, banyak kaum ateis berpendapat bahwa keberadaan Tuhan yang Mahakuasa dan Maha Pengasih tidak sejalan dengan keberadaan kejahatan dan penderitaan di dunia. Jika Dia adalah Yang Maha Pengasih, Dia seharusnya menginginkan agar kejahatan dan penderitaan berhenti, dan jika Dia adalah Yang Mahakuasa, Dia seharusnya mampu menghentikannya. Namun, karena kejahatan dan penderitaan itu ada, berarti Dia tidak berkuasa, atau Dia tidak memiliki belas kasih, atau keduanya. Argumen kejahatan dan penderitaan memiliki dua bentuk, yaitu logis dan evidensial. Bentuk logis berupaya menyatakan bahwa ketiadaan Tuhan adalah kesimpulan yang niscaya. Bentuk ini menegaskan bahwa mustahil kejahatan dan penderitaan ada sementara Tuhan juga ada dengan sifat-sifat kekuasaan, pengetahuan, dan kebaikan.302 Namun, bentuk logis ini gagal menunjukkan mengapa kesimpulan tersebut benar-benar mengikuti. Bentuk logis di bawah ini tampaknya kehilangan sebuah premis:303.
This sums up the atheist attitude towards God when trying to understand evil and suffering in the world. The above story is not intended to belittle the suffering and pain that people experience. As human beings, we must feel empathy and find ways of alleviating people’s hardships. However, the example is meant to raise a conceptual point. Due to a valid and genuine concern for human and other sentient beings, many atheists argue that the existence of a powerful and merciful301 God is incompatible with the existence of evil and suffering in the world. If He is The-Merciful, He should want the evil and suffering to stop, and if He is All-Powerful, He should be able to stop it. However, since there is evil and suffering, it means that either He is not powerful, or He lacks mercy, or both. The evil and suffering argument has two forms. The logical and the evidential. The logical form attempts to argue that God not existing is a necessary conclusion. It maintains that it is impossible for evil and suffering to exist and at the same time God to exist with attributes of power, knowledge and goodness.302 However, the logical form fails to show why the conclusion necessarily follows. The logical form below seems to be missing a premise:303.
1. Jika Tuhan itu ada, maka Tuhan Mahakuasa dan Maha Mengetahui, dan membiarkan adanya kejahatan di dunia.
1. If God exists, then God is all powerful, and all knowing and allows there to be evil in the world.
2. Jika Tuhan itu Mahabaik, maka Dia akan menghilangkan kejahatan.
2. If God is all good, then he would eliminate evil.
3. Jika Tuhan Maha Kuasa, maka Dia dapat menghilangkan kejahatan.
3. If God is all powerful, then he can eliminate evil.
4. Jika Tuhan Maha Mengetahui, maka Dia menyadari setiap kejahatan yang ada.
4. If God is all knowing, then he is aware of any evil that exists.
5. Oleh karena itu, Tuhan tidak ada.304.
5. Therefore, God does not exist.304.
Premis yang hilang adalah: "Jika ada suatu zat yang mengetahui segala kejahatan, ingin menghapus kejahatan, dan mampu menghapus kejahatan, maka zat tersebut tidak akan membiarkan adanya kejahatan apa pun di dunia." Premis tersembunyi ini berusaha menegaskan adanya hubungan logis yang mengharuskan antara premis-premis sebelumnya dan kesimpulannya. Untuk membantah klaim ini, cukup dengan memberikan penjelasan yang mungkin bagi keberadaan Tuhan dan kejahatan. Karena ada berbagai kemungkinan penjelasan, premis tersembunyi dalam bentuk logis itu menjadi lemah. Bentuk evidensial menyatakan bahwa mengingat sifat dan banyaknya kejahatan, serta penderitaan yang tampaknya tidak perlu di dunia, sangat tidak mungkin ada Tuhan yang memiliki sifat kebaikan, kasih sayang, dan kekuasaan. Versi masalah kejahatan dan penderitaan ini secara intelektual lemah karena didasarkan pada dua asumsi keliru yang besar. Asumsi pertama berkaitan dengan hakikat Tuhan. Asumsi ini menyiratkan bahwa Tuhan hanya Maha Pengasih dan Maha Kuasa, sehingga hanya memilih dua sifat dan mengabaikan sifat-sifat lain yang telah diungkapkan Al-Qur'an tentang Tuhan. Meskipun konsepsi bentuk evidensial mencakup pengetahuan Tuhan, ia secara keliru menganggap bahwa kita mampu memahami seluruh pengetahuan Tuhan. Faktanya, kita memiliki keterbatasan epistemik; kita tidak akan pernah mampu menggapai keseluruhan pengetahuan Tuhan. Asumsi kedua adalah bahwa Tuhan tidak memberi kita alasan mengapa Dia membiarkan kejahatan dan penderitaan ada. Hal ini tidak benar. Wahyu Islam memberi kita banyak alasan mengapa Tuhan membiarkan kejahatan dan penderitaan ada. Kedua asumsi ini akan dibahas di bawah.
The missing premise is: “If there is a being that knows about all evil, wants to eliminate evil, and is able to eliminate evil, then that being would not allow there to be any evil in the world.”305 This hidden premise attempts to assert a necessary logical relation between the previous premises and the conclusion. To dismantle this assertion all that needs to be done is to provide a possible explanation for the existence of God and evil. Since there are a range of possible explanations the logical form’s hidden premise is undermined.306 The evidential form maintains that given the nature and abundance of evil, and the apparent unnecessary suffering in the world, it is highly unlikely that a God with attributes of goodness, mercy and power exists. This version of the problem of evil and suffering is intellectually weak because it is based on two major false assumptions. The first concerns the nature of God. It implies that God is only The-Merciful and All-Powerful, thereby isolating two attributes and ignoring others that the Qur’an has revealed about God. Even though a conception of the evidential form includes God’s knowledge, it falsely assumes that we will are able comprehend the totality of God’s knowledge. The fact is we have epistemic limitations, we can never grasp the totality of God’s knowledge. The second assumption is that God has provided us with no reasons for why He has allowed evil and suffering to exist. 307. This is not true. Islamic revelation provides us with many reasons for why God has allowed evil and suffering to exist. Both assumptions will be addressed below.
Apakah Tuhan hanya Maha Penyayang dan Maha Kuasa?
Is God only The-Merciful and All-Powerful?.
Menurut Al-Qur’an, Allah adalah Al-Qadeer, yang berarti Maha Kuasa, dan Ar-Rahmaan, yang berarti Maha Pengasih, yang juga mengandung makna belas kasih. Islam mewajibkan manusia untuk mengenal dan meyakini Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Pengasih, dan Maha Baik. Namun, kaum ateis secara keliru menggambarkan konsep Islam yang menyeluruh tentang Tuhan. Tuhan bukan hanya Maha Pengasih dan Maha Kuasa; sebaliknya, Dia memiliki banyak nama dan sifat. Semua ini dipahami secara menyeluruh melalui keesaan Tuhan (lihat Bab 15). Misalnya, salah satu nama-Nya adalah Al-Hakeem, yang berarti Maha Bijaksana. Karena hakikat Tuhan adalah kebijaksanaan, maka segala yang Dia kehendaki selaras dengan hikmah-Nya. Ketika sesuatu dijelaskan dengan hikmah yang mendasarinya, hal itu menyiratkan adanya alasan bagi terjadinya sesuatu tersebut. Dalam hal ini, kaum ateis mereduksi Tuhan menjadi dua sifat saja, dan dengan demikian membangun argumen manusia-jerami (straw man), salah menggambarkan konsep Islam tentang Tuhan, sehingga terlibat dalam monolog yang tidak relevan. Penulis Alom Shaha, yang menulis The Young Atheist’s Handbook, menanggapi klaim bahwa hikmah Ilahi merupakan penjelasan bagi kejahatan dan penderitaan dengan menyebutnya sebagai jalan pintas intelektual.
According to the Qur’an, God is Al-Qadeer, meaning the All-Powerful, and Ar-Rahmaan, meaning The-Merciful, which also implies compassion. Islam requires that mankind know and believe in a God of power, mercy and goodness. However, the atheist grossly misrepresents the comprehensive Islamic conception of God. God is not only The-Merciful and All-Powerful; rather, He has many names and attributes. These are understood holistically via God’s oneness (see Chapter 15). For instance, one of His names is Al-Hakeem, meaning The-Wise. Since the very nature of God is wisdom, it follows that whatever He wills is in line with Divine wisdom. When something is explained by an underlying wisdom, it implies a reason for its occurrence. In this light, the atheist reduces God to two attributes and by doing so builds a straw man, misrepresenting the Islamic conception of God, thereby engaging in an irrelevant monologue. The writer Alom Shaha, who wrote The Young Atheist’s Handbook, responds to the assertion that Divine wisdom is an explanation for evil and suffering by describing it as an intellectual cop-out:
“Masalah kejahatan benar-benar membuat bingung kebanyakan orang beriman biasa. Dari pengalaman saya, mereka biasanya menjawab dengan sesuatu seperti, ‘Tuhan bekerja dengan cara yang misterius.’ Kadang mereka berkata, ‘Penderitaan adalah cara Tuhan menguji kita,’ yang kemudian dijawab dengan jelas, ‘Mengapa Dia harus menguji kita dengan cara yang begitu jahat?’ Lalu jawabannya kembali, ‘Tuhan bekerja dengan cara yang misterius.’ Anda sudah paham maksudnya.” 308.
“The problem of evil genuinely stumps most ordinary believers. In my experience, they usually respond with an answer along the lines of, ‘God moves in mysterious ways.’ Sometimes they’ll say, ‘Suffering is God’s way of testing us,’ to which the obvious response is, ‘Why does he have to test us in such evil ways’ To which the response is, ‘God moves in mysterious ways.’ You get the idea.”308.
Alom, seperti banyak ateis lainnya, melakukan kekeliruan argumentum ad ignorantiam, yaitu berargumen dari ketidaktahuan. Hanya karena ia tidak dapat memahami hikmah Ilahi, bukan berarti hikmah itu tidak ada. Penalaran semacam ini khas anak balita. Banyak anak dimarahi orang tuanya karena menginginkan sesuatu, misalnya makan terlalu banyak permen. Balita biasanya menangis atau mengamuk karena menganggap ibu dan ayahnya jahat, tetapi sang anak tidak menyadari hikmah di balik larangan itu (dalam hal ini, terlalu banyak permen buruk bagi giginya). Selain itu, bantahan ini keliru dalam memahami definisi dan hakikat Tuhan. Karena Tuhan itu transenden, Maha Mengetahui, dan Maha Bijaksana, maka secara logis manusia yang terbatas tidak dapat sepenuhnya memahami kehendak Ilahi. Bahkan jika kita mengira dapat memahami seluruh hikmah Tuhan, itu berarti kita menyamai Tuhan, yang menafikan sifat transendensi-Nya, atau menyiratkan bahwa Tuhan itu terbatas seperti manusia. Argumen ini tidak berpengaruh bagi orang beriman mana pun, karena tidak ada Muslim yang meyakini Tuhan yang diciptakan dan terbatas. Merujuk pada hikmah Ilahi bukanlah jalan pintas intelektual, sebab hal itu tidak merujuk pada sesuatu yang misterius dan tidak diketahui. Sebaliknya, hal itu benar-benar memahami hakikat Tuhan dan menarik kesimpulan logis yang diperlukan. Sebagaimana telah saya sampaikan sebelumnya, Tuhan memiliki gambaran utuh, sedangkan kita hanya memiliki satu piksel.
Alom, like many other atheists, commits the fallacy of argumentum ad ignoratium, arguing from ignorance. Just because he cannot access Divine wisdom does not mean it does not exist. This reasoning is typical of toddlers. Many children are scolded by their parents for something they want to do, such as eating too many sweets. The toddlers usually cry or have a tantrum because they think how bad mummy and daddy are, but the child does not realise the wisdom underlying their objection (in this case, too many sweets are bad for their teeth). Furthermore, this contention misunderstands the definition and nature of God. Since God is transcendent, knowing and wise, then it logically follows that limited human beings cannot fully comprehend the Divine will. To even suggest that we can appreciate the totality of God’s wisdom would imply that we are like God, which denies the fact of His transcendence, or suggests that God is limited like a human. This argument has no traction with any believer, because no Muslim believes in a created, limited God. It is not an intellectual cop-out to refer to Divine wisdom, because it is not referring to some mysterious unknown. Rather, it truly understands the nature of God and makes the necessary logical conclusions. As I have pointed out before, God has the picture, and we have just a pixel.
Sebagaimana disebutkan dalam Bab 1, masalah argumen kejahatan dan penderitaan menyingkap suatu bias kognitif yang dikenal sebagai 'egosentrisme'. Orang seperti ini tidak dapat melihat sudut pandang apa pun atas suatu persoalan selain sudut pandangnya sendiri. Sebagian ateis menderita bias kognitif ini. Mereka berasumsi bahwa karena mereka tidak mampu membayangkan alasan yang baik untuk membenarkan kejahatan dan penderitaan di dunia, maka setiap orang lain, termasuk Tuhan, pastilah juga memiliki masalah yang sama. Maka mereka mengingkari Tuhan, karena mereka mengira Tuhan tidak dapat dibenarkan atas pembiaran-Nya terhadap kejahatan dan penderitaan di dunia. Jika Tuhan tidak memiliki pembenaran, maka rahmat dan kekuasaan Tuhan hanyalah ilusi. Dengan demikian, konsep Tuhan yang tradisional menjadi batal. Namun, yang sesungguhnya dilakukan para ateis hanyalah memproyeksikan perspektif mereka sendiri kepada Tuhan. Ini seperti berargumen bahwa Tuhan harus berpikir sebagaimana manusia berpikir. Hal ini mustahil, karena manusia dan Tuhan tidak dapat dibandingkan, sebab Tuhan itu transenden dan memiliki keseluruhan hikmah serta pengetahuan.
As mentioned in Chapter 1, the problem of the evil and suffering argument exposes a cognitive bias known as ‘egocentrism’. Such a person cannot see any perspective on a particular issue apart from their own. Some atheists suffer from this cognitive bias. They assume that since they cannot possibly fathom any good reasons to justify the evil and suffering in the world, everyone else—including God—must also have the same problem. Thus they deny God, because they assume that God cannot be justified for permitting the evil and suffering in the world. If God has no justification, then the mercy and power of God are illusions. Thus, the traditional concept of God is nullified. However, all atheists have done is superimposed their perspective on God. This is like arguing that God must think how humans think. This is impossible because human beings and God cannot be compared, as God is transcendent and has the totality of wisdom and knowledge.
Pada titik ini, kaum ateis mungkin menanggapi bahwa uraian di atas adalah cara cerdik untuk menghindari masalah: jika kaum teis dapat merujuk pada hikmah Tuhan yang begitu agung sehingga tidak dapat dipahami, maka kita bisa menjelaskan apa pun yang "misterius" dengan merujuk pada hikmah Ilahi. Saya agak memahami tanggapan ini; namun, dalam konteks masalah kejahatan dan penderitaan, tanggapan itu merupakan argumen yang keliru. Justru kaum ateis yang pada awalnya merujuk pada sifat-sifat Tuhan: kekuasaan dan kasih sayang-Nya. Kaum ateis seharusnya merujuk kepada Tuhan sebagaimana Dia adalah, bukan sebagai pelaku yang hanya memiliki dua sifat. Jika mereka memasukkan sifat-sifat lain seperti hikmah, argumen mereka tidak akan lagi sah. Jika mereka memasukkan sifat hikmah, mereka harus menunjukkan bagaimana hikmah Ilahi tidak sejalan dengan dunia yang penuh penderitaan dan kejahatan. Hal ini mustahil dibuktikan, karena dalam kehidupan intelektual dan praktis kita terdapat begitu banyak contoh ketika kita mengakui keterbatasan kemampuan intelektual kita sendiri; dengan kata lain, ada kalanya kita tunduk pada suatu hikmah yang tidak dapat kita pahami. Kita secara rasional menerima kenyataan-kenyataan yang tidak kita pahami secara rutin. Misalnya, ketika kita mengunjungi dokter, kita menganggap dokter sebagai pihak yang berwenang. Kita mempercayai diagnosis dokter atas dasar itu. Kita bahkan meminum obat yang diresepkannya tanpa berpikir dua kali. Contoh ini dan banyak contoh serupa lainnya dengan jelas menunjukkan bahwa merujuk pada hikmah Tuhan bukanlah cara menghindari masalah. Sebaliknya, hal itu merupakan penggambaran yang tepat tentang siapa Tuhan itu, dan bukan anggapan bahwa Tuhan hanya memiliki dua sifat. Karena Dia Maha Bijaksana, dan nama-nama serta sifat-sifat-Nya sempurna secara maksimal, maka dapat disimpulkan bahwa ada hikmah di balik segala sesuatu yang Dia lakukan, meskipun kita tidak mengetahui atau memahami hikmah itu. Banyak dari kita tidak memahami bagaimana penyakit bekerja, namun fakta bahwa kita tidak memahami sesuatu tidak meniadakan keberadaannya.
At this point, the atheist might respond by describing the above as an intelligent way of evading the problem: If the theist can refer to God’s wisdom as so great that it cannot be understood, then we can explain anything ‘mysterious’ in reference to a Divine wisdom. I somewhat empathise with this reply; however, in the context of the problem of evil and suffering, it is a false argument. It is the atheist that refers to God’s attributes to begin with; His power and mercy. Atheists should refer to God as who He is, not as an agent with only two attributes. If they were to include other attributes such as wisdom, their argument would not be valid. If they were to include the attribute of wisdom, they would have to show how Divine wisdom is incompatible with a world full of suffering or evil. This would be impossible to prove, because there are so many examples in our intellectual and practical lives where we admit our intellectual inferiority—in other words, there are cases where we submit to a wisdom we cannot understand. We rationally submit to realities that we cannot understand on a regular basis. For example, when we visit the doctor, we assume that the doctor is an authority. We trust the doctor’s diagnosis on this basis. We even take the medicine the doctor prescribes without any second thought. This and many other similar examples clearly show that referring to God’s wisdom is not evading the problem. Rather, it is accurately presenting who God is and not making out that God has only two attributes. Since He is The-Wise, and His names and attributes are maximally perfect, it follows that there is wisdom behind everything that He does—even if we do not know or understand that wisdom. Many of us do not understand how diseases work, but just because we do not understand something does not negate its existence.
Al-Qur'an menanamkan pemahaman ini melalui kisah-kisah dan narasi yang sarat makna. Ambil contoh kisah Musa dan seorang laki-laki yang ia temui dalam perjalanannya, yang dikenal sebagai Khidir. Musa melihat Khidir melakukan hal-hal yang tampak tidak adil dan keji, namun pada akhir perjalanan mereka, hikmah yang tidak dapat Musa pahami pun terungkap.
The Qur’an uses profound stories and narratives to instil this understanding. Take, for instance, the story of Moses and a man he encountered on his travels, known as Khidr. Moses observed him do things that seemed unjust and evil, but at the end of their journey, the wisdom that Moses did not have access to was brought to light:
Maka keduanya kembali, menelusuri jejak mereka, dan menemukan salah seorang hamba Kami—seorang yang telah Kami anugerahi rahmat dari sisi Kami dan telah Kami ajari ilmu dari sisi Kami. Musa berkata kepadanya, "Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian dari ilmu yang telah diajarkan kepadamu?" Orang itu berkata, "Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku. Bagaimana engkau dapat bersabar atas sesuatu yang belum engkau ketahui?" Musa berkata, "Insya Allah engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam suatu urusan pun." Orang itu berkata, "Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu hingga aku sendiri menerangkannya kepadamu." Maka keduanya berjalan terus. Kemudian ketika keduanya menaiki sebuah perahu, orang itu melubanginya. Musa berkata, "Mengapa engkau melubangi perahu itu? Apakah engkau hendak menenggelamkan penumpangnya? Sungguh, engkau telah berbuat sesuatu yang sangat mungkar!" Orang itu berkata, "Bukankah aku telah mengatakan bahwa engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku?" Musa berkata, "Janganlah engkau menghukumku karena kelupaanku, dan janganlah engkau membebaniku dengan kesulitan dalam urusanku." Maka keduanya berjalan terus. Lalu ketika keduanya bertemu dengan seorang anak muda, orang itu membunuhnya. Musa berkata, "Mengapa engkau membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar!" Orang itu berkata, "Bukankah telah kukatakan kepadamu bahwa engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku?" Musa berkata, "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu setelah ini, maka janganlah engkau menemaniku. Sungguh, engkau telah cukup menerima alasan dariku." Maka keduanya berjalan terus. Hingga ketika keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka meminta jamuan kepada penduduknya, tetapi penduduk itu menolak menjamu mereka. Lalu keduanya mendapati dinding rumah yang hampir roboh, lalu orang itu menegakkannya kembali. Musa berkata, "Jika engkau mau, niscaya engkau dapat meminta upah untuk itu." Orang itu berkata, "Inilah perpisahan antara aku dan engkau. Aku akan memberitahukan kepadamu tentang makna dari hal-hal yang engkau tidak sanggup sabar terhadapnya. Adapun perahu itu adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku ingin merusakkannya karena di belakang mereka ada seorang raja yang merampas setiap perahu secara paksa." Anak laki-laki itu memiliki orang tua yang beriman, dan karena kami khawatir ia akan membebani mereka dengan kedurhakaan dan kekafiran, kami menghendaki agar Tuhan mereka menggantinya dengan anak lain yang lebih suci dan lebih penyayang.309 Dinding itu milik dua anak yatim di kota tersebut, dan di bawahnya terdapat harta karun yang menjadi milik mereka. Ayah mereka adalah orang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar mereka mencapai usia dewasa lalu mengeluarkan harta mereka sebagai rahmat dari Tuhanmu. Aku tidak melakukan semua itu atas kehendakku sendiri. Inilah penjelasan atas hal-hal yang tidak dapat engkau sabari.”310
“So the two turned back, retraced their footsteps, and found one of Our servants— a man to whom We had granted Our mercy and whom We had given knowledge of Our own. Moses said to him, ‘May I follow you so that you can teach me some of the right guidance you have been taught?’ The man said, ‘You will not be able to bear with me patiently. How could you be patient in matters beyond your knowledge?’ Moses said, ‘God willing, you will find me patient. I will not disobey you in any way.’ The man said, ‘If you follow me then, do not query anything I do before I mention it to you myself.’ They travelled on. Later, when they got into a boat, and the man made a hole in it, Moses said, ‘How could you make a hole in it? Do you want to drown its passengers? What a strange thing to do!’ He replied, ‘Did I not tell you that you would never be able to bear with me patiently?’ Moses said, ‘Forgive me for forgetting. Do not make it too hard for me to follow you.’ And so they travelled on. Then, when they met a young boy and the man killed him, Moses said, ‘How could you kill an innocent person? He has not killed anyone! What a terrible thing to do!’ He replied, ‘Did I not tell you that you would never be able to bear with me patiently?’ Moses said, ‘From now on, if I query anything you do, banish me from your company— you have put up with enough from me.’ And so they travelled on. Then, when they came to a town and asked the inhabitants for food but were refused hospitality, they saw a wall there that was on the point of falling down and the man repaired it. Moses said, ‘But if you had wished you could have taken payment for doing that.’ He said, ‘This is where you and I part company. I will tell you the meaning of the things you could not bear with patiently: the boat belonged to some needy people who made their living from the sea and I damaged it because I knew that coming after them was a king who was seizing every [serviceable] boat by force. The young boy had parents who were people of faith, and so, fearing he would trouble them through wickedness and disbelief, we wished that their Lord should give them another child—purer and more compassionate—in his place. 309 The wall belonged to two young orphans in the town and there was buried treasure beneath it belonging to them. Their father had been a righteous man, so your Lord intended them to reach maturity and then dig up their treasure as a mercy from your Lord. I did not do [these things] of my own accord: these are the explanations for those things you could not bear with patience.’”310.
Selain mengkontraskan hikmah kita yang terbatas dengan hikmah Tuhan, kisah ini juga memberikan pelajaran dan wawasan spiritual yang penting. Pelajaran pertama adalah bahwa untuk memahami kehendak Tuhan, seseorang harus rendah hati. Musa mendatangi Khidir, dan ia tahu bahwa Khidir memiliki pengetahuan yang diilhamkan secara ilahiah, yang tidak Tuhan berikan kepada Musa. Musa dengan rendah hati meminta untuk belajar darinya, namun Khidir menanggapinya dengan mempertanyakan kemampuan Musa untuk bersabar; meski demikian, Musa tetap bersikeras dan ingin belajar. (Status spiritual Musa sangat tinggi menurut tradisi Islam. Ia adalah nabi dan rasul, namun ia mendatangi orang itu dengan rendah hati.) Pelajaran kedua adalah bahwa kesabaran diperlukan untuk menghadapi secara emosional dan psikologis penderitaan dan kejahatan di dunia. Khidir tahu bahwa Musa tidak akan mampu bersabar terhadapnya, karena ia akan melakukan hal-hal yang menurut Musa adalah keburukan. Musa berusaha bersabar namun selalu mempertanyakan tindakan orang itu dan menyatakan kemarahannya atas keburukan yang ia lihat. Namun, di akhir kisah, Khidir menjelaskan hikmah Ilahi di balik tindakannya setelah menegur Musa karena tidak mampu bersabar. Yang dapat kita pelajari dari kisah ini adalah bahwa untuk dapat menghadapi kejahatan dan penderitaan di dunia, termasuk ketidakmampuan kita untuk memahaminya, kita harus rendah hati dan sabar.
In addition to contrasting our limited wisdom with God’s, this story also provides key lessons and spiritual insights. The first lesson is that in order to understand God’s will, one has to be humble. Moses approached Khidr, and knew that he had some Divinely inspired knowledge that God had not given to Moses. Moses humbly asked to learn from him, yet Khidr responded by questioning his ability to be patient; nevertheless, Moses insisted and wanted to learn. (The spiritual status of Moses is very high according to the Islamic tradition. He was a prophet and messenger, yet he approached the man with humility.) The second lesson is that patience is required to emotionally and psychologically deal with the suffering and evil in the world. Khidr knew that Moses would not be able to be patient with him, as he was going to do things that Moses thought were evil. Moses tried to be patient but always questioned the man’s actions and expressed his anger at the perceived evil. However, at the end of the story, Khidr explained the Divine wisdom behind his actions after exclaiming that Moses was not able to be patient. What we learn from this story is that to be able to deal with evil and suffering in the world, including our inability to understand it, we must be humble and patient.
Mengomentari ayat-ayat di atas, ulama klasik Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Khidr adalah orang yang kepadanya Tuhan telah memberikan pengetahuan tentang hakikat di balik keburukan dan penderitaan yang tampak, dan pengetahuan itu tidak diberikan kepada Musa. Berkenaan dengan makna pernyataan, "Engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku", Ibnu Katsir menulis: "Engkau tidak akan sanggup menyertaiku ketika engkau melihat aku melakukan hal-hal yang bertentangan dengan syariatmu, karena aku memiliki pengetahuan dari Tuhan yang tidak Dia ajarkan kepadamu, dan engkau memiliki pengetahuan dari Tuhan yang tidak Dia ajarkan kepadaku."311.
Commenting on the above verses, the classical scholar Ibn Kathir explained that Khidr was the one to whom God had given knowledge of the reality behind the perceived evil and suffering, and He had not given it to Moses. With reference to the meaning of the statement, “You will not be able to bear with me patiently”, Ibn Kathir wrote: “You will not be able to accompany with me when you see me doing things that go against your law, because I have knowledge from God that He has not taught you, and you have knowledge from God that He has not taught me.”311.
Pada intinya, hikmah Tuhan itu tak terbatas dan sempurna, sedangkan kita memiliki hikmah dan pengetahuan yang terbatas. Dengan kata lain, Tuhan memiliki keseluruhan hikmah dan pengetahuan; kita hanya memiliki bagian-bagiannya. Kita melihat segala sesuatu dari sudut pandang kita yang parsial. Jatuh ke dalam jebakan egosentrisme ibarat meyakini bahwa Anda telah mengetahui keseluruhan teka-teki setelah hanya melihat satu kepingnya. Karena itu Ibnu Katsir menjelaskan bahwa firman, "Bagaimana engkau dapat bersabar terhadap sesuatu yang di luar pengetahuanmu?" bermakna bahwa ada hikmah Ilahi yang tidak dapat kita jangkau: "Sebab aku tahu bahwa engkau akan mengingkariku dengan alasan yang benar, tetapi aku memiliki pengetahuan tentang hikmah Tuhan dan kemaslahatan tersembunyi yang dapat aku lihat namun tidak dapat engkau lihat."312.
In essence, God’s wisdom is unbounded and complete, whereas we have limited wisdom and knowledge. Another way of putting it is that God has the totality of wisdom and knowledge; we just have its particulars. We see things from the perspective of our fragmentary viewpoint. To fall for the trap of egocentrism is like believing you know the entire puzzle after seeing only one piece. Hence Ibn Kathir explains that the verse, “How could you be patient in matters beyond your knowledge?” means that there is a Divine wisdom that we cannot access: “For I know that you will denounce me justifiably, but I have knowledge of God’s wisdom and the hidden interests which I can see but you cannot.”312.
Pandangan bahwa segala yang terjadi sejalan dengan hikmah Ilahi itu memberdayakan dan positif. Hal ini karena hikmah Tuhan tidak bertentangan dengan aspek-aspek lain dari sifat-Nya, seperti kesempurnaan dan kebaikan-Nya. Oleh karena itu, kejahatan dan penderitaan pada akhirnya merupakan bagian dari tujuan Ilahi. Di antara banyak ulama klasik lainnya, cendekiawan abad ke-14 Ibnu Taimiyyah merangkum poin ini dengan baik: "Tuhan tidak menciptakan kejahatan murni. Sebaliknya, dalam segala sesuatu yang Dia ciptakan terdapat tujuan yang bijaksana karena kebaikannya. Namun, mungkin ada sedikit kejahatan di dalamnya bagi sebagian orang, dan ini adalah kejahatan yang parsial dan relatif. Adapun kejahatan total atau kejahatan mutlak, Tuhan terbebas dari hal itu."313
The view that everything that happens is in line with a Divine wisdom is empowering and positive. This is because God’s wisdom does not contradict other aspects of His nature, such as His perfection and goodness. Therefore, evil and suffering are ultimately part of a Divine purpose. Among many other classical scholars, the 14th century scholar Ibn Taymiyya summarises this point well: “God does not create pure evil. Rather, in everything that He creates is a wise purpose by virtue of what is good. However, there may be some evil in it for some people, and this is partial, relative evil. As for total evil or absolute evil, the Lord is exonerated of that.”313
Hal ini tidak meniadakan konsep kebenaran moral yang objektif yang dibahas dalam bab sebelumnya. Bahkan jika segala sesuatu selaras dengan kebaikan yang mutlak, dan keburukan bersifat 'parsial', hal itu tidak meruntuhkan konsep keburukan yang objektif. Sebagaimana telah dibahas, keburukan yang objektif tidak bersifat mutlak, melainkan keburukan yang didasarkan pada konteks atau sekumpulan variabel tertentu. Jadi, sesuatu dapat bersifat objektif buruk karena variabel atau konteks tertentu, dan pada saat yang sama ia dapat termasuk dalam tujuan Ilahi yang menyeluruh yang bersifat baik dan bijaksana.
This does not negate the concept of objective moral truths mentioned in the previous chapter. Even if everything is in line with ultimate goodness, and evil is ‘partial’, it does not undermine the concept of objective evil. As discussed, objective evil is not absolute, but rather it is evil based on a particular context or set of variables. So something can be objectively evil due to certain variables or context, and at the same time it can be included within an ultimate Divine purpose that is good and wise.
Hal ini menimbulkan respons psikologis yang positif pada orang-orang beriman, karena segala kejahatan dan segala penderitaan yang terjadi adalah untuk suatu tujuan Ilahi. Ibnu Taimiyah merangkum poin ini juga: "Jika Tuhan—Maha Tinggi Dia—adalah Pencipta segala sesuatu, Dia menciptakan yang baik dan yang buruk karena hikmah yang Dia miliki, yang dengannya perbuatan-Nya menjadi baik dan sempurna."314
This evokes positive psychological responses from believers, because all the evil and all the suffering that occur are for a Divine purpose. Ibn Taymiyya summarises this point as well: “If God— exalted is He—is Creator of everything, He creates good and evil on account of the wise purpose that He has in that by virtue of which His action is good and perfect.”314
Henri Laoust, dalam Essay sur les doctrines sociales et politiques de Taki-d-Din Ahmad b. Taimiya, juga menjelaskan posisi ini: "Tuhan pada hakikatnya adalah providensi. Kejahatan tidak memiliki eksistensi yang nyata di dunia. Segala yang telah dikehendaki Tuhan hanya dapat sesuai dengan keadilan yang berdaulat dan kebaikan yang tak terbatas, dengan syarat, bagaimanapun, bahwa hal itu dipandang dari sudut totalitas dan bukan dari sudut pengetahuan yang terpecah-pecah dan tidak sempurna yang dimiliki makhluk-makhluk-Nya tentang realitas…."315.
Henri Laoust, in his Essay sur les doctrines sociales et politiques de Taki-d-Din Ahmad b. Taimiya, also explains this position: “God is essentially providence. Evil is without real existence in the world. All that God has willed can only conform to a sovereign justice and an infinite goodness, provided, however, that it is envisaged from the point of view of the totality and not from that of the fragmentary and imperfect knowledge that His creatures have of reality….”315.
Apakah Tuhan memberi kita alasan mengapa Ia mengizinkan kejahatan dan penderitaan ada?
Does God give us reasons for why He has allowed evil and suffering to exist?.
Jawaban yang memadai atas asumsi kedua adalah dengan memberikan argumen yang kuat bahwa Tuhan telah menyampaikan kepada kita beberapa alasan mengapa Dia mengizinkan kejahatan dan penderitaan di dunia. Kekayaan intelektual pemikiran Islam memberi kita banyak alasan tersebut.
A sufficient response to the second assumption is to provide a strong argument that God has communicated some reasons to us about why He has allowed evil and suffering in the world. The intellectual richness of Islamic thought provides us with many reasons.
Tujuan kami adalah ibadah.
Our purpose is worship.
Tujuan utama manusia bukanlah untuk menikmati rasa bahagia yang bersifat sementara; melainkan untuk mencapai kedamaian batin yang mendalam melalui mengenal dan menyembah Tuhan (lihat Bab 15). Pemenuhan tujuan Ilahi ini akan menghasilkan kebahagiaan abadi dan kebahagiaan sejati. Jadi, jika ini adalah tujuan utama kita, aspek-aspek lain dari pengalaman manusia bersifat sekunder. Al-Qur'an menyatakan, "Tidak Aku ciptakan jin [dunia roh] dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku."316
The primary purpose of the human being is not to enjoy a transitory sense of happiness; rather, it is to achieve a deep internal peace through knowing and worshipping God (see Chapter 15). This fulfilment of the Divine purpose will result in everlasting bliss and true happiness. So, if this is our primary purpose, other aspects of human experience are secondary. The Qur’an states, “I did not create either jinn [spirit world] or man except to worship Me.”316
Pertimbangkanlah seseorang yang tidak pernah mengalami penderitaan atau rasa sakit, tetapi selalu merasakan kenikmatan. Orang ini, karena keadaannya yang senang dan nyaman, telah melupakan Tuhan sehingga gagal melakukan apa yang untuk itu ia diciptakan. Bandingkanlah orang ini dengan seseorang yang pengalaman kesulitan dan rasa sakitnya telah membawanya kepada Tuhan, dan memenuhi tujuan hidupnya. Dari perspektif tradisi spiritual Islam, orang yang penderitaannya telah membawanya kepada Tuhan lebih baik daripada orang yang tidak pernah menderita dan yang kenikmatannya telah menjauhkannya dari Tuhan.
Consider someone who has never experienced any suffering or pain, but experiences pleasure all the time. This person, by virtue of his state of ease, has forgotten God and therefore failed to do what he was created to do. Compare this person with someone whose experiences of hardship and pain have led him to God, and fulfilled his purpose in life. From the perspective of the Islamic spiritual tradition, the one whose suffering has led him to God is better than the one who has never suffered and whose pleasures have led him away from God.
Hidup adalah ujian.
Life is a test.
Tuhan juga menciptakan kita untuk diuji, dan sebagian dari ujian ini adalah mengalami cobaan berupa penderitaan dan kejahatan. Lulus dari ujian ini membuka jalan bagi kita untuk menempati tempat tinggal abadi berupa kenikmatan yang kekal di surga. Al-Qur'an menjelaskan bahwa Tuhan menciptakan kematian dan kehidupan, "agar Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Pengampun."317
God also created us for a test, and part of this test is to experience trials with suffering and evil. Passing the test facilitates our permanent abode of eternal bliss in paradise. The Qur’an explains that God created death and life, “so that He may put you to test, to find out which of you is best in deeds: He is the The-Almighty, The-Forgiving.”317
Secara mendasar, kaum ateis keliru memahami tujuan keberadaan kita di Bumi. Dunia ini semestinya menjadi arena ujian dan cobaan untuk menguji perilaku kita dan agar kita menumbuhkan kebajikan. Misalnya, bagaimana kita bisa melatih kesabaran jika tidak pernah mengalami hal-hal yang menguji kesabaran kita? Bagaimana kita bisa menjadi berani jika tidak ada bahaya yang harus dihadapi? Bagaimana kita bisa berwelas asih jika tidak ada orang yang membutuhkannya? Kehidupan sebagai ujian menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Kita membutuhkan tantangan untuk memastikan pertumbuhan moral dan spiritual kita. Kita tidak berada di sini untuk bersenang-senang; itulah tujuan surga. Lalu mengapa hidup ini merupakan ujian? Karena Tuhan Maha Sempurna dalam kebaikan-Nya, Dia menghendaki setiap dari kita beriman dan, sebagai akibatnya, merasakan kebahagiaan abadi bersama-Nya di surga. Tuhan menjelaskan dengan gamblang bahwa Dia lebih menyukai keimanan bagi kita semua: "Dan Dia tidak meridai kekafiran bagi hamba-hamba-Nya."318
On a basic level, the atheist misunderstands the purpose of our existence on Earth. The world is supposed to be an arena of trials and tribulations in order to test our conduct and for us to cultivate virtue. For example, how can we cultivate patience if we do not experience things that test our patience? How can we become courageous if there are no dangers to be confronted? How can we be compassionate if no one is in need of it? Life being a test answers these questions. We need challenges to ensure our moral and spiritual growth. We are not here to party; that is the purpose of paradise. So why is life a test? Since God is perfectly good, He wants every single one of us to believe and, as a result, experience eternal bliss with Him in paradise. God makes it clear that He prefers belief for us all: “And He does not approve for His servants’ disbelief.”318
Hal ini dengan jelas menunjukkan bahwa Tuhan tidak menginginkan siapa pun masuk neraka. Namun, jika Dia mengirim semua orang ke surga, maka akan terjadi pelanggaran keadilan yang nyata; Tuhan akan memperlakukan Musa, Firaun, Hitler, dan Yesus sama saja. Diperlukan suatu mekanisme untuk memastikan bahwa orang-orang yang masuk surga melakukannya berdasarkan jasa mereka. Inilah yang menjelaskan mengapa hidup adalah ujian. Hidup hanyalah sebuah mekanisme untuk melihat siapa di antara kita yang benar-benar layak mendapatkan kebahagiaan abadi. Oleh karena itu, hidup dipenuhi rintangan, yang berfungsi sebagai ujian atas perilaku kita.
This clearly shows that God does not want anyone to go to hell. However, if He were to send everyone to paradise, then a gross violation of justice would take place; God would be treating Moses and the Pharaoh and Hitler and Jesus as the same. A mechanism is needed to ensure that people who enter paradise do so based on merit. This explains why life is a test. Life is just a mechanism to see who among us are truly deserving of eternal happiness. As such, life is filled with obstacles, which act as tests of our conduct.
Dalam hal ini, Islam sangat memberdayakan karena memandang penderitaan, kejahatan, bahaya, rasa sakit, dan masalah sebagai ujian. Kita boleh bersenang-senang, tetapi kita diciptakan dengan suatu tujuan, dan tujuan itu adalah beribadah kepada Tuhan. Pandangan Islam yang memberdayakan ini menganggap ujian sebagai tanda cinta Tuhan. Nabi Muhammad ﷺ bersabda, "Apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia mengujinya."319
In this regard, Islam is extremely empowering because it sees suffering, evil, harm, pain and problems as a test. We can have fun, but we have been created with a purpose and that purpose is to worship God. The empowering Islamic view is that tests are seen as sign of God’s love. The Prophet Muhammad صلى الله عليه وسلم said, “When God loves a servant, He tests him.”319
Alasan Tuhan menguji mereka yang Dia cintai adalah karena hal itu menjadi jalan untuk meraih kenikmatan abadi surga, dan masuk surga merupakan hasil dari cinta dan rahmat Ilahi. Tuhan menjelaskan hal ini dengan jelas dalam Al-Qur'an: {"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelummu? Mereka ditimpa kemelaratan dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, 'Kapankah datang pertolongan Allah?' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat."}320
The reason God tests those whom He loves is because it is an avenue to achieve the eternal bliss of paradise—and entering paradise is a result of Divine love and mercy. God points this out clearly in the Qur’an: “Do you suppose that you will enter the Garden without first having suffered like those before you? They were afflicted by misfortune and hardship, and they were so shaken that even [their] messenger and the believers with him cried, ‘When will God’s help arrive?’ Truly, God’s help is near.”320
Keindahan tradisi Islam adalah bahwa Tuhan, yang mengenal kita lebih baik daripada diri kita sendiri, telah memberdayakan kita dan memberi tahu kita bahwa kita memiliki kemampuan untuk mengatasi cobaan-cobaan ini. "Tuhan tidak membebani suatu jiwa melainkan sesuai dengan kesanggupannya."321
The beauty of the Islamic tradition is that God, who knows us better than we know ourselves, has already empowered us and tells us that we have what it takes to overcome these trials. “God does not burden any soul with more than it can bear.”321
Namun, jika kita tidak dapat mengatasi cobaan-cobaan ini setelah berusaha sekuat tenaga, rahmat dan keadilan Tuhan akan memastikan bahwa kita tetap diberi balasan dalam bentuk tertentu, baik di kehidupan dunia ini maupun di kehidupan abadi yang menanti kita.
However, if we cannot overcome these trials after having tried our best, God’s mercy and justice will ensure that we are recompensed in some way, either in this life or the eternal life that awaits us.
Mengenal Tuhan.
Knowing God.
Kesulitan dan penderitaan memungkinkan kita untuk menyadari dan mengenal sifat-sifat Tuhan, seperti Yang Maha Melindungi dan Yang Maha Menyembuhkan. Misalnya, tanpa rasa sakit akibat penyakit, kita tidak akan menghargai sifat Tuhan sebagai Yang Maha Menyembuhkan, atau Yang memberi kita kesehatan. Dalam tradisi spiritual Islam, mengenal Tuhan adalah kebaikan yang lebih besar, dan layak ditempuh melalui pengalaman penderitaan atau rasa sakit, karena hal itu akan memastikan tercapainya tujuan utama kita, yang pada akhirnya mengantarkan ke surga.
Hardship and suffering enables us to realise and know God’s attributes, such as The-Protector and The-Healer. For example, without the pain of illness we would not appreciate God’s attributes as The-Healer, or the one who gives us health. Knowing God in the Islamic spiritual tradition is a greater good, and worth the experience of suffering or pain, as it will ensure the fulfilment of our primary purpose, which ultimately leads to paradise.
Kebaikan yang lebih besar.
Greater good.
Penderitaan dan kejahatan memungkinkan adanya kebaikan yang lebih besar, yang juga dikenal sebagai kebaikan tingkat kedua. Kebaikan tingkat pertama adalah kenikmatan jasmani dan kebahagiaan, dan kejahatan tingkat pertama adalah rasa sakit fisik dan kesedihan. Beberapa contoh kebaikan tingkat kedua adalah keberanian, kerendahan hati dan kesabaran. Namun, untuk memiliki kebaikan tingkat kedua (seperti keberanian) harus ada kejahatan tingkat pertama (seperti kepengecutan). Menurut Al-Qur'an, kebaikan yang lebih tinggi seperti keberanian dan kerendahan hati tidak memiliki nilai yang sama dengan kejahatan: "Katakanlah, wahai Nabi ﷺ, {Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menakjubkanmu. Maka bertakwalah kepada Allah, wahai orang-orang yang berakal, agar kamu beruntung.}" 322. Note: the Qur'an verse is translated from the original's English rendering as given in the source text; the ﷺ is not placed inside the verse brackets per the rules, so it appears before the verse.
Suffering and evil allow a greater good, also known as second-order good. First-order good is physical pleasure and happiness, and first-order evil is physical pain and sadness. Some examples of second-order goodness include courage, humility and patience. However, in order to have a second-order good (like courage) there must be a first-order evil (like cowardice). According to the Qur’an, elevated good such as courage and humility do not have the same value as evil: “Say Prophet, bad cannot be likened to good, though you may be dazzled by how abundant the bad is. Be mindful of God, people of understanding, so that you may prosper.”322.
Kehendak bebas.
Free will.
Allah tidak boleh disebut, jadi gunakan "Tuhan" sesuai aturan. Tuhan telah memberi kita kehendak bebas, dan kehendak bebas mencakup kemampuan untuk memilih melakukan perbuatan jahat. Inilah yang menjelaskan kejahatan personal, yaitu kejahatan atau penderitaan yang dilakukan oleh manusia. Orang dapat bertanya: Mengapa Tuhan memberi kita kehendak bebas sama sekali? Agar ujian dalam hidup menjadi bermakna, harus ada kehendak bebas. Sebuah ujian tidak ada artinya jika murid diwajibkan atau dipaksa menjawab setiap soal dengan benar. Demikian pula, dalam ujian kehidupan, manusia harus diberi kebebasan yang memadai untuk berbuat sesuai keinginannya. Kebaikan dan kejahatan kehilangan maknanya jika Tuhan selalu memastikan kita memilih kebaikan. Perhatikan contoh berikut: seseorang menodongkan pistol berpeluru ke kepalamu dan memintamu bersedekah. Engkau memberikan uang itu, tetapi apakah itu memiliki nilai moral? Tidak, karena ia hanya bernilai jika seorang pelaku yang bebas memilih untuk melakukannya.
God has given us free will, and free will includes the ability to choose to commit evil acts. This explains personal evil, which is evil or suffering committed by a human being. One can ask: Why has God given us free will at all? In order for the tests in life to be meaningful, there must be free will. An exam is pointless if the student is obligated or forced to answer correctly on each question. Similarly, in the exam of life, human beings must be given adequate freedom to do as they please. Good and evil lose their meaning if God were to always ensure we chose good. Take the following example into consideration: someone points a loaded gun to your head and asks you to give to charity. You give the money, but does it have any moral value? It does not, for it only has value if a free agent chooses to do so.
Zuhud terhadap dunia.
Detachment from the world.
Menurut tradisi Islam, Tuhan telah menciptakan kita agar kita beribadah kepada-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya. Sebuah prinsip mendasar dalam hal ini adalah bahwa kita harus melepaskan diri dari sifat dunia yang fana. Dikenal sebagai dunya, yang berarti rendah atau hina, dunia yang fana adalah tempat keterbatasan, penderitaan, kehilangan, keinginan, ego, kelebihan, dan kejahatan. Penderitaan menunjukkan kepada kita betapa rendahnya dunya sesungguhnya, sehingga memudahkan kita untuk melepaskan diri darinya. Dengan demikian, kita dapat lebih dekat kepada Tuhan.
According to the Islamic tradition, God has created us so that we may worship and draw near to Him. A fundamental principle concerning this is that we must detach ourselves from the ephemeral nature of the world. Known as dunya, meaning low or lowly, the ephemeral world is the place of limitations, suffering, loss, desires, ego, excessiveness and evil. Suffering shows us how truly low the dunya is, thereby facilitating our detachment from it. Thus, we are able to draw closer to God.
Nabi Muhammad ﷺ diriwayatkan bersabda, "Cinta dunia adalah pangkal segala keburukan."323 Oleh karena itu, melepaskan diri dari dunia diperlukan untuk mencapai tujuan spiritual tertinggi, yaitu kedekatan dengan Allah, dan kemudian surga.
The Prophet Muhammad صلى الله عليه وسلم was reported to have said, “Love of the dunya is the root of all evil.”323 Therefore, detachment from the dunya is necessary to reach the ultimate spiritual goal of nearness to God, and subsequently paradise.
Al-Qur'an dengan sangat jelas menegaskan bahwa dunia itu fana dan kenikmatan yang menipu: "Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kamu serta berbangga dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian menjadi hancur."324
The Qur’an makes it very clear that the dunya is ephemeral and a deceiving enjoyment: “Know that the life of this dunya is but amusement and diversion and adornment and boasting to one another and competition in increase of wealth and children—like the example of a rain whose [resulting] plant growth pleases the tillers; then it dries and you see it turned yellow; then it becomes [scattered] debris.”324
Konsep dunya tidak boleh dikacaukan dengan aspek-aspek positif dari ciptaan, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai ‘alam dan khalq. Konsep-konsep ini berkaitan dengan keindahan dan keajaiban dari apa yang diciptakan oleh Tuhan. Keduanya dimaksudkan untuk mendorong manusia merenung dan memahami, yang menjadi sarana untuk menyimpulkan bahwa di baliknya terdapat kekuasaan, rahmat, dan hikmah Ilahi.
The concept of the dunya should not be confused with the positive aspects of creation, known in Arabic as ‘alam and khalq. These concepts relate to the beauty and wonder of what God has created. They are intended to encourage people to reflect and understand, which serve as a means to conclude that there is a Divine power, mercy and wisdom behind them.
Penderitaan orang-orang yang tidak bersalah bersifat sementara.
Suffering of innocent people is temporary.
Meskipun banyak kebaikan yang lebih besar dapat terwujud, orang tetap dapat melihat bahwa sebagian manusia menderita tanpa mengalami kelegaan apa pun. Karena itulah dalam Islam, Allah tidak hanya memberikan alasan bagi keburukan dan penderitaan di dunia ini, tetapi juga memberikan balasannya. Pada akhirnya, semua orang beriman yang menderita dan tidak bersalah akan dianugerahi kebahagiaan abadi, dan seluruh penderitaan yang mereka alami—bahkan jika mereka menderita sepanjang hidup—akan dilupakan selamanya. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
Even if there is a lot of greater good to be actualised, one may observe that some people still suffer without experiencing any relief. This is why in Islam, God not only provides justifications for evil and suffering in this world, but also recompenses them. At the end, all believers who suffered and were innocent will be granted eternal bliss, and all the suffering they had—even if they suffered all of their lives— will be forgotten forever. The Prophet Muhammad صلى الله عليه وسلم said:
“…orang yang paling banyak mengalami penderitaan di dunia dari kalangan penghuni surga akan dibawa keluar dan hanya dicelupkan ke dalam surga sejenak. Kemudian ia akan ditanya: ‘Wahai anak Adam, pernahkah engkau merasakan penderitaan? Pernahkah engkau mengalami kesulitan dalam hidupmu?’ Ia akan menjawab: ‘Tidak, wahai Tuhanku, demi Tuhan. Aku tidak pernah mengalami penderitaan. Aku tidak pernah melihat kesulitan.’”325.
“…the person who had suffered the most affliction in the world of those destined for Paradise will be brought forth and merely dipped into Paradise for a moment. Then he will be asked ‘O son of Adam, have you ever seen suffering? Have you ever experienced hardship in your life?’ He will reply ‘No my Lord, by God. I have never undergone suffering. I have never seen hardship.’”325.
Perspektif spiritual.
Spiritual perspectives.
Di bawah ateisme, kejahatan tidak memiliki tujuan. Ia adalah salah satu kekuatan buta di dunia yang secara serampangan memilih mangsanya. Mereka yang menjadi korban penderitaan dan kejahatan tidak memiliki perspektif emosional maupun rasional untuk membantu meringankan penderitaan mereka atau menempatkan pengalaman mereka dalam konteks. Seseorang bisa saja menderita sepanjang hidupnya dan akhirnya hanya berakhir di kubur. Seluruh penderitaan, pengorbanan dan rasa sakitnya akan sama sekali tidak memiliki makna. Kejahatan dipandang terjadi akibat proses fisik sebelumnya, dan mereka yang mengalami kejahatan tidak memiliki jalan untuk mengadu. Mereka tidak dapat mengaitkannya dengan kehendak apa pun, baik manusiawi maupun Ilahi, karena segala sesuatu hanya direduksi menjadi peristiwa fisik yang buta, acak, dan tidak rasional. Dengan demikian, implikasi logis dari ateisme cukup menyesakkan.
Under atheism, evil has no purpose. It is one of the blind forces in the world that indiscriminately chooses its prey. Those who are victims of suffering and evil have no emotional and rational perspectives to help alleviate their suffering or put their experiences into context. Someone could have suffered all their life and just ended up in the grave. All of their suffering, sacrifice and pain would have absolutely no meaning whatsoever. Evil is viewed to occur due to prior physical processes, and those who experience evil have no recourse. They cannot attribute any type of will to it, whether human or Divine, because everything is just reduced to blind, random and non-rational physical occurrences. Thus, the logical implications of atheism are quite depressing.
Tradisi Islam memiliki sumber yang kaya akan konsep, prinsip, dan gagasan yang memudahkan perjalanan hidup seorang mukmin. Nabi Muhammad ﷺ membekali kaum mukminin dengan harapan dan kesabaran. Segala penderitaan yang kita hadapi adalah sarana penyucian rohani, sehingga mengantarkan kita menuju surga, di mana kita akan melupakan setiap penderitaan yang pernah kita alami:
The Islamic tradition has a fountain of concepts, principles and ideas that facilitate the believer’s journey in life. The Prophet Muhammad صلى الله عليه وسلم empowered the believers with hope and patience. All of the suffering that we face is a means of spiritual purification, thereby facilitating paradise in which we will forget every suffering that we ever experienced:
“Tidaklah menimpa seorang Muslim suatu musibah pun melainkan Allah menghapuskan sebagian dosanya karenanya, meskipun hanya tertusuk duri.” Note: per the rules, "God" should be rendered as the Indonesian word for God, not "Allah". Corrected version: “Tidaklah menimpa seorang Muslim suatu musibah pun melainkan Tuhan menghapuskan sebagian dosanya karenanya, meskipun hanya tertusuk duri.”
“No calamity befalls a Muslim but that God expiates some of his sins because of it, even though it were the prick he receives from a thorn.”326.
"Sungguh menakjubkan urusan orang beriman, sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik, dan hal ini tidak berlaku bagi siapa pun kecuali orang beriman. Jika ia mendapatkan kebaikan/kebahagiaan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, dan itu juga baik baginya."327.
“Amazing is the affair of the believer, verily all of his affair is good, and this is for no one except the believer. If something of good/happiness befalls him he is grateful and that is good for him. If something of harm befalls him he is patient and that is good for him.”327.
Bahkan bencana alam dan penyakit yang mematikan dipandang melalui kacamata harapan, rahmat, dan ampunan. Pandangan Islam tentang penyakit adalah bahwa ia merupakan bentuk penyucian, yang mengantarkan orang sakit kepada kebahagiaan abadi di surga. Nabi Muhammad ﷺ menganjurkan untuk menjenguk orang sakit: "Berilah makan orang yang lapar, jenguklah orang yang sakit, dan bebaskanlah para tawanan."328
Even natural disasters and fatal illnesses are seen through the eyes of hope, mercy and forgiveness. The Islamic perspective on illness is that it is a form of purification, which facilitates eternal bliss in paradise for the sick. The Prophet Muhammad صلى الله عليه وسلمencouraged visiting the sick: “Feed the hungry, visit the sick, and free the captives.”328
Orang-orang yang merawat orang sakit akan mendapatkan ganjaran berupa rahmat dan ampunan, dan pada akhirnya surga. Terdapat banyak hadits Nabi yang menguraikan poin-poin ini. Misalnya, Nabi Muhammad ﷺ bersabda bahwa jika seorang mukmin meninggal karena wabah atau penyakit perut, ia dianggap sebagai syahid, dan semua syahid masuk surga.330 Ada hadits-hadits yang menginspirasi tentang rahmat, pahala, dan keberkahan bagi orang yang menjenguk dan merawat orang sakit; Nabi Muhammad ﷺ bersabda bahwa siapa pun yang menjenguk orang sakit "berada dalam rahmat hingga ia duduk, dan ketika ia duduk ia diliputi rahmat itu."331 Sebuah riwayat yang menyentuh dan kuat dari Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan kepada kita bahwa orang yang menjenguk orang sakit akan mendapati Allah bersama mereka.
Those who take care of the sick are rewarded with mercy and forgiveness, and ultimately paradise. There are many Prophetic traditions that elaborate on these points. For example, the Prophet Muhammad صلى الله عليه وسلمsaid that if a believer dies of the plague or a stomach illness, they are considered a martyr, and all martyrs329 go to paradise.330 There are inspiring traditions of mercy, reward and blessings for those who visit and care for the sick; the Prophet Muhammad taht dias صلى الله عليه وسلمwhoever visits a sick person “is plunging into mercy until he sits down, and when he sits down he is submerged in it.”331 A moving and powerful narration from the Prophet Muhammad t صلى الله عليه وسلمeaches us that those who visit the sick will find God with them:
"Sesungguhnya Allah..." No, correction: the rule says write "Tuhan" for God, never "Allah". So: "Sesungguhnya Tuhan, Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung, akan berfirman pada Hari Kiamat: ‘Wahai anak Adam! Aku sakit, tetapi engkau tidak menjenguk-Ku.’ Manusia itu akan bertanya, ‘Wahai Tuhanku! Bagaimana mungkin aku menjenguk-Mu, padahal Engkau adalah Tuhan semesta alam? Dan bagaimana mungkin Engkau sakit?’ Dia, Yang Maha Perkasa, akan berfirman, ‘Tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku anu sakit, tetapi engkau tidak menjenguknya? Tidakkah engkau tahu bahwa seandainya engkau menjenguknya, niscaya engkau akan mendapati-Ku di sisinya?’"332
“Verily, God, the Exalted and Glorious, will say on the Day of Judgement: ‘O Son of Adam! I fell ill, but you did not visit Me.’ The human will ask, ‘O my Sustainer! How could I visit You when You are the Sustainer of the Worlds? And how can You fall sick?’ He, the Almighty, will say, ‘Did you not know that such and such a servant of Mine was sick. But you did not visit him. Did you not know that, had you visited him, you would have found Me by his side?’”332
Bahkan dalam kasus bencana alam seperti tsunami, para korban yang beriman dianggap termasuk penghuni surga, karena kematian akibat tenggelam dipandang sebagai syahid dalam tradisi Islam. Nabi Muhammad ﷺ bersabda mengenai hal ini, "Siapa pun yang tenggelam adalah syahid."333 Para ulama Islam menyimpulkan bahwa jika seorang mukmin meninggal akibat tertimpa bangunan saat gempa bumi (sebagian bahkan memperluas ini hingga kecelakaan pesawat atau mobil), maka ia dianggap termasuk penghuni surga. Nabi Muhammad ﷺ bersabda bahwa salah satu dari para syahid adalah "orang yang meninggal karena tertimpa (bangunan) yang runtuh".334
Even in the case of natural disasters like tsunamis, the believing victims would be considered people of paradise because death by drowning is considered martyrdom in the Islamic tradition. The Prophet Muhammad صلى الله عليه وسلمsaid in this regard, “Anyone who drowns is a martyr.”333 Islamic scholars conclude that if a believer died as a result of being crushed by a building during an earthquake (some even extend this to a plane or a car crash), then they are considered people of paradise. The Prophet Muhammad صلى الله عليه وسلمsaid that one of the martyrs includes “the one who died in a collapsed (building)”.334
Namun Tuhan bisa menciptakan dunia tanpa penderitaan. Terlepas dari pembahasan sejauh ini, keberatan utama yang biasanya muncul berikutnya adalah "tetapi Tuhan bisa menciptakan dunia tanpa penderitaan". Argumen ini hanyalah pengemasan ulang dari argumen semula; dengan kata lain: Mengapa Tuhan membiarkan kejahatan dan penderitaan ada? Oleh karena itu, jawabannya sama; yaitu hikmah Ilahi. Orang yang mengajukan keberatan ini melakukannya karena mereka tidak dapat memahami mengapa kejahatan dan penderitaan ada sejak awal, dan mereka meyakini bahwa Tuhan yang Maha Penyayang dan Maha Kuasa seharusnya mencegah setiap kejahatan dan penderitaan. Meski demikian, hal ini telah dibahas dalam bab ini.
But God could create a world without suffering Notwithstanding the discussion so far, a key objection that usually follows is “but God could create a world without suffering”. This contention is just a repackaging of the original argument; in other words: Why has God allowed evil and suffering to exist? Therefore, the same answer applies; Divine wisdom. The one who makes this objection does so because they cannot understand why there is evil and suffering in the first place, and they believe that a merciful and powerful God should prevent every evil and suffering. Nevertheless, this has already been addressed in this chapter.
"Masalah" kejahatan dan penderitaan bukanlah masalah bagi orang beriman, karena kejahatan dan penderitaan dipahami sebagai bagian dari hikmah, kesempurnaan, dan kebaikan Tuhan yang mendalam. Ajaran-ajaran spiritual Islam menumbuhkan rasa harapan, kesabaran, dan ketenangan. Konsekuensi logis dari ateisme adalah seseorang terjerumus ke dalam keadaan tanpa harapan dan tidak memiliki jawaban atas mengapa kejahatan dan penderitaan ada. Ketidaktahuan ini sebagian besar disebabkan oleh egosentrisme yang membuat kaum ateis gagal melihat sesuatu dari sudut pandang lain, sama seperti saya dahulu ketika saya menganggap orang tua saya jahat karena mereka melarang saya meminum wiski kakek saya.
The ‘problem’ of evil and suffering is not a problem for the believer, as evil and suffering are understood as functions of God’s profound wisdom, perfection and goodness. The spiritual teachings of Islam create a sense of hope, patience and tranquillity. The logical implication of atheism is that one is plunged into a hopeless state and does not have any answers to why evil and suffering exist. This ignorance is mostly due to an egocentrism that causes atheists to fail in their ability to see things from another perspective, just as I was when I thought my parents were malicious when they prevented me from drinking my grandfather’s whisky.