5.3.1 Sebagian orang yang diberi gelar Amir ul-Mu’minin (Pemimpin orang-orang beriman) berkaitan dengan Hadis
5.3.1 Some of those who were given the title Amir ul- Mu’min (Leader of the believers) in respect to the Hadith
- Abu Az-Zinad: Berikut ini disebutkan dalam Syarh (penjelasan) Nawawi atas Shahih Muslim (1/86): [Ats-Tsauri biasa menyebut Abu Az-Zinad sebagai Amir ul-Mu'minin dalam hadits].
- Abu Az-Zinad: The following came stated in Nawawi’s Sharh (explanation) of (Sahih) Muslim (1/86): [Ath-Thawri used to call Abu Az-Zinad the Amir ul-Mu’minin in Hadith].
- Hisyam bin Abu Abdullah Ad-Dastawa'i: Ia adalah seorang imam yang tsiqah (terpercaya – dapat diandalkan) dan hujjah (sumber otoritatif). Ia termasuk di antara mereka yang digelari ;Amir ul-Mu'minin dalam hadis. Abu Dawud At-Tayalisi menyebutnya demikian, dan Syu'bah berkata: "Sesungguhnya Hisyam telah menghafal (atau memelihara) dari Qatadah lebih baik daripada aku."
- Hisham bin Abu Abdullah Ad-Dastawa’iy: He was an Imam who was Thiqah (trustworthy – reliable) and Hujjah (authoritative source). He was from among those who were called ;Amir ul-Mu’minin in Hadith’ Abu Dawud At-Tayalisiy called him that and Shu’bah said: “Indeed, Hisham has preserved (or memorised) from Qatadah, more (or better) than me”.
- Abu Bakr Muhammad bin Ishaq bin Yasar: Dan kami baru saja menyebutkannya secara terperinci.
- Abu Bakr Muhammad bin Ishaq bin Yasar: And we have just mentioned him in detail.
- Sufyan Ats-Tsauri: Syu'bah, Ibnu 'Uyaynah, Abu 'Ashim, Ibnu Ma'in, Waki', Ibnu al-Mubarak dan yang lainnya berkata: "Sufyan adalah Amirul Mukminin dalam hadits".
- Sufyan Ath-Thawri: Shu’bah, Ibn ‘Uyaynah, Abu ‘Asim, Ibn Ma’een, Wakee’, Ibn ul-Mubarak and others said: “Sufyan is the Amir ul- Muminin in the Hadith”.
- Syu'bah bin Al-Hajjaj: Beliau adalah Amirul Mu'minin dalam bidang hadis menurut apa yang dikatakan Ats-Tsauri, dan mayoritas para imam setelahnya sepakat dengannya dalam hal tersebut.
- Shu’bah bin Al-Hajjaj: He was the Amir ul-Mu’minin in respect to the Hadith according to what Ath-Thawri said and the majority of the Imams, after him, agreed with him upon that.
- Imam penduduk Madinah: Anas bin Malik. Hal itu sebagaimana disebutkan dalam kitab "Gharā'ib Mālik bin Anas" karya Ibnu al-Muzhaffar (61/116): ['Ali bin Ahmad bin Sulaiman meriwayatkan kepada kami dari Ahmad bin Sa'id bin Abu Maryam, bahwa ia mendengar Yahya bin Ma'in berkata: "Malik adalah Amir al-Mu'minin dalam hal hadis"]. Disebutkan pula dalam kitab "Bughyat al-Multamis Fī Saba'iyāt Hadīth Imām Mālik" (hlm. 74): [Ahmad bin Sa'id bin Abu Maryam berkata: Ibnu Ma'in ditanya tentang hadis yang tidak ada seorang pun selain Malik yang meriwayatkannya, lalu ia berkata: "Malik adalah Amir al-Mu'minin dalam hal hadis"].
- The Imam of the people of Al-Madinah: Anas bin Malik. That is as the following came mentioned in “Ghara’ib Malik bin Anas” by ibn ul- Muzhaffar (61/116): [‘Ali bin Ahmad bin Sulaiman related to us from Ahmad bin Sa’id bin Abu Maryam, that he heard Yahya bin Ma’een saying: “Malik is the Amir ul-Mu’minin in respect to the Hadith”]. The following also came mentioned in “Bughyat ul-Multamis Fee Saba’iyat Hadith Imam Malik” (p: 74): [Ahmad bin Sa’id bin Abu Maryam said: Ibn Ma’een was asked about the Hadith which no one besides Malik related and he said: “Malik is the Amir ul-Mu’minin in respect to the Hadith”].
- Abdullah bin Al-Mubarak bin Wadih, Imam Syaikhul Islam, ‘Aalim (ulama) pada masanya dan Amir (pemimpin) orang-orang yang bertakwa di zamannya; Abu Abdur Rahman Al-Hanzhaliy. Beliau lahir pada tahun 128 H dan mulai menuntut ilmu ketika berusia dua puluh tahun. Hadis-hadisnya merupakan sumber yang otoritatif berdasarkan kesepakatan. Ibnu Ma’in berkata tentang beliau: “Amirul Mu’minin dalam bidang hadis”. - Abu Sa’id Yahya bin Sa’id bin Farrukh At-Tamimi Al-Basri Al-Ahwal Al-Qattan Al-Hafizh, “Amirul Mu’minin dalam bidang hadis”.
- Abdullah bin Al-Mubarak bin Wadih, the Imam Sheikh ul-Islam, ‘Aalim (scholar) of his age and the Amir (leader) of the god-fearing in his time; Abu Abdur Rahman Al-hanzhaliy. He was born in the year 128 AH and took to seeking knowledge when he was twenty years of age. His Hadith are an authoritative source by consensus. Ibn Ma’een said regarding him: “The Amir ul-Mu’minin in respect to the Hadith”. - Abu Sa’id Yahya bin Sa’id bin Farrukh At-Tamimi Al-Basri Al-Ahwal Al-Qattan Al-Hafizh “Ameer ul-Mu’minin in respect to the Hadith”.
- Ishaq bin Ibrahim Al-Hanzhaliy, yang dikenal sebagai Ibn Rahawaih. Disebutkan dalam "Bughyat ul-Bahith", karya Nur ud-Din Al-Haithami (hlm. 9): [Dan apa yang ia (Al-Bukhari) dengar dari gurunya; ‘Amir ul-Mu’minin dalam bidang Hadits dan Fiqh’, Ishaq bin Ibrahim Al-Hanzhaliy (yang dikenal sebagai Ibn Rahawaih) meneguhkan tekadnya atas hal itu. Al-Bukhari bersamanya ketika ia berkata: "Seandainya engkau menghimpun riwayat-riwayat itu dalam sebuah kitab yang merupakan ringkasan Sunnah Rasulullah ﷺ?" Ia (Al-Bukhari) berkata: "Perkataan itu lalu menggugah hatiku, maka aku pun mulai menghimpun ‘Al-Jami’ As-Sahih’ (yaitu Shahih Al-Bukhari)]. - Gunung hafalan (atau pemeliharaan), Imam dunia; Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al-Mughira bin Bardizbah Al-Ja’fi Al-Bukhari, ‘Amir ul-Mu’minin dalam bidang Hadits, dan pemimpin ilmunya. Para Imam telah sepakat atas keotentikan, kepercayaan, dan ketelitian kajiannya. Ia wafat pada tahun 256 H.
- Ishaq bin Ibrahim Al-Hanzhaliy, well-known as Ibn Rahawaih. The following came mentioned in “Bughyat ul-Bahith”, by Nur ud-Din Al- Haithami (p: 9): [And what he (Al-Bukhari) heard from his Ustadh (teacher); the ‘Amir ul-Mu’minin in respect to Hadith and Fiqh’, Ishaq bin Ibrahim Al-Hanzhaliy (well-known as Ibn Rahawaih) strengthened his resolve (or determination) upon that. Al-Bukhari was with him when he said: “If you were to collect them (i.e. narration) in a book that was a summary of the Sunnah of the Messenger of Allah (peace be upon him)?” He (Al-Bukhari) said: “That then struck my heart and so I began to collect ‘Al-Jami’ As-Sahih’ (i.e. Sahih ul-Bukhari))]. - The mountain of memorization (or preservation), the Imam of the Dunya; Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al- Mughira bin Bardizbah Al-Ja’fi Al-Bukhari, the ‘Amir ul-Mu’minin in respect to the Hadith’ and the leader of its science. The Imams have held a consensus upon his authenticity, trust and thorough study. He passed away in the tear 256 Ah.
- Abu Al-Hasan ‘Ali bin ‘Umar bin Ahmad bin Mahdi Ad-Daraqutni; Amir ul-Mu’minin dalam bidang hadits. Al-Hakim Abu Abdullah Al-Hafizh berkata: “Ad-Daraqutni tidak pernah melihat yang sepertinya (yaitu tidak ada seorang pun yang sebanding dengannya)”. Abu At-Tayeb At-Tabari berkata: “Ad-Daraqutni adalah Amir ul-Mu’minin dalam bidang hadits”.
- Abu Al-Hasan ‘Ali bin ‘Umar bin Ahmad bin Mahdi Ad-Daraqutni; the ‘Amir ul-Mu’minin in respect to the Hadith’. Al-Hakim Abu Abdullah Al-Hafizh said: “Ad-Daraqutni had not seen his like (i.e. there was no body comparable to him)”. Abu At-Tayeb At-Tabari said: “Ad- Daraqutni was the Amir ul-Mu’minin in respect to the Hadith”.