1 Dua Jenis Wahyu: yang Terucap dan yang Tidak Terucap
1 Two Types of Revelation: The Spoken and the Unspoken
Nabi yang mulia ﷺ menerima dua jenis wahyu dari Allah. Yang pertama adalah wahyu yang dibacakan [matluww], dan yang kedua adalah wahyu yang tidak dibacakan [ghair-matluww]. Wahyu yang dibacakan adalah wahyu yang dilafalkan [yaitu Al-Qur'an]; wahyu yang tidak dibacakan adalah wahyu yang tidak dilafalkan [yaitu hadits Nabi ﷺ]. Indikasi akar dari wahyu yang tidak dibacakan dapat ditemukan dalam ayat-ayat Al-Qur'an. Allah (SWT) berfirman dalam Al-Qur'an Al-Karim: {Dan Kami tidak menjadikan kiblat yang dahulu kamu (Muhammad) berkiblat kepadanya, melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang.}3
The Blessed Prophet (PBUH) received two types of divine revelations. One is the spoken [matluww] and the second, the unspoken [ghair-matluww]. The spoken revelation is that which is recited [i.e., the Qur’an]; the unspoken revelation is that which is not recited [i.e., the aúódõth of the Blessed Prophet (PBUH)]. An indication of the roots of the unspoken revelation can be found in the ayas of the Qur’an. Allah (SWTH) says in the Holy Qur’an: And We appointed the qibla to which you were used only to test those who followed the Messenger from those who would turn on their heels.3
Untuk memperoleh pemahaman yang lebih luas tentang ayat ini, penting bagi kita untuk menelaah latar belakang historisnya.
To gain a broader understanding of this aya, it is important that we look into its historical background.
Segera setelah hijrah ke Madinah, Nabi yang Mulia (PBUH) dan para Sahabat diperintahkan untuk salat menghadap ke Masjid al-Aqsha di Yerusalem. Masjid al-Aqsha menjadi kiblat kaum Muslimin selama tujuh belas bulan. Setelah tujuh belas bulan, perintah untuk salat menghadap Masjid al-Aqsha dihapus (mansukh), dan kaum Muslimin diperintahkan untuk salat menghadap Makkah. Perintah ini ditetapkan melalui ayat berikut:
Shortly after the migration to Madina, the Blessed Prophet (PBUH) and the Sahaba were told to pray towards Masjid al-Aqüó in Jerusalem. Masjid al-Aqüó became the qibla of the Muslims for seventeen months. After seventeen months, the order to pray towards Masjid al-Aqüó was abrogated and Muslims were ordered to pray towards Makka. This order was established through the following aya:
Hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.
Turn your faces towards al-Masjid al-Haram.
Dan Kami tidak menjadikan kiblat yang dahulu kamu (Muhammad ﷺ) berada di atasnya, melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang.
And We appointed the qibla to which you were used only to test those who followed the messenger from those who would turn on their heels.
Dalam ayat ini, Allah (SWTH) menyebut perintah pertama, yaitu menghadap ke Yerusalem, sebagai perintah-Nya sendiri. Hal ini menegaskan kepada pembaca bahwa Allah (SWTH) sendirilah yang berada di balik perintah untuk menghadap Masjid al-Aqsa. Namun ketika kita membaca Al-Qur'an, kita tidak mendapati satu ayat pun yang di dalamnya Allah (SWTH) memerintahkan kaum Muslimin untuk salat menghadap Yerusalem. Kenyataannya, perintah ini berasal dari Nabi yang Mulia ﷺ dan bukan dari ayat mana pun dalam Al-Qur'an. Ayat ini tidak mengatakan, "Nabi yang Mulia ﷺ menetapkan perintah…", melainkan mengatakan, "Kami menetapkan kiblat…." Hal ini membawa kita pada pemahaman bahwa perintah Nabi yang Mulia ﷺ tidak berbeda dengan perintah Allah (SWTH). Buktinya begitu jelas sehingga tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut. Pernyataan tegas dari Al-Qur'an mengenai perintah yang diberikan oleh Nabi yang Mulia ﷺ ini menunjukkan suatu keyakinan mendasar tentang ahadīth Nabi yang Mulia ﷺ: bahwa ia merupakan bentuk wahyu. Dan inilah yang dikenal sebagai wahyu yang tidak diucapkan atau tidak dibacakan.
In this aya, Allah (SWTH) mentions the first order, which was to face towards Jerusalem, as His own order. This impresses upon the reader the fact that Allah (SWTH) himself was behind the order to face Masjid al-Aqsa. But when we read the Qur’an we do not find any such aya in which Allah (SWTH) ordered the Muslims to pray towards Jerusalem. The fact is that this order came from the Blessed Prophet (PBUH) and not from any aya of the Qur’an. The aya does not say, “The Blessed Prophet (PBUH) enacted the order…” rather it says, “We appointed the qibla….” This brings us to the understanding that the order of the Blessed Prophet (PBUH) is no different from the order of Allah (SWTH). The proof is so self-evident it does not require any further clarification. This clear statement from the Qur’an regarding the order given by the Blessed Prophet () demonstrates a fundamental belief about the aúódõth of the Blessed Prophet (PBUH): that they are a form of revelation. And this is what is known as the unspoken or unrecited revelation.
Ayat yang disebutkan di atas juga mengungkap beberapa poin penting lainnya:
The aya mentioned above also reveals some other important points:
1. Suatu jenis wahyu khusus diturunkan kepada Nabi yang diberkahi ﷺ, yang bukan merupakan bagian dari Al-Qur'an.
1. A special type of revelation was sent to the Blessed Prophet (PBUH) which was not a part of the Qur’an.
2. Wahyu-wahyu ini berasal dari Allah (SWT).
2. These revelations were from Allah (SWTH).
3. Demikian pula, hukum-hukum yang bersumber dari wahyu yang tidak dibacakan juga merupakan hukum Allah (SWT).
3. Similarly, the rulings that derived from the unspoken revelations were also the rulings of Allah (SWTH).
Seluruh Sahabat wajib melaksanakan perintah-perintah dari wahyu yang tidak diucapkan dengan cara yang sama seperti mereka wajib melaksanakan wahyu yang diucapkan [Al-Qur’an]. Sebagian perintah diturunkan untuk menguji õmón kaum Muslimin, terutama perintah-perintah yang diturunkan melalui wahyu yang tidak diucapkan, untuk melihat apakah mereka taat kepada perintah tersebut. Banyak contoh lain dapat dikemukakan, tetapi tidak disebutkan di sini demi keringkasan.
All the Sahaba were obligated to fulfill the orders of the unspoken revelations in the same manner as they were the spoken revelation [Qur’an]. Some orders were revealed to test the õmón of the Muslims, particularly those orders that were revealed through the unspoken revelation, to see whether they obeyed the orders. Many other examples could be cited, but they have not been mentioned for the sake of brevity.
Meskipun bukti yang telah disebutkan tadi menyoroti pentingnya Hadis dan keabsahannya sebagai sumber otoritas dalam Islam, bukti itu juga menetapkan bahwa pemeliharaan Al-Qur'an mencakup pemeliharaan hadis. Al-Qur'an sendiri adalah inti dari pemikiran Islam dan merupakan kata final dalam perkara ini. Al-Qur'an menyatakan:
While this aforementioned proof highlights the importance of the Ahadith and their validity as an authority in Islam, it also establishes that the preservation of the Qur’an includes preservation of the úódõth. The Qur’an itself is the essence of Islamic thought and is the final word in this matter. The Qur’an states:
Barangsiapa mengikuti Nabi ﷺ, maka sungguh ia telah mengikuti Allah.
"Whosoever follows the Blessed Prophet (PBUH) has followed Allah".
Dalam ayat ini Al-Qur'an memerintahkan kita untuk mengikuti jalan Nabi yang mulia ﷺ, karena mengikuti Nabi yang mulia ﷺ berarti mengikuti Allah (SWT). Suatu ketika, seorang wanita datang kepada sahabat terkenal, ‘Abdullah ibn Mas‘ud. Ia berkata, “Aku pernah mendengar engkau melarang orang dari melakukan hal-hal tertentu, padahal aku telah membaca Al-Qur'an dari awal sampai akhir dan aku tidak pernah membaca Al-Qur'an yang memerintahkan kita untuk menjauhi hal-hal ini.” ‘Abdullah ibn Mas‘ud menjawab, “Seandainya engkau membacanya, tentu engkau akan menemukannya. Tidakkah engkau membaca ayat Al-Qur'an ini:
In this aya the Qur’an orders us to adhere to the way of the Blessed Prophet (PBUH), as adherence to the Blessed Prophet (PBUH) is adherence to Allah (SWTH). Once, a woman came to the famous Sahabi, ‘Abd Allah ibn Masood . She said, “I have heard you stop people from doing certain things even though I have read the Qur’an from cover to cover and I have never read the Qur’an ordering us to abstain from these things.” ‘Abd Allóh ibn Masood replied, “Had you read the Qur’an you would have found it. Have you not read this aya of the Qur’an:
"Apa pun yang diberikan oleh Nabi ﷺ kepadamu, maka terimalah; dan apa pun yang beliau larang, maka tinggalkanlah."
"Whatever the Prophet (PBUH) gives you, accept it; and whatever he disapproves of, abstain from it".
Dari kejadian ini kita mengetahui bahwa ayat ini mencakup hadits Nabi ﷺ dan menetapkan kehujjahan hadits dalam Islam.
From this incident we learn that this aya incorporates the aúódõth of the Blessed Prophet (PBUH) and establishes the authority of the Ahadith in Islam.